Menyusun Pledoi
Menyusun Pledoi
NOTA PEMBELAAN
Dalam Perkara No. 001/[Link]/VIII/2025
Atas Nama Terdakwa
IDAY FULAN Bin FULAN SENIOR
Dengan Hormat,
Yang bertandatangan dibawah ini,
1. Dr. TEDI HIDAYAT S.H.,M.H.,Mkn.
2. Muhammad Daffa Alhajj, S.H.,M.H.
Kesemuanya adalah advokat pada kantor hukum TEDI HIDAYAT & Rekan, yang berkantor di
Komplek Kota Baru Parahyangan, Jl. Parahyangan No.01, Kertajaya Kulon, Kabupaten
Bandung (40239), Jawa Barat – Indonesia, dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa Khusus
tanggal 4 Juli 2025 bertindak sebagai Penasehat Hukum untuk dan atas nama terdakwa :
Nama : IDAY FULAN Bin FULAN SENIOR
Tempat tanggal lahir : Bandung
Umur/tanggal lahir : 34 tahun/25 april 1985
Jenis kelamin : laki-laki
Kebangsaan :Indonesia
Tempat tinggal : Desa Manteos No.63,RT.004,RW 013, Kecamatan Coblong, Kota
Bandung
1
Agama : Islam
Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : Wiraswas
Pertama-tama kami panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
proses pemeriksaan perkara ini, karena hanya berkat rahmat dan karunia-Nya jualah
persidangan ini dapat terselenggara dengan tertib dan lancar.
Selanjutnya untuk dan atas nama Terdakwa IDAY FULAN Bin FULAN SENIOR
perkenankanlah kami terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada Majelis Hakim yang
telah memeriksa perkara ini dengan penuh dan juga tidak lupa pula kami sampaikan ucapan
terima kasih kepada Tim Jaksa Penuntut Umum yang telah berpartisipasi dalam kelancaran
jalannya persidangan ini. Semoga keadilan yang sangat didambakan oleh Terdakwa IDAY
FULAN Bin FULAN SENIOR dapat segera terwujud dalam putusan Majelis Hakim yang dapat
memenuhi rasa keadilan
Nota Pembelaan kami pada pokoknya terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu:
I. PENDAHULUAN
II. FAKTA-FAKTA YANG TERUNGKAP DI MUKA SIDANG
III. ANALISIS TERHADAP SURAT DAKWAAN PENUNTUT UMUM
DIHUBUNGKAN DENGAN FAKTA PERSIDANGAN
IV. PENUTUP
Bahwa dalam perkara a quo, terdakwa IDAY FULAN Bin FULAN SENIOR di dakwa oleh
Jaksa Penuntut Umum dengan bentuk dakwaan kumulatif, yaitu terdiri dari dua dakwaan yang
berdiri sendiri dan tidak bergantung satu sama lain, yakni:
- Dakwaan kesatu, sebagaimana diatur dalam Pasal 362 KUHP tentang tindak pidana
pencurian; dan
- Dakwaan kedua: sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP tentang tindak pidana
penipuan
Setelah membaca dan mempelajari surat dakwaan juga surat tuntutan yang diajukan jaksa
penuntut umum, maka kami selaku penasihat hukum terdakwa, sesuai dengan ketentuan pasal
182 ayat (1)huruf b Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), akan mengajukan
nota pembelaan sebagai berikut:
2
BAB I PENDAHULUAN
Perkara a quo adalah perkara pidana umum yang melibatkan Terdakwa IDAY FULAN Bin
FULAN SENIOR, seorang wiraswasta berusia 34 tahun, yang didakwa oleh Jaksa Penuntut
Umum dengan dua dakwaan sekaligus secara kumulatif, yaitu Pasal 362 KUHP tentang
pencurian, dan Pasal 378 KUHP tentang penipuan. Hal yang menjadi menarik dalam perkara
ini bukan hanya karena adanya dua pasal berbeda yang dikenakan kepada satu orang terdakwa,
tetapi juga karena perbuatan yang didakwakan dilakukan dalam lingkup keluarga dan
hubungan sosial yang semestinya diselesaikan secara perdata, bukan pidana.
