0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan24 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang hasil belajar dan pembelajaran IPS di sekolah dasar, termasuk pengertian belajar, prinsip-prinsip belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Hasil belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku siswa setelah proses belajar yang dapat diukur, sedangkan pembelajaran IPS bertujuan untuk mempersiapkan siswa menghadapi kompleksitas sosial. Pembelajaran harus dirancang agar menarik dan relevan dengan kehidupan siswa untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka.

Diunggah oleh

Ujong Kuta
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan24 halaman

Bab Ii

Dokumen ini membahas tentang hasil belajar dan pembelajaran IPS di sekolah dasar, termasuk pengertian belajar, prinsip-prinsip belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Hasil belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku siswa setelah proses belajar yang dapat diukur, sedangkan pembelajaran IPS bertujuan untuk mempersiapkan siswa menghadapi kompleksitas sosial. Pembelajaran harus dirancang agar menarik dan relevan dengan kehidupan siswa untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka.

Diunggah oleh

Ujong Kuta
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Hasil Belajar

1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu kewajiban bagi setiap manusia, terutama bagi

mereka yang berada dalam usia sekolah. Ada beberapa pendapat yang

mengemukakan tentang pengertian belajar. Menurut Darsono (2000:4) belajar

yaitu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan

lingkungan yang maknanya adalah pengalaman. Pengertian belajar secara umum

yaitu terjadinya perubahan dalam diri orang yang belajar karena pengalaman

(Darsono, 2000: 4).

Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau

pemahaman. Dengan demikian, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa

untuk menggunakannya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar

memang ada pada diri siswa, tetapi guru juga perlu menciptakan situasi yang

mendorong prakarsa, motifasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar.

Pengertian belajar secara psikologis yaitu proses perubahan tingkah laku

sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan

hidupnya (Slameto, 2003:2). Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam diri

seseorang sebagai hasil dari pengalamannya dalam interaksi dengan

lingkungannya (Slameto, 2003:4). Menurut Darsono (2000: 30), ciri-ciri belajar

antara lain: belajar dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan, belajar

merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan, dan merupakan


proses interaksi antara individu dan lingkungan. Belajar juga mengakibatkan

terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar.

Berdasarkan pengertian belajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar

merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan lingkungan

sehingga menimbulkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

2. Prinsip-prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar adalah hal yang sangat penting yang harus ada

dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam belajar diperlukan prinsip belajar

karena sangat mempengaruhi siswa dalam belajarnya. Prinsip belajar akan

menjadi pedoman bagi siswa dalam belajar. Menurut Gagne (Rifa’I 2009: 95)

terdapat tiga prinsip yang menjadi kondisi internal yang harus ada pada diri

siswa. Ketiga prinsip itu harus dimiliki siswa sebelum melakukan kegiatan belajar

baru, ketiga prinsip itu adalah:

1) Informasi faktual, informasi ini dapat diperoleh melalui tiga cara yaitu

(1) dikomunikasikan kepada siswa; (2) dipelajari oleh peserta didik

sebelum melalui belajar baru; dan (3) dilacak dari memori, karena informasi

itu tela dipelajari dan disimpan di dalam memori selama berbulan-bulan atau

bertahun-tahun yang lalu.

2) Kemahiran intelektual, pembelajaran harus memiliki berbagai cara dalam

mengajarkan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan simbol-simbol bahasa

dan lainnya, untuk mempelajari hal-hal yang baru.

3) Strategi, setiap aktivitas belajar memerlukan pengaktifan strategi belajar dan

mengingat. Pembelajaran harus mampu menggunakan strategi untuk

menghasilkan stimulus yang kompleks, memilih dan membuat kode bagian-


bagian stimulus, memecahkan masalah, dan melacak kembali informasi yang

telah dipelajari.

Selain tiga prinsip belajar yang berhubungan dengan kondisi internal,

Gagne juga mengakui beberapa prinsip belajar yang berhubungan dengan kondisi

eksternal pembelajar. Beberapa prinsip tersebut menurut Rifa’I (2009: 95) adalah:

1) Keterdekatan, bahwa situasi stimulus yang hendak direspon oleh siswa

harus disampaikan sedekat mungkin waktunya dengan respon yang

diinginkan.

2) Pengulangan, bahwa situasi stimulus dan responnya perlu diulang-ulang atau

diperhatikan, agar belajar dapat diperbaiki dan meningkat resistensi belajar.

