7
7
Pembahasan:
Jawaban yang benar: B.
Pendekatan ini memungkinkan penelusuran secara runtut terhadap perubahan dan
kesinambungan dalam kurun waktu yang panjang.
Jawaban B adalah yang paling tepat, karena:
Pendekatan diakronik berfokus pada perkembangan peristiwa secara kronologis dan
berkesinambungan dari waktu ke waktu.
Sesuai dengan informasi dalam bacaan bahwa tujuan diakronik adalah melihat
perubahan dalam proses sejarah, bukan hanya melihat satu momen saja.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah A. Perubahan sistem agraria di Jawa pada masa
kolonial Belanda, yang secara bertahap mengubah pola kepemilikan tanah dan struktur
ekonomi pedesaan.
Perubahan sistem agraria di Jawa pada masa kolonial Belanda merupakan perubahan
yang mendasar. Perubahan ini mengubah struktur sosial dan ekonomi secara radikal.
Perubahan ini juga berlangsung dengan cepat karena dipaksakan oleh pemerintah
kolonial.
Pilihan B, C, D dan E menggambarkan perubahan yang juga terjadi, namun perubahan
tersebut terjadi dalam kurun waktu yang relatif lama, dan tidak memberikan perubahan
yang begitu mendasar seperti perubahan sistem agraria.
Jawaban B lebih menekankan pada perubahan status politik, bukan perubahan struktur
sosial dan ekonomi.
Jawaban C dan D lebih menekankan pada proses perubahan yang bertahap, bukan
perubahan radikal dalam waktu singkat.
Jawaban E lebih menekankan pada perubahan budaya, bukan perubahan struktur sosial
dan politik.
3. Penelitian Roder dan Galis terhadap lukisan gua di Papua mengungkapkan kompleksitas
makna di balik karya seni prasejarah tersebut.
Mengingat variasi motif dan lokasi lukisan, interpretasi manakah yang paling mungkin
mencerminkan fungsi utama lukisan gua dalam konteks sosial-budaya masyarakat
Mesolithikum Papua, melampaui sekadar catatan visual?
A. Sebagai manifestasi estetika individual, mencerminkan ekspresi seniman dalam
merespons lingkungan alam sekitar mereka.
B. Sebagai media komunikasi simbolik dalam ritual kelompok, memperkuat identitas dan
kohesi sosial di tengah kompleksitas interaksi antar kelompok.
C. Sebagai representasi naratif mitologis, menggambarkan kisah-kisah leluhur dan asal-
usul kelompok untuk keperluan pewarisan tradisi.
D. Sebagai penanda batas wilayah teritorial, menegaskan klaim kepemilikan sumber daya
alam dan ruang hidup kelompok tertentu.
E. Sebagai catatan astronomis purba, merekam fenomena langit dan siklus alam untuk
keperluan navigasi dan prediksi musim.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah B. Sebagai media komunikasi simbolik dalam ritual
kelompok, memperkuat identitas dan kohesi sosial di tengah kompleksitas interaksi
antar kelompok.
Lukisan gua pada masa Mesolithikum tidak hanya berfungsi sebagai representasi visual,
tetapi juga sebagai bagian integral dari sistem simbolik masyarakat. Dalam konteks
Papua, dengan keragaman kelompok dan interaksi sosial yang kompleks, lukisan gua
kemungkinan besar berperan sebagai media komunikasi simbolik dalam ritual kelompok.
Ritual-ritual ini berfungsi untuk memperkuat identitas kelompok, mempertegas kohesi
sosial, dan mengatur interaksi antar kelompok.
Pilihan A lebih menekankan pada aspek individual dan estetika, yang kurang relevan
dengan konteks sosial-budaya komunal masyarakat Mesolithikum. Pilihan C, D, dan E
juga relevan dengan fungsi lukisan gua, tetapi kurang mencakup aspek kompleksitas
interaksi sosial yang menjadi fokus utama dalam konteks ini.
4. Perhatikan analisis peta jalur penyebaran kapak persegi dan kapak lonjong!
Manakah kesimpulan yang paling tepat mengenai implikasi jalur migrasi tersebut terhadap
perkembangan budaya dan teknologi masyarakat prasejarah di wilayah tersebut?
A. Jalur penyebaran kapak persegi menunjukkan adanya dominasi budaya agraris yang
terpusat di wilayah utara, sementara jalur kapak lonjong menandakan pengaruh maritim
yang kuat di wilayah selatan.
B. Perbedaan jalur penyebaran mengindikasikan adanya dua kelompok masyarakat dengan
tradisi budaya dan teknologi yang berbeda, yang berinteraksi dan saling mempengaruhi
di wilayah pertemuan jalur.
C. Jalur kapak persegi yang lebih luas menunjukkan bahwa teknologi tersebut lebih adaptif
terhadap berbagai kondisi geografis, sementara kapak lonjong terbatas pada wilayah
dengan akses laut.
D. Pola penyebaran kapak lonjong yang menyebar melalui jalur laut mengindikasikan
bahwa masyarakat yang membawa tradisi ini memiliki kemampuan navigasi dan
pelayaran yang lebih maju.
E. Jalur penyebaran kapak persegi dan lonjong yang bertemu di beberapa titik
mengindikasikan adanya pertukaran komoditas dan teknologi, tetapi tidak
mempengaruhi struktur sosial masyarakat secara signifikan.
Pembahasan:
Pilihan D secara tepat menangkap implikasi dari jalur penyebaran kapak lonjong yang
melalui jalur laut. Hal ini mengindikasikan adanya kemampuan navigasi dan pelayaran
yang lebih maju dari masyarakat yang membawa tradisi tersebut.
Pilihan A, B, C, dan E juga mengandung unsur kebenaran, tetapi kurang fokus pada
kemampuan navigasi dan pelayaran yang menjadi ciri khas penyebaran kapak lonjong.
(1) Jawaban A, lebih berfokus kepada dominasi wilayah, namun tidak menjelaskan
secara detail kemampuan navigasi.
(2) Jawaban B, lebih berfokus kepada perbedaan kelompok masyarakat, namun tidak
menjelaskan secara detail kemampuan navigasi.
(3) Jawaban C, berfokus kepada adaptasi geografis, namun tidak menjelaskan secara
detail kemampuan navigasi.
(4) Jawaban E, lebih berfokus kepada pertukaran komoditas, namun tidak menjelaskan
secara detail kemampuan navigasi.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah A. Teori ini menunjukkan bahwa struktur kekuasaan
di Indonesia awal sangat bergantung pada aliansi militer dengan kerajaan-kerajaan di
India.
