0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan9 halaman

Psikologi

Dokumen ini membahas perkembangan masa remaja sebagai fase transisi dari anak ke dewasa, mencakup perubahan fisik, emosional, dan kognitif yang terjadi antara usia 12 hingga 21 tahun. Fase remaja dibagi menjadi tiga tahap: awal, pertengahan, dan akhir, dengan fokus pada pencarian identitas diri dan pengaruh lingkungan sosial. Tugas perkembangan remaja termasuk menerima keadaan fisik, membina hubungan sosial, dan memahami peran dalam masyarakat.

Diunggah oleh

REVALITA ADELIA
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan9 halaman

Psikologi

Dokumen ini membahas perkembangan masa remaja sebagai fase transisi dari anak ke dewasa, mencakup perubahan fisik, emosional, dan kognitif yang terjadi antara usia 12 hingga 21 tahun. Fase remaja dibagi menjadi tiga tahap: awal, pertengahan, dan akhir, dengan fokus pada pencarian identitas diri dan pengaruh lingkungan sosial. Tugas perkembangan remaja termasuk menerima keadaan fisik, membina hubungan sosial, dan memahami peran dalam masyarakat.

Diunggah oleh

REVALITA ADELIA
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Perkembangan Masa Remaja

Remaja sebagai Fase Transisi


 Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescere yang artinya “tumbuh atau
tumbuh untuk mencapai kematangan”.
 Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22
tahun bagi laki-laki.
 Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Remaja mengalami berbagai
perubahan, baik fisik maupun psikis.
 Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang
dewasa yang disertai pula dengan berkembangnya kapasitas reproduktif.
 Remaja juga berubah secara kognitif dan mulai mampu berpikir abstrak seperti orang dewasa. Remaja mulai melepaskan diri
secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa.
Remaja dan Lingkungannya
 Perubahan juga terjadi pada lingkungan seperti sikap orang tua atau anggota keluarga lain, guru, teman sebaya, maupun
masyarakat pada umumnya.
 Kondisi ini merupakan reaksi terhadap pertumbuhan remaja. Remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang
dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya.
 Remaja memperluas lingkungan sosialnya di luar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan
masyarakat lain.
 Fase remaja terbagi dalam tiga fase spesifik: (1) remaja awal (atau disebut pubertas) 12-15 tahun penerimaaan
terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya, (2) remaja pertengahan usia
15-18 tahun mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan impulsivitas, dan membuat
keputusan, dan (3) remaja akhir usia 18-21 tahun berusaha memantapkan tujuan vokasional dan mengembangkan sense of
personal identity.
Batasan Usia Remaja
 Remaja Awal (12-15 Tahun)
 Remaja Pertengahan (15-18 Tahun)
 Remaja Akhir (18-21 Tahun)
Ciri-ciri Fase Remaja
 Periode peralihan dari fase kanak-kanak ke dewasa.
 Periode perubahan (terjadi peningkatan emosi).
 Usia bermasalah, cenderung tidak rapi, tidak hati-hati.
 Usia yang menimbulkan ketakutan (merasa banyak masalah).
 Cenderung memaksakan seperti yang ia inginkan (tidak realistis).
 Ambang masa dewasa (mencari hingga menemukan identitas diri sendiri).
Perubahan pada Fase
 Remaja Pada fase remaja perubahan- perubahan besar terjadi dalam kedua aspek yang bersifat biologis atau fisiologis juga
bersifat psikologis.
 Ciri umum yang menonjol pada fase remaja adalah berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang dalam interaksinya dengan
lingkungan sosial membawa berbagai dampak pada perilaku remaja.
Perubahan Fisik
 Perubahan yang paling jelas yang nampak dialami oleh remaja adalah perubahan fisik yang berlangsung pada awal masa
remaja, yaitu sekitar umur 11-15 tahun pada perempuan dan 12-16 tahun pada laki-laki.
 Hormon-hormon baru diproduksi oleh kelenjar endokrin, dan ini membawa perubahan dalam ciri-ciri seks primer dan
memunculkan ciri-ciri seks sekunder.
 Gejala ini memberi isyarat bahwa fungsi reproduksi sudah mulai bekerja. Berlangsung pula pertumbuhan yang pesat pada
tubuh dan anggota- anggota tubuh untuk mencapai proporsi seperti orang dewasa.
