0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
125 tayangan25 halaman

LAPORAN Kkl. Fix

Laporan ini merupakan hasil Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam praktik komunikasi advokasi kebijakan. KKL dilakukan di RRI Bukittinggi, yang berperan penting dalam menyampaikan informasi dan pelestarian budaya di Sumatera Barat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat menghubungkan teori yang dipelajari dengan praktik di lapangan serta memahami tantangan dalam advokasi kebijakan.

Diunggah oleh

ammaterashu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
125 tayangan25 halaman

LAPORAN Kkl. Fix

Laporan ini merupakan hasil Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam praktik komunikasi advokasi kebijakan. KKL dilakukan di RRI Bukittinggi, yang berperan penting dalam menyampaikan informasi dan pelestarian budaya di Sumatera Barat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat menghubungkan teori yang dipelajari dengan praktik di lapangan serta memahami tantangan dalam advokasi kebijakan.

Diunggah oleh

ammaterashu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

KKL KOMUNIKASI ADVOKASI KEBIJAKAN

Dosen Pengampu:

Dr. Lince Magriasti, S.IP, M.Si

Anggota Kelompok:

1. Adinda Qawlam Desfa Sahfitrin (21042234)


2. Ahmad Radifan (21042236)
3. Putri Maharani (21042189)

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2025
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
nikmat-Nya yang telah diberikan sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
laporan KKL dengan baik dan tepat pada waktunya. Tak lupa kami mengucapkan
terimakasih terutama kepada dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Advokasi
Kebijakan yaitu Ibuk Dr. Lince Magriasti, S.IP, M.Si yang telah memberikan penjelasan
dan materi Komunikasi Advokasi Kebijakan sehingga kami dapat menyeselaikan
makalah ini dengan baik.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih banyak kekurangannya, baik
dalam tulisan, tata bahasa, penyajian materi maupun dalam penjabarannya. Hal ini
disebabkan karena keterbatasan kemampuan kami. Untuk itu kami menerima kritik dan
saran yang positif dari para pembaca agar dapat menjadi motivasi dan perbaikan bagi
kami ke depannya.

Padang, 1 Juni 2025

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i


DAFTAR ISI............................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Tujuan Kuliah Kerja Lapangan .............................................................. 2
1.3 Manfaat Kuliah Kerja Lapangan ............................................................ 2
1.4 Ruang Lingkup Kegiatan ........................................................................ 3
1.5 Metode Pelaksanaan ............................................................................... 3

BAB II TINJAUAN UMUM LOKASI KKL ..........................................5


2.1 Profil Instansi/Lokasi KKL .................................................................. 5
2.3 Tugas dan Fungsi .................................................................................. 7
2.4 Kegiatan Utama Instansi ....................................................................... 8

BAB III PELAKSANAAN KKL ............................................................. 9


3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ........................................................... 9
3.2 Rincian Kegiatan Selama KKL ........................................................... 10
3.3 Hasil yang Dicapai .............................................................................. 12
3.4 Permasalahan yang Dihadapi .............................................................. 13
3.5 Solusi dan Tindakan ............................................................................ 14

BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................ 15


4.1 Kaitan Kegiatan KKL dengan Teori di Perkuliahan ........................... 15
4.2 Analisis dan Evaluasi .......................................................................... 16

BAB V PENUTUP
.................................................................................................................... 17
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 17
5.2 Saran .....................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 19


LAMPIRAN ..............................................................................................20
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang


Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan salah satu kegiatan akademik yang bertujuan
untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengamati,
mempelajari, dan memahami praktik di lapangan yang berkaitan dengan bidang ilmu
yang dipelajari. Dalam konteks mata kuliah Komunikasi Advokasi Kebijakan, KKL
menjadi sarana penting bagi mahasiswa untuk melihat secara nyata bagaimana proses
advokasi dan komunikasi kebijakan berlangsung di instansi pemerintah, lembaga
swadaya masyarakat, maupun organisasi nonpemerintah lainnya.

Komunikasi advokasi kebijakan sendiri adalah proses menyampaikan informasi,


gagasan, atau dorongan perubahan kepada pembuat kebijakan agar suatu isu bisa masuk
ke dalam agenda publik dan menjadi perhatian pemerintah. Dalam dunia nyata, proses
ini tidak sesederhana teori yang dipelajari di kelas. Terdapat banyak dinamika, seperti
keterbatasan akses informasi, kepentingan politik, struktur birokrasi, hingga respon
masyarakat yang harus diperhatikan.

Oleh karena itu, melalui kegiatan KKL, mahasiswa diharapkan dapat melihat langsung
bagaimana strategi advokasi dijalankan, bagaimana komunikasi dengan pemangku
kebijakan dibangun, serta tantangan-tantangan yang dihadapi dalam memperjuangkan
kebijakan publik yang berpihak kepada masyarakat. Selain itu, KKL juga membuka
wawasan mahasiswa tentang pentingnya pendekatan komunikasi yang efektif dalam
membangun dukungan dan kesadaran publik terhadap isu-isu sosial, ekonomi, dan
lingkungan. Mahasiswa dapat belajar bagaimana pesan-pesan kebijakan dikemas,
saluran komunikasi apa saja yang digunakan, dan bagaimana pelaku advokasi menjalin
jaringan dengan media, legislatif, maupun kelompok masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami konsep dan teori,
tetapi juga mampu menghubungkannya dengan praktik di lapangan. KKL dalam mata
kuliah Komunikasi Advokasi Kebijakan bukan hanya menjadi ajang pengamatan, tetapi
juga wadah pembelajaran untuk menjadi agen perubahan yang mampu berkomunikasi
dengan bijak dan memperjuangkan kepentingan publik melalui jalur kebijakan.
Pelaksanaan KKL ini juga iharapkan menjadi jembatan antara teori dan praktik.
Mahasiswa diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan institusi atau organisasi yang
bergerak di bidang advokasi kebijakan, baik dari sektor pemerintah, swasta, maupun
masyarakat sipil. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mempelajari bagaimana
strategi komunikasi dikembangkan, bagaimana data dan informasi dikemas untuk
memengaruhi kebijakan, serta bagaimana tantangan dan hambatan di lapangan dihadapi
oleh para pelaku advokasi. Lebih jauh, KKL dalam mata kuliah Komunikasi Advokasi
Kebijakan juga melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dan peka terhadap isu-isu sosial
yang berkembang di masyarakat. Dengan terjun langsung ke lapangan, mahasiswa dapat
melihat bagaimana suara masyarakat diperjuangkan dalam ruang-ruang kebijakan, serta
memahami pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam mewujudkan kebijakan
yang adil, inklusif, dan berbasis bukti.

