LAPORAN PRAKTIKUM
TL 3101 – PENGOLAHAN FISIK DAN KIMIA
MODUL 04
DISINFEKSI
Nama Praktikan : Aulia Nurhaliza
NIM : 15322057
Kelompok :4
Tanggal Praktikum : 20 Desember 2024
Tanggal Pengumpulan : 30 Desember 2024
PJ Modul : 1. Talitha Ardilla Haryanto (25324018)
2. Fayza Muthia Rahmanda Putri (25324030)
Asisten Praktikum : 1. Rifky Rizkullah Fahmi (25324013)
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2024
I. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Menentukan dosis klorin optimum.
2. Menentukan sisa klor dari penambahan klorin untuk desinfeksi.
3. Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi desinfeksi.
II. TEORI DASAR
Desinfeksi merupakan proses yang mematikan semua mikroorganisme
patogen dengan cara kimiawi atau fisik pada benda mati. Proses desinfeksi
sendiri dapat menghilangkan 60% - 90% jasad renik. Sedangkan yang
dimaksud dengan desinfektan adalah senyawa kimia yang bersifat toksik
dan memiliki kemampuan dalam membunuh mikroorganisme yang terpapar
secara langsung oleh senyawa kimia tersebut (Sawyer, McCarty, & Parkin, 2
003). Proses desinfeksi sendiri tidak dapat dilakukan pada mikroorganisme
yang tidak patogen maupun mikroorganisme patogen yang sedang
membentuk spora. Klorinasi merupakan istilah yang digunakan dalam
penggunaan klor sebagai desinfektan dalam proses desinfeksi senyawa
kimia. Klorin dalam air akan berubah menjadi asam klorida. Zat ini
kemudian di netralisasi oleh sifat basa dan air sehingga akan terurai menjadi
ion hidrogen dan ion hipoklorit. Berikut merupakan reaksi kimia yang
terjadi (Ratnawati & Sugito, 2013).
Cl 2+ H 2 O → HCl+ HOCl
Asam klorida merupakan asam kuat yang terdisosiasi sempurna
menyebabkan reduksi alkalinitas dan pH.
−
HCl → H +¿+C l ¿
Sedangkan, asam hipoklorit merupakan asam lebih dan tingkat disosiasinya
bergantung pada pH
−
HOCl ⇔ H +¿+OC l ¿
Beberapa senyawa klor yang umum digunakan sebagai desinfektan seperti
gas klor (Cl2), kalsium hipoklorit (OCl-), asam hipoklorit (HOCl), klor
dioksida (ClO2), dan natrium hipoklorit (NaOCl) (Somani, 2011). Kelebihan
dari disinfektan ini adalah mudah digunakan, dan jenis mikroorganisme
yang dapat dibunuh dengan senyawa ini juga cukup luas, meliputi bakteri
gram negatif dan bakteri gram positif. Kelebihan dari disinfektan ini adalah
mudah digunakan, dan jenis mikroorganisme yang dapat dibunuh dengan
senyawa ini juga cukup luas, meliputi bakteri gram negatif dan bakteri gram
positif (Dwidjoseputro, 1978).
Sebelum HOCl, OCl- dan Cl2 berfungsi aktif membunuh
mikroorganisme, senyawa tersebut akan terikat terlebih dahulu bereaksi
dengan zat-zat reduktor yang terdapat di dalam air dan bereaksi cepat
seperti: H2S, Fe2+, Mn2+, NO2-, SO32-, NH3, dan senyawa-senyawa organik.