 Individu lalu mulai terlihat berbeda, dan sebagai konsekuensi dari hormon yang baru, dia sendiri mulai merasakan adanya
perbedaan.
 Secara singkat dapat disebutkan: perubahan tersebut meliputi pertumbuhan tinggi badan, perubahan bentuk tubuh,
pertumbuhan rambut, perubahan suara, dan perkembangan organ reproduksi.
Lebih dalam tentang Pertumbuhan Fisik
 Pada fase remaja awal terjadi perubahan fisik sehingga pada akhirnya mereka akan memiliki kemampuan bereproduksi.
 Terdapat lima perubahan khusus yang terjadi pada remaja awal, yaitu, pertambahan tinggi badan yang cepat (pacu
tumbuh), perkembangan seks sekunder, perkembangan organ-organ reproduksi, perubahan komposisi tubuh
serta perubahan sistem sirkulasi dan sistem respirasi yang berhubungan dengan kekuatan, dan stamina tubuh.
 Perubahan fisik yang terjadi pada periode remaja awal berlangsung dengan sangat cepat dalam sekuens yang teratur dan
berkelanjutan.
 Tinggi badan anak laki-laki bertambah kira-kira 10 cm per tahun, sedangkan pada perempuan kurang lebih 9 cm per tahun.
 Secara keseluruhan pertambahan tinggi badan sekitar 25 cm pada anak perempuan dan 28 cm pada anak laki-laki.
 Pertambahan tinggi badan terjadi dua tahun lebih awal pada anak perempuan dibanding anak laki-laki.
Perubahan Eksternal
 Laki-laki: jerawat, suara membesar, dada bidang, perkembangan kumis, bulu ketiak. bulu dada, bulu kaki dan pembesaran
otot rambut kemaluan, pembesaran penis, scrotum dan testes, ejakulasi.
 Perempuan: jerawat, bulu ketiak, perkembangan payudara, pinggul melebar, pertumbuhan rambut kemaluan, perkembangan
uterus, cliteris, labia, menstruasi.
Perubahan Emosionalitas
 Akibat langsung dari perubahan fisik dan hormonal adalah perubahan dalam aspek emosionalitas sebagai akibat dari
perubahan fisik dan hormonal, dan juga pengaruh lingkungan yang terkait dengan perubahan badaniah tersebut.
 Hormonal menyebabkan perubahan seksual dan menimbulkan dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan baru.
 Keseimbangan hormonal yang baru menyebabkan individu merasakan hal-hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
 Keterbatasannya untuk secara kognitif mengolah perubahan-perubahan baru tersebut bisa membawa perubahan besar
dalam fluktuasi emosinya.
 Pengaruh-pengaruh sosial juga senantiasa berubah, seperti tekanan dari teman sebaya, media sosial, dan minat pada seks
lain, remaja menjadi lebih terorientasi secara seksual.
 Perlu kemampuan pengendalian dan pengaturan baru atas perilakunya.
Perubahan Kognitif
 Perubahan dalam kemampuan berpikir ini diungkapkan oleh Piaget (1972) sebagai tahap terakhir yang disebut sebagai
tahap formal operational dalam perkembangan kognitifnya.
 Remaja tidak lagi terikat pada realitas fisik yang konkrit dari apa yang ada, remaja mulai mampu berhadapan dengan aspek-
aspek yang hipotesis dan abstrak dari realitas.
 Misalnya aturan-aturan dari orang tua, status remaja dalam kelompok sebayanya, dan aturan-aturan yang diberlakukan
padanya tidak lagi dipandang sebagai hal-hal yang tak mungkin berubah.
 Memungkinkan individu untuk berpikir secara abstrak, hipotesis dan kontra-faktual, memberikan peluang bagi individu untuk
mengimajinasikan kemungkinan lain untuk segala hal.
 Imajinasi ini bisa terkait pada kondisi masyarakat, diri sendiri, aturan-aturan orang tua, atau apa yang akan dia lakukan
dalam hidupnya.
 Segala sesuatu menjadi fokus dari kemampuan berpikir hipotesis, kontra-faktual, dan imajinatif remaja.
Implikasi Psikososial
 Fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya sendiri. Secara psikologis proses-proses dalam diri remaja semuanya
tengah mengalami perubahan.
 Komponen fisik, emosional, dan kognitif sedang mengalami perubahan besar.
 Orang tua atau guru, bertanya kepada remaja untuk memilih satu peran. Dalam masyarakat kita ketika anak memasuki SMA,
anak harus sudah memilih jurusan pendidikan yang akan ditempuh yang akhirnya akan menentukan perannya nanti.
 Ketika berumur 15 atau 16 tahun remaja sudah mulai menempatkan dirinya pada satu jalur yang akan berkonsekuensi pada
apa yang akan dilakukannya pada masa dewasa.
 Masalahnya terjadi pada saat remaja berada dalam kondisi yang sangat tidak siap untuk mengambil keputusan yang
