0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan35 halaman

5.bab Ii

Dokumen ini membahas tentang konsep shalawat, yang merupakan doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Shalawat memiliki landasan kuat dalam Al-Qur'an dan hadis, serta memiliki banyak keutamaan bagi yang mengamalkannya. Selain itu, shalawat juga berfungsi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan rahmat serta keberkahan.

Diunggah oleh

Mantap Banar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan35 halaman

5.bab Ii

Dokumen ini membahas tentang konsep shalawat, yang merupakan doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Shalawat memiliki landasan kuat dalam Al-Qur'an dan hadis, serta memiliki banyak keutamaan bagi yang mengamalkannya. Selain itu, shalawat juga berfungsi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan rahmat serta keberkahan.

Diunggah oleh

Mantap Banar
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Pustaka
1. Konsep Shalawat
a. Pengertian Shalawat
Pengertian Shalawat menurut bahasa berarti
do’a atau seruan kepada Allah swt, sedangkan
menurut Istilah, Shalawat adalah rahmat yang
sempurna, kesempurnaan atas rahmat bagi
kekasihnya. Disebut rahmat yang sempurna, karena
tidak diciptakan shalawat kecuali pada nabi
Muhammad saw. Shalawat adalah bentuk do’a dan
pujian untuk Nabi sebagai ibadah kepada Allah swt.
Shalawat Allah yang dipersembahkan kepada
Rasulullah, berupa rahmat dan kemuliaan (rahmat
ta’dhim). Shalawat dari Malaikat kepada Nabi
Berupa permohonan rahmat dan kemuliaan kepada
Allah untuk nabi Muhammad saw, sementrara
Shalawat dari selain Nabi berupa permohonan
rahmat dan ampunan. Shalawat orang-orang beriman
(manusia dan Jin) adalah permohonan rahmat dan
kemuliaan kepada Allah untuk Nabi, seperti
Allahumma Salli ala sayyidina Muhammad.1
1) Shalawat Menurut Mahmud Yunus dalam
kamus Arab Indonesia yang dikutip oleh
Adrika Fithrotul Aini, menyatakan bahwa:
Shalawat berasal dari kata Shalat dan bentuk
jamaknya menjadi shalawat yang berarti doa
untuk mengingat Allah secara terus-menerus.
2) Shalawat Menurut Al-Haitami, makna
shalawat adalah do’a, shalawat berasal dari
kata shalat dan bentuk jama’nya menjadi
sholawat yang berarti do’a untuk mengingat
Allah secara terus menerus. Sholawat Allah

1
Wildana Wargadinata, spiritual Salawat, (Malang; UIN-MALIKI press,
2010 ) 55-56.

9
kepada hamba-hambanya berupa rahmat. Dan
shalawatnya Allah kepada Rosulullah saw
adalah berupa rahmat, keridahaan
pengagungan, pujian, dan penghormatan.
Sedangkan, shalawatnya para malaikat kepada
rosulullah saw adalah berupa persembahan
dan permohonan ampunan atas segala
kekeliruan dan harapan pelantun shalawat
tersebut agar dicurahkan kasih saying rodul
kepada umatnya. Dan shalawat para pengikut
Rosulullah saw kepada beliau adalah berupa
do’a kemuliaan atas junjungan rosulnya.
Ibnu Abdus Salam berkata, shalawat yang kita
lantunkan dan ditujukan kepada beliau saw bukan
semata-mata sebagai syafaat bagi beliau, karena
mahluk seperti kita tak pantas dapat memberikan
syafaat kepada beliau. Namun, Allah Swt yang
kuasa memerintahkan kita untuk menghargai orang
yang telah berbuat kebajikan kepada kita.
Sedangkan, manfaat dari shalawat senantiasa akan
selalu tercurahkan kepada siapa saja yang
mengucapkannya, baik dalam kondisi dan situasi
apapun.

b. Dalil tentang shalawat


Shalawat merupakan rangkaian iman dan islam.
Shalawat juga memiliki landasan yang kuat
sebagaimana firman Allah swt yang berbunyi:

       

      


Artinya : “ Sesungguhnya Allah dan
malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah
kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam

10
penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab :
56 )2.
Nabi saw juga bersabda :
ِ
‫صالَتُ ُك ْم َعلَى َزكاَةٌلَ ُك ْم‬ َ ‫صلُّ ْو‬
َ ‫ فَان‬,‫اعلَى‬ َ
Artinya : “bershalawatlah kamu
kepadaku, karena shalawat itu menjadi zakat
(penghening jiwa pembersihan dosa)
bagimu”. (diriwayatkan oleh Ibnu
Murdawaih).
,‫اّللُ َعلَْي ِه َو َسل َم يَ ُق ْو ُل‬ ِ ‫ََِسعت رسوَل‬
‫صلى ه‬ َ ‫اّلل‬ ‫ْ ُ َ ُْ ه‬
,‫ الَ ََْت َعلُ ْوا بُيُ ْوتَ ُك ْم قُبُ ْوًرا‬,‫َوالَ ََْت َعلُ ْوا قَ ِْْب ْى ِعْي ًدا‬
ِ ِ
ُ ‫صالَتُ ُك ْم تُبَ لهغُِ ِْن َحْي‬
.‫ث ُكْن تُ ْم‬ َ ‫ فَان‬,‫اعلَي‬ َ ‫صلُّ ْو‬ َ ‫َو‬
Artinya : “saya mendengar
Rasulullah saw. Bersabda : “janganlah kamu
menjadikan rumah-rumahmu sebagai kubur
dan janganlah kamu menjadikan kuburku
sebagai persidangan hari raya. Bershalawtlah
kepadaku, karena shalawatmu sampai
kepadaku dimana saja kamu berada”. (HR.
An-Nasai, Abu Dawud dan Ahmad serta
dishahihkan oleh An-Nawawi)3
Hadis tersebut mengemukakan dengan tegas dan
jelas bahwa Nabi saw menyuruh kita untuk
bershalawat kepadanya, sebab shalawat yang kita
baca itu benar-benar akan sampai kepadanya dimana
saja kita berada. Kecuali itu beliau melarang kita
mengosongkan rumah kediaman kita dari shlawat
dan dzikir, sebagaimana Nabi mencegah kita
menjadikan kuburnya sebagai tempat berpesta pora.
Sedangkan pada surat al-Ahzab ayat 56 yang secara

2
Alquran, Al-Ahzab ayat 56, Alqur’an dan terjemahnya (Jakarta:
Departemen Agama RI, Yayasan Penenrjemah dan Penerbit Alquran, 2001).
3
Lidwa Pustaka i-Software-Kitab 9 Imam, Musnad Ahmad, Kitab: Sisa
Musnad Sahabat yang Banyak meriwayatkan Hadis, Bab: Musnad Abu Hurairah
Radiyallahuanhu, No. 8449.

11
gampbalang menjelaskan tentang “Bershalawat” atas
Rosulullah sekaligus menjadi rangkaian upaya
mengagungkan Nabi Muhammad Saw yang
dilakukan oleh seluruh umat muslim di dunia.
Maka dari itu jelaslah, bahwa shalawat adalah
merupakan tugas beragama yang merupakan ibadat.
Oleh karena itu kita sebagai ummat Islam harus
benar-benar melaksanakan dengan sebaik-baiknya
sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw.
Kapanpun dan dimanapun kita harus senantiasa
mendawamkan membacanya.4
Dalam hadis lain juga dijelaskan :
‫اِ ًّن اَْوََل النا ِس ِ ِْب يَ ْوَم الْ ِقيَ َام ِة اَ ْكثَ ُر ُه ْم‬
.‫صالًَة‬
َ ‫َعلَى‬
Artinya : “ bahwasanya seutama-
utama manusia (orang yang terdekat) dengan
aku pada hari kiamat adalah mereka yang
lebih banyak bershalawat kepadaku”.
(Diriwayatkan oleh An-Nasai dan Ibnu Hibban
dari Ibnu Mas’ud ra.).

c. Keutamaan bershalawat
Banyak sekali hadis yang menerangkan tentang
keutamaan shalawat, sebagaimana dibukukan oleh
Al-Hafizh Ismail Ibn Ishaq dalam kitabnya. Diantara
hadis-hadis itu ialah riwayat Imam Muslim dari Abu
Hurairah r.a., Nabi saw bersabda,
‫اّللُ َعلَْي ِه َع ْشًرا‬
‫صلى ه‬
ِ
َ ‫صلىى َعلَى َواح َدا ًة‬
َ ‫َم ْن‬
Artinya: “Barang siapa bershalawat
kepadaku satu kali, niscaya Allah akan

4
M. Ali Chasan Umar, Kumpulan Shalawat Nabi lengkap dengan
Khasiatnya, (Semarang, Toha Putra) 12-13

12
bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (H.R.
Muslim).5

Telah dijelaskan pula dari Abu Burdah


ibn Niyar dan Abu Thalhah, bahwa Rasulullah
saw. Bersabda,
“Barang siapa diantara umatku yang
bershalawat kepadaku satu kali dengan ikhlas
dari hatinya, niscaya Allah akan bershalawat
kepadanya dengan ‫م‬sepuluh kali shalawat,
mengangkat kedudukannya sebanyak sepuluh
derajat, menuliskan baginya sepuluh
kebaikan, dan menghapuskan sepuluh
kesalahan darinya.” (HR. Ahmad, Al-Nasa’I,
dan Ibn Hibban).
Selain itu, terdapat riwayat lain dari
Ibn Mas’ud r.a Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya manusia yang paling utama
disisiku pada hari kiamat nanti adalah yang
paling banyak memanjatkan Shalawat
untukku.” (HR Al-Tirmidzi dan Ibn Hibban)
Rasulullah saw juga bersabda,
“Shalawat dari umatku akan ditunjukkan
kepadaku setiap hari Jum’at. Barang siapa
paling banyak shalawatnya, niscaya ia lebih
dekat kedudukanya denganku.” (HR. Al-
Baihaqi dan Abu Umamah)
Dalam hadis beliau bersabda,

‫ص ِهل َعلَي‬ ِ ‫الْب ِخيل من ذُكِر‬


َ ُ‫ت عنْ َدهُ فَلَ ْم ي‬
ُ ْ َْ ُ َ

“orang yang bakhil adalah orang


yang ketika aku disebut disisnya lalu ia tidak
bershalawat kepadaku”. (HR. Tirmidzi)6

5
Lidwa Pustaka i-Software-Kitab 9 Imam, Sahih Muslim, Kitab: Shalat,
Bab: Shalawat ats Nabi SAW setelah Tasyahud, No. 616.
6
Lidwa Pustaka i-Software-Kitab 9 Imam, Tirmidzi, Kitab: Do’a, Bab:
Sabda Rasulullah SAW sekalipun si laki-laki nggak suka, No. 3469.

