MURJI’AH
MAKALAH
Diajuakan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Ilmu Kalam
Disusun oleh kelompok 4:
KHAIRINA : 2123048
YAASIINTHIA PUTRI DAMAR : 2123066
Dosen Pengampu
IMAN TAUFIQ
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIAYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SJECH M. DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI
1446 H/ 2024 M
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiim
Syukur alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
kesehatan dan kesempatan sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan. Selanjutnya
shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada suri tauladan dan panutan kita
yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini berhasil ditulis karena bantuan dari semua pihak baik secara materil
maupun moril, terutama dosen pengampu mata kuliah Ilmu Kalam yaitu Bapak Iman Taufiq.
Oleh sebab itu, penulis mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam, sehingga makalah
yang berjudul “ Murji’ah “ dapat dipersentasikan.
Semoga makalah ini ini bisa memberikan manfaat terhadap pihak-pihak terkait,
walaupun penulis sangat menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan di sana sini.
Oleh sebab itu, makalah ini terbuka untuk dikritik dan diberikan saran yang membangun
demi kesempurnaannya. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.
Bukittinggi, 23 September 2024
Penulis
I
DAFTAR ISI
II
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Persoalan politik yang dimulai pada masa pemerintahan Usman bin Affan dan
Ali bin Abi Thalib, yaitu di saat terjadinya pergolakan di kalangan umat Islam
menjadi persoalan krusial yang mela hirkan aliran Murji'ah. Dalam hal ini, perjuangan
politik untuk merebut kekuasaan selalu dibingkai dengan ajaran agama. Agama
menjadi payung pelindung, baik bagi kelompok yang menang demi untuk
mempertahankan kekuasaannya, maupun kelompok yang kalah untuk menyerang
lawan-lawan politiknya. Dari sini dapat dikatakan mazhab aliran Kalam dalam Islam
lahir dari konflik politik yang terjadi di ka langan umat Islam sendiri, untuk
kepentingan dan mendukung politik masing-masing kelompok. Tidak jarang ulama
dari kedua kelompok itu pun memproduksi Hadits-hadits palsu dan menyampaiakan
fatwa-fatwa keberpihakan. Adanya keberpihakan kelompok pada pertentang an
tentang Ali bin Abi Thalib, memunculkan kelompok lainnya yang menentang dan
beroposisi terhadapnya. Begitu pula terdapat orang-orang yang netral, baik karena
mereka mengganggap perang saudara ini sebagai fitnah (bencana) lalu mereka
berdiam diri, atau mereka bimbang untuk menetapkan haq dan kebenaran pada
kelompok yang ini atau itu.
Golongan Murji'ah pertama kali muncul di Damaskus pada penghujung abad
pertama Hijriah. Murjiah pernah mengalami kejayaan yang cukup signifikan pada
masa Daulah Umayah, namun setelah runtuhnya Daulah tersebut, golongan Murji'ah
ikut redup dan ber angsur-angsur ditelan zaman, hingga kini aliran tersebut sudah
tidak terdengar lagi. Namun demikian, sebagian pahamnya masih ada dan diikuti oleh
sebagian orang, sekalipun bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Aliran Murjiah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat
dalam upaya kafir mengafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar,
sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran Khawarij. Kaum Murji'ah muncul setelah
adanya pertentangan politik dalam Islam dengan gaya dan corak tersendiri. Mereka
bersikap netral, tidak berkomentar dalam praktik kafir/mengkafirkan bagi golongan
yang bertentangan. Mereka menangguhkan penilaian terhadap orang-orang terlibat
1
dalam peristiwa tahkim itu di hadapan Tuhan, karena bagi mereka Tuhan-lah yang
mengetahui keadaan iman seseorang.
2
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah penulis paparkan di atas, maka
rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Sejarah Murji’ah ?
2. Bagaimana Perkembangan Murji’ah ?
3. Bagaimana Tokoh-Tokoh Murji’ah ?
4. Bagaiamana Ajaran Pokok Murji’ah ?
5. Metode Kalam Murji’ah ?
C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Sejarah Murji’ah
2. Untuk mengetahui perkembangan murji’ah
3. Untuk mengetahui tokoh-tokoh murji’ah
4. Untuk mengetahui ajaran pokok murji’ah
5. Untuk mengatahui metode kalam murji’ah
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Murji’ah
Kata murji'ah berasal dari suku kata bahasa arab "Rajāa" yang berarti "kembali",
dan mashdarnya adalah "al-irja". Kata "al-irja" memiliki dua pengertian, yaitu "al-
ta'khir" (mengakhirkan) dan "i'tha al-raja" (memberikan harapan). Pengertian yang
disebut pertama memiliki korelasi dengan kondisi aliran Murji'ah di mana mereka
adalah orang-orang yang mengakhirkan tindakan atau amal dari niat dan akad.