1.2 Tujuan Kkl


1. Memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang praktik
komunikasi advokasi dalam dunia nyata.
2. Menghubungkan teori-teori komunikasi advokasi yang telah dipelajari di kelas
dengan praktik nyata di instansi atau organisasi.
3. Melatih mahasiswa untuk menganalisis masalah sosial dan merancang
pendekatan advokasi yang sesuai.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi publik, dan kerja sama
tim dalam konteks advokasi kebijakan.

1.3 Manfaat Kkl


1. Mampu mengaitkan antara teori komunikasi advokasi dengan praktik nyata di
lapangan.
2. Mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai peran komunikasi dalam
memperjuangkan perubahan kebijakan.
3. Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan pelaku
kebijakan, aktivis, dan masyarakat secara langsung.
4. Menjadi bekal pengalaman yang berguna untuk dunia kerja, khususnya di
bidang komunikasi publik, kebijakan, dan advokasi.

1.4 Ruang Lingkup Kegiatan


Ruang lingkup kegiatan KKL ini mencakup observasi, tanya jawab, dokumentasi, dan
diskusi mengenai proses komunikasi dan advokasi kebijakan di instansi atau lembaga
tempat KKL dilaksanakan. Fokus utama kegiatan adalah bagaimana strategi komunikasi
dibangun, siapa saja aktor yang terlibat, bagaimana proses penyusunan pesan advokasi,
dan bagaimana komunikasi dijalankan untuk memengaruhi pembuat kebijakan atau
opini publik.

1.5 Metode Pelaksanaan


Metode pelaksanaan KKL dilakukan melalui pendekatan deskriptif kualitatif, dengan
cara observasi langsung ke lapangan, tanya jawab dengan narasumber yang relevan,
pengumpulan dokumen kebijakan, serta diskusi kelompok. Mahasiswa dibagi dalam
kelompok dan ditugaskan untuk mengunjungi lembaga yang relevan dengan advokasi
kebijakan, seperti lembaga pemerintah, LSM, atau organisasi sosial. Data yang
dikumpulkan kemudian diolah menjadi laporan untuk dianalisis dan dikaitkan dengan
teori yang telah dipelajari di kelas.
BAB II
TINJAUAN UMUM LOKASI KKL

2.1. Profil Instansi/Lokasi KKL


1. RRI Bukit Tinggi
Radio Republik Indonesia (RRI) Bukittinggi adalah salah satu satuan kerja dari
Lembaga Penyiaran Publik RRI yang memiliki peran strategis dalam menyampaikan
informasi, hiburan, dan pelestarian budaya di wilayah Sumatera Barat. Didirikan
sebagai bagian dari jaringan nasional RRI sejak pasca-kemerdekaan Indonesia, RRI
Bukittinggi memiliki sejarah panjang sebagai media komunikasi publik yang
independen, netral, dan non-komersial. Sejak awal pendiriannya, RRI Bukittinggi turut
ambil bagian dalam menyuarakan semangat nasionalisme dan kini terus bertransformasi
mengikuti perkembangan zaman.
Secara teknis, RRI Bukittinggi menyiarkan siaran radionya melalui Programa 4
(Pro 4) dengan frekuensi 88,9 MHz. Program ini difokuskan untuk menyampaikan
konten yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal, edukasi, dan hiburan yang sehat,
terutama bagi segmen usia 23 hingga 40 tahun ke atas. Jangkauan siaran Pro 4
Bukittinggi cukup luas, mencakup delapan wilayah administratif di Sumatera Barat,
yakni Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Tanah Datar, Pasaman, Pasaman Barat,
Padang Panjang, Payakumbuh, dan Lima Puluh Kota. Ini menjadikan RRI Bukittinggi
sebagai salah satu stasiun radio dengan cakupan audiens yang signifikan di Sumatera
Barat.
Di bawah kepemimpinan Budi Suwarno, S.Sos., M.MPd., yang menjabat sejak
akhir 2024, RRI Bukittinggi semakin aktif dalam mengembangkan konten-konten lokal
yang berkualitas serta memperluas kerja sama dengan pemerintah daerah dan
komunitas. Salah satu program unggulan RRI Bukittinggi adalah "Bintang Radio",
sebuah kompetisi menyanyi tingkat lokal hingga nasional yang bertujuan menjaring
bakat muda di bidang seni vokal. Selain itu, program "Mutiara yang Diwariskan" yang
mengangkat kekayaan budaya Minangkabau berhasil meraih Anugerah KPI pada tahun
2022 untuk kategori Wisata Budaya, membuktikan komitmen RRI terhadap pelestarian
budaya lokal.tidak hanya berfokus pada hiburan dan budaya, RRI Bukittinggi juga
memiliki peran aktif dalam pendidikan politik dan peningkatan literasi masyarakat. Hal
ini tercermin dari kegiatan seperti "Gerakan Cerdas Memilih" yang ditujukan bagi
pemilih pemula dalam rangka menyambut Pemilu 2024. RRI juga melakukan kerja
sama dengan pemerintah daerah, seperti dengan Pemerintah Kabupaten Agam melalui
penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk mendukung penyebaran informasi
yang kredibel dan dapat dipercaya melalui jaringan Kantor Berita Radio Nasional
(KBRN).
Sebagai media penyiaran publik, RRI Bukittinggi menjalankan tugas dan
fungsinya berdasarkan prinsip pelayanan publik, serta menjunjung tinggi independensi
dan kejujuran jurnalistik. Dengan capaian berupa dua penghargaan dari KPID Sumbar
pada 2024 (kategori Budaya Radio Terbaik dan Feature Radio Terbaik), RRI
Bukittinggi terus menunjukkan eksistensinya sebagai corong informasi dan budaya
masyarakat Minangkabau. Upaya menuju digitalisasi siaran dan pengembangan kualitas
SDM juga terus dilakukan, seiring dengan harapan dari pemerintah daerah agar RRI
Bukittinggi naik kelas dari tipe C ke tipe A dalam struktur kelembagaan RRI secara
nasional.

