P2 K4 ASIS 4 Fix
P2 K4 ASIS 4 Fix
BAB II
PERCOBAAN II
TRANSFORMATOR TIGA FASA
A. Tujuan Percobaan
Mengetahui model transformator tiga fase yang memiliki tap,
Mengukur sisi tegangan primer dan tegangan sisi sekunder akibat
perubahan tap pada sisi sekunder untuk hubungan trafo bintang-bintang
dan delta-bintang,
Mengetahui perbandingan transformasi transformator akibat tap
transformator.
B. Dasar Teori
B.1. Prinsip Kerja Transformator Tiga Fasa
Trafo adalah peralatan listrik yang berguna untuk mengubah nilai
tegangan atau arus dari satu nilai ke nilai lainnya sesuai kebutuhan. Prinsip
kerja trafo berdasarkan Hukum Faraday. Jenis-jenis trafo sangat beragam,
tergantung pada tegangan kerja, jumlah fasa, dan fungsinya. Salah satu jenis
trafo yang banyak digunakan adalah trafo tiga fasa, yang umumnya bekerja
pada tegangan tinggi dan biasanya dipasang di gardu induk untuk
menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan distribusi.
Transformator tiga fasa berfungsi untuk menyalurkan energi listrik dari
tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya. Trafo ini bekerja pada
sistem tiga fasa, berbeda dari transformator satu fasa yang hanya memiliki
satu jalur tegangan. Perbedaan utamanya terletak pada sistem kelistrikannya,
di mana trafo tiga fasa dapat dihubungkan dengan konfigurasi bintang,
segitiga, atau zig-zag, tergantung kebutuhan sistem.
Transformator tiga fasa banyak digunakan dalam sistem transmisi dan
distribusi tenaga listrik karena pertimbangan efisiensi dan ekonomis.
D. Prosedur Percobaan
1. Membuat rangkaian percobaan seperti pada Gambar 2.1
2. Menghubungkan input rangkaian dengan supply (AC supply)
3. Mengatur supply pada posisi On
4. Mengatur nilai tegangan seperti pada Tabel 2.1
5. Mencatat penunjukkan Voltmeter pada sisi tap sesuai dengan Tabel 2.1.
6. Mengulangi langkah ke 1 sampai ke -5 untuk hubungan delta-bintang.
7. Apabila semua data untuk Tabel 2.1. didapatkan matikan supply AC
sebelum rangkaian percobaan dilepaskan.
100 60,7
150 193,7
200 122,4
220 134,5
100 109.2 103 97.9 92.9 88.7 0.916 0.971 1.021 1.076 1.127
150 160.6 154.1 145.5 137.8 130.6 0.934 0.973 1.031 1.089 1.149
Y-Y
180 192.3 183.8 173.1 165.4 157.5 0.921 0.964 1.011 1.073 1.137
200 216.1 207.5 192.5 186.6 176.1 0.936 0.979 1.040 1.088 1.143
220 238.9 228.2 217.6 205.1 193.5 0.925 0.964 1.039 1.072 1.136
Tabel 2.3 Hasil Perhitungan Rasio Percobaan Tap Transformator Hubung Y-Y
Berdasarkan Tabel 2.3 dapat dianalisa bahwa pada tegangan primer (Vp) diatur nilai tegangannya mulai dari 100-220 V, dimana
pada nilai Vp yang diatur 100 V menghasilkan nilai 103 V pada tap trafo 220 v, ini menunjukan hubung Y-Y berfungsi menjadi
penyeimbangan tegangan dan pada nilai Vp 100 V, dimana tap trafo diataur secara menurun mulai dari 5%, 220, -5%, -10% dan -15%
sehingga Vs yang didapatkan juga akan menurun yaitu 109.2; 103; 97.9; 92.9; dan 88.7 V.
Pada rasio trafo, nilai yang didapatkan menurun sesuai dengan tap trafo yang diatur secara menurun mulai 5% hingga -15%, sesuai
rumus dari rasio transfromasi:
Vp
a=
Vs
Praktikum Transmisi dan Distribusi Tenaga Listrik 2025/F1B022050
Transformator Tiga Fasa
300
238.9
TEGANGAN SEKUNDER (V)
250 228.2
216.1 217.6
207.5 205.1
192.3 192.5
186.6 193.5
200 183.8 176.1
173.1
165.4
160.6
154.1 157.5
145.5
137.8
150 130.6
109.2
103
97.9
92.9
88.7
100
50
0
100 150 180 200 220
TEGANGAN PRIMER(V)
Gambar 2.2 Grafik Pengaruh Tegangan Primer (Vp) Terhadap Penambahan Tap
Trafo Hubung Y-Y
Dari gambar 2.2 diatas dapat dianalisis bahwa pengaruh tegangan primer
terhadap penambahan tap trafo dari 5% sampai -5% hubung Y-Y ketika semakin
besar nilai tegangan primer yang diberikan, yaitu dari 100 V sampai dengan 220 V
sehingga menyebabkan tegangan sekunder yang dihasilkan juga semakin besar.
