Makalah Kewarganegaraan Kelompok 7
Makalah Kewarganegaraan Kelompok 7
Dosen Pengampu
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas segala rahmat
dan nikmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai selesai. Kami ucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing yakni bapak Muhammad Hamdan yang telah mengajari
kami. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materi atas makalah ini.
Tim penyusun sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman tentang urgensi integrasi nasional sebagai salah satu parmeter persatuan dan
kesatuan bangsa. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa berguna dan
bermanfaat bagi pembaca dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami. Untuk itu kami sangat
memohon maaf sebesar-besarnya untuk kesalahan makalah ini dan mengharapkan kritik serta
saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Penyusun
I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................................................I
DAFTAR ISI....................................................................................................................................................II
BAB 1...............................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN............................................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................................1
1. 2 Rumusan Masalah.........................................................................................................................1
1.3 Tujuan............................................................................................................................................2
BAB 11.............................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN...............................................................................................................................................3
2.1 Konsep dan Urgensi Yang Bersumber Dari Pancasila.....................................................................3
2.2 Mengapa Diperlukan Demokrasi Yang Bersumber Dari Pancasila.................................................9
2.3 Mengali Sumber Histori,Sosiologi,dan Politik Demokrasi Yang Bersumber dari Pancasila...........11
2.4 Dinamika dan Tantangan Demokrasi Yang Bersumber Dari Pancasila.........................................15
BAB 111.........................................................................................................................................................17
PENUTUP......................................................................................................................................................17
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................................17
3.2 Saran............................................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................................18
II
BAB1
Pendahuluan
1.1Latarbelakang
1
1.3 Tujuan Dengan dibuatnya makalah ini kami berharap:
2
BAB 11
PEMBAHASAN
[Link] pengakuan dan perlindungan terkait hak asasi manusia serta adanya
jaminanhukum dari penguasa (pemerintah).
Ketiga prinsip di atas merupakan prinsip demokrasi yang pada umumnya ada dalam
suatunegara yang demokratis. Selebihnya prinsip-prinsip demokrasi seperti
adanyakebebasan pers, adanya pembagian kekuasaan negara, adanya supermasi sipil
terhadapmiliter, adanya prinsip kesukarelaan dalam kegiatan masyarakat serta
adanyapenegakan suatu keadilan sosial dapat berlaku berbeda-beda antara satu negara
dengannegara lainnyaDemokrasi pancasila merupakan suatu paham demokrasi yang
bersumber dari pandanganhidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia yang digali
berdasarkan kepribadian rakyatIndonesia [Link] falsafah hidup bangsa Indonesia,
kemudian akan timbul dasarfalsafah negara yang disebut dengan Pancasila dimana terdapat,
tercermin, terkandungdalam Pembukaan UUD 1945.
Prinsip demokrasi pancasila ini telah ditulis oleh Bpk. Ahmad Sanusi dalam buku
yangberjudul Memberdayakan Masyarakat dalam Pelaksanaan 10 Pilar Demokrasi
(2006:193-205) dimana memuat 10 prinsip demokrasi yang menurut Pancasila dan UUD
1945, yaitu :
3
1. Demokrasi yang Berketuhanan Yang Maha EsaDemokrasi yang berketuhanan
yang maha esa berarti sistem penyelenggaraan negaraharus taat, konsisten dan sesuai
dengan nilai juga kaidah dasar ketuhanan yang [Link] begitu maka diharapkan
masyarakat mempunyai pola pikir dan tindakan yang jauh dari tercela. Sehingga dapat
meminimalisir adanya konflik horizontal maupunpenyebab pelanggaran HAM vertikal.
4
5. Demokrasi dengan pemisahan kekuasaan negara
Prinsip yang ke enam ini berarti demokrasi beradsarkan UUD 1945 dimana
mengakui HAM dengan tujuan bukan hanya menghormati hak [Link] juga
meningkatkan martabat dan derajat manusia seutuhnya. HAM bersifat universal dan
dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia.