Teori Ksatria menekankan peran golongan prajurit dalam penyebaran Hindu-Buddha. Hal
ini mengimplikasikan bahwa aliansi militer dan kekuatan politik memainkan peran
penting dalam proses tersebut.
(1) Pilihan B terlalu menekankan pada penaklukan dan kolonisasi, yang tidak
sepenuhnya mencerminkan nuansa teori Ksatria.
(2) Pilihan C bertentangan dengan asumsi dasar teori Ksatria yang menekankan peran
prajurit, bukan pedagang.
(3) Pilihan D hanya menyebutkan peran penting golongan ksatria, tetapi tidak
menjelaskan implikasi terhadap dinamika sosial-politik.
(4) Pilihan E sepenuhnya bertentangan dengan teori ksatria karena menyebutkan
tentang dominasi perdagangan.
6. Konsep berpikir sinkronik dalam sejarah menekankan pada analisis struktur dan kondisi
suatu peristiwa dalam rentang waktu tertentu, mirip dengan pendekatan ilmu sosial.
Manakah implikasi paling signifikan dari penerapan konsep sinkronik dalam kajian sejarah,
terutama dalam memahami kompleksitas peristiwa masa lalu?
A. Memungkinkan sejarawan untuk mengidentifikasi pola-pola perubahan jangka panjang
dalam masyarakat melalui analisis perbandingan lintas waktu.
B. Memberikan kerangka kerja untuk memahami bagaimana berbagai aspek sosial,
ekonomi, dan politik saling berinteraksi dalam suatu periode sejarah.
C. Memfasilitasi rekonstruksi narasi sejarah yang lebih detail dan kronologis, dengan fokus
pada urutan peristiwa dan tokoh-tokoh penting.
D. Membantu sejarawan dalam menyusun periodisasi sejarah yang lebih akurat,
berdasarkan pada perubahan-perubahan signifikan dalam masyarakat.
E. Memungkinkan analisis mendalam terhadap dokumen-dokumen sejarah, dengan fokus
pada interpretasi teks dan konteks penulisannya.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah C. Memfasilitasi rekonstruksi narasi sejarah yang
lebih detail dan kronologis, dengan fokus pada urutan peristiwa dan tokoh-tokoh penting.
Konsep sinkronik memungkinkan sejarawan untuk menganalisis suatu peristiwa dalam
konteks waktu tertentu, mirip dengan pendekatan ilmu sosial. Ini membantu dalam
memahami bagaimana berbagai aspek sosial, ekonomi, dan politik saling berinteraksi
dan memengaruhi peristiwa tersebut.
(1) Pilihan A lebih menekankan pada analisis diakronik (perubahan lintas waktu), bukan
sinkronik (struktur dalam waktu tertentu).
(2) Pilihan B juga benar, tapi tidak menjelaskan secara detail mengapa sinkronik itu
penting.
(3) Pilihan D lebih menekankan pada periodisasi sejarah, bukan analisis struktur
peristiwa.
(4) Pilihan E lebih menekankan pada analisis dokumen, bukan analisis struktur peristiwa.
7. Dalam perjalanan sejarah Nusantara, pemindahan pusat pemerintahan tidak hanya terjadi
karena bencana alam atau kehendak raja, tetapi juga karena tekanan dari kekuatan luar.
Tindakan Mpu Sindok yang memindahkan pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa
Timur menjadi simbol kebijakan politik dan strategi pertahanan wilayah.
Apabila tindakan serupa dilakukan oleh seorang pemimpin kerajaan lain pada masa itu,
maka keputusan serupa paling logis akan dilakukan apabila…
A. Wilayah lama dianggap terlalu padat penduduk sehingga membutuhkan pemekaran ke
daerah dengan potensi ekonomi baru di bagian timur kerajaan
B. Letak wilayah sebelumnya sulit dijangkau melalui jalur perdagangan utama karena
minimnya akses sungai besar yang dapat dilayari kapal dagang
C. Wilayah baru yang dipilih memberikan posisi lebih aman dari ancaman luar sekaligus
memiliki potensi pertanian yang menunjang ketahanan kerajaan
D. Kerajaan menghadapi gangguan internal dari para bangsawan lokal yang ingin
memisahkan diri dari kekuasaan pusat di daerah asal sebelumnya
E. Wilayah lama sudah sering mengalami bencana alam, seperti erupsi gunung dan banjir,
yang menghambat stabilitas kehidupan dan pemerintahan
Pembahasan:
Pilihan C adalah jawaban paling logis dan kontekstual, karena menggabungkan dua
faktor utama dalam pemindahan pusat kekuasaan oleh Mpu Sindok: keamanan dari
ancaman luar (Sriwijaya) dan potensi wilayah baru untuk pertanian (karena tanah subur
di sekitar Sungai Brantas). Ini mencerminkan perpaduan antara strategi pertahanan dan
penguatan ekonomi wilayah baru, sehingga menjadi dasar yang kuat dan rasional untuk
sebuah pemindahan pusat kerajaan.
Mari kita analisis kenapa pilihan lain sangat benar namun tidak tepat menjawab inti soal:
(1) A: Wilayah terlalu padat dan membutuhkan pemekaran adalah alasan administratif,
bukan karena desakan atau ancaman luar, sehingga kurang relevan dengan pola
yang dilakukan Mpu Sindok.
(2) B: Minim akses perdagangan sungai memang bisa jadi faktor ekonomi, tetapi alasan
ini hanya menekankan pada sisi perdagangan, tidak mencakup aspek keamanan
seperti yang menjadi pertimbangan utama dalam konteks soal.
(3) D: Gangguan internal dari bangsawan lokal bisa menjadi alasan kuat untuk relokasi,
tetapi tidak sesuai dengan konteks Mpu Sindok yang menghadapi ancaman
eksternal dari Sriwijaya, bukan masalah internal.
(4) E: Bencana alam adalah alasan umum yang sering terjadi dalam sejarah, namun
dalam kasus Mpu Sindok, tidak disebutkan adanya bencana alam sebagai penyebab
pemindahan pusat kekuasaan.
Pembahasan:
Pilihan B merupakan jawaban dengan logika paling tinggi, karena susunan Paleolitikum
→ Neolitikum → Megalitikum → Mesolitikum menggambarkan transformasi sosial-
kultural yang kompleks, meskipun tidak sesuai urutan kronologis baku, namun
menyusun fase-fase penting dari kehidupan nomaden (Paleolitikum) ke kehidupan
pertanian menetap dan kompleksitas sosial (Neolitikum dan Megalitikum). Mesolitikum
diletakkan terakhir untuk menggambarkan fenomena tumpang tindih budaya di berbagai
wilayah—yang secara faktual masih mungkin ditemukan walau sudah memasuki fase
budaya berikutnya.
