Vol 8 No.
1 Januari 2024
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpadu eISSN: 2246-6111
SEJARAH HUKUM LEMBAGA SENSOR FILM INDONESIA
BERUSIA 105 TAHUN
Rasuni1, Subhan Zein Sgn2, Sudarto3 [Link]@gmail.com1
Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA)
ABSTRAK
Pasal 57 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman menyebutkan, setiap
film dan iklan film yang akan diedarkan dan/atau dipertunjukkan wajib memperoleh surat tanda
lulus sensor. Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) adalah surat yang dikeluarkan oleh Lembaga
Sensor Film (LSF) untuk setiap film dan iklan film yang dinyatakan telah lulus sensor dan dapat
dipertunjukkan. Itulah definisi yang disebutkan di dalam Peraturan Lembaga Sensor Film
Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pedoman Penetapan Klasifikasi Film dan Iklan
Film Berdasarkan Penggolongan Usia Penonton. Artinya, seperti yang dimaksud Pasal 57 Ayat 1
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, sebuah film atau iklan film tak boleh
beredar tanpa STLS. Yang dimaksud dengan film di sini, tidak hanya yang beredar di bioskop,
tetapi di mana pun. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran lahirlah Komisi
Penyiaran Indonesia yang tugasnya memantau bagaimana jalannya Penyiaran di Indonesia. Tetapi
dari Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman lahirlah lembaga yang dinamakan
Lembaga Sensor film yang keabsahannya dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18
Tahun 2014. Adanya lembaga yang berbeda tetapi memiliki kewenangan yang sama sehingga
terdapat peraturan yang tumpang tindih antara Komisi Penyiaran Indonesia dengan Lembaga
Sensor Film terkait kepastian hukum dalam bidang perfilman yang terfokus pada penyensoran.
Kata Kunci: Sejarah, Perkembangan Hukum. Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF).
PENDAHULUAN
Sejarah Hukum Sejak Zaman Belanda, Masa penjajahan Belanda yang cukup lama
di Indonesia meninggalkan pengaruh besar. Salah satunya di bidang kebudayaan, terutama
film. Ordonansi Film 1916 pada 18 Maret 1916 merupakan undang-undang film yang
mengatur tentang film dan penyelenggaraan usaha bioskop seiring dengan semakin
banyaknya gambar idoep di Indonesia masa itu. Profil Lembaga Sensor Film Pada masa
kemerdekaan Indonesia lembaga sensornya pun mengalami perubahan fungsi dan nama.
Terdapat dua lembaga dalam masa ini, yang pertama dibentuk oleh NICA dengan nama
Panitia Pengawas Film dari menghidupkannya lagi Film Commissie. Fungsi yang
diterapkan oleh lembaga ini pun masih sama seperti Film Commissie. Sedangkan yang
kedua Dewan Pertahanan Nasional menerbitkan surat keputusan dan membentuk Badan
Pemeriksaan Film. Fungsi dibentuknya Badan Pemeriksaan Film sebagai filter yang
diberikan oleh propaganda pihak asing melalui film. Sehingga bangsa indonesia
diharapkan tidak terkomintasi akan propaganda seperti keberpihakan bangsa Indonesia
kepada pihak penjajah. 32 Tahun terus berlalu, Indonesia pun akhirnya mendapatkan
pengakuan kedaulatan. Lembaga Sensor Film pun dipegang oleh pemerintahan indonesia
secara penuh. Pada tahun 1950 dibentuknya Panitia Sensor Film Pusat oleh pemerintah
dengan tetap mengacu kebijakan yang diterapkan pada masa Hindia Belanda tetapi hanya
ditambahkan
178
beberapa saja sesuai stabilitas yang terjadi di Indonesia. Panitia ini ternyata berorientasi
pada kepentingan kekuasaan belaka. Pada tahun 1953 melalui Surat Keputusan Menteri
Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan tangga l 2 Juni 1953 Nomor 18977/Kab,
pemerintah membentuk suatu Panitia Perancang Undang-Undang Perfilman (PPUF) yang
pada tahun berikutnya PPUF diganti menjadi Dewan Film Indonesia dengan tugas
memberikan pertimbangan pertimbangan dan nasehat-nasehat kepada Menteri Pendidikan