Reaksi tersebut harus terpenuhi dahulu, baru penambahan disinfektan yang
berikutnya akan bersifat aktif untuk membunuh mikroorganisme. Jumlah
unsur-unsur tersebut sering disebut Daya Pengikat Klor (DPC) yaitu
kemampuan zat klor di dalam air dalam melakukan proses kimia untuk
mengikat zat organik yang selanjutnya membentuk senyawa-senyawa
klorida yang akan berfungsi sebagai disinfektan terhadap beberapa kuman
patogen (Sofia, Riduan, & Abdi, 2016). Break Point Chlorination adalah
suatu titik belok atau retak yang menunjukkan awal proses dicapainya
kestabilan senyawa klor dalam air dengan proses kebutuhan klor untuk
mengikat zat organik akan menurun dan proses pembentukan senyawa
klorida sebagai bahan disinfeksi akan menuju kestabilan. Breakpoint
Chlorination atau Titik Retak Klorinasi digunakan apabila air mengandung
ammonia dan kita bermaksud mengoksidasi seluruh ammonia tersebut
dengan menggunakan zat kimia (Purnawijayanti, 2001).
Gambar II.1 Grafik Breakpoint Chlorination
(Sumber: NWS Health, 2013)
Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa sisa klor yang
ditambahkan dibandingkan dengan dosis klor atau kebutuhan klor
menunjukan grafik yang berfluktuasi. Pada saat stage 1 penambahan klorin
pada ampel air yang akan mengoksidasi logam seperti besi dan mangan.
−
3+ ¿+2 C l ¿
2+¿+Cl2 → 2 F e ¿
2 Fe
−
4+ ¿+ 2C l ¿
2+¿+Cl2 → M n ¿
Mn
Reaksi tersebut mereduksi jumlah klorin yang ada sehingga tidak terdapat
peningkatan residu klor. Saat semakin banyak klorin yang kontak dengan air
maka klorin akan kontak dengan kontaminan yang ada pada air. Pada stage
2 grafik sisa klor akan memiliki garis gradien yang positif menandakan
adanya pembentukan oksidasi dari zat-zat pereduksi oleh senyawa klor atau
kloramin.
N H 3 + HOCl → N H 2 Cl+ H 2 O ( monokloramin )
N H 2 Cl + HOCl → N HCl 2+ H 2 O ( dikloramin )
N HCl2+ HOCl → N H 3 + H 2 O(trikloramin)
Pada stage 3 akan terjadi penurunan grafik yaitu gradien grafik bernilai
negatif, hal ini menandakan adanya reaksi konsumsi klor dan kloramin yang
diubah menjadi gas nitrogen.
+ ¿¿
+¿+ HOCl → N H2 Cl + H 2O + H ¿
NH 4
2 NH 2 Cl+ HOCl → N 2 +3 HCl+ H 2 O
Reaksi ini akan terus terjadi hingga breakpoint chlorination yaitu saat
seluruh senyawa yang dapat dioksidasi telah teroksidasi oleh senyawa klor
dan menyisakan sisa klor bebas serta sedikit kloramin yang tidak
tereaksikan pada reaksi oksidasi. Pada stage 4, merupakan daerah yang
sudah melewati breakpoint chlorination dan semua zat amoniak sudah
diubah menjadi gas N2 yang keluar sebagai gelembung, tetapi terdapat
sedikit kloramin yang tertinggal. Pada tahap ini, setiap penambahan dosis
klor akan berfungsi sebagai desinfeksi (Nurdjanah & Moessriati, 2005).
III. PRINSIP PRAKTIKUM
Prinsip percobaan ini dengan menghitung kebutuhan klor melalui
perhitungan sisa klor. Perhitungan menggunakan penambahan empat dosis
kaporit berbeda ke dalam sampel air lalu didiamkan selama 30 menit pada
ruangan gelap. Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan sisa klor hasil
reaksi dengan penambahan pereaksi N,N-diethyl phenylenediamine (DPD)
yang memberikan warna merah pada sampel air jika terdapat senyawa klor
dalam air. Selanjutnya, warna merah tersebut dibandingkan dengan warna
standar (disk standard) pada komparator. Dengan menggunakan metode ini,
dapat ditentukan pengukuran sisa klor bebas atau sisa klor terikat dari
beberapa variasi jumlah klor yang telah ditentukan.
