YAYASAN PENDIDIKAN EKONOMI
SMK YPE SAWUNGGALIH KUTOARJO
Jl. Semawungdaleman Kutoarjo Telp. ( 0275 ) 641342
Website: [Link] Email : smk_swg_kta@[Link]
Terakreditasi A
Konsentrasi Keahlian : 1. Akuntansi 4. Desain dan Produksi Busana
2. Manajemen Perkantoran 5. Teknik Komputer dan Jaringan
3. Bisnis Digital 6. Teknik Sepeda Motor
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN (RPL)
KONSELING INDIVIDUAL
SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2025/2026
A Nama Konseli N.S.
B Kelas/ Smester X MP
C Hari, tanggal Selasa, 10 Juni 2025
D Pertemuan Ke-2
E Waktu 30-45 menit
F Tempat Ruang BK
G Gejala yang nampak/ 1. Perilaku mencari perhatian berlebihan sebagai
keluahan upaya memenuhi kebutuhan emosional yang tidak
terpenuhi di rumah.
2. Respons emosional kuat (menangis) saat membahas
keluarga, menandakan luka batin yang belum pulih.
3. Upaya menutupi kekurangan, bisa jadi karena
perasaan tidak cukup berharga atau takut ditolak.
Kutoarjo, Juni 2025
Verifikator,
Waka Kurikulum Guru BK/ Konselor
Agustina Pancawati, [Link]., [Link] Naufal Alaudin, [Link]
Mengetahui,
Kepala Sekolah
Tri Yulianto, [Link]., [Link]
PELAKSANAAN KONSELING INDIVIDUAL – REBT
Tema: Membangun Kepercayaan Diri dan Mengelola Konflik dalam Keluarga
Pendekatan: Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)
Durasi: 30–45 menit
Target: Siswi kelas X MP (NS)
I. TUJUAN KONSELING
1. Siswa mampu menyadari hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilakunya.
2. Siswa mampu mengenali dan mengubah pikiran irasional menjadi pikiran rasional.
3. Siswa dapat menerima diri secara lebih positif tanpa harus menarik perhatian
berlebihan.
4. Siswa memiliki alternatif strategi yang sehat untuk mengelola konflik dalam keluarga.
II. SASARAN KLIEN
Siswi yang menunjukkan perilaku mencari perhatian berlebihan, manja terhadap laki-
laki, dan sensitif saat membicarakan keluarga.
III. TAHAPAN KONSELING (REBT)
1. Tahap Pembentukan Relasi (Rapport)
Guru BK menyambut siswi dengan empati dan penerimaan tanpa menghakimi.
Guru BK menjelaskan bahwa ruang konseling adalah ruang aman untuk berbagi.
Contoh ucapan:
"Terima kasih sudah datang. Ibu senang kamu bersedia berbagi cerita hari ini."
2. Tahap Identifikasi Masalah & Pikiran Irasional (A - B - C)
A (Activating Event): Konflik dalam keluarga, kurangnya perhatian dari orang tua.
B (Belief): “Aku tidak berharga kalau tidak diperhatikan.”
C (Consequence): Perilaku menarik perhatian, merasa cemas jika tidak dianggap, menangis
saat membicarakan keluarga.
🧠 Tujuan: Membantu siswi mengenali bahwa perasaan negatif berasal dari keyakinan, bukan
kejadian itu sendiri.
3. Tahap Disputing (D) – Menantang Pikiran Irasional
Bertanya secara terbuka untuk mempertanyakan kebenaran pikiran negatif.
Contoh pertanyaan:
"Apa benar kamu hanya berharga kalau diperhatikan orang lain?"
"Apakah semua orang harus selalu menyukai kita agar kita merasa berharga?"
4. Tahap Instalasi Pikiran Rasional (E – Effect)
Membantu siswi mengganti keyakinan irasional dengan rasional:
✍️Contoh pikiran baru:
“Aku tetap berharga walau tidak selalu jadi pusat perhatian.”
“Aku bisa menunjukkan diriku tanpa harus berlebihan.”
“Perasaanku valid, tapi aku bisa belajar mengelolanya.”
5. Tahap Penanaman Sikap Baru (F – New Feeling & Behavior)
Diskusi singkat tentang alternatif perilaku yang lebih sehat:
o Menulis jurnal emosi.
o Mengikuti kegiatan positif di sekolah.
o Melatih komunikasi asertif di rumah.
IV. EVALUASI
Perubahan ekspresi atau respons emosional saat membahas keluarga.
Penurunan perilaku menarik perhatian secara berlebihan.
Kemampuan menyebutkan pikiran rasional baru dengan sadar.
V. TINDAK LANJUT
Lanjutkan ke sesi konseling kedua untuk pemantauan.
Ajak wali kelas untuk memperkuat reinforcement positif di kelas.
Libatkan orang tua dalam percakapan terarah (bila memungkinkan dan relevan).
📄 LEMBAR A-B-C Konseling REBT
Nama Siswa : [NS]
Kelas : [X MP]
Tanggal : [Selasa, 10 Juni 2025]
Konselor : [Naufal Alaudin, [Link]]
A. Activating Event (Peristiwa Pemicu)
✔️Situasi: Ketika berada di kelas atau lingkungan sekolah, siswi menunjukkan perilaku
manja, menarik perhatian siswa laki-laki dan guru laki-laki.
✔️Peristiwa penting lainnya: Konflik dalam keluarga, misalnya kurangnya perhatian dari
orang tua, khususnya ayah. Ketika membahas masalah keluarga, siswi mudah menangis.
B. Belief (Keyakinan)
✔️Keyakinan tidak rasional (irrational beliefs):
“Kalau aku tidak diperhatikan, berarti aku tidak berharga.”
“Aku harus selalu disukai agar merasa aman.”
“Perhatian dari laki-laki membuatku merasa dihargai.”
“Orang tidak akan menyayangiku kalau aku tidak tampil manja.”
C. Consequence (Konsekuensi)
✔️Emosi dan perilaku yang muncul:
Merasa cemas dan gelisah saat tidak mendapat perhatian.
Berperilaku manipulatif atau manja secara berlebihan.
Sulit fokus belajar karena perhatian tertuju pada bagaimana tampil menarik.
Menyembunyikan perasaan sedih dengan bersikap ceria dan genit.
✨ Catatan Konselor:
Langkah selanjutnya akan difokuskan pada:
Mengganti keyakinan tidak rasional dengan keyakinan yang lebih sehat.
Membangun konsep diri dan kepercayaan diri yang tidak bergantung pada validasi
eksternal.
Menyediakan ruang aman untuk memproses luka emosional akibat konflik keluarga.