Mari kita lihat kenapa opsi lain tampak benar namun tidak menjawab dengan tepat
konteks transisi budaya kompleks yang dimaksud soal:
(1) A: Urutan ini kronologis, tetapi tidak menjawab konteks "transisi budaya dari
nomaden ke struktur sosial kompleks" secara logis—karena Megalitikum tidak
mungkin mendahului Neolitikum dari segi pembentukan masyarakat menetap.
(2) C: Ini membingungkan karena Mesolitikum tidak mendahului Paleolitikum, dan ini
tidak logis secara arkeologis dan antropologis.
(3) D: Sama seperti C, urutannya menciptakan kerancuan historis dan tidak memetakan
transisi budaya sesuai yang diminta.
(4) E: Meskipun Neolitikum memang penting, urutan ini justru mengacaukan alur
perkembangan budaya dan tidak menyajikan transformasi bertahap yang dimaksud
dalam soal.
9. Kebijakan Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada awal abad ke-19
berfokus pada penguatan pertahanan Jawa dalam menghadapi potensi serangan Inggris.
Namun dalam praktiknya, tidak semua kebijakan tersebut secara langsung berkaitan dengan
aspek militer atau strategi pertahanan.
Dalam konteks upaya memperkuat pertahanan Jawa, manakah kebijakan Daendels yang
tidak secara langsung berkontribusi pada kepentingan militer?
A. Meningkatkan jumlah pasukan dengan merekrut penduduk lokal untuk memperkuat
kekuatan militer
B. Mendirikan pangkalan militer dan benteng di titik-titik strategis sepanjang pantai utara
Jawa
C. Membangun industri persenjataan di daerah penting seperti Semarang dan Surabaya
D. Membangun infrastruktur jalan utama yang menghubungkan ujung barat dan timur
pulau Jawa
E. Mengatur distribusi pangan bagi penduduk lokal untuk memenuhi kebutuhan logistik
masyarakat sipil
Pembahasan:
Pilihan E adalah jawaban yang paling logis dan tepat, karena pengaturan distribusi
pangan bagi penduduk sipil bukanlah kebijakan yang secara langsung menyasar
penguatan militer atau pertahanan Jawa dari serangan Inggris. Meskipun keberadaan
pangan penting secara umum, namun kebijakan ini tidak bersifat strategis militer,
melainkan lebih kepada aspek administratif dan sosial.
Sementara itu, pilihan lainnya terlihat benar dan sangat terkait dengan konteks
pertahanan militer:
(1) A: Merekrut penduduk lokal menjadi tentara secara langsung memperkuat kekuatan
tempur, sesuai dengan upaya pertahanan.
(2) B: Mendirikan benteng dan pangkalan militer di wilayah strategis jelas merupakan
kebijakan militer.
(3) C: Pembangunan industri persenjataan seperti pabrik senjata di Surabaya dan
Semarang sangat berkaitan dengan penguatan armamentasi.
(4) D: Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan selain untuk mobilitas ekonomi,
dirancang sebagai jalur cepat mobilisasi pasukan, sehingga tetap masuk dalam
strategi pertahanan.
10. Kebijakan Sakoku yang diterapkan Shogun Tokugawa pada tahun 1639, meskipun bertujuan
untuk isolasi nasional, memiliki dampak kompleks terhadap dinamika sosial, ekonomi, dan
politik Jepang.
Manakah analisis paling akurat mengenai implikasi jangka panjang kebijakan ini terhadap
perkembangan internal Jepang, melampaui sekadar isolasi dari pengaruh asing?
A. Kebijakan tersebut memperkuat sentralisasi kekuasaan Shogun Tokugawa, menekan
potensi konflik internal, dan menciptakan stabilitas politik yang berkelanjutan.
B. Kebijakan tersebut memicu stagnasi ekonomi dan teknologi, melemahkan daya saing
Jepang di kancah internasional dan menghambat modernisasi.
C. Kebijakan tersebut memperkuat identitas nasional Jepang, mendorong perkembangan
budaya dan seni lokal, serta meminimalkan pengaruh budaya asing.
D. Kebijakan tersebut menciptakan kondisi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi lokal, mendorong inovasi mandiri, dan memperkuat kemandirian ekonomi.
E. Kebijakan tersebut memicu konflik internal antara faksi-faksi politik, memperlemah
kekuasaan Shogun Tokugawa, dan membuka jalan bagi intervensi asing di masa depan.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah D. Adanya campur tangan bangsa Belanda dan
Amerika terhadap urusan dalam negeri Jepang.
Kebijakan Sakoku bukan hanya respons terhadap ancaman eksternal, tetapi juga upaya
untuk menjaga stabilitas internal dan melindungi tatanan sosial yang ada.
(1) Pilihan A, B, C, dan E juga mengandung unsur kebenaran, tetapi kurang fokus pada
aspek stabilitas internal dan tatanan sosial yang menjadi alasan utama kebijakan
Sakoku.
(2) Jawaban A, lebih berfokus pada sentralisasi kekuasaan.
(3) Jawaban B, lebih berfokus pada stagnasi ekonomi dan teknologi.
(4) Jawaban C, lebih berfokus pada penguatan identitas nasional.
(5) Jawaban E, lebih berfokus pada konflik internal.
11. Penjelajahan samudra bangsa Eropa pada abad ke-15 dan 16 tidak hanya didorong oleh
motif ekonomi, tetapi juga oleh ambisi untuk memperluas pengaruh budaya dan agama.
Dalam konteks ini, manakah analisis paling komprehensif mengenai interaksi antara motif
ekonomi dan agama dalam penjelajahan samudra, serta dampaknya terhadap masyarakat
di wilayah yang dikunjungi?
A. Motif agama, khususnya penyebaran agama Kristen, menjadi justifikasi moral bagi
penaklukan dan eksploitasi ekonomi terhadap masyarakat pribumi.
B. Motif ekonomi, terutama pencarian rempah-rempah, mendorong bangsa Eropa untuk
menjalin hubungan dagang yang setara dengan kerajaan-kerajaan di Asia.
C. Motif agama dan ekonomi saling bertentangan, di mana para misionaris seringkali
mengkritik tindakan eksploitatif para pedagang dan penguasa kolonial.
D. Motif ekonomi dan agama berjalan paralel, di mana para pedagang dan misionaris
bekerja sama untuk mencapai tujuan masing-masing di wilayah baru.