IV. ALAT DAN BAHAN
Alat:
1. Erlenmeyer
2. Tabung komparator
3. Komparator
4. Pipet tetes
Bahan:
1. Sampel air
2. Aquades
3. Tablet DPD
4. Kaporit
5. Kalium iodide
6. Asam asetat
V. DATA PERCOBAAN
Data awal yang diperoleh saat praktikum adalah sebagai berikut:
Tabel V.1 Data Awal Praktikum
Volume Sampel Air (mL) 50 mL
Konsentrasi Cl (%) 1%
Tabel V.2 Data Sisa Klor Pada Setia Dosis Kaporit
Variasi Dosis Kaporit (mL) Sisa Klor (ppm)
1 0,1 0,3
2 0,2 0,15
3 0,3 0,15
VI. PENGOLAHAN DATA
VI.1 Faktor Pengenceran
Persentase Cl2 yang tersisa pada botol diasukmsikan sebesar 1%,
namun jumlah tersebut dalam pengkuran masuuh terbilang telalu
besar sehingga perlu dilakukan pengenceran. Pengeneran
dilakukan hingga tersisa 0,025%, maka faktor pengenceran sebagai
berikut:
1%
FP = = 40
0,025 %
Sehingga pengenceran pada praktikum ini dilakukan sebanyak 40x.
VI.2 Konversi Sisa Klor
VI.2.1 Perhitungan Pengenceran
Pada praktikum ini dilakukan penambahan klor pada variasi 2 dan
variasi 3 dengan dilakukannya pengenceran sebanyak 10 kali
dengan 1 mL dan 9 mL aquadest agar volume totalnya menjadi 10
mL, namu kedua variasi tersebut masih terlalu pekat sehingga tidak
bisa diukur meggunakan komparato. Maka dari itu nilai sisa klor
setelah pengenceran dilakukan sebagai berikut:
V1 x M1 = V2 x M2
Keterangan:
V1 = Volume Sampel (mL)
M1 = Sisa Klor setelah pengenceran (ppm)
V2 = Volume pengenceran (mL)
M2 = Sisa Klor yang terbaca padakomparator (ppm)
Sehingga dapat dihitung nilai konsentrasi sisa klor sampel air pada
variasi ke-2 adalah sebagai berikut:
1 mL x M1 = 10 mL x 0,15 ppm
M1 = 1,5 ppm
Pada perhitungan di aas didapatkan nilai sisa klor pada varisi ke-2
setelah pengenceran adalah sebesar 1,5 ppm. Perhitungan untuk
variasi ke-3 dilakukan dengan cara yang sama dengan hasil yang
didapatkan sebesar 1,5 ppm.
VI.2.2 Konversi ppm ke mg/L
Pengonversian satuan ppm ke mg/L dilakuakan dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:
1 ppm = 1 mg/L
Sehingga variasi ke-1 nilai sisa klornya dapat diperhitungkan
menadi berikut:
0,3 ppm = 0,3 mg/L
Sementara itu untuk variasi ke-2 dan ke-3 dapat dihitung
menggunakan cara yang sama.
VI.3 Perhitungan DPC (Daya Pengikat Chlor)
Daya Pengikat Klor atau DPC dapat ditentukan menggunakan hasil
perhitungan sisa klor dengan persamaan sebagai berikut dengan
V kaporit merupakan volume kaporit yang digunakan.
DPC= ( V 1000
sampel
×V CaCl ×1 ×% Cl )− sisa klor
2
Maka, perhitungan DPC pada variasi 1 yaitu dengan volume
kaporit 0,1 mL adalah sebagai berikut.
DPC=¿
DPC=4 , 7 mg/ L
Sehingga didapatkan nilai DPC untuk dosis kaporit variasi 1
sebesar 4,7 mg/L. Untuk nilai DPC pada variasi lainnya dapat
dihitung menggunakan cara dan persamaan yang sama dan
dicantumkan pada tabel VII.1 bagian Data Akhir.
