0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan26 halaman

Eph - IV Polisi

Dokumen ini membahas etika profesi hukum, khususnya mengenai kode etik dan disiplin anggota kepolisian di Indonesia yang diatur dalam UU No. 2 Tahun 2002 dan peraturan terkait. Pelanggaran terhadap kode etik dapat dikenakan sanksi administratif dan etika, serta proses penegakan hukum yang harus transparan dan akuntabel. Masyarakat juga memiliki hak untuk melaporkan pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polri melalui unit yang berwenang.

Diunggah oleh

Rahma
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan26 halaman

Eph - IV Polisi

Dokumen ini membahas etika profesi hukum, khususnya mengenai kode etik dan disiplin anggota kepolisian di Indonesia yang diatur dalam UU No. 2 Tahun 2002 dan peraturan terkait. Pelanggaran terhadap kode etik dapat dikenakan sanksi administratif dan etika, serta proses penegakan hukum yang harus transparan dan akuntabel. Masyarakat juga memiliki hak untuk melaporkan pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polri melalui unit yang berwenang.

Diunggah oleh

Rahma
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ETIKA PROFESI HUKUM

[Link]
DR. H. AJI SUDARMAJI, S.H., M.H.
POLISI
ETIKA
JAKSA
ETIKA
ETIKA
PROFESI
PROFESI
HUKUM
HAKIM
PROFESI

ADVOKAT
POLISI
Polisi merupakan aparat penegak hukum yang
berkewajiban dalam mewujudkan keamanan dan
kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat,
kepolisian merupakan lembaga pengayoman
masyarakat dalam segala kondisi sosial, diatur dalam
Undang-undang No 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian.
Pada kenyataanya sebagian anggota bertindak
sebaliknya dan tidak sesuai dengan etika profesi
kepolisian atau dalam kata lain polisi melakukan
pelanggaran terhadap kode etik kepolisian. Hal ini
tentunya berakibat hukum dan dapat mengakibatkan
terjadinya tindak pidana.
 Dalam UU No. 2 Tahun 2002 Pasal 13 disebutkan
bahwa tugas pokok Kepolisian Negara Republik
Indonesia adalah:
(a) memelihara keamanan dan ketertiban
masyarakat;
(b) memberikan perlindungan, pengayoman,
dan pelayanan kepada masyaraka, dan
(c) menegakkan hukum.
j. mengajukan permintaan secara langsung
kepada pejabat imigrasi yang berwenang di
tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan
mendesak atau mendadak untuk mencegah
atau menangkal orang yang disangka
melakukan tindak pidana;
k. memberi petunjuk dan bantuan penyidikan
kepada penyidik pegawai negeri sipil serta
menerima hasil penyidikan penyidik pegawai
negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut
umum; dan
l. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang
bertanggung jawab.
Kode etik bagi profesi Kepolisian tidak hanya didasarkan
pada kebutuhan profesional, tetapi juga telah diatur secara
normatif dalam Undang Undang No. 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia yang ditindaklanjuti
dengan Peraturan Kapolri, sehingga Kode Etik Profesi Polri
berlaku mengikat bagi setiap anggota Polri. Terdapat pada
Pasal 1 angka 5 Peraturan Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia No. 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik
Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang telah
dirubah denga Peraturan Kepolisian RI Nomor 7 Tahun 2022
Tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Polri.
Pada dasarnya tujuannya adalah berusaha
meletakkan Etika Kepolisian secara proposional
dalam kaitannya dengan masyarakat. Sekaligus
juga bagi polisi berusaha memberikan bekal
keyakinan bahwa internalisasi Etika kepolisian
yang benar, baik dan kokoh, akan merupakan
sarana untuk:
a. Mewujudkan kepercayaan diri dan
kebanggan sebagai seorang polisi, yang
kemudian dapat menjadi kebanggan bagi
masyarakat.
b. Mencapai sukses penugasan.
