0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan3 halaman

Hukum Adat

Dokumen ini membahas tiga topik utama terkait hukum adat di Indonesia, termasuk upacara Rambu Solo di Toraja, sistem barter di Pasar Mambunibuni, dan konflik agraria yang melibatkan Suku Anak Dalam di Sumatera Selatan. Setiap bagian mengajak analisis tentang karakteristik hukum adat dan peranannya dalam masyarakat. Selain itu, dokumen ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat dalam mempertahankan hak atas tanah dan tradisi mereka.

Diunggah oleh

padajangkung
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan3 halaman

Hukum Adat

Dokumen ini membahas tiga topik utama terkait hukum adat di Indonesia, termasuk upacara Rambu Solo di Toraja, sistem barter di Pasar Mambunibuni, dan konflik agraria yang melibatkan Suku Anak Dalam di Sumatera Selatan. Setiap bagian mengajak analisis tentang karakteristik hukum adat dan peranannya dalam masyarakat. Selain itu, dokumen ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat dalam mempertahankan hak atas tanah dan tradisi mereka.

Diunggah oleh

padajangkung
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

085697208984 Jawaban full silahkan hubungi

085697208984 Jawaban berdasarkan Modul Harga


terjangkau
Hukum Adat / FSIH4206

1. Rambu Solo adalah upacara pemakaman adat Toraja, Sulawesi Selatan sebagai
bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal. Rambu Solo juga
bertujuan untuk mengantarkan arwah seseorang yang telah meninggal ke alam roh.
Masyarakat Toraja menganggap orang yang sudah meninggal telah benar-benar
meninggal jika seluruh kebutuhan prosesi upacara Rambu Solo terpenuhi. Jika belum,
maka orang meninggal tersebut akan diperlakukan layaknya orang sakit, sehingga
harus disediakan makanan, minuman, dan dibaringkan di tempat tidur. Secara harfiah,
Rambu Solo diartikan sinar yang arahnya ke bawah. Dengan demikian, Rambu Solo
diartikan sebagai upacara yang dilakukan saat matahari terbenam. Istilah lain Rambu
Solo adalah Auk Rampe Matampu.

(Sumber [Link] diolah Tahun 2024)

PERTANYAAN :

 Berikan analisis saudara apakah Rambu solo dapat disebut sebagai hukum adat
masyarakat adat Toraja ?
 Identifikasi dari ritual Rambu Solo, unsur apa yang tidak terpenuhi dalam
pengertian hukum adat.

2. Cermati berita berikut ini :

Pasar Mambunibuni di Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat, mempertahankan kearifan


lokalnya menggunakan sistem barter dalam perdagangannya. Pasar Mambunibuni ini
terletak di antara lembah dan hulu sungai. Dari sungai itulah menjadi jalan masuk bagi
warga pesisir atau kepulauan, dengan menggunakan perahu ukuran sedang, bermesin
memasuki ke Mambunibuni, dengan membawa hasil pangan dari laut, seperti ikan
segar, ciput, ikan kering, atau ikan asap, dan kerang. Sementara, pangan di darat
seperti sagu, sayur-sayuran, pisang, umbi-umbian, sirih, pinang, dan kapur yang
menjadi hal yang selalu wajib ada di tanah Papua. Di bawa ke pasar untuk melakukan
barter yang hanya di lakukan seminggu sekali, yakni pada hari sabtu saja. Pasar barter
ini di mulai pada pukul 05.00 WIT, semua masyarakat telah siap. Namun, tidak akan
ada yang memulai proses tawar menawar atau tukar menukar sebelum ada komando
dari kepala pasar. di tengah kerumunan itu ada bapak Baltasar Hegemur sebagai
Kepala Pasar Mambunibuni, yang dipercaya sebagai komando dimulainya proses
barter. Pasar barter akan di mulai jika bapak baltasar mengatakan “Hur wa regni biwo
in opeh rangge dewedop opeh rajeh?” yang berarti ‘mereka sudah turun dari gunung
dan dari pantai, sudah turun semuakah belum?’ dan jika ia menyebut “rajeh” yg berarti
‘mulai’ maka pasar barter baru bisa memulai proses barter tersebut. Pasar ini akan
berakhir pada jam 09:00 WIT. Setelah kepala pasar membunyikan tanda bahwa telah
berakhirnya kegiatan barter hari ini di pasar Mambunibuni.

(Sumber : [Link])

PERTANYAAN :

 Berikan analisis saudara pada kegiatan pasar Mambunibuni di Distrik Kokas, ciri
hukum adat yang paling menonjol adalah apa ?
 Identifikasi karakter hukum adat lain dari kegiatan Pasar Mambunibuni disertai
dengan penjelasan dari teori dasar hukum adat.

3.

Cermati kasus berikut ini :

Konflik agraria yang terjadi di Tebing Tinggi, Sumatera Selatan. Tanah mereka seluas
2.500 hektar dijanjikan akan menjadi perkebunan kelapa sawit. Selama kesepakatan
tersebut Suku Anak Dalam tidak mendapatkan manfaat dari perjanjian. Dalam
kesaksiannya, Mat Yadi selaku Suku Anak Dalam Sumatera Selatan mengatakan
bahwa Suku Anak Dalam mengungsi dan berpencar ke berbagai wilayah seperti kebun
milik orang lain. Hal ini diakibatkan oleh wilayah hutan adat mereka direbut oleh
perusahaan. Pada tahun 1995-1996 PT London Sumatra (PT Lonsum) menawarkan
kemitraan intiplasma kebun sawit. Hal tersebut telah terbukti dalam dokumen lama
yang ditunjukkan oleh tim advokasi pada tahun 1966. Orang Rimba mengaku memiliki
2500 hektar tanah sementara 1.100 hektar akan diberikan sebagai plasma kepada
kelompok transmigran dari Desa Karya Makmur. Kini, PT Lonsum telah
menghasilkan minyak sawit yang bernilai jutaan dolar. Namun, hingga kini suku
anak dalam belum mendapatkan keuntungan sepeser pun seperti yang sudah
diperjanjikan. Dengan Status Quo tanah adat disana sering menjadi alasan
bagi pembenar untuk memarjinalkan tanah ulayat. Selain itu, ketidakjelasan
batas tanah yang hanya berpatok pada ingatan penguasa adat menjadi salah satu
permasalahan tanah ulayat.

Sumber : (Bella Fitria Ariyanti, 2023)

PERTANYAAN :

 Berikan analisa saudara dasar hukum pengakuan tanah adat menurut UUPA ?
 Identifikasi dari kasus tersebut, peran hukum adat dalam penyelesaian konflik
tanah tersebut ?

Anda mungkin juga menyukai