VI.4 Perhitungan Kebutuhan Klor
Kebutuhan klor dapat dihitung dengan menambahkan nilai daya
pengikat klor dengan nilai sisa klor yaitu sebagai berikut.
Kebutuℎan klor=DPC+ Sisa klor
Kebutuℎan klor=4 ,7 mg/ L+0 , 3 mg/ L
Kebutuℎan klor=5 mg/L
Maka, didapatkan nilai kebutuhan klor untuk dosis kaporit varasi
1 sebesar 5 mg/L. Untuk nilai kebutuhan klor pada variasi lainnya
dapat dihitung menggunakan cara dan persamaan yang sama dan
dicantumkan pada tabel VII.1 bagian Data Akhir.
VII. DATA AKHIR
Tabel VII.1 Data DPC dan Kebutuhan Klor Hasil Perhitungan
Variasi Volume Sisa Klor DPC (mg/ Kebutuhan
Penambaha (mg/L) L) Klor
n Kaporit (mg/L)
(mL)
1 0,1 0,3 4,7 5
2 0,2 1,5 8,5 10
3 0,3 1,5 13,5 15
VIII. ANALISIS
VIII.1 Analisis Cara Kerja
Dalam praktikum modul ini, hal pertama yang dilakukan adalah
penambahan kaporit pada sampel air dengan 3 varasi dosis, yaitu 0,1
mL, 0,2 mL, dan 0,3 mL yang digunakan untuk menguji pengaruh
konsentrasi klorin terhadap desinfeksi dan klorin residu. Kaporit
selanjtnya dipastikan terdistribusi secara merata dengan cara
mengaduknya, lalu setelah itu sampel disimpan di tempat gelap selama
30 menit dengan tujuan agar klorin dapat bereaksi optimal tanpa
terurai oleh cahaya. Setelah itu, ke dalam sampel ditambahkan tablet
DPD agar bereaksi dengan klorin sisa. Lalu sampel diaduk hingga
tercampur sempurna, sehingga warna dapat terbentuk dan diukur
dengan komparator/ Data konsentrasi klorin residu pada setiap dosis
didapatkan untuk menentukan dosis kaporit yang optimal.
VIII.2 Analisis Sisa Klor terhadap Baku Mutu
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2023 tentang
Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun
2014 tentang Kesehatan Lingkungan, kandungan sisa klor dalam
air minum yang diperbolehkan adalah 0,2 – 0,5 mg/L dengan
waktu kontak 30 menit. Sedangkan, berdasarkan hasil praktikum
yang telah dilakukan, sisa klor yang didapatkan memiliki hasil
yang masih memenuhi baku mutu air minum tersebut adalah
variasi pertama karena menghasilkan sisa klor sebesar 0,3 mg/L.
Sedangkan untuk variasi kedua dan ketiga tidak memenuhi baku
mutu air minum tersebut karena bernilai masing-masing 1,5 mg/L
dan 1,5 mg/L. Ketika sisa klor kurang dari baku mutu, maka dapat
mengakibatkan mikroorganisme yang ada di dalam air tidak dapat
tereduksi sempurna. Sedangkan, air dengan sisa klor berlebih yang
digunakan untuk mandi akan menimbulkan efek pada bagian luar
tubuh yaitu dapat mengakibatkan iritasi mata dan hidung, selain itu
juga dapat mengakibatkan gangguan hati, ginjal dan susunan saraf
pusat apabila dikonsumsi dalam jangka panjang (Buckle, 1987)
VIII.3 Analisis Sisa Klor terhadap Kebutuhan Klor
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, telah diperoleh
nilai sisa klor dan kebutuhan klor yang dapat diplotkan ke dalam
sebuah grafik sebagai berikut:
1.6
f(x) = 0.12 x − 0.1
1.4 R² = 0.75
1.2
Sisa Klor (mg/L)
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
4 6 8 10 12 14 16
Kebutuhan Klor (mg/L)
Gambar VII.1 Hubungan Kebutuhan Klor dan Sisa Klor
Melalui gambar di atas, dapat diketahui bahwa titik 2 dan titik 3
memiliki nilai yang sama sebesar 1,5 mg/L, namun seharusnya
nilai titik 3 merupakan titik breakpoint chlorination hal ini
menunjukkan nilai kebutuhan klor pada variasi ketiga masih terjadi
reduksi senyawa amoniak (klormin dan/atau senyawa kloro-
organik) menjadi gas nitrogen (N2) atau dalam hal ini belum
mencapai breakpoint chlorination, dan nilai sisa klor tersebut
menunjukkan klor aktif yang masih dapat bereaksi dengan senyawa
lain di dalam air. Pada titik ini seluruh senyawa dalam air telah
dioksidasi oleh klor dan senyawa sisa klor yang tersisa digunakan
untuk desinfeksi.
