0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan5 halaman

Jagoan

Dokumen ini menjelaskan peran para juragan dan kelompok jago di Batavia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, termasuk keterlibatan mereka dalam tindakan kriminal dan hubungan dengan penegak hukum. Selama kekosongan kekuasaan akibat kekalahan Jepang di WW2, para jago mengambil keuntungan dengan merampok, yang berlanjut hingga Revolusi Nasional Indonesia. Selain itu, terdapat kolaborasi antara kaum revolusioner dan para jago dalam perjuangan melawan kolonialisme, yang diwarnai dengan aksi kekerasan dan propaganda nasionalis.

Diunggah oleh

Raihan Savero
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan5 halaman

Jagoan

Dokumen ini menjelaskan peran para juragan dan kelompok jago di Batavia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, termasuk keterlibatan mereka dalam tindakan kriminal dan hubungan dengan penegak hukum. Selama kekosongan kekuasaan akibat kekalahan Jepang di WW2, para jago mengambil keuntungan dengan merampok, yang berlanjut hingga Revolusi Nasional Indonesia. Selain itu, terdapat kolaborasi antara kaum revolusioner dan para jago dalam perjuangan melawan kolonialisme, yang diwarnai dengan aksi kekerasan dan propaganda nasionalis.

Diunggah oleh

Raihan Savero
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LATAR BELAKANG PARA JAGO