5
9. Demokrasi dengan kemakmuran
Prinsipnya ialah supaya membangun negara yang makmur oleh dan untuk
rakyatIndonesia yang mencakup semua aspek entah hak dan kewajiban, kedaulatan
rakyat,pembagian kekuasaan, otomi daerah ataupun keadilan [Link] ini
berdampak pada menekannya tingkat konflik agama maupun antar ras menjadilebih
kecil
6
Berikut adalah pandangan demokrasi menurut moh. Hatta
Dari sudut inilah Mohammad Hatta beranjak dan menolak demokrasi yang bersifat
individualisme, karena dalam perkembangan masyarakat di kemudian hari, kaum
pemodallah yang cepat bisa memanfaatkan bentuk demokrasi yang seperti ini. Kaum
pemodal, kapitalisbisa tumbuh bila tidak ada kekuatan pengimbang terhadap dirinya.
Dengan demikian, tumbuhdominan kaum kapitalis dalam demokrasi kapitalis inilah terbuka
lebar jalan I’exploitation deI’hommepar I’homme, yakni ekploitasi manusia atas manusia.
Penjelasan dari istilah tersebut adalah penindasan yang dilakukan oleh kaum pemilik modal
seperti manusia petani kecildieksploitasi manusia pemilik tanah dan yang lemah
dieksploitasi yang kuat. Sedangkankelemahan yang kedua adalah demokrasi Barat selalu
memiliki sisi politik dan ekonomi, yaitudemokrasi politik dan sistem ekonomi kapitalisme.
Secara spesifik yang ingin dukemukakanoleh Mohammad Hatta mengenai sistem ekonomi
kapitalis yang lahir terlebih dahulu dansistem demokrasi diciptakan dan diterapkan untuk
menjamin keberlangsungan dari sistemkapitalisme bukanlah sebaliknya.
7
Demokrasi politik yang ingin dijelaskan oleh Mohammad Hatta adalah demokrasi
yangmencerminkan sifat keperibadian kehidupan asli dari masyarakat Indonesia yang sejak
dulusudah ada, sifat-sifat tersebut seperti rapat, musyawarah untuk mencapai mufakat,
dansikap kritis terhadap peguasa. Sedangkan pengertian untuk demokrasi ekonomi
olehMohammad Hatta dijelaskan bahwa demokrasi yang berdasarkan asaz tolong-menolong
sertakebersamaan dan kekeluargaan yang tertuang dalam konsep koperasi iterjemahkan
denganmenjadikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional.
Gagasan koperasi sebenarnya telah dikenal di Indonesia sejak akhir abad ke-19,
ditandai dengan adanya sebuah oganisasi swadaya (self-help organization) sebagai cara
untuk menanggulangi kemiskinan yang terjadi di kalangan pegawai dan petani oleh Patih
Purwokerto,Tirto Adisuryo, yang kemudian dibantu oleh pejabat Belanda dan menjadi
bagian dari programpemerintah kolonial (Bagun, 2002: 294). Akan tetapi dalam
perkembangannya koperasibukanlah hasil pembinaan dari pemerintah kolonial melainkan
usaha yang dibangun sendiri olehgerakan kebangsaan yang dipimpin oleh para kaum
cendekiawan.
Sepak terjang Mohammad Hatta sebagai salah satu pelopor ekonomi yang
berdasarkan asaskerakyatan di negeri ini mendapatkan penghargaan yang tinggi, beliau
dikenal sebagai bapakekonomi [Link] dari koperasi menurut Mohammad Hatta
yaitu menyelenggarakan keperluan hidupbersama dengan sebaik-baiknya dan memperbaiki
nasib orang-orang yang lemah ekonomi nya dengan jalan kerjasama.
8
Selain menguraikan mengenai tujuan koperasi, Mohammad Hatta
jugamenganalogikan bahwa antara satu individu dengan individu yang lain seperti sebuah
sapu lidi, yang mana jika lidi tersebut berjalan sendiri-sendiri menjadi lemah dan mudah
[Link] apabila lidi tersebut diikat menjadi sebuah sapu, maka ia akan menjadi
satu kesatuan yang kuat dan tidak akan mudah untuk dipatahkan.