Pengajaran dan Kebudayaan dalam bidang Perfilman. Seiring berjalannya waktu pun
lembaga sensor bukan merupakan lembaga yang mutlak. Lembaga ini harus mengikuti
perkembangan jaman yang ada di Indonesia. Artinya lembaga ini bersifat luwes namun
tetap pada Kontrol dari pemerintahan. Pada masa itu, pemerintah pun mendukung
resolusiresolusi MPRS tentang pers, radio, film dan TV. Dibentuklah suatu lembaga yang
bernama Badan Sensor Film (BSF) yang mengatur tentang penyelenggaraan penyensoran
film di Indonesia. Badan ini terdiri dari 24 orang perwakilan pemerintah dan Sembilan
dari partai politik. Adapun fungsi dan tugas BSF tetap menitik beratkan pada upaya
menghindarkan masyarakat dari pengaruh buruk film, dan memperjelas eksistensi dan
fungsi film dalam turut memantapkan
Dalam buku Bunga Rampai 100 Tahun Sensor Film di Indonesia (2016:26-27),
dijelaskan bahwa pemerintah kolonial Belanda kemudian membentuk Komisi
Pemeriksaan Film (Commissie voor de Keuring van Films), untuk menanggulangi
pertunjukan gambar idoep yang tidak bermutu. Pembentukan Komisi Pemeriksaan Film
tersebut sesuai dengan Ordonansi Film 1916 yang menyebutkan: “Gubernur Jenderal
dapat menunjuk tempat di Hindia Belanda bagi pendirian Komisi Sensor Film dan
Lembaga Komisi Sensor Film.
Komisi ini terdiri atas lima anggota termasuk seorang ketua”.
Sejak itulah pemerintah kolonial Belanda mewajibkan penyensoran terhadap setiap
film yang akan beredar. Pada perkembangan selanjutnya, tujuan sensor ketika itu, untuk
melindungi masyarakat kulit putih dari amuk kaum pribumi. Pemerintah kolonial
khawatir, bila tidak ada penyensoran film, bisa jadi muncul konten yang menyadarkan
kalangan pribumi pada posisi sebagai jajahan Belanda. Karena itu, semua adegan
kekerasan dan pemberontakan di dalam film, disensor. Situasi yang disebutkan di atas,
berlangsung hingga penyerahan kedaulatan kepada Negara Republik Indonesia pada 1949.
Ordonansi Film 1916 mengalami tujuh kali pembaruan dalam kurun waktu 24 tahun, yaitu
pada 1919 (pembentukan subkomisi di daerah), 1920 (penghapusan subkomisi di beberapa
daerah), 1922 (kewajiban membayar biaya penilaian film). Kemudian pada 1925 (tentang
Komisi Penilaian Film Batavia sebagai satu-satunya komisi penilaian film di Hindia-
Belanda), 1926 (untuk melengkapi Ordonansi Film tahun 1925), 1930 (tentang Hak
Pemilik Film Mendapatkan Keterangan, antara lain alasan kenapa filmnya dilarang
beredar), dan 1940 (tentang Film Commissie atau Komisi Film yang mewajibkan semua
film disensor sebelum diputar untuk umum). Menurut Nunus Supardi, budayawan dan
mantan anggota LSF yang banyak meneliti tentang sensor film, meskipun Ordonansi Film
mengalami tujuh kali pembaruan, pikiran pokoknya tetap pada Ordonansi 1916 yang
dilengkapi Ordonansi Film 1940. Inilah yang kemudian menjadi pegangan Indonesia
merdeka ketika membentuk Lembaga Sensor Film. Sebagai catatan, pada 1942, ketika
pemerintahan Hindia-Belanda menyerah kepada tentara pendudukan Jepang, Komisi Film
dibubarkan. Kemudian Dinas Propaganda tentara pendudukan Jepang, Sendenbu,
mengganti Komisi Film dengan HodoDan. Pada masa perjuangan fisik untuk
mempertahankan Republik Indonesia (1945-1946) juga tidak ada lembaga yang secara
179
resmi menangani penyensoran film. Barulah pada 1948 diberlakukan lagi Ordonansi Film
1940 yang lebih disempurnakan dan dimuat dalam Staatblad Nomor 155, yang
menyatakan bahwa urusan pengawasan film dilakukan oleh Panitia Pengawas Film di
bawah Directeur van Binnenlandsche Bestuur. Untuk wilayah yang masih dikuasai oleh
Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Yogyakarta, Dewan Pertahanan Nasional
menerbitkan surat keputusan dan membentuk Badan Pemeriksa Film yang diangkat dan
diberhentikan serta bertanggung jawab kepada Menteri Penerangan Republik Indonesia.