Demikian juga pengertian yang disebut belakangan (i'tha al-raja) dipandang sesuai
dengan paham mereka yang menganggap "kemaksiatan tidak merusak keimanan
seseorang, sebagaimana kepatuhan tidak memberi manfaat bagi orang kafir".
Aliran Murji'ah adalah aliran dalam Islam yang muncul dari golongan yang tak
sepaham dengan Khawarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang
dengan Khawarij. Sehingga pengertian murji'ah adalah penangguhan vonis hukuman
atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tidak
mengafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan
hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah, sehingga seorang Muslim,
sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya
harapan untuk bertobat. Begitu juga, aliran Murji'ah merupakan aliran yang tidak
sepaham dengan Syi'ah, sebab bagi kalangan yang disebut pertama Murji'ah artinya
"mengakhirkan Ali bin Abi Thalib dari tingkatan pertama ke tingkatan keempat"
dilihat dari keutamaan para sahabat yang empat.1
Ada beberapa versi mengenai awal kehadiran Murji'ah. Menurut W. Montgomeri
Watt, paham Murji'ah berasal dari sekelompok kaum Khawarij. Dalam golongan yang
secara keseluruhannya dikenal eksterm dan puritan itu, terdapat kelompok kecil yang
mengembangkan moderasi dan menghendaki dihentikannya pertumpahan darah yang
telah berlarut-larut itu. Mereka itu dinamakan kelompok al-Waqifat, yang secara
harfiah berarti "Para penggantung", yakni mereka yang menggantungkan penilaian
seseorang mukmin yang melakukan dosa besar kepada keputusan Tuhan kelak di hari
kemudian.
1
Nunu Burhanuddin,. Ilmu Kalam dari Tauhid Menuju Keadilan, (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP), 2016
hlm.71
Sementara Ahmad Amin mengatakan bahwa paham Murji'ah berasal dari
kelompok sahabat Nabi, seperti Abu Bakrah, Abdullah bin Umar dan Imran bin
Husain, yang tidak mau terlibat dalam persoalan politik yang menimpa sahabat
Usman bin Affan di akhir masa jabatannya.
Sedangkan menurut Harun Nasution, kaum Murji'ah pada mulanya muncul karena
persoalan politik sebagaimana golongan Khawarij, kaum Khawarij pada mulanya
adalah pasukan Ali bin Abi Thalib, tetapi kemudian berbalik menjadi musuhnya
setelah peristiwa Tahkim. Sementara itu, karena adanya perlawanan ini, pendukung-
pendukung yang tetap setia kepadanya bertambah keras dan kuat membela Ali bin Abi
Thalib yang kemudian terbentuk golongan lain yang dikenal dengan nama Syi'ah.2
Golongan Khawarij memandang bahwa para sahabat yang terlibat pemberontakan
terhadap Ali dan orang-orang yang terlibat dalam peristriwa tahkim, termasuk Ali
sendiri adalah kafir. Sedangkan Syi'ah memandang bahwa Ali adalah orang yang
paling berhak menduduki jabatan Imam.Dalam suasana pertentangan antara golongan
Khawarij dan Syi'ah tersebut, timbul suatu golongan baru yang ingin bersikap netral
dan tidak mau turut dalam praktek kafir- mengkafirkan sebagaimana yang terjadi pada
golongan yang saling bertentangan itu. Golongan ini kemudian dikenal dengan nama
Murji'ah. Bagi golongan Murji'ah ini, sahabat-sahabat yang bertentangan itu
merupakan orang-orang yang dapat dipercaya dan tidak keluar dari jalan yang benar.
Oleh karena itu, mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang salah, dan
memandang lebih baik menunda atau (arja'a) penyelesaian persoalan ini ke hari
perhitungan di hadapan Tuhan.
Di antara perbedaan pendapat mengenai asal-usul Murji'ah tersebut, nampaknya
bisa diakomodir oleh pendapat Muhammad Abu Zahrah. Menurut Abu Zahrah, benih-
benih pertama yang kemudian menumbuhkan kaum Murji'ah sudah ada sejak masa
sahabat Nabi, yaitu pada masa akhir pemerintahan Usman dan para pejabatnya
berkembang sampai ke pelosok-pelosok wilayah Islam. Pergunjingan itu kemudian
melahirkan fitnah dan berakhir dengan terbunuhnya Usman. Di saat-saat seperti itu
sekelompok sahabat memilih bersikap diam dan menahan diri agar tidak3
2
Casrameko, Nasrudin., ”Pengantar Ilmu Kalam”, (Jawa Tengah: PT.Nasya Expanding Management), 2019.