Pada tap trafo 5% didapatkan tegangan pada sisi skunder yang paling tinggi
dibandingkan tap yang lainnya dikarenakan pada tap ini trafo dalam keadaan step
up
1.200
1.149 1.137 1.143
1.127 1.136
1.150
1.089 1.088
1.100 1.076 1.073 1.072
1.031 1.040 1.039
1.050 1.021 1.011
RASIO
0.900
0.850
0.800
100 150 180 200 220
tegangan sekunder(volt)
Gambar 2.3 Grafik Hubungan Tegangan Primer (Vp) dengan Rasio Transformasi
Trafo Hubung Y-Y
Dari gambar 2.3 grafik di atas dapat di analisa ketika tegangan primer
semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tegangan primer, hal ini
dikarenakan semakin besar nilai tegangan primer dibantingkan tegangan skunder
maka rasio trafonya cenderung konstan. Hal ini sesuai tidak dengan persamaan :
Vp
a=
Vs
Vp
vc (Volt) 5% 220 -5% -10% -15% 5% 220 -5% -10% -15%
100 189.4 171.4 167.5 160.1 151.3 0.528 0.583 0.597 0.625 0.661
150 282.6 266.1 252.8 240.8 231.7 0.531 0.564 0.593 0.623 0.647
-Y
180 335.1 321.3 303.1 288.6 274.9 0.657 0.685 0.726 0.762 0.800
200 375.2 356.9 340.7 321.8 304.7 0.480 0.504 0.528 0.559 0.591
220 411.2 392.5 376.2 357.5 334.6 0.486 0.510 0.532 0.559 0.598
Berdasarkan Tabel 2.4 dapat dianalisa bahwa pada tegangan primer (Vp) diatur nilai tegangannya mulai dari 100-220 V, dimana
pada nilai Vp yang diatur 100 V menghasilkan nilai 171.4 V pada tap trafo 220 V, ini menunjukan hubung Δ -Y berfungsi sebagai
step-up tegangan dan pada nilai Vp 100 V, dimana tap trafo diataur secara menurun mulai dari 5%, 220, -5%, -10% dan -15%,
sehingga Vs yang didapatkan akan menurun yaitu 189.4; 171.4; 167.5; 160.1; dan 151.3 V. Tap trafo sendiri berfungsi untuk
mengatur tegangan output agar sesuai dengan kebutuhan.
Pada rasio trafo, nilai yang didapatkan menurun sesuai dengan tap trafo yang diatur secara menurun mulai 5% hingga -15%,
sesuai rumus dari rasio transformasi:
Vp
a=
Vs
440 411.2
392.5
TEGANGAN SEKUNDER (V)
TEGANGAN PRIMER(V)
Gambar 2.4 Grafik Pengaruh Tegangan Primer (Vp) Terhadap Penambahan Tap
Trafo Hubung Y-Y
Dari gambar 2.4 diatas dapat dianalisis bahwa pengaruh tegangan primer
terhadap penambahan tap trafo dari 5% sampai -5% hubung Y-Y ketika semakin
besar nilai tegangan primer yang diberikan, yaitu dari 100 V sampai dengan 220 V
sehingga menyebabkan tegangan sekunder yang dihasilkan juga semakin besar.
Pada tap trafo 5% didapatkan tegangan pada sisi skunder yang paling tinggi
dibandingkan tap yang lainnya dikarenakan pada tap ini trafo dalam keadaan step
up
0.900
0.800
0.800 0.762
0.726
0.661 0.685
0.700 0.647 0.657
0.625 0.623
0.597 0.593 0.591 0.598
0.600 0.564 0.559 0.559
0.528 0.531 0.528 0.532
0.510
0.504
0.480 0.486
0.500
RASIO
0.400
0.300
0.200
0.100
0.000
100 150 180 200 220
tegangan primer(volt)
Dari gambar 2.5 grafik di atas dapat di analisa ketika tegangan primer
semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tegangan primer, hal ini
dikarenakan semakin besar nilai tegangan primer dibantingkan tegangan skunder
maka rasio trafonya seharusnya semakin meningkat.