Gambar VII.2 Breakpoinnt Chlorination Curves
(Sumber: Brooks, 1999)
Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat bahwa sisa klor yang
ditambahkan dibandingkan dengan dosis klor atau kebutuhan klor
menunjukkan grafik yang berfluktuasi. Pada stage 1 adalah saat
penambahan klorin pada sampel air yang mana akan mengoksidasi
logam seperti besi dan mangan. Reaksi tersebut mereduksi jumlah
klorin yang ada sehingga tidak terdapat peningkatan residu klor. Saat
semakin banyak klorin yang kontak dengan air maka klorin akan
kontak dengan kontaminan yang ada pada air. Pada stage 2 grafik sisa
klor akan memiliki garis gradien yang positif menandakan adanya
pembentukan oksidasi dari zat-zat pereduksi oleh senyawa klor atau
kloramin. Reaksi ini akan terus terjadi hingga breakpoint chlorination
yaitu saat seluruh senyawa yang dapat dioksidasi telah teroksidasi oleh
senyawa klor dan menyisakan sisa klor bebas serta sedikit kloramin
yang tidak tereaksikan pada reaksi oksidasi. Pada stage 4, merupakan
daerah yang sudah melewati breakpoint chlorination dan semua zat
amoniak sudah diubah menjadi gas N2 yang keluar sebagai gelembung,
tetapi terdapat sedikit kloramin yang tertinggal. Pada tahap ini, setiap
penambahan dosis klor akan berfungsi sebagai desinfektasi (Nurdjanah
& Moessriati, 2005).
VIII.4 Faktor yang Mempengaruhi Desinfeksi
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses desinfeksi adalah
sebagai berikut (Purnawijayanti, 2001).
1. Waktu dari lamanya desinfektan berkontak dengan mikroba
Secara umum, makin lama waktu pemaparan terhadap
desinfektan, makin besar daya bunuh kuman terjadi. Tetapi hal
ini tidak berlaku terhadap desinfektan tingkat rendah karena
walau berapa lama pun pemaparan dilakukan, hanya mampu
membunuh mikroorganisme tertentu sesuai dengan
kemampuannya.
2. Jenis desinfektan
Komposisi dari setiap jenis desinfektan berbeda-beda. Hal
tersebut juga menyebabkan perbedaan kemampuan setiap
desinfektan dalam membunuh mikroorganisme.
3. Konsentrasi dan volume desinfektan
Umumnya bila konsentrasi desinfektan dinaikkan, waktu
pemaparan makin pendek. Semakin banyak volume desinfektan
yang digunakan, maka semakin singkat waktu pemaparannya.
4. Jumlah mikroorganisme
Makin banyak jumlah mikroorganisme pada permukaan benda
yang akan didesinfeksi, makin panjang waktu pemaparan dengan
desinfektan yang dibutuhkan sebelum seluruh populasi
mikroorganisme dapat dibunuh.