Pada tahun 1932, Mohammad Hatta dalam brosur Ke Arah Indonesia Merdeka
menjelaskan tentang cita-cita dalam perjuangan dan merebut kemerdekaan dan perjuangan
dalam mengisi kemerdekaan. Cita-cita Mohammad Hatta dalam membangun negara
Indonesia yang merdeka, ersatu dan demokratis yaitu tentang demokrasi politik. Brosur Ke
Arah Indonesia Merdeka(1932) yang ditulis oleh Mohammad Hatta dijadikan sebagai
pedoman dasar PendidikanNasional Indonesia (PNI-Baru) yaitu dua konsep penting yaitu
kebangsaan dan kerakyatan(Suleman, 2010:193).
9
terpelihara dengan baik. Bersumber pada ideologinya, demokrasi yang berkembang di
Indonesiaadalah demokrasi Pancasila.
Nilai-nilai dari setiap sila pada Pancasila sesuaidengan ajaran demokrasi, bukan
ajaran otoritarian atau totalitarian. Jadi,Pancasila sangat cocok untuk menjadi dasar dan
mendukung demokrasi diIndonesia. Nilai-nilai luhur yang tertuang dalam pembukaan UUD
1945 sesuai dengan pilar-pilar demokrasi modern. Nilai-nilai yang demokrasi yang terjabar
dari nilai-nilai Pancasila yaitu :
[Link] Rakyat
Berdasarkan UUD 1945 alenia IV yaitu “...yang terbentuk dalam suatu susunan
Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat ...”.Kedaulatan rakyat adalah esensi
dari demokrasi.
[Link]
Berdasarkan UUD 1945 alenia IV yang berbunyi “...yang terbentuk dalam suatu
susunan NegaraRepublik Indoensia...”. Republik berarti res publica yang artinya negara
untuk kepentingan umum.
3. Negara
Berdasar atas Hukum Berdasarkan UUD 1945 alenia IV yang berbunyi “...Negara
Indonesiayang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darahIndonesia
dannn untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskankehidupan bangsa dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial...”. Negara hukum Indonesia menganut hukuman arti-arti luas atau materiil.
[Link] Perwakilan
Berdasarkan UUD 1945 alenia 1V yang berbunyi “...Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan...”.
10
[Link] Musyawarah
[Link] Ketuhanan
Demokrasi yang diformulasikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untukrakyat
merupakan fenomena baru bagi Indonesia ketika merdeka. Kerajaan-kerajaan pra Indonesia
adalah kerajaan-kerajaan feodal yang dikuasai oleh raja-raja autokrat. Akantetapi, nilai-nilai
demokrasi dalam taraf tertentu sudah berkembang dalam budayaNusantara, dan dipraktikkan
setidaknya dalam unit politik terkecil, seperti desa di Jawa,nagari di Sumatra Barat, dan banjar di
Bali (Latif, 2011). Mengenai adanya anasir demokrasidalam tradisi desa kita akan meminjam dua
macam analisis berikut. Pertama, pahamkedaulatan rakyat sebenarnya sudah tumbuh sejak lama di
Nusantara. Di alam Minangkabau,misalnya pada abad XIV sampai XV kekuasaan raja dibatasi
oleh ketundukannpada keadilandan kepatutan.
Ada istilah yang cukup tekenal pada masa itu bahwa “Rakyat ber-raja padaPenghulu, Penghulu
ber-raja pada Mufakat, dan Mufakat ber-raja pada alur dan patut".Dengan demikian, raja sejati di
dalam kultur Minangkabau ada pada alur (logika) dan patut(keadilan). Alur dan patutlah yang
menjadi pemutus terakhir sehingga keputusan seorang rajaakan ditolak apabila bertentangan
dengan akal sehat dan prinsip-prinsip keadilan (Malaka,2005). Kedua, tradisi demokrasi asli
Nusantara tetap bertahan sekalipun di bawah kekuasaanfeodalisme raja-raja Nusantara karena di
banyak tempat di Nusantara, tanah sebagai faktorproduksi yang penting tidaklah dikuasai oleh
raja, melainkan dimiliki bersama oleh masyarakatdesa. Karena pemilikan bersama tanah desa ini,
hasrat setiap orang untuk memanfaatkannyaharus melalui persetujuan kaumnya.
