0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan8 halaman

Tugas 1 Mkd. Marlen Lodoh

Dokumen ini membahas ruang lingkup manajemen keuangan daerah, termasuk pengertian, fungsi, dan tujuan pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Manajemen keuangan daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tata kelola pemerintahan yang baik melalui pengelolaan yang efisien dan efektif. Selain itu, dokumen ini mencakup prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi, dan pengendalian dalam pengelolaan keuangan daerah.

Diunggah oleh

Tami Rambu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan8 halaman

Tugas 1 Mkd. Marlen Lodoh

Dokumen ini membahas ruang lingkup manajemen keuangan daerah, termasuk pengertian, fungsi, dan tujuan pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Manajemen keuangan daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tata kelola pemerintahan yang baik melalui pengelolaan yang efisien dan efektif. Selain itu, dokumen ini mencakup prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi, dan pengendalian dalam pengelolaan keuangan daerah.

Diunggah oleh

Tami Rambu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RUANG LINGKUP MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

OLEH

MARLEN BELANDINA LODOH

NIM: 23410068

MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA

FAKULTAS EKONOMI

PRODI MANAJEMEN

TAHUN 2025
RUANG LINGKUP MANAJEME KEUANGAN DAERAH

A. Pengertian Manajemen Keuangan Daerah


1) Sesuai dengan PP Nomor 58 tahun 2005, keuangan daerah
didefinisikan sebagai semua hak dan kewajiban daerah dalam
rangka penyelenggaraan oemerinta yang dapat dinilai dengan
uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang
berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.
Sedangkan menurut UU Nomer 23 tahun 2014, keuangan daerah
adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai
dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang
dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
2) Dalam buku pintar manajemen keuangan daerah disusun oleh
(Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia). Buku ini
membantu Pemerintah Daerah untuk memahami secara interaktif
proses kerja pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah, untuk mewujudkan pengelolaan
keuangan daerah yang efektif, efisien dan ekonomis. Buku ini
berisi penjelasan terkait perubahan pada peran pengelola
keuangan daerah, perubahan struktur APBD, perubahan pada
proses pengelolaan keuangan daerah, yang meliputi proses
penganggaran, pelaksanaan dan penatausahaan, akuntansi dan
pelaporan hingga pembinaan dan pengawasan serta perubahan
lainnya. Saya berharap buku ini dapat menjadi alat bantu untuk
Pemerintah
3) Buku ajar Manajemen Keuangan Daerah mempelajari tentang
Manajemen keuangan daerah. Manajemen keuangan daerah
menjadi begitu penting bagi aparat pemerintahan di daerah
karena merupakan konsekwensi logis dari perspektif manajemen
perimbangan antara keuangan pusat dan daerah. Transformasi
nilai yang berkembang dalam era reformasi ini adalah
meningkatnya penekanan proses akuntabilitas publik atau bentuk
pertanggung jawaban horisontal, khususnya bagii aparat
pemerintahanan di daerah, tanpa mengesampingkan
pertanggungjawaban vertical kepada pemerintahan atasan dalam
segala aspek pemerintahan, termasuk aspek penatausahaan dan
pertanggungjawaban keuangan daerah sesuai dengan Surat
Keputusan Mendagri No. 29 Tahun 2002

B. FUNGSI MANAJEMEN KEUANGAN

Pada dasarnya fungsi pokok pemerintah terdiri dari tiga hal yang di
ambil dari (Buku Keuangan Daerah), yakni fungsi alokasi, fungsi
distribusi dan fungsi stabilisasi. Fungsi-fungsi pokok ekonomi yang
diklasifikasikan dalam tiga bagian di atas dapat dijelaskan sebagai
berikut:

1) Fungsi alokasi, yaitu peran pemerintah dalam mengalokasikan


sumber-sumber ekonomi yang ada kepada seluruh masyarakat.
2) Fungsi distribusi, yaitu peran pemerintah dalam perekonomian
dalam mendistribusikan sumber-sumber ekonomi (pendapatan)
kepada seluruh masyarakat. Jadi, dalam hal ini pemerintah
seharusnya menjamin bahwa seluruh masyarakat dapat
mengakses sumber-sumber ekonomi dan juga mendapatkan
penghasilan yang layak. Fungsi distribusi ini memiliki
keterkaitan erat dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat
dalam rangka mendorong tercapainya pertumbuhan ekonomi
yang merata dan proporsional.
3) Fungsi stabilisasi, yaitu peran pemerintah dalam menjamin dan
menjaga stabilisasi perekonomian secara makro (aggregate),
misalnya pemerintah berperan dalam mengendalikan laju inflasi
agar tetap pada level yang di inginkan (one digit inflation),
keseimbangan neraca pembayaran, pertumbuhan ekonomi, dan
lain-lain dalam rangka mencapai stabilitas ekonomi secara
nasional.
Ada juga fungsi menurut beberapa para ahli yaitu:
1) Menurut mahmudi (2010), Perencanaan keuangan daerah
mencakup penyusunan Anggaran. Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) yang bertujuan untuk mengalokasikan sumber
daya secara optimal sesuai prioritas pembangunan. Mahmudi
menekankan bahwa perencanaan yang baik dapat meningkatkan
efektivitas program pemerintah daerah.
2) Menurut Mardiasmo (2009), penganggaran adalah proses
penyusunan anggaran yang harus transparan dan partisipatif.
APBD harus disusun dengan mempertimbangkan prinsip
efisiensi dan efektivitas agar dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat.
3) Halim (2012), menjelaskan bahwa dalam tahap pelaksanaan
anggaran, pemerintah daerah harus memastikan bahwa
penggunaan dana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
dalam APBD dan dilakukan secara efisien untuk mencapai hasil
maksimal.
4) Simanjuntak (2013), menekankan bahwa pengawasan dan
pengendalian keuangan daerah harus dilakukan secara ketat
untuk mencegah penyimpangan anggaran. Hal ini dapat
dilakukan melalui audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
dan evaluasi berkala.
5) Menurut Sukirno (2011), pelaporan dan pertanggungjawaban
keuangan daerah harus dilakukan secara transparan dengan
mengikuti Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Laporan
keuangan yang akurat dapat meningkatkan kepercayaan publik
terhadap pemerintah daerah.

