0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan12 halaman

Jurnal Teori Hukum

Dokumen ini membahas perbedaan antara Teori Hukum dan Ilmu Hukum serta pentingnya penerapan teori hukum dalam penegakan hukum untuk mencapai keadilan sosial. Penegakan hukum di Indonesia dinilai masih buruk dan tidak mencerminkan keadilan, yang menunjukkan perlunya pemahaman mendalam tentang teori hukum dan nilai-nilai keadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan konseptual dan penelitian kepustakaan untuk menggali relevansi teori hukum dalam konteks hukum Indonesia saat ini.

Diunggah oleh

Rissa Efi Susanti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan12 halaman

Jurnal Teori Hukum

Dokumen ini membahas perbedaan antara Teori Hukum dan Ilmu Hukum serta pentingnya penerapan teori hukum dalam penegakan hukum untuk mencapai keadilan sosial. Penegakan hukum di Indonesia dinilai masih buruk dan tidak mencerminkan keadilan, yang menunjukkan perlunya pemahaman mendalam tentang teori hukum dan nilai-nilai keadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan konseptual dan penelitian kepustakaan untuk menggali relevansi teori hukum dalam konteks hukum Indonesia saat ini.

Diunggah oleh

Rissa Efi Susanti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERSPEKTIF PENERAPAN TEORI HUKUM DALAM PENEGAKAN

HUKUM GUNA MEWUJUDKAN NILAI KEADILAN SOSIAL

Nama Penulis 1 XXXX


Nama Mahasiswa (Afiliasi) dan
Email : ……..
Nama Penulis (2)
Dr. Alwan Hadiyanto SH. MH
Email : [email protected]

ABSTRAK
Teori Hukum berarti bicara tentang hukum.Akan tetapi, kiranya perlu dipahami bahwa Teori Hukum
tidak sama dengan Ilmu Hukum. Teori Hukum bukanlah ilmu hukum, begitupun sebaliknya. Hal ini
dikemukankan karena pada umumnya teori hukum diidentikan atau dijumbuhkan dengan Ilmu Hukum.
Untuk memahami apa Teori Hukum harus diketahui lebih dulu apa Ilmu Hukum itu. Secara sederhana
dapat dikatakan bahwa Ilmu hukum yang semula dikenal dengan ajaran hukum (rechtsleer), sering
disebut juga dogmatik hukum, mempelajari hukum positif (ius constitutum). Perkembangan teori
hukum yang ada dimulai era modernisme sampai dengan postmodernism memasuki situasi transisi dan
perubahan yang sangat cepat saat ini, hukum Indonesia memiliki banyak catatan untuk dikaji.
Penegakan hukum yang carut marut,kacau dan mengesampingkan keadilan tersebut bisa saja
diminalisir kalau seandainya hukum dikembalikan kepada fungsi aslinya,yaitu untuk menciptakan
keadilan, ketertiban serta kenyamaan. Menjawab Perkembangan Teori Hukum dan keilmuan-keilmuan
hukum serta relevansinya dalam mewujudkan nilai keadilan,dalam rumusan masalah Perspektif
penerapan teori hukum dalam penegakan hukum guna mewujudkan nilai keadilan Sosial. Pembahasan
permasalahan ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan konseptual atau metode library
reasearch (penelitian kepustakaan).
Kata Kunci : Perspektif, Teori Hukum, Penegak Hukum, Keadilan

ABSTRAK
Legal Theory means talking about law. However, it should be understood that Legal Theory is not the
same as Legal Science. Legal theory is not legal science, and vice versa. This is stated because in
general legal theory is identified or combined with legal science. To understand what Legal Theory is,
you must first know what Legal Science is. In simple terms, it can be said that legal science, which was
originally known as legal teachings (rechtsleer), is often also called legal dogmatics, studying positive
law (ius constitutum). The development of existing legal theory, starting from the era of modernism to
postmodernism, has entered a very rapid situation of transition and change. Indonesian law has many
notes to study. Law enforcement that is chaotic, chaotic and ignores justice could be minimized if the
law were returned to its original function, namely to create justice, order and comfort. Answering the
development of legal theory and legal sciences and their relevance in realizing the value of justice, in
problem formulation. Perspective on the application of legal theory in law enforcement in order to
realize the value of social justice. The discussion of this problem was carried out using a conceptual
approach or library research method.
Keywords: Perspective, Legal Theory, Law Enforcement, Justice