METODE
Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka (library research), yakni penelitian
yang obyek kajiannya menggunakan data pustaka berupa buku-buku sebagai sumber
datanya. Penelitian ini dilakukan dengan membaca, menelaah, dan menganalisis berbagai
literatur yang ada, berupa UUD, Peraturan Pemerintah, Buku-buku perundang undangan,
maupun hasil penelitian. Penelitian (research) merupakan rangkaian kegiatan ilmiah dalam
rangka pemecahan suatu permasalahan. Hasil penelitian tidak pernah dimaksudkan
sebagai suatu pemecahan (solusi) langsung bagi permasalahan yang dihadapi. karena
penelitian merupakan bagian saja dari usaha pemecahan masalah yang lebih besar. Fungsi
penelitian adalah mencarikan penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan serta
memberikan alternatif bagi kemngkinan yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah.
Penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang
sistematis yang digunakan untuk mengkaji atau meneliti suatu obyek pada latar alamiah
tanpa ada manipulasi didalamnya dan tanpa ada ujian hipotesis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaturan yuridis mengenai perfilman Indonesia saat ini dituangkan melalui
UndangUndang No. 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Secara yuridis yang dimaksud
dengan film sebagaimana definisi undang-undang adalah karya seni budaya yang
merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah
sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan. Berdasarkan definisi
tersebut dapat ditemukan kata-kata bahwa film merupakan karya seni budaya yang
merupakan pranata sosial.
Program nation and character building. Film bisa menjadi elemen penting dalam
pembangunan watak bangsa. Sebagaimana harapan Kurnianigrat kepada produser-
produser nasional, agar film-film Indonesia hendaknya lebih mendekati kehidupan
masyarakat sehingga disamping menghimbur, film-film juga ikut dalam membantu
membangun masyarakat dan Negara kita, juga agar produser lebih banyak menyajikan
film-film ilmiah popular, film perjuangan bangsa, film-film hiburan sehat dan film anak-
anak. Sepanjang tahun 1970-an BSF membuka diri kepada masyarakat Indonesia. BSF
menanamkan kepada masyarakat bahwa lembaga ini memang diperuntukkan bagi
masyarakat Indonesia untuk mendapatkan hiburan yang layak tanpa pengaruh buruk dari
film. Agustus 1971, BSF melakukan transparansi terhadap mekanisme yang dijalankan
dengan menerbitkan buletin berskala BSF. Buletin diharapkan dapat diakses oleh publik
terhadap cara kerja dan diskusi didalam BSF. Namun sayangnya, tahun 1973 buletin ini
berhenti bukan dikarenakan alasan pendanaan ataupun ketiadaan minat pengelolanya.
Melainkan mekanisme yang dilakukan BSF tidak lagi menjadi suatu rahasia. Jadi siapapun
orang yang membaca buletin ini akan paham tentang mekanisme pensensoran film. Bagi
orang yang ingin mengakses mekanisme tersebut dapat langsung meminta izin khusus dari
Direktorat Jenderal Radio, Televisi, dan Film (Dirjen RTF).