berakibat jangka panjang, mereka malah diminta untuk melakukannya.
 Karenanya banyak remaja berada dalam dilema. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan tentang peran sosial yang akan
mereka jalankan. Ini adalah pertanyaan tentang definisi diri, tentang identifikasi diri. Erikson menamakan dilemma ini
sebagai krisis identitas.
Tugas-tugas Perkembangan Remaja
 Mampu menerima keadaan fisiknya;
 Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa;
 Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis;
 Mencapai kemandirian emosional;
 Mencapai kemandirian ekonomi;
 Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota
masyarakat;
 Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua;
 Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa;
 Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan;
 Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Mencari Identitas Diri pada Remaja
 Remaja membutuhkan teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut serta merasakan suka
dukanya.
 Remaja mulai tumbuh dorongan untuk mencari pedoman hidup, mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung
tinggi, dipuja-puja.
 Proses terbentuknya pendirian hidup atau cita-cita ini dapat dipandang sebagai penemuan nilai-nilai hidup di dalam
eksplorasi remaja.
 Menurut Sumardi Suryabrata, proses tersebut meliputi 3 langkah yaitu:
1. Karena tiadanya pedoman, si remaja merindukan sesuatu yang dianggap bernilai, pantas dihargai dan dipuja.
2. Objek pemujaan itu telah menjadi lebih jelas, yaitu pribadi-pribadi yang dipandang mendukung sesuatu nilai.
3. Si remaja telah dapat menghargai nilai-nilai lepas dari pendukungnya, nilai sebagai hal yang abstrak.
 Tugas penting yang dihadapi remaja adalah mengembangkan persepsi identitas diri untuk menemukan jawaban terhadap
pertanyaan “siapakah saya?” dan “kemanakah saya akan pergi?”.
 Mencari identitas diri mencakup hal memutuskan apa yang penting dan patut dikerjakan serta memformulasikan standar
tindakan dalam mengevaluasi perilaku dirinya dan orang lain.
 Hal ini mencakup juga perasaan harga diri dan kompetensi diri.
 Persepsi identitas para remaja berkembang secara perlahan-lahan melalui berbagai identifikasi masa kanak-kanak.
 Nilai dan standar moral anak-anak sebagian besar merupakan nilai dan standar orang tua, perasaan harga diri terutama
berasal dari pandangan orang tua terhadap mereka.
 Ketika di sekolah menengah, nilai-nilai kelompok sebaya menjadi bertambah penting, seperti juga halnya kata-kata pujian
dari guru, dan orang dewasa lainnya.
 Remaja mencoba mengsintesiskan nilai dan kata pujian tersebut dalam suatu gambaran yang konsisten. Sepanjang orang
tua, guru, dan teman sebaya memproyeksikan nilai-nilai yang konsisten, pencarian identitas menjadi lebih mudah.
Pencarian Identitas
 Pencarian identitas dapat dipecahkan dengan berbagai cara. Beberapa anak muda, setelah suatu kurun waktu
bereksperimen dan pencarian jiwa, mengikatkan diri mereka pada suatu tujuan hidup dan bertindak terus ke arah itu.
 Identitas pribadi seseorang, sekali terbentuk, tidak selalu statis. Orang dapat memperoleh minat, ide, dan keterampilan baru
selama masa dewasa yang mungkin mengubah persepsi mereka mengenai diri mereka.
 Selama perkembangan mengalami kegoncangan karena perubahan dalam dirinya maupun dari luar dirinya, yaitu sikap
orang tua, guru, cara mengajar dan masih banyak lagi serta melepaskan diri dari orang tua dan bergabung dengan teman
sebaya.
 Apa yang diperoleh dan dianut menjadi goyah karena berkenalan dengan nilai-nilai baru.
 Menurut Erikson (1968), remaja bukan hanya sekedar mempertanyakan siapa dirinya, melainkan bagaimana dan dalam
konteks apa atau dalam kelompok apa dia bisa menjadi bermakna dan dimaknakan.
 Dengan kata lain, identitas seseorang tergantung pula pada bagaimana orang lain mempertimbangkan kehadirannya.
 Karenanya bisa lebih dipahami mengapa keinginan untuk diakui, keinginan untuk memperkuat kepercayaan diri, dan
keinginan untuk menegaskan kemandirian menjadi hal yang sangat penting bagi remaja, terutama mereka yang akan
mengakhiri masa itu.