Sejarah Singkat RRI Bukit Tinggi


Ranah minang menyimpan sepenggal sejarah yang ditoreh oleh para tokoh
nasional. Sejarah perjuangan mempertahan kan Negara Kesatuan Republik Indonesia .
Sejarah yang sempat terkubur dan hampir terlupakan oleh generasi bangsa ini. Setelah
jepang kalah perang dunia ke II sejumlah pemuda yang bekerja pada Bukittinggi Hoso
Kyoku, antara lain Adnan Burhanudin, H.Dt. Mankuto Ameh Koesuma , Syahbudin
M.S dan Asrul Busyri Latif menyusun rencana untuk merebut pemancar dan peralatan
siaran di Parit Natung dari tangan Jepang , tetapi gagal mengingatnya ketatnya
penjagaan Kemudian dilakukan melalui diplomasi oleh Adi Negoro, Djuhir Muhammad
dan Aziz ( mantan kepala PTT ) akhirnya mau menyerahkan pemancar dan peralatan
siaran di Bukittinggi . Berkat kegigihan para pemimpin RI di Bukittinggi. akhirnya pada
Tanggal 14 Januari 1946 berkumandanglah “ inilah Bukittinggi “ , Radio Republik
Indonesia “ yang dipancarkan melalui pemancar berkekuatan 1,5 KW dan 300 Watt
dengan gelombang 40,2 meter dan 210 meter .
Pada bulan September 1947 dibentuk KONPENSUM yang mengkoordinasikan
alat –alat penerangan di Sumatera dibawah Pimpinan Parad Harahap , Maka RRI
Bukittinggi menjadi Radio Republik Indonesia Sumatera dibawah Pimpinan
Kamarsyah. Saat itu Belanda melakukan Agresi Meliter kedua. Ibukota yang
berkedudukan di Yogyakarta berhasil mereka rebut. Presiden dan Wakil Presiden,
Sukarno Hatta ditawan, pemerintahanpun lumpuh. Beruntung NKRI masih bisa
dipertahankan. Inisiatif dari beberapa tokoh muslim dari Sumatera Barat mengambil
alih pemerintah sekaligus penguasaan Negara dengan membentuk Pemerintah Darurat
Republik Indonesia (PDRI). Ketua dan Wakil Ketua PDRI adalah Sjafruddin Prawira
Negara dan Sutan Mohammad Rasyid. PDRI diporklamirakan di Bukittinggi pada
tanggal 19 Desember 1948 Peran dua stasiun PHB Angkatan Udara Republik Indonesia
(AURI) yang merupakan cikal bakal RRI di Bukittinggi juga begitu besar dalam
mengawal pemerintahan darurat ini.
Dua stasiun inilah yang tetap mengumumkan kepada dunia bahwa pemerintah
dan Negara Indonesia masih tetap tegak berdiri Keberadaan PDRI pertama kali
diumumkan kepada dunia luar melalui dua stasiun radio AURI tersebut yang berhasil
diselamatkan dari serangan Belanda. Keberadaan PDRI pertama kali digaungkan di
sebuah gedung Hotel Mihelmina, di Jalan A.Rivai (eks stasiun RRI BUkittinggi) yang
dijadikan kantor stasiun radio. Namun karena terus diserang stasiun ini di ungsikan ke
Parit Natuang dekat Bukit Balairung Sari Pulai Anak Air . Demi tetap terjalinnya
komunikasi dengan pihak luar, dua stasiun Radio AURI yang berhasil diselamatkan
turut dibawa bersama rombongan. Namun stasiun radio AURI pimpinan Lahukay saat
tiba di Halaban tidak sempat mengudara, karena dibumihanguskan oleh Belanda.
Stasiun radio AURI dibawah pimpinan Tamimi diserahkan kepada PDRI
( Sjafruddin Parwiranegara ) untuk melayani komunikasi radio rombongan yang tengah
bergerilya. Stasiun radio itu ikut serta bergerilya hingga ke tempat pengungsian di Bidar
Alam. Pada tanggal 23 Desember 1948 stasiun radio PDRI di Halaban untuk pertama
kali dapat berhubungan dengan stasiun radio AURI yang lain, baik yang berada di Jawa
maupun di Sumatera. Stasiun tersebut berhasil mengumumkan keberadan PDRI ke
sluruh stasiun radio yang dapat mereka hubungi tanggal 17 Januari 1949.
Stasiun radio PDRI berhasil mengadakan kontak dengan New Delhi. Konfrensi
New Delhi yang dihadiri oleh 19 Delegasi Negara Asia, mengeluarkan resolusi yang
berisi protes terhadap agresi Militer Belanda dan menuntut pengembalian Tawanan
Politik Sukarno Hatta dan semua pimpinan Republik di Yogyakarta. Keberadaan stasiun
radio AURI terus mengawal perjuangan PDRI. Hubungan dengan pemimpin di pulau
Jawa terus dilakukan guna menjalin komunikasi dan konsolidasi yang lebih kuat. Pada
tanggal 10 Juli 1949 Sjafruddin dan Panglima Besar Soedirman memasuki Yogya.
Sjafruddin bertindak sebagai Inspektur Upacara penyambutan para pemimpin RI yang
akhirnya dibebaskan oleh Belanda dan kembali ke Yogya Radio PDRI yang turut
mengawal perjalanan perjuangan PDRI, akhirnya menjelma menjadi Radio Republik
Indonesia stasiun Bukittinggi.
Radio yang penuh dengan sejarah dan berperan penting dalam menjalin komunikasi