Badan ini banyak mengalami perubahan anggota, termasuk perubahan anggota dari
unsur pemerintahan. Tahun 1971 yang beriringan juga dengan melemahnya partai politik
180
dalam sistem politik Indonesia, wakil dari unsur partai politik dikeluarkan dari BSF. BSF
pada tahun 1971-1972 yang anggotanya meliputi seniman dan intelektual terkemuka,
merupakan yang paling liberal dan terbuka sejak 1965. Pada tahun 1975 Badan Pembinaan
Perfilman Daerah (BAPFIDA) didirikan pada tingkat provinsi yang dipilih oleh Gubernur,
dan dikepalai oleh kepala wilayah departemen termasuk aparat keamanan dengan fungsi
adalah untuk menjamin keamanan dari pangsa pasar yang adil ditingkat provinsi. Pada
tahun 1977, wewenang BAPFIDA bertambah, lembaga ini berhak untuk menyensor film
yang diputar diwilayahnya. Namun, hanya sekedar untuk melarang film tersebut beredar
di provinsi dan untuk masalah pemotongan atau mengubah film tetap menjadi
kewenangan BSF.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 55B/Kep/Menpen/75
Tanggal 20 Mei 1975, tugas BSF adalah sebagai badan penyensor pemerintah atas film
yang akan diedarkan/ dipertunjukkan kepada umum dan wilayah Indonesia yang akan
diekspor. BSF sendiri mempunyai fungsi untuk mengeluarkan surat tanda lulus sensor
film, menolak peredaran dan atau pengeksporan film, memotong bagian-bagian film, dan
menarik film dari peredaran. Dalam laporan tahun 1975-1976, BSF dalam rangka
mendapatkan respon dari masyarakat, yang alam hal ini adalah pejabat-pejabat
pemerintahan serta para pemuka masyarakat, BSF mengirim tim-timnya ke daerah untuk
mengetahui dan menampung secara langsung tanggapan-tanggapan dan reaksi-reaksi
masyarakat atas hasil karya BSF serta keluhan-keluhan terhadap film dan jenis-jenis film
tertentu yang dimanfaatkan oleh BSF sebagai bentuk evaluasi terhadap keputusan-
keputusan dan tindakan-tindakan BSF selanjutnya. Sepak terjang dari BSF belum
berhenti sampai disini, pada tahun 1977 Pedoman Sensor didasarkan pada Keputusan
Menteri, salah satunya contoh yang ada diatas. Sementara itu pedoman lain yang
ditetapkan oleh BSF sendiri yang disebut Kode Etik BSF pada 1980, yang kemudian
diperluas dalam Kode Etik Produksi Film Nasional pada tahun 1981. Namun untuk
permasalahan tugas dan fungsi, masih mengikuti pedoman kerja berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Penerangan No. 03A/Kep/Menpen/1977.40 Aturanaturan penyensoran
telah menjadi detail, komprehensif dan bersifat publik, serta meningkatkan peran sensor
dalam industri film dan juga kejelasan pembatasan regulasi pemerintah. Tugas
penyensoran tidak hanya sekedar memotong atau menghapus apa-apa yang tidak patut
ditonton oleh masyarakat, khususnya remaja dan anak-anak, tetapi sekaligus membimbing
dan mengajak masyarakat untuk dapat mengembangkan sikap kritis dalam dalam menapis
atau lebih tepat lagi dalam melakukan self censorship. Mekanisme yang dilakukan oleh
Lembaga Sensor Film terlalu terpaku dengan Orde Baru. Bahwa tema sebuah film yang
tentang seks tidak boleh lebih dari 50 persen. Sayangnya, sineas ini adalah yang terpandai
dikalangannya. Dengan tidak menampilkan cerita yang berbau seks sebanyak 50 persen
atau hanya sebagian. Namun, dengan genre seperti itu banyak bertebaran di Indonesia.
LSF kali ini sedang mengalami gelombang birokrasi. LSF masih direbutkan oleh
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. Namun, ada kecenderungan LSF berada dinaungan Kemendikbud.