13
Beliau juga bersabda,“Barang siapa
melupakan shalawat kepadaku, niscaya dia
akan salah dalam memilih jalan surga.” (HR.
Ibn Majjah, Al-Baihaqi, Ibn Hibban)
Disamping itu, shalawat juga merupakan
sarana untuk bertawasul kepada Allah dengan
kekasih dan pilihan-nya. Tidak ada wasilah
lain yang lebih mendekatkan diri kepada Allah
daripada dengan perantara Rasul-Nya. Allah
swt juga memerintahkan untuk melakukan hal
tersebut, dan memotivasi kita untuk senantiasa
memberikan penghormatan dan
pengagunggan. Allah swt pun berjanji kepada
orang yang memelihara shalawat dengan
pahala yang baik dan berlimpah. Dengan
demikian, shalawat merupakan amal yang
paling menyelamatkan, do’a yang paling
utama, keadaan yang paling suci, taqarrub
yang sangat agung, dan berkah yang
menyeluruh. Shalawat akan mengantarkan kita
kepada ridha sang maha pengasih, meraih
kebahagiaan dan kesuksesan. Shalawat akan
melahirkan keberkahan, mengabulkan do’a-
do’a, dan membawa orang yang membacanya
kepada derajat yang paling tinggi.7 Firman
Allah swt,

      

    

 
“ Wahai orang-orang yang beriman!
Bertakwalah kepada Allah dan carilah
wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri

7
M. Ramli Husein Khalil, Mengungkap makna dan Rahasia shalawat
kepada Nabi, (Bandung, Mizania,2009) 95.

14
kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di
jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (Q.S. Al-
Maidah ayat 35)8

Diriwayatkan, Allah swt mewahyukan


kepada Nabi Musa a.s. “Wahai Musa! apakah
kamu ingin jika aku lebih dekat kepadamu
daripada ucapanmu kepada lisanmu, daripada
bisiskan hatimu kepada hatrimu, daripada
jiwamu kepada badanmu, dan daripada
cahaya penglihatanmu kepada matamu?”
Nabi Musa a.s. menjawab, “Tentu, wahai
tuhanku! Allah swt pun berfirman,
“perbanyaklah membaca shalawat kepada
Nabi Muhammad.”

d. Macam-Macam Bacaan Shalawat


Shalawat adalah do’a keselamatan dan salam
kepada Nabi saw. Shalawat ada dua macam yaitu:
1) Shalawat Ma’tsurah, yaitu shalawat yang
dibuat oleh Rasulullah sendiri, baik
kalimahnya, cara membacanya, waktu-
waktunya serta fadhilahnya. Contoh,
Allahumma Shalli’ala Muhammadin nabiyi
al-umiyi wa’ala alihi wa as-salim atau
allahumma shalli’alaa muhammadin
‘abdika warasulika nabiyyil ummiyi.
2) Shalawat Ghairu Ma’tsurah, yaitu shalawat
yang dibuat oleh selain Nabi Muhammad
saw (sahabat, Tabi’in atau para Ulama’)
seperti shalawat Munjiyat yang disusun oleh
Syeikh Abdul Qadir Jailani, Shalawat Fatih
oleh syaikh Ahmad at-Tijami, Shalawat
Badar, Shalawat Nariyah dan yang lainnya.
Yang utamanya tak lain adalah sanjungan
kepada Nabi Muhammad saw, sebagai rasa
wujud cinta dan syukur terhadap Allah swt

8
Alquran, Al-Maidah ayat 35, Alqur’an dan terjemahnya (Jakarta:
Departemen Agama RI, Yayasan Penenrjemah dan Penerbit Alquran, 2001).

15
yang telah menciptakan Rasulullah saw
sebagai mahluk pilihan dan penerang bagi
dunia dari sauri teladannya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
macam-macam shalawat ada dua macam, satu
shalawat ma’tshurah, yaitu shalawat yang dibuat
oleh Rasulullah sendiri, baik kalimahnya, cara
membacanya, waktu-waktunya serta fadhilahnya.
Dua shalawat ghairu Ma’tsurah, yaitu shalawat yang
dibuat oleh selain Nabi Muhammad saw, seperti
Shalawat Munjiyat yang disusun oleh Syeikkh
Abdul Qadir Jailani, dan masih banyak lagi sholawat
yang lain.
e. Pahala Shalawat yang akan diraih pembacanya
Diantara keutamaan shalawat yang akan diraih
pembacanya yaitu :
1) Melaksanakan perintah Allah swt. Dengan
bershalawat kepada Rasul-Nya.
2) Sejalan dengan Allah swt dalam bershalawat
kepada Rasul-Nya.
3) Sejalan dengan malaikat dalam bershalawat
kepada Rasulullah saw.
4) Meraih sepuluh shalawat dari Allah swt,
sebagai hasil dari satu shalawat yang
dibacakan. Rasulullah saw bersabda, “Utusan
dari Tuhanku Azza wa Jalla mendatangiku
dan berkata, ‘ barang siapa bershalawat
kepadamu ( Nabi Muhammad) dengan satu
shalawat, niscaya dituliskan baginya sepuluh
kebaikan, dihapus darinya sepuluh kejelekan,
diangkat kedudukannya sepuluh derajat, dan
diberikan pahala yang setimpal dengannya’.”
5) Diangkat sepuluh derajat atas kedudukannya
disisi Allah swt.9
6) Dapat memperoleh syafaat Nabi saw.

9
M. Ramli Husein Khalil, Mengungkap makna dan Rahasia shalawat
kepada Nabi, (Bandung, Mizania,2009) 97.

16
Sebagaimana yang di jelaskan dalam
hadis :
ِ ‫من صلى علَى ِحْي يصبِح ع ْشرا و ِح‬
ُ‫ اَ ْد َرَكْته‬,‫ْي ُيُْس ْى َع ْشًرا‬
َْ َ ً َ ُ ْ ُ َْ َ َ َْ
‫َش َفا َع ِ ِْت يَ ْوَم ال ِْقياََم ِة‬

Artinya : “ siapa yang bershalawat


kepadaku pada waktu pagi sepuluh
kali dan pada waktu sore sepuluh kali,
maka ia akan memperoleh syafa’atku
pada hari kiamat”. (Diriwayatkan
oleh Thabrani dari Abi Darda’ ra.).

7) Mendekatkan diri kepada Allah swt.


8) Melipat gandakan pahala yang diperoleh. Dan
diampuni dosa-dosanya. Hal ini apabila
seseorang memperbanyak membaca sholawat
dihari jum’at.
Nabi saw bersabda :
.‫صالَةٍ غُ ِفَرلَهُ ذَنْب ِما ئَ َ ِْت َعام‬
ٍ
َ ‫مائِت‬
ِ
ْ َ ‫صلى َعلَى يَ ْوَم ا ْْلُ ْم َعة‬
َ ‫َم ْن‬

Artinya : “ siapa bershalawat


kepadaku pada hari jum’at dua ratus
shalawat, maka diampuni baginya
dosa dua ratus tahun”. (Diriwayatkan
oleh Ad-Dailami dari Abi Dzar ra.).10

9) Allah dan para Malaikat akan bershalawat


kepada orang yang membaca Shalawat.
10) Menyucikan dan membersihkan jiwa orang
yang membaca shalawat.
11) Shalawat menyelamatkan pembacanya dari
segala kesulitan di hari kiamat.
12) Shalawat menjadi faktor yang membuat
Rasulullah saw menjawab apa yang
dibacanya.