Jaksa Penuntut Umum mendalilkan bahwa Terdakwa telah membawa sepeda motor milik
saudara Mulyono — ayah dari mantan istrinya — tanpa izin, dan kemudian menjaminkan
sepeda motor tersebut untuk meminjam uang sebesar Rp 2.500.000,00 kepada seorang teman
bernama Rendi alias Edi. Motor itu memang secara administratif milik saudara Mulyono,
namun yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa motor tersebut sebelumnya memang
ditempatkan secara sukarela di rumah yang dahulu ditempati oleh Terdakwa dan
mantan istrinya untuk keperluan antar-jemput anak mereka sekolah.
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, mulai dari keterangan saksi a
charge, keterangan saksi Junaedi alias Juki, saksi korban Mulyono, hingga saksi pemberi
pinjaman, Rendi alias Edi, justru tidak satupun yang secara tegas menyatakan bahwa
Terdakwa mengambil secara melawan hukum motor tersebut, apalagi dengan itikad jahat untuk
memiliki barang itu secara permanen. Tidak ada kekerasan, tidak ada pengambilan paksa, tidak
ada penyamaran atau identitas palsu. Bahkan Terdakwa secara terbuka mengakui bahwa ia
memang membawa motor tersebut dan menjadikannya jaminan pinjaman karena
terdesak kebutuhan ekonomi, dan tidak pernah menolak saat ditanya tentang keberadaan
motor itu.
Hal yang menjadi ganjil adalah bagaimana perbuatan yang jelas-jelas berangkat dari relasi
keluarga, hubungan kepercayaan, dan kondisi ekonomi, dapat serta merta dikriminalisasi
sebagai pencurian dan penipuan. Jaksa tidak menyampaikan bukti adanya tipu muslihat,
keterangan palsu, atau pemalsuan surat. Bahkan tidak ada kontrak antara Terdakwa dan
Rendi. Rendi sendiri mengaku memberikan uang berdasarkan rasa percaya dan kedekatan
pribadi dengan Terdakwa yang dikenal sebagai anak pemilik bengkel tempat ia bekerja.
3
Berdasarkan keseluruhan keterangan di persidangan, kami meyakini bahwa tidak ada unsur
pidana yang terbukti secara sah dan meyakinkan dalam perkara ini. Peristiwa yang terjadi lebih
tepat dikualifikasikan sebagai sengketa keperdataan yang semestinya diselesaikan melalui jalur
musyawarah atau gugatan wanprestasi, bukan dengan ancaman pidana.
Melalui nota pembelaan ini, kami akan menguraikan fakta hukum, analisis yuridis, serta alasan
mengapa Terdakwa seharusnya dibebaskan dari seluruh dakwaan, karena unsur-unsur
dari Pasal 362 KUHP maupun Pasal 378 KUHP tidak terpenuhi secara hukum maupun
nurani keadilan.
4
3. Saksi Rendi alias Edi
- Saksi menyatakan bahwa ia mengenal Terdakwa secara pribadi karena Terdakwa adalah
anak dari pemilik bengkel tempat ia bekerja.
- Saksi menyebut bahwa pada tanggal 3 Juni 2025, Terdakwa datang ke rumahnya dan
meminta pinjaman uang sebesar Rp 2.500.000,-.
- Terdakwa menyerahkan sepeda motor tanpa STNK dan BPKB sebagai jaminan
pinjaman. Namun karena merasa percaya, saksi tetap memberikan pinjaman.
- Saksi mengaku tidak menanyakan kepemilikan motor, karena sering melihat motor
tersebut berada di rumah Terdakwa dan merasa tidak ada yang janggal.
- Saksi baru mengetahui bahwa motor itu milik Mulyono setelah mendapat panggilan
dari pihak kepolisian, dan kemudian mengembalikan motor tersebut ke Polsek Patrang.
B. Keterangan Terdakwa
- Terdakwa mengakui bahwa ia menggunakan motor Honda Supra X tahun 2009 milik
Mulyono sebagai jaminan pinjaman kepada Rendi.
- Terdakwa menjelaskan bahwa motor tersebut memang sudah berada dalam
penguasaannya sejak dulu, karena digunakan untuk mengantar anak ke sekolah ketika
masih tinggal bersama Bunga Citra.