antar daerah di Indonesia. Radio yang turut berjuang menjaga keutuhan NKRI. Radio
yang mengumandangkan kepada dunia bahwa NKRI masih tetap berdiri teguh meski
para pemimpinnya ditahan. Stasiun radio yang patut diberi label radio perjuangan. Tetap
dengan slogan “Sekali di Udara tetap di Udara” denga Jaya. Stasiun radio yang patut
disetarakan dengan keberadaan Stasiun Radio di Yogyakarta dan Solo.
Dengan semboyan sekali di udara tetap di udara. Berdasarkan surat keputusan
Menteri Penerangan RI mulai tanggal 27 Desember 1949 , seluruh jawatan RRI
diserahkan pada Kementerian Penerangan RIS , termaksud Pegawainya dan baru
dilaksanakan di RRI Bukittinggi pada 1 Mei 1950 Ada beberapa mata acara yang cukup
mendapat perhatian khalayak pendenganr melalui RRI Bukittinggi baik melalui
programa I ( Programa Daerah ) maupun melalui Programa II ( Programa Kota ) dalam
Tahun 1966, seperti : Terminal Angkasa / Ciloteh Makusu, Pilihan Pendengar ,
Sandiwara Radio ( Hikayat Lama ) , Varia Pembangun , Sastra Budaya ,Cerdas Tangkas
, Kesenian Minang Asli , Guiter Tunggal Zulkarnain dan Obrolan Hari Ini , Arena
Remaja , Parlementarian Daerah , Pilihan Pendengar , Serba Serbi Wanita , Baguru di
Udara , Ruang Penyuluhan Hukum , Musik Kawula Muda . Melaui Programa II antara
lain Dangdut Pilihan , Informasi Dokter Anda , Bagurau Di Udara , Dendang Di Udara
Dan Diantara Merpati dan Singgalang Untuk menunjang operasional RRI Bukittinggi
memiliki Pemancar terdiri dari 1 buah SW , 2 buah MW dan 6 buah FM , dengan
kekuatan seluruhnya 48,2 KW Sejak awal berdirinya Tahun 1946, RRI Bukittinggi
dipimpin oleh :
1. Kasoema ( 1946 )
2. Muchtar Jafar ( 1946 – 1947 )
3. Kamarsjahhany ( 1951-1953)
4. Anwar Nurin ( 1953 – 1958 )
5. Sarjono ( 1958 – 1659 )
6. Suprapto ( 1959 – 1960 )
7. Abdul Hamid (1960 -1961
8. Asnir Gus ( 1961 – 1966 )
9. Abdul Hamid (1966 – 1974 )
10.Syarief Syoekoer ( 1974 – 1979 )
11.Sya’ban ( 1979 – 1982 )
12. Yul Chaidir ( 1982 – 1985 )
13. Usman Ilyas ( 1985 – 1987 )
14.Syair Siak , BA ( 1987 – 1989 )
15. Dahniar Tati, BA (1989 – 1992 )
16. Buchari Muhammad ( 1992 -1995 )
17. Drs Amaludin Hasibun ( 1995 – 1999 )
18.Suprapto ( 1999 – 2001 )
19. Zulkifli, SIP ( 2001 – 2004 )
20. Moh Drajat, SE ( 2005 – 2006 )
21. Hendri Yunis, ST (2006 – 2010 )
22. Drs. Efferndi Afati ( 2010 - . . . . . )
Mengingat perjalanan sejarah yang begitu panjang dan mengingat peran RRI
Bukittinggi dalam perjuangan Tanggal 6 dan 7 tahun 2013 melakukan perjalanan
sejarah dengan melakukan Napak Tilas dan seminar yang mengangkat thema “
Mengenang Perjuangan RRI Bukittinggi dalam Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia dan mengukuhkan RRI Bukitttinggi sebagai Radio Bela Negara”, dan tgl 14
Januari diperingati sebagai hari lahirnya RRI Bukittinggi. Saat ini RRI Bukittinggi
dikenal sebagai Radio Bela Negara yang berupaya menyajikan program acara terbaik
yang berorientasi pada kepentingan publik
2. Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Dalam
Negeri Regional Bukittinggi
Merupakan unit pelaksana teknis di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia (BPSDM) Kemendagri yang memiliki peran strategis dalam pengembangan
kompetensi aparatur sipil negara (ASN) di wilayah Sumatera. Berdasarkan Permendagri
Nomor 84 Tahun 2017, PPSDM ini bertugas menyelenggarakan pelatihan teknis dan
manajerial, melakukan uji kompetensi, serta memberikan fasilitasi peningkatan
kapasitas sumber daya manusia pemerintahan daerah. PPSDM Regional Bukittinggi
memiliki wilayah kerja yang meliputi seluruh provinsi di Pulau Sumatera, seperti Aceh,
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera
Selatan, dan Bangka Belitung. Dengan dukungan tenaga pengajar profesional
(widyaiswara), serta fasilitas pelatihan dan asrama yang representatif, PPSDM
Bukittinggi menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan kompetensi yang penting
bagi aparatur pemerintah daerah di kawasan barat Indonesia. Selain itu, PPSDM ini juga
menjalankan berbagai program inovatif seperti pelatihan berbasis kebutuhan kompetensi
daerah dan kolaborasi lintas instansi, guna mendorong terwujudnya ASN yang
profesional, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan tata kelola pemerintahan yang
dinamis.