PENDAHULUAN
Teori merupakan sebuah keberadaan yang sangat penting dalam dunia hukum,
karena hal tersebut merupakan konsep dasar yang dapat menjawab suatu masalah.
Teori juga merupakan sarana yang memberikan rangkuman bagaimana memahami
suatu masalah dalam setiap bidang ilmu pengetahuan hukum. Penting untuk seorang
akademisi hukum mengetahui pengertian teori secara luas, sehingga tidak terjadi
kesalahan dalam membuat karya-karya ilmiah yang merupakan proses kegiatan
seorang akademisi dalam kegiatan ilmiah maupun dalam suatu penelitian.
Bagi masyarakat Indonesia, pola penegakan hukum yang modern-rational
nampaknya mengalami kendala, karena masyarakat kita hidup dibawah dominasi
tradisional dan kharismatis, sehingga penafsiran-penafiran norma abstrak yang
dilakukan penegak hukum disamping ditentukan oleh tingkat kemampuan
manusianya juga dihadapkan oleh bentuk dominasi yang ada di dalam masyarakat
tersebut. Hal demikian memberikan kesadaran kepada kita bahwa dalam rangka
mewujudkan tujuan hukum diperlukan proses yang panjang dan merupakan technical
or managerial problem.1
Filsafat Ilmu hukum perlu dimaknai sebagai suatu kesatuan yang bulat karena
masing-masing kata tersebut mengandung makna yang tersendiri, seperti filsafat,
ilmu, hukum, filsafat ilmu, ilmu hukum, dan juga filsafat hukum. Beberapa literatur
umumnya menyebutnya dengan istilah “filsafat ilmu” dan filsafat hukum.2
Radburch menyatakan tugas teori hukum adalah membikin jelas nilai-nilai oleh
postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofinya yang tertinggi. Teori
hukum akan mempermasalahkan hal-hal seperti : mengapa hukum itu berlaku,apa

1
Lawrence Freidman, Legal System, New York: Russel Sage Foundations, Dalam Esmi Warassih.
2017
2
Carl Joachim Friderich, Filsafat Hukum Perspektif Historis, Bandung: Nusa Media, 2008, hal 35
dasar kekuatan mengikatnya? apa yang menjadi tujuan hukum? bagaimana
seharusnya hukum itu dipahami? apa hubungannya dengan inividu, dengan
masyarakat? apa yang seharusnya dilakukan oleh hukum? apakah keadilan
itu/bagaimana hukum yang adil? Teori hukum tidak bisa lepas dari lingkungan
zamannya, Ia sering kita lihat sebagai Jika kita memotret penegakan hukum di
Indonesia saat ini belumlah berjalan dengan baik, bahkan bisa dikatakan buruk.
Lemahnya penegakan hukum di Indonesia tercermin dari berbagai kasus yang belum
tuntas dan tak tersentuh rasa keadilan.3
Peran masyarakat dalam pembentukan undang-undang menjadi suatu keharusan
dalam proses pengambilan keputusan tentang substansi yang diatur, konsep keadilan
dan mampu menterjermahkan konsep tersebut dalam berbagai ketentuan yang
menjadi wadahnya, baik yang bersifat regulatif maupun korektif, disamping
mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan orang lain.4
Hal ini berarti menjaga keamanan diri dan harta benda seluruh rakyat terhadap
bahaya yang mengancamnya dari luar maupun dari dalam negeri. Dalam Penjelasan
Umum UUD NRI 1945 ditandaskan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas
hukum dan pemerintahnya berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar). Dengan
kata lain Negara Indonesia dibentuk sebagai suatu negara hukum. Negara hukum
berarti negara mengakui supermasi hukum, dengan demikian dapat dikatakan, bahwa
Negara RI pertamatama adalah demi tegaknya hukum dan keadilan, Tegaknya hukum
atau the rule of law harus berarti tegaknya hukum yang adil atau tegaknya keadilan.
Dalam sila ke lima tersebut terkandung nilai-nilai yang merupakan tujuan Negara
sebagai tujuan dalam hidup bersama, didalam sila ke lima Pancasila tersebut
terkandung nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama (kehidupan
sosial).
Rumusan Masalah dalam penelitian ini yaitu Bagaimana Perspektif Penerapan
Teori Hukum Dalam Penegakan Hukum Guna Mewujudkan Nilai Keadilan Sosial?