Alasannya mudah karena film sangat dekat dengan unsur budaya. Seharusnya pemerintah
tidak perlu merevisi segala undang-undang untuk perfilman, buatlah peraturan tentang
pemantauan terhadap penonton film di pintu masuk tiap-tiap bioskop. Dengan regulasi
yang seperti ini perlindungan kepada masyarakat Indonesia dapat berjalan. Seperti fungsi
yang diuraikan LSF.
Elemen penilaian dalam penyensoran, meliputi agama, ketahanan nasional,
kekerasan, perjudian, penyalahgunaan napza, diskriminasi, dan pornografi. Inilah yang
kemudian diterang-jelaskan di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
181
Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pedoman dan Kriteria Penyensoran, Penggolongan Usia
Penonton, dan Penarikan Film dan Iklan Film.
Bedanya dengan penyensoran sebelumnya, sekarang penyensoran membuka
kesempatan dialog antara tim penyensor dan pemilik film/iklan film yang tidak setuju
dengan hasil penyensoran. Prinsip dialogis adalah untuk mempertemukan sudut pandang
yang berbeda antara tim penyensor dan pemilik film/iklan film.
Bila film/iklan film mengandung tema, gambar, adegan, suara, dan teks terjemahan
yang tidak sesuai dengan pedoman dan kriteria sensor, tim penyensor di studio,
mengajukan kepada sidang pleno. Setelah diteliti oleh pleno dan ternyata memang sesuai
dengan yang dinilai oleh tim penyensor, film/iklan film tersebut dikembalikan kepada
pemilik film/iklan film untuk diperbaiki sesuai dengan pedoman dan kriteria sensor.
Prinsipnya, yang melakukan revisi adalah pihak pemilik film/iklan film, bukan LSF.
Apabila pihak pemilik film tidak setuju dengan catatan revisi tim penyensor atau
ada yang dipertanyakan, dapat dilakukan dialog dengan tim penyensor, didampingi Ketua
Subbidang Penyensoran. Setelah mereka melakukan revisi, sebagaimana catatan dari tim
penyensor, film dikembalikan ke LSF. Tim penyensor kembali meneliti, mencocokkan
dengan catatan terdahulu. Bila sudah terpenuhi, barulah LSF mengeluarkan STLS.
Sebaliknya, bila ternyata tetap tidak terpenuhi, akan diberikan Surat Tanda Tidak Lulus
Sensor (STTLS).
Bahkan bagi yang tidak mematuhi ketentuan undang-undang tersebut, LSF dapat
mengusulkan sanksi administratif kepada Pemerintah terhadap pelaku kegiatan perfilman
atau pelaku usaha perfilman yang melalaikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 dan 7. Melihat uraian di atas, pada tahun 2021 ini, usia sensor film di Indonesia
sudah 105 tahun. Artinya, usia STLS juga sudah 104 tahun.
Namun, dengan nama Lembaga Sensor Film (LSF) barulah mulai 1992, setelah
lahir Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman yang diperkuat dengan PP
Nomor 7 Tahun 1994. Undang-undang tersebut dianggap sebagai produk Orde Baru yang
tidak memuaskan sebagian kalangan perfilman. Mereka mengeluh, LSF terlalu banyak
memotong adegan film.
Itulah yang memicu lahirnya Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang
Perfilman. Dalam undang-undang tersebut, LSF disebut sebagai lembaga independen.
Dalam bab mengenai Sensor Film, Pasal 57 Ayat (1), disebutkan setiap film dan iklan film
yang akan diedarkan dan/atau dipertunjukkan, wajib memperoleh Surat Tanda Lulus
Sensor.
Ayat (2) Surat Tanda Lulus Sensor sebagaimana dimaksud pada Ayat (1)
diterbitkan setelah dilakukan penyensoran yang meliputi: (a) penelitian dan penilaian
tema, gambar, adegan, suara dan teks terjemahan suatu film yang akan diedarkan dan/atau
dipertunjukkan kepada khalayak umum; (b) penentuan kelayakan film dan iklan film
untuk diedarkan dan/atau dipertunjukkan kepada khalayak umum; dan (c) penentuan
penggolongan usia penonton film.