2.Tugas dan Fungsi


1. RRI Bukit Tinggi
Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, RRI Bukittinggi bertugas menyelenggarakan siaran
radio yang bersifat informatif, edukatif, hiburan, dan pelestarian budaya, serta
menjalankan fungsi pelayanan publik melalui media penyiaran.
Fungsi:
1. Penyiaran Informasi Publik: Menyebarluaskan informasi yang akurat dan
terpercaya kepada masyarakat, baik nasional maupun lokal.
2. Pelestarian Budaya Lokal: Menampilkan konten siaran yang mengangkat nilai-
nilai budaya Minangkabau dan lokal lainnya.
3. Pendidikan dan Literasi Masyarakat: Menyediakan program-program edukatif,
seperti Gerakan Cerdas Memilih dan literasi media.
4. Pemberdayaan Masyarakat: Mendorong partisipasi masyarakat melalui
kompetisi dan ruang dialog, seperti program Bintang Radio.
5. Mitra Pemerintah dan Lembaga Publik: Menjadi saluran komunikasi antara
pemerintah daerah dan masyarakat, termasuk kerja sama publikasi dengan
pemda.
6. Pengembangan Siaran Digital: Menyesuaikan dengan transformasi media
melalui digitalisasi siaran dan pengembangan kanal online.

2. PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi bertugas menyelenggarakan pengembangan


sumber daya manusia aparatur di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan
pemerintah daerah, khususnya untuk wilayah regional Sumatera.
Fungsi:
1. Pelatihan dan Diklat ASN: Menyelenggarakan pelatihan teknis, fungsional, dan
manajerial bagi ASN pemerintah daerah se-Sumatera.
2. Uji Kompetensi ASN: Menfasilitasi pelaksanaan uji kompetensi untuk pemetaan
dan peningkatan kualitas aparatur.
3. Koordinasi Pengembangan SDM Daerah: Membantu pemerintah daerah dalam
menyusun rencana pengembangan kapasitas ASN berbasis kebutuhan (AKPK).
4. Penyusunan Kurikulum dan Materi Pelatihan: Mengembangkan kurikulum
pelatihan sesuai tuntutan kebijakan nasional dan kebutuhan lokal.
5. Monitoring dan Evaluasi Pelatihan: Melakukan pemantauan hasil pelatihan
sebagai dasar pengambilan kebijakan SDM ke depan.
6. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Diklat: Menyediakan fasilitas seperti ruang
kelas, asrama, laboratorium komputer, perpustakaan, dan layanan pendukung
lainnya.
7. Inovasi dan Kolaborasi: Mengembangkan kerja sama dengan instansi pusat,
daerah, maupun mitra pelatihan untuk memperkuat kapasitas ASN.
3. Kegiatan Utama Instansi
1. Kegiatan Utama RRI Bukittinggi
Sebagai lembaga penyiaran publik di bawah LPP RRI, RRI Bukittinggi menjalankan
kegiatan utama yang berfokus pada penyiaran informasi dan edukasi kepada
masyarakat. Beberapa kegiatan utamanya meliputi:
1. Penyiaran Siaran Radio Publik
o Menyiarkan berbagai program informatif, edukatif, hiburan, dan budaya
melalui Programa 4 (Pro 4) pada frekuensi 88,9 FM.
o Menyasar segmen masyarakat usia dewasa produktif dengan konten lokal
dan nasional.
2. Produksi Konten Budaya dan Lokal
o Menayangkan program-program seperti Mutiara yang Diwariskan yang
menonjolkan nilai budaya Minangkabau.
o Mendokumentasikan dan mengedukasi masyarakat tentang tradisi, seni,
dan kearifan lokal.
3. Pemberdayaan Masyarakat melalui Program Partisipatif
o Menyelenggarakan ajang seperti Bintang Radio untuk menyalurkan
bakat seni masyarakat.
o Mengadakan siaran interaktif berupa dialog publik, forum masyarakat,
dan program layanan informasi.
4. Kerja Sama dengan Pemerintah Daerah
o Menjalin kolaborasi dengan pemda untuk menyebarluaskan program dan
kebijakan pemerintah kepada publik.
o Menjadi media resmi untuk menyosialisasikan informasi kebencanaan,
pemilu, dan layanan publik.
5. Digitalisasi dan Inovasi Siaran
o Mengembangkan layanan streaming, podcast, serta penguatan kanal
digital RRIPlay dan media sosial untuk menjangkau pendengar generasi
muda.

2. Kegiatan Utama PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi


Sebagai unit pengembangan aparatur pemerintahan daerah, PPSDM Kemendagri
Regional Bukittinggi menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan
pelatihan sumber daya manusia pemerintahan. Kegiatan utamanya meliputi:
1. Penyelenggaraan Pelatihan ASN
o Melaksanakan pelatihan teknis, fungsional, dan manajerial bagi ASN di
wilayah kerja regional Sumatera.
o Contohnya pelatihan kepemimpinan, keuangan daerah, perencanaan
pembangunan, dan pelayanan publik.
2. Pelaksanaan Uji Kompetensi
o Menyelenggarakan uji kompetensi jabatan pimpinan tinggi (JPT),
jabatan administrasi, dan jabatan fungsional.
o Mendukung penilaian kualifikasi ASN untuk penempatan atau promosi
jabatan.
3. Fasilitasi Analisis Kebutuhan Pelatihan
o Membantu pemda menyusun Analisis Kebutuhan Pengembangan
Kompetensi (AKPK) sebagai dasar penyusunan rencana diklat tahunan.
4. Pengembangan Kurikulum dan Metode Pelatihan
o Menyesuaikan materi pelatihan dengan perkembangan kebijakan
nasional, reformasi birokrasi, dan kebutuhan lokal.
5. Penyediaan Sarana dan Layanan Diklat
o Menyediakan ruang pelatihan, laboratorium, asrama peserta,
perpustakaan, dan fasilitas kesehatan penunjang pelatihan.
6. Kerja Sama dan Inovasi Pelatihan
o Menggandeng instansi pusat, pemda, universitas, dan mitra pelatihan
lainnya untuk meningkatkan kualitas pelatihan dan jangkauan layanan.
BAB III
PELAKSANAAN KKL