Vinl-n (volt)
Hub. Vout (volt) Rasio Trafo
trafo 380√3 dimasukkan nilai yang diatur tegangannya pada sisi primer (Vp)
dibagi √3
Contoh :
Vp = 100V
Vs = Vs/√3 = 60,1 Volt
2. Seiring pemberian tegangan pada sisi primer yang semakin besar hasil keluaran
tap trafo untuk 380√3 akan semakin besar dengan nilai rasio transformasi yang
semakin besar.
Vp 100
a= = =1,647
Vs 60 , 7
1. Tap trafo adalah bagian dari transformator yang difungsikan untuk merubah
transformator dan keluaran transformator yaitu tegangan pada sisi
sekunder.
2. Semakin kecil tap trafo yang digunakan maka tegangan keluaran sekunder
transformator yang dihasilkan akan semakin kecil dengan rasio
transformator yang semakin besar baik pada hubungan Y-Y dan Y-∆.
3. Nilai tegangan sekunder untuk trafo ∆-Y lebih besar dibandingkan trafo
hubungan Y-Y karena pada persamaan pada trafo hubung Y-Y dan Y-∆
untuk tegangan adalah sebagai berikut :
Vp
Y-Y =
Vs
Y-∆ = Vp = Vs
B. Dasar Teori
Pada dasarnya transformator tiga fasa ini terdiri dari tiga buah
transformator satu fasa dengan tiga buah teras besi yang dipasang pada satu
kerangka. Dari tiga teras besi ini ditempatkan masing-masing sepasang
kumparan yakni kumparan primer dan kumparan sekunder. Dengan demikian
seluruhnya akan terdapat tiga buah kumparan primer dan tiga buah kumparan
sekunder. Dari ketiga kumparan primer maupun ketiga kumparan sekunder
dapat dihubungkan secara hubungan bintang (star conection) dan
dihubungkan segitiga (delta conection) (Mukhammad Rif’at Za’im, 2014:10).
Transformator tiga fasa dapat dikonstruksikan dari tiga macam tipe yaitu:
1. 3 x 1 fasa dimana tiga transformator terdiri dari satu fasa yang identik
2. 1 x 3 fasa dimana satu fasa transformator konstruksi tipe tiga fasa
D. Prosedur Percobaan
1. Membuat rangkaian percobaan seperti pada Gambar 2.22 dan Gambar
2.23. untuk hubungan YY
2. Mengatur power supply pada posisi On.
3. Mengatur nilai tegangan primer seperti pada Tabel 2.4.
4. Mencatat hasil penunjukan alat ukur sesuai dengan Tabel 2.4. Mengulangi
pengamatan untuk beban yang berbeda.
5. Mengulangi langkah ke 1 sampai langkah ke 5 untuk hubungan Y untuk
melengkapi pengamatan Tabel 2.5.
6. Apabila semua data untuk Tabel 2.5. didapatkan matikan supply AC
sebelum rangkaian percobaan dilepaskan.
Jenis beban Vp Vs Ip Is
Jenis beban Vp Vs Ip Is
trafo R (%) L (H) (V) (V) (A) (A) (W) (W) (%)
1x3 100 0,6 220 135,10 0,28 0,30 61,6 40,53 65,7
3x1 100 0,6 220 65,80 0,29 0,30 63,8 19,74 30,9
Analisa Perhitungan
Perhitungan Pin trafo 1x3 hubung Y-Y
Pin=Pp = Vp . Ip
= 220 x 0,31
= 68,2 W
Perhitungan Pout trafo 1x3 hubung Y-Y
Pout =Ps = Vs . Is
= 138,3 x 0,32
= 44,25 W
Perhitungan Pin trafo 3x1 hubung Y-Y
Pin=Pp = Vp . Ip
= 220 x 0,33
= 72,6 W
Perhitungan Pout trafo 3x1 hubung Y-Y
Pout =Ps = Vs . Is
= 667,10 x 0,32
= 21,47 W
Perhitungan efisiensi trafo Y-Y
Trafo 1x3
Ps
λ= x 100 %
Pp
Praktikum Transmisi dan Distribusi Tenaga Listrik 2025/F1B022050
Transformator Tiga Fasa
44 , 25
¿ x 100 %
68 , 2
¿64,8 %
Trafo 3x1
Ps
λ= x 100 %
Pp
21, 47
¿ x 100 %
72 ,6
¿29,5 %
Jeni
s beban Vp Vs Ip Is Pp Ps efisiensi
traf
o R (%) L (H) (V) (V) (A) (A) (W) (W) (%)
1x3 100 0,6 220 135,10 0,28 0,30 61,6 40,53 65,7
3x1 100 0,6 220 65,80 0,29 0,30 63,8 19,74 30,9
Tabel 2.6 dapat dianalisa bahwa pada trafo 1x3 ketika beban (R) diatur
secara konstan sebesar 100 Ω dan beban induktif semakin meningkat yaitu 0.4
H, 0.6 H, 0.8 H, maka diatur nilai tegangan primer konstan sebesar 220 V,
tegangan sekunder yang didapatkan dari pengukuran semakin menurun yaitu
128,3 V, 135,1 V, 131.8V, arus primer yang didapat semakin menurun dari 0.31
A, 0.28 A, 0.25 A, serta arus sekunder juga menurun dari 0.32 A, 0.30A,
0.27A. Ketika beban induktif (L) diatur semakin meningkat didapatkan
tegangan sekunder menurun maka didapatkan nilai efisiensi yang semakin
kecil dari 64,8%, 65,7% 64,6%. Hal ini menunjukkan bahwa tegangan primer
dan sekunder mempengaruhi efisiensi trafo .