Hlm.69
3
Ibid hlm.69-70
4
B. Perkembangan Murji’ah
Perpecahan dalam Islam, memang mulai tampak pasca wafat Nabi yang pada
saat itu terjadi perdebatan siapa yang akan menggantikannya sebagai pemimpin umat,
karena menjelang wafatnya Nabi tidak menunjuk atau menentukan seseorang yang
harus menggantikannya.
Perbedaan terjadi pada pertemuan di Tsaqifah Bani Saidah dimana satu
kelompok menyatakan bahwa pengganti Nabi harus dari golongan Anshar, sedangkan
kelompok lain harus dari golongan Muhajirin. Keputusan akhir pertemuan itu adalah
pembaian Abu Bakar sebagai Khalifah. Namun, ketidakhadiran Ali bin Abi Thalib
dalam pertemuan ini karena sibuk mengurus pemakaman Nabi, memunculkan
pendapat ketiga yaitu, bahwa khalifah harus dari keluarga Nabi (dalam hal ini Ali bin
Abi Thalib). Akan tetapi, pendapat kelompok ketiga ini tidak mendapat tanggapan,
hingga akhirnya mereka menerima kekhalifahan Abu Bakar.
Jauh sesudahnya, Ketika Usman naik menjadi khalifah, pendukung Ali mulai
kurang senang terhadap sistem pemerintahan yang dijalankan yang sarat dengan
nepostisme, khususnya terhadap keluarga Umayyah. Masa akhir kekhalifahan Usman,
terdapat gerakan bawah tanah yang menuntut agar Usman turun dari kekhalifahan dan
menyerahkannya kepada yang lain. Diantara kelompok ini diantaranya ada pendukung
Ali. Ketika Usman tebunuh, mayoritas umat Islam melantik Ali sebagai Khalifah.
Keputusan ini ditentang oleh Thalhah, Zubair dan Muawiyah. Mereka menuduh Ali
ikut terlibat dalam rencana pembunuhan Usman, atau setidaknya membiarkan Usman
terbunuh.
Thalhah dan Zubair yang tidak terima dengan terbubuhnya Ustman, menuntut
agar khaliah Ali mengusut siapa dalang dibalik pembunuhan khalifah tersebuut.
Karena merasa aspirasi Thalhah dan Zubair tidak dihiraukan, maka puncaknya
terjadilah perang Jamal yang mengakibatkan terbunuh para sahabat yang ingin
menuntut balas atas terbunuhnya Utsman, diantaranya Thalhah dan Zubair. Begitu
juga dengan kelompok Muawiyah yang susah ditaklukkan karena ia memiliki pasukan
yang kuat. Konfrontasi Ali dengan Mu'awiyah berujung pada terjadinya Perang Siffin.
Merasa kekalahannya sudah di depan mata Muawiyyah melakukan taktik damai
(mengajukan gencatan senjata) dengan Ali bin Abi Thalib.
Pada awalnya Ali tidak mau menyetujui perjanjian itu, namun karena usulan
beberapa pemuka di pihak Ali akhimya ia menyetujui untuk menerima perjanjian
5
damai tersebut. Keputusan ini menimbulkan kelompok orang yang tidak setuju atas
keputusan Ali tersebut. Abu Musa al-Asy'ari adalah perwakilan dari pihak Ali pada
pertemuan yang dikenal dengan Majelis Tahkim. Sedangkan dari pihak Muawiyan
mengutus Amr bin Ash. Pertemuan itu dilakukan disuatu tempat di tepi sungai Eufrat.
Hasil tahkim memutuskan: "Ali dipecat dari kekhalifahan, dan Muawiyah
diangkat menggantikan Ali sebagai khalifah". Peristiwa inilah yang membuat
kelompok Ali terbagi menjadi tiga kelompok, yakni :
1. Syi'ah sebagai kelompok yang mendukung penuh keputusan Ali.
2. Khawarij: sebagai kelompok yang memisahkan diri kerena tidak setuju
dengan keputusan Ali mlakukan tahkim.
3. Murji'ah sebagai kelompok non-blok. Berawal dari peristiwa politik inilah,
kemudian merambah kepada doktrindoktrin keyakinan teologis.
