0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
160 tayangan5 halaman

TT2 Psikologi Komunikasi - Nia

Dokumen ini membahas teori-teori atribusi dan pendekatan konsistensi dalam psikologi komunikasi. Teori-teori atribusi menjelaskan bagaimana individu memahami penyebab perilaku, baik internal maupun eksternal, sementara pendekatan konsistensi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara sikap, kepercayaan, dan perilaku. Kesimpulannya, kedua pendekatan ini membantu memahami perilaku manusia dan interaksi sosial secara lebih mendalam.

Diunggah oleh

nurchayonoardi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
160 tayangan5 halaman

TT2 Psikologi Komunikasi - Nia

Dokumen ini membahas teori-teori atribusi dan pendekatan konsistensi dalam psikologi komunikasi. Teori-teori atribusi menjelaskan bagaimana individu memahami penyebab perilaku, baik internal maupun eksternal, sementara pendekatan konsistensi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara sikap, kepercayaan, dan perilaku. Kesimpulannya, kedua pendekatan ini membantu memahami perilaku manusia dan interaksi sosial secara lebih mendalam.

Diunggah oleh

nurchayonoardi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas Tutorial II

Nama : Nia Septi Irpani Nasution


NIM : 877532404
Prodi : PGSD
Matakuliah : Psikologi Komunikasi

Soal

1. Sebutkan dan jelaskan teori-teori atribusi yang Anda ketahui! Serta jelaskan
bagaimana teori-teori tersebut membantu kita memahami penyebab perilaku
manusia?
2. Sebutkan dan jelaskan teori-teori dalam pendekatan konsistensi? Serta berikan
contohnya dalam kehidupan anda.

Jawab

1. Baik, berikut penjelasan saya mengenai teori-teori atribusi dan bagaimana teori-teori
tersebut membantu kita memahami penyebab perilaku manusia.

Pengertian Atribusi

Atribusi adalah proses kognitif yang dilakukan seseorang untuk menjelaskan


penyebab perilaku, baik perilakunya sendiri maupun perilaku orang lain.
Dengan kata lain, atribusi menjawab pertanyaan:

“Mengapa seseorang berperilaku seperti itu?”

Teori-teori Atribusi

1. Teori Atribusi Fritz Heider (Heider’s Attribution Theory, 1958)

Heider disebut sebagai “bapak teori atribusi”.


Ia menyatakan bahwa manusia adalah “psikolog awam” (naive psychologists) yang
selalu berusaha memahami dunia sosial dengan mencari penyebab di balik perilaku
orang lain.

Heider membedakan dua jenis penyebab perilaku:

 Atribusi internal (disposisional) → penyebab berasal dari dalam diri individu,


seperti kepribadian, motivasi, atau kemampuan.
Contoh: “Dia berhasil karena dia pintar.”
 Atribusi eksternal (situasional) → penyebab berasal dari luar individu, seperti
keberuntungan, tekanan sosial, atau kondisi lingkungan.
Contoh: “Dia gagal karena soalnya terlalu sulit.”

Intinya: Heider menekankan bahwa orang cenderung mencari apakah perilaku


disebabkan oleh faktor dalam diri atau faktor situasional.
2. Teori Korespondensi (Correspondent Inference Theory) – Jones & Davis (1965)

Teori ini menjelaskan bagaimana orang menilai kepribadian seseorang dari


perilakunya.

Menurut Jones dan Davis, seseorang akan membuat atribusi disposisional


(kepribadian) ketika:

 Perilaku dilakukan secara sukarela (bukan terpaksa)


 Perilaku berbeda dari kebanyakan orang (non-common effect)
 Perilaku konsisten dengan nilai-nilai pribadi
 Tidak ada tekanan eksternal yang kuat

Contoh:
Jika seorang mahasiswa membantu temannya belajar tanpa diminta, kita mungkin
menyimpulkan bahwa ia adalah orang baik hati — karena tindakannya tampak
berasal dari dorongan internal, bukan situasi luar.

3. Teori Atribusi Kausal Kelley (Kelley’s Covariation Model, 1967)

Kelley menjelaskan bahwa dalam menentukan penyebab perilaku, orang


menggunakan tiga jenis informasi:

Jenis Informasi Pertanyaan Arti


Apakah orang lain bertindak sama dalam Jika ya → penyebab
Konsensus (Consensus)
situasi ini? situasional
Konsistensi Apakah orang ini selalu berperilaku sama Jika ya → penyebab
(Consistency) dalam situasi yang sama? stabil
Distinktivitas Apakah perilaku ini hanya muncul dalam Jika ya → penyebab
(Distinctiveness) situasi tertentu? situasional

Contoh:
Seorang pegawai marah pada hari Senin.