3) Penguatan, bahwa belajar sesuatu yang baru akan diperkuat apabila

belajar yang lalu diikuti oleh perolehan hasil yang menyenangkan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip-

prisip belajar dibagi menjadi dua, yaitu prinsip belajar yang dipandang sebagai

kondisi internal dan prinsip belajar yang dipandang sebagai kondisi eksternal.

Prinsip belajar yang dipandang sebagai kondisi internal, yaitu (a) informasi

faktual; (b) kemahiran intelektual; dan (c) strategi. Sedangkan prinsip belajar

yang dipandang sebagai kondisi eksternal,yaitu:(a) keterdekatan;(b)

pengulangan; dan (c) penguatan.

3. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan uraian untuk menjawab pertanyaan “Apa

yang harus digali, dipahami,dan dikerjakan oleh siswa?” Hasil belajar ini

merefleksikan keleluasaan, kedalaman, dan kompleksitas (secara bergradasi) dan


digambarkan secara jelas serta dapat diukur dengan teknik-teknik penilaian

tertentu. Perbedaan tentang kompetensi dan hasil belajar terdapat pada batasan

dan patokan-patokan kinerja siswa yang dapat diukur (Sugandi, 2006: 63).

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar

setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2006: 5). Sedangkan menurut Hamalik

(1983: 155) hasil belajar tampak terjadinya perubahan tingkah laku pada diri

siswa yang dapat diamati, diukur dalam perubahan pengetahuan, sikap, dan

keterampilan. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah

menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2002: 22). Hasil belajar merupakan

perubahan tingkah laku yang baru setelah melalui proses belajar. Perolehan

aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari

oleh pembelajar.

Menurut Darsono (2000: 20), hasil belajar siswa merupakan suatu puncak

proses pembelajaran. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru.

Nana Sudjana (2006: 22) menyatakan bahwa proses penilaian terhadap hasil

belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam

upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Oleh karena

itu penilaian hasil belajar mempunyai peranan yang penting dalam proses belajar.

Dalam sistem pendidikan nasional, hasil belajar dibagi menjadi tiga

domain yaitu domain (ranah kognitif), domain (ranah afektif), domain (ranah

psikomotor). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Bloom (Hamzah B. Uno, 2008:

35) yang mengemukakan bahwa hasil belajar terdiri dari:

a. Domain Kognitif
Kawasan Kognitif adalah kawasan membahas tujuan pembelajaran dengan

proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan ketingkat yang lebih tinggi

yakni evaluasi. Kawasan kognitif terdiri dari 6 tingkatan, yaitu:

1. Tingkat pengetahuan(knowledge), diartikan kemampuan seseorang dalam

menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali pengetahuan

yang pernah diterimanya.

2. Pemahaman (comprehension), diartikan kemampuan seseorang dalam

mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, atau menyatakan sesuatu

dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.

3. Tingkat penerapan (application), diartikan kemampuan seseorang dalam

menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang

timbul di kehidupan sehari-hari.

4. Tingkat analisis (analysis), diartikan kemampuan menjabarkan atau

menguraikan suatu konsep menjadi bagian-bagian yang lebih rinci,

memilah-milih, merinci, mengaitkan hasil rinciannya.

5. Tingkat sintetis (synthetis), diartikan kemampuan menyatukan bagian-

bagian secara terintegrasi menjadi suatu bentuk tertentu yang semula

belum ada.

6. Tingkat evaluasi (evaluation), diartikan kemampuan membuat penilaian

judgment tentang nilai (value) untuk maksud tertentu.

b. Domain Afektif

Kawasan afektif adalah satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-

nilai interest, apresiasi atau penghargaan dan penyesuaian perasaan sosial.

Tingkatan afektif ini ada 5, yaitu: (1) Kemauan menerima, (2) Kemauan
menanggapi, (3) Berkeyakinan, (4) Penerapan karya, (5) Ketekunan dan

ketelitian.

c. Domain Psikomotor

Kawasan psikomotor berkaitan dengan ketrampilan atau skill yang

bersikap manual atau motorik. Tingkatan psikomotor ini meliputi: (1) Persepsi,

(2) Kesiapan melakukan suatu kegiatan, (3) Mekanisme, (4) Respon terbimbing,

(5) Kemahiran, (6) Adaptasi, (7) Organisasi.