3
Sajipto Rahardjo, Sosiologi Hukum, Yogyakarta: Genta Publishing, 2010, hal 260
4
Yuliandri, Asas-Asas Pembentukan Peraturan perundangan yang Baik, Gagasan Pembentukan
Undang-Undang Berkelanjutan”, Jakarta: Rajawali Pers, 2010, hal 186-187
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian ini bersifat yuridis normatif dengan mengolah sumber data primer
dan sekunder. Sumber data primer berupa peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan penelitian ini, sedangkan sumber data sekunder berupa buku-buku
yang menjadi referensi dengan jenis penelitian ini adalah penelitian hukum yuridis
normatif atau yang disebut juga dengan penelitian kepustakaan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


1. Penerapan Teori Hukum dan Keadilan
Keadilan selalu menjadi perhatian terlebih lagi dalam kaitannya dengan hukum.
Keadilan hanya bisa dipahami jika ia posisikan sebagai keadaan yang hendak
diwujudkan oleh hukum. Upaya untuk mewujudkan keadilan tersebut merupakan
proses yang dinamis yang memakan banyak waktu. Upaya ini seringkali juga
didominasi oleh kekuatan-kekuatan yang bertarung dalam kerangka umum tatanan
politik untuk mengaktualisasikanya. Teori-teori Hukum Alam sejak Socrates hingga
Francois Geny tetap mempertahankan keadilan sebagai mahkota hukum. Teori
Hukum Alam mengutamakan the search for justice.5

Kajian normatif, hukum merupakan instrument untuk menegakan keadilan yang


wujudnya berupa pedoman perilaku dengan fungsi utamanya mengatur perilaku
manusia membicarakan hubungan antar manusia.Membicarkan hubungan antar
manusia adalah membicarakan keadilan.Dengan demikian setiap pembicaraan
mengenai hukum,jelas atau samar-samar, senantiasa merupakan pembicaraan
mengenai keadilan pula. Kita tidak dapat membicarakan hukum hanya sampai kepada
wujudnya sebagai suatu bangunan yang format. Kita juga perlu melihatnya sebagai
ekspresi dari cita-cita keadilan masyarakat.6

Teori hukum berkembang mengikuti perkembangan ruang, waktu dan tempat, ini
yang dapat mengakibatkan terjadinya pergeseran-pergeseran teori hukum yang ada.

5
Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta: Kanisius, 2019, hal 196
6
Satjipto Rahrdjo, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006, hal 159
Pada umumnya di negara berkembang, termasuk Indonesia masih banyak
menggunakan teori hukum abad ke 19 dengan era modernisme, masa kodifikasi
hukum dengan istilah hukum modern. Freidman melihat bahwa modernisme ini
umumnya hanya menyangkut unsur struktur dan subtansinya saja. Sedangkan kultur
hukum tidak mendapat perhatian yang seksama. Dengan demikian maka modernisme
hukum seperti ini belum dapat menjawab pertanyaan apakah yang selanjutnya dapat
dihasilkan oleh hukum modern yang dapat melakukan perubahan dalam masyarakat.
Freidman mengungatkan tentang pentingnya peranan kultur hukum, nilai-nilai dan
sikap-sikap yang mempengaruhi bekerjanya hukum. Kondisi tersebut sama seperti
apa yang dihadapi Indonesia.

Dalam sistem hukum, ilmu hukum sebagai penjabaran, pengujian dan


pengembangan teori-teori hukum yang berasal dari komponen filsafat hukum. Tujuan
dari perkembangan itu berkaitan dengan dimensidimensi utama ilmu hukum yaitu
ontologi, epistemologi dan aksiologi, ketiga dimensi tersebut merupakan media
penghubung antara dunia rasio (das sollen) dengan dunia empiris (sain). Pergeseran
dan perkembangan teori hukum serta ilmu hukum dapat digolongkan sebagai
kemajuan (progresiveitas).7

