BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu kewajiban bagi setiap manusia, terutama bagi
mereka yang berada dalam usia sekolah. Ada beberapa pendapat yang
mengemukakan tentang pengertian belajar. Menurut Darsono (2000:4) belajar
yaitu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan yang maknanya adalah pengalaman. Pengertian belajar secara umum
yaitu terjadinya perubahan dalam diri orang yang belajar karena pengalaman
(Darsono, 2000: 4).
Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau
pemahaman. Dengan demikian, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa
untuk menggunakannya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar
memang ada pada diri siswa, tetapi guru juga perlu menciptakan situasi yang
mendorong prakarsa, motifasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar.
Pengertian belajar secara psikologis yaitu proses perubahan tingkah laku
sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya (Slameto, 2003:2). Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam diri
seseorang sebagai hasil dari pengalamannya dalam interaksi dengan
lingkungannya (Slameto, 2003:4). Menurut Darsono (2000: 30), ciri-ciri belajar
antara lain: belajar dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan, belajar
merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan, dan merupakan
proses interaksi antara individu dan lingkungan. Belajar juga mengakibatkan
terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar.
Berdasarkan pengertian belajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan lingkungan
sehingga menimbulkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
2. Prinsip-prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar adalah hal yang sangat penting yang harus ada
dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam belajar diperlukan prinsip belajar
karena sangat mempengaruhi siswa dalam belajarnya. Prinsip belajar akan
menjadi pedoman bagi siswa dalam belajar. Menurut Gagne (Rifa’I 2009: 95)
terdapat tiga prinsip yang menjadi kondisi internal yang harus ada pada diri
siswa. Ketiga prinsip itu harus dimiliki siswa sebelum melakukan kegiatan belajar
baru, ketiga prinsip itu adalah:
1) Informasi faktual, informasi ini dapat diperoleh melalui tiga cara yaitu
(1) dikomunikasikan kepada siswa; (2) dipelajari oleh peserta didik
sebelum melalui belajar baru; dan (3) dilacak dari memori, karena informasi
itu tela dipelajari dan disimpan di dalam memori selama berbulan-bulan atau
bertahun-tahun yang lalu.
2) Kemahiran intelektual, pembelajaran harus memiliki berbagai cara dalam
mengajarkan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan simbol-simbol bahasa
dan lainnya, untuk mempelajari hal-hal yang baru.
3) Strategi, setiap aktivitas belajar memerlukan pengaktifan strategi belajar dan
mengingat. Pembelajaran harus mampu menggunakan strategi untuk
menghasilkan stimulus yang kompleks, memilih dan membuat kode bagian-
bagian stimulus, memecahkan masalah, dan melacak kembali informasi yang
telah dipelajari.
Selain tiga prinsip belajar yang berhubungan dengan kondisi internal,
Gagne juga mengakui beberapa prinsip belajar yang berhubungan dengan kondisi
eksternal pembelajar. Beberapa prinsip tersebut menurut Rifa’I (2009: 95) adalah:
1) Keterdekatan, bahwa situasi stimulus yang hendak direspon oleh siswa
harus disampaikan sedekat mungkin waktunya dengan respon yang
diinginkan.
2) Pengulangan, bahwa situasi stimulus dan responnya perlu diulang-ulang atau
diperhatikan, agar belajar dapat diperbaiki dan meningkat resistensi belajar.
3) Penguatan, bahwa belajar sesuatu yang baru akan diperkuat apabila
belajar yang lalu diikuti oleh perolehan hasil yang menyenangkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip-
prisip belajar dibagi menjadi dua, yaitu prinsip belajar yang dipandang sebagai
kondisi internal dan prinsip belajar yang dipandang sebagai kondisi eksternal.
Prinsip belajar yang dipandang sebagai kondisi internal, yaitu (a) informasi
faktual; (b) kemahiran intelektual; dan (c) strategi. Sedangkan prinsip belajar
yang dipandang sebagai kondisi eksternal,yaitu:(a) keterdekatan;(b)
pengulangan; dan (c) penguatan.
3. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan uraian untuk menjawab pertanyaan “Apa
yang harus digali, dipahami,dan dikerjakan oleh siswa?” Hasil belajar ini
merefleksikan keleluasaan, kedalaman, dan kompleksitas (secara bergradasi) dan
digambarkan secara jelas serta dapat diukur dengan teknik-teknik penilaian
tertentu. Perbedaan tentang kompetensi dan hasil belajar terdapat pada batasan
dan patokan-patokan kinerja siswa yang dapat diukur (Sugandi, 2006: 63).
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2006: 5). Sedangkan menurut Hamalik
(1983: 155) hasil belajar tampak terjadinya perubahan tingkah laku pada diri
siswa yang dapat diamati, diukur dalam perubahan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah
menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2002: 22). Hasil belajar merupakan
perubahan tingkah laku yang baru setelah melalui proses belajar. Perolehan
aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari
oleh pembelajar.
Menurut Darsono (2000: 20), hasil belajar siswa merupakan suatu puncak
proses pembelajaran. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru.
Nana Sudjana (2006: 22) menyatakan bahwa proses penilaian terhadap hasil
belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam
upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Oleh karena
itu penilaian hasil belajar mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar.
Dalam sistem pendidikan nasional, hasil belajar dibagi menjadi tiga
domain yaitu domain (ranah kognitif), domain (ranah afektif), domain (ranah
psikomotor). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Bloom (Hamzah B. Uno, 2008:
35) yang mengemukakan bahwa hasil belajar terdiri dari:
a. Domain Kognitif
Kawasan Kognitif adalah kawasan membahas tujuan pembelajaran dengan
proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan ketingkat yang lebih tinggi
yakni evaluasi. Kawasan kognitif terdiri dari 6 tingkatan, yaitu:
1. Tingkat pengetahuan(knowledge), diartikan kemampuan seseorang dalam
menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali pengetahuan
yang pernah diterimanya.
2. Pemahaman (comprehension), diartikan kemampuan seseorang dalam
mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan sesuatu
dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.
3. Tingkat penerapan (application), diartikan kemampuan seseorang dalam
menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang
timbul di kehidupan sehari-hari.
4. Tingkat analisis (analysis), diartikan kemampuan menjabarkan atau
menguraikan suatu konsep menjadi bagian-bagian yang lebih rinci,
memilah-milih, merinci, mengaitkan hasil rinciannya.
5. Tingkat sintetis (synthetis), diartikan kemampuan menyatukan bagian-
bagian secara terintegrasi menjadi suatu bentuk tertentu yang semula
belum ada.
6. Tingkat evaluasi (evaluation), diartikan kemampuan membuat penilaian
judgment tentang nilai (value) untuk maksud tertentu.
b. Domain Afektif
Kawasan afektif adalah satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-
nilai interest, apresiasi atau penghargaan dan penyesuaian perasaan sosial.
Tingkatan afektif ini ada 5, yaitu: (1) Kemauan menerima, (2) Kemauan
menanggapi, (3) Berkeyakinan, (4) Penerapan karya, (5) Ketekunan dan
ketelitian.
c. Domain Psikomotor
Kawasan psikomotor berkaitan dengan ketrampilan atau skill yang
bersikap manual atau motorik. Tingkatan psikomotor ini meliputi: (1) Persepsi,
(2) Kesiapan melakukan suatu kegiatan, (3) Mekanisme, (4) Respon terbimbing,
(5) Kemahiran, (6) Adaptasi, (7) Organisasi.
Berdasarkan uraian di atas hasil belajar semua mengacu terhadap
perubahan siswa setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar
diperoleh setelah siswa mengalami berbagai kegiatan belajar yang menyebabkan
perubahan dalam dirinya. Hasil belajar siswa dapat diukur dengan kriteria
atau patokan-patokan tertentu. Dalam pengukuran hasil belajar siswa dibatasi
yaitu dari ranah kognitif pada aspek pengetahuan, pemahaman yang dinilai
melalui evaluasi yang diberikan oleh gur kepada siswa dalam bentuk tes. Dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku atau kemampuan
siswa setelah menerima pengalaman belajar yang dapat diukur. Perubahan dalam
hal ini adalah perubahan menjadi lebih baik.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Gino (1993: 30) hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain:
a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri siswa. Faktor ini
terdiri dari dua aspek yaitu aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) misal
kondisi fisik yang sakit-sakitan. Dan aspek psikologis (yang berssifat rohaniah)
misalnya kecerdasan, bakat, minat, motivasi, dan emosional.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar yang dapat
mempengaruhi hasil belajar siswa, antara lain kondisi lingkungan disekitar siswa
yang meliputi lingkungan sosial dan lingkungan non sosial. Lingkungan
sosial sekolah seperti guru, dan teman- teman sekolahnya. Sedangkan faktor
lingkungan non sosial misalnya gedung sekolah, tempat tinggal dan waktu belajar
yang digunakan belajar. Karena faktor-faktor tersebut, maka hasil belajar masing-
masing siswa berbeda antara siswa yang satu denga siswa yang lainnya.