Berdasarkan uraian di atas hasil belajar semua mengacu terhadap

perubahan siswa setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar

diperoleh setelah siswa mengalami berbagai kegiatan belajar yang menyebabkan

perubahan dalam dirinya. Hasil belajar siswa dapat diukur dengan kriteria

atau patokan-patokan tertentu. Dalam pengukuran hasil belajar siswa dibatasi

yaitu dari ranah kognitif pada aspek pengetahuan, pemahaman yang dinilai

melalui evaluasi yang diberikan oleh gur kepada siswa dalam bentuk tes. Dapat

disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku atau kemampuan

siswa setelah menerima pengalaman belajar yang dapat diukur. Perubahan dalam

hal ini adalah perubahan menjadi lebih baik.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Gino (1993: 30) hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa

faktor antara lain:

a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri siswa. Faktor ini

terdiri dari dua aspek yaitu aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) misal

kondisi fisik yang sakit-sakitan. Dan aspek psikologis (yang berssifat rohaniah)

misalnya kecerdasan, bakat, minat, motivasi, dan emosional.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar yang dapat

mempengaruhi hasil belajar siswa, antara lain kondisi lingkungan disekitar siswa

yang meliputi lingkungan sosial dan lingkungan non sosial. Lingkungan

sosial sekolah seperti guru, dan teman- teman sekolahnya. Sedangkan faktor

lingkungan non sosial misalnya gedung sekolah, tempat tinggal dan waktu belajar

yang digunakan belajar. Karena faktor-faktor tersebut, maka hasil belajar masing-

masing siswa berbeda antara siswa yang satu denga siswa yang lainnya.

Sedangkan menurut Ani (2006: 13) menyatakan bahwa seperangkat faktor

yang memberikan kontribusi belajar adalah kondisi fisik, seperti kesehatan organ

tubuh, kondisi psikis seperti kemampuan intelektual, emosional dan kondisi

sosial, seperti kemampuan intelektual, emosional, dan kondisi sosial, seperti

kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan. Kesempurnaan dalam kondisi

internal yang dimiliki oleh siswa akan berpengaruh dalam kesiapan, proses, dan

hasil belajar.

Dari beberapa pendapat para ahli mengenahi faktor-faktor di atas maka

dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dapat dipengaruhi oleh dua faktor utama

yaitu faktor internal dan faktor eksternal, yang mana faktor internal merupakan

faktor-faktor yang bersumber dari individu masing-masing siswa, sedangkan


faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar individu siswa itu

sendiri. Berkaitan dengan proses belajar mengajar ada satu faktor penting yang

sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yaitu pemilihan metode

pembelajaran. Faktor ini sangat penting karena pemilihan metode pembelajaran

yang tepat oleh guru akan mempengaruhi hasil belajar siswa dalam mengikuti

proses pembelajaran.

Metode pembelajaran harus dibuat sedemikian menarik, sehingga siswa

tidak bosan dan jenuh dalam pembelajaran tersebut. Selain penyusunan

metode pembelajaran yang baik, juga diperlukan beberapa variasi cara

mengajar guru untuk meminimalisir tingkat kejenuhan dan kebosanan siswa

dalam suatu proses pembelajaran.

B. Pembelajaran IPS Sekolah Dasar

1. Pengertian Pembelajaran IPS

Peristiwa belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak dapat

dipisahkan dalam kehidupan manusia. Kegiatan belajar yang disertai dengan

proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang

hanya semata-mata dan pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat.

Pembalajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang bernuansa agar

program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Pembelajaran perlu

memberdayakan potensi siswa untuk menguasai kompetensi yang diharapkan

(Sanjaya, 2010: 103). Pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan

kepada si belajar untuk berfikir agar memahami apa yang dipelajari (Sugandi,
2006: 9). Peristiwa pembelajaran merupakan proses interaksi mempengaruhi si

belajar sehingga memperoleh kemudahan dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan siswa,

dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah

menuju pada suatu target yang telah diterapkan sebelumnya. Menurut Isjoni

(2008: 11), pembelajaran adalah suatu yang dilakukan oleh siswa, bukan

dibuat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik

untuk membantu siswa melakukan kegiatan belajar.

Berdasarkan uraian tersebut bahwa pembelajaran itu menunjukan pada

usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Dapat

disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu usaha agar menciptakan kondisi

yang memudahkan siswa untuk belajar dan memperdayakan potensinya sehingga

menguasai kompetensi secara optimal.