C. TUJUAN MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH


 Manajemen keuangan daerah bertujuan untuk mengoptimalkan
pengelolaan keuangan dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan masyarakat serta mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance).
 Tujuan diaturnya Keuangan Daerah oleh Pemerintah Daerah
adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam
pengelolaan sumber daya keuangan daerah, meningkatkan
kesejahteraan daerah dan mengoptimalkan pelayanan kepada
masyarakat. Singkatnya, dapat disebutkan bahwa keuangan
daerah merupakan semua hak dan kewajiban pemerintah daerah
dalam bentuk uang (rupiah) yang dimanfaatkan untuk
membiayai kegiatan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Selanjutnya Pengelolaan Keuangan Daerah dapat diartikan


sebagai keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan,
pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban
dan pengawasan keuangan daerah. Undang-Undang Nomor 33
Tahun 2004 secara jelas menetapkan landasan dalam penataan
pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah, antara
lain memberikan keleluasaan dalam menetapkan:
1. Ketentuan tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan
daerah diatur dengan peraturan daerah.
2. Sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah diatur
dengan Surat Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan
Peraturan Daerah tersebut.
3. Kepala Daerah menyampaikan laporan pertanggung
jawaban kepada DPRD mengenai pengelolaan keuangan
daerah dan kinerja keuangan daerah dari segi efisiensi dan
efektifitas keuangan.
4. Laporan

D. LINGKUP MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

Lingkup keuangan daerah sebagaimana dalam PP Nomor 58 Tahun


2005 antara lain:
1. Kewenangan daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi
daerah serta melakukan pinjaman daerah.
2. Kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintah
dan membayar tagihan atas pinjaman dari pihak ketiga.
3. Penerimaan daerah
4. Pengeluaran daerah
5. Kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain
berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain
yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang
dipisahkan pada perusahaan daerah.
6. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah
dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan
atau kepentingan umum.
Asas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah yang juga tercantum
pada PP Nomor 58 Tahun 2005 terdiri dari:
1. Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas
keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat, dan
2. Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu
sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD yang
setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah.
Sejak dimulainya era desentalisasi, setiap daerah memiliki
kewenangan untuk dapat mengurus dan mengatur keuangannya
sendiri dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen keuangan
daerah. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
1) Akuntabilitas
Dalam prinsip akuntabilitas, pengambilan suatu keputusan
sesuai dengan mandat yang diterima Kebijakan harus dapat
diakses dan dipertanggungjawabkan. dikomunikasikan serta
2) Transparansi
Dalam prinsip transparansi, diperlukan keterbukaan
pemerintah dalam membuat kebijakan keuangan daerah
sehingga dapat diawasi oleh DPRD dan masyarakat.

3) Kejujuran
Dalam pengelolaannya, keuangan publik harus dipercayakan
kepada pengelola yang memiliki integritas dan kejujuran
tinggi.

4) Value for Money


Prinsip ini dioperasionalkan dalam pengelolaan keuangan
daerah dan anggaran daerah dengan memperhatikan
ekonomis, efektivitas, dan efisiensi.
5) Pengendalian
Dalam prinsip pengendalian, dilakukan monitoring terhadap
penerimaan maupun pengeluaran APBD
REFERENSI
560131-buku-ajar-manajemen-keuangan-daerah-2662843e[1].pdf (Dr. H.
Senen Mustakim. A.Md. S. Sos. M.Si)
https://pbj.kalbarprov.go.id/wp-content/uploads/2021/03/Buku-Pintar-PP-
12-2019.pdf?utm_source=chatgpt.com (Drs. Arsan Latif, M. Si;)
https://books.google.co.id/books?
id=VOmIDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=buku+keuangan+daerah&
hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&source=gb_mobile_search&ovdme=1
&sa=X&ved=2ahUKEwjyvobh3v6LAxUOzTgGHaQ6PDsQ6AF6BAgEEAM
#v=onepage&q=buku%20keuangan%20daerah&f=false ((Moh. Khusaini)
Mahmudi (2010) dalam bukunya "Manajemen Keuangan Daerah",
Mardiasmo (2009) dalam bukunya "Akuntansi Sektor Publik",
Sukirno (2011) dalam "Makroekonomi: Teori Pengantar",
Halim (2012) dalam "Akuntansi Keuangan Daerah",
Simanjuntak (2013) dalam bukunya tentang ekonomi pembangunan daerah

Anda mungkin juga menyukai