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Belanda mulai mengembangkan kota Batavia
menjadi kota yang lebih terstruktur dalam hal administrasi maupun pengembangan kota. Permintaan
pekerja semakin meningkat. Disinilah peran seorang juragan menjadi sangat penting. Juragan
berperan sebagai agen pekerja dari luar daerah Batavia. Mereka dipercaya untuk mengatur segala
kegiatan dan kebutuhan para pekerja. Para juragan juga membutuhkan sebuah kelompok atau
organisasi dalam melaukan pekerjaannya dalam mengawasi para pekerja. Semakin lama, kelompok
juragan ini juta melakukan tindakan kriminal bersama kelompoknya, seperti prostitusi dan tukang
pukul. Dengan banyaknya kedatangan para pendatang dari luar daerah, maka semakin banyak pula
kelompok juragan ini, dan timbulah persaingan para kelompok juragan ini.
Juragan juga memiliki sebutan umum yang lain seperti rampok, garong, dan jago. Kelompok
jago tidak memiliki struktur organisasi yang jelas. Umumnya para jago adalah orang-orang yang
memiliki kemampuan bertarung yang hebat, ada juga yang berkutat dengan ilmu sihir, terutama jimat.
Semakin lama, tindakan keriminal kelompok jago semakin meningkat, contohya seperti perampokan
dan pencopetan.
Masyarakat yang tinggal dekat dengan markas gerombolan jago ini juga mendapatkan
manfaat seperi keamanan dan kesempatan menikmati barang hasil perampokan. Para jago juga
mempunyai hubungan yang spesial dengan para penegak hukum. Para jago sering bertindak seperti
polisi sewaan tuan tanah yang dapat memaksakan kehendak tuan tanah. Seringkali para jago lolos dari
jeratan hukum dan konon katanya banyak para jago yang setelah tertangkap lalu dapat bebas dari
jeratan hukum dengan bergabung dengan kesatuan tentara.
Keadaan pada saat kekosongan kekuasaan
Para jago ini mendapatkan keberuntungan yang sangat besar pada saat terjadinya serangan
jepang ke wilayah Asia Tenggara. Pada saat itu Belanda sedang sibuk untuk mengahalau kedatangan
tentara Jepang dan pada akhirnya pun belanda kalah dan menyerah ke Jepang. Terjadilah celah waktu
dimana terdapat kekosongan kekuasaan, dan para penduduk Belanda ataupun warga China seperti
kehilangan perlindungan keamanan mereka. Hal ini dimanfaatkan oleh para jago untuk merampok dan
menjarah rumah tuan tanah ataupun toko penduduk China.
Pada saat kekuasaan Jepang, banyak sekali organisasi-organisasi paramiliter dibuat
berdasarkan kebijakan Jepang. Tentu saja hal ini memberikan pengalaman militer bagi banyak
pemuda Indonesia. Bukan hanya pengalaman militer, dalam tingkat sipil pun rakyat Indonesia belajar
banyak dari Jepang seperti pembentukan RT (Rukun tetangga). Jepang juga merekrut pemimpin
gerombolan para jago ini sebagai kepala polisi lokal bahkan
JAGO, JEPANG, DAN KAUM REVOLUSIONER
Pada akhir WW2 Jepang merekrut para jago ini sebagai tentara bantuan untuk menghalau
invasi tentara sekutu. Jepang tak hanya mencitapkan organisasi paramiliter, namun juga menciptakan
kaum revolusioner, seperi anak-anak didik Moh Yamin. Kaum revolusioner diciptakan oleh Jepang
untuk membuat kelompok-kelompok pedagang. Usaha ini dilakukan agar Jepang dapat dengan mudah
memobilisasi massa untuk mendukung jepang dan propagandanya. Dengan begitu kaum revolusioner
sering kali bersentuhan dengan kelompok dunia hitam, hal ini merupakan simbiosis mutualisme
dimana kaum revolusioner memiliki keahlian dalam bidang analisis dan pemikiran, sedangkan para
jago memiliki basis organisasi untuk menggerakan massa, sehingga memungkinkan untuk melakukan
aksi perlawanan yang efekteif terhadap kekuasaan kolonial.
Siklus kekosongan kekuasaan pun terulang lagi pada saat Jepang kalah di WW2, dimana
kerusuhan kembali terjadi. Orang-orang China kembali menjadi sasaran kerusuhan. Bukan hanya itu,
orang-orang yang ikut bekerja bersama Jepang pun ikut menjadi target kerusuhan. Para gerombolan
jago merupakan dalang yang ikut andil dalam aksi kerusuhan ini.
Revolusi Nasional
Setelah Jepang kalah pada WW2, terjadi revolusi besar-besar di Indonesia yang dinamakan