Tujuan akhir hukum adalah keadilan yang mengajarkan bahwa hukum harus
memenuhi ajaran tiga nilai dasar yang harus diintegrasikan dalam hukum.
Sebagaimana ketahui, Gustav Radbruch mengajarkan bahwa hukum harus memuat
tiga nilai dasar yaitu : Nilai Keadilan (aspek filosofi); nilai kepastian (aspek yuridis);
dan nilai kemanfaatan (aspek sosiologis). Setiap peraturan hukum harus dapat
dikembalikan keabsahannya pada tiga nilai dasar tersebut. Adil merupakan unsur
konstitutif segala pengertian tentang hukum.8

Peran hukum dalam persoalan keadilan adalah mewujudkan ide keadilan ke


dalam bentuk konkret agar dapat memberi manfaat bagi hubungan antar manusia

7
Https://dahwiraliyahoocom.wordpress.com/2 016/04/23/perkembangan-dan-penegakan-
hukummelalui-penerapan-teori-hukum-dalam-kajian-filsafatilmu-2/ diakses tanggal 25
November 2024.
8
Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintas Sejarah, Kanisius: Yogjakarta, 2019, hal 70
Selain apa yang telah Gustav Radbruch ajarkan mengenai tiga nilai keadilan diatas,
bahwa Herman J.Pietersen juga menyatakan tujuan dari hukum adalah to serve
jusctice, to preserve society’s systemic integrity and stability and,utimately, to
promote the general good, well-being. Hukum dikonsepsikan sebagai sistem
kumpulan normanorma positive didalam kehidupan masyarkat. Ilmu yang
mempelajari hukum disebut secara umum sebagai Ilmu Hukum.

Tarikan terhadap hukum ke dua arah yang berlawanan:

Dunia Nilai Sosial

Ide
Nilai
Keadilan
Hukum

Pengaturan hubungan antar manusia


Pengalokasian sumber-sumber gaya

Dunia Sehari-hari

Dari bagan diatas kita dapat mengetahui betapa mutlaknya tuntutan ide itu dan
betapa hukum itu ditarik kerah pertimbangan praktis dalam mengatur dan mengelola
masyarakat sehari-hari, maka dalam hal ini ide dan nilai-nilai itu lalu berubah
fungsinya menjadi kekuatan pengontrol. Dalam kualitasnya sebagai kekuatan yang
demikian itu, sekalipun ia tidak lagi bisa memaksa tuntutan secara mutlak kepada
hukum, namun ia senantiasa akan membayangi hukum dalam segala pekerjaannya,
seperti pembuatan dan penerapan hukum. Pembicaraan hukum dan keadilan tidak
terlepas dari pandangan falsafati yang menyertainya. Mereka yang berangkat dari
filsafat formal memandang hukum merupakan prasyarat prakondisi bagi kehidupan
rasional yang esensial.9

Hukum merupakan peraturan yang nyata dinyatakan secara umum dan


hendaknya dimengerti oleh semua orang. Hukum mengatur perbuatan-perbuatan yang

9
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, 2006, Op.Cit, hal 170
mana yang boleh dan tidak boleh. Hukum memberikan kepastian bagi pelaku-pelaku
yang bermain dan konsekuensikonsekuensi dari setiap tindalan yang dilakukan.
Hukum memberikan kepastian dan ketertiban sosial dalam mengatur masyarakat.
Hukum berlaku universal dan sangat rasional. Semua orang memiliki kedudukan
yang sama dihadapan hukum.

2. Penerapan teori hukum dalam penegakan hukum guna mewujudkan


Keadilan Sosial
Teori menempatkan kedudukan yang penting. Ia memberikan sarana kepada kita
untuk bisa merangkum serta memahami masalah yang kita bicarakan secara lebih
baik. Hal-hal yang semula tampak tersebar dan berdiri sendiri bisa disatukan dan
ditunjukan kaitannya satu sama lain secara bermakna. Teori dengan demikian
memberikan penjelasan dengan cara mengorganisasikan dan mensistematisasikan
masalah yang dibicarakannya. Teori bisa juga mengandung subjektivitas, apalagi
berhadapan dengan suatu fenomena yang cukup kompleks seperti hukum ini. Oleh
karena itulah muncul berbagai aliran dalam ilmu hukum, sesuai dengan sudut
pandangan yang dipakai oleh orang-orang yang tergabung dalam aliran-aliran
tersebut.10