- Terdakwa menyatakan bahwa tindakan menjadikan motor sebagai jaminan dilakukan
karena kebutuhan ekonomi mendesak, dan tidak ada niat untuk memiliki motor secara
permanen, apalagi menjualnya.
- Terdakwa menyampaikan bahwa ia tidak pernah berbohong kepada Rendi mengenai
kepemilikan motor, dan tidak pernah menyatakan bahwa motor itu miliknya.
- Terdakwa menyebut bahwa ia tidak melarikan diri, dan tetap berada di lingkungan
tempat tinggalnya sebelum akhirnya ditahan.
6
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di muka persidangan, keterangan para saksi,
pengakuan Terdakwa, dan tidak adanya alat bukti yang cukup kuat untuk membuktikan
adanya unsur delik, kami selaku Penasihat Hukum menilai bahwa kedua dakwaan tersebut
tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.
Untuk itu, dalam bagian ini akan diuraikan analisis hukum terhadap masing-masing dakwaan,
dikaitkan dengan fakta-fakta hukum yang muncul di persidangan.
Analisis terhadap Dakwaan Kesatu: Pasal 362 KUHP bahwa Pasal 362 KUHP mengatur
tentang tindak pidana pencurian, yang unsur-unsurnya antara lain: “barang siapa”, “mengambil
barang”, “barang tersebut milik orang lain”, dan “dengan maksud untuk memiliki secara
melawan hukum”. Memang benar bahwa motor yang menjadi objek perkara adalah atas nama
Mulyono, yaitu ayah dari mantan istri Terdakwa. Namun yang tidak bisa dikesampingkan
adalah kenyataan bahwa sepeda motor tersebut telah ditempatkan secara sukarela oleh
Mulyono di rumah mantan pasangan suami istri, yaitu Terdakwa dan Bunga Citra, dengan
tujuan untuk mengantar dan menjemput anak sekolah. Artinya, motor tersebut berada dalam
penguasaan Terdakwa dengan seizin dan sepengetahuan pemilik. Dengan demikian, unsur
“mengambil barang” dalam konteks Pasal 362 KUHP menjadi tidak relevan, sebab barang
tersebut sudah terlebih dahulu berada dalam penguasaan sah Terdakwa.
Maka dengan itu Terdakwa tidak memiliki niat untuk menguasai barang itu secara melawan
hukum. Tindakan Terdakwa menjaminkan motor tersebut kepada saudara Rendi semata-mata
karena kondisi ekonomi yang mendesak, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak
ada bukti bahwa Terdakwa menjual motor itu, memalsukan surat-surat kendaraan, atau
berusaha mengalihkan kepemilikan motor secara permanen.
Apabila benar Terdakwa memiliki niat jahat (mens rea), maka semestinya ia menyembunyikan
keberadaan motor, menghilangkan identitas kendaraan, atau melarikan diri. Namun dalam
kenyataannya, saat ditanya oleh saksi Juki, Terdakwa secara terbuka mengakui bahwa motor
tersebut telah dijadikan jaminan pinjaman. Tidak ada satu pun tindakan Terdakwa yang
mencerminkan adanya unsur penguasaan secara melawan hukum. Oleh karena itu, unsur
“dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum” sebagaimana dimaksud dalam Pasal
362 KUHP tidak terpenuhi.
Berdasarkan uraian tersebut, maka jelas bahwa unsur-unsur dalam Pasal 362 KUHP tidak
terbukti secara sah dan meyakinkan. Dakwaan pertama patut dikesampingkan, dan Terdakwa
harus dibebaskan dari tuntutan pidana pencurian.
Analisis terhadap Dakwaan Kedua: Pasal 378 KUHP
Pasal 378 KUHP mengatur tentang tindak pidana penipuan, yang unsur-unsurnya antara lain
adalah: adanya maksud menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum, menggunakan tipu
7
muslihat atau kebohongan, serta menggerakkan orang lain agar memberikan barang atau utang.