Menurut Nasution (1982) Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan suatu

program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan, yang pada pokoknya

mempersoalkan manusia dalam lingkungan fisik maupun dalam lingkungan

sosial, dan bahannya diambil dari berbagai ilmu-ilmu sosial : geografi, sejarah,

ekonomi, antropologi, politik, dan psikologi sosial. IPS lahir dari keinginan para

pakar pendidikan untuk “membekali” para siswa supaya nantinya mereka mampu

menghadapi dan menangani kompleksitas dimasyarakat yang seringkali

berkembang secara tidak terduga.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang

standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dimana terdapat salah
satu tujuan yaitu agar siswa memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis

dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam

kehidupan social.

2. Pembelajaran IPS di SD

Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006

Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah,

Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan untuk

dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung

jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Dimasa yang akan datang siswa akan

menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu

mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang

untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis

terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat

yang dinamis.

Menurut Rudy Gunawan (2011: 39) menyatakan bahwa: “IPS merupakan

salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang mengkaji seperangkat

peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial”. Ilmu

pengetahuan sosial sebagai mata pelajaran tidak semata membekali ilmu saja

lebih dari itu membekali juga sikap atau nilai dan keterampilan dalam hidup

bermasyarakat sehingga mereka mengetahui benar lingkungan, masyarakat dan

bangsanya dengan berbagai karakteristiknya. Dengan demikian, IPS sebagai suatu

mata pelajaran di SD bertolak dari kondisi nyata di masyarakat dengan tujuan


untuk memanusiakan manusia (siswa) melalui hubungan seluruh aspek

manusia agar mereka tidak merasa asing dilingkungan masyarakatnya sendiri.

Dalam pedoman penyusunan KTSP SD bahwa Mata Pelajaran IPS disusun

secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju

kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan

pendekatan tersebut diharapkan siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih

luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.

Menurut Rudy Gunawan (2011: 38) berpendapat bahwa:

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD hendaknya


memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak
dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam
perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan
kongkret operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang
utuh, dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih
jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (kongkrit), dan bukan masa
depan yang belum bisa mereka pahami (abstrak).
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS SD mengkaji seperangkat

peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial,

memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Sistem pengajarannya

menelaah dan mengkaji gejala atau masalah sosial dan berbagai aspek

kehidupan sosial, serta pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan

pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial

masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

3. Tujuan Pembelajaran IPS di SD

Mata pelajaran IPS di sekolah dasar merupakan program pengajaran yang

bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar peka terhadap masalah sosial

yang terjadi dimasyarakat, memilki sikap mental positif terhadap perbaikan


segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang

terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa

masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran

IPS di sekolah diorganisasikan secara baik.

Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tercantum

bahwa tujuan IPS adalah :

a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat

dan lingkungannya.

b. Memilki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin

tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan

sosial.

c. Memilki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan

kemanusiaan.

d. Memilki kemampuan untuk berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi

dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional dan global.

Sedangkan tujuan khusus pengajaran IPS disekolah dalam kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dapat dikelompokkan menjadi empat

komponen yaitu:

a. Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman

manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang dan

masa akan datang.

b. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan (skill) untuk

mencari dan mengolah informasi.


c. Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap demokrasi dalam

kehidupan bermasyarakat.

d. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian /

berperan serta dalam bermasyarakat.

Tujuan pembelajaran IPS adalah membantu tumbuhnya siswa yang baik

dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbagai segi kehidupan dimulai

dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya. Akan tetapi

secara lebih khusus pada tujuan yang tertera pada KTSP, bahwa salah satunya

adalah mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat

dan lingkungan.

Mengenal konsep-konsep memerlukan pemahaman yang mendalam, oleh

karena itu pemahaman suatu konsep dengan baik sangatlah penting bagi siswa,

agar dapat mamahami suatu konsep, siswa harus membentuk konsep sesuai

dengan stimulus yang diterimanya dari lingkungan atau sesuai dengan

pengalaman yang diperoleh dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman-pengalaman

yang harus dilalui oleh siswa merupakan serangkaian kegitan pembelajaran yang

dapat menunjang terbentuknya konsep-konsep tersebut. Karena itu guru harus

bisa menyusun pembelajaran yang di dalamnya berisi kegiatan-kegiatan belajar

siswa yang sesuai dengan konsep-konsep yang akan dibentuknya.