Konsep Dasar Belajar dan Pembelajaran


Pengertian Belajar
 Cronbach; “belajar diperlihatkan adanya perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman”
 Mc Geoh; “belajar adalah perubahan dalam penampilan (performance) sebagai hasil dari latihan”
 Skinner; “belajar adalah proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif”
 Chaplin; “belajar sebagai perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman”
 Wittig; “belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam keseluruhan tingkah laku suatu organisme
sebagai hasil pengalaman”
 Batasan belajar yang kita gunakan belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap yang
menyangkut seluruh aspek psikofisis dan bersifat progresif sebagai hasil dari pengalaman.
Perubahan tingkah laku?
 Adakah perubahan tingkah laku yang dihasilkan selain belajar?
 Jika ada, perubahan tingkah laku itu disebabkan oleh apa?
 Apa perbedaan perubahan tingkah laku itu dengan perubahan tingkah laku yang dihasilkan belajar?
Perubahan Tingkah Laku
 Pada manusia banyak sekali terjadi perubahan tingkah laku, sejak bayi hingga lanjut usia.
 Perubahan tingkah laku dapat disebabkan oleh (1) kematangan, dan (2) pengalaman atau latihan.
 Apa bedanya perubahan tingkahlaku yang disebabkan oleh kematangan dan pengalaman atau latihan?
Perbedaan Belajar dan Kematangan
 Seorang bayi yang berumur antara 4-5 bulan tiba-tiba menggerakkan tubuh dengan memiringkan badannya dan dia
tengkurap untuk pertama kalinya. Kejadian ini mengagetkan sekaligus membuat gembira orang2 di rumah itu.
 Seorang anak mencoba memakai sepeda, ia beberapa kali terjatuh, tapi tidak putus asa. Setelah beberapa hari berlatih ia
mulai bisa menyeimbangkan sepeda dan meluncur tanpa terjatuh lagi.
 Contoh pertama adalah perubahan perilaku akibat kematangan, sedangkan yang kedua adalah perubahan perilaku karena
belajar. Jelaskan apa perbedaannya?
Belajar mengendarai sepeda
Karakteristik perubahan dalam belajar
Belajar itu membawa perubahan, dalam arti behavior changes, aktual maupun potensial;
Perubahan itu pada pokoknya didapatkannya kecakapan baru;
Perubahan itu terjadi karena usaha yang disengaja atau disadari.
Prinsip-prinsip Belajar
 Prinsip belajar berisi hal-hal yang memungkinkan kegiatan belajar menjadi lebih optimal, karena menjelaskan hal-hal terbaik
dari sisi materi, interaksi, sasaran, perhatian siswa, dan pola pembelajaran.
 Prinsip belajar menurut Thorndike:
a. Law of readiness (hukum kesiapan)
b. Law of exercise (hukum latihan)
c. Law of effect (hukum sadar tujuan)
 Prinsip belajar yang diterapkan di Indonesia: (1) prinsip kematangan jasmani dan rohani; (2) prinsip kesiapan; (3) prinsip
memahami tujuan; (4) prinsip ulangan dan latihan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
 Faktor eksternal
a. Faktor Sosial
b. Faktor non Sosial
 Faktor internal
a. Faktor fisiologis
b. Faktor psikologis
 Faktor pendekatan belajar; jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan dalam mempelajari
materi  pendekatan rendah (reproductive dan surface), pendekatan menengah (analytical dan deep), pendekatan tinggi
(speculative dan achieving)
Transfer Belajar
 Individu melakukan berbagai macam rangkaian belajar, setiap rangkaian belajar memanfaatkan hasil belajar yang lampau,
dalam kondisi itulah muncul apa yang disebut transfer belajar.
 Transfer belajar berarti pemindahan hasil belajar dari satu situasi ke situasi lainnya.
 Transfer belajar dapat berupa tranfer belajar positif dan negatif.
 Transfer positif apabila hasil belajar yang lalu memudahkan proses belajar saat ini.
 Transfer belajar negatif apabila hasil belajar yang lalu menghambat proses belajar saat ini.
Pembelajaran
 Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
 Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan guru agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan,
penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada siswa.
 Secara sederhana dirumuskan  pembelajaran adalah proses untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan baik.
 Gagne (1977)  pembelajaran adalah seperangkat peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung beberapa proses
belajar yang bersifat internal.
 Ia merumuskan lebih lanjut: Pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi eksternal harus dirancang
sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung, dan mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap
peristiwa belajar.
Pembelajaran dan Pengajaran
 Pembelajaran memiliki konotasi berbeda dengan pengajaran.
 Pembelajaran adalah  guru mengajar agar siswa dapat belajar dan menguasai materi pelajaran hingga mencapai sesuatu
objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan
(aspek psikomotor) seorang siswa,
 Sedangkan pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja.
 Pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan siswa.
 Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pebelajar dan kreativitas pengajar. Pebelajar yang
memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada
keberhasilan pencapaian target belajar.
 Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran
yang baik, ditunjang fasilitas yang memadai, ditambah dengan kreativitas guru akan membuat siswa lebih mudah mencapai
target belajar.
Tujuan Pembelajaran
 Tujuan dari pembelajaran adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki dan dikuasai oleh siswa setelah
melalui proses pembelajaran.
 Robert F. Mager (1962)  Tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa
pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.
 Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981)  Tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan
dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang
diharapkan.
 Oemar Hamalik (2005)  Tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh
siswa setelah berlangsung pembelajaran.
Faktor-faktor yang Berpengaruh pd Hasil Pembelajaran
 Tujuan Pembelajaran
 Guru (kondisi internal, kemampuan mengajar, kemampuan kelola kelas)
 Siswa (kesiapan fisik, mental, potensi individual, dan kondisi psikis)
 Sarana dan prasarana
 Kegiatan pembelajaran
 Lingkungan sekitar sekolah (fisik maupun nonfisik)
 Bahan evaluasi, alat evaluasi, suasana evaluasi
Tokoh-tokoh yang Melakukan Penelitian tentang Pembelajaran yang Efektif
 Robert Gagne
 David Ausubel
 Bruner
Pembelajaran di Era Digital
 Pembelajaran di era digital, guru dan siswa mengalami penyesuaian dalam proses pembelajaran yang disebabkan oleh
tersedianya berbagai perangkat yang mendukung proses belajar.
 Pembelajaran di era digital merubah skema interaksi pembelajaran, yang asalnya guru kepada siswa, menjadi timbal balik
antara guru dan siswa.
 Pembelajaran di era digital tidak terbatas ruang dan waktu, sumber-sumber belajar dapat diakses dimana saja dan kapan
saja. Menyebabkan siswa dapat belajar sepanjang waktu, tidak hanya terbatas pada durasi di sekolah.
Untuk membentuk kemampuan dalam mengelola kelas, maka kita harus memahami dan mampu menerapkan: Teori-teori
belajar dan pembelajaran.

