0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan6 halaman

Tugas 2 Administrasi Keuangan

Dokumen ini membahas tentang otonomi daerah dalam pengelolaan keuangan, dengan fokus pada kemandirian fiskal, efisiensi, akuntabilitas, dan transparansi. Contoh pengelolaan keuangan daerah di Pemerintah Kota Surabaya dan proses penyusunan anggaran di Kota Bandung menunjukkan penerapan prinsip anggaran berbasis kinerja. Penyusunan anggaran di Bandung melibatkan data kebutuhan masyarakat dan indikator kinerja untuk memastikan efisiensi dan efektivitas program.

Diunggah oleh

aprika.mayang46
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan6 halaman

Tugas 2 Administrasi Keuangan

Dokumen ini membahas tentang otonomi daerah dalam pengelolaan keuangan, dengan fokus pada kemandirian fiskal, efisiensi, akuntabilitas, dan transparansi. Contoh pengelolaan keuangan daerah di Pemerintah Kota Surabaya dan proses penyusunan anggaran di Kota Bandung menunjukkan penerapan prinsip anggaran berbasis kinerja. Penyusunan anggaran di Bandung melibatkan data kebutuhan masyarakat dan indikator kinerja untuk memastikan efisiensi dan efektivitas program.

Diunggah oleh

aprika.mayang46
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS 2

ADMINISTRASI KEUANGAN

Nama Mahasiswa : FARID RAHMA KHUTBAH

NIM : 048716137

Kode/Nama UPBJJ : Padang

ILMU ADMINISTRASI NEGARA


UNIVERSITAS TERBUKA
TAHUN 2024
1. Jelaskan makna dari otonomi daerah dalam pengelolaan keuangan daerah! (Dengan
berdasar pada teori. Silahkan pergunakan BMP dan juga teori dari sumber lain)
Jawab:
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban pemerintah daerah untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam konteks pengelolaan
keuangan daerah, otonomi daerah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah
untuk mengelola sumber daya keuangannya secara mandiri demi mencapai tujuan
pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Otonomi daerah dalam pengelolaan keuangan dimaknai sebagai:
 Kemandirian Fiskal: Kemampuan pemerintah daerah untuk memaksimalkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) seperti pajak daerah, retribusi, dan pengelolaan
kekayaan daerah yang sah.
 Efisiensi dan Efektivitas: Pengelolaan keuangan diarahkan untuk pelayanan
publik yang lebih baik dan pengelolaan dana secara bijaksana.
 Akuntabilitas dan Transparansi: Pengelolaan keuangan harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan badan legislatif daerah.
 Desentralisasi Keuangan: Memberikan keleluasaan kepada pemerintah daerah
untuk menentukan prioritas anggaran sesuai dengan kebutuhan lokal.
Menurut Mardiasmo (2018)
Otonomi keuangan daerah mencakup:
 Wealth Sharing: Pemberian kewenangan kepada daerah untuk mengelola sebagian
sumber daya ekonomi yang ada di wilayahnya.
 Responsiveness: Meningkatkan respons pemerintah

2. Tentukan satu contoh Pemerintah Daerah, lalu silahkan anda kemukakan bagaimana
kekuasaan pengelolaan keuangan daerah di pemerintah daerah tersebut !
Jawab:
Di Pemerintah Kota Surabaya, kekuasaan pengelolaan keuangan daerah diatur
berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara, dan PP No. 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah. Berikut adalah struktur dan pembagian tugas dalam pengelolaan
keuangan daerah:
1. Wali Kota
Sebagai pemegang kekuasaan umum pengelolaan keuangan daerah:
Tugas dan Wewenang:
 Menetapkan kebijakan pengelolaan keuangan daerah.
 Menyetujui Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sebagai dasar penyusunan
APBD.
 Menandatangani dan menyampaikan rancangan APBD kepada DPRD untuk
dibahas dan disetujui.
2. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)
Di Surabaya, tugas ini dijalankan oleh Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Pajak
Daerah (BPKPD).
Tugas dan Wewenang:
 Menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD).
 Melaksanakan pengelolaan penerimaan dan pengeluaran kas daerah.
 Melakukan pengawasan pelaksanaan APBD.
3. Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
Kepala OPD adalah pengguna anggaran untuk program/kegiatan di bawah bidangnya.
Tugas dan Wewenang:
 Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) OPD.
 Melaksanakan program/kegiatan sesuai anggaran yang dialokasikan.
 Menyampaikan laporan pelaksanaan anggaran kepada PPKD.
4. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
PPTK bertanggung jawab atas pelaksanaan teknis kegiatan di masing-masing OPD.
Tugas dan Wewenang:
 Melakukan verifikasi dokumen keuangan kegiatan.
 Mengawasi pelaksanaan kegiatan dan memastikan sesuai anggaran.
5. Bendahara Daerah
Bertugas mengelola penerimaan dan pengeluaran kas daerah.
Tugas dan Wewenang:
 Menerima, menyimpan, dan menyalurkan dana APBD.
 Membuat laporan keuangan daerah.

