Hukum Adat
Hukum Adat
1. Rambu Solo adalah upacara pemakaman adat Toraja, Sulawesi Selatan sebagai
bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal. Rambu Solo juga
bertujuan untuk mengantarkan arwah seseorang yang telah meninggal ke alam roh.
Masyarakat Toraja menganggap orang yang sudah meninggal telah benar-benar
meninggal jika seluruh kebutuhan prosesi upacara Rambu Solo terpenuhi. Jika belum,
maka orang meninggal tersebut akan diperlakukan layaknya orang sakit, sehingga
harus disediakan makanan, minuman, dan dibaringkan di tempat tidur. Secara harfiah,
Rambu Solo diartikan sinar yang arahnya ke bawah. Dengan demikian, Rambu Solo
diartikan sebagai upacara yang dilakukan saat matahari terbenam. Istilah lain Rambu
Solo adalah Auk Rampe Matampu.
PERTANYAAN :
Berikan analisis saudara apakah Rambu solo dapat disebut sebagai hukum adat
masyarakat adat Toraja ?
Identifikasi dari ritual Rambu Solo, unsur apa yang tidak terpenuhi dalam
pengertian hukum adat.
(Sumber : [Link])
PERTANYAAN :
Berikan analisis saudara pada kegiatan pasar Mambunibuni di Distrik Kokas, ciri
hukum adat yang paling menonjol adalah apa ?
Identifikasi karakter hukum adat lain dari kegiatan Pasar Mambunibuni disertai
dengan penjelasan dari teori dasar hukum adat.
3.
Konflik agraria yang terjadi di Tebing Tinggi, Sumatera Selatan. Tanah mereka seluas
2.500 hektar dijanjikan akan menjadi perkebunan kelapa sawit. Selama kesepakatan
tersebut Suku Anak Dalam tidak mendapatkan manfaat dari perjanjian. Dalam
kesaksiannya, Mat Yadi selaku Suku Anak Dalam Sumatera Selatan mengatakan
bahwa Suku Anak Dalam mengungsi dan berpencar ke berbagai wilayah seperti kebun
milik orang lain. Hal ini diakibatkan oleh wilayah hutan adat mereka direbut oleh
perusahaan. Pada tahun 1995-1996 PT London Sumatra (PT Lonsum) menawarkan
kemitraan intiplasma kebun sawit. Hal tersebut telah terbukti dalam dokumen lama
yang ditunjukkan oleh tim advokasi pada tahun 1966. Orang Rimba mengaku memiliki
2500 hektar tanah sementara 1.100 hektar akan diberikan sebagai plasma kepada
kelompok transmigran dari Desa Karya Makmur. Kini, PT Lonsum telah
menghasilkan minyak sawit yang bernilai jutaan dolar. Namun, hingga kini suku
anak dalam belum mendapatkan keuntungan sepeser pun seperti yang sudah
diperjanjikan. Dengan Status Quo tanah adat disana sering menjadi alasan
bagi pembenar untuk memarjinalkan tanah ulayat. Selain itu, ketidakjelasan
batas tanah yang hanya berpatok pada ingatan penguasa adat menjadi salah satu
permasalahan tanah ulayat.
PERTANYAAN :
Berikan analisa saudara dasar hukum pengakuan tanah adat menurut UUPA ?
Identifikasi dari kasus tersebut, peran hukum adat dalam penyelesaian konflik
tanah tersebut ?