5. Tipe dari mikroorganisme
Setiap jenis mikroorganisme memiliki sifatnya masing-masing.
Sifat mikroorganisme mempengaruhi daya tahannya terhadap
desinfektan. Yang paling tahan terhadap desinfektan adalah spora
bakteri.
6. Temperatur
Makin tinggi suhu pemaparan, makin tinggi daya bunuh kuman
dari desinfektan tersebut.
VIII.5 Analisis Kesalahan
Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi selama praktikum dapat
mengakibatkan adanya ketidaktepatan dari hasil yang didapat.
Kesalahan yang dapat terjadi dalam percobaan antara lain:
1. Kesalahan dapat terjadi dalam pemberian dosis kaporit yang
tidak sesuai dan kurang teliti dalam melihat skala nonius
sehingga mengakibatkan perhitungan DPC, sisa klor, dan
kebutuhan klor yang didapatkan kurang akurat. Solusi yang dapat
dilakukan adalah memastikan untuk selalu menggunakan pipet
atau alat ukur yang tepat dan pastikan pembacaan skala nonius
dilakukan dengan hati-hati pada posisi mata yang sejajar dengan
skala. Sebelum memulai praktikum, lakukan kalibrasi alat ukur
untuk memastikan akurasi dosis. Praktikan juga bisa
menggunakan alat bantu seperti kaca pembesar atau alat
pembaca digital untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran
dosis.
2. Kesalahan yang juga dapat terjadi berupa kesalahan pembacaan
dalam penentuan jumlah sisa klor yang terukur pada komparator,
karena penentuannya dilakukan perbandingan secara subjektif
bergantung pada sensitivitas penglihatan praktikan yang berbeda-
beda. Solusi yang dapat dilakukan adalah pastikan pencahayaan
ruangan seragam dan perhatikan posisi mata yang sejajar dengan
skala komparator. Praktikan juga bisa bekerja dalam kelompok
untuk saling membantu memastikan pembacaan yang konsisten.
3. Kesalahan dalam penyimpanan yang tidak sepenuhnya berada di
ruang gelap namun masih terdapat cahaya. Idealnya, reaksi
berlangsung pada ruang gelap tanpa kontak cahaya karena klor
sensitif akan cahaya. Hal ini menyebabkan reaksi reduksi klor lebih
cepat dari seharusnya dan nilai sisa klor yang didapatkan lebih
rendah dari pada seharunya. Solusi yang dapat dilakukan adalah
memastikan seluruh proses percobaan, terutama reaksi yang
melibatkan klor, dilakukan di ruang gelap atau tempat yang
terlindung dari cahaya langsung. Gunakan pelindung cahaya
seperti tutup berwarna gelap atau kain hitam untuk menutupi
wadah reaksi. Jika ruang gelap tidak memungkinkan, gunakan alat
pengatur cahaya untuk meminimalkan eksposur cahaya pada reaksi
tersebut. Selalu cek kondisi ruang praktikum sebelum memulai
eksperimen.
VIII.6 Aplikasi di Bidang Teknik Lingkungan
Terdapat beberapa aplikasi konsep desinfeksi yang digunakan pada
bidang Teknik Lingkungan, diantaranya:
1. Desinfeksi menggunakan Gas Klor (CL2)
Kadar pembubuhan gas klor di instalasi pengolahan air didasarkan
pada kualitas air baku dan kualitas air sedimen, tanpa adanya
perhitungan yang akurat. Klor meter digunakan untuk menentukan
dosis gas klor yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kualitas
air baku. Jika dosis yang diberikan tidak sesuai, maka
mikroorganisme patogen tetap dapat bertahan dan menimbulkan
dampak negatif bagi pelanggan. Pembubuhan gas klor dilakukan
dengan cara gas dialirkan dari tempat penyimpangan dengan
diberikan panas pada suhu tertentu untuk proses penguapan. Pada
pelaksanaannya suhu 20°C mampu membubuhkan 10 kg klor per
jam.