Sementara Ayat (3) menyebutkan, penyensoran sebagaimana dimaksud pada Ayat
(2) dilakukan dengan prinsip memberikan perlindungan kepada masyarakat dari pengaruh
negatif film dan iklan film. Pengaruh negatif film itu terkait dengan konten film yang
ditonton masyarakat. Bila tidak disaring, dikhawatirkan akan tampil nilai-nilai, ideologi,
hasutan, dan ajakan ke arah yang bertentangan dengan peraturan dan regulasi yang
menjadi pedoman masyarakat. Terlebih, dengan kehadiran teknologi 4.0 saat ini dan 5.0 ke
depan, selaras dengan pertumbuhan populasi gajet yang kian mudah dan murah untuk
semua usia. Sensor film tetap diperlukan dengan pertimbangan masih adanya sebagian
masyarakat dengan segala keterbatasannya, ditengarai dapat menyerap begitu saja
nilainilai negatif yang bertentangan dengan norma-norma budaya dan nilai-nilai
182
kemasyarakatan. Untuk melakukan penyensoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57
tersebut, dibentuk LSF yang bersifat tetap dan independen. Jadi, LSF adalah satu-satunya
lembaga yang diberi amanah negara untuk menerbitkan STLS.
Komisi Penyiaran Indonesia (disingkat KPI) adalah sebuah lembaga independen di
Indonesia yang kedudukannya setingkat dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi
sebagai regulator penyelenggaraan penyiaran di Indonesia. Komisi ini berdiri sejak tahun
2002 berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. KPI terdiri
atas Lembaga Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI Pusat) dan Komisi Penyiaran
Indonesia Daerah (KPID) yang bekerja di wilayah setingkat Provinsi. Wewenang dan
lingkup tugas Komisi Penyiaran meliputi pengaturan penyiaran yang diselenggarakan oleh
Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga Penyiaran Swasta, dan Lembaga Penyiaran
Komunitas. Sebelum KPI terbentuk, Undang-undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Penyiaran mengamanatkan terbentuknya Badan Pertimbangan dan Pengendalian
Penyiaran Nasional (BP3N), suatu lembaga yang memiliki kewenangan atas penyiaran di
Indonesia, yaitu dalam pemberi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan penyiaran ke
pemerintah (awalnya juga direncanakan diberi hak dalam perizinan siaran) dan diisi oleh
tokoh masyarakat, ahli dan pemerintah. Walau demikian, BP3N tidak sempat didirikan
hingga penggantinya, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran disahkan.
Sebelum rencana pembentukan BP3N dan KPI, tercatat pengawasan penyiaran di
Indonesia dilakukan oleh Departemen Penerangan (Deppen) dan lembaga turunannya.
Terdapat beberapa lembaga yang tercatat pernah dibentuk oleh Deppen, seperti Dewan
Penyantun Siaran Nasional (1975) dan Dewan Siaran Nasional (Mei 1980) yang keduanya
bertugas memberikan masukan terhadap penyelenggaraan siaran radio dan televisi dan
anggotanya terdiri dari berbagai sektor di masyarakat.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 merupakan dasar utama bagi pembentukan
KPI. Semangatnya adalah pengelolaan sistem penyiaran yang merupakan ranah publik
harus dikelola oleh sebuah badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal
maupun kepentingan kekuasaan. Hal ini berbeda dengan semangat dalam Undang-undang
penyiaran sebelumnya, yaitu Undang-undang No. 24 Tahun 1997 pasal 7 yang berbunyi
"Penyiaran dikuasai oleh negara yang pembinaan dan pengendaliannya dilakukan oleh
pemerintah", menunjukkan bahwa penyiaran pada masa itu merupakan bagian dari
instrumen kekuasaan yang digunakan untuk semata-mata bagi kepentingan pemerintah.