Sedangkan menurut Ani (2006: 13) menyatakan bahwa seperangkat faktor
yang memberikan kontribusi belajar adalah kondisi fisik, seperti kesehatan organ
tubuh, kondisi psikis seperti kemampuan intelektual, emosional dan kondisi
sosial, seperti kemampuan intelektual, emosional, dan kondisi sosial, seperti
kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Kesempurnaan dalam kondisi
internal yang dimiliki oleh siswa akan berpengaruh dalam kesiapan, proses, dan
hasil belajar.
Dari beberapa pendapat para ahli mengenahi faktor-faktor di atas maka
dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dapat dipengaruhi oleh dua faktor utama
yaitu faktor internal dan faktor eksternal, yang mana faktor internal merupakan
faktor-faktor yang bersumber dari individu masing-masing siswa, sedangkan
faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar individu siswa itu
sendiri. Berkaitan dengan proses belajar mengajar ada satu faktor penting yang
sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yaitu pemilihan metode
pembelajaran. Faktor ini sangat penting karena pemilihan metode pembelajaran
yang tepat oleh guru akan mempengaruhi hasil belajar siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran.
Metode pembelajaran harus dibuat sedemikian menarik, sehingga siswa
tidak bosan dan jenuh dalam pembelajaran tersebut. Selain penyusunan
metode pembelajaran yang baik, juga diperlukan beberapa variasi cara
mengajar guru untuk meminimalisir tingkat kejenuhan dan kebosanan siswa
dalam suatu proses pembelajaran.
B. Pembelajaran IPS Sekolah Dasar
1. Pengertian Pembelajaran IPS
Peristiwa belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan dalam kehidupan manusia. Kegiatan belajar yang disertai dengan
proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang
hanya semata-mata dan pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat.
Pembalajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang bernuansa agar
program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Pembelajaran perlu
memberdayakan potensi siswa untuk menguasai kompetensi yang diharapkan
(Sanjaya, 2010: 103). Pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan
kepada si belajar untuk berfikir agar memahami apa yang dipelajari (Sugandi,
2006: 9). Peristiwa pembelajaran merupakan proses interaksi mempengaruhi si
belajar sehingga memperoleh kemudahan dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan siswa,
dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah
menuju pada suatu target yang telah diterapkan sebelumnya. Menurut Isjoni
(2008: 11), pembelajaran adalah suatu yang dilakukan oleh siswa, bukan
dibuat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik
untuk membantu siswa melakukan kegiatan belajar.
Berdasarkan uraian tersebut bahwa pembelajaran itu menunjukan pada
usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu usaha agar menciptakan kondisi
yang memudahkan siswa untuk belajar dan memperdayakan potensinya sehingga
menguasai kompetensi secara optimal.
Menurut Nasution (1982) Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan suatu
program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan, yang pada pokoknya
mempersoalkan manusia dalam lingkungan fisik maupun dalam lingkungan
sosial, dan bahannya diambil dari berbagai ilmu-ilmu sosial : geografi, sejarah,
ekonomi, antropologi, politik, dan psikologi sosial. IPS lahir dari keinginan para
pakar pendidikan untuk “membekali” para siswa supaya nantinya mereka mampu
menghadapi dan menangani kompleksitas dimasyarakat yang seringkali
berkembang secara tidak terduga.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang
standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dimana terdapat salah
satu tujuan yaitu agar siswa memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis
dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam
kehidupan social.
