RENCANA PEMBELAJARAN
PENDEKATAN DEEP LEARNING
A. Identitas
Mata Pelajaran : Kimia
Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Paninggaran, Kab, Pekalongan
Kelas : XI
Semester : 1 (Gasal)
Tahun Pelajaran : 2025/2026
Lingkup Materi : Kelarutan dan Hasil Kali kelarutan
Alokasi Waktu (JP) : 4 JP
B. Perencanaan Pembelajaran Mendalam
1. Identifikasi
Identifikasi Kesiapan Minat siswa:
Peserta Didik Minat peserta didik terhadap fenomena kimia yang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti
pengendapan garam di air keras atau larutan jenuh
dalam makanan dan minuman, akan meningkatkan
motivasi belajar. Latar belakang pengalaman belajar
di SMP mengenai larutan dan kesetimbangan dasar
serta paparan awal tentang reaksi ionisasi
membantu membangun kesiapan kognitif.
Cara belajar siswa:
Dukungan lingkungan belajar yang menyediakan
media visual dan praktikum langsung, seperti
simulasi larutan jenuh dan eksperimen
pengendapan, sangat efektif untuk peserta didik
dengan gaya belajar visual dan kinestetik.
Penggunaan aplikasi simulasi interaktif dan video
pembelajaran juga dapat membantu mempermudah
konsep abstrak kelarutan dan Ksp.
Keterampilan berpikir kritis dan analitis diperlukan
dalam menganalisis data hasil percobaan,
menyusun perhitungan kelarutan, dan
mengevaluasi pengaruh ion bersama serta pH
terhadap kelarutan. Kemampuan bekerja sama
dalam diskusi kelompok dan ketekunan dalam
latihan soal juga menjadi faktor penting dalam
keberhasilan pemahaman materi ini. Rasa ingin
tahu terhadap aplikasi konsep kelarutan dalam
dunia nyata, seperti dalam bidang farmasi,
lingkungan, dan teknologi bahan, juga dapat
memperkuat motivasi belajar peserta didik.
Lingkungan tempat tinggal: Pegunungan
Karakteristik Materi Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Pelajaran mencakup berbagai aspek pengetahuan, mulai dari
faktual, konseptual, prosedural, hingga metakognitif.
Secara faktual, peserta didik perlu memahami
definisi larutan jenuh, kelarutan, ion-ion dalam
larutan, dan konstanta hasil kali kelarutan atau Ksp.
Secara konseptual, peserta didik diajak untuk
mendalami makna kesetimbangan dinamis dalam
larutan jenuh, memahami pengaruh ion senama,
efek perubahan pH terhadap kelarutan, serta
keterkaitan antara nilai Ksp dengan tingkat
kelarutan suatu zat. Dari sisi prosedural,
pembelajaran menekankan pada keterampilan
menulis reaksi kelarutan dalam bentuk
kesetimbangan, menghitung nilai Ksp dari data
kelarutan, menentukan kelarutan berdasarkan nilai
Ksp, serta menganalisis kemungkinan terbentuknya
endapan dari pencampuran dua larutan elektrolit.
Secara metakognitif, peserta didik dilatih untuk
mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dalam
menyelesaikan soal-soal terkait kelarutan, meninjau
kembali logika perhitungan, dan mengidentifikasi
kesalahan umum yang mungkin muncul, baik dalam
rumus matematika maupun konsep kimia.
Dimensi Profil Lulusan √ Keimanan & ketakwaan terhadap Tuhan YME
√ Kesehatan
√ Kemandirian
√ Bernalar kritis
√ Kolaborasi
√ Komunikasi
√ Kreativitas
√ Kewarganegaraan
2. Desain Pembelajaran
a. Capaian Peserta didik mampu memahami konsep kelarutan
Pembelajaran dan hasil kali kelarutan, menghitung kelarutan dan
Ksp senyawa, serta menerapkan konsep tersebut
dalam menyelesaikan masalah keseimbangan
dalam larutan jenuh.
b. Lintas Disiplin Ilmu Matematika (perhitungan aljabar)
yang Relevan Fisika (konsep kesetimbangan dan dinamika)
c. Tujuan Setelah pembelajaran, peserta didik dapat:
Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian kelarutan dan hasil
kali kelarutan (Ksp).