c. Membina kebersamaan, kemitraan sebagai
dasar membentuk partisipasi masyarakat.
d. Mewujudkan polisi yang professional, efektif,
efesien dan modern, yang bersih dan
berwibawa, dihargai dan dicintai masyarakat.
Mekanisme Penerapan Kode Etik
Sebagaimana proses penegakan hukum pada
umumnya dalam penerapan Kode Etik Profesi Polri
(KEPP) juga tidak terlepas dari lima faktor yang saling
terkait dengan eratnya karena merupakan esensi dari
penegakan hukum itu sendiri. Mulai dari faktor
hukumnya, faktor penegak hukumnya, faktor
masyarakat dalam hal ini anggota Polri sebagai objek
dari penegakan hukum Kode Etik Profesi Polri dan
faktor kebudayaan dalam organisasi Polri maupun
dalam masyarakat pada umumnya, dan untuk
mengetahui sejauh mana kelima faktor tersebut
sebagai tolak ukur bagi efektivitas penegakan hukum
Kode Etik Profesi Polri.
Peraturan disiplin anggota Polri diatur melalui PP No. 2
Tahun 2003. Landasan kedua adalah Kode Etik Profesi
Polri (KEPP) yang diatur dalam Peraturan Kapolri
Nomor 14 Tahun 2011 yang telah dirubah dengan
Peraturan Kepolisian R.I. Nomor 7 Tahun 2022.
Permasalahannya adalah sulit untuk memisahkan
secara tegas antara berbagai aturan intern tersebut,
selalu ada warna abu-abu, selalu ada sisi terang dan
sisi gelap, akan selalu ada tumpang tindih antara
berbagai aturan tersebut. Permasalahan lain selain
masalah di atas adalah seringnyaperaturan yang
mengatur tentang Kode Etik Profesi Polri ini dilakukan
perubahan.
Dalam Pasal 107 Peraturan Kepolisian R.I.
Nomor 7 Tahun 2022 Pejabat Polri yang
melakukan Pelanggaran KEPP dikenakan
sanksi berupa:
a. sanksi etika; dan/atau
b. sanksi administratif.
Pasal 108 (1) Sanksi etika sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 107 huruf a, meliputi:
a. perilaku Pelanggar dinyatakan sebagai
perbuatan tercela;
b. kewajiban Pelanggar untuk meminta
maaf secara lisan dihadapan Sidang
KKEP dan secara tertulis kepada
pimpinan Polri dan pihak yang
dirugikan; dan
c. kewajiban Pelanggar untuk
mengikuti pembinaan rohani, mental
dan pengetahuan profesi selama 1
(satu) bulan.
(2) Sanksi etika sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), dikenakan terhadap
Pelanggar yang melakukan Pelanggaran
dengan kategori ringan.
Pasal 109 (1) Sanksi administratif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 107 huruf b, meliputi:
a. Mutasi Bersifat Demosi paling singkat 1 (satu)
tahun;
b. penundaan kenaikan pangkat paling singkat 1
(satu)tahun dan paling lama 3 (tiga tahun);
c. penundaan pendidikan paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 3 (tiga tahun);
d. penempatan pada Tempat Khusus
paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja;
dan
e. PTDH.
(2) Sanksi administratif sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dapat dikenakan
terhadap Terduga Pelanggar yang
melakukan Pelanggaran dengan kategori
sedang dan kategori berat.
Selain diatur dalam peraturan kode etik profesi
Polri, tingkah laku anggota juga diatur dalam
peraturan disiplin yang harus ditaati. apabila
anggota tersebut melanggar peraturan disiplin
maka anggota akan dikenakan sanksi disiplin
sesuai dengan yang diamanatkan dalam PP No 2
tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota
Kepolisian Negara Republik Indonesia. bagi
anggota yang melanggar peraturan disiplin maka
dapat dikenakan sanksi berupa tindakan disiplin
atau hukuman disiplin.
Tindakan disiplin sesuai yang diatur dalam Pasal 8
undang-undang diatas berupa teguran lisan dan
tindakan fisik dan yang berhak untuk menjatuhkan
tindakan ini adalah ankum dari anggota tersebut
dan hukuman disiplin sesuai yang diatur dalam
pasal 9 undang-undang diatas dapat dikenakan
sanksi berupa:
a. Teguran tertulis.
b. Penundaan mengikuti pendidikan paling
lama 1 tahun.