Psikologi Belajar Behaviorisme


Dasar Pemikiran, Konseptual tentang Belajar, Aplikasi Teori di Lapangan Pembelajaran
Definisi Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap dan menyangkut seluruh aspek psikofisis dan
bersifat progresif sebagai hasil dari pengalaman.
Bagaimana proses belajar itu terjadi
Keragaman Jawaban
 Jawaban atas pertanyaan di depan memunculkan berbagai konsep belajar yang berlandaskan pendekatan psikologi yang
berbeda-beda.
 Masing-masing pendekatan memiliki jawaban tentang bagaimana terjadinya proses belajar, yang akhirnya berbentuk teori-
teori belajar.
 Jadi teori-teori belajar muncul dari pendekatan psikologi yang beragam itu yang mencoba menjawab permasalahan
bagaimana proses belajar itu berlangsung.
 Tidak heran masing-masing teori berbeda pandangan tentang belajar bahkan ada yang saling bertolak belakang, karena
memang dari pendekatan psikologinya yang berseberangan.
 Beberapa teori belajar: behaviorisme, pembelajaran sosial, kognitivistik, dan humanistik.
Munculnya aliran dalam psikologi
 Psikologi mengenal berbagai pendekatan / aliran
 Masing-masing pendekatan memiliki cara pandang sendiri terhadap suatu konsep
 Teori belajar behaviorisme adalah konsep belajar menurut pendekatan psikologi behaviorisme
 Bagaimana belajar menurut behaviorisme?
Psikologi Belajar Behaviorisme
 Psikologi Behaviorisme
 Thorndike dan Connectionisme
 Pavlov dan Classical Conditioning
 John B. Watson
 Skinner dan Operant Conditioning
Tokoh-tokoh Psikologi Belajar Behaviorisme Modern
 Clark L Hull
 Albert Bandura
 BF. Skinner
Apakah Psikologi Behaviorisme itu?
 Muncul pada awal tahun 1900-an
 Memiliki banyak nama:
a. Teori S-R (Stimulus Respon)
b. Teori Connectionism
c. Teori kondisioning (Conditioning theory)
d. Teori Black-box Approach
 Kesamaannya → mengutamakan pengamatan tingkah laku dalam mempelajari individu, bukan mencermati penilaian
orang tentang perasaannya.
Tokoh-tokohnya:
 E. L. Thorndike
 John B Watson
 Ivan Petrovich Pavlov
 Burhus F. Skinner
 Albert Bandura
Connectionism (Thorndike)
 Dasar belajar → asosiasi antara kesan indera dengan dorongan untuk bertindak
 Asosiasi disebut juga dengan bond atau connection
 Akhirnya disebut Connectionism
 Asosiasi atau koneksi bisa menjadi lebih kuat atau lemah dengan terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan
 Eksperimen terhadap kucing
 Dari eksperimen itu muncul istilah-istilah:
a. Motivasi
b. Reward atau ganjaran
c. Punishment atau hukuman
 Belajar trial and error
Ciri-ciri Belajar Trial and Error
 Adanya motif pendorong aktivitas
 Adanya berbagai respon terhadap situasi
 Adanya eliminasi respon-respon yang keliru, dan
 Adanya kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan
Hukum-hukum belajar:
 Law of effect
 Law of readiness
 Law of excercise
Ivan P. Pavlov
 Teorinya dikenal “Classical Conditioning”
 Conditioning = upaya pembiasaan
 Classical sebagai pendahulu dalam karya conditioning
 Percobaan terhadap anjing untuk mengetahui reflek bersyarat (conditioned response) melalui latihan berulang-ulang
 Unconditioned stimulus → makanan
 Conditioned stimulus (perangsang yang dikondisikan) → bunyi bel, cahaya lampu
 Conditioned response → Reaksi bersyarat berupa keluarnya air liur
 Makanan sebagai reinforcer (penguat)
Ilustrasi Experiment Ivan Pavlov tentang Refleks Anjing dan Air Liurnya
John B Watson
 Menyuarakan behaviorisme di Amerika lewat artikel-artikelnya di surat kabar
 Lantang untuk menunjukkan kelebihan behaviorisme dibanding aliran psikologi lainnya
 Rasa takut, benci, atau jijik bukan merupakan pembawaan lahir melainkan sesuatu yang dipelajari.
 Ia melakukan eksperimen terhadap sejumlah bayi di rumah sakit
 “Berikan pada saya selusin anak yang sehat, maka dalam lingkungan yang saya bentuk akan saya jadikan mereka apapun
keahlian yang ada melalui latihan. Saya akan jadikan mereka seorang dokter, pengacara, seniman, ahli bisnis, bahkan
seorang penjahat atau pencuri, tanpa memperhatikan bakat, kecenderungan, kemampuan atau ras dari mana mereka
berasal”.
 Man is built not born
Ilustrasi Percobaan John B Watson terhadap Sejumlah Bayi di Rumah Sakit
Buku John B. Watson yang diterbitkan untuk mensosialisasikan psikologi behaviorisme di Amerika Serikat (judul: behaviorism)
B.F. Skinner
 Teorinya “operant conditioning” masih menjadi rujukan dalam pengembangan proses belajar di sekolah.
 Respondent Response → respon yang ditimbulkan oleh perangsang biasa (makanan → muncul rasa lapar)
 Operant Response → respon yang muncul dan berkembang disebabkan perangsang-perangsang tertentu.
 Misal: anak belajar (telah melakukan perbuatan) lalu mendapat hadiah, dia akan lebih giat belajar.
 Jadi respon dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan efek yang ditimbulkan oleh reinforcer.
 Eksperimennya dilakukan terhadap burung merpati.
Ilustrasi Eksperimen Skinner tentang Operant Conditioning pada seekor Merpati.
Ada perbedaan ...!
Menurut Thorndike: Motivasi mempengaruhi prestasi.
Menurut Skinner: Prestasi mempengaruhi motivasi.
Jadi bagaimana proses belajar itu berlangsung menurut behaviorisme?
Belajar: Perubahan tingkah laku, pembentukan kebiasaan-kebiasaan, perolehan kecakapan baru, juga pembentukan karakter.
PBM: Penguatan
Stimulus Proses Respon
Penguatan
Kritik: Proses belajar yang kompleks tidak terjelaskan
Asumsi “stimulus-respons” terlalu sederhana
Belajar menurut Teori Pembelajaran Sosial
Teori Pembelajaran Sosial
 Seseorang juga dapat belajar dengan mengamati apa yang terjadi pada orang lain dengan hanya diberitahu mengenai
sesuatu, maupun dengan mengalami secara langsung.
 Dalam hal ini si pebelajar memperhatikan bagaimana sang model melakukan suatu tindakan, kemudian menirunya.
 Teori belajar ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari teori belajar behaviorisme. Tetapi Bandura sebagai tokohnya
mempertimbangkan faktor kognitif dalam memperbaharui teori pendahulunya.
Jadi Individu ketika belajar ….
 Perilaku individu → hasil interaksi antara lingkungan dan skema kognitif individu.
 Teori pembelajaran sosial ada dua bentuk: (1) imitasi, dan (2) pembelajaran observasional
 Pada pembelajaran observasional: sesuatu yang diamati diolah kognitif dan diambil tindakan.