E. Motif agama menjadi faktor sekunder, di mana bangsa Eropa lebih fokus pada pencarian
keuntungan ekonomi dan penguasaan wilayah strategis.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah A. Motif agama, khususnya penyebaran agama
Kristen, menjadi justifikasi moral bagi penaklukan dan eksploitasi ekonomi terhadap
masyarakat pribumi.
Pilihan A secara komprehensif menganalisis interaksi antara motif agama dan ekonomi,
serta dampaknya terhadap masyarakat pribumi. Agama seringkali digunakan sebagai
alat untuk membenarkan tindakan kolonial.
(1) Pilihan B tidak akurat karena hubungan dagang yang terjalin seringkali tidak setara,
melainkan eksploitatif.
(2) Pilihan C kurang tepat karena meskipun ada kritik dari misionaris, motif agama dan
ekonomi seringkali saling mendukung.
(3) Pilihan D terlalu menyederhanakan hubungan antara pedagang dan misionaris, yang
seringkali kompleks dan konfliktual.
(4) Pilihan E meremehkan peran motif agama, yang sebenarnya signifikan dalam
penjelajahan samudra.
12. VOC menerapkan berbagai kebijakan ekonomi di Indonesia, termasuk sistem verplichte
leverantie dan sistem Priangan, yang memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan
masyarakat pribumi.
Manakah penerapan paling tepat dari konsep ekonomi kolonial terhadap analisis dampak
kebijakan-kebijakan tersebut pada struktur ekonomi lokal?
A. Penerapan konsep ekonomi kolonial menunjukkan bahwa kebijakan VOC mendorong
pertumbuhan ekonomi lokal melalui diversifikasi komoditas dan peningkatan
infrastruktur.
B. Penerapan konsep ekonomi kolonial mengonfirmasi bahwa kebijakan VOC menciptakan
ketergantungan ekonomi penguasa pribumi terhadap VOC dan menghambat
perkembangan ekonomi mandiri.
C. Penerapan konsep ekonomi kolonial mengilustrasikan bahwa kebijakan VOC
menciptakan hubungan simbiosis mutualisme antara VOC dan penguasa pribumi dalam
perdagangan.
D. Penerapan konsep ekonomi kolonial menunjukkan bahwa kebijakan VOC memicu
pemberontakan sporadis oleh penguasa pribumi, tetapi tidak mengubah struktur
ekonomi secara signifikan.
E. Penerapan konsep ekonomi kolonial mengonfirmasi bahwa kebijakan VOC mendorong
pertumbuhan kelas pedagang pribumi yang mandiri dan kompetitif.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah B. Penerapan konsep ekonomi kolonial
mengonfirmasi bahwa kebijakan VOC menciptakan ketergantungan ekonomi penguasa
pribumi terhadap VOC dan menghambat perkembangan ekonomi mandiri.
Pilihan B secara tepat menerapkan konsep ekonomi kolonial untuk menganalisis
dampak kebijakan VOC. Konsep ini menekankan bagaimana kekuatan kolonial
menggunakan kebijakan ekonomi untuk mengeksploitasi sumber daya dan tenaga kerja
lokal, menciptakan ketergantungan, dan menghambat perkembangan ekonomi mandiri.
(1) Pilihan A bertentangan dengan konsep ekonomi kolonial, yang menekankan
eksploitasi, bukan pertumbuhan ekonomi lokal.
(2) Pilihan C juga bertentangan dengan konsep ekonomi kolonial, yang menekankan
hubungan eksploitatif, bukan simbiosis mutualisme.
(3) Pilihan D meremehkan dampak struktural kebijakan VOC, yang mengubah struktur
ekonomi secara mendalam, bukan hanya memicu pemberontakan sporadis.
(4) Pilihan E bertentangan dengan kebijakan monopoli VOC, yang menghambat
pertumbuhan kelas pedagang pribumi yang mandiri.
13. Kebijakan kerja rodi yang diterapkan oleh Daendels pada masa pemerintahan kolonial
Hindia Belanda berdampak besar terhadap masyarakat pribumi.
Salah satu dampak ekonomi yang langsung dialami oleh masyarakat akibat pelaksanaan
proyek Jalan Raya Anyer–Panarukan adalah...
A. Ribuan pekerja menjadi korban jiwa akibat kerja paksa dalam pembangunan fasilitas
pertahanan militer kolonial Belanda
B. Rakyat tidak memperoleh upah sepeser pun dan diawasi secara ketat oleh pasukan
militer asing selama pengerjaan jalan raya
C. Rakyat mengalami penderitaan ekonomi akibat harus bekerja keras menggali batu dan
membangun jalan tanpa imbalan selama pembangunan proyek
D. Sumber daya alam seperti kayu dan batu dipaksa untuk dieksploitasi dan dialihkan guna
kepentingan logistik militer kolonial
E. Masyarakat menderita kelaparan dan kemiskinan akibat penerapan tanam paksa untuk
mendukung logistik proyek jalan kolonial Belanda
Pembahasan:
Pilihan C adalah jawaban paling tepat dan logis, karena mengarah langsung pada
dampak ekonomi konkret yang diderita rakyat akibat kerja rodi, yaitu mereka dipaksa
bekerja keras tanpa imbalan untuk menggali batu dan membangun jalan. Ini adalah
bentuk eksploitasi ekonomi yang sangat khas dari kebijakan kerja rodi, sesuai konteks
pertanyaan yang menekankan dampak ekonomi langsung terhadap rakyat.
Sedangkan pilihan lain meskipun terlihat benar, kurang tepat menjawab fokus soal:
(1) A: Benar terjadi, tetapi lebih menyoroti aspek kematian atau kekerasan, bukan
dampak ekonomi langsung.
(2) B: Fokus pada pengawasan militer dan pelanggaran hak asasi, tetapi bukan dampak
ekonomi spesifik.
(3) D: Berbicara tentang eksploitasi sumber daya alam, yang merupakan dampak tidak
langsung terhadap masyarakat, bukan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi
rakyat.
(4) E: Mencampuradukkan tanam paksa (cultuurstelsel) yang terjadi di masa setelah
Daendels, sehingga konteks waktunya tidak tepat walau secara penderitaan mirip.
14. Kabinet Wilopo, yang berkuasa pada masa awal kemerdekaan Indonesia, menghadapi
berbagai tantangan politik dan ekonomi yang akhirnya menyebabkan kejatuhannya.
Manakah penerapan paling tepat dari konsep stabilitas politik terhadap analisis penyebab
jatuhnya Kabinet Wilopo?