11
Hal inilah yang mendorong tradisi gotong royong dalam memanfaatkan tanah bersama, yang
selanjutnya merembet pada bidang-bidang lainnya,termasuk pada hal-hal kepentingan pribadi
seperti misalnya membangun rumah, kenduri, dansebagainya. Adat hidup seperti itu membawa
kebiasaan bermusyawarah menyangkutkepentingan umum yang diputuskan secara mufakat (kata
sepakat). Seperti disebut dalam
pepatah Minangkabau: “Bulek aei dek pambuluah, bulek kato dek mufakat” (Bulat air karena
asli Nusantara itu kuat bertahan, “liat hidupnya”, seperti terkandung dalam pepatah
Minangkabau “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek ujan”, tidak lekang karena panas,
tidak lapuk karena hujan (Hatta, 1992). Ada dua anasir lagi dari tradisi demokrasi desa yangasli
nusantara, yaitu hak untuk mengadakan protes bersama terhadap peraturan-peraturanraja yang
dirasakan tidak adil, dan hak rakyat untuk menyingkir dari daerah kekuasaan raja,apabila ia
merasa tidak senang lagi hidup di sana.
Dalam melakukan protes, biasanya rakyatsecara bergerombol berkumpul di alunalun dan duduk di
situ beberapa lama tanpa berbuatapa-apa, yang mengekspresikan suatu bentuk demonstrasi damai.
Tidak sering rakyat yangsabar melakukan itu. Namun, apabila hal itu dilakukan, pertanda
menggambarkan situasikegentingan yang memaksa penguasa untuk mempertimbangkan ulang
peraturan yangdikeluarkannya. Adapun hak menyingkir, dapat dianggap sebagai hak seseorang
untukmenentukan nasib sendiri. Kesemua itu menjadi bahan dasar yang dipertimbangkan oleh
parapendiri bangsa untuk mencoba membuat konsepsi demokrasi Indonesia yang
modern,berdasarkan demokrasi desa yang asli itu (Latif, 2011).
12
Sumber Nilai yang Berasal dari Islam
Nilai demokratis yang berasal dari Islam bersumber dari akar teologisnya. Inti darikeyakinan
Islam adalah pengakuan pada Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid, Monoteisme).Dalam
keyakinan ini, hanya Tuhanlah satu-satunya wujud yang pasti. Semua selain Tuhan,bersifat nisbi
belaka. Konsekuensinya, semua bentuk pengaturan hidup sosial manusia yang melahirkan
kekuasaan mutlak, dinilai bertentangan dengan jiwa Tauhid (Latif, 2011).Pengaturan hidup
dengan menciptakan kekuasaan mutlak pada sesama manusia merupakan hal yang tidak adil dan
tidak beradab.
Mempunya iakar demokrasi yang panjang. Pusat pertumbuhan demokrasi terpenting di Yunani
adalah kota Athena, yang sering dirujuk sebagai contoh pelaksanaan demokrasi partisipatif dalam
negara-kota sekitar abad ke-5 SM. Selanjutnya muncul pula praktik pemerintahan sejenis di
Romawi,tepatnya di kota Roma (Italia), yakni sistem pemerintahan republik. Model
pemerintahandemokratis model Athena dan Roma ini kemudian menyebar ke kotakota lain
sekitarnya,seperti Florence dan Venice. Model demokrasi ini mengalami kemunduran sejak
kejatuhanImperium Romawi sekitar abad ke-5 M, bangkit sebentar di beberapa kota di Italia
sekitarabad ke-11 M kemudian lenyap pada akhir “zaman pertengahan” Eropa. Setidaknya sejak
petengahan 1300 M, karena kemunduran ekonomi, korupsi dan peperangan,
pemerintahandemokratis di Eropa digantikan oleh sistem pemerintahan otoriter (Dahl, 1992).
13
Bukti bukti sosiologi bahwa pancasila sebagai dasar negara adalah seluruh
kehidupanmasyarakat Indonesia diatur oleh Pancasila sesuai dengan peraturan perundang-
undangan baik dalamruang lingkup keluarga,masyarakat ataupun khalayak umum yang
menjadikannya masyarakat yangbermoral dalam bentuk pikiran ataupun mengenai tingkah
laku.
