0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

ADPU4333 Tmk3 Koba Syarif Fatahillah

Dokumen ini membahas pengelolaan keuangan daerah di Indonesia, termasuk peran dan tanggung jawab berbagai pihak seperti Walikota, Sekretaris Daerah, dan DPRD. Selain itu, dijelaskan tentang teori anggaran berbasis kinerja dan proses penyusunan APBD, serta analisis kemandirian daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Terakhir, dijelaskan perbedaan alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) berdasarkan kebutuhan dan kemampuan fiskal daerah.

Diunggah oleh

dela.eriantiii
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

ADPU4333 Tmk3 Koba Syarif Fatahillah

Dokumen ini membahas pengelolaan keuangan daerah di Indonesia, termasuk peran dan tanggung jawab berbagai pihak seperti Walikota, Sekretaris Daerah, dan DPRD. Selain itu, dijelaskan tentang teori anggaran berbasis kinerja dan proses penyusunan APBD, serta analisis kemandirian daerah dan faktor-faktor yang mempengaruhi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Terakhir, dijelaskan perbedaan alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) berdasarkan kebutuhan dan kemampuan fiskal daerah.

Diunggah oleh

dela.eriantiii
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUKU JAWABAN TUGAS MATA KULIAH

TUGAS 3

Nama Mahasiswa : Koba Syarif Fatahillah

Nomor Induk Mahasiswa/ NIM : 050555441

Kode/Nama Mata Kuliah : ADPU4333/Administrasi Keuangan

Kode/Nama UT Daerah : 15/Pangkalpinang

Masa Ujian : 2024/2025 Genap (2025.1)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS TERBUKA
Soal 1
Pengelolaan keuangan daerah adalah bagian penting dari tata kelola pemerintahan daerah yang bertujuan
untuk memastikan bahwa anggaran digunakan secara efisien, efisien, jelas, dan akuntabel. Beberapa
pihak utama terdiri dari pemerintah Kota Batu yang bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan
daerah. Pihak-pihak ini memiliki tanggung jawab dan fungsi khusus seperti berikut:
1. Walikota
a. Peran dan Kekuasaan: Sebagai kepala daerah, Walikota merupakan pemegang kekuasaan
tertinggi atas pengelolaan keuangan daerah.
b. Tugas: Menetapkan kebijakan umum pengelolaan keuangan, mengajukan rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD), melaksanakan anggaran sesuai ketentuan yang berlaku, serta
mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran kepada publik dan pemerintah pusat.
2. Sekretaris Daerah (Sekda)
a. Peran: Sekda bertindak sebagai pejabat administratif tertinggi yang membantu Walikota
dalam pengelolaan pemerintahan termasuk keuangan daerah.
b. Tugas: Mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan keuangan daerah, memfasilitasi proses
penyusunan dan pelaksanaan anggaran, serta memastikan sinergi antar perangkat daerah
dalam pengelolaan keuangan.
3. Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah
a. Peran: Bertanggung jawab dalam aspek teknis pengelolaan keuangan daerah.
b. Tugas: Menyusun dokumen anggaran, melaksanakan pengelolaan pendapatan dan belanja
daerah, mengawasi realisasi anggaran, serta menyusun laporan keuangan daerah.
4. Bendahara Daerah
a. Peran: Pengelola langsung penerimaan dan pengeluaran kas daerah.
b. Tugas: Melakukan pencatatan, penyimpanan, penyaluran, dan pelaporan transaksi
keuangan daerah secara akurat dan sesuai aturan.
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
a. Peran: Lembaga legislatif daerah yang memiliki fungsi pengawasan dan legislasi.
b. Tugas: Menyepakati rancangan APBD yang diajukan oleh Walikota, melakukan
pengawasan pelaksanaan anggaran agar sesuai dengan tujuan pembangunan daerah, serta
memberikan rekomendasi perbaikan.
6. Inspektorat Daerah
a. Peran: Lembaga pengawas internal pemerintah daerah.
b. Tugas: Melakukan audit dan pengawasan terhadap seluruh pelaksanaan pengelolaan
keuangan daerah untuk mencegah penyimpangan dan meningkatkan akuntabilitas.
Soal 2
1. Teori Anggaran Berbasis Kinerja: Anggaran berbasis kinerja adalah suatu sistem penganggaran
yang menghubungkan alokasi anggaran dengan pencapaian hasil, atau hasil, dan keluaran, yang
dapat diukur. Tujuan dari konsep ini adalah untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi,
transparansi, dan akuntabilitas penggunaan anggaran publik. Anggaran berbasis kinerja
mengutamakan "apa yang akan dicapai" daripada "berapa banyak" dana yang diperlukan,
menurut Dye (1976).
2. Proses Penyusunan APBD di Indonesia
a. Perencanaan: Pemerintah daerah menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
yang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). RKPD
menjadi dasar penyusunan program dan kegiatan yang memiliki indikator kinerja.
b. Penganggaran: APBD disusun berdasarkan prioritas program yang terukur dan
diselaraskan dengan kemampuan keuangan daerah. Dokumen APBD harus memuat target
kinerja dan indikator pencapaian.
c. Pelaksanaan dan Evaluasi: Anggaran yang telah disetujui dilaksanakan dan dilaporkan