A. Penerapan konsep stabilitas politik menunjukkan bahwa jatuhnya Kabinet Wilopo
disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi akibat
inflasi dan krisis pangan.
B. Penerapan konsep stabilitas politik mengonfirmasi bahwa jatuhnya Kabinet Wilopo
disebabkan oleh ketegangan antara sipil dan militer, yang mengganggu keseimbangan
kekuasaan.
C. Penerapan konsep stabilitas politik mengilustrasikan bahwa jatuhnya Kabinet Wilopo
disebabkan oleh kegagalan melaksanakan pemilu, yang memperlemah legitimasi
pemerintah.
D. Penerapan konsep stabilitas politik menunjukkan bahwa jatuhnya Kabinet Wilopo
disebabkan oleh penolakan bantuan ekonomi militer dari Amerika, yang memicu konflik
internal.
E. Penerapan konsep stabilitas politik mengonfirmasi bahwa jatuhnya Kabinet Wilopo
disebabkan oleh mosi tidak percaya parlemen terkait nasionalisasi perusahaan
perkebunan asing, yang menunjukkan ketidakstabilan politik.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah B. Penerapan konsep stabilitas politik mengonfirmasi
bahwa jatuhnya Kabinet Wilopo disebabkan oleh ketegangan antara sipil dan militer,
yang mengganggu keseimbangan kekuasaan.
Pilihan B secara tepat menerapkan konsep stabilitas politik untuk menganalisis
penyebab jatuhnya Kabinet Wilopo. Ketegangan antara sipil dan militer menciptakan
ketidakstabilan politik yang signifikan, mengganggu keseimbangan kekuasaan, dan
melemahkan pemerintah.
(1) Pilihan A juga relevan, tetapi lebih fokus pada aspek ekonomi, bukan stabilitas politik
secara langsung.
(2) Pilihan C relevan, tapi lebih menekankan pada legitimasi pemilu.
(3) Pilihan D tidak sesuai konteks pada masa itu.
(4) Pilihan E relevan, namun lebih menekankan pada mosi tidak percaya parlemen,
bukan pada stabilitas politik secara menyeluruh.
15. Setelah keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dinamika politik Indonesia mengalami
perubahan signifikan. Presiden Soekarno tidak hanya mengambil langkah penyelamatan
konstitusi, tetapi juga membuka peluang baru dalam komposisi kekuasaan politik nasional.
Dalam konteks perubahan arah kebijakan pemerintahan pasca-dekrit, salah satu makna
penting yang muncul dari sudut pandang kepentingan politik ideologis adalah...
A. Kesempatan terbuka bagi kekuatan kiri seperti PKI untuk memperoleh posisi dalam
pemerintahan sebagai bagian dari upaya integrasi kekuatan politik nasional
B. Terbentuknya kembali sistem pemerintahan yang mengutamakan stabilitas politik dan
ekonomi di bawah naungan UUD 1945
C. Kembalinya kekuasaan eksekutif yang kuat kepada Presiden dengan dasar hukum yang
lebih terpusat dibanding sistem parlementer sebelumnya
D. Menurunnya legitimasi Konstituante sebagai lembaga demokratis akibat
ketidakmampuan merumuskan UUD yang baru dalam waktu yang ditentukan
E. Menguatnya posisi militer dalam pemerintahan setelah mendapatkan ruang yang lebih
besar dalam sistem Demokrasi Terpimpin
Pembahasan:
Jawaban A adalah yang paling tepat, karena mencerminkan makna ideologis dan politik
penting dari Dekrit Presiden, yakni terbukanya jalan bagi PKI untuk ikut serta dalam
pemerintahan, terutama setelah Soekarno memperkenalkan konsep Nasakom
(Nasionalisme, Agama, Komunisme). Ini merupakan dampak langsung dari perubahan
struktur politik pasca-dekrit, di mana partai-partai non-parlemen pun diberi tempat
sebagai bagian dari kesatuan nasional.
Adapun pilihan lainnya meski terlihat benar, tidak menjawab secara langsung aspek
“makna penting dari sudut pandang kekuatan politik ideologis”:
(1) B: Benar, tapi lebih berfokus pada stabilitas umum, bukan pada masuknya aktor
politik ideologis seperti PKI.
(2) C: Menyoroti penguatan eksekutif, tapi bukan efek ideologis dari dekrit tersebut.
(3) D: Fokus pada kelemahan Konstituante, bukan makna penting dari kebijakan yang
diambil Soekarno.
(4) E: Benar dalam konteks umum, tapi sorotannya lebih ke militer, bukan ke peluang
politik PKI.
16. Peradaban Mesopotamia dikenal dengan sistem kepercayaan yang kompleks, yang
memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakatnya.
Manakah evaluasi paling tepat mengenai peran sistem kepercayaan tersebut dalam
membentuk struktur sosial dan politik di Mesopotamia, serta implikasinya terhadap
perkembangan peradaban tersebut secara keseluruhan?
A. Sistem kepercayaan di Mesopotamia memperkuat hierarki sosial yang kaku,
menghambat mobilitas sosial, dan memicu konflik internal akibat perbedaan interpretasi
agama.
B. Sistem kepercayaan di Mesopotamia mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, karena para imam dan penguasa menggunakan pengetahuan astronomi dan
matematika untuk memprediksi peristiwa alam.
C. Sistem kepercayaan di Mesopotamia menciptakan tatanan hukum yang adil dan merata,
karena para penguasa menganggap diri mereka sebagai wakil dewa di bumi.
D. Sistem kepercayaan di Mesopotamia memfasilitasi integrasi budaya antar suku dan
bangsa, karena adanya kesamaan dewa-dewa yang disembah di berbagai wilayah.
E. Sistem kepercayaan di Mesopotamia memicu isolasionisme budaya, karena masyarakat
Mesopotamia menganggap diri mereka sebagai pusat peradaban dan menolak
pengaruh budaya asing.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah E. Penyembahan terhadap para pemimpin negara,
penguasa atau imam.
Pilihan E secara komprehensif mengevaluasi peran sistem kepercayaan dalam
membentuk struktur sosial dan politik Mesopotamia, serta implikasinya terhadap
perkembangan peradaban. Sistem kepercayaan di Mesopotamia seringkali digunakan
untuk membenarkan kekuasaan penguasa dan hierarki sosial yang ada.
(1) Pilihan A juga relevan, tetapi lebih fokus pada dampak negatif sistem kepercayaan.