“Seorang hakim diharapkan senantiasa menempatkan dirinya dalam hukum,


sehingga hukum baginya merupakan hakekat hidupnya. Hakim tidak boleh
menganggap hukum sebagai suatu rangkaian dari laranangan dan perintah yang akan
mengurangi kemerdekaannya, melainkan sebaliknya hukum harus menjadi sesuatu
yang mengisi kemerdekaannya. Oleh karena itu “hukum itu bukan semata-mata
peraturan atau undang-undang, tetapi lebih dari pada itu: ’perilaku’ Undang-undang
memeng penting dalam negara hukum, akan tetapi bukan segalanya dan proses
memberi keadilan kepada masyarakat tidak begitu saja berakhir melalui kelahiran
pasal-pasal Undang-Undang”. Akan tetapi faktanya lembaga pengadilan telah tidak
mampu memenuhi harapan masyarakat pencari keadilan. Jika kita memotret
penegakan hukum di Indonesia saat ini belumlah berjalan dengan baik, bahkan bisa

10
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, cetakan ke VI, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006, hal 259
dikatakan buruk. Lemahnya penegakan hukum di Indonesia tercermin dari berbagai
kasus yang belum tuntas dan tak tersentuh rasa keadilan. Realita penegakan hukum
yang demikian sudah pasti akan menciderai hati rakyat kecil yang berujung pada
ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum, khususnya penegak hukum itu
sendiri.11

Penerapan Teori hukum melalui keilmuan dari aliran Sociological Jurisprudance


berusaha untuk menyatukan ilmu hukum dengan lingkungannya yaitu masyarakat,
konsekuensi logis ini mengarah pada sistem kerja penegak hukum. Penegakan hukum
yang carut marut, kacau dan mengesampingkan keadilan tersebut bisa saja
diminimalisir kalau seandainya hukum dikembalikan kepada fungsi aslinya, yaitu
untuk menciptakan keadilan, ketertiban serta kenyamanan.12 Hukum dapat berfungsi
dengan baik diperlukan keserasian hubungan empat faktor, yaitu: (1) hukum itu
peraturan sendiri, sehingga diperlukan adanya keserasian antara peraturan perundang-
undangan yang ada; (2) fasilitas pelaksanaan hukumnya yang memadai, sebab sering
kali hukum sulit ditegakan bahwa tak tertangani karena fasilitas untuk menegakannya
tidak memadai ataupun tidak tersedia; (3) kesadaran dan kepastian hukum serta
perilaku masyarakat itu sendiri; (4) mental aparat penegakan hukum. Dalam hal ini
adalah pelaku hukum secara langsung seperti polisi, jaksa, pengacara, hakim, petugas
lembaga permasyarakatan dan sebagainya karena pada dasarnya penegakan hukum
sangat tergantung pada mentalitas para aparatur penegak hukumnya.13

Relevansi Penegakan hukum dengan mewujudkan keadilan sosial dalam


pandangan Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia, meletakan sila
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” pada sila kelima. Hal ini sebagai
suatu penekanan bahwa makna yang terkandung dalam sila kelima Pancasila tersebut
merupakan suatu tujuan negara yaitu negara yang mewujudkan suatu kesejahteraan

11
Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogjakarta: Gajah
Mada University Press: 2016, hal 46-47.
12
Soerjono Soekamto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1993, hal 3
13
Suhaibah, Pembentukan Budaya Hukum Atas Keadilan Untuk Menjamin Kepastian Hukum
Pada Masyarakat, Jurnal Ilmiah” Research Sains” Vol. 1. No 1 Januari 2015, hal 5
rakyat melalui keadilan. Dengan demikian maka sila “keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia” ini merupakan suatu ‘core values’ negara kesejahteraan (welfare
state). Bagi bangsa Indonesia kehidupan berbangsa dan bernegara The general goal
of society or general acceptance of the sama philosophy of gaverment.14

Perspektif/Pandangan keadilan dalam hukum nasional bersumber pada dasar


negara Pancasila sebagai dasar negara atau falsafah negara (filosofie grondslag). Oleh
karenanya Pancasila sebagai suatu sumber hukum tertinggi secara irasional dan
sebagai rasionalitasnya adalah sebagai sumber hukum nasional bangsa Indonesia.
Pandangan keadilan dalam hukum nasional tertuju pada sila ke lima Pancasila
“keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Yang menjadi persoalan sekarang
adalah apakah yang namanya adil menurut konsepsi hukum nasional yang bersumber
pada Pancasila.15