2. Pembelajaran IPS di SD
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006
Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah,
Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan untuk
dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung
jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Dimasa yang akan datang siswa akan
menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu
mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang
untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis
terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat
yang dinamis.
Menurut Rudy Gunawan (2011: 39) menyatakan bahwa: “IPS merupakan
salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang mengkaji seperangkat
peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial”. Ilmu
pengetahuan sosial sebagai mata pelajaran tidak semata membekali ilmu saja
lebih dari itu membekali juga sikap atau nilai dan keterampilan dalam hidup
bermasyarakat sehingga mereka mengetahui benar lingkungan, masyarakat dan
bangsanya dengan berbagai karakteristiknya. Dengan demikian, IPS sebagai suatu
mata pelajaran di SD bertolak dari kondisi nyata di masyarakat dengan tujuan
untuk memanusiakan manusia (siswa) melalui hubungan seluruh aspek
manusia agar mereka tidak merasa asing dilingkungan masyarakatnya sendiri.
Dalam pedoman penyusunan KTSP SD bahwa Mata Pelajaran IPS disusun
secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju
kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan
pendekatan tersebut diharapkan siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih
luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.
Menurut Rudy Gunawan (2011: 38) berpendapat bahwa:
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD hendaknya
memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak
dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam
perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan
kongkret operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang
utuh, dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih
jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (kongkrit), dan bukan masa
depan yang belum bisa mereka pahami (abstrak).
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS SD mengkaji seperangkat
peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial,
memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Sistem pengajarannya
menelaah dan mengkaji gejala atau masalah sosial dan berbagai aspek
kehidupan sosial, serta pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial
masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
3. Tujuan Pembelajaran IPS di SD
Mata pelajaran IPS di sekolah dasar merupakan program pengajaran yang
bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap masalah sosial
yang terjadi dimasyarakat, memilki sikap mental positif terhadap perbaikan
segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang
terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa
masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran
IPS di sekolah diorganisasikan secara baik.
Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tercantum
bahwa tujuan IPS adalah :
a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat
dan lingkungannya.
b. Memilki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin
tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan
sosial.
c. Memilki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan.
d. Memilki kemampuan untuk berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi
dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional dan global.
Sedangkan tujuan khusus pengajaran IPS disekolah dalam kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dapat dikelompokkan menjadi empat
komponen yaitu:
a. Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman
manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang dan
masa akan datang.
b. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan (skill) untuk
mencari dan mengolah informasi.
c. Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap demokrasi dalam
kehidupan bermasyarakat.
d. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian /
berperan serta dalam bermasyarakat.
Tujuan pembelajaran IPS adalah membantu tumbuhnya siswa yang baik
dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbagai segi kehidupan dimulai
dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya. Akan tetapi
secara lebih khusus pada tujuan yang tertera pada KTSP, bahwa salah satunya
adalah mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat
dan lingkungan.
Mengenal konsep-konsep memerlukan pemahaman yang mendalam, oleh
karena itu pemahaman suatu konsep dengan baik sangatlah penting bagi siswa,
agar dapat mamahami suatu konsep, siswa harus membentuk konsep sesuai
dengan stimulus yang diterimanya dari lingkungan atau sesuai dengan
pengalaman yang diperoleh dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman-pengalaman
yang harus dilalui oleh siswa merupakan serangkaian kegitan pembelajaran yang
dapat menunjang terbentuknya konsep-konsep tersebut. Karena itu guru harus
bisa menyusun pembelajaran yang di dalamnya berisi kegiatan-kegiatan belajar
siswa yang sesuai dengan konsep-konsep yang akan dibentuknya.
4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran IPS Kelas III
Semester 1
Adapun standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
IPS untuk siswa kelas III semester I adalah sebagai berikut Tabel 1. Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran IPS Kelas III semester I SD
Tahun Ajaran 2016/2017.