3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Tempat : RRI Bukit Tinggi
Hari : Selasa/ 06 Mei 2025
Waktu : 10.00-13.00 WIB

3.2.Rincian Kegiatan Selama KKL


Lokasi keberangkatan: Kampus UNP
Tujuan: RRI Bukittinggi dan PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi
Tanggal: (Silakan sesuaikan tanggalnya)
Waktu Kegiatan
07.00 – 07.30 WIB Persiapan dan keberangkatan dari Kampus UNP (Padang)
07.30 – 10.30 WIB Perjalanan menuju RRI Bukittinggi
10.30 – 11.00 WIB Penyambutan dan registrasi peserta di RRI Bukittinggi
11.00 – 11.45 WIB Sesi diskusi & pemaparan profil, tugas, dan fungsi RRI
Bukittinggi
11.45 – 12.15 WIB Sesi tanya jawab dengan narasumber
12.15 – 12.30 WIB Foto bersama
12.30 – 13.30 WIB Istirahat & makan siang
13.30 – 13.45 WIB Perjalanan ke PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi
13.45 – 14.15 WIB Penyambutan dan registrasi peserta
14.15 – 15.00 WIB Sesi diskusi & pemaparan tugas, fungsi, serta kegiatan utama
PPSDM
15.00 – 16.00 WIB Sesi tanya jawab
16.00 – 16.05 WIB Foto bersama
16.05 – 19.00 WIB Jalan-jalan menuju pusat kota Bukittinggi (city visit/foto
opsional)
19.00 – 22.00 WIB Perjalanan kembali ke Kampus UNP (Padang)

3.3. Hasil yang dicapai


Hasil yang Dicapai Selama KKL
1. Pemahaman Nyata tentang Fungsi dan Peran Lembaga
Mahasiswa memperoleh pemahaman langsung mengenai tugas, fungsi, dan
kegiatan utama di dua instansi pemerintahan, yaitu RRI Bukittinggi sebagai
lembaga penyiaran publik dan PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi
sebagai lembaga pelatihan dan pengembangan ASN. Hal ini memperluas
wawasan mahasiswa tentang bagaimana lembaga negara menjalankan peran
strategisnya dalam mendukung pemerintahan dan pelayanan publik.
2. Penguatan Teori dengan Praktik Lapangan
Materi-materi yang telah dipelajari di kelas seperti komunikasi publik,
manajemen kelembagaan, dan administrasi pemerintahan menjadi lebih
bermakna melalui pengamatan langsung terhadap operasional di lapangan.
Mahasiswa dapat melihat implementasi nyata dari teori administrasi negara,
komunikasi kelembagaan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
3. Peningkatan Kemampuan Komunikasi dan Diskusi
Melalui sesi diskusi dan tanya jawab bersama pihak instansi, mahasiswa dapat
melatih kemampuan bertanya secara kritis, menyampaikan pendapat, serta
menjalin komunikasi formal dengan pejabat publik. Hal ini penting untuk
membangun kepercayaan diri dan etika komunikasi profesional.
4. Jalinan Kemitraan Akademik dan Institusional
Kegiatan ini turut membuka peluang kerja sama antara pihak kampus (UNP)
dengan instansi terkait dalam bentuk magang, penelitian, atau kuliah umum.
Adanya dokumentasi dan foto bersama juga memperkuat ikatan kelembagaan
dan bisa dijadikan rujukan kegiatan serupa di masa mendatang.
5. Motivasi untuk berkarier di lembaga pemerintah
Mahasiswa menjadi lebih termotivasi untuk memahami proses rekrutmen,
kompetensi yang dibutuhkan, serta tantangan dan peluang berkarier di lembaga
pemerintah seperti RRI atau PPSDM. Informasi terkait pengembangan ASN, uji
kompetensi, dan budaya kerja di instansi publik menjadi bekal penting untuk
masa depan.
6. Dokumentasi dan Evaluasi Lapangan
Seluruh rangkaian kegiatan KKL telah didokumentasikan dalam bentuk foto,
catatan lapangan, serta resume diskusi yang dapat dijadikan bahan laporan
akademik dan arsip kelembagaan. Evaluasi dari dosen pendamping dan peserta
menunjukkan bahwa kegiatan ini berjalan lancar dan memberi manfaat langsung
bagi pengembangan kapasitas mahasiswa.