c. Penundaan kenaikan gaji berkala.
d. Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1
tahun.
e. Mutasi yang bersifat demosi.
f. Pembebasan dari jabatan.
g. Penempatan dalam tempat khusus paling lama 21
hari.
Dari uraian di atas, sebagai bentuk akuntabilitas kinerja
Polri serta agar memberikan efek jera bagi setiap anggota
Polri yang melakukan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri,
maka penindakan harus diproses secara transparan, tegas
dan bertanggung jawab. Sehingga setiap anggota Polri
yang melakukan pelanggaran disiplin dan pelanggaran
administratif dapat dirapkan sanksi tersebut sebagaimana
mestinya.
Jenis Pelanggaran Etika Profesi Polisi
Jenis pelanggaran anggota kepolisian
dapat berupa:
1. pelanggaran tindak pidana,
2. pelanggaran sumpah atau janji
anggota/jabatan,
3. pelanggaran meninggalkan tugas,
4. pelanggaran terhadap kewajiban, dan
5. pelanggaran terhadap larangan. Ketiga
pelanggaran jenis pertama (pelanggaran
tindak pidana,pelanggaran sumpah atau
janji anggota/jabatan, dan pelanggaran
meninggalkan tugas), sebagaimana
disebutkan di atas, tertuang dalam Pasal 11
Peraturan Pemerintah RI No. 1 tahun 2003
tentang pemberhentian anggota kepolisian
negara RI.
Sedangkan dua jenis pelanggaran terakhir
(pelanggaran terhadap kewajiban dan
pelanggaran terhadap larangan), tertuang
dalam Peraturan Pemerintah RI No 53 Tahun 2010
tentang disiplin pegawai negeri sipil.
Sanksi hukum terhadap ketiga jenis pelanggaran
pertama (pelanggaran tindak pidana,
pelanggaran sumpah atau janji anggota/jabatan,
dan pelanggaran meninggalkan tugas), yakni
seorang anggota kepolisian bisa diberhentikan
dengan tidak hormat.
Sedangkan untuk pelanggaran terhadap
kewajiban dan larangan, seorang anggota
kepolisian bisa dikenakan hukuman disiplin,
mulai dari hukuman disiplin ringan, sampai
pada hukuman disiplin berat sebagaimana
tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI No
53 tahun 2010 tentang pegawai negeri sipil.
Anggota Polri yang melakukan tindak pidana, proses
penyelesaiannya dilakukan melalui peradilan umum,
sesuai Pasal 29 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2002, tentang
POLRI dan Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2002 tentang
pelaksanaan teknis institusional peradilan umum bagi
anggota Polri.
Pelanggaran terhadap sumpah/janji Anggota Kepolisian
Negara Republik Indonesia, sumpah/janji jabatan,
dan/atau Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik
Indonesia dapat dikenakan sanksi pemberhentian tidak
dengan hormat melalui sidang Komisi Kode Etik Profesi
Kepolisian Negara Republik Indonesia, sesuai Pasal 13
Peraturan Pemerintah RI No. 1 Tahun 2003 tentang
pemberhentian anggota Kepolisian.
 Anggota Kepolisian yang meninggalkan tugasnya
secara tidak sah dalam waktu lebih dari 30 (tiga
puluh) hari kerja secara berturut-turut; melakukan
perbuatan dan perilaku yang dapat merugikan
Dinas Kepolisian; melakukan bunuh diri dengan
maksud menghindari penyidikan dan/atau tuntutan
hukum atau meninggal dunia sebagai akibat tindak
pidana yang dilakukannya; atau menjadi anggota
dan/atau pengurus partai politik diberhentikan tidak
dengan hormat dari dinas Kepolisian RI. Proses
pemberhentiannya dilakukan setelahmelalui Sidang
Komisi Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik
Indonesia
Ke mana masyarakat mengadukan pelanggaran
(pidana/disiplin/kode etik) yang dilakukan oleh
anggota Polri? Jika anggota Polri melakukan
pelanggaran baik pidana/disiplin/kode etik,
masyarakat dapat mengadukannya ke
Bagian/Unit yang melaksanakan fungsi Provost.
Seperti di tingkat Mabes Polri ke Divisi Propam
Mabes Polri, di tingkat Polda ke Bidang Propam
atau ke Seksi Propam di tingkat Polres. (Peraturan
Kepolisian RI Nomor 2/2021).
sekian-terima kasih

Anda mungkin juga menyukai