4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran IPS Kelas III

Semester 1

Adapun standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran

IPS untuk siswa kelas III semester I adalah sebagai berikut Tabel 1. Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran IPS Kelas III semester I SD

Tahun Ajaran 2016/2017.

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

1. Memahami lingkungan dan 1.1. Menceritakan lingkungan alam


melaksanakan kerja sama di dan buatan di sekitar rumah dan
sekitar rumah dan sekolah sekolah
1.2. Memelihara lingkungan alam
dan buatan di sekitar rumah
1.3. Membuat denah dan peta
lingkungan rumah dan sekolah
1.4. Melakukan kerja sama di
lingkungan rumah, sekolah, dan
kelurahan/desa

Pokok bahasan IPS kelas III semester I pada materi membuat denah dan

peta lingkungan rumah dan sekolah antara lain yaitu lingkungan, lingkungan

alam, lingkungan buatan, dan memelihara lingkungan.

Agar pembelajaran IPS dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan

tujuan yang telah dikemukakan di atas, maka pembelajaran IPS harus melibatkan

siswa secara aktif dalam pembelajaran IPS. Guru harus pandai memilih dan

menggunakan model atau metode pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran

IPS, sehingga siswa dapat memahami materi yang telah diajarkan. Dalam

pembelajaran IPS ini siswa juga diharapkan dapat menjadi anggota masyarakat

yang produktif, aktif berpatisipasi dalam masyarakat, mempunyai rasa tanggung

jawab, suka tolong menolong dengan sesamanya, serta mampu mengembangkan

ide-ide atau gagasan dalam bermasyarakat. Dengan demikian metode peta konsep

dimana siswa dilatih dalam memberikan suatu ide-ide dalam pembelajaran IPS
dan dapat mewujudkan tujuan pembelajaran IPS. Adapula kompetensi dasar yang

dipakai dalam penelitian ini adalah Memahami lingkungan dan melaksanakan

kerja sama di sekitar rumah dan sekolah.

C. Metode Peta Konsep

1. Pengertian Peta Konsep

Konsep dapat didefinisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah

satunya adalah definisi yang dikembangkan Carrol (Kardi 1997: 2) bahwa

konsep yang merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang

didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. Abstraksi berarti

suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan

mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain.

Doran, dkk: Iskandar (2004:12) peta konsep adalah diagram yang

dibentuk atau disusun untuk menunjukan pemahaman seseorang tentang suatu

konsep atau gagasan yang mempunyai struktur berjenjang dari yang bersifat

umum menuju yang bersifat khusus dilengkapi dengan garis-garis penghubung

yang sesuai. Peta konsep merupakan cara yang dinamik untuk menangkap butir-

butir pokok informasi dalam bentuk proporsi melalui proses belajar alamiah

dan berfikir. Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep yang

penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu.

Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip,

yaitu diferensi progresif dan penyesuaian integratif diferensiasi progresif

adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami.
Pembuatan suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide

kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam

suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang

peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Agar pemahaman

terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1988: 153) mengemukakan ciri-ciri

peta konsep sebagai berikut:

1. Peta konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep- konsep dan
proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia,
biologi matematika, dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep
siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu
lebih bermakna.
2. Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang
studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang
memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep.
Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara
mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.
3. Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara
konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini
berarti bahwa ada beberapa konsep yang inklusif dari pada konsep-konsep
lain.
4. Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di
bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta
konsep tersebut.

Menurut Dahar (1988: 154) peta konsep memegang peranan penting

dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta

konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah

berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep:

1. Mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.


2. Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide
utama.
3. Menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut.
4. Mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara
visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.
Menurut Alief (Novak dan Gowin, 1985), untuk siswa SD kelas 1 sampai

kelas 3, diperkenalkan dengan cara sederhana, misalnya dengan mendefinisikan

konsep obyek dari kejadian. Sedangkan untuk siswa SD kelas 4 hingga kelas 6,

dapat diperkenalkan melalui strategi pengenalan peta konsep.