10
M. Ali Chasan Umar, Kumpulan Shalawat Nabi lengkap dengan
Khasiatnya, (Semarang, Toha Putra) 36-37.

17
13) Shalawat menempatkan pembacanya pada
majlis yang mulia dan tidak
mengembalikannya kepada keadaan rugi
dihari kiamat.
14) Menghilangkan perasaan bakhil.
15) Shalawat menyelamatkan pembacanya dari
kejahatan orang yang mendoakan keburukan
baginnya.
16) Meraih kasih saying Allah swt.
17) Menjadi factor dalam memberikan hidayah
dan menghidupkan hati.
18) Memberikan hak Rasulullah saw yang pantas
diterima, dan mensyukuri nikmat Allah yang
telah diberikan kepada kita.
19) Pahala shalawat kepada nabi saw sebanding
dengan memerdekakan hamba sahaya.
20) Shalawat kepada Nabi saw dari seorang
hamba merupakan doa dan permintaan dari
tuhannya ‘Azza wa jalla. Dengan demikian,
adakalanya dia berdoa untuk Nabinya, dan
adakalanya dia berdoa untuk dirinya sendiri.
21) Membersihkan sifat kikir yang mengotori
jiwa. Rasulullah saw bersabda, “orang kikir
itu orang yang apabila namaku disebut
disisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”
22) Menjadi faktor dikabulkannya doa-doa.
Rasulullah saw bersabda, “setiap doa
seseorang itu terhalang, sehingga dia
bershalawat kepada Nabi-nya.” Dalam
riwayat beliau bersabda, “bershalawatlah
kepadaku, dan bersungguh-sungguhlah dalam
berdoa. Lalu ucapkanlah,
‫ص ِهل َع ٰلى ُُمَم ٍد َو َع ٰلى ِآل ُُمَم ٍد‬
َ ‫اَلل ُهم‬
‫و ََب ِرْك َع ٰلى ُُمَم ٍد َو َع ٰلى ِآل ُُمَم ٍد َك َما‬

18
ِ ِ
َ ‫ت َع ٰلى إِبْ َراهْي َم َو ِآل إِبْ َراهْي َم إِن‬
‫ك‬ َ ‫ََب َرْك‬
‫َحْي ُد ََِمْي ٌد‬
َِ
Artinya: “Ya Allah, berikanlah
shalawat kepada Nabi Muhammad
dan keluarga Nabi Muhammad.
Karuniakanlah keberkahan kepada
Nabi Muhammad dan keluarga Nabi
Muhammad, sebagaimana engkau
mengaruniakan berkah kepada Nabi
Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim.
Sesungguhnya engkau maha terpuji
lagi maha Mulia”11

23) Shalawat sebagai penujuk jalan menuju surga.


Rasulullah saw bersabda, “barang siapa
namaku disebut disisinya, lalu dia melupakan
shalawat, niscaya dia akan salah jalan
menuju surga.”
24) Mengundang shalawat malaikat kepada orang
yang mengucapkannya. Rasulullah saw
bersabda, “seorang hamba yang bershalawat
kepadaku, niscaya malaikat akan bershalawat
kepadanya.”
25) Menyucikan diri dari majlis yang sia-sia.
Rasulullah saw bersabda, “suatu kaum yang
berkumpul dengan tidak melakukan zikir
kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi-
Nya, maka mereka berada dalam kesia-
siaan.”12

11
Anggraini Munanda Effani, Shalawat Ibrahimiyah Bacaan Arab, Latin
dan Terjemahan, Beserta Keutamaannya,
[Link]
latin-dan-terjemahan-beserta-keutamaannya. Diakses tgl 5 februari 2020.
12
M. Ramli Husein Khalil, Mengungkap makna dan Rahasia shalawat
kepada Nabi, (Bandung, Mizania,2009) 98-102..

19
f. Cara bershalawat kepada Nabi saw.
Mengenai hal ini, Rasulullah telah menjelaskan
kepada para sahabatnya ketika mereka bertanya
kepada beliau tentang hal tersebut. Hadis-hadisnya
diriwayatkan dari berbagai sanad yang sahih. Dalam
sahih Al-Bukhari, Abdurrahman ibn Abi Laila
mengatakan bahwa Ka’b Ibn ‘Ujrah menemuinya
seraya berkata, “Maukah engkau aku berikan kata
mutiara yang aku dengar dari Nabi saw ?”
Abdurrahman menjawab, “tentu, sampaikanlah
kepadaku!” Ka’b pun menjawab, “Aku bertanya
kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah! Bagaimana
cara kami bershalawat kepadamu, ahlul bait, karena
sesungguhnya Allah telah mengajarkan kami bagai
cara menyampaiakan salam kepadamu?” Rasulullah
saw pun menjawab, Ucapkanlah oleh kalian,
‫ص ِهل َع ٰلى ُُمَم ٍد َو َع ٰلى ِآل ُُمَم ٍد َك َما‬ َ ‫اَلل ُهم‬
ِ ِ
‫ك‬ َ ‫ت َع ٰلى إِبْ َراهْي َم َو َع ٰلى ِآل إِبْ َراهْي َم إِن‬ َ ‫صلْي‬
َ
ٍ
‫ اَلل ُهم ََب ِرْك َع ٰلى ُُمَمد َو َع ٰلى ِآل‬.‫َحْي ُد ََِمْي ٌد‬ َِ
‫ت َع ٰلى إِبْ َر ِاهْي َم َو َع ٰلى ِآل إِبْ َر ِاهْي َم‬ ٍ
َ ‫ُُمَمد َك َما ََب َرْك‬
. ‫َحْي ُد ََِمْي ٌد‬
َِ ‫ك‬ َ ‫إِن‬
Artinya: “Ya Allah, berikanlah
shalawat kepada Muhammad dan
keluarganya, sebagaimana engkau
memberikan shalawat kepada Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya engkau maha
terpuji lagi maha mulia. Ya Allah,
karuniakanlah berkah kepada Muhammad dan
keluargannya, sebagaimana engkau
mengaruniakan berkah kepada Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya engkau maha
terpuji lagi maha mulia”.13
13
Lidwa Pustaka i-Software-Kitab 9 Imam, Sahih Bukhari, Kitab: Do’a,
Bab: bershalawat untuk Nabi SAW, No. 5880.

20
Dalam riwayat lain, Abu Sa’id Al-Khudri ra
pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai
Rasulullah! Kami sudah mengetahui cara salam
kepadamu cara salam kepadamu, lalu bagaimana
cara kami bershalawat kepadamu?” beliau
menjawab, Ucapkanlah oleh kalian,

ِ ِ ٍ
َ ‫ص ِهل َع ٰلى ُُمَمد َعْبد َك َوَر ُس ْول‬
‫ك َك َما‬ َ ‫اَلل ُهم‬
‫ت َع ٰلى إِبْ َر ِاهْي َم و ََب ِرْك َع ٰلى ُُمَم ٍد َو َع ٰلى‬ َ ‫صلْي‬ َ
‫ت َع ٰلى إِبْ َر ِاهْي َم َو َع ٰلى ِآل‬ ٍ
َ ‫ِآل ُُمَمد َك َما ََب َرْك‬
.‫إِبْ َر ِاهْي َم‬
Artinya: “Ya Allah, berikanlah shalawat
kepada Muhammad, hamba-mu dan Rasul-
Mu, sebagaimana engkau bershalawat kepada
Ibrahim. Dan karuniakanlah berkah kepada
Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
engkau mengaruniakan berkah kepada
Ibrahim dan keluarga Ibrahim.” (H.R. Al-
Bukhari)14

Abu Hamid Al-Sa’idi ra meriwayatkan bahwa


para sahabat bertanya kepada Rasulullah. Wahai
Rasulullah! Bagaimana cara kami bershalawat
kepadamu? Beliau menjawab, ucapkanlah oleh
kalian,

‫آل إِبْ َر ِاهيْ َم َو ََب ِرْك‬


ِ ‫اَللهم ص ِل َع ٰلى ُُمَم ٍدوأ َْزو ِاج ِه وذُ ِريتِِه َكما صليت َع ٰلى‬
َ َْ َ ‫َ َ َ ه‬ ‫ُ َه‬
ِ ِ
.‫ك ََحْي ُد ََمْي ٌد‬ ِ ِ ِ ِ ‫َع ٰلى ُُمَم ٍد وأ َْزو ِاج ِه وذُ ِريتِ ِه َكما َبرْكت َع ٰلى‬
َ ‫آل إبْ َراهْي َم إن‬ َ ََ َ ‫َ َ َ ه‬

14
Lidwa Pustaka i-Software-Kitab 9 Imam, Sahih Bukhari, Kitab: Do’a,
Bab: bershalawat untuk Nabi SAW , No. 5881.

21
Artinya: Ya Allah, berikanlah
shalawat kepada Muhammad, istri-istrinya,
dan keturunya, sebagaimana engkau
bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan
karuniakanlah berkah kepada Muhammad,
istri-istrinya, dan keturunanya, sebagaimana
engkau mengaruniakan berkah kepada
keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau
maha terpuji lagi maha Mulia.” (H.R. Al-
Bukhari)15

Abu Mas’ud Al-Anshari ra berkata, “Rasulullah


saw mendatangi kami yang sedang berada di majelis
Sa’d ibn Ubadah. Lalu Basyir ibn Sa’d berkata
kepada Rasulullah, Allah telah memerintahkan kita
untuk bershalawat kepadamu, lalu bagaimana cara
kami bershalawat kepadamu? Mendengar
pertanyaan itu, beliau diam sehingga kami menduga
bahwa beliau tidak akan menjawabnya. Kemudian
Rasulullah saw bersabda, Ucapkanlah oleh kalian,
‫ص ِهل َع ٰلى ُُمَم ٍد َو َع ٰلى ِآل ُُمَم ٍد َك َما‬ َ ‫اَلل ُهم‬
‫ت َع ٰلى إِبْ َر ِاهْي َم و ََب ِرْك َع ٰلى ُُمَم ٍد َو َع ٰلى‬ َ ‫صلْي‬ َ
‫ت َع ٰلى ِآل إِبْ َر ِاهْي َم ِ ِْف‬ ٍ
َ ‫ِآل ُُمَمد َك َما ََب َرْك‬
.‫َحْي ُد ََِمْي ٌد‬
َِ ‫ك‬ َ ‫ْي إِن‬ ِ
َ ْ ‫الْ َعالَم‬
Artinya: “Ya Allah, berikanlah shalawat
kepada Muhammad dan keluarganya,
sebagaimana engkau bershalawat kepada
Ibrahim. Dan karuniakanlah berkah kepada
Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
engkau memngaruniakan berkah kepada
keluarga Ibrahim. Engkau maha terpuji lagi

15
Lidwa Pustaka i-Software-Kitab 9 Imam, Sahih Bukhari, Kitab: Do’a,
Bab: Bolehkah bershalawat untuk selain Nabi Saw ?, No. 5883.