Pada trafo 3x1 ketika beban (R) diatur secara konstan sebesar 100 Ω dan
beban induktif semakin meningkat, maka didapatkan nilai tegangan primer
Dapat dilihat di tabel diatas juga bahwa ketika trafo 1x3 dan 3x1
dihubung secara Y-Y kemudian tegangan kirimnya konstan dan nilai Beban L
meningkat maka didapatkan bahwa tegangan terima nilainya akan semakin
menurun disebabkan oleh nilai L yang semakin meningkat.
trafo R (%) L (H) (V) (V) (A) (A) (W) (W) (%)
1x3 100 0,6 220 137,9 0,29 0,28 63,8 38,6 60,5
3x1 100 0,6 220 60,2 0,31 0,27 68,2 16,2 23,7
Jeni
s beban Vp Vs Ip Is Pp Ps efisiensi
trafo R (%) L (H) (V) (V) (A) (A) (W) (W) (%)
100 0,4 220 140,1 0,33 0,30 72,6 42,03 57,8
1x3 100 0,6 220 137,9 0,29 0,28 63,8 38,6 60,5
100 0,8 220 134,2 0,28 0,27 61,6 36,2 58,7
100 0,4 220 63,9 0,32 0,29 70,4 18,5 26,2
3x1 100 0,6 220 60,2 0,31 0,27 68,2 16,2 23,7
100 0,8 220 59,8 0,31 0,27 68,2 16,1 23,6
Tabel 2.9 dapat dianalisa bahwa pada trafo 1x3 ketika beban (R) diatur
secara konstan sebesar 100 Ω dan beban induktif semakin meningkat yaitu 0.4
H, 0.6 H, 0.8 H, maka diatur nilai tegangan primer konstan sebesar 220 V,
tegangan sekunder yang didapatkan dari pengukuran semakin menurun yaitu
140.1 V, 137,9 V, 134,2 V, arus primer yang didapat semakin menurun dari
0.33 A, 0.29 A, 0.28 A, serta arus sekunder juga menurun dari 0.30 A, 0.28 A,
0.27 A. Ketika didapatkan tegangan primer konstan dan tegangan sekunder
menurun maka didapatkan nilai efisiensi yang fluktutatif dari 57,8 %, 60,5 %
58,7%. Hal ini menunjukkan bahwa tegangan primer dan sekunder
mempengaruhi efisiensi trafo.
Pada trafo 3x1 ketika beban (R) diatur secara konstan sebesar 100 Ω dan
beban induktif semakin meningkat, maka didapatkan nilai tegangan primer
konstan sebesar 220V, tegangan sekunder yang didapatkan dari pengukuran
semakin menurun yaitu 63.9; 60.2; dan 59.8 V, arus primer yang didapat
semakin menurun dari 0.30; 0.29; dan 0.29 A, serta arus sekunder juga
menurun dari 0.32; 0.31; dan 0.231 A. Ketika di dapatkan tegangan primer
Rafianto, Andy. 2018. “Analisis Sistem On Load Tap Changer (OLTC) Pada
Transformator 150/20kV Untuk Menjaga Kestabilan Tegangan Pada GI
Kaliwungu Jawa Tengah”. Program Studi Teknik Elektro. Fakultas
Teknik. Universitas Muhammadiyah Semarang.
Supriyadi, Ali. 2017. “Hubungan Pada Transformator Tiga Fasa”. Swara Patra:
Majalah Ilmiah PPSDM Migas.
Tim Lab Sistem Tenaga Listrik. 2024. “Modul Praktikum Transmisi dan
Distribusi Tenaga Listrik”. Laboratorium Sistem Tenaga Listrik,
Fakultas Teknik, Universitas Mataram.