Pemerintah Kota Surabaya memiliki mekanisme pengelolaan keuangan yang berbasis


transparansi dan akuntabilitas, seperti:
 E-Budgeting: Menggunakan sistem elektronik untuk perencanaan anggaran,
sehingga proses lebih transparan dan mengurangi potensi penyimpangan.
 E-Monitoring: Untuk mengawasi realisasi anggaran secara real-time.
 Pelibatan DPRD: DPRD aktif berperan dalam membahas dan mengawasi
pelaksanaan APBD.
Sebagai contoh, Wali Kota Surabaya bersama BPKPD berhasil meningkatkan PAD
melalui inovasi perpajakan digital dan optimalisasi pajak daerah, seperti pajak hotel dan
restoran. Dengan demikian, Kota Surabaya mampu mendanai berbagai program
pembangunan tanpa terlalu bergantung pada dana transfer dari pusat. Pengelolaan
keuangan di Surabaya menunjukkan penerapan otonomi daerah yang kuat, dengan fokus
pada efisiensi, transparansi, dan kesejahteraan masyarakat.

3. Tentukan satu contoh pemerintah daerah, lalu silahkan anda kemukakan bagaimana
proses penyusunan anggaran di daerah tersebut. Selanjutnya, kemukakan oleh Anda
bahwa penyusunan anggaran tersebut merupakan anggaran berbasis kinerja (dengan
menganalisis berdasarkan teori anggaran berbasis kinerja)
Jawab:
Penyusunan anggaran di Kota Bandung dilakukan sesuai dengan UU No. 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah, PP No. 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah, dan prinsip-prinsip Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 77 Tahun 2020 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah. Berikut tahapan penyusunan anggaran:
Tahapan Penyusunan Anggaran
 Perencanaan Awal
Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) menjadi acuan penyusunan anggaran.
Masyarakat dan pemangku kepentingan dilibatkan untuk memberikan masukan
terkait prioritas pembangunan daerah.
 Penyusunan KUA-PPAS
Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-
PPAS) disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
bersama Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). KUA-PPAS menjadi dasar
untuk menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) oleh masing-masing
Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
 Penyusunan Rancangan APBD
Berdasarkan RKA OPD, PPKD menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (RAPBD). RAPBD disampaikan kepada DPRD untuk dibahas
dan disetujui.
 Pengesahan APBD
Setelah pembahasan, RAPBD disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda) APBD.
Setelah disahkan, APBD menjadi dokumen resmi yang menjadi dasar pelaksanaan
program dan kegiatan.

Teori Anggaran Berbasis Kinerja


Anggaran berbasis kinerja adalah pendekatan penyusunan anggaran yang berorientasi
pada hasil (output dan outcome) yang terukur, sesuai dengan Permendagri No. 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Prinsip utamanya adalah:
 Efisiensi dan Efektivitas: Dana dialokasikan untuk mencapai target kinerja
spesifik.
 Outcome-Oriented: Fokus pada manfaat nyata bagi masyarakat.
 Indikator Kinerja: Setiap program/kegiatan memiliki indikator kinerja yang jelas.
 Transparansi dan Akuntabilitas: Pelaksanaan anggaran harus dapat
dipertanggungjawabkan.

Penyusunan anggaran di Kota Bandung telah mengadopsi anggaran berbasis kinerja,


sebagaimana terlihat dalam langkah berikut:
 Perencanaan Berbasis Data:
Program disusun berdasarkan data kebutuhan masyarakat, seperti infrastruktur,
pendidikan, dan kesehatan.
 Penetapan Indikator Kinerja:
Misalnya, dalam sektor pendidikan, indikatornya adalah peningkatan angka
partisipasi sekolah. Dalam sektor kesehatan, indikatornya adalah penurunan angka
stunting.
 E-Budgeting dan E-Monitoring:
Pemerintah Kota Bandung menggunakan sistem elektronik untuk memastikan
anggaran efisien dan tepat sasaran.
 Pelaksanaan Program Berbasis Output dan Outcome:
Sebagai contoh, program revitalisasi pasar tradisional tidak hanya diukur dari
jumlah pasar yang direnovasi (output), tetapi juga peningkatan transaksi ekonomi
di pasar tersebut (outcome).

DAFTAR PUSTAKA
Mardiasmo. (2018). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Offset.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan
Keuangan Daerah.
Pemerintah Kota Surabaya. (2024). Laporan Keuangan Daerah Surabaya Tahun Anggaran 2023.
Surabaya: Badan Pengelola Keuangan dan Pajak Daerah (BPKPD).
Pemerintah Kota Bandung. (2024). Dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota
Bandung Tahun Anggaran 2024. Bandung: Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda).
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2020). Pedoman Penyusunan APBD Berbasis
Kinerja. Jakarta: Kemendagri.

Anda mungkin juga menyukai