3.4. Kendala yang dihadapi


Selama pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL), terdapat beberapa kendala
yang dihadapi oleh peserta yang memengaruhi kelancaran kegiatan secara
keseluruhan. Salah satu masalah utama yang terjadi adalah keterlambatan
kedatangan ke RRI Bukittinggi. Hal ini disebabkan oleh kondisi lalu lintas yang
padat serta waktu keberangkatan dari kampus yang sedikit molor dari jadwal
semula. Akibatnya, waktu yang dialokasikan untuk sesi diskusi dan tanya jawab
di RRI menjadi lebih singkat dari yang direncanakan dalam rundown. Selain itu,
masalah keterlambatan konsumsi juga muncul. Konsumsi makan siang yang
seharusnya tersedia tepat waktu mengalami keterlambatan distribusi, yang
berdampak pada efisiensi waktu istirahat dan menyebabkan penumpukan agenda
berikutnya.
Masalah berikutnya adalah keterlambatan kedatangan ke instansi kedua, yaitu
PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi. Keterlambatan ini merupakan imbas
dari keterlambatan di agenda sebelumnya serta waktu makan yang memakan
durasi lebih lama dari perkiraan. Akibatnya, peserta tiba di PPSDM melebihi
waktu yang dijadwalkan dalam rundown. Hal ini berdampak pada berkurangnya
waktu untuk berdiskusi secara optimal dan menyebabkan penyesuaian mendadak
terhadap agenda yang sudah disusun. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan
tidak berjalan sepenuhnya sesuai rundown, sehingga diperlukan koordinasi
ulang dengan pihak instansi dan penyesuaian waktu secara cepat di lapangan.
Kendala-kendala tersebut menjadi bahan evaluasi penting untuk kegiatan serupa
di masa mendatang. Diperlukan perencanaan waktu yang lebih realistis,
koordinasi transportasi yang lebih baik, serta antisipasi terhadap kemungkinan
keterlambatan logistik seperti konsumsi. Dengan demikian, agenda yang telah
disusun dapat berjalan lebih efisien dan memberikan pengalaman pembelajaran
yang maksimal bagi seluruh peserta.

3.5.Solusi
Untuk mengatasi berbagai kendala yang terjadi selama kegiatan Kuliah
Kerja Lapangan (KKL), sejumlah solusi dan tindakan cepat telah dilakukan oleh
panitia dan dosen pendamping guna meminimalisir dampaknya terhadap
jalannya kegiatan. Menanggapi keterlambatan kedatangan ke RRI Bukittinggi,
panitia segera melakukan koordinasi ulang dengan pihak RRI untuk
menyesuaikan waktu pelaksanaan diskusi dan tanya jawab, sehingga inti materi
tetap dapat disampaikan meskipun dalam waktu yang lebih singkat. Selain itu,
kegiatan foto bersama dipercepat agar tidak mengganggu jadwal selanjutnya.
Terkait dengan keterlambatan konsumsi, panitia langsung berkoordinasi dengan
pihak katering untuk mempercepat distribusi makanan. Sementara itu, dosen
pendamping mengambil inisiatif untuk mengatur ulang waktu istirahat agar tetap
efisien tanpa mengurangi hak peserta. Untuk mengatasi keterlambatan ke
instansi kedua, yaitu PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi, panitia segera
menghubungi pihak PPSDM untuk menyampaikan informasi keterlambatan dan
menyusun ulang durasi kegiatan yang memungkinkan, dengan mengutamakan
poin-poin diskusi yang paling esensial.
Secara keseluruhan, meskipun rundown tidak berjalan sepenuhnya sesuai
rencana, panitia dan dosen pendamping melakukan langkah adaptif dengan
berfokus pada fleksibilitas agenda, menjaga komunikasi yang baik dengan pihak
instansi, serta memastikan seluruh peserta tetap mendapatkan pengalaman
pembelajaran yang optimal. Masalah-masalah yang terjadi juga dicatat sebagai
bahan evaluasi untuk perbaikan manajemen waktu, logistik, dan teknis dalam
kegiatan akademik lapangan di masa mendatang.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Kaitkan Kegiatan KKL dengan Mata Kuliah


Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke RRI Bukittinggi dan PPSDM Kemendagri
Regional Bukittinggi memberikan pengalaman langsung yang sangat relevan dengan
mata kuliah Komunikasi Advokasi Kebijakan Publik, karena dalam kegiatan ini
mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga menyaksikan bagaimana proses
komunikasi dan advokasi dijalankan oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam praktik
nyata. Di RRI Bukittinggi, mahasiswa mendapatkan wawasan tentang bagaimana
sebuah media publik menyampaikan informasi kebijakan kepada masyarakat. RRI
berperan sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat, di mana berbagai
program siaran mereka mengandung unsur edukasi, sosialisasi kebijakan, hingga
penyadaran publik. Contohnya, RRI menyampaikan informasi seputar pemilu,
kesehatan masyarakat, penanggulangan bencana, dan pembangunan daerah melalui
format siaran yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Ini adalah bentuk
nyata dari komunikasi publik yang efektif, yang menjadi salah satu aspek penting dalam
pembelajaran mata kuliah ini.
Selain itu, kunjungan ke PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi juga
memperlihatkan bentuk lain dari komunikasi dan advokasi, yakni kepada kalangan
internal pemerintahan, yaitu aparatur sipil negara (ASN). PPSDM menjadi wadah untuk
mentransformasikan nilai-nilai kebijakan publik kepada pelaksana di lapangan melalui
pelatihan, bimtek, dan uji kompetensi. Dengan demikian, PPSDM bukan hanya sebagai
tempat pelatihan teknis, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan, menjelaskan,
dan meyakinkan ASN agar memahami dan mampu menjalankan kebijakan yang
ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Ini merupakan contoh advokasi
kebijakan secara struktural, di mana lembaga pemerintah mendorong pemahaman dan
penerimaan kebijakan kepada para pelaksana melalui proses pembelajaran dan
pelatihan.

