SKALA STRATEGI COPING
Diajukan sebagai tugas UAS pada mata kuliah Asesmen Individu Teknik Non Tes
Dosen Pengampu:
Sarah Robbaniyyah, M.Psi, Psikolog
Disusun Oleh:
Syahrul Sayiril Anwar [202206019]
Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam
Fakultas Tarbiyah
Isntitut Agama Islam Persis Garut
1446 H/2025 M
1. Teori Strategi Coping
1.1 Definisi
Coping adalah perilaku yang terlihat dan tersembunyi yang dilakukan
seseorang untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan psikologis dalam
kondisi penuh stress (Yani, dalam Maryam, 2017). Lazarus dan Folkman (1984,
dalam Maryam, 2017) mengatakan bahwa keadaan stress yang dialami oleh
seseorang akan menimbulkan efek yang kurang menguntungkan baik secara
fisiologis maupun psikologis.
Dalam pandangan Haber dan Runyon (dalam Maryam, 2017) coping adalah
semua bentuk perilaku dan pikiran (negatif atau positif) yang dapat mengurangi
kondisi yang membebani individu agar tidak menimbulkan stres. Dapat
disimpulkan bahwa coping merupakan: (1) respon perilaku dan fikiran terhadap
stres; (2) penggunaan sumber yang ada pada diri individu atau lingkungan
sekitarnya; (3) pelaksanaannya dilakukan secara sadar oleh individu; dan (4)
bertujuan untuk mengurangi atau mengatur konflik-konflik yang timbul dari diri
pribadi dan di luar dirinya (internal or external conflict) (Maryam, 2017)
Dalam hal ini individu tidak akan membiarkan dirinya terkena coping,
individu tersebut akan melakukan suatu tindakan untuk mengatasi coping.
Tindakan yang diambil individu adalah strategi coping. Strategi coping bertujuan
untuk mengatasi situasi dan tuntutan yang dirasa menekan, menantang,
membebani dan melebihi sumberdaya (resources) yang dimiliki.
1.2 Jenis-jenis Strategi Coping
Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Maryam, 2017) terdapat dua jenis
mekanisme coping yang dilakukan individu yaitu coping yang berpusat pada
masalah (problem focused form of coping mechanism/direct action) dan coping
yang berpusat pada emosi (emotion focused of coping/palliatif form). Yang
termasuk mekanisme coping yang berpusat pada masalah adalah:
(1) Konfrontasi: konfrontasi adalah usaha-usaha untuk mengubah keadaan atau
menyelesaikan masalah secara agresif dengan menggambarkan tingkat
kemarahan serta pengambilan resiko.
(2) Isolasi: isolasi yaitu individu berusaha menarik diri dari lingkungan atau tidak
mau tahu dengan masalah yang dihadapi.
(3) Kompromi: kompromi yaitu mengubah keadaan secara hati-hati, meminta
bantuan kepada keluarga dekat dan teman sebaya atau bekerja sama dengan
mereka.
Sedangkan mekanisme coping yang berpusat pada emosi adalah sebagai
berikut:
(1) Denial: yaitu menolak masalah dengan mengatakan hal tersebut terjadi pada
dirinya.
(2) Rasionalisasi: yaitu menggunakan alasan yang dapat diterima oleh orang lain
untuk menutupi ketidakmampuan dirinya.
(3) Kompensasi: yaitu menunjukkan tingkah laku untuk menutupi
ketidakmampuan dengan menonjolkan sifat baik, karena frustasi dalam suatu
bidang maka dicari kepuasan secara berlebihan dalam bidang lain.
Kompensasi timbul karena adanya perasaan kurang mampu.
(4) Represi: yaitu dengan melupakan masa-masa yang tidak menyenangkan dari
ingatannya dan hanya mengingat waktu-waktu yang menyenangkan.
(5) Sublimasi: yaitu mengekspresikan atau menyalurkan perasaan, bakat atau
kemampuan dengan sikap positif.
(6) Identifikasi: yaitu meniru cara berpikir, ide dan tingkah laku orang lain.
(7) Regresi: yaitu sikap seseorang yang kembali ke masa lalu atau bersikap seperti
anak kecil.
(8) Proyeksi; yaitu menyalahkan orang lain atas kesulitannya sendiri atau
melampiaskan kesalahannya kepada orang lain.
(9) Konversi: yaitu mentransfer reaksi psikologis ke gejala fisik.
(10) Displacement: yaitu reaksi emosi terhadap seseorang kemudian diarahkan
kepada orang lain.