(2) Pilihan B juga relevan, tetapi lebih fokus pada dampak positif sistem kepercayaan
terhadap ilmu pengetahuan.
(3) Pilihan C bertentangan dengan fakta sejarah, di mana sistem hukum di
Mesopotamia seringkali tidak adil dan merata.
(4) Pilihan D tidak sepenuhnya akurat, karena meskipun ada kesamaan dewa-dewa,
perbedaan interpretasi agama seringkali memicu konflik.
17. Pasca berakhirnya konfrontasi Indonesia–Malaysia, pemerintah Orde Baru mulai menata
kembali hubungan diplomatik dan kerja sama bilateral dengan berbagai negara, termasuk
Malaysia. Salah satu fokus kerja sama tersebut adalah di bidang pendidikan, yang tidak
hanya bersifat simbolis tetapi juga strategis dalam membangun kembali kepercayaan dan
kesamaan visi antar kedua negara.
Jika dilihat dari aspek kolaborasi ilmiah dan inovasi dalam dunia pendidikan, maka bentuk
kerja sama yang paling mencerminkan pendekatan strategis tersebut adalah...
A. Pemberian beasiswa dari pemerintah Indonesia kepada pelajar Malaysia untuk studi di
sejumlah perguruan tinggi negeri
B. Pembentukan yayasan bersama yang berfungsi sebagai forum pertukaran informasi
pendidikan dan kebudayaan
C. Pembentukan tim riset bersama antara akademisi Indonesia dan Malaysia untuk
mengembangkan proyek-proyek kolaboratif dalam bidang pendidikan
D. Penyelenggaraan seminar-seminar bersama untuk membahas sistem pendidikan dan
kurikulum nasional kedua negara
E. Program pertukaran pelajar yang melibatkan pelajar tingkat sekolah menengah dari
kedua negara secara berkala
Pembahasan:
Pilihan C adalah jawaban paling tepat, karena mengarah langsung pada bentuk kerja
sama pendidikan yang bersifat strategis dan kolaboratif jangka panjang, yaitu
pembentukan tim riset bersama. Hal ini menunjukkan pendekatan yang lebih berbasis
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan sekadar simbol pertukaran atau
pemberian bantuan.
Sedangkan opsi lain, meskipun terlihat benar dan masuk akal, kurang tepat dari sudut
analisis kerja sama strategis:
(1) A: Memberikan beasiswa adalah bentuk bantuan pendidikan, tetapi lebih bersifat
sepihak dan kurang mencerminkan kolaborasi ilmiah strategis.
(2) B: Pembentukan yayasan benar, tetapi fokusnya umum dan kurang spesifik pada
kegiatan ilmiah.
(3) D: Seminar pendidikan memang forum penting, tetapi hanya bersifat diskusi sesaat,
bukan bentuk kerja sama berkelanjutan.
(4) E: Pertukaran pelajar penting secara sosial-budaya, namun tidak mencerminkan
kedalaman kerja sama di bidang riset dan inovasi pendidikan.
18. Gerakan reformasi yang melanda Indonesia pada tahun 1998 dipicu oleh serangkaian krisis
multidimensi, termasuk krisis ekonomi, politik, dan sosial.
Manakah penerapan paling tepat dari konsep krisis multidimensi terhadap analisis faktor
utama lahirnya gerakan reformasi tersebut?
A. Penerapan konsep krisis multidimensi menunjukkan bahwa gerakan reformasi lahir
sebagai respons terhadap ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi krisis
ekonomi yang berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
B. Penerapan konsep krisis multidimensi mengonfirmasi bahwa gerakan reformasi lahir
sebagai respons terhadap ketidakpuasan masyarakat terhadap praktik KKN yang
merajalela di berbagai sektor pemerintahan.
C. Penerapan konsep krisis multidimensi mengilustrasikan bahwa gerakan reformasi lahir
sebagai respons terhadap ketidakstabilan politik akibat ketidakjelasan suksesi
kepemimpinan nasional.
D. Penerapan konsep krisis multidimensi menunjukkan bahwa gerakan reformasi lahir
sebagai respons terhadap kenaikan harga BBM yang memicu gelombang demonstrasi
mahasiswa di berbagai kota.
E. Penerapan konsep krisis multidimensi mengonfirmasi bahwa gerakan reformasi lahir
sebagai respons terhadap pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa, yang
menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru.
Pembahasan:
Jawaban yang paling tepat adalah B. Penerapan konsep krisis multidimensi
mengonfirmasi bahwa gerakan reformasi lahir sebagai respons terhadap ketidakpuasan
masyarakat terhadap praktik KKN yang merajalela di berbagai sektor pemerintahan.
Pilihan B secara tepat menerapkan konsep krisis multidimensi untuk menganalisis
faktor utama lahirnya gerakan reformasi. KKN merajalela menciptakan ketidakpuasan
mendalam di masyarakat, melampaui sekadar masalah ekonomi atau politik.
(1) Pilihan A juga relevan, tetapi lebih fokus pada aspek ekonomi, bukan krisis
multidimensi secara menyeluruh.
(2) Pilihan C relevan, tapi lebih menekankan pada aspek politik.
(3) Pilihan D relevan, namun lebih menekankan pada masalah harga BBM.
(4) Pilihan E relevan, namun lebih menekankan pada aksi mahasiswa, bukan pada akar
penyebab krisis.
19. Masa Demokrasi Liberal di Indonesia diwarnai dengan upaya daerah untuk
mengimplementasikan otonomi, termasuk dalam bidang ekonomi.
Berdasarkan pemahaman Anda tentang dinamika politik dan ekonomi pada periode tersebut,
manakah contoh kebijakan ekonomi di tingkat daerah berikut yang paling mungkin
mencerminkan penerapan konsep otonomi daerah namun berpotensi menimbulkan gesekan
atau tantangan dari pemerintah pusat?
A. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan sebagian besar anggaran daerah untuk
mengembangkan infrastruktur pertanian dan memberikan subsidi kepada petani lokal,
sebagai upaya untuk meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan petani tanpa
meminta persetujuan khusus dari pemerintah pusat terkait detail alokasi anggaran
tersebut.
B. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara mengeluarkan peraturan
daerah yang memberikan insentif pajak khusus bagi investor swasta nasional yang
bersedia membangun pabrik pengolahan hasil bumi di wilayah tersebut, dengan tujuan
untuk menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja sesuai dengan kebutuhan lokal.