Dalam perkara ini, Penuntut Umum mendalilkan bahwa Terdakwa meminjam uang sebesar Rp
2.500.000,- kepada saudara Rendi dengan menyerahkan motor yang bukan miliknya sebagai
jaminan, sehingga memenuhi unsur penipuan. Namun setelah kita cermati secara seksama fakta
yang muncul di persidangan, dalil tersebut tidak didukung oleh bukti yang kuat.
Saksi Rendi sendiri menyatakan bahwa ia memberikan pinjaman uang kepada Terdakwa bukan
karena dibohongi, melainkan karena rasa percaya. Terdakwa dikenal sebagai anak dari pemilik
bengkel tempat Rendi bekerja, dan motor tersebut juga sering terlihat di rumah Terdakwa,
sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Tidak ada satu pun pernyataan dari Terdakwa yang
menyebutkan bahwa motor tersebut adalah miliknya. Bahkan Terdakwa tidak memberikan
STNK atau BPKB sebagai bukti kepemilikan, yang seharusnya menjadi syarat pokok jika ada
niat untuk menipu.
Kejadian tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai hubungan utang-piutang biasa yang terjadi
karena adanya kepercayaan. Dalam hubungan sosial seperti ini, apabila ada wanprestasi dalam
pengembalian pinjaman, maka seharusnya ditempuh jalur perdata, bukan dikriminalisasi
sebagai penipuan. Fakta bahwa Terdakwa tidak melarikan diri, serta dengan terbuka
menjelaskan kepada saksi Juki keberadaan motor tersebut, menunjukkan tidak adanya niat jahat
untuk memperdaya atau mengelabui siapapun.
Penipuan mensyaratkan adanya rangkaian kebohongan dan tipu daya sebagai inti deliknya.
Dalam perkara ini, tidak ada satu pun unsur tipu muslihat atau kebohongan yang dapat
dibuktikan oleh Penuntut Umum. Justru yang terjadi adalah hubungan sosial berdasarkan
kepercayaan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan demikian, dakwaan kedua berdasarkan Pasal 378 KUHP juga tidak dapat dibuktikan
Kami akan jelaskan secara gamblang mengenai Penerapan Asas-Asas Hukum Pidana Dalam
menganalisis perkara ini, kita tidak bisa melepaskan prinsip-prinsip dasar hukum pidana.
Pertama, prinsip ultimum remedium, yakni bahwa hukum pidana adalah jalan terakhir apabila
upaya-upaya hukum lain tidak memadai. Dalam perkara ini, apabila terjadi sengketa atas
penggunaan barang atau pengembalian pinjaman, maka seharusnya ditempuh jalur perdata,
bukan pidana.
Kedua, asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld). Tidak ada satu pun
fakta persidangan yang membuktikan bahwa Terdakwa memiliki kesalahan yang memenuhi
unsur pidana. Bahkan, keterangan para saksi justru memperkuat bahwa perbuatan Terdakwa
tidak memenuhi syarat adanya niat jahat (mens rea).
Ketiga, asas legalitas sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP, yang menyatakan
bahwa tidak ada perbuatan yang dapat dipidana kecuali berdasarkan undang-undang. Dalam
8
perkara ini, unsur-unsur delik dalam kedua pasal yang didakwakan tidak terbukti,
sehingga menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa akan bertentangan dengan asas legalitas itu
sendiri.
Berdasarkan keseluruhan fakta hukum, keterangan saksi, pengakuan Terdakwa, serta
tidak terpenuhinya unsur-unsur pidana dalam Pasal 362 maupun Pasal 378 KUHP, maka
kami memandang bahwa Terdakwa IDAY FULAN Bin FULAN SENIOR tidak terbukti
secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencurian ataupun
penipuan, dan karenanya patut untuk dibebaskan dari seluruh dakwaan.
IV PENUTUP
9
4. Mengembalikan seluruh barang bukti (jika ada) yang tidak relevan dengan tindak
pidana kepada pemilik atau pihak yang berhak;
Demikian Nota Pembelaan (Pledoi) ini kami ajukan sebagai bagian dari upaya pencarian
keadilan dan penegakan hukum yang berkeadilan. Semoga Yang Mulia Majelis Hakim
sependapat dengan kami, dan menjatuhkan putusan yang mencerminkan kebenaran hukum
serta keadilan substantif.
10