dengan evaluasi pencapaian kinerja sebagai bahan pengambilan keputusan dan perbaikan.
3. Pandangan tentang Pelaksanaan di Indonesia: UU No. 17 Tahun 2003 dan peraturan
pelaksanaannya telah menetapkan bahwa anggaran harus dibuat berdasarkan kinerja saat
menyusun APBN dan APBD. Ini berarti bahwa pemerintah daerah harus membuat anggaran
dengan fokus pada hasil. Meskipun demikian, masih ada beberapa masalah yang perlu
diperhatikan saat melakukannya:
a. Kapasitas sumber daya manusia di daerah yang masih perlu ditingkatkan, terutama dalam
penyusunan indikator kinerja yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant,
Time-bound).
b. Sistem informasi manajemen keuangan daerah yang belum sepenuhnya mendukung
monitoring kinerja secara real-time.
c. Budaya birokrasi yang kadang masih berorientasi pada penggunaan anggaran bukan
pencapaian hasil. Sehingga, meskipun konsep anggaran berbasis kinerja telah diadopsi,
pelaksanaan secara menyeluruh dan konsisten masih dalam tahap pengembangan dan
perbaikan.
Soal 3
a. Analisis Kemandirian Daerah Pemkab B
Kemandirian daerah merujuk pada kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai kebutuhan
anggarannya melalui sumber pendapatan sendiri, terutama Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dengan melihat data ringkasan pendapatan:
 Jika PAD relatif kecil dibanding total pendapatan (yang juga terdiri dari dana transfer
pusat seperti Dana Alokasi Umum atau DAU, Dana Alokasi Khusus atau DAK), ini
mengindikasikan rendahnya kemandirian daerah. Artinya, daerah sangat bergantung pada
dana transfer pusat untuk membiayai pengeluaran.
 Jika PAD cukup besar dan mampu menutupi sebagian besar kebutuhan daerah, maka
daerah memiliki tingkat kemandirian yang baik.
 Analisis rasio PAD terhadap total pendapatan daerah dan perbandingan dengan standar
nasional dapat digunakan untuk menilai tingkat kemandirian.
b. Faktor-faktor yang Perlu Dianalisis untuk Mengetahui Potensi PAD:
1. Komposisi Sumber PAD:
 Pajak Daerah (pajak hotel, restoran, kendaraan, reklame)
 Retribusi Daerah (layanan, izin usaha, parkir)
 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah (aset dan BUMD)
2. Kemampuan Administrasi dan Pengelolaan:
 Efisiensi sistem pemungutan pajak dan retribusi
 Kualitas data wajib pajak dan retribusi
 Pengawasan dan penegakan hukum terhadap wajib pajak
3. Potensi Ekonomi Daerah:
 Sektor ekonomi utama yang berkembang (pertanian, industri, jasa)
 Tingkat aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha
4. Kebijakan Pemerintah Daerah:
 Tarif pajak dan retribusi yang kompetitif dan adil
 Insentif atau kemudahan bagi wajib pajak untuk mendorong kepatuhan
5. Sumber Daya Manusia dan Teknologi:
 Kapasitas pegawai dalam pengelolaan dan administrasi PAD
 Penggunaan teknologi informasi untuk optimalisasi pemungutan
6. Faktor Eksternal:
 Peraturan pusat yang mempengaruhi PAD
 Kondisi sosial politik yang dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak.
Dengan menganalisis faktor-faktor tersebut, pemerintah daerah dapat mengidentifikasi potensi PAD
yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kemandirian fiskal.
Soal 4
Perbedaan alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) kepada pemerintah daerah terjadi karena mekanisme
perimbangan keuangan pusat dan daerah yang didasarkan pada prinsip keadilan dan pemerataan fiskal.
Berikut adalah faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut:
1. Kebutuhan Fiskal Daerah: DAU diperuntukkan menutupi kebutuhan belanja umum daerah yang
tidak dapat dipenuhi dari PAD. Daerah dengan kebutuhan fiskal lebih tinggi, misalnya karena
jumlah penduduk yang besar, wilayah yang luas, atau kondisi ekonomi yang menantang,
mendapatkan alokasi DAU lebih besar.
2. Kemampuan Fiskal Daerah: Daerah dengan kemampuan fiskal tinggi, yang ditandai dengan PAD
besar, akan memperoleh alokasi DAU yang lebih kecil. Hal ini karena daerah dianggap mampu
membiayai kebutuhan anggarannya sendiri.
3. Formula Perhitungan DAU: Pemerintah pusat menggunakan rumus perhitungan yang
mempertimbangkan variabel-variabel seperti jumlah penduduk, luas wilayah, indeks kesenjangan
fiskal antar daerah, dan faktor lainnya untuk menentukan besaran DAU yang adil.
4. Tujuan Pemerataan Fiskal: DAU berfungsi untuk mengurangi kesenjangan fiskal antar daerah,
sehingga daerah-daerah yang kurang mampu tetap memiliki sumber daya untuk memberikan
pelayanan publik.
5. Perubahan Kebijakan dan Regulasi: Formula dan kebijakan terkait DAU dapat berubah dari
waktu ke waktu sesuai dengan kebijakan fiskal nasional dan kebutuhan pembangunan daerah.
Kesimpulan.
Perbedaan alokasi DAU merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan keuangan negara yang
mengedepankan prinsip keadilan dan pemerataan agar setiap daerah memiliki kemampuan fiskal
yang memadai sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Anda mungkin juga menyukai