C. Pemerintah Daerah Tingkat II di Sulawesi Selatan menetapkan peraturan daerah yang
mewajibkan semua kegiatan perdagangan hasil bumi antar pulau yang melewati
wilayahnya untuk dikenakan retribusi khusus yang signifikan, dengan tujuan untuk
meningkatkan pendapatan daerah secara mandiri meskipun berpotensi mempengaruhi
kelancaran perdagangan nasional.
D. Beberapa kabupaten di Jawa Tengah bekerjasama untuk membentuk badan usaha milik
daerah (BUMD) bersama yang bergerak di bidang pariwisata, dengan tujuan untuk
mempromosikan potensi wisata lokal dan meningkatkan pendapatan daerah melalui
pengelolaan yang lebih terkoordinasi antar wilayah.
E. Pemerintah Kota Surabaya menerbitkan obligasi daerah untuk membiayai pembangunan
pasar tradisional dan fasilitas umum lainnya, dengan perhitungan pembayaran kembali
obligasi tersebut berasal dari pendapatan retribusi pasar dan pajak daerah, tanpa
adanya jaminan atau intervensi finansial dari pemerintah pusat.
Pembahasan:
Jawaban yang paling akurat dan mengandung logika tinggi (C3 - Menerapkan) adalah C.
Berikut alasannya:
Menetapkan retribusi yang signifikan untuk perdagangan antar pulau berpotensi
menimbulkan gesekan dengan pemerintah pusat karena dapat dianggap menghambat
kelancaran perdagangan nasional dan melangkahi kewenangan pusat dalam mengatur lalu
lintas barang antar wilayah. Kebijakan ini secara langsung menunjukkan penerapan otonomi
daerah dalam meningkatkan pendapatan, namun dengan potensi konsekuensi terhadap
kepentingan nasional.
20. Konflik Bosnia yang terjadi pada tahun 1992–1995 menimbulkan penderitaan besar bagi
rakyat sipil, khususnya dari etnis Muslim Bosnia dan Kroat-Bosnia. Dalam merespons konflik
tersebut, Indonesia melalui Pasukan Garuda XIV yang tergabung dalam UNPROFOR secara
aktif terlibat dalam menjaga wilayah netral dan mengevakuasi korban perang.
Jika ditinjau dari konteks keterlibatan ini, maka dapat disimpulkan bahwa motif utama
Indonesia dalam memilih terlibat dalam konflik Bosnia adalah...
A. Adanya kedekatan nilai historis dan emosional terhadap penderitaan etnis tertentu yang
mendorong keterlibatan aktif Indonesia dalam menjaga perdamaian.
B. Mewujudkan peran sebagai pelindung umat beragama dalam konflik global yang
berdampak kemanusiaan.
C. Menunjukkan kapasitas militer Indonesia dalam mendukung operasi penjaga
perdamaian secara berkelanjutan di wilayah Eropa Timur.
D. Membuktikan peran strategis Indonesia sebagai negara berkembang dalam
menyelesaikan konflik internasional secara netral.
E. Menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pelopor resolusi konflik atas nama
solidaritas dunia ketiga.
Pembahasan:
Jawaban A merupakan jawaban paling logis dan berorientasi pada konteks bacaan, di
mana penderitaan etnis Muslim Bosnia memiliki keterkaitan emosional dan solidaritas
kemanusiaan dengan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim. Hal ini memperkuat
alasan keterlibatan aktif Indonesia meski secara geopolitik Indonesia tidak terikat
langsung dengan kawasan Balkan.
Sementara itu, pilihan lain meski tampak logis, berbeda konteks dengan motif utama
yang disorot oleh pertanyaan:
(1) B terkesan benar, tetapi terlalu luas dan menekankan peran keagamaan global,
bukan kedekatan emosional terhadap etnis tertentu.
(2) C fokus pada militer dan kontinuitas, namun tidak menjelaskan alasan utama
pemilihan konflik Bosnia sebagai fokus.
(3) D menyoroti netralitas, padahal keterlibatan Indonesia justru dilatarbelakangi
kedekatan emosional, bukan netralitas murni.
(4) E terlalu ambisius dan politis, seolah-olah Indonesia ingin memimpin gerakan
internasional, yang tidak relevan secara langsung dalam kasus ini.
21. Setelah dideklarasikan pada tahun 1957, prinsip negara kepulauan yang disampaikan
melalui Deklarasi Djuanda akhirnya memperoleh legitimasi global dalam Konvensi Hukum
Laut PBB (UNCLOS) 1982. Keputusan internasional ini membawa dampak strategis
terhadap pembangunan nasional Indonesia.
Berdasarkan informasi tersebut, keuntungan nyata dari pengakuan prinsip negara kepulauan
bagi pembangunan nasional Indonesia secara sektoral adalah...
A. Mendorong perluasan wilayah laut Indonesia yang selaras dengan cita-cita kemaritiman
dalam Pembukaan UUD 1945.
B. Memberikan penguatan hukum terhadap kedaulatan laut teritorial dan kedaulatan
ekonomi negara kepulauan.
C. Memungkinkan pengelolaan sumber daya kelautan secara optimal dalam sektor
perikanan sebagai bagian dari pembangunan nasional.
D. Memberikan legitimasi formal terhadap posisi Indonesia dalam diplomasi batas maritim
dan navigasi internasional.
E. Menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan potensi kawasan laut yang
semakin strategis secara geopolitik dan geoekonomi.
Pembahasan:
Jawaban yang benar: C.
Memungkinkan pengelolaan sumber daya kelautan secara optimal dalam sektor perikanan
sebagai bagian dari pembangunan nasional.
Jawaban C tepat karena:
UNCLOS 1982 mengakui konsep negara kepulauan, sehingga Indonesia berhak penuh
atas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sejauh 200 mil laut dari garis pangkal.
Dalam ZEE, negara memiliki hak eksklusif untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan
sumber daya alam, termasuk perikanan, yang sangat relevan untuk pembangunan
nasional berbasis kelautan.
Hal ini sejalan dengan semangat Deklarasi Djuanda sebagai pondasi penguatan sektor
maritim Indonesia.
22. Dalam konteks Perang Dingin, Indonesia menunjukkan posisi strategisnya di tengah
ketegangan antara blok Barat dan blok Timur. Di satu sisi, Indonesia menjalin hubungan
diplomatik dengan negara-negara komunis seperti Uni Soviet dan Tiongkok, namun di sisi
lain, Indonesia juga mengalami intervensi politik dari Amerika Serikat dalam pemberontakan
di dalam negeri.
Melihat situasi ini, keputusan Indonesia untuk mengambil inisiatif memprakarsai Gerakan
Non Blok mencerminkan...