2. Menghitung kelarutan dari nilai Ksp dan
sebaliknya.
3. Menganalisis pengaruh ion bersama dan
pengaruh pH terhadap kelarutan.
4. Menerapkan konsep Ksp dalam memprediksi
pembentukan endapan.
d. Topik Pembelajaran Konsep Kelarutan dan Ksp
yang Kontekstual Perhitungan Kelarutan dan Ksp
Pengaruh Ion Bersama dan pH
Aplikasi Ksp dalam Prediksi Endapan
e. Kerangka Pembelajaran
1) Praktik Simulasi interaktif perhitungan kelarutan dan
Pedagogik Ksp (misalnya menggunakan PhET atau
aplikasi serupa)
Eksperimen pengendapan dan pengamatan
kelarutan dalam larutan jenuh
Diskusi kelompok dan presentasi kasus studi
nyata
Problem-based learning dengan soal
kontekstual
Metode Simulasi dan Eksplorasi Kelarutan dan
Ksp:
Peserta didik menggunakan simulasi interaktif
seperti PhET atau aplikasi sejenis untuk
menghitung kelarutan dan konstanta hasil kali
kelarutan (Ksp) dari berbagai senyawa ionik. Dalam
simulasi tersebut, peserta didik dapat memanipulasi
konsentrasi ion, melihat proses pelarutan dan
pengendapan secara visual, serta membandingkan
nilai Ksp berbagai zat secara langsung.
Berkesadaran: Menumbuhkan pemahaman bahwa
kelarutan dan kesetimbangan kimia adalah
fenomena ilmiah yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari, seperti pengendapan kerak dalam
pemanas air.
Bermakna: Memberikan pengalaman konkret dan
visual dalam memahami konsep abstrak, seperti
hubungan antara ion-ion dalam larutan jenuh dan
nilai Ksp.
Menggembirakan: Memberikan ruang eksplorasi
mandiri dengan tampilan visual yang menarik,
sambil melakukan prediksi dan analisis terhadap
hasil simulasi.
Simulasi ini melatih penalaran logis peserta didik
dalam menganalisis hubungan antara jumlah ion,
kelarutan, dan kesetimbangan, serta memberikan
umpan balik instan terhadap percobaan yang
dilakukan.
Metode Eksperimen Kontekstual dan Observasi
Endapan:
Peserta didik melakukan eksperimen sederhana
tentang proses pengendapan, misalnya
mencampurkan larutan-larutan yang mengandung
ion yang dapat membentuk endapan. Mereka
mengamati dan mencatat hasil pengendapan, serta
menghitung nilai kelarutan berdasarkan hasil
praktikum.
Berkesadaran: Mendorong peserta didik
memahami bahwa banyak reaksi kimia di sekitar
mereka melibatkan kelarutan dan pembentukan
endapan, seperti dalam air tanah atau reaksi pada
tubuh manusia.
Bermakna: Membangun keterkaitan antara konsep
kimia dan fenomena sehari-hari dengan
pengamatan langsung.
Menggembirakan: Membangkitkan rasa ingin tahu
melalui kegiatan eksploratif yang bersifat hands-on.
Eksperimen ini melatih keterampilan praktis,
ketelitian dalam mencatat data, kemampuan
menghitung dan menginterpretasi hasil eksperimen,
serta kesadaran terhadap prosedur keselamatan
laboratorium.