dengan Revolusi Nasional Indonesia. Banyak dari para pejabat-pejabat tinggi di masa kolonial Jepang
yang ditangkap dan dipenjara oleh para bandit atau kaum nasionalis. Mereka melakukan hal ini bukan
semata untuk membalaskan dendam atas kekejaman mereka pada masa pemerintah Jepang, tapi juga
untuk merebut kursi-kursi kekuasaan. Banyak bandir lokal yang akhirnya menduduki bangku
kekuasaan, contohnya ialah Bubar di Karawang yang menyatakan diri sebagai bupati Karawang.
Kondisi Ommelanden
Di Ommelanden banyak juga terjadi kasus "negara di dalam negara" yang diatur oleh
penguasa lokal. Pada masa ini para jago diklasifikasikan menjadi 2 macam yaitu, jago yang hanya
mengincar orang berkulit terang dan jago yang mengincar semua orang yang lewat di wilayahnya
tanpa memandang warna kulit. Contohnya seperti Haji Darip di Klender. Ia membentuk kelompok
Barisan Rakyat Indonesia. Ia membuat daerah wilayah kekuasaannya sendiri yang dinamakan "tanah
perdikan" dimana ia melakukan pengawasan lalu lintas atas daerah yang dikuasainya. Ia mengincar
para orang berkulit terang (China dan Belanda) untuk dijarah hartanya. Sedangkan di Tambun ada
Bantir yang melakukan aksi penjarahan kepada semua orang yang lewat tanpa memandang warna
kulit.
Terror di Jakarta
Setelah Jepang menyerah, negara sekutu meminta Jepang untuk mengurus urusan formal di
wilayah Hindia Belanda. Sekutu meminta Jepang untuk menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah
otonominya masing-masing. Dengan lain kata, Jepang diperintahkan untuk menghalang-halangi
gerakan revolusi rakyat Indonesia. Pada awalnya Jepang bersimpati kepada gerakan revolusi, namun
setelah didatangkan utusan dari sekutu, Jepang tidak lagi bisa melakukan hal tersebut. Jepang
meperketat pengawasannya terhadap rakyat Indonesia. Dengan hal ini, peristiwa-peristiwa yang
terjadi di Ommelanden sangat sulit terjadi di pusat wilayah Batavia.
Lambat laun, para kaum revolusioner mulai khawatir dengan kedatangan tentara sekutu, dan
mimpi mempunyai negara yang berdikari perlahan menghilang. Beberapa pemuda revolusioner seolah
mengambil alih kekuasaan Batavia dari tangan Soekarno, karena menganggap elite politik terlalu
lama dalam mengambil tindakan. Namun muncul juga kelompok gabungan mahasiswa kedokteran
yang lebih memilih untuk berhati hati dan sambil ikut melindungi para elit politik. Kaum pelajar ini
juga ikut melakukan aksi pemogokan untuk menentang kebijakan-kebijakan Jepang. Pada akhirnya
kedua kelompok ini bersitegang dan melakukan rapat bersama yang berakhir dengan kemenangan
kaum pelajar, sedangkan kaum radikal mengalami kekalahan dalam hasil rapat.
Kaum pelajar ini yang menamakan diri mereka Pemuda Prapatan 10. Mereka membuat
sebuah unit paramiliter yang dinamakan BKR (Barisan Keamanan Rakyat). Namun unit ini masih
menyembunyikan identitasnya karena takut akan pengawasan tentara Jepang. Unit ini dipimpin oleh
mantan tentara PETA. Lambat laun, unit BKR ini menarik minat banyak ex tentara PETA, hinga
mereka membuat beberapa kelompok lain seperti unit BKR Jakarta.
Kaum radikal pun tak mau kalah, mereka membuat kelompok paramiliter yang dinamakan
API (Angkatan Pemuda Indonesia). API banyak menarik minat kaum yang tak terpelajar. API dalam
melakukan aksinya sangatlah radikal. Mereka menyerukan untuk menguasai senjata, kantor-kantor,
dan bisnis Jepang. Kelompok ini melakukan aksinya di tengah kota, dengan mengambil alih trem dan
jaringan kereta api.
Mutualisme antara kaum revolusioner dan para jago
API menjalin hubungan yang sangat dekat dengan gerombolan para jago lokal. Kelompok
para jago melihat API sebagai fasilitas yang mengawinkan ambisi politik dan pribadi mereka. Seperti
contohnya API menjalin hubungan dengan kelompok Syafei yang merupakan penguasa lokal Senen.
Kelompok ini bertugas untuk membangkitkan bara revolusi di kalangan masyarakat umum.
PERTEMUAN LAPANGAN IKADA
Pada September 1945, para pemimpin API melakukan rapat raksasa yang diselenggarakan di