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami lingkungan dan 1.1. Menceritakan lingkungan alam
melaksanakan kerja sama di dan buatan di sekitar rumah dan
sekitar rumah dan sekolah sekolah
1.2. Memelihara lingkungan alam
dan buatan di sekitar rumah
1.3. Membuat denah dan peta
lingkungan rumah dan sekolah
1.4. Melakukan kerja sama di
lingkungan rumah, sekolah, dan
kelurahan/desa
Pokok bahasan IPS kelas III semester I pada materi membuat denah dan
peta lingkungan rumah dan sekolah antara lain yaitu lingkungan, lingkungan
alam, lingkungan buatan, dan memelihara lingkungan.
Agar pembelajaran IPS dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan
tujuan yang telah dikemukakan di atas, maka pembelajaran IPS harus melibatkan
siswa secara aktif dalam pembelajaran IPS. Guru harus pandai memilih dan
menggunakan model atau metode pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran
IPS, sehingga siswa dapat memahami materi yang telah diajarkan. Dalam
pembelajaran IPS ini siswa juga diharapkan dapat menjadi anggota masyarakat
yang produktif, aktif berpatisipasi dalam masyarakat, mempunyai rasa tanggung
jawab, suka tolong menolong dengan sesamanya, serta mampu mengembangkan
ide-ide atau gagasan dalam bermasyarakat. Dengan demikian metode peta konsep
dimana siswa dilatih dalam memberikan suatu ide-ide dalam pembelajaran IPS
dan dapat mewujudkan tujuan pembelajaran IPS. Adapula kompetensi dasar yang
dipakai dalam penelitian ini adalah Memahami lingkungan dan melaksanakan
kerja sama di sekitar rumah dan sekolah.
C. Metode Peta Konsep
1. Pengertian Peta Konsep
Konsep dapat didefinisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah
satunya adalah definisi yang dikembangkan Carrol (Kardi 1997: 2) bahwa
konsep yang merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang
didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. Abstraksi berarti
suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan
mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain.
Doran, dkk: Iskandar (2004:12) peta konsep adalah diagram yang
dibentuk atau disusun untuk menunjukan pemahaman seseorang tentang suatu
konsep atau gagasan yang mempunyai struktur berjenjang dari yang bersifat
umum menuju yang bersifat khusus dilengkapi dengan garis-garis penghubung
yang sesuai. Peta konsep merupakan cara yang dinamik untuk menangkap butir-
butir pokok informasi dalam bentuk proporsi melalui proses belajar alamiah
dan berfikir. Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep yang
penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu.
Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip,
yaitu diferensi progresif dan penyesuaian integratif diferensiasi progresif
adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami.
Pembuatan suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide
kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam
suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang
peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Agar pemahaman
terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1988: 153) mengemukakan ciri-ciri
peta konsep sebagai berikut:
1. Peta konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep- konsep dan
proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia,
biologi matematika, dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep
siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu
lebih bermakna.
2. Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang
studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang
memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep.
Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara
mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.
3. Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara
konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini
berarti bahwa ada beberapa konsep yang inklusif dari pada konsep-konsep
lain.
4. Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di
bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta
konsep tersebut.
Menurut Dahar (1988: 154) peta konsep memegang peranan penting
dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta
konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah
berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep:
1. Mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.
2. Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide
utama.
3. Menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut.
4. Mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara
visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.
Menurut Alief (Novak dan Gowin, 1985), untuk siswa SD kelas 1 sampai
kelas 3, diperkenalkan dengan cara sederhana, misalnya dengan mendefinisikan
konsep obyek dari kejadian. Sedangkan untuk siswa SD kelas 4 hingga kelas 6,
dapat diperkenalkan melalui strategi pengenalan peta konsep.