C. Tokoh-Tokoh Murji’ah
Tokoh-tokoh aliran Murji’ah antara lain adalah Hasan bin Muhammad bin Ali bin
Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadits lainnya. Selain itu, ada
juga beberapa referensi dan keterangan para ulama menyatakan bahwa di antara
tokoh-tokoh faham Murji’ah adalah sebagai berikut: Jahm bin Shufwan, golongan Al-
Jahmiyah, Abu Musa Ash-Shalahi, golongan Ash-Shalihiyah, Yunus As-Samary,
golongan Al-Yunushiya, Abu Smar dan Yunus, golongan As-samriah, Abu Syauban,
golongan AsySyaubaniyah, Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimasqy,
golongan Al-Ghailaniyah, Al-Husain bin Muhammad An-Najr, golongan
AnNajariyah, Abu Haifah An-Nu’man, golongan Al-Hanafiyah, Muhammad bin
Syabib, golongan Asy-Syabibiyah, Mu’adz Ath-Thaumi, golongan AlMu’aziyah, Basr
Al-Murisy, golongan Al-Murisiyah, Muhammad bin Karam As-Sijistany, golongan
Al-Kalamiyah. Adapun pemimpin dari kaum Murji’ah adalah Hasan bin Bilal al
Muzni, Abu Salat as Samman (meninggal 152 H.) Tsauban, Dhirar bin Umar. Penyair
mereka yang terkenal pada masa Bani Umayah adalah Tsabit bin Quthanah, yang
yang mengarang sebuah syair tentang i’tiqad dan kepercayaan kaum Murji’ah.
D. Ajaran Pokok Murji’ah
Secara umum, pokok ajaran dari Murji’ah dapat dilihat dari beberapa pendapatnya,
sebagai berikut:
a. Rukun iman ada dua, yaitu: iman kepada Allah dan iman kepada utusan Allah.
6
b. Orang yang berbuat dosa besar tetap mukmin selama ia telah beriman, dan bila
meninggal dunia dalam keadaan berdosa, maka segala ketentuannya
tergantung Allah di akhirat kelak.
c. Perbuatan kemaksiatan tidak berdampak apa pun terhadap orang bila telah
beriman.
d. Perbuatan kebajikan tidak berarti apa pun apabila dilakukan di saat kafir. Ini
berarti perbuatan-perbuatan baik tidak dapat menghapuskan kekafirannya dan
bila telah muslim tidak juga bermanfaat, karena melakukannya sebelum masuk
Islam.
e. Golongan Murji‗ah tidak mau mengkafirkan orang yang telah masuk Islam,
sekalipun orang tersebut zalim, berbuat maksiat dan lain-lain, sebab mereka
mempunyai keyakinan bahwa dosa sebesar apa pun tidak dapat memengaruhi
keimanan seseorang selama orang tersebut masih muslim. Golongan Murji‗ah
tidak mau mengkafirkan orang yang telah masuk Islam, sekalipun orang
tersebut zalim, berbuat maksiat dan lain-lain, sebab mereka mempunyai
keyakinan bahwa dosa sebesar apa pun tidak dapat memengaruhi keimanan
seseorang selama orang tersebut masih muslim.
f. Aliran Murji‗ah juga menganggap bahwa orang yang lahirnya terlihat atau
menampakkan kekufuran, namun bila batinnya tidak, maka orang tersebut
tidak dapat dihukum kafir, sebab penilaian kafir atau tiaknya seseorang itu
tidak dilihat dari segi lahirnya namun tergantung batinnya. Sebab ketentuan
ada pada itikad seseorang dan bukan segi lahiriahnya.
E. Metode Kalam Murji’ah
Harun Nasution secara garis besar mengklasifikasikan Murji'ah menjadi dua sekte,
yaitu golongan moderat dan golongan ekstrem. Murji'ah moderat antara lain Hasan
bin Muhammad bin Ali bin Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli Hadits.
Adapun yang termasuk kelompok ekstrem adalah al-Jahmiyah, ash-Shaliyah, al-
Yunusiyah, al-Ubaidiyah, dan al-Hasaniyah.
1. Doktrin-Doktrin Murji'ah
Golongan Murji'ah moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar
bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan dihukum dalam neraka
sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya dan ada kemungkinan bahwa
7
Allah Swt. akan mengampuni dosanya dan oleh karena itu tidak akan masuk
neraka sama sekali. Jadi bagi golongan ini, orang Islam yang berdosa besar akan
tetap mukmin.