22
maha mulia di semesta alam ini.” (H.R
Muslim)16
Cara shalawat yang telah diajarkan Rasulullah
saw kepada para sahabatnya ini merupakan cara
shalawat yang paling utama dan sempurna, karena
didalamnaya terkumpul shalawat kepada Nabi saw
dan keluarganya, serta shalawat kepada Ibrahim as
dan keluarganya. Diantara ulama yang
mengutamakan cara shalawat yang diajarkan oleh
Nabi saw ini adalah Al-Hafizh Ibn Hajr di dalam
kitab Fath Al-Bari. Dia berkata, “cara shalawat
seperti yang diajarkan Nabi saw ini merupakan cara
yang paling utama, karena Nabi saw hanya akan
memilih untuk dirinya bacaan yang paling mulia dan
utama. Termasuk juga dalam hal ini apabila
seseorang bersumpah untuk bershalawat kepada
Nabi saw. Dengan shalawat yang paling utama, jalan
terbaiknya adalah dengan melakukan hal tersebut.”
Disamping itu, para ulama salaf membolehkan
ketika mengucapkan shalawat dan salam kepada
Nabi saw dengan dua bentuk kalimat yang diringkas:
pertama, bacaan Shallallahu alaihi wa sallama
(semoga Allah bershalawat dan memberikan salam
kepadanya), dan kedua, bacaan alaihi al-shalatu wa
al-salamu (baginya shalawat dan salam).17

g. Majelis Dzikir dan Shalawat Yuhyī an-Nufūs


1) Sejarah Majelis Dzikir dan Shalawat Yuhyī
an-Nufūs
Sebelum adanya majelis dzikir dan
shalawat Yuhyī an-Nufūs dulunya pernah
dibentuk Majelis Al-Mutassyabbihin terus
sampai Majlis tombo ati, waktu itu
pelaksanaanya masih muter, berhubung
sekarang tempatnya di Pondok Pesantren Al-
16
Lidwa Pustaka i-Software-Kitab 9 Imam, Sahih Muslim, Kitab: Shalat,
Bab: Shalawat ats Nabi SAW setelah Tasyahud, No. 613.
17
M. Ramli Husein Khalil, Mengungkap makna dan Rahasia shalawat
kepada Nabi, (Bandung, Mizania,2009) 103-107.

23
Kahfi terus dan telah mengalami stagnasi,
maka beliau romo kyai Ali Mudhofar
membuat majelis ini. Awal mula berdirinya
majelis ini merupakan perhatian dari romo
kyai Ali Mudhofar terhadap jiwa-jiwa santri,
masyarakat sekitar dan masyarakat secara
umum yang sekarang mulai mati, dalam hal ini
mati artinya mulai lemah dalam berdzikir dan
bershalawat kepada Allah swt serta
Muhammad saw. Kemudian didirikanlah
Mejelis Dzikir dan Shalawat Yuhyī an-Nufūs
yang artinya mejelis dzikir dan shalawat untuk
menghidupkan jiwa-jiwa supaya hidup untuk
berdzikir dan bershalawat.
Nama Yuhyī an-Nufūs sendiri sebenarnya
diambil dari potongan bait Shalawat Annabī
Ṣhallū alaīh, Ṣhalawātullahi’alaīh, Wayanālul
barokāt kulluman shallā’alaīh. dan dibawah
syair itu ada kalimat Annabī Żāka al-arūs,
Żikruhu Yuhyī an-Nufūs, jadi dalam rangka
menumbuhkan jiwa yang sehat semangat dan
lain sebagainya itu ruhnya adalah Nabi, berkat
shalawat kita ingat kepada Nabi, bagaimana
perjuangan beliau, itba’ kepada nabi maka
mampu menumbuhkan semangat jiwa dalam
perjuangan meraih sukses apapun, apa yang
pernah dialami oleh baginda Nabi kita buat
pelajaran. bagaimana cara nabi menghadapi
tantangan, bagaimana cara Nabi menyikapi
orang Qurays pada perjuangan beliau kala itu,
risalah ilmiah, dan lain sebagainya maka
dipakailah nama Yuhyī an-Nufūs.
Jadi Yuhyī an-Nufūs itu bisa memberikan
semangat motivasi, dan disamping itu
shalawat memang benar-benar luar biasa,
ibadah yang sudah pasti diterima, kemudian
membaca shalawat selain dianggap sebagai
ibadah yang baik juga bisa sebagai obat, bisa
diampuni dosa-dosa kita, diangkat derajat kita,
dan yang terpenting mendapatkan syafaat dari
24
Nabi Muhammad saw kelak di hari akhir, dan
masih banyak keutamaan lainya.
Majelis ini dilaksanakan selapan sekali
(36 hari) setiap malam Kamis wage setelah
sholat iysa’di Roudhoh Pondok Pesantren Al-
Kahfi bawu Batealit Jepara. di hadiri oleh
kiyai, habaib, santri, wali santri, masyarakat
sekitar, dan masyarakat umum. Adapaun
rangkaian acaranya adalah, dimulai dengan
dzikir rotibul hadad, pembacaan surat yasin,
pembacaan maulid Nabi saw dalam hal ini
yang dibaca adalah maulid simtut duror, dan
dilanjut dengan pembacaan kitab oleh romo
kyai Ali Mudhofar Al-Hafidz, adapun kitab
yang dibaca adalah kitab syarah rotibul hadad.
Setelah itu di lanjut ramah tamah oleh semua
jamaah yang ada.18

2) Teks Shalawat Annabī Ṣhallū Alaīh.

‫ﻭَﻳَﻨَﺎﻝُ ﺍﻟَﺒﺮَﻛَﺎﺕ ﻛُﻞُّﻣَﻦ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻴﻪ‬ ‫ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴﻪ ﺻَﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴﻪ‬
Annabī Ṣhallū alaīh, Ṣhalawātullahi’alaīh
Wayanālul barokāt kulluman shallā’alaīh.
“ Dialah Sang Nabi, Maka bersholawatlah kepadanya
Sholawat Allah semoga tercurahkan kepadanya”
“Dan setiap orang yang bersholawat kepadanya akan memperoleh
keberkatan”

‫ﺍِﻥَّ َﺭﺏَّ ﺍﻟﻌَﺎَﻟﻤِﻴﻦ َﻓ َﺮﺽَ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ ﻋَﻠَﻴﻪ‬ ‫ﺿﺮِﻳﻦ ﺍِﻋ َﻠﻤُﻮﺍﻋِﻠﻢَ ﺍﻟﻴَﻔِﻴﻦ‬
ِ ‫ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﻳﺎﺣَﺎ‬
Annabī yā Ḥaḍirīn, I’lamū ’ilma al-yaqīn
Inna rabbil’ālamīn ,faroḍossholawāti’alaīh.
“wahai yang hadir bahwa dialah sang Nabi, ketahuilah dengan
ilmulyaqin”
“sesungguhnya tuhan semesta alam mewajibkan bersholawat
kepadanya”

18
KH. Ali Mudhofar Al-Hafidz, wawancara oleh penulis, 24 November,
2019. Wawancara 1, transkip.

25
‫َﻭﺩَﻧَﺎ ﻟَﻪُ ﺍﻟ َﻘﻤَﺮ ﻭَﺍغَ َزﻝ ﺳَﻠَّﻢ ﻋَﻠَﻴﻪ‬ ‫ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﻳَﺎﻣَﻦ ﺣَﻀَﺮ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﺧَﻴﺮُ ﺍﻟَﺒﺸَﺮ‬
Annabī yā man ḥaḍhor, annabī khoiru al-basyar.
Wa danā lahu al- qomar, wāgazal sallam alaīh
“Dialah Sang Nabi wahai orang yang hadir, Nabi sebaik - baik
manusia”
“Dan Rembulan dan Kijang Mendekat dan tunduk Kepadanya,
maka bersalamlah kepadanya”

‫ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭﻯ ﻭَﺍﻟﻤَﺠُﻮﺱ ﺍَﺳ َﻠﻤُﻮﺍ ﺑَﻴﻦَ ﻳَﺪَﻳﻪ‬ ‫ﺍ ﻟﻨَّﺒِﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟ َﻌﺮُﻭﺱ ﺫِﻛﺮُﻩُ ﻳُﺤﻲِ ﺍﻟﻨُّﻔُﻮﺱ‬
Annabī Żāka al-arūs, Żikruhu Yuhī an-Nufūs
Annaṣārā wāl majūs, aslamū baīna yadaīh.
“Dialah Nabi laksana seorang pengantin, dan menyebutnya
menghidupkan jiwa”
“orang - orang nasrani dan majusi masuk islam di hadapannya”

‫ﻧُﻮ ُﺭﻫُﻢ ﻛَﺎﻟﻜَﻮ ﻛَﺒَﻴﻦ ﺟَ ّﺪُﻫُﻢ ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴﻪ‬ ‫ﺤﺴَﻴﻦ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻰ ُﻗﺮَّﺓُ ﺍﻟﻌَﻴﻦ‬
ُ ‫ﺤﺴَﻦ ُﺛﻢَّ ﺍﻟ‬
َ ‫ﺍﻟ‬
Al-Ḥasan Ṡumma al-Ḥusaīn, linnabī qurratul’aīn
Nūruhum kālkaū kabaīn, Jadduhum Ṣhallū’alaīh.
“Al-Hasan kemudian Al-Husain merupakan cindera mata bagi
sang nabi”
“Cahaya mereka laksana bintang-bintang kepada kakek mereka,
bersholawatlah kepadanya”19
Diatas sudah dijelaskan bahwa bentuk
shalawat ada dua macam, yaitu Shalawat
Ma’tsurah dan Shalawat Ghairu Ma’tsurah.
Shalawat Ma’tsurah artinya shalawat yang
diajarkan oleh Nabi saw, jelas tidak menimbulkan
persoaalan apapun, baik susunan maupun hukum
pengamalanya. Namun Shalawat Ghairu
Ma’tsurah shalwat ini tidaklah diterima begitu saja
dikalangan ulama. Karena itu timbullah
permasalahan bolehkah seseorang mengamalkan
shalawat yang tidak pernah diajarkan oleh
Rasulullah saw?, dalam hal ini ulama Ahlussunnah