A. Upaya Indonesia untuk tidak terjebak dalam dominasi dua kekuatan besar dunia sambil
tetap memperkuat solidaritas negara-negara yang baru merdeka.
B. Sikap Indonesia dalam menghindari ancaman militer secara langsung dari kedua blok
besar dengan tetap menjalin kerja sama bilateral terbatas.
C. Komitmen Indonesia dalam membangun tatanan politik global berdasarkan prinsip
netralitas aktif dan hubungan ekonomi seimbang.
D. Strategi Indonesia dalam mendukung pertumbuhan negara-negara berkembang melalui
jalur diplomatik bebas dari tekanan ideologis.
E. Peran Indonesia dalam memperluas pengaruhnya sebagai negara pemimpin Asia-Afrika
dengan mengambil posisi politik tengah.
Pembahasan:
Jawaban yang benar: A.
Upaya Indonesia untuk tidak terjebak dalam dominasi dua kekuatan besar dunia sambil
tetap memperkuat solidaritas negara-negara yang baru merdeka.
Jawaban A paling tepat karena:
Mengandung dua inti tujuan GNB: menjauhkan diri dari dominasi dua blok besar
(Barat–Amerika Serikat dan Timur–Uni Soviet) dan memperkuat solidaritas negara-
negara baru merdeka pasca KAA.
Konsisten dengan nomor 1, 2, dan 3 dalam data sebelumnya:
(1) Keberhasilan KAA → solidaritas negara terjajah,
(2) Pengaruh blok Timur (Uni Soviet–Tiongkok),
(3) Intervensi blok Barat (Amerika Serikat–PRRI/Permesta).
23. Dalam upaya mewujudkan Pax Netherlandica, Belanda berambisi menguasai seluruh
wilayah Nusantara, termasuk Aceh.
Namun, rencana penaklukan Aceh pada pertengahan abad ke-19 tidak dapat dilakukan
secara instan karena...
A. Aceh secara geografis terlindung oleh kondisi alam yang menyulitkan invasi militer
secara langsung.
B. Aceh telah berkembang menjadi kekuatan mandiri yang kuat dalam bidang politik dan
perdagangan global, terutama melalui komoditas lada.
C. Wilayah Sumatera bagian utara didominasi oleh jaringan kerajaan kecil yang saling
bersaing dan mendukung Aceh secara terbatas.
D. Belanda belum memperoleh dukungan resmi dari pihak kolonial Inggris yang berperan di
Selat Malaka.
E. Stabilitas internal Hindia Belanda belum sepenuhnya terjaga setelah perlawanan di
Sumatera Barat mereda.
Pembahasan:
Jawaban yang benar: B.
Aceh telah berkembang menjadi kekuatan mandiri yang kuat dalam bidang politik dan
perdagangan global, terutama melalui komoditas lada.
Jawaban B adalah yang paling tepat, karena:
Secara langsung mengacu pada isi bacaan: sejak 1820-an, Aceh menjadi pusat kekuatan
politik dan perdagangan, sekaligus penghasil lebih dari setengah lada dunia.
Hal ini menyebabkan Belanda melihat Aceh sebagai ancaman dominan dan target utama
untuk menuntaskan Pax Netherlandica.
24. Penyerangan Penjara Bastille pada 14 Juli 1789 menjadi momentum penting dalam sejarah
Revolusi Prancis yang menandai berakhirnya simbol kekuasaan absolut Raja Louis XVI.
Pasca-peristiwa tersebut, pemerintahan revolusioner mengambil berbagai langkah untuk
menstabilkan kondisi dalam negeri dan mempersiapkan transisi politik.
Berdasarkan konteks tersebut, tindakan yang paling mencerminkan orientasi politik dan
kelembagaan pemerintahan sementara Revolusi Prancis adalah...
A. Mendirikan pasukan rakyat untuk mempertahankan kota Paris dari serangan pasukan
kerajaan.
B. Menasionalisasi aset bangsawan dan gereja guna menyeimbangkan keuangan negara.
C. Menghapus hak-hak istimewa kaum bangsawan melalui dekrit revolusioner.
D. Menyusun piagam hak asasi manusia sebagai dasar moral sistem pemerintahan baru.
E. Membentuk Majelis Konstituante untuk merancang sistem pemerintahan yang lebih
demokratis.
Pembahasan:
Jawaban yang benar: E.
Membentuk Majelis Konstituante untuk merancang sistem pemerintahan yang lebih
demokratis.
Jawaban E paling tepat karena:
Majelis Konstituante (Assemblée Constituante) adalah bentuk nyata dari keinginan
rakyat dan pemimpin revolusioner untuk mengganti sistem absolutisme dengan sistem
pemerintahan konstitusional.
Merupakan tindakan kelembagaan yang strategis dalam membangun dasar negara
demokratis, sesuai dengan semangat revolusi.
25. Dalam konflik Laut Cina Selatan, Indonesia mengambil posisi strategis sebagai pihak yang
tidak melakukan klaim langsung terhadap wilayah sengketa, tetapi tetap aktif dalam
menjaga stabilitas kawasan.
Jika dilihat dari sudut pandang geopolitik global, maka peran Indonesia dalam menjaga
perdamaian dunia melalui konflik tersebut paling tepat digambarkan sebagai...
A. Mengupayakan stabilitas jalur perdagangan internasional, termasuk memastikan jalur
ekspor negara-negara besar tidak terganggu oleh konflik regional.
B. Menawarkan diri sebagai mediator netral karena tidak termasuk dalam negara
pengklaim wilayah Laut Cina Selatan.
C. Mendorong terbentuknya forum ASEAN yang khusus membahas Laut Cina Selatan
secara kolektif dan berkala.
D. Membangun iklim kepercayaan antarnegara kawasan dengan memperkuat kerja sama
militer non-perang di Asia Tenggara.
E. Mengedepankan posisi Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan ASEAN yang
layak memimpin arah negosiasi regional.
Pembahasan:
Jawaban yang benar: A.
Mengupayakan stabilitas jalur perdagangan internasional, termasuk memastikan jalur
ekspor negara-negara besar tidak terganggu oleh konflik regional.
Jawaban A paling tepat karena:
Laut Cina Selatan adalah jalur utama perdagangan dunia, termasuk jalur ekspor negara-
negara besar seperti AS, Jepang, dan Cina.
Stabilitas kawasan ini adalah bagian dari tanggung jawab Indonesia sebagai negara
dengan kebijakan luar negeri “bebas aktif”.
Upaya menjaga stabilitas ini adalah kontribusi Indonesia terhadap perdamaian dunia,
sesuai amanat pembukaan UUD 1945.