Metode Diskusi Kasus dan Presentasi
Kolaboratif:
Peserta didik dibagi dalam kelompok kecil dan
diberi studi kasus kontekstual, seperti peristiwa
terbentuknya endapan dalam air limbah industri
atau penyebab terbentuknya batu ginjal. Mereka
meneliti fenomena tersebut dari perspektif kelarutan
dan Ksp, lalu mempresentasikan hasil temuan
mereka dalam bentuk infografis atau presentasi
digital.
Berkesadaran: Mengajak peserta didik untuk
menyadari peran penting kimia dalam menjelaskan
dan memecahkan persoalan nyata.
Bermakna: Memberikan ruang bagi peserta didik
untuk mengaitkan pengetahuan ilmiah dengan
konteks sosial, lingkungan, dan kesehatan.
Menggembirakan: Menumbuhkan semangat kerja
tim dan rasa bangga atas hasil karya ilmiah yang
dipresentasikan kepada teman sejawat.
Diskusi dan presentasi melatih komunikasi ilmiah,
pemikiran kritis, kreativitas visual, dan kemampuan
argumentasi berbasis data.
Strategi Pembelajaran Berbasis Pemecahan
Masalah (Problem-Based Learning):
Peserta didik dihadapkan pada pertanyaan
pemantik seperti, “Mengapa kalsium karbonat lebih
mudah mengendap dibandingkan natrium klorida?”
atau “Bagaimana meminimalkan pembentukan
kerak dalam alat pemanas air?” Mereka kemudian
menelusuri konsep kelarutan, ion senama, dan
perhitungan Ksp untuk menyusun solusi yang logis.
Berkesadaran: Mendorong peserta didik untuk
memaknai bahwa ilmu kimia bukan sekadar teori,
tetapi alat untuk memahami dan menyelesaikan
persoalan kehidupan.
Bermakna: Menyediakan tantangan nyata yang
relevan dengan pengalaman peserta didik dan
merangsang pencarian informasi secara aktif.
Menggembirakan: Menawarkan ruang kebebasan
dalam berpikir dan bereksperimen dalam kelompok.
Model ini melatih berpikir analitis, ketekunan, dan
kerja kolaboratif yang penting untuk pembelajaran
sains abad 21.
2) Kemitraan Laboratorium Kimia sekolah
Pembelajaran Sumber belajar digital (simulasi, video,
artikel)
Kelompok belajar dan tutor sebaya
3) Lingkungan Ruang Kelas dengan media proyektor dan
Belajar papan tulis
Laboratorium Kimia untuk praktikum
Platform LMS untuk akses materi dan kuis
daring
Lingkungan Pembelajaran: Materi Kelarutan dan
Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Ruang Fisik:
Laboratorium Kimia: digunakan untuk
melakukan praktikum pengamatan kelarutan
zat, penyusunan larutan jenuh, dan simulasi
pengaruh ion bersama terhadap kelarutan
dengan menggunakan alat ukur seperti gelas
ukur, buret, dan spektrofotometer sederhana.
Ruang Kelas: dilengkapi dengan proyektor
atau layar interaktif untuk menampilkan video
eksperimen kelarutan, penjelasan konsep
Ksp secara visual, serta sebagai ruang
diskusi, pemecahan masalah, dan presentasi
proyek mini.
Ruang Virtual:
Platform LMS: dimanfaatkan untuk
mengakses materi konsep kelarutan dan
Ksp, berdiskusi secara daring, mengerjakan
kuis, serta mengunggah laporan praktikum
dan proyek mini.
Simulasi Interaktif: seperti simulasi larutan
jenuh dan ion bersama (misalnya dari PhET),
yang membantu peserta didik
memvisualisasikan proses kelarutan,
pembentukan endapan, dan pengaruh
variabel lingkungan.
Sumber Online: artikel ilmiah populer, video
pembelajaran, jurnal sederhana, dan e-book
yang membahas aplikasi kelarutan dan Ksp
di bidang industri, farmasi, dan lingkungan.