19
[Link]
[Link].
26
Wal Jamaah menyatakan boleh mengamalkan
shalawat-shalawat yang disusun para Ulama dan
Auliya dan bahkan disunnahkan sebagai
paradigma umum yang mengakui adanya bid’ah
hasanah. Pandangan inilah yang dianut oleh
mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Hal
ini diperkuat dengan adanya hadis
diperbolehkanya seseorang membuat susunan
Shalawat terhadap Rasulullah saw yang
diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a
ِ ِ ٍ
‫صلْي تُ ْم‬َ ‫ ا َذا‬:‫َو َع ِن أَبِ ِن َم ْسعُ ْود َرض َي هللاُ َعْنهُ قاَ َل‬
‫صلى هللاُ َعلَْي ِه َو َسل َم فَاَ ْح ِسنُ ْوا‬ ِ
َ ‫َعلَى َر ُس ْوَل هللا‬
ِ ِ
‫ض‬ُ ‫ك يُ ْعَر‬ َ ‫الصالَةَ َعلَْي ِه فَان ُك ْم الَتَ ْد ُرْو َن لَ َعل ذَل‬
‫اج َع ْل‬ ِ ِ
ْ ‫ اَلل ُهم‬:‫ قَ َال‬,‫ فَ َعله ْمنَا‬: ُ‫َعلَْيه فَ َقالُْوا لَه‬
ِ ِ
َ ْ ‫اتك َعلَى َسيِهد الْ ُم ْر َسل‬
‫ْي‬ َ ‫ك َوبََرَك‬ َ ِ‫صلَ َوات‬
َ َ‫ك َوَر َْحَت‬ َ
ِ ِ ٍ ِ ِ
‫ك‬َ ‫ْي ُُمَمد َعْبد َك َوَر ُس ْول‬ َ ْ ‫اَت النبِيِه‬ َ ْ ‫َوا َم ِام الْ ُمتق‬
َِ ‫ْي َو َخ‬
ِ ِ
ُ‫ اَّلُم ابْ َعثْه‬, ‫اْلَِْْي َوَر ُس ْول الر َْحَة‬ ْ ‫اَِم ِام‬
ْ ‫اْلَِْْي َوقَائِ ِد‬
‫ رواه ابن‬.‫َم َق ًاما َُْم ُم ْوًدا يَ ْغبِطُهُ بِِه اْالَولُْو َن َواْالَ ِخ ُرْو َن‬
‫ماجه‬.
Artinya : “Abdullah bin Mas’ud r.a.
berkata, “Apabila kalian bershalawat kepada
Rasulullah saw maka buatlah redaksi yang bagus
kepada beliau, siapa tahu barangkali shalwat
kalian itu diberitahukan kepada beliau”, mereka
bertanya, “ Ajari kami cara bershalawat yang
bagus kepada beliau” beliau menjawab, “
Katakanlah, ya Allah jadikanlah segala shalawat,
rahmat dan berkah-mu kepada Sayyid para rasul,
pemimpin orang-orang yang bertaqwa,
pamungkas para Nabi, yaitu Muhammad hamba

27
dan rasul-Mu, pemimpin dan pengaruh kebaikan
dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah
anugerahkanlah maqam terpuji yang menjadi
harapan orang-orang terdahulu dan orang-orang
yang kemudian” .(H.R. Ibnu Majjah)

Secara tegas hadits tersebut menyatakan


bahwa tidak ada larangan untuk melantunkan
shalawat kepada Rosulullah dengan lantunan
shalawat yang tidak pernah diajarkan secara
langsung oleh Rosulullah kepada umatnya. Selain
itu, tidak ada yang melarang pula untuk
mengamalkan setiap saat atas shalawat yang tidak
pernah sekalipun dilantunkan oleh Rasulullah
semasa beliau hidup. Bahkan apabila seseorang
ingin menciptakan secara sendiri khusus untuk
bershalawat untuk Rasulullah sangat
diperbolehkan. Diantara shalawat yang
menciptakan sendiri khusus dipersembahkan
kepada Rasulullah adalah shalawat karangan
sahabat Abdullah bin Abbas, seperti yang
disebutkan pada hadis berikut:
‫صلى‬ ِ ِ ٍ ‫وع ِن اب ِن عب‬
َ ‫اس َرض َي هللاُ َعْنهُ اَنهُ َكا َن ا َذا‬ َ ْ ََ
‫ اَلل ُهم تَ َقب ْل‬: ‫صلى هللاُ َعلَْي ِه َو َسل َم قاَ َل‬ َ ‫ب‬ ِ
‫َعلَى الن ِه‬
‫اعةَ ُُمَم ٍد الْ ُكْب َرى َو ْارفَ ْع َد َر َجتَهُ الْعُْليَا َوأ َْع ِط ِه‬
َ ‫َش َف‬
‫ت اِبْ َر َاهْي َم‬ ِ
َ ‫ُس َؤلَهُ ِِف اْالَخَرةِ َواْالُْوََل َك َما اَتَ ْي‬
‫َوُم ْو َسى‬
Artinya: “Ibn Abbas r.a. apabila
membaca shalawat kepada Nabi saw beliau
berkata, “ya Allah kabulkanlah syafaat
Muhammad yang agung, tinggikanlah derajatnya
yang luhur, dan berilah permohonanya di dunia
dan akhirat sebagaimana engkau kabulkan
permohonan Ibrahim dan Musa”.

28
Secara cermat dijelaskan tentang apa yang
diceritakan oleh para sahabat Rasulullah saw
dalam hadis-hadis diatas, maka tidak ada dasar
yang kuat untuk melarang pengamalan
melantunkan shalwat yang tidak pernah diajarkan
oleh Rasulullah saw sekalipun. Andai kata
Rasulullah saw melarang umatnya untuk membuat
shalawat sendiri tentu beliau akan melarangnya
agar tidak membuat shalawat selain yang beliau
ajarkan. Dan kalau sesuatu perbuatan jelas-jelas
dilarang Rasulullah sudah tentun para shahabat
seperti Sayyidina Ibnu Mas’ud dan Syyidina Ibnu
Abbas, yang sudah tidak di ragukan lagi kecintaan
dan ketaatanya pada Rasulullah saw akan berani
melarangnya. Oleh sebab itu kita tidak perlu
bimbang dan ragu dalam mengamalkan shalawat
yang tidak disusun dan tidak pernah diamalkan
oleh Nabi. Karena, disamping tidak menyebabkan
syirik juga belum ditemukan larangan tegas
bershalawat dan berdo’a yang tidak diajarkan Nabi
Muhammad saw. Disamping melantunkan
shalawat sebagai bukti kecintaan kita dan bukti
pengagungan tas kerosulan Nabi Muhammad
sebagai utusan Allah Swt dimuka bumi, kelas di
akhirat barang siapa yang sering bershalawat
kepada Nabi Muhammad Saw, maka akan diakui
sebagai umat beliau dan akan diberi pertolongan
berupa syafa’atnya di Yaumul Qiyamah nanti20
Dari penjelasan diatas dapat di pahami
bahawa shalawat Annabī Ṣhallū Alaīh yang oleh
Kiyai Ali Mudhofar dibikin menjadi sebuah nama
majelis Dzikir dan Shalawat Yuhyī an-Nufūs yang
diambil dari potongan bait dalam kalimat shalawat
yang ada didalamnya tersebut termasuk dalam
kategori shalawat Ghairu Ma’tsurah, yaitu
shalawat yang dibuat oleh selain Nabi Muhammad
saw (sahabat, Tabi’in atau para Ulama’), dan

20
Amar Faruq, Hukum Membuat Shalawat Kepada Nabi Muhammad saw,
dikutib dalam Moh Syaifullah Al Azizi, HUJJAH ASWAJA, 11 Desember 2011.

29
hukum mengamalkan shalawat tersebut
diperbolehkan oleh mayoritas ulama Ahlussunnah
Wal Jamaah.

2. Living Hadis
Sebelum menjelaskan tentang Living Hadis
terlebih dahulu akan diungkapkan makna hadis terlebih
dahulu. Pembicaraan tentang pengertian hadits dan
sunnah terdapat diskurs yang hebat dikalangan umat
Islam. Dikalangan ulama mutaqaddimin (ulama yang
hidup pada abad pertengahan hingga abad ketiga hijriyah)
dan ulama muta’akhirin (pasca abad ketiga) kedua
kelompok ini memiliki pandangan berbeda tentang
konsep diatas.
Secara bahasa hadis mempunyai beberapa arti,
seperti Khobar (berita), jadid (baru), qorib (dekat).
Sedangkan arti sunnah menurut bahasa juga bermacam-
macam, diantaranya; ‘adat (kebiasaan), thoriq (jalan),
sirah (perjalanan hidup). Secara istilah terdapat beberapa
makna. Pertama, menurut kelompok ulama
mutaqaddimin hadits adalah segala perkataan, perbuatan,
ataupun ketetapan yang disandarkan kepada Nabi saw
pasca kenabian. Sementara Sunnah diartikan sebagai
perilaku Nabi saw sepanjang hayat tidak terbatas sebelum
dan sesudah bi’tsah (kenabian). Kedua, dengan demikian
makna sunnah dikandung maksud segala hal yang
bersumber dan berpijak pada Nabi, tsuatu hal yang tidak
terbatasi oleh adanya waktu, seperti berkholwat,
tahannus, jujur, baik yang dilakukan beliau sebelum
berusia 40 tahun maupun sesudahnya dinamakan
Sunnah.21
Kedua, ulama hadits muta’akhirin berpendapat
bahwa hadis dan sunnah memiliki pengertian yang sama,
yaitu segala ucapan, perbuatan atau ketetapan Nabi
ba’dal bi’tsah (setelah kenabian).hanya saja hadis
terbentuk verbal tradition (konseptual), sedangkan
Sunnah sifatnya praktikal (practical tradition).