 Kalau semua rekan juga marah (konsensus tinggi) → mungkin situasinya yang
buruk (misalnya bos bersikap kasar).
 Kalau hanya dia yang marah (konsensus rendah), tapi dia selalu marah setiap hari
(konsistensi tinggi) → mungkin karena sifat pribadinya.

4. Teori Atribusi Weiner (Weiner’s Achievement Attribution Theory, 1974)

Weiner fokus pada atribusi terhadap keberhasilan dan kegagalan (khususnya dalam
konteks pendidikan dan kerja).

Ia mengelompokkan penyebab menjadi tiga dimensi:

Dimensi Contoh Faktor Arti Psikologis


Locus (Letak Internal (kemampuan) vs Eksternal
Mempengaruhi harga diri
penyebab) (keberuntungan)
Stabil (bakat) vs Tidak stabil (usaha, Mempengaruhi harapan
Stabilitas
keberuntungan) masa depan
Dapat dikontrol (usaha) vs Tidak dapat Mempengaruhi motivasi
Kontrolabilitas
dikontrol (nasib) dan emosi
Contoh:
Jika seseorang gagal ujian dan berpikir “Saya kurang belajar” (internal, tidak stabil,
dapat dikontrol) → ia mungkin termotivasi untuk memperbaiki diri.
Namun, jika ia berpikir “Saya memang bodoh” (internal, stabil, tidak dapat dikontrol)
→ motivasinya bisa turun.

Bagaimana Teori Atribusi Membantu Memahami Perilaku Manusia

1. Menjelaskan persepsi sosial: Mengapa kita menilai orang lain dengan cara
tertentu.
2. Membantu memahami motivasi: Cara seseorang menjelaskan keberhasilan atau
kegagalan memengaruhi semangatnya di masa depan.
3. Mengurangi salah paham sosial: Menyadarkan kita bahwa perilaku orang bisa
disebabkan oleh faktor situasional, bukan sekadar kepribadian.
4. Aplikasi praktis:
o Dalam pendidikan, guru dapat memahami cara siswa menafsirkan
kesuksesan dan kegagalan.
o Dalam organisasi, manajer bisa tahu bagaimana persepsi karyawan
terhadap kinerja dan tanggung jawab mereka.
o Dalam psikologi klinis, membantu memahami pola pikir negatif seperti
self-blame atau menyalahkan orang lain secara berlebihan.

Kesimpulan

Teori-teori atribusi membantu kita memahami bahwa perilaku manusia tidak bisa
dinilai hanya dari luarnya saja — kita perlu mempertimbangkan faktor internal dan
eksternal, serta cara individu menafsirkan penyebab tindakannya sendiri maupun
orang lain.

2. Berikut penjelasan lengkap dan sistematis tentang teori-teori dalam pendekatan


konsistensi, beserta contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari dan referensinya.

Pendekatan Konsistensi (Consistency Approach)

Pendekatan konsistensi dalam psikologi sosial berangkat dari anggapan bahwa


manusia memiliki dorongan untuk mempertahankan konsistensi (keseimbangan)
antara sikap, kepercayaan, dan perilaku.
Jika terjadi ketidaksesuaian (inkonsistensi), seseorang akan merasa tidak nyaman
secara psikologis dan terdorong untuk mengembalikan keseimbangan itu.

Intinya: manusia ingin berpikir, merasa, dan bertindak secara selaras.

Teori-teori dalam Pendekatan Konsistensi

1. Teori Keseimbangan Heider (Balance Theory – Fritz Heider, 1958)

Ide utama:
Orang ingin menjaga keseimbangan antara dirinya (P – Person), orang lain (O –
Other), dan objek/sikap tertentu (X – Object).

Modelnya dikenal sebagai segitiga P–O–X.

 Bila hubungan antara ketiganya seimbang (misalnya P menyukai O, dan O


menyukai X, serta P juga menyukai X), maka tercipta keadaan seimbang (balance).
 Bila tidak seimbang (misalnya P menyukai O, tetapi O tidak menyukai X,
sedangkan P menyukai X), maka timbul ketidakseimbangan (imbalance) →
memicu ketegangan psikologis.

Contoh pribadi:
Saya menyukai sahabat saya (O), dan sahabat saya menyukai musik jazz (X). Karena
saya ingin tetap merasa sejalan dengannya, saya mulai belajar menyukai musik jazz
agar hubungan kami tetap harmonis.