lapangan IKADA. Rapat ini diadakan sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan Jepang yang
melarang rakyat Indonesia untun mengadakan rapat umum. Rapat ini diperkirakan dihadiri sebanyak
200.000 peserta. Rapat ini juga dihadiri oleh kelompok-kelompok juragan lokal, contohnya haji Darip
dari Klender yang ikut mengutus kontingennya untuk hadir dalam rapat tersebut.
Para elit politik sangat mengkhawatirkan akan terjadinya bentrokan bersenjata dengan pihak
Jepang. Melihat hal itu, Soekarno ikut memberi kata sa mbutan yang mana berisi kalimat retrotika
revolusi namun sekaligus menghimbau kepada peserta rapat untuk membubarkan diri dengan damai
dan para peserta pun mengikuti perintah Soekarno.
PERLAWANAN KAUM REVOLUSIONER
Pada akhir September 1945 API berubah menjadi kekuatan besar yang dipimpin oleh Thalib.
Tholib juga berperan sebagai pelatih militer API. API semakin gencar melakukan perjuangan
bersenjata di Jakarta. Para kaum revolusioner mempunyai markas di dalam kampung,dimana tidak
ada orang eropa yang berani untuk masuk.
Kedatangan tentara Inggris yang diboncengi NICA yang bertugas untuk menerima
penyerahan Jepang,berhasil membuat penduduk kota menjadi tidak curiga, namun bentrokan masih
sering terjadi. Bentrokan biasanya terjadi dikarenakan penggeledahan senjata dikampung yang di
lakukan oleh NICA. Kedatangan NICA juga disambut dari para bekas babu dan jongos orang orang
Belanda. Kaum revolusioner ikut mengecam sikap sikap orang orang yang mengabdikan diri kembali
pada Belanda.
Para buruh pelabuhan melakukan aksi pemogokan. Buruh lain juga menolak untuk melayani
orang-orang Belanda. Para pemuda juga melarang para penduduk untuk menjual makanan ke orang
Eropa, bahkan para pemuda juga ikut menguntit para bekas pelayan Belanda ini untuk memastikan
mereka tidak lagi bekerja untuk Belanda. Beberapa laporan menceritakan bahwa banyak orang China
yang dibunuh dikarenakan menjual makanan ke orang Eropa.
TEROR SIPIL BELANA
Bulan-bulan terakhir 1945 adalah masa dimana meningkatnya aksi kriminalitas kepada orang-
orang Eropa terjadi. Banyak orang Eropa yang menghilang pada masa itu. Banyak juga ditemukan
mayat-mayat orang Eropa yang mengambang di kali. Lebih parahnya lagi orang-orang eropa tidak
dapat membedakan mana penduduk biasa dan penjahat. Hanya satu tujuan kelompok radikal pada saat
itu, yaitu untuk mencegah kehidupan sipil Belanda dengan cara menterror orang orang Belanda. Aksi
perjuangan seperti ini tidak cocok untuk daerah seperi Jakarta, kecuali daerah Menteng. Karena
daerah itu dikelilingi oleh penjaga dan kawat berduri. Walaupun dinilai tidak strategis, namun
perjuangan dengan cara seperti ini dapat memberikan serangan psikologis kepada penduduk Belanda.
GRAFITI DAN PROPAGANDA NASIONALIS
Para kaum revolusiner telah berhasil menguasai beberapa' gedung milik pemerintah dimana
mereka menandakan gedung tersebut dengan tulisan grafiti "milik pribumi". Semakin lama, kaum
revolusioner sadar bahwa kunci untuk menguasai Jakarta bukanlah gedung-gedung tinggi, namun
adalah tempat kosong seperti jalanan dan rel kereta api. Kaum revolusioner juga sering membuat
tulisan grafiti "Merdeka" di gerbong-gerbong kereta dan trem.
PERLAWANAN BALIK BELANDA
Menanggapi hal tersebut, Belanda juga ikut melancarkan aksi pembalasan, Banyak rakyat
Indonesia yaang menjadi korban aksi pembunuhan misterius yang dilancarkan oleh batalyon X.
Tentara-tentara Belanda sering berkonvoi keliling kota sambil menyanyikan lagu-lagu Belanda.
Mereka tak segan-ssegan untuk membunuh siapapun yang menggunakan atribut Republik. Cara
pembunuhan misterius secara random ini tidak lagi efetif dan menggantinya dengan pemilihan
pembunuhan yang lebih cermat. Belanda juga melakukan penyisiran terhadap kampung-kampung.
Belanda juga melakukan aksi penculikan dan introgasi kepada para pejuang. Akibatnya, orang-orang
Eropa merasa kembali menjadi aman dan para anggota API mulai memikirkan untuk keluar kota dan
mengatur ulang strateginya.
AKHIR DARI REVOLUSI DI BATAVIA

Anda mungkin juga menyukai