21
Muhammad Nuruddin, Living Hadis, suatu ikhtiar aplikasi hadits dalam
kehidupan global (Yogyakarta: Idea Press, 2010) 16.

30
Ketiga, ulama Ushul (Ushuliyyun) yang
menekankan pada pribadi beliau sebagai peletak dasar
hokum (legislator), mendefiisikan sunnah sebagai apa
saja yang keluar dari Nabi saw selain al-Qur’an, baik itu
berupa ucapan (aqwal) perbuatan (af’al), ketetapan
(taqririrat) yang tepat untuk dijadikan dalil syara’.
Sedangkan ulama fiqh menetapkan fungsi nabi sebagai
petunjuk untuk suatu hokum syara’ mengartikan sunnah
sebagai segala sesuatu yang ditetapkan Nabi saw yang
tidak termasuk kategori fardhu dan wajib.
Keempat, para orientalis (pengkaji Islam dan
ketimuran) utamnya srjana Barat yang telah melakukan
kajian serius dibidang ini amat banyak, seperti Ignaz
Goldziher (1850-1921 M.) mengkaji evolusi konsep
sunnah dan hadis secara sistematis dan komperehensif.
Menurutnya, sunnah pada awalnya adalah semua yang
berhubungan dengan adat istiadat dan kebiasaan nenek
moyang mereka. Namun dengan datangnya Islam,
kandungan konsep Sunnah mengalami perubahan, yakni
model perilaku Nabi, yakni norma-norma praktis yang
ditarik dari ucapan-ucapan dan tindakan Nabi yang
ditawarkan melalui Hadis. Dengan melihat karakter orang
Arab yang telah terbiasa menyimpan kata-kata hikmah
dari orang-orang biasa maka adalah tidak mungkin
mereka menyerahkan peninggalan dari seorang Nabi
yang berupa kata-kata pada nasib untuk disebarkan secara
lisan. Menurutnya, pertimbangan bahwa penyimpanan
hadis pertama kali dalam bentuk lisan merupakan
pertimbangan yang muncul belakangan.22
Oleh karena itu, menurut Goldziher, hadis dan
sunnah tidak hanya berada bersama-sama, tetapi juga
memiliki subtansi yang sama. Perbedaan antara keduanya
hanyalah jika sebuah hadis adalah semata-mata suatu
laporan dan bersifat teoritis, maka sunnah adalah laporan
yang sama yang telah memeperoleh kualitas normative
dan menjadi prinsip praktis bagi seorang Muslim. Teori
Ignaz Goldziher tentang evolusi sunnah dan hadis diatas

22
Muhammad Nuruddin, Living Hadis, suatu ikhtiar aplikasi hadits dalam
kehidupan global (Yogyakarta: Idea Press, 2010) 17.

31
diikuti dan dikembangkan oleh orientalis-orientalis
lainya, seperti Yoseph Schacht (1902-1969), Snouck
Hurgronje, Lammens dan D.S. Margoliouth.
Kelima, Fazlur rahman (1919-1988 M), kajian-
kajian orientalis tentang evolusi konsep sunnah dan hadis
mendapat respon dari sarjana-sarjana Muslim (intelektual
Muslim). Diantaranya, meskipun ia tidak sepakat dengan
teori mereka yang menyatakan bahwa sunnah Nabi
merupakan kreasi kaum muslim sendiri. Kehidupan Nabi
adalah model bagi kehidupan keberagamaan sekaligus
bersifat normative bagi pengikutnya perilaku Nabi yang
hendak dicontoh oleh generasi awal muslim ini yang
dinamakan sunnah Nabi. Lebih lanjut ia menjelaskan
bahwa formulasi Sunnah dilakukan ketika telah terjadi
perbedaan-perbedaan pendapat dan penafsiran dalam
masalah agama. Dari perbedaan-perbedaan pendapat dan
penafsiran, selanjutnya orang menjadi terbiasa untuk
memepertentangkan sunnah dengan bid’ah yang
kemudian muncul secara luas untuk merumuskan.
Atas dasar itulah, menurut Fazlur Rahman sunnah
adalah informasi tentang apa yang dikatakn Nabi saw.
Dilakukan disetujui atau tidak disetujui beliau, juga
informasi yang sama mengenai para sahabat, terutama
sahabat senior, dan lebih khusus lagi mengenai keempat
khalifah yang pertama, seperti Kodifikasi Qur’an,
pelaksanaan sholat Taraweh, penggajian tentara,
administrasi keuangan, dan lain sebagainya. Dengan kata
lain, sunnah adalah konsep perilaku, baik yang diterapkan
kepada aksi-aksi fisik maupun kepada aksi-aksi mental,
baik yang terjadi sekali saja maupun terjadi
berulangkali.23
a. Pengertian
Secara etimologis, kata Living merupakan terma
yang berasal dari bahasa Inggris “Live” yang dapat
berarti hidup, aktif, dan yang hidup. Kata kerja yang
berarti hidup tersebut mendapatkan bubuhan –ing di
ujungnya (pola verb-ing) yang dalam gramatika

23
Muhammad Nuruddin, Living Hadis, suatu ikhtiar aplikasi hadits dalam
kehidupan global (Yogyakarta: Idea Press, 2010) 17-18.

32
bahasa Inggris disebut dengan present participle
atau dapat juga dikategorikan sebagai gerund. kata
living sendiri diambil dari bahasa Inggris yang dapat
memiliki arti ganda. Arti pertama yaitu “yang
hidup” dan arti kedua adalah “menghisupkan”, atau
yang dalam bahasa arab biasanya disebut al-hayy
dan ihya’. Dalam hal ini living hadis atau Living
Sunnah berarti dapat dialihbahasakan al-sunnah al-
hayyah dan dapat pula menjadi Ihya’ al-sunnah.24
Realitas sejarah membuktikan bahwa setelah
wafatnya Rosulullah Saw, banyak dari kalangan
sahabat yang berniatan dan melaksanakan untuk
proses pengumpulan sunnah-sunnah nabi. Hal ini
bertujuan agar sunnah menjadi ideal dan dapat
diikuti oleh semua umat rosul. Sunnah pada zaman
rosul masih hidup tidak boleh dikumpulkan apalagi
dihafalnya. Sebab rosul memiliki kekhawatiran jika
sunnah nantinya akan menyerupai kalam Ilahi. Pada
generasi para tabi’in dan seterusya, sunnah dijadikan
pedoman hidup untuk dijadikan sebagai sumber
hokum kedua setelah al-Qur’an. Generasi tersebut
menafsirkan sunnah berdasarkan kebutuhan pada
zamannya, sebab apabila zaman semakin
berkembang maka kebutuhan manusia pasti berbeda
dengan zaman sebelumnya. Oleh karena itu, hak
prerogative penafsiran sunnah diserahkan kepada
ahlinya untuk disesuaikan dengan kebutuhan pada
zamannya masing-masing. Proses penafsiran sunnah
yang dilakukan secara terus-menerus dan selalu
konsisten ini telah banyak dijumpai dibeberapa
tempat, diantaranya Hijaz, Mesir, dan Irak disebut
“Sunnah yang Hidup” atau “Living Sunnah”
Sunnah dengan pengertian sebagai sebuah
praktik yang disepakati secara bersama, sebenarnya
identic dengan Ijma kaum muslimin dan termasuk
ijtihad dari para ulama dari generasi awal yang ahli

24
Ahmad Ubaydi Hasbillah, ILmu living Qur’an-Hadis, Ontologi,
epistemologi, dan Aksiologi, ( Tanggerang selatan Banten: yayasan wakaf Darus-
Sunnah , 2019), 20.

33
san tokoh-tokoh politik dalam aktivitasnya. Dengan
demikian, “Sunnah yang hidup” adalah sunnah Nabi
yang bebas ditafsirkan oleh para Ulama, penguasa
dan Hakim sesuai dengan situasi yang mereka
hadapi.25

b. Variasi Living Hadis


Bahan kajian hadits sangat menarik untuk
dijadikan sebagai bahan kajian itu disebabkan
karena adanya problematika perpindahan pandangan
yang berkaitan mengenai tradisi Rosulullah tentang
tidak diperbolehkannya mengumpulkan dan menulis
hadits. Hal tersebut yang memicu munculnya
pemikiran yang sempit dan tidak mengedepankan
keseluruhan cakupan dari hadits. Realita kehidupan
yang sejak lama telah berkembang di lingkungan
masyarakat Islam mengisyaratkan bahwa segenap
kegiatan sosial kemasyarakatan telah terjadi
semacam hubungan timbal balik anta umat Islam
satu dan lainnya dengan sumber hokum Islam kedua
setelah al-Qur’an, yaitu hadits. Sumber dari
penyebab adanya fenimena sosial tersebut akibat
meluasnya teknologi informasi yang semakin mudah
diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Selain itu,
dukungan dari ilmu pengetahuan yang semakin hari
terus berkembang melaluui proses pendidikan.
Dengan dimikan, masyarakat memiliki peran yang
sangat penting sekaligus sebagai objek dari kajian
Living Hadits .26
Alfatih Surya Dilaga berhasil memilah ke dalam
kategori tiga bentuk variasi Living Hadis yang
selama ini berkembang di masyarakat, diantaranya
adalah sebagai berikut:
1) Tradisi Tulis
Dalam realita perkembangan living
hadits tidak bisa terlepas dari tradisi tulis-
25
Muhammad Nuruddin, Living Hadis, suatu ikhtiar aplikasi hadits dalam
kehidupan global (Yogyakarta: Idea Press, 2010) 19.
26
M. Alfatih Surya Dilaga, Aplikasi Penelitian Hadis, (Yogyakarta: Teras,
2009) 182.