Psikologi Belajar Humanistik


Psikologi Humanistik Pandangan tentang Belajar
 Psikologi ini memiliki banyak nama, diantaranya: psikologi fenomenologi, psikologi eksistensial, dan psikologi perseptual.
 Psikologi Humanistik, awalnya sebuah gerakan untuk menyanggah pandangan-pandangan dari behaviorisme dan
psikoanalisa.
 Psikologi yang menelaah gejala dari sisi pelaku.
Kritik Humanistik terhadap Behaviorisme
 Behaviorisme terlalu menyederhanakan perilaku manusia
 Perilaku manusia hanya dipandang sebagai reflek-reflek bersyarat, sehingga manusia dianggap sebagai robot yang tunduk
kepada hukum-hukum mekanistik.
 Sebenarnya individu memiliki kemampuan memberi makna atas gejala-gejala yang dihadapi.
 Individu juga dianggap sebagai makhluk yang bebas dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.
Psikologi Humanistik sangat menentang pandangan Behaviorisme karena menganggap menyederhanakan proses2 perilaku pada
manusia
Kritik Humanisme thd Psikoanalisa
 Pandangan-pandangan psikoanalisa dianggap sempit, hanya memandang manusia dari sudut impuls-impuls terdesak.
Impuls-impuls itu mendominasi perilaku manusia. Psikoanalisa dianggap sebagai psikologinya orang sakit.
 Padahal manusia memiliki daya kreasi, dan dapat keluar dari tekanan-tekanan kehidupan.
 Dalam pandangan psikoanalisa, perkembangan manusia ditentukan oleh pengalaman lima tahun pertama. Pandangan itu
dianggap deterministik.
 Menurut humanistik, manusia dapat menetapkan harapan dan cita-cita, serta dapat bertindak dan berbuat berdasarkan cita-
cita dan harapan yang ditetapkan.
Asumsi dasar Humanistik
Tindakan manusia bergantung pada bagaimana ia menafsirkan situasi dari sudut penilaian pribadinya
“Each individual ... has a private world that constitutes ‘reality’ for him” (Lingren, 1972)
Humanistik memandang bahwa setiap individu memiliki dunia dan kesibukannnya masing-masing.
Pandangan Humanistik tentang manusia
 Manusia adalah makhluk yang belum selesai, “becoming”
 Manusia adalah makhluk yang sadar akan keberadaannya
 Manusia dalam hidup adalah memilih dari banyaknya alternatif yang ada
 Manusia bertanggung jawab atas pilihannya
 Manusia memiliki determinasi diri dan kreasi diri
Pandangan tentang Belajar
 Belajar adalah pemerolehan informasi baru
 Belajar adalah personalisasi informasi baru pada individu  internalisasi
 Proses belajar yang ada pada diri manusia adalah proses untuk sampai pada aktualisasi diri (learning how to be).
 Belajar adalah mengerti dan memahami siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya
apa yang anda miliki, apa langkah-langkah yang anda ambil, apa yang dirasakan, nilai-nilai apa yang kita miliki dan yakini,
kearah mana perkembangan kita akan menuju.
Belajar menurut Maslow
 Belajar di satu sisi adalah memahami bagaimana anda berbeda dengan yang lain (individual differences), dan di sisi lain
adalah memahami bagaimana anda menjadi manusia sama seperti manusia yang lain (persamaan dalam specieshood or
humanness).
Teori Kebutuhan menurut Maslow yang berbentuk Piramida
Aktualisasi Diri
Harga diri (self esteem)
1. Menghargai diri sendiri
2. Dihargai orang lain
Belongingness and love needs
Keinginan untuk dimiliki dan dicintai mencintai (Social afiliation)
Kebutuhan akan rasa aman
Keamanan, stabilitas, proteksi, struktur hukum, keteraturan, batas, kebebasan dari takut dan cemas.
Kebutuhan fisiologis
Bersifat homeostatis (usaha menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik) makan, minum.
 Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika pebelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-
baiknya.
 Teori belajar humanistik berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya
Pendidikan menurut Humanistik
 Pendidikan adalah mengarahkan kesadaran diri dan kemauan siswa.
 Siswa akan maju menurut iramanya sendiri.
 Pendidikan mengarah perhatian pada pengembangan anak berdasarkan perbedaan individual.
 Ada perhatian yang kuat terhadap pertumbuhan pribadi dan perkembangan siswa, untuk mengimbangi keadaan2 baru yg
selalu meningkat yang dijumpai oleh siswa di masyarakat ataupun di rumah.
Prinsip Belajar Teori Humanistik
 Manusia mempunyai kodrat belajar alami.
 Belajar signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu.
 Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
 Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah didasarkan bila ancaman itu kecil.
 Belajar yang bermakna diperoleh jika siswa melakukannya.
 Belajar terbentuk jika siswa dilibatkan dalam proses belajar.
 Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam.
 Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri.
 Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.
Implikasi bagi guru
 Guru sebagai fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga
tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
 Guru mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi
dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna.
 Guru berperan mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para
siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
 Guru menempatkan dirinya sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
HUMANISTIK
Belajar: Memanusiakan Manusia
PBM: Pengetahuan -› Ilmu Pengetahuan
Kritik: Lebih dekat ke filsafat dari pada pendidikan
Tidak ada psikologi belajar yang sia-sia, dan tidak ada psikologi belajar yang paling benar.