Gambar VII.3 Sistem Desinfektasi Menggunakan Gas Klor
(Sumber: Kallista & Asbanu, 2023)
2. Desinfeksi dengan Ozon pada Pengelolaan Air Minum
Umumnya pengolahan air dengan ozon digabungkan dengan
proses koagulasi-flokulasi, pengendapan dan penyaringan seperti
pada pengolahan air konvensional atau digabungkan dengan
pengolahan khusus. Ozon mengubah senyawa kompleks menjadi
sederhana, beberapa senyawa kemungkinan sebagai makanan
mikroba pada sistem distribusi air. Ozon merupakan oksidator yang
lebih kuat dibandingkan dengan klor.
Gambar VII.4 Generator Ozon untuk Pengelolaan Air Minum
(Sumber: Said, 2007)
IX. KESIMPULAN
1. Dosis korin optimum adalah 0,1 mg/L karena variasi tersebut
memenuhi baku mutu PerMenKes 2/2023 dan PerMenKes
492/2010
2. Sisa klor dari penambahan klorin untuk desinfeksi didapatkan
dengan membandingkannya dalam komparator dengan perhitungan
yang telah dicanumkan pada VI.1 bagian Pengolahan Data dan data
secara keseluruhan variasi dicantumkan pada tabel VII.1 bagian
Data Akhir.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi desinfeksi adalah waktu dari
lamanya desinfektan berkontak dengan mikroba, jenis desinfektan,
konsentrasi dan volume desinfektan, jumlah mikroorganisme, tipe
mikroorganisme, dan temperatur.
X. DAFTAR PUSTAKA
Brooks, A. M. (1999). Breakpoint Chlorination as an Alternate Means of
Ammonia-Nitrogen Removal at a Water Reclamation Plant.
Virginia: Northen Virginia Center.
Buckle, K. (1987). Ilmu Pangan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Dwidjoseputro. (1978). Dsar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Kallista, V., & Asbanu, G. C. (2023). Efektivitas Penggunaan
Elektroklorinasi dan Gas Klor pada Proses Disinfeksi Air Minum.
Jurnal Teknik Lingkungan Lahan Basah, Vol.11, No. 1, 180-19.
Nurdjanah, S., & Moessriati, A. (2005). Optimalisasi Pembubuhan Gas
Klorin di Instalasi Penjernih Ngagel II PDAM Kota Surabaya.
Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November.
NWS Health. (2013, April 9). Breakpoint Chlorination. Dikutip dari NWS
Government:
https://www.health.nsw.gov.au/environment/factsheets/Pages/breakp
oint-chlorination.aspx
Purnawijayanti, H. (2001). Sanitasi Higiene dan Kesalamatan Kerja dalam
Pengolahan Makanan. Yogyakarta: Kanisius.
Ratnawati, R., & Sugito, S. (2013). Proses Desinfeksi pada Pengolahan Air
Limbah Domestik Menjadi Air Bersih Sebagai Air Baku Air Minum.
Waktu: Jurnal Teknik UNIPA, 1-7.
Said, N. I. (2007). Disinfeksi untuk Proses Pengolahan Air Minum. Jurnal
Air Indonesia Vol.3, No.1, 15-28.
Sawyer, C., McCarty, P., & Parkin, G. (2003). Chemistry for Environmental
and Engineering Science 5th Edition. New York: McGraw Hill Inc.
Sofia, E., Riduan, R., & Abdi, C. (2016). Evaluasi Keberadaan Sisa Klor
Bebas di Jaringan Distribusi IPA Sungai Luhut TPAM Bandarmasih.
Jurnal Teknik Lingkungan.
Somani. (2011). Disinfection of Water by Using Sodium Chloride (NaCl)
and Sodium Hypochlorite (NaOCl). Shegaon: Shri Sant Gajanan
Maharaj College of Engineering.