34
menulis. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh
masyarakat Islam dan diletakkan pada tempat
yang secara letak sangat tepat seperti surau,
masjid, madrasah, dan lain sebagainya,
sebagai contoh tulisan tentang menjaga
kebersihan. “kebersihan sebagian dari iman”.
Dalam pandangan masyarakat pada umumnya
tulisan tersebut selalu dianggap sebagai hadits
Rosulullah, padahal sebenarnya bila diteliti
secara lebih mendalam perkataan tersebut
bukanlah termasuk ke dalam hadits nabi.
Namun, dari hal tersebut masyarakat hanya
ingin untuk menciptakan kebiasaan yang
bagus serta berkeinginan untuk dapat
menciptakan lingkungan beribadah yang
tentram, aman, dan nyaman demi dapat
terciptanya kebersihan, baik secara lahir dan
batin tentunya.27
2) Tradisi lisan
Tradisi ini dalam ranah living hadis
sebenarnya muncul seiring dengan praktik
yang dijadikan oleh umat Islam. Seperti
bacaan ayat al-Qur’an pada saat sholat subuh
di hari jum’at. Khususnya dikalangan
lingkungan pesantren yang kyainya hafidz al-
Qur’an. Pada hari jum’at khususnya bacaan
setiap rakaat shalat subuh relative lebih
panjang dari hari-hari lainnya karena didalam
shalat tersebut dibaca dua surat yang memiliki
ayat yang panjang.
3) Tradisi Praktik
Tradisi praktik inilah yang sudah banyak
dilakukan oleh umat Islam. Terdapat macam-
macam contoh tentang tradisi ini yang
berkembang di masyarakat luas, misalnya
adanya tradisi khitan bagi bayi perempuan,
dalam kasus ini sebenarnya telah ada dan

27
M. Alfatih Surya Dilaga, Aplikasi Penelitian Hadis, (Yogyakarta: Teras,
2009) 184.

35
sudah ditemukan jauh sebelum Islam dating di
jazirah arab. Berdasarkan penelitian entolog
menunjukkan bahwa adat kebiasaan dikhitan
bagi bayi perempuan sudah pernah banyak
diselenggarakan oleh masyarakat pengembala
di Afrika dan Asia Barat Daya Suku Semit (
Yahudi dan Arab).28

3. Teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim


Pakar ilmuan yang memiliki nama lengkap Karl
Mannheim adalah seorang pakar ahli dalam bidang sosial
di Jerman yang lahir pada tahun 1893 di Budapest
Hongaria. Karl mengarahkan pandangannya yang
merujuk pada pemikir pendahulunya. Dalam hal ini
merujuk dari pandangan Marx (meskipun bukan Marxis).
Seorang ilmuan yang memiliki silsilah dari Yahudi, dia
mengarahkan pandangannya untuk mengambil mata
kuliah filsafat di Budapest pada tahun 1919, ia menetap
di daerah Heidelberg.
Mark menjadi professor sosiologi pada tahun 1928
di Frankrut, ia menerima undangan dari London School
Of Economics untuk menjadi dosen dalam waktu satu
dekade. Pada tahun 1943, ia menjadi professor Sosiologi
pendidikan yang pertama pada University Of London
sebuah posisi yang ia pegang hingga akhir hayatnya.
Mannheim menerjemahkan tentang teori
pengondisian social atau eksistensial pengetahuan pada
bidang keilmuan. Teori tersebut mempunyai arti sebagai
pengaitan antara pengetahuan dengan kondisi social
masyarakat. Mannhiem mengatakan bahwa semua
pengetahuan dan pemikiran walaupun berbeda
tingkatannya pasti dibatasi oleh lokasi dan proses historis
suatu masyarakat.
Prinsip dasar utama sosiologi pengetahuan dari Karl
Mannheim adalah bahwa tidak ada cara berfikir (mode of
thought) yang dapat dipahami jika asal usul sosialnya

28
Lailiyatun Nafisah, Amalan Zikir Nihadul Mustagfirin, studi living
sunnah di yayasan Miftahurrahman Mindahan Kidul Batealit Jepara. Skripsi
IAIN Kudus 2018. 41-42.

36
belum diklarifikasi. Seperti diketahui bahwa ba yak
pandangan yang dapat mengobarkan semangat juang bagi
sebagaian rakyat akibat diprofokasi dengan adanya kabar
berita yang miring, dalam artian hanya kabar burung
semata dan belum jelas keaslian nyatanya. Hal ini
mengakibatkan kejadian yang seharusnya tidak
semestinya terjadi akibat seseorang atau kelompok
mendapatkan berita hoax (belum terbukti keasliannya).
Apabila dalam suatu interaksi sosial tidak terjadi
menyebar luasnya berita bohong, maka keadaan sosial
dapat dikendalikan dan tidak mungkin terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan. Tentu hal ini tidak berarti karena
kabar berita tersebut dapat diputuskan sebagai benar atau
salah semata dengan menguji asal-usul sosialnya, tetapi
karena kabar berita harus dipahami dalam hubungannya
dengan masyarakat yang kompleks dan menyatakan
dalam kehidupan yang mereka mainkan.29
Menurut Mannheim sosiologi pengetahuan didesain
dan dibentuk dengan maksud untuk menemukan suatu
hal, sebab-sebab dari pengaruh sosial dari suatu
keyakinan atau nalar dari masyarakat. Karena objektifitas
dalam pengetahuan tentang masyarakat itu tidak ada dan
tidak mungkin tercapai oleh manusia sendiri, mengingat
manusia merupakan makhluk yang penuh kontradiksi dan
sarat akan kepentingan.
Karl juga memiliki teori relasionisme. Yaitu, setiap
pemikiran selalu berkaitan dengan keseluruhan struktur
yang melingkupinya. Oleh karenanya kebenaran
kebenaran pemikiran hanyalah kebenaran kontekstual,
dinamis, dan terbuka bagi komplementasi, koreksi, dan
ekspansi, bukan kebenaran yang Universal. Maka dari
itu, memahami butir-butir pemikiran seseorang haruslah
berpijak pada lokasi sosial, konteks sosial, dan struktur
kemasukakalan (Plausibility structuture) yang dimiliki
orang itu.

29
Gregory Baum, Agama Dalam Bayang-bayang Relativisme: Sebuah
Analisis Sosiologi Pengetahuan Karl Mannhiem tentang Sintesa Kebenaran
Historis-Normatif (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999), 8.

37
Mannheim juga memiliki teori yang snagat terkenal
yakni mengenai krisis. Penyebab dari semua
problematika yang menimbulkan krisis terletak pada
gejolak yang timbul di semua lapisan kehidupan mulai
dari tingat elite maupun rakyat biasa, hal ini dikarenakan
pedoman dan sumbernya yang baru dalam laissez faire
berdampingan dengan pondasi yang baru dalam
kehidupan ekonomi. Apabila krisis terjadi dalam
kehidupan sosial, maka dapat dipastikan keseimbangan
hudup manusia akan berpengaruh dan tidak dapat
berjalan dengan lancer.30
Teori Karl Menheim mengatakan bahwasanya
tindakan manusia dibentuk oleh dua dimensi, yaitu
perilaku (beharviour) dan makna (meaning). Sehingga
untuk memahami suartu tindakan sosial, harus mengkaji
perilaku dan makna dari perilaku sosial maupun Individu.
Karl mengklarifikasikan makna perilaku dari suatu
tindakan sosial menjadi tiga macam:31
a. Makna objektif, adalah makna yang
ditentukan oleh konteks sosial dimana ia
berlangsung.
b. Makna ekspresif, adalah makna yang
ditunjukkan oleh perilaku tindakan pelaku.
c. Makna documenter, yaitu makna yang
tersirat atau tersembunyi, artinya pelaku
tidak sepenuhnya menyadari bahwa
tindakannya adalah keseluruhan.
Diantara teori-teori yang dikemukakan oleh Karl
Mannheim, peneliti memilih menggunakan teori social
pengetahuan tindakan manusia dibentuk oleh dua
dimensi, yaitu perilaku (beharviour) dan makna
(meaning) untuk mengkaji praktik Majlis Dzikir dan
Shalawat Yuhyī an-Nufūs di Pondok Pesantren Al-Kahfi
Bawu Mojo Batealit Jepara. Penulis menggunakan teori
sosiologi pengetahuan yang ditawarkan oleh Karl

30
Muhya Fanani, Metode Studi Islam: Aplikasi Sosiologi Pengetahuan
Sebagai Cara Pandang ( Yogyakarta: pustaka Pelajar Offset, 2010), 38-39.
31
Gregory Baum, Agama Dalam Bayang-bayang Relativisme: Sebuah
Analisis Sosiologi Pengetahuan Karl Mannhiem tentang Sintesa Kebenaran
Historis-Normatif (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999), 15-16.

38
Mannhiem. Teori tersebut dapat digunakan untuk
mengurai benang merah demi penuntaskan permasalahan
terkait produk penafsiran yang keliru terhadap agama
dengan latar belakang lingkungan sosial yang
membentuk penafsiran baru sehingga menghasilan
pemahaman baru yang keluar dari jalur yang benar.32
Teori inilah yang dijadikan sebagai patokan berpijak dan
sebagai acuan dasar dalam pembahasan asal-usul atau
latar belakang praktik Majelis Dzikir dan Shalawat Yuhyī
an-Nufūs di Pondok Pesantren Al-Kahfi Bawu Mojo
Batealit Jepara. Selain itu, juga untuk mengungkap
praktik atau perilaku dan makna perilaku dari Majlis
tersebut, yang meliputi makna obyektif, makna ekspresif
dan makna documenter.