Langkah-langkah dalam memperkenalkan metode peta konsep kepada

siswa sebagai berikut:

1. Siswa bersama guru memahami suatu ide, hal ini merupakan cara yang

baik untuk menolong siswa belajar yang bermakna, yaitu membimbing

mereka untuk melihat peranan konsep dan hubungan antara konsep yang

terdapat di dalam pikiran dan lingkungan eksternal mereka,

2. Siswa dibimbing oleh guru untuk mencari konsep-konsep yang spesifik,

baik dari segi materi tertulis maupun dari segi materi yang akan

disampaikan secara lisan, kemudian mencari hubungan diantara konsep-

konsep itu. Konsep-konsep yang dirangkaikan oleh kata-kata penghubung

(linking words) merupakan unit-unit bahasa yang mengungkapkan makna

yang penting,

3. Siswa ditekankan dan dimbimbing guru bahwa peta konsep

mengungkapkan suatu cara menggambarkan konsep-konsep, dan

hubungan diantara konsep tersebut. Manusia pada umumnya mempunyai

ingatan yang kurang baik atau terbatas terhadap hal-hal yang spesifik

(yang bersifat recal), disinilah peranan dari peta konsep dalam

mempermudahkan pembelajaran dan mengingat kembali materi yang telah

disampaikan secara baik. Peta konsep mempunyai potensi meningkatkan


kemampuan manusia untuk mengenal pola-pola yang memberikan

kemudahan pada sat pembelajaran.

Hasil belajar yang optimal dapat tercapai bila ada sesuatu yang diingat

dan dipahami yang diperlukan untuk proses belajar selanjutnya. Dari beberapa

definisi di atas bahwa peta konsep merupakan suatu cara penyajian konsep atau

gagasan pokok yang disusun secara berjenjang dari yang bersifat umum menuju

khusus peta konsep dilengkapi dengan garis- garis penghubung yang sesuai.

Dalam peta konsep dapat ditempatkan suatu susunan yang nyata, dengan cara

menghubungkan konsep-konsep yang ada. Peta konsep yang lengkap harus

menyajikan konsep atau gagasan pokok dengan hubungan yang sesuai dan

mengungkapkan pola pandang tunggal yang mempunyai hubungan timbal balik.

Diharapkan dengan peta konsep daya ingat siswa dapat ditingkatkan. Penggunaan

peta konsep dalam proses belajar mengajar lebih menuntun peran aktif para siswa.

2. Keunggulan Metode Peta Konsep

Menurut Tony (2005: 6) bahwa metode peta konsep atau Mind Map

memiliki beberapa keunggulan, yaitu:

a. Mengaktifkan seluruh otak,


b. Membereskan akal dari kesusutan akal,
c. Memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan,
d. Membantu menunjukan hubungan antara bagian-bagian informasi yang
saling terpisah,
e. Memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan perincian,
f. Memungkinkan kita mengelompokan konsep, membantu kita
membandingkannya,
g. Mengisyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang
membantu mengalihkan informasi tentangnya dari ingatan jangka pendek ke
ingatan jangka panjang.

3. Strategi Penerapan Metode Peta Konsep dalam Pembelajaran


Secara aplikatif, strategi penerapan peta konsep dalam upaya

meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa, memiliki strategi

memperkenalkan peta konsep mencakup dua aktivitas menurut Alief (Novak dan

Gowin, 1985) mempersiapkan peta konsep yang meliputi kegiatan sebagai

berikut: (1) buatlah daftar kata-kata yang cukup dikenal oleh siswa pada papan

tulis untuk objek-objek dan kejadian/peristiwa misalnya kata lingkungan alam dan

lingkungan buatan; (2) tanyakanlah kepada siswa, bagaimanakah mereka

menggambarkan hubungan apabila mereka mendengarkan kata lingkungan alam

dan lingkungan buatan. (3) buatlah daftar kata-kata penghubung seperti adalah,

dengan, berupa, sehingga, dapat. Tanyakan kepada siswa, apa saja yang mereka

pikirkan tentang kata-kata tersebut. Kata-kata tersebut bukan kata-kata konsep

melainkan kata penghubung bila mana dirangkaikan dengan kata konsep akan

membentuk kalimat yang bermakna. (4) buatlah beberapa kalimat pendek yang

menggambarkan rangkaian kata-kata konsep dan kata penghubung sehingga dapat

bermakna. (5) siswa ditugaskan untuk membuat kalimat-kalimat pendek dari

konsep-konsep dan kata penghubung yang diberikan. (6) pilihlah materi dari

buku yang sesuai dengan penggunaan metode peta konsep, kemudian materi

tersebut dibaca oleh siswa, selanjutnya siswa ditugaskan untuk mencari

konsep kunci, kemudian siswa akan ditugaskan untuk mencatat konsep yang

mereka temukan serta menghubungkan dengan kata penghubung yang sesuai

sehingga terbentuklah suatu kalimat yang bermakna.