Adapun Murji'ah Murni, menurut Al-Syahrastani terdiri dari 6 kelompok
yaitu:
a. Yunusiyyah
Kelompok Yunusiyyah merupakan pengikut Yunus bin 'Aun Al-
Numairi yang mempertahankan bahwa Iman meliputi pengenalan
terhadap Allah dan penyerahan diri kepada-Nya, meninggalkan.
kesombongan, dan mencintai Allah di dalam kalbu.
b. 'Ubaidiyyah
Kelompok Ubaidiyyah adalah para pengikut Ubaid Al-Mukta'ib. Ia
berpandangan bahwa semua dosa selain syirik pasti akan diampuni.
Apabila ada yang meninggal sebagai seorang yang mengesakan atau
muwahhid, tidak ada dosa yang ia lakukan atau kejahatan yang telah ia
kerjakan akan menghancurkan.
c. Ghassaniyah
Kelompok Ghassaniyah adalah para pengikut Ghassan Al-Kufi yang
mempertahankan bahwa keimanan meliputi pengetahuan terhadap
Allah dan nabi-Nya, bersama dengan pengakuan mengenai apa yang
telah diwahyukan Allah dan apa yang telah dibawa oleh nabi
Muhammad.
d. Tsaubaniyyah
Kelompok Tsaubaniyyah adalah para pengikut Abu Tsauban yang
mempertahankan bahwa Iman adalah pengetahuan dan penerimaan
Allah serta nabi- nabi-Nya, dan segala sesuatu yang dilarang oleh akal
untuk tidak dilaksanakan. Namun apapun alasan untuk
memanifestasikan yang bukan kewajiban itu bukanlah dari Iman.
Menurutnya, semua amal perbuatan adalah bersifat sekunder dari
Iman.
e. Taumaniyyah
Kelompok Taumaniyyat adalah para pengikut Abu Mu'adz Al-Taumani
yang berkeyakinan bahwa iman adalah sesuatu yang melindungi
8
seseorang dari kekafiran. Dia juga berpendapat bahwa jika seseorang
melakukan tindakan pembangkangan, berat atau ringan, tentang
sesuatu yang tidak disepakati oleh umat Islam bahwa hal itu adalah
kekafiran, ia tidak menjadi fasik, meskipun dapat dikatakan bahwa dia
telah melampaui batas dan membangkang.
Kelompok ini menekankan bahwa iman adalah pengakuan dalam hati
dan dengan lisan, sedangkan kekafiran adalah keengganan dan
penolakan. Menyembah matahari, bulan dan berhala-berhala bukanlah
kekafiran dengan sendirinya, tetapi merupakan tanda kekafiran.
f. Shalihiyyah
Kelompok Shalihiyyah adalah para pengikut Shalih ibn Umar Al-
Shalihi yang berpandangan. bahwa iman merupakan pengenalan akan
Allah secara umum, yakni mengetahui bahwa alam ini memiliki
pencipta. Kekafiran adalah ketidaktahuan. yang sepele terhadap Tuhan.
Jika seseorang mengatakan bahwa Allah adalah "Satu dari Tiga" hal ini
sendiri bukanlah kekafiran, meskipun itu hanya akan dikatakan oleh
orang-orang yang kafir.
9
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dapat saya simpulkan murji’ah adalah aliran dalam Islam yang muncul sebagai
respons terhadap perpecahan setelah wafat Nabi Muhammad, berfokus pada penangguhan
hukuman bagi pelaku dosa besar hingga hari kiamat. Mereka menekankan bahwa iman
tidak akan hilang meski seseorang melakukan dosa, asalkan ia tetap mengakui keesaan
Allah. Murji’ah muncul sebagai posisi netral antara Khawarij dan Syi’ah, yang
berkontribusi pada perkembangan teologi dan politik dalam Islam. Tokoh-tokoh seperti
Abu Hanifah dan Hasan bin Muhammad bin Ali menjadi perwakilan aliran ini, yang
membedakan antara tampak dan batin dalam penilaian iman. Ajaran utama Murji’ah
berfokus pada iman kepada Allah dan utusan-Nya serta keyakinan bahwa Allah memiliki
hak mutlak untuk mengampuni atau menghukum hamba-Nya.
B. SARAN
Jika dianggap perlu, maka penulis membuka diri untuk menerima saran dan masukan
yang membangun demi keluasan pembahasan masalah di dalam makalah ini. Dan atas
perhatian semua pihak penulis ucapkan terima kasih.
10
DAFTAR PUSTAKA