0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
271 tayangan4 halaman

Tugas Tutorial 1 Sptp4205

Dokumen ini membahas permasalahan pembelajaran di sekolah yang kurang inovatif dan masih menggunakan metode konvensional. Rekomendasi yang diberikan adalah penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan partisipasi siswa dan mengembangkan karakter positif. PBL diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
271 tayangan4 halaman

Tugas Tutorial 1 Sptp4205

Dokumen ini membahas permasalahan pembelajaran di sekolah yang kurang inovatif dan masih menggunakan metode konvensional. Rekomendasi yang diberikan adalah penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan partisipasi siswa dan mengembangkan karakter positif. PBL diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS TUTORIAL I

Program Studi : Teknologi Pendidikan


Kode Mata Kuliah : SPTP4205
Nama Mata Kuliah : Model-model Pembelajaran Inovatif
Jumlah sks : 3 sks

Skenario Kasus

Berdasarkan laporan Kemdikbudristek (2024), banyak sekolah masih mengalami


permasalahan berikut:

 Pembelajaran kurang inovatif → guru cenderung menggunakan metode


konvensional.
 Pembelajaran tematik belum optimal → integrasi antarmata pelajaran kurang
terasa.
 Pendidikan karakter belum tertanam → siswa kesulitan memahami nilai-nilai
utama seperti kolaborasi, tanggung jawab, dan empati.

Anda sebagai calon pengembang teknologi pembelajaran diminta membantu satu sekolah
untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya.

Instruksi Tugas

Buatlah laporan analisis kasus dan rekomendasi inovasi pembelajaran dengan langkah-
langkah berikut:

1. Pilih satu kasus nyata terkait pembelajaran di sekolah.


a. Kasus dapat diambil dari artikel berita, jurnal, atau hasil observasi lapangan.
b. Sertakan sumber referensi kasusnya.
2. Analisis Permasalahan Pembelajaran
a. Jelaskan permasalahan pembelajaran berdasarkan kasus yang dipilih.
b. Kaitkan dengan kurangnya pembaharuan pembelajaran dan penerapan
pembelajaran tematik.
3. Berikan Rekomendasi Inovasi Pembelajaran
a. Pilih satu model pembelajaran inovatif (misalnya flipped classroom, PBL,
discovery learning, atau blended learning).
b. Rancang tema pembelajaran tematik yang relevan dengan kasus.
c. Integrasikan minimal dua nilai pendidikan karakter menurut Lockwood
(2009) ke dalam solusi.

Struktur Laporan

1. Pendahuluan → gambaran umum kasus dan urgensi masalah


2. Analisis Kasus → paparan masalah dan tantangan pembelajaran
3. Rekomendasi Inovasi Pembelajaran
a. Model pembelajaran inovatif yang dipilih
b. Desain tema pembelajaran tematik
c. Strategi integrasi pendidikan karakter
4. Kesimpulan → dampak yang diharapkan
5. Daftar Pustaka → minimal 2 referensi jurnal atau buku (2020–2025)

Format:

 Panjang 3–4 halaman (1,5 spasi)


 Dokumen Word/PDF
 Menggunakan sitasi dan daftar pustaka format APA 7

Kriteria Penilaian

Aspek Skor 10-30 Skor 3-10 Skor 0-5


Poin Skor 5-20 (Baik)
Penilaian (Sangat Baik) (Cukup) (Kurang)
Analisis kasus
Analisis
Analisis sangat mendalam, Analisis cukup baik Tidak ada
30 dangkal,
Masalah berbasis data, dan dan relevan analisis kasus
kurang data
relevan
Rekomendasi Rekomendasi Tidak
Rekomendasi Rekomendasi
35 kreatif, aplikatif, cukup tepat dan memberikan
Inovasi kurang sesuai
dan kontekstual relevan rekomendasi
Model inovatif,
Integrasi cukup
Integrasi 3 tematik, dan Integrasi Tidak ada
25 jelas, belum
Aspek karakter terbatas integrasi
optimal
terhubung kuat
Bahasa akademik Bahasa
Bahasa cukup baik,
Bahasa & baik, referensi umum, Tidak sesuai
10 ada kekurangan
Referensi lengkap dan sesuai referensi kaidah
minor
APA 7 minim
Perubahan zaman menuntut dunia pendidikan untuk menyiapkan peserta didik yang mampu
berpikir kritis, kreatif, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Namun, kenyataannya
masih banyak proses pembelajaran di sekolah yang berjalan secara konvensional. Guru masih
menjadi pusat kegiatan belajar, sementara siswa hanya berperan sebagai pendengar. Hal ini
menyebabkan pembelajaran kurang menarik dan tidak mendorong siswa untuk aktif berpikir.
Penerapan model pembelajaran inovatif menjadi penting agar siswa dapat berpartisipasi aktif,
memahami konsep secara mendalam, dan mengembangkan karakter positif seperti tanggung jawab
dan kerja sama.

Kasus yang sering ditemui di sekolah adalah kurangnya inovasi dalam kegiatan pembelajaran. Guru
cenderung menggunakan metode ceramah, latihan soal, dan hafalan. Akibatnya, siswa terlihat pasif,
cepat bosan, dan tidak antusias mengikuti pelajaran. Selain itu, interaksi antara guru dan siswa
bersifat satu arah, sehingga siswa jarang mengajukan pertanyaan atau mengemukakan pendapat.
Proses belajar seperti ini tidak mendorong keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa, padahal
kedua hal tersebut sangat dibutuhkan di era modern. Masalah ini juga berdampak pada hasil belajar
yang rendah dan kurangnya kemampuan siswa dalam menerapkan konsep pelajaran dalam
kehidupan sehari-hari.

Untuk mengatasi permasalahan ini, guru dapat menerapkan Model Pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. Model ini menempatkan siswa sebagai pusat
pembelajaran dengan menghadapkan mereka pada masalah nyata yang relevan dengan kehidupan
sehari-hari.

Langkah-langkah penerapan PBL di kelas:

1. Orientasi pada masalah: Guru menyajikan masalah yang sesuai dengan topik pelajaran, misalnya
'Bagaimana cara mengurangi sampah plastik di sekolah?'.

2. Pengorganisasian siswa: Siswa dibagi dalam kelompok kecil untuk mendiskusikan masalah dan
mengajukan hipotesis.

3. Penyelidikan mandiri: Siswa mencari data atau informasi dari berbagai sumber untuk menemukan
solusi.

4. Pengembangan dan penyajian hasil kerja: Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di
depan kelas.

5. Analisis dan refleksi: Guru dan siswa bersama-sama mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.

Dengan model PBL, siswa diajak aktif berpikir, berkolaborasi, dan menemukan solusi secara mandiri.
Hal ini dapat menumbuhkan sikap tanggung jawab, rasa ingin tahu, dan kemampuan bekerja sama.
Menurut Arends (2012), Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
komunikasi, dan pemecahan masalah karena siswa belajar dari situasi yang bermakna dan
kontekstual.
Masalah kurangnya inovasi pembelajaran dapat diatasi dengan penerapan model Problem Based
Learning (PBL). Model ini mendorong siswa untuk aktif, berpikir kritis, dan bekerja sama dalam
memecahkan masalah. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa menemukan
sendiri konsep pengetahuan. Melalui pembelajaran yang inovatif dan kontekstual, proses belajar
menjadi lebih menarik, bermakna, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa.

Arends, R. I. (2012). Learning to Teach. New York: McGraw-Hill.

Hosnan, M. (2016). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor:
Ghalia Indonesia.

Kemendikbud. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan,


Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Anda mungkin juga menyukai