4) Pemanfaatan Simulasi kelarutan dan Ksp secara interaktif
Digital Video pembelajaran tentang aplikasi Ksp
Google Form/Quizizz untuk kuis formatif
Diskusi daring melalui forum LMS
3. Pengalaman Belajar
Langkah-Langkah Pembelajaran
Kegiatan Awal Pertemuan 1: Pengantar Konsep Kelarutan dan Ksp
(berkesadaran-
bermakna- AWAL (Berorientasi Kontekstual dan Menggugah
menggembirakan) Rasa Ingin Tahu)
Guru menyapa siswa dengan hangat, dilanjutkan
dengan doa bersama dan ice breaking singkat seperti
“Tebak zat – larut atau tidak?” menggunakan benda-
benda seperti garam, pasir, dan kapur.
Dilanjutkan dengan pemutaran video pendek yang
membandingkan kelarutan garam dan pasir dalam air.
Pertanyaan pemantik diajukan: “Apa yang membuat
suatu zat bisa larut, sementara yang lain tidak?”
Guru mengaitkan fenomena tersebut dengan kehidupan
sehari-hari seperti pembuatan minuman isotonik atau
pengolahan air limbah.
Tujuan pembelajaran disampaikan: peserta didik akan
mengenal konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan
serta pengaruhnya terhadap proses pelarutan.
Kegiatan Inti INTI (Aktif, Visual, dan Eksploratif)
(bernakna, Memahami (45 menit)
menggembirakan) Peserta didik menyimak penjelasan interaktif dari guru
mengenai konsep larutan jenuh, kelarutan, dan Ksp,
dibantu visualisasi model molekul dan diagram
kesetimbangan.
Mengaplikasi (30 menit)
Peserta didik menggunakan simulasi interaktif (seperti
PhET) untuk menyusun larutan jenuh, mengamati
perubahan ion dalam larutan, dan mencoba menghitung
Ksp berdasarkan data konsentrasi.
Merefleksi (15 menit)
Diskusi kelas: “Apa arti nilai Ksp bagi kelarutan suatu
zat?” dan “Mengapa beberapa zat sangat sedikit larut?”
Kegiatan Penutup PENUTUP (Kontekstual dan Reflektif)
Guru menyimpulkan konsep utama dan memberikan
tugas eksploratif: “Carilah dua contoh zat di rumah atau
lingkungan sekitar yang kelarutannya sangat tinggi dan
sangat rendah, dan catat bentuk fisis serta
penggunaannya.”
Langkah-Langkah Pembelajaran
Kegiatan Awal Pertemuan 2: Menghitung Kelarutan dari Ksp
(berkesadaran-
bermakna- AWAL (Mengaktifkan Ingatan dan Rasa Ingin Tahu)
menggembirakan) Review tugas sebelumnya dan diskusi ringan tentang
zat yang ditemukan siswa.
Pertanyaan pemantik: “Jika saya tahu nilai Ksp, bisakah
saya memprediksi berapa banyak zat yang akan larut?”
Kegiatan Inti INTI (Terstruktur dan Mendorong Latihan Mandiri)
(bernakna, Memahami (45 menit)
menggembirakan) Guru menjelaskan hubungan antara Ksp dan kelarutan
(s), baik untuk senyawa biner sederhana maupun ion
kompleks. Disertai contoh perhitungan dan penurunan
rumus.
Mengaplikasi (30 menit)
Siswa berlatih mengerjakan soal perhitungan kelarutan
dari Ksp dan sebaliknya, baik individu maupun dalam
kelompok kecil dengan skenario berbeda (larutan CaF₂,
AgCl, dll).
Merefleksi (15 menit)
Diskusi kesalahan umum dalam menentukan jumlah ion
dan pangkat dalam rumus Ksp.
Kegiatan Penutup PENUTUP
Guru memberikan umpan balik dan penguatan rumus-
rumus penting. Penugasan mandiri berupa soal aplikasi
kelarutan dalam berbagai jenis senyawa untuk latihan di
rumah.