Langkah-langkah dalam memperkenalkan metode peta konsep kepada
siswa sebagai berikut:
1. Siswa bersama guru memahami suatu ide, hal ini merupakan cara yang
baik untuk menolong siswa belajar yang bermakna, yaitu membimbing
mereka untuk melihat peranan konsep dan hubungan antara konsep yang
terdapat di dalam pikiran dan lingkungan eksternal mereka,
2. Siswa dibimbing oleh guru untuk mencari konsep-konsep yang spesifik,
baik dari segi materi tertulis maupun dari segi materi yang akan
disampaikan secara lisan, kemudian mencari hubungan diantara konsep-
konsep itu. Konsep-konsep yang dirangkaikan oleh kata-kata penghubung
(linking words) merupakan unit-unit bahasa yang mengungkapkan makna
yang penting,
3. Siswa ditekankan dan dimbimbing guru bahwa peta konsep
mengungkapkan suatu cara menggambarkan konsep-konsep, dan
hubungan diantara konsep tersebut. Manusia pada umumnya mempunyai
ingatan yang kurang baik atau terbatas terhadap hal-hal yang spesifik
(yang bersifat recal), disinilah peranan dari peta konsep dalam
mempermudahkan pembelajaran dan mengingat kembali materi yang telah
disampaikan secara baik. Peta konsep mempunyai potensi meningkatkan
kemampuan manusia untuk mengenal pola-pola yang memberikan
kemudahan pada sat pembelajaran.
Hasil belajar yang optimal dapat tercapai bila ada sesuatu yang diingat
dan dipahami yang diperlukan untuk proses belajar selanjutnya. Dari beberapa
definisi di atas bahwa peta konsep merupakan suatu cara penyajian konsep atau
gagasan pokok yang disusun secara berjenjang dari yang bersifat umum menuju
khusus peta konsep dilengkapi dengan garis- garis penghubung yang sesuai.
Dalam peta konsep dapat ditempatkan suatu susunan yang nyata, dengan cara
menghubungkan konsep-konsep yang ada. Peta konsep yang lengkap harus
menyajikan konsep atau gagasan pokok dengan hubungan yang sesuai dan
mengungkapkan pola pandang tunggal yang mempunyai hubungan timbal balik.
Diharapkan dengan peta konsep daya ingat siswa dapat ditingkatkan. Penggunaan
peta konsep dalam proses belajar mengajar lebih menuntun peran aktif para siswa.
2. Keunggulan Metode Peta Konsep
Menurut Tony (2005: 6) bahwa metode peta konsep atau Mind Map
memiliki beberapa keunggulan, yaitu:
a. Mengaktifkan seluruh otak,
b. Membereskan akal dari kesusutan akal,
c. Memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan,
d. Membantu menunjukan hubungan antara bagian-bagian informasi yang
saling terpisah,
e. Memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan perincian,
f. Memungkinkan kita mengelompokan konsep, membantu kita
membandingkannya,
g. Mengisyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang
membantu mengalihkan informasi tentangnya dari ingatan jangka pendek ke
ingatan jangka panjang.
3. Strategi Penerapan Metode Peta Konsep dalam Pembelajaran
Secara aplikatif, strategi penerapan peta konsep dalam upaya
meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa, memiliki strategi
memperkenalkan peta konsep mencakup dua aktivitas menurut Alief (Novak dan
Gowin, 1985) mempersiapkan peta konsep yang meliputi kegiatan sebagai
berikut: (1) buatlah daftar kata-kata yang cukup dikenal oleh siswa pada papan
tulis untuk objek-objek dan kejadian/peristiwa misalnya kata lingkungan alam dan
lingkungan buatan; (2) tanyakanlah kepada siswa, bagaimanakah mereka
menggambarkan hubungan apabila mereka mendengarkan kata lingkungan alam
dan lingkungan buatan. (3) buatlah daftar kata-kata penghubung seperti adalah,
dengan, berupa, sehingga, dapat. Tanyakan kepada siswa, apa saja yang mereka
pikirkan tentang kata-kata tersebut. Kata-kata tersebut bukan kata-kata konsep
melainkan kata penghubung bila mana dirangkaikan dengan kata konsep akan
membentuk kalimat yang bermakna. (4) buatlah beberapa kalimat pendek yang
menggambarkan rangkaian kata-kata konsep dan kata penghubung sehingga dapat
bermakna. (5) siswa ditugaskan untuk membuat kalimat-kalimat pendek dari
konsep-konsep dan kata penghubung yang diberikan. (6) pilihlah materi dari
buku yang sesuai dengan penggunaan metode peta konsep, kemudian materi
tersebut dibaca oleh siswa, selanjutnya siswa ditugaskan untuk mencari
konsep kunci, kemudian siswa akan ditugaskan untuk mencatat konsep yang
mereka temukan serta menghubungkan dengan kata penghubung yang sesuai
sehingga terbentuklah suatu kalimat yang bermakna.