Selain dari isi kunjungan, proses pelaksanaan KKL itu sendiri—mulai dari perencanaan,
komunikasi dengan pihak instansi, penyusunan surat permohonan, hingga diskusi dan
tanya jawab—juga menjadi bentuk nyata dari keterampilan komunikasi yang diajarkan
dalam mata kuliah ini. Mahasiswa dilatih untuk melakukan komunikasi kelembagaan,
menyampaikan maksud kegiatan dengan cara yang formal, serta membangun hubungan
baik dengan pemangku kepentingan (stakeholder) yang ada di instansi pemerintahan.
Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa juga terlibat langsung dalam proses komunikasi
partisipatif, di mana mereka belajar bagaimana menyampaikan pertanyaan, menyusun
argumen, serta memahami cara penyampaian informasi dari narasumber yang mewakili
lembaga publik.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat menyimpulkan bahwa komunikasi dan advokasi
dalam kebijakan publik bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi mencakup strategi,
pendekatan, media, dan tujuan tertentu agar kebijakan bisa diterima, dipahami, dan
dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat dan aparatur. Dengan menyaksikan langsung
proses tersebut di lapangan, mahasiswa memperoleh pembelajaran yang lebih utuh dan
bermakna dari apa yang mereka pelajari di kelas. Oleh karena itu, KKL ini memberikan
kontribusi penting dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa, baik secara teoritis
maupun praktis, dalam bidang komunikasi kebijakan publik dan advokasinya.
B. Analisis dan Evaluasi
Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke RRI Bukittinggi dan PPSDM Kemendagri
Regional Bukittinggi secara umum berjalan dengan baik dan memberikan manfaat besar
bagi mahasiswa, khususnya dalam hal pemahaman praktis terhadap materi perkuliahan,
seperti mata kuliah Komunikasi Advokasi Kebijakan Publik. Melalui kunjungan ini,
mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana peran media publik dan lembaga
pelatihan pemerintahan dalam menyampaikan dan mendukung implementasi kebijakan.
Namun, jika dianalisis secara keseluruhan, terdapat beberapa hal yang perlu dievaluasi
untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan serupa di masa depan. Dari sisi
perencanaan waktu, terdapat kekurangan dalam manajemen durasi perjalanan dan
ketepatan waktu, yang menyebabkan keterlambatan tiba di lokasi instansi serta
bergesernya waktu pelaksanaan kegiatan dari rundown yang telah disusun. Kondisi ini
berdampak pada pemangkasan waktu diskusi, sehingga interaksi mahasiswa dengan
narasumber menjadi kurang maksimal. Selain itu, keterlambatan konsumsi juga
mengganggu kelancaran alur kegiatan dan kenyamanan peserta.
Dari sisi pelaksanaan di lapangan, komunikasi dengan instansi sudah berjalan cukup
baik, namun masih bisa ditingkatkan dengan memastikan konfirmasi jadwal yang lebih
detail dan fleksibel. Kendala teknis seperti keterlambatan dan perubahan waktu
menunjukkan bahwa penting untuk memiliki rencana cadangan (contingency plan)
dalam pelaksanaan kegiatan lapangan. Dari sisi substansi, materi yang disampaikan oleh
kedua instansi sangat relevan dan memperkaya wawasan mahasiswa, namun waktu
penyampaian yang terbatas membuat beberapa topik belum dapat digali secara lebih
mendalam. Respons peserta terhadap kegiatan secara umum sangat positif, terlihat dari
antusiasme selama sesi diskusi dan tanya jawab. Hal ini menunjukkan bahwa KKL
menjadi metode pembelajaran yang efektif untuk membangun pemahaman kontekstual
mahasiswa terhadap teori yang telah dipelajari di kelas.
Secara keseluruhan, KKL ini dinilai sukses dalam mencapai tujuan utamanya, yaitu
memberikan pengalaman pembelajaran langsung kepada mahasiswa mengenai praktik
komunikasi dan advokasi dalam penyelenggaraan kebijakan publik. Namun, untuk ke
depannya, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis, logistik, dan
koordinasi waktu agar kegiatan dapat berlangsung lebih optimal. Dengan perbaikan
yang tepat, kegiatan KKL seperti ini berpotensi menjadi salah satu bentuk pembelajaran
yang paling berdampak dalam pengembangan kompetensi akademik dan profesional
mahasiswa.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke RRI Bukittinggi dan PPSDM
Kemendagri Regional Bukittinggi memberikan pengalaman langsung yang
sangat bermanfaat bagi mahasiswa, khususnya dalam memahami praktik
komunikasi dan advokasi kebijakan publik di lingkungan lembaga pemerintah.
Mahasiswa dapat melihat bagaimana komunikasi publik dilakukan oleh media
pemerintah seperti RRI, serta bagaimana proses advokasi dan penguatan
kapasitas aparatur dilakukan melalui pelatihan di PPSDM. Meskipun terdapat
beberapa kendala teknis seperti keterlambatan waktu dan konsumsi, secara
keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik, informatif, dan mendukung capaian
pembelajaran yang telah dirancang dalam mata kuliah. Kegiatan ini tidak hanya
memperluas wawasan mahasiswa terhadap dunia kerja di sektor publik, tetapi
juga meningkatkan keterampilan komunikasi, observasi, dan analisis kebijakan
secara praktis.
B. Saran
Agar kegiatan KKL di masa mendatang dapat berjalan lebih optimal, disarankan
agar perencanaan teknis dan manajemen waktu diperbaiki, termasuk jadwal
keberangkatan, koordinasi konsumsi, serta durasi kunjungan yang disesuaikan
secara realistis dengan jarak tempuh. Selain itu, komunikasi awal dengan
instansi perlu dilakukan lebih matang dan terstruktur agar tidak terjadi
miskomunikasi atau perubahan jadwal mendadak. Perlu juga disiapkan rencana
alternatif (contingency plan) untuk mengantisipasi hambatan di lapangan. Dari
sisi pembelajaran, akan lebih baik jika mahasiswa diberi tugas observasi atau
resume lapangan secara individu atau kelompok untuk memperdalam
pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan. Diharapkan kegiatan
seperti ini terus dikembangkan karena terbukti efektif dalam menghubungkan
teori dengan praktik di dunia kerja pemerintahan.

Lampiran

Anda mungkin juga menyukai