Proses demokratisasi di Indonesia menempatkan publik sebagai pemilik dan
pengendali utama ranah penyiaran. Karena frekuensi adalah milik publik dan sifatnya
terbatas, maka penggunaannya harus sebesar-besarnya bagi kepentingan publik.
Sebesarbesarnya bagi kepentingan publik artinya adalah media penyiaran harus
menjalankan fungsi pelayanan informasi publik yang sehat. Informasi terdiri dari
bermacam-macam bentuk, mulai dari berita, hiburan, ilmu pengetahuan, dll. Dasar dari
fungsi pelayanan informasi yang sehat adalah seperti yang tertuang dalam Undang-undang
Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 yaitu Diversity of Content (prinsip keberagaman isi) dan
Diversity of Ownership (prinsip keberagaman kepemilikan).
Kedua prinsip tersebut menjadi landasan bagi setiap kebijakan yang dirumuskan
oleh KPI. Pelayanan informasi yang sehat berdasarkan prinsip keberagaman isi adalah
tersedianya informasi yang beragam bagi publik baik berdasarkan jenis program maupun
isi program. Sedangkan prinsip keberagaman kepemilikan adalah jaminan bahwa
kepemilikan media massa yang ada di Indonesia tidak terpusat dan dimonopoli oleh
segelintir orang atau lembaga saja. Prinsip ini juga menjamin iklim persaingan yang sehat
antara pengelola media massa dalam dunia penyiaran di Indonesia.
Apabila ditelaah secara mendalam, Undang-undang no. 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran lahir dengan dua semangat utama, pertama pengelolaan sistem penyiaran harus
183
bebas dari berbagai kepentingan karena penyiaran merupakan ranah publik dan digunakan
sebesar-besarnya untuk kepentingan publik. Kedua adalah semangat untuk menguatkan
entitas lokal dalam semangat otonomi daerah dengan pemberlakuan sistem siaran
berjaringan.
Maka sejak disahkannya Undang-undang no. 32 Tahun 2002 terjadi perubahan
fundamental dalam pengelolaan sistem penyiaran di Indonesia, di mana pada intinya
adalah semangat untuk melindungi hak masyarakat secara lebih merata. Perubahan paling
mendasar dalam semangat UU ini adalah adanya limited transfer of authority dari
pengelolaan penyiaran yang selama ini merupakan hak ekslusif pemerintah kepada sebuah
badan pengatur independen (independent regulatory body) bernama Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI). Independen yang dimaksudkan adalah untuk mempertegas bahwa
KESIMPULAN
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran lahirlah Komisi Penyiaran
Indonesia yang tugasnya memantau bagaimana jalannya Penyiaran di Indonesia. Tetapi dari
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman lahirlah lembaga yang dinamakan
Lembaga Sensor film yang keabsahannya dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor
18 Tahun 2014. Adanya lembaga yang berbeda tetapi memiliki kewenangan yang sama
sehingga terdapat peraturan yang tumpang tindih antara Komisi Penyiaran Indonesia dengan
Lembaga Sensor Film terkait kepastian hukum dalam bidang perfilman yang terfokus pada
penyensoran. Tumpang tindih yang dimaksud adalah mengenai film yang sudah
mendapatkan Surat Tanda Lulus Sensor dari Lembaga Sensor Film tetapi tidak dapat
ditayangkan di televisi yang merupakan ranah dari Komisi Penyiaran Indonesia karena
dalam film tersebut dianggap memuat konten yang tidak pantas.
DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Perundang-undangan Undang-Undang Dasar Tahun 1945
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 141, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5060).
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Komisi Penyiaran Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4252).
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1997 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 3701).
Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5515.)
Peraturan Nomor. 02 P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran.
Peraturan Nomor. 01 P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran.
Zainal Arifin Mochtar, Lembaga Negara Independen, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2016.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film.
Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia tentang Pedoman Perilaku Penyiaran.
Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia tentang Standar Program Siaran.
Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia tentang Kelembagaan Komisi Penyiaran Indonesia
184