Gejala sosiologis fundamental yang menjadi sumber terjadinya berbagai gejolak
dalsayamasyarakat kita:
Pertama, suatu kenyataan yang memprihatinkan bahwa setelah struktur tumbangnyakekuatan
“otokrasi” yang dimainkan Rezim Orde Baru ternyata bukan demokrasi yang kitamenemukan
melainkan oligarki di mana kekuasaan dikumpulkan pada sekelompok kecil elit,
sementarasebagian besar rakyat (demo) tetap jauh dari sumber-sumber kekuatan (wewenang,
uang,hukum, informasi, pendidikan, dan sebagainya).
Kedua, sumber terjadinya berbagai gejolak dalam masyarakat kita saat ini adalah
akiBpadamunculnya kebencian sosial budaya terselubung (social-cultural animosity). Gejala
iNSayamuncul dan semakin menjadi-jadi pasca runtuhnya rezim Orde Baru. Sosial
budayapermusuhan adalah suatu kebencian sosial budaya yang bersumber dari perbedaan ciri
budayadan perbedaan nasib yang diberikan oleh sejarah masa lalu, sehingga terkandung
unsurkeinginan balas [Link] lain dari konflik yang terjadi di Indonesia bukan hanya
bersifat terbuka(manifest conflict) tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah konflik yang
tersembunyi (lateNTkonflik) antara berbagai golongan.
14
Penindasan politik dan eksploitasi ekonomiimperialisme dan kapitalisme, sering kali
bekerja sama dengan kekuatan feodal tanah dan rakyat, memupuk sikap menindas,
kolonial dan anti feodal di antara para perintiskemerdekaan [Link]
contoh,Budiharjo(2008) Menyatakan bahwa dilihat dari sejarah perkembangan demokrasi
Indonesia hingga tahun , era Orde Baru dapat dibagi menjadi periode empat, yaitu:
15
1) Majelis Permusyawaratan Rakyat Amandemen UUD 1945
dilakukan pula terhadap ketentuan tentanglembaga permusyawaratan rakyat,
yakni MPR. Sebelum dilakukan perubahan,MPR merupakan lembaga tertinggi
Negara. Perubahan dari sistem vertikalhierarkis dengan prinsip supremasi MPR
menjadi sistem yang horizontalfundamental dengan prinsip checks and
balances (saling mengawasi danmengimbangi) antarlembaga negara.
Hal ini merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi segenap komponen
[Link] Pemilu di IndonesiaSejak tahun 1955 sampai tahun 1997 Indonesia
menggunakan sistemproporsional. Pemilihan Umum 2004 menggunakan gabungan,
antara sistem distrik danproporsional, namun dominasi proporsional lebih
mewarnai pelaksanaan pemilihanumum 2004. Dalam pemilihan umum tahun
2009, sistem gabungan distrik danproporsional mengalami perubahan yang
lebih dekat kepada penentuan suara sistem [Link] pemilihan umum
tahun 2004 dengan UUD 1945 Amandemen, Setiap provinsi ditetapkan 4
orang wakil sebagai anggota DPD mewakili daerahnya.
16
BAB 111
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan makalah mengenai Hakikat, Instrumentasi dan Praksis
Demokrasi Indonesia Berlandaskan Pancasila dan UUD NKRI 1945 dapat disimpulkan
sebagai berikut :
3.2 Saran
Sebaiknya Mahasiswa harus lebih memahami lagi mengenai Hakikat,
Instrumentasi dan Praksis Demokrasi Indonesia Berlandaskan Pancasila dan UUD NKRI
1945 dikarenakan pengetahuan ini dapat mmebuat kita semakin bersemangat dalam
menjalani kehidupan karena setiap individu mempunyai kebebasan untuk menyuarakan
pendapat di muka umum.
17
DAFTAR PUSTAKA
Mahfud MD, M. 2000. Demokrasi dan Konstitudi Indonesia: Studi Tentang Interaksi Politik dan
Kehidupan Ketatanegaraan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
18
19