4. Asesmen
Asesmen Awal
1. Observasi Awal dan Aktivitas Kontekstual:
o Siswa diminta mengamati dua gelas larutan (misal: larutan
garam vs. pasir dalam air) lalu menuliskan dugaan dan
alasan zat mana yang larut atau tidak larut.
o Diskusi awal dalam bentuk “lembar pengamatan awal” yang
dikumpulkan secara tertulis atau difoto untuk dokumentasi.
2. Wawancara ringan (1 menit/siswa) atau pertanyaan lisan
cepat:
o Misalnya: “Pernahkah kamu melihat endapan di air sumur
atau teh? Menurutmu, itu kelarutan atau tidak?”
Asesmen 1. Observasi Autentik Aktivitas:
Proses o Guru mencatat partisipasi siswa saat simulasi larutan jenuh
dan diskusi kelompok menggunakan lembar observasi
formatif.
2. Penilaian Laporan Praktikum:
o Praktikum simulasi pengaruh ion senama dan pH, dinilai
menggunakan rubrik yang menilai: format laporan, data
pengamatan, analisis, kesimpulan, dan refleksi.
3. Refleksi Individu (Jurnal):
o Siswa menuliskan hal paling mengejutkan yang mereka
pelajari tentang kelarutan dalam format jurnal refleksi
digital atau tertulis.
4. Presentasi Mini:
o Kelompok mempresentasikan hasil analisis kasus kelarutan
(misal: pencemaran air oleh senyawa tak larut), dinilai
berdasarkan rubrik presentasi (struktur isi, pemahaman,
visualisasi, kerja tim, respons pertanyaan).
Asesmen
Akhir Tes Tertulis – Pilihan Ganda (10 soal)
Petunjuk: Pilihlah jawaban yang paling benar dari lima pilihan berikut.
1. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh...
A. Massa zat
B. Suhu larutan
C. Warna zat
D. Bentuk zat padat
E. Tekanan udara
✅ Jawaban: B
2. Larutan dikatakan jenuh apabila...
A. Semua zat telah larut seluruhnya
B. Zat tidak dapat larut lagi pada suhu tertentu
C. Terjadi pencampuran dua jenis pelarut
D. Tidak ada endapan yang terbentuk
E. Larutan berubah warna
✅ Jawaban: B
3. Nilai Ksp dari AgCl adalah 1,8 × 10⁻¹⁰. Maka, kelarutan (s) AgCl
dalam mol/L adalah...
A. 1,8 × 10⁻⁵
B. 9,0 × 10⁻⁶
C. 1,34 × 10⁻⁵
D. 4,2 × 10⁻⁵
E. 1,8 × 10⁻⁶
✅ Jawaban: C
4. Jika [Ca²⁺] = 0,01 M dan [F⁻] = 0,02 M, maka apakah akan
terbentuk endapan CaF₂? (Ksp CaF₂ = 3,9 × 10⁻¹¹)
A. Tidak, karena Q < Ksp
B. Ya, karena Q > Ksp
C. Tidak, karena Q = Ksp
D. Ya, karena larut sempurna
E. Tidak ada informasi yang cukup
✅ Jawaban: B
5. Manakah yang merupakan pengaruh dari ion senama?
A. Meningkatkan kelarutan
B. Menurunkan kelarutan
C. Tidak mempengaruhi
D. Mengubah warna larutan
E. Menyebabkan reaksi redoks
✅ Jawaban: B
6. Kelarutan PbI₂ dalam air adalah s mol/L. Maka Ksp-nya adalah...
A. s²
B. 2s²
C. 3s²
D. 4s³
E. 6s²
✅ Jawaban: D (Ksp = [Pb²⁺][I⁻]² = s × (2s)² = 4s³)
7. Larutan yang paling mungkin membentuk endapan AgBr (Ksp
AgBr = 5,0 × 10⁻¹³) adalah...