Maknanya: Individu cenderung menyesuaikan sikapnya agar konsisten dengan


orang-orang yang penting baginya.

2. Teori Konsistensi Kognitif (Cognitive Dissonance Theory – Leon Festinger, 1957)

Ide utama:
Ketika seseorang memiliki dua atau lebih keyakinan, sikap, atau perilaku yang saling
bertentangan, ia mengalami disonansi kognitif (ketegangan mental).
Untuk mengurangi disonansi, individu akan berusaha:

1. Mengubah sikap,
2. Mengubah perilaku, atau
3. Menambahkan alasan pembenaran (rationalization).

Contoh pribadi:
Saya tahu merokok berbahaya untuk kesehatan, tetapi saya tetap merokok. Ini
menimbulkan disonansi.
Untuk menguranginya, saya bisa:

 Mengubah perilaku: berhenti merokok.


 Mengubah keyakinan: berpikir “ah, hidup cuma sekali”.
 Mencari pembenaran: “teman-teman saya juga merokok dan sehat-sehat saja.”

Maknanya: Teori ini menjelaskan mengapa orang sering mempertahankan perilaku


yang tidak sehat atau tidak logis — karena mereka berusaha mengurangi ketegangan
batin akibat ketidaksesuaian antara pikiran dan tindakan.

3. Teori Kongruensi Osgood & Tannenbaum (Congruity Theory – 1955)

Ide utama:
Teori ini merupakan pengembangan dari teori keseimbangan Heider, tetapi lebih
kuantitatif dan terukur.
Osgood & Tannenbaum menjelaskan bahwa orang berusaha menjaga keselarasan
(kongruensi) dalam penilaian mereka terhadap dua objek yang saling berhubungan.

Contoh pribadi:
Saya sangat menghormati seorang dosen (O), tetapi dosen tersebut menolak program
lingkungan yang saya dukung (X).
Agar tidak merasa konflik, saya mungkin:

 Menurunkan sedikit rasa hormat pada dosen tersebut, atau


 Mengubah pandangan saya terhadap program lingkungan itu.

Maknanya: Orang berusaha menjaga keselarasan dalam menilai orang dan ide agar
tidak muncul ketegangan batin.

4. Teori Atribusi Kognitif (Attribution Theory – Heider, 1958; Kelley, 1967)


Meskipun sering dikategorikan terpisah, teori atribusi juga berakar pada pendekatan
konsistensi.
Manusia cenderung mencari konsistensi antara perilaku dan penyebabnya — apakah
disebabkan oleh faktor internal atau eksternal.

Contoh pribadi:
Jika saya melihat teman saya selalu datang terlambat, saya mungkin menyimpulkan
bahwa “dia memang orangnya tidak disiplin” (atribusi internal).
Namun jika keterlambatan hanya sekali karena hujan deras, saya menganggap
“situasinya yang membuat terlambat” (atribusi eksternal).

Maknanya: Kita berusaha menemukan hubungan yang konsisten antara tindakan dan
penyebabnya agar dunia sosial terasa masuk akal.

Kesimpulan
Teori Tokoh Fokus Utama Tujuan Individu
Keseimbangan antara diri, Menjaga hubungan
Balance Theory Heider (1958)
orang lain, dan objek sosial seimbang
Cognitive
Ketidaksesuaian antara Mengurangi
Dissonance Festinger (1957)
keyakinan dan perilaku ketegangan psikologis
Theory
Osgood &
Keselarasan dalam menilai Menjaga penilaian
Congruity Theory Tannenbaum
orang dan ide tetap konsisten
(1955)
Attribution Heider (1958), Konsistensi antara perilaku Memahami penyebab
Theory Kelley (1967) dan penyebab perilaku manusia
Referensi

1. Heider, F. (1958). The Psychology of Interpersonal Relations. New York: Wiley.


2. Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford, CA: Stanford
University Press.
3. Osgood, C. E., & Tannenbaum, P. H. (1955). The principle of congruity in the
prediction of attitude change. Psychological Review, 62(1), 42–55.
4. Kelley, H. H. (1967). Attribution theory in social psychology. In D. Levine (Ed.),
Nebraska Symposium on Motivation (Vol. 15). Lincoln: University of Nebraska
Press.
5. Baron, R. A., & Byrne, D. (2005). Psikologi Sosial (Edisi 10). Jakarta: Erlangga.

Anda mungkin juga menyukai