D. Karakteristik Anak SD
Karakteristik anak sekolah dasar terkait dengan metode terpadu di dalam
pembelajaran IPS. Karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui
para guru, agar lebih mengetahui keadaan siswa khususnya ditingkat Sekolah
Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai
dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik
mengetahui karakteristik siswanya.
Karakteristik anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/
memperagakan sesuatu secara langsung. Ditinjau dari teori perkembangan
kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang
dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep- konsep baru dengan
konsep-konsep lama. Berdasarkan pengalaman ini, siswa membentuk konsep-
konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi- fungsi badan, serta jenis kelamin,
moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran
akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan
memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung
dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian pemahaman terhadap karakteristik anak SD dapat
dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD, dan untuk
menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan
kebutuhan perkembangan anak itu sendiri.
Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang
berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua
belas tahun. Karakteristik utama anak sekolah dasar adalah mereka menampilkan
perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya,
perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa,
perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut Indah (Thornburg 1984) anak sekolah dasar merupakan individu
yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya.
Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental
mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan
sosial maupun non sosial meningkat.
Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama
yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku
mendekati tingkah laku anak remaja permulaan Berdasarkan uraian di atas, siswa
sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak
mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta yang
dilihatnya, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objek-
objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi.
Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru
diharapkan untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang
akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di
lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang
dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa
hendaknya diberi kesempatan untuk proaktif dan mendapatkan pengalaman
langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.
E. Kerangka Pikir
Pada kenyataannya pelajaran IPS sering dianggap sebagai mata
pelajaran yang membosankan. Indikasi tersebut dapat dilihat dari hasil
belajar siswa yang kurang memuaskan. Pembelajaran yang biasa diterapkan
selama ini menggunakan metode pembelajaran konvensional, dimana
pembelajaran berpusat pada guru, siswa pasif dan kurang terlibat dalam
pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kejenuhan yang berakibat
kurangnya minat dan dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil
belajar akan meningkat apabila kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara
bervariasi melalui penerapan berbagai metode pembelajaran.
Berkenaan dengan hal tersebut perlu dicari model pembelajaran alternatif
yang dapat menciptakan pembelajaran yang mampu menempatkan siswa sebagai
subjek didik (pembelajaran aktif, kreaktif, dan menyenangkan), yang dapat
meningkatkan hasil belajar sehingga prestasi belajar dapat meningkat. Metode
peta konsep merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi masalah tersebut.
Metode pembelajaran ini merupakan sebuah pemahaman konsep yang ditunjukan
untuk perbaikan proses pembelajaran, dimana partisipasi aktif siswa dalam proses
pembelajaran sangat ditekankan sehingga tidak berjalan satu arah, dan
terdapat timbal balik antara guru dengan siswa. Selain itu, dengan karakteristik
siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak
mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terika.
pada fakta-fakta yang dilihatnya, artinya anak mampu berfikir logis, akan
tetapi masih terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan
konservasi. Maka metode peta konsep ini harus menyajikan konsep atau gagasan
pokok dengan hubungan yang sesuai dan mengungkapkan pola pandang tunggal
yang mempunyai hubungan timbal balik. Sehingga cara ini menjamin
keterlibatan total semua siswa untuk memahami konsep materi yang telah
diajarkan dan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Melalui penelitian ini akan dibuat mekanisme pembelajaran dengan
menggunakan satu metode pembelajaran yang diterapkan pada satu kelas
eksperimen dengan menggunakan metode peta konsep. Untuk mengetahui apakah
ada peningkatan hasil belajar IPS antara sebelum menggunakan metode peta
konsep dengan sesudah menggunakan metode peta konsep.
F. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir di atas, maka sebelum
dilakukan pengambilan data, dalam penelitian dirumuskan terlebih dahulu
hipotesis tindakan sebagai dugaan awal penelitian yaitu: “metode peta konsep
dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas III SD Negeri 4
Teunom Kabupaten Aceh Jaya tahun pelajaran 2016/2017”.