A. [Ag⁺] = 10⁻⁶ M dan [Br⁻] = 10⁻⁷ M
B. [Ag⁺] = 10⁻⁴ M dan [Br⁻] = 10⁻⁹ M
C. [Ag⁺] = 10⁻⁶ M dan [Br⁻] = 10⁻⁶ M
D. [Ag⁺] = 10⁻⁵ M dan [Br⁻] = 10⁻⁸ M
E. [Ag⁺] = 10⁻³ M dan [Br⁻] = 10⁻⁹ M
✅ Jawaban: C (Q = 10⁻¹² > Ksp)
8. Apa peran pH dalam kelarutan senyawa seperti Ca(OH)₂?
A. Tidak ada pengaruh
B. pH rendah menurunkan kelarutan
C. pH tinggi menaikkan kelarutan
D. pH rendah menaikkan kelarutan
E. Hanya suhu yang mempengaruhi
✅ Jawaban: D
9. Dalam reaksi: BaSO₄ (s) ⇌ Ba²⁺ + SO₄²⁻, jika [SO₄²⁻] ditambah,
maka...
A. Kelarutan BaSO₄ meningkat
B. Reaksi bergeser ke kanan
C. Tidak terjadi perubahan
D. Terjadi pengendapan
E. Suhu larutan naik
✅ Jawaban: D
10. Fenomena air tanah berkapur yang menimbulkan kerak di
pemanas air berkaitan dengan...
A. Kelarutan logam berat
B. Endapan CaCO₃ akibat kesetimbangan ion
C. Larutan asam kuat
D. Pelarutan pasir dalam air
E. Proses redoks
✅ Jawaban: B
2. Tes Uraian Nyata (3 Soal Contoh)
1. Jelaskan bagaimana Ksp dapat digunakan untuk memprediksi
apakah akan terbentuk endapan ketika dua larutan dicampurkan.
Jawaban: Dengan menghitung Q (hasil kali konsentrasi ion-ion),
lalu dibandingkan dengan Ksp. Jika Q > Ksp, endapan terbentuk.
2. Seorang siswa mencampurkan larutan Ca(NO₃)₂ 0,01 M dengan
NaF 0,02 M. Apakah akan terbentuk endapan CaF₂? Jelaskan
perhitunganmu.
Jawaban: Hitung Q = [Ca²⁺][F⁻]² = 0,01 × (0,02)² = 4,0 × 10⁻⁶. Jika
Q > Ksp (3,9 × 10⁻¹¹), maka endapan terbentuk.
3. Berikan contoh penerapan konsep Ksp dalam bidang lingkungan
atau industri, dan jelaskan hubungannya.
Jawaban: Contoh: Pengolahan air limbah industri logam. Logam-
logam berat diendapkan sebagai hidroksida (menggunakan Ksp)
agar tidak mencemari lingkungan.
3. Penilaian Proyek Mini (Otentik)
Tugas:
Buatlah laporan atau video singkat mengenai satu kasus nyata di
sekitar kalian yang melibatkan larutan dan kelarutan (misal: kerak
air sumur, pencucian pakaian di air sadah, limbah logam berat).
Sajikan:
o Jenis zat dan kelarutannya
o Analisis kemungkinan terbentuk endapan (pakai
perhitungan Ksp bila memungkinkan)
o Solusi ilmiah atau alternatif penanganan masalah tersebut.