B. Penelitian Terdahulu
Diperlukan penelitian-penelitian terdahulu sebagai
bentuk kajian secara mendalam untuk dapat melakukan
penelitian tentang praktik Shalawat dalam sebuah tradisi dan
kaitanya dengan penelitian yang dilakukan berkenaan dengan
Living Hadis.
1. Penelitian yang berjudul “Peranan shalawat dalam
relaksasi pada jamaah majelis rasulullah di pancoran,
oleh Wisnu Khoir, fakultas psikologi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2007 Dari hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa sesuai dengan gambaran yang
ingin di ungkap dimana penelitian ini ingin melihat
bagaimana proses relaksasi yang diwadahi denga
membaca shalawat pada jamaah majlis rasulullah.
Maka kelima subyek mengatakan bahwa didalam
membaca shalawat masing-masing subyek memeiliki
tiga aspek, yang pertama yaitu aspek qauliyah yang
mencakup suara, irama, bacaan, yang kedua adalah
aspek fi’liyah yang mencakup gerakan, posisi tubuh,
sikap, sedangkan yang ketiga adalah aspek qolbiyah
yang mencakup kecintaan, keyakinan, penghayatan.

32
Lailiyatun Nafisah, Amalan Zikir Nihadul Mustagfirin, studi living
sunnah di yayasan Miftahurrahman Mindahan Kidul Batealit Jepara. Skripsi
IAIN Kudus 2018. 42.

39
Ketiga aspek diatas sangat berhubungan erat
dengan ketiga jenis relaksasi. Keterkaitan itu diawali
dengan aspek qauliyah (suara,irama, bacaan) yang
akan menyebabkan subyek akan mengalami relaksasi
kesadaran indra. Yang kedua aspek fi’liyah ( gerakan,
posisi tubuh, sikap) yang akan menyebabkan subyek
mengalami relaksasi otot, sedangkan yang terakhir
adalah aspek qolbiyah (kecintaan, keyakinan, dan
penghayatan) yang akan menyebabkan subyek
mengalami relasasi hipnosa. Mengingat hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa shalawat dapat
menimbulkan efek relaks terhadap seseorang, maka
disarankan kepada individu, agar dapat mengamalkan
shalawat dengan keyakinan, penghayatan, dan
kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, agar
sekiranya bacaan shalawat tersebut dapat berimplikasi
kepada sipembacanya.33
2. Penelitian yang berjudul Praktik Zikir Shalawat
Syafa’ah Majelis Faletehan desa pilangpayu
kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan (Kajian Living
Hadis). Skripsi karya Ahmad Fathul Jamal. Skripsi
tersebut menjelaskan motivasi maupun tujuan
mengenai dilakukannya praktik zikir Shalawat oleh
Majelis faletehen desa Pilangpayu kecamatan Toroh
Kabupaten Grobogan yaitu keinginan untuk
mendapatkan Syafaat dari beliau baginda Nabi saw,.34
Dalam kaitanya ini terdapat persamaan dan perbedaan
antara penilitian Ahmad Fathul Jamal dengan Karya
peneliti, letak spesifikasi persamaan adalah sama-sama
pendekatan Living Hadis, sedangkan perbedaan pada
spesifikasi penelitian yang akan meneliti berbagai
aspek terkait praktik Shalawat yang dilakukan oleh
Pondok Pesantren Al-Kahfi bawu Mojo Batealit

33
Wisnu Khoir “Peranan shalawat dalam relaksasi pada jamaah majelis
rasulullah di pancoran”. Skripsi fakultas psikologi UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, 2007.
34
Skripsi Ahmad Fathul Jamal “Praktik Zikir Shalawat Syafa’ah Majelis
Faletehan desa pilangpayu kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan (Kajian
Living Hadis).”

40
Jepara, selain itu peneliti juga menggunakan teori dari
karl Mannheim untuk dijadikan sebagai pisau analisis
Praktik Shalawat Yuhyin Nufus ini.
3. Penelitian yang berjudul “Living Hadis Dalam Tradisi
Malam Kamis Majelis Shalawat Diba’ Bil-Mustofa”
oleh Adrika Fithrotul Aini Pascasarjana UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta 2014. Penelitian ini mengkaji
tentang tradisi shalawat diba’ Majelis bil Musthafa
Yogyakarta. Fokus kajian dalam penelitian ini adalah
mengetahui pemaknaan shalawat dalam komunitas
tersebut. Penelitian ini adalah penelitian lapangan,
yaitu tentang fenomena living hadis. Penelitian ini
bersifat deskriptif, kualitatif, induktif yang artinya
suatu penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan
gambaran umum atau deskripsi tentang living hadis.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan fenomenologi dengan teori
fungsional. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa
tradisi yang berkembang di dalam kehidupan
masyarakat Krapyak merupakan fenomena living
hadis. Selain itu, ada beberapa landasan hadis yang
dijadikan prinsip dalam kegiatan tersebut. Di samping
itu, terdapat makna penting dari adanya majelis
tersebut, yakni praktek ibadah spiritual yang tidak bisa
hilang dalam kehidupan masyarakat.35
4. Penelitian yang berjudul “Tradisi membaca shalawat
dalam peringatan mauled Nabi Muhammad saw oleh
Muslim India Padang perspektif Livisng Hadis” oleh
Syukriadi jurusan tafsir hadis, fakultas Ushuluddin dan
studi Agama UIN Imam Bonjol Padang. Fokus dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
prosesi pelaksanaan maulud Nabi Muhammad SAW
oleh muslim India Padang, persepsi muslim India
Padang dan muslim lain yang berperan dalam tradisi
Maulud Nabi Muhammad SAW oleh muslim India
35
Adrika Fitrotul Aini, “Living Hadis dalam Tradisi malam kamis Majelis
Shalawat Diba’ Bil-Mustofa” Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2014.

41
Padang, serta mengetahui hadis-hadis shalawat yang
dibaca dalam pembacaan kitab Maulud tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field
research) yang bersifat kualitatif, dengan
menggunakan metode analisis deskriptif. Sedangkan
teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
observasi dan wawancara, dengan sumber data:
muslim India Padang dan masyarakat muslim lain
yang ikut berperan dalam pelaksanaan maulud Nabi
Muhammad SAW yang dilaksanakan oleh muslim
India Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
secara umum peserta maulud Nabi Muhammad SAW
tidak mengetahui adanya hadis yang tercantum di
dalam kitab khusus yang mereka baca, sehingga wajar
jika pemahaman mereka hanya sebatas mengikuti
tradisi yang sudah turun-temurun. Persepsi muslim
India Padang terhadap tradisi maulud Nabi
Muhammad SAW, dapat disimpulkan bahwa persepsi
yang paling dominan adalah persepsi menerima karena
asumsi mereka yang menjadikan acara ini sebagai
ajang silaturahmi dan seni budaya. Di antara hadis-
hadis tentang shalawat yang dibaca dalam tradisi
maulud Nabi Muhammad SAW sebagian besar
membicarakan keagungan sifat Nabi Muhammad
SAW. Hadis-hadis tentang shalawat yang dibaca
dalam perayaan maulud ini terdapat dalam kitab
Shahih al-bukhari, Musnad Ahmad bin Hanbal,
Mustadrak ala Shahihain dan Mu jam al-kabir. Dalam
kitab maulud (kitab Manaih al- Anwar fi Madaih al-
rasul wa al-abrar) tersebut hanya terdapat satu hadis
yang shahih yaitu hadis riwayat al-bukhari.36

36
Syukriadi, “Tradisi membaca shalawat dalam peringatan maulid nabi
muhammad saw oleh muslim india padang perspektif living hadis” Skripsi
fakultas ushuluddin dan studi agama, tafsir hadis, UIN Imam Bonjol Padang,
2018.

42
C. Kerangka Berfikir
Dalil-dalil Hadis banyak yang mengemukakan mengenai
dahsyatnya keistimewaan dari shalawat, selain keutamaan
yang diperoleh ketika di akhirat ketika dilantunkannya, di
duniapun dijamin keutamaan tersebut dapat bisa diraih secara
Cuma-cuma. Salah satu kedahsyatan pahala dari Shalawat
yaitu menyucikan dan memebersihkan jiwa seseorang yang
membaca shalawat, serta mendekatkan diri kepada Allah swt
dan meraih syafaat Rasulullah saw. Lewat Majelis Shalawat
inilah bukti rasa wujud cinta dan syukur kita terhadap Allah
swt yang telah menciptakan Rasulullah saw sebagai Mahluk
pilihan dan penerang bagi dunia dari sauri tealadanya.
Ada beberapa jenis shalawat diantaranya, satu shalawat
ma’tshurah, yaitu shalawat yang dibuat oleh Rasulullah
sendiri, baik kalimahnya, cara membacanya, waktu-waktunya
serta fadhilahnya. Dua shalawat ghairu Ma’tsurah, yaitu
shalawat yang dibuat oleh selain Nabi Muhammad saw,
seperti Shalawat Munjiyat yang disusun oleh Syeikkh Abdul
Qadir Jailani, dan masih banyak lagi sholawat yang lain.
Seperti Shalawat Yuhyī an-Nufūs yang telah di praktekkan di
Pondok Pesantren Al-Kahfi Bawu Mojo Batealit Jepara, yaitu
termasuk dalam kategori shalawat ghairu Ma’tsurah.

Hadis

Praktrik Shalawat

Makna

Obyektif Ekspresif Dokumenter


Gambar 2.1
Kerangka berikir

43

Anda mungkin juga menyukai