D. Karakteristik Anak SD

Karakteristik anak sekolah dasar terkait dengan metode terpadu di dalam

pembelajaran IPS. Karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui

para guru, agar lebih mengetahui keadaan siswa khususnya ditingkat Sekolah

Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai

dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik

mengetahui karakteristik siswanya.

Karakteristik anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/

memperagakan sesuatu secara langsung. Ditinjau dari teori perkembangan

kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang

dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep- konsep baru dengan

konsep-konsep lama. Berdasarkan pengalaman ini, siswa membentuk konsep-

konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi- fungsi badan, serta jenis kelamin,

moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran
akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan

memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya

merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung

dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian pemahaman terhadap karakteristik anak SD dapat

dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD, dan untuk

menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan

kebutuhan perkembangan anak itu sendiri.

Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang

berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua

belas tahun. Karakteristik utama anak sekolah dasar adalah mereka menampilkan

perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya,

perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa,

perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.

Menurut Indah (Thornburg 1984) anak sekolah dasar merupakan individu

yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya.

Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental

mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan

sosial maupun non sosial meningkat.

Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama

yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku

mendekati tingkah laku anak remaja permulaan Berdasarkan uraian di atas, siswa

sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak
mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta yang

dilihatnya, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objek-

objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi.

Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru

diharapkan untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang

akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di

lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang

dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa

hendaknya diberi kesempatan untuk proaktif dan mendapatkan pengalaman

langsung baik secara individual maupun dalam kelompok.

E. Kerangka Pikir

Pada kenyataannya pelajaran IPS sering dianggap sebagai mata

pelajaran yang membosankan. Indikasi tersebut dapat dilihat dari hasil

belajar siswa yang kurang memuaskan. Pembelajaran yang biasa diterapkan

selama ini menggunakan metode pembelajaran konvensional, dimana

pembelajaran berpusat pada guru, siswa pasif dan kurang terlibat dalam

pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kejenuhan yang berakibat

kurangnya minat dan dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil

belajar akan meningkat apabila kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara

bervariasi melalui penerapan berbagai metode pembelajaran.

Berkenaan dengan hal tersebut perlu dicari model pembelajaran alternatif

yang dapat menciptakan pembelajaran yang mampu menempatkan siswa sebagai

subjek didik (pembelajaran aktif, kreaktif, dan menyenangkan), yang dapat


meningkatkan hasil belajar sehingga prestasi belajar dapat meningkat. Metode

peta konsep merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi masalah tersebut.

Metode pembelajaran ini merupakan sebuah pemahaman konsep yang ditunjukan

untuk perbaikan proses pembelajaran, dimana partisipasi aktif siswa dalam proses

pembelajaran sangat ditekankan sehingga tidak berjalan satu arah, dan

terdapat timbal balik antara guru dengan siswa. Selain itu, dengan karakteristik

siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak

mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terika.

pada fakta-fakta yang dilihatnya, artinya anak mampu berfikir logis, akan

tetapi masih terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan

konservasi. Maka metode peta konsep ini harus menyajikan konsep atau gagasan

pokok dengan hubungan yang sesuai dan mengungkapkan pola pandang tunggal

yang mempunyai hubungan timbal balik. Sehingga cara ini menjamin

keterlibatan total semua siswa untuk memahami konsep materi yang telah

diajarkan dan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Melalui penelitian ini akan dibuat mekanisme pembelajaran dengan

menggunakan satu metode pembelajaran yang diterapkan pada satu kelas

eksperimen dengan menggunakan metode peta konsep. Untuk mengetahui apakah

ada peningkatan hasil belajar IPS antara sebelum menggunakan metode peta

konsep dengan sesudah menggunakan metode peta konsep.

F. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir di atas, maka sebelum

dilakukan pengambilan data, dalam penelitian dirumuskan terlebih dahulu


hipotesis tindakan sebagai dugaan awal penelitian yaitu: “metode peta konsep

dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas III SD Negeri 4

Teunom Kabupaten Aceh Jaya tahun pelajaran 2016/2017”.

Anda mungkin juga menyukai