Rubrik Penilaian Proyek:
Skor
Aspek Deskripsi
Maks
Ketepatan penjelasan Ksp dan
Pemahaman Konsep 30
kelarutan
Analisis Data / Studi
30 Relevansi dan kedalaman analisis
Kasus
Kreativitas Penyajian 20 Inovatif dan menarik
Refleksi/Solusi 10 Solusi logis berbasis sains
Kerapihan dan
10 Orisinal dan rapi
Orisinalitas
INSTRUMEN PENILAIAN
1. Rubrik Penilaian Presentasi Proyek Mini (Skala 1–4)
Aspek
Skor 1 Skor 2 Skor 3 Skor 4
Penilaian
Penjelasan
Penjelasan
Penjelasan
cukup tepat,
sangat tepat,
Kejelasan Penjelasan tidak kurang
meskipun
runtut, dan
Konsep tepat dan tepat dan
ada menunjukkan
Ilmiah membingungkan kurang
kekurangan
pemahaman
runtut
kecil mendalam
Sangat
Kurang
Tidak ada Menarik dan menarik,
Kreativitas menarik
kreativitas; ada upaya kreatif, dan
dan Inovasi dan tidak
sangat standar kreatif inovatif dalam
ada inovasi
penyajian
Kerja sama
Kerja sama Kerja sama
Tidak sangat solid,
Kerja Sama lemah dan cukup baik,
menunjukkan semua
Tim tidak sebagian
kerja sama anggota
seimbang anggota aktif
berkontribusi
Media
Media cukup Media sangat
Pemanfaatan Tidak kurang
relevan dan mendukung,
Media menggunakan relevan atau
membantu menarik, dan
Presentasi media tidak
penyajian mendalam
mendukung
Solusi Solusi cukup Solusi sangat
Solusi tidak
Ketepatan kurang tepat dan tepat, realistis,
relevan atau
Solusi Ilmiah tepat atau berdasarkan dan berbasis
tidak ilmiah
tidak logis konsep Ksp data ilmiah
Skor Maksimum: 5 aspek × 4 poin = 20 poin
Konversi Nilai Akhir (dari 20 poin ke 100):
Nilai = (Total Skor / 20) × 100
2. Rubrik Penilaian Praktikum (Pengganti Ceklis)
Aspek
Skor 1: Kurang Skor 2: Skor 3: Skor 4:
Kinerja
Sekali Kurang Cukup Sangat Baik
Praktikum
Kepatuhan Tidak mengikuti Mengabaikan Mengikuti Mengikuti
terhadap prosedur, sebagian sebagian seluruh
Prosedur & berisiko prosedur besar prosedur
Aspek
Skor 1: Kurang Skor 2: Skor 3: Skor 4:
Kinerja
Sekali Kurang Cukup Sangat Baik
Praktikum
dengan
prosedur
Keselamatan aman dan
dengan baik
disiplin
Tidak Mengamati Mengamati
Kurang
Pengamatan memperhatikan dengan dengan
cermat dalam
Fenomena atau tidak cukup sangat teliti
mengamati
mengamati cermat dan detail
Data sangat
Data tidak dicatat Data cukup
Pencatatan Data kurang lengkap,
atau tidak lengkap dan
Data lengkap/rapi rapi, dan
lengkap rapi
sistematis
Interpretasi
sangat tepat
Interpretasi Tidak mampu Interpretasi
Interpretasi dan
Hasil menginterpretasi keliru atau
cukup logis berdasar
Praktikum hasil tidak logis
konsep yang
kuat
Skor Maksimum: 4 aspek × 4 poin = 16 poin
Konversi Nilai Akhir (dari 16 poin ke 100):
Nilai = (Total Skor / 16) × 100
Contoh Rekap Penilaian (Template)
Rata-
Nilai Nilai
Nama Presentasi Praktikum rata
Presentasi Praktikum
Siswa/Kelompok (20) (16) Akhir
(%) (%)
(%)
Kelompok A 18 14 90 87.5 88.8
Kelompok B 15 10 75 62.5 68.8
Kab. Pekalongan, 14 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SMA Negeri 1 Paninggaran Guru Mata Pelajaran
Laksono Tri Pambudi, S.Pd. Nur Fazidah Achmad, S.Pd
NIP. 19850331 201101 1 012 NIP. 19860320 202521 2 011