Teori Belajar Konstruktivistik


Penjelasan dari Teori sampai Konsep Kurikulum di Tanah Air
Kecenderungan Akhir Abad ke 20
 Di akhir abad ke 20 para praktisi pendidikan tidak lagi terkurung di satu teori atau aliran psikologi belajar. Tidak lagi saling
mengunggulkan teori dan merendahkan teori lain.
 Mereka sadar setiap teori memiliki kekurangannya masing-masing.
 Para praktisi pendidikan menginginkan hasil belajar yang maksimal dari proses belajar yang dilakukan.
 Terdapat asumsi bahwa dari setiap pendekatan belajar memiliki keunggulan yang dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan
proses belajar.
 Teori belajar konstruktivistik merupakan kolaborasi dari tiga pendekatan belajar sebelumnya.
Curah Fikiran
 Pendidikan bukan hanya proses menuangkan sejumlah informasi ke dalam benak siswa.
 Belajar itu proses bekerja untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, mengusahakan agar
konsep-konsep penting dan sangat berguna tertanam kuat dalam benak siswa.
 Siswa harus menemukan dan mentransfer sendiri informasi-informasi yang rumit menjadi perbendaharaan informasi milik
sendiri.
 Jadi siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benak mereka. Teori konstruktivistik memberi kesempatan
kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dengan menggunakan strategi mereka.
Arti Konstruktivistik
 Konstruktivistik berasal dari “to construct”, yang artinya membangun, menyusun sesuatu menjadi suatu bangunan
(bangunan pengetahuan)
 Jadi Konstruktivistik adalah merangsang lingkungan agar siswa mampu membangun pengetahuan dalam benaknya
berdasarkan pengalaman dan pengamatan obyek yang diamatinya secara langsung.
Pendidikan bukan menuangkan informasi ke benak siswa yang kosong, sebab mereka sudah memiliki pengetahuan
sebelumnya dengan karakter isi mereka masing-masing.
Ide Mendasar Kontruktivistik
Konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky, keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika
konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami
informasi-informasi baru.
Ide-ide dasar konstruktivistik meliputi:
 Pembelajaran sosial;
 Zona Perkembangan terdekat (zone of proximal development);
 Pemagangan kognitif (cognitive apprenticeship);
 Scaffolding (mediated learning).
Pembelajaran Sosial
 Penekanannya pada hakekat sosial dari pembelajaran. Siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman
sebaya yang lebih mampu (pembelajaran kooperatif).
 Menurut Vigotsky, seseorang yang berhasil memecahkan masalah tidak hanya ia berhasil menjelaskan pada dirinya sendiri,
tetapi juga berhasil menularkan jalan fikiran dan pemahamannya kepada teman lainnya.
Belajar adalah suatu proses sosial, hakekat proses sosial dalam belajar tidak boleh diabaikan.
Belajar Sosial
Assumptions:
 Belajar merupakan hasil pengaruh lingkungan sosial dalam berpikir
Pakar:
 Bandura: Belajar dari orang lain, orang lain menjadi model
 Vygotsky: Potensi pebelajar akan meningkat jika berinteraksi dengan orang lain
Zona Perkembangan terdekat
 Siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan terdekat mereka.
 Siswa dapat menyelesaikan tugasnya untuk memecahkan masalah apabila kesulitan yang dihadapi berada pada zona
terdekat perkembangan pemahamannya baik dengan bantuan teman yang telah tahu atau guru yang membimbing.
Pemagangan Kognitif
 Pemagangan kognitif adalah proses belajar setahap demi setahap memperoleh keahlian dalam interaksinya dengan seorang
pakar (guru atau teman yang telah lebih dahulu menguasai).
 Teori kostruktivistik merekomendasikan pemagangan kognitif ini dengan melibatkan siswa dalam tugas-tugas kompleks dan
membantu mereka mengatasi tugas2 tsb, juga melibatkan siswa dalam kelompok pembelajaran kooperatif, siswa yang lebih
pandai membantu siswa yang belum memahami.
Scaffolding
 Siswa diberikan tugas-tugas kompleks, sulit, dan realistik dan diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas-
tugas itu.
 Pembelajaran dengan scaffolding adalah metode pembelaran dimana guru memandu pelajaran sedemikian rupa sehingga
siswa akan menguasai tugas dan keterampilan yang memungkinkan pemfungsian kognitif yang lebih tinggi.
Lima Ciri Penerapan Konstruktivistik
 Proses Top down
Top Down berarti siswa mulai dengan masalah-masalah kompleks untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan dan