Keadilan hendaknya memiliki arti yang sempurna karena keadilan tidak hanya
menyangkut sumber daya tetapi harus merujuk pada persoalan ahlak. Peraturan
Perundangundangan termasuk putusan hakim (penegak hukum) yang mengandung
unsur-unsur material dan spritual apa yang disampaikan Al-Ghazali dalam
mewujudkan keadilan tanpa bimbingan kerohanian akan melanggar prinsip-prinsip
kemanusiaan. Keadilan merupakan sifat Tuhan sebab keadilan tidak hanya
menyangkut kehidupan manusia tetapi juga wilayah Ketuhanan. Penerapan dan
Pelaksanaan keadilan seharus dilihat dari seluruh aspek sebagai pelaksana kehidupan
duniawi yang relegius.16

PENUTUP
Relevansi penerapan teori hukum dalam penegakan hukum guna mewujudkan
nilai keadilan sosial. Penerapan hukum melalui teori hukum di Indonesia dari
prespektif filsafat ilmu, terlihat dari penegakan hukum yang terjadi. Penegak hukum
sebagai upaya menegakan keadilan Penegakan hukum yang carut marut, kacau dan

14
Kelan, Negara dan Kebangsaan Pancasila: Kultur, Historis, Filosofi, Yuridis dan
Aktualisasinya, Yogjakarta: Penerbit Paradigma. 2019, hal 388
15
Kahar Masyhur, Membina Moral dan Akhlak, Jakarta: Kalam Mulia, 2018, hal 71
16
Dalam Emi Warasih, Op.Cit, Pidato Pengukuhan Guru Besar Undip, hal 20-21
mengesampingkan keadilan tersebut bisa saja diminalisir kalau seandainya hukum
dikembalikan kepada fungsi aslinya, yaitu untuk menciptakan keadilan, ketertiban
serta kenyamanan. Dalam hal ini adalah pelaku hukum secara langsung seperti polisi,
jaksa, pengacara, hakim, petugas lembaga permasyarakatan dan sebagainya karena
pada dasarnya penegakan hukum sangat tergantung pada mentalitas para aparatur
penegak hukumnya. Relevansi Penegakan hukum dalam mewujudkan Keadilan
Sosial dalam pandangan Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia, meletakan
sila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” pada sila kelima.

Dengan demikian maka sila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” ini
merupakan suatu ‘core values’ negara kesejahteraan (welfare state). Bagi bangsa
Indonesia kehidupan berbangsa dan bernegara The general goal of society or general
acceptance of the sama philosophy of gaverment, yaitu tujuan negara yang
dirumuskan dalam filsafat negara, baik negara hukum formal maupun material
mendasarkan pada sila ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’. Negara
Indonesia didirikan, dipertahankan dan dikembangkan untuk kepentingan seluruh
rakyat, untuk menjamin dan menjamin dan memajukan kesejahteraan umum, seperti
ditetapkan dalam Pembukaan UUD NRI 1945.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan, Yogjakarta:
Gajah Mada University Press: 2016.

Carl Joachim Friderich, Filsafat Hukum Perspektif Historis, Bandung: Nusa Media,
2008.

Kahar Masyhur, Membina Moral dan Akhlak, Jakarta: Kalam Mulia, 2018.

Kelan, Negara dan Kebangsaan Pancasila: Kultur, Historis, Filosofi, Yuridis dan
Aktualisasinya, Yogjakarta: Penerbit Paradigma, 2019.

Lawrence Freidman, Legal System, New York: Russel Sage Foundations, Dalam
Esmi Warassih, 2017.

Sajipto Rahardjo, Sosiologi Hukum, Yogyakarta: Genta Publishing, 2010, hal 260.

______________, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006.

Soerjono Soekamto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta:


PT. Raja Grafindo Persada, 1993.

Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta: Kanisius, 2019.

Suhaibah, Pembentukan Budaya Hukum Atas Keadilan Untuk Menjamin Kepastian


Hukum Pada Masyarakat, Jurnal Ilmiah” Research Sains” Vol. 1. No 1 Januari
2015.

Yuliandri, Asas-Asas Pembentukan Peraturan perundangan yang Baik, Gagasan


Pembentukan Undang-Undang Berkelanjutan”, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

Anda mungkin juga menyukai