menemukan jawaban-jawaban rincinya (whole to part).
Pendekatan konstruktivistik dimulai dengan masalah yang sering muncul dalam kehidupan, dan selanjutnya membantu siswa
untuk menyelesaikan bagaimana menemukan langkah-langkah dalam memecahkan masalah tersebut.
 Pembelajaran Kooperatif
Siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah
tersebut dengan temannya. Pembelajaran kooperatif menekankan pada hakekat sosial dalam belajar dan penggunaan
kelompok dalam memodelkan cara berfikir yang sesuai dan saling mengemukakan dan menantang miskonsepsi-miskonsepsi
di antara mereka.
 Pembelajaran Generatif
Strategi pembelajaran generatif mengajarkan siswa metode-metode spesifik melakukan kerja mental menangani informasi
baru.
Pembelajaran generatif menekankan pengintegrasian aktif materi baru dengan skemata yang ada.
Contoh: siswa diminta untuk membuat pertanyaan untuk diri mereka sendiri. Membuat ikhtisar, atau membuat analogi
tentang materi yang telah mereka baca.
 Pembelajaran dengan Penemuan
Siswa didorong untuk belajar dengan keterlibatan aktif diri mereka terhadap konsep-konsep dan prinsip-prinsip untuk dapat
menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Bruner mengatakan, “Kita mengajarkan suatu bahan kajian ditujukan untuk membuat siswa berfikir, meneladani
seperti seorang sejarahwan, mereka turut mengambil bagian dalam proses mendapatkan pengetahuan”.
 Pembelajaran dengan Pengaturan Diri
Teori konstruktivistik memiliki asumsi bahwa setiap siswa memiliki kemampuan mengatur dirinya sendiri, self regulated
learner. Bahwa setiap orang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar yang efektif dan bagaimana serta kapan
menggunakan pengetahuan itu.
Apa kelebihan Teori Belajar Konstruktivistik?
 Penekanannya pada proses;
 Fokus utama pada pembelajaran proses mental, bukan pada hasil.
 Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif.
Proses Belajar Menurut Konstruktivisme
 Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya daripada segi perolehan pengetahuan daripada fakta-fakta yang
terlepas-lepas.
 Belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan Pembentukan ini harus dilakukan oleh si pebelajar; Ia harus
aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
 Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk
pengetahuannya sendiri
 Peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri  Segala
sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan
tersebut.
Rancangan Pembelajaran Konstruktivis
 Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui
kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa
 Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.
 Situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk
membangkitkan minat murid/siswa terhadap topik yang akan dibahas.
Menurut teori konstruktivisme
 Orang dikatakan sudah belajar jika dalam pikiran orang tersebut terjadi proses penyusunan (konstruksi) kerangka
pengetahuannya.
 Menghafal materi pelajaran bukanlah kegiatan belajar.
Maka, belajar adalah:
 Proses individual
 Proses sosial
 Menyenangkan
 Tak pernah berhenti (berkesinambungan)
 Membangun makna
Pembelajaran Pendekatan Saintifik
 Pendekatan saintifik dalam belajar merupakan pendekatan yang direkomendasikan dalam kurikulum 2013.
 Pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan
pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik,
mengasosiasi/menganalisis/mengolah data (informas), dan menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang
terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat
dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.

Pendekatan Saintifik dan Konstruktivistik


 Pendekatan Saintifik adalah operasionalisasi dari teori belajar konstruktivistik.
 Langkah-langkah pendekatan saintifik merupakan penguraian dari prinsip-prinsip belajar konstruktivistik.
 Pendekatan saintifik tidak bertentangan dengan konstruktivistik. Bahkan konstruktivistik sebagai filosofinya, dan pendekatan
saintifik sebagai metodenya.
Pendekatan saintifik adalah penyempurnaan dari metode belajar inquiry/discovery learning.
Hasil Penelitian Dr. Vernon Magnesen.
Persentase apa yang kita dapat jika …
Membaca --- 20 %
Mendengar ---- 30 %
Melihat ----- 40 %
Mengucapkan ----- 50 %

Melakukan --- 60 %
Melihat, mengucapkan, mendengar & melakukan  90 %

Anda mungkin juga menyukai