0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan18 halaman

MAKALAH Agama

Makalah ini membahas tentang pentingnya toleransi beragama dalam Islam, terutama dalam konteks masyarakat multikultural Indonesia. Toleransi dianggap sebagai kunci untuk menciptakan keharmonisan dan menghindari perpecahan antar umat beragama. Melalui ajaran Al-Qur'an dan contoh dari Nabi Muhammad, makalah ini menekankan bahwa toleransi dapat memperkuat hubungan antar umat beragama dan mendorong saling menghargai.

Diunggah oleh

mukliseighty
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan18 halaman

MAKALAH Agama

Makalah ini membahas tentang pentingnya toleransi beragama dalam Islam, terutama dalam konteks masyarakat multikultural Indonesia. Toleransi dianggap sebagai kunci untuk menciptakan keharmonisan dan menghindari perpecahan antar umat beragama. Melalui ajaran Al-Qur'an dan contoh dari Nabi Muhammad, makalah ini menekankan bahwa toleransi dapat memperkuat hubungan antar umat beragama dan mendorong saling menghargai.

Diunggah oleh

mukliseighty
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH ISLAM DAN TOLERANSI BERAGAMA

Makalah ini disusun sebagai bahan diskusi mata kuliah agama

Dosen: Dr. Muhammad Aziz, M.H.I.

Disusun oleh kelompok 8:

1. Nafiatul Qotimah (240201090)


2. Henny Safitri (240201052)
3. Nur Muhlisin (240201070)
4. Alfin Muzakki (240201037)

PROGRAM STUDI S1 SISTEM INFORMASI

INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS TUBAN

TAHUN 2025
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan Rahmat dan
hidayahnya sehingga kami kelompok 8 dapat menyelesaikan project makalah tentang “islam
dan toleransi beragama” dengan baik.

Tak lupa juga kami sampaikan terima kasih kepada teman-teman semua yang sudah
berkontribusi dalam penyusunan makalah ini. Tentunya tidak akan bisa maksimal jika tidak
mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan baik dari
penyusunan maupun tata Bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu kami
dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini.

Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi
bagi pembaca.

Tuban, 28 Februari 2025

Kelompok 8

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.......................................................................................................1


1.2 Tujuan....................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................3

1.3 Konsep Toleransi Beragama dalam Islam.............................................................3


1.4 Toleransi dalam Al-Qur’an....................................................................................4
1.5 Hadist Rasullulah Tentang Toleransi.....................................................................6

BAB III PRINSIP-PRINSIP TOLERANSI DALAM ISLAM.....................................7

1.6 Menghargai Kebebasan Beragama........................................................................7


1.7 Persamaan Derajat Manusia..................................................................................7

BAB IV IMPLEMENTASI TOLERANSI BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN


SOSIAL.............................................................................................................................9

1.8 Pendidikan Multikultural di Indonesia untuk Menubuhkan Nilai Toleransi Agama


...............................................................................................................................9
1.9 Toleransi dalam Konteks Masyarakat Indonesia.................................................10

BAB V TANTANGAN DAN KENDALA DALAM MENERAPKAN TOLERANSI


BERAGAMA.................................................................................................................12

1.10 Tiga Tantangan dalan Proses Penguatan Moderasi Beragama............................12


1.11 Intoleransi dan Radikalisme Agama di Indonesia...............................................12

BAB VI PENUTUP.......................................................................................................14

1.12 Kesimpulan..........................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................15

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Toleransi antar umat beragama merupakan hal yang sangat urgen dalam kehidupan yang
majemuk seperti yang ada di Indonesia. Keadaan yang majemuk membuat Indonesia kaya
akan keragaman yang tidak ada pada negara lain. Akan tetapi di samping itu pula keadaan
seperti ini juga akan rentan terhadap perpecahan, permusuhan bahkan kepada perang
sekalipun. Karena utuh atau tidaknya suatu bangsa juga sangat tergantung kepada sejauh
mana masyarakat dan rakyatnya sanggup menjaga kerukunan hidup dan keharmonisan di
tengah-tengah perbedaan.
Kondisi sosiologis masyarakat Indonesia yang multikultural menjadi faktor utama dalam
penyebaran permasalahan toleransi menjadikan adanya suatu perpecahan dan konflik
dalam kehidupan social, untuk menciptakan sebuah keharmonisan, perlu adanya
kesadaran dalam diri manusia untuk tidak mengganggu keyakinan yang di yakini
seseorang dalam beragama. Sejatinya toleransi dalam beragama tidak perlu menyebabkan
perselisihan dan permusuhan karena bertoleransi agama pada dasarnya memberikan hak
kepada orang lain untuk melakukan apa yang menurut mereka benar dalam ajaran
agamanya bukan sebaliknya memaksa orang lain untuk mengikuti ajaran agama
seseorang. Toleransi tidak hanya dalam beragama, toleransi juga bisa dilakukan dalam
hal-hal lain seperti toleransi dalam pendidikan, toleransi dalam ekonomi, toleransi dalam
kebudayaan dan lain sebagainya.
Toleransi dalam beragama dapat melahirkan sebuah doktrin yang tertanam dalam benak
manusia bahwa tidak ada suatu agama apa pun yang bersifat mutlak di muka bumi.
dan upaya untuk menyamaratakan semua agama, akhirnya doktrin ini dapat disesuaikan
dengan doktrin pluralisme agama yang dibawa oleh Barat yang menganggap semua
agama itu sama. Imbasnya adalah adanya stigma negatif terhadap Islam, dengan
memunculkan bahwa Islam merupakan agama garis keras, agama yang disebarkan
dengan peperangan, agama yang senantiasa memaksakan ajarannya kepada penganut
agama lain dan banyak lagi stigma-stigma negatif lainnya. Padahal Islam telah
memberikan perhatian yang besar dalam toleransi beragama bahkan sejak awal
perkembangan Islam. Ajaran Islam mengajarkan kepada manusia untuk saling bekerja

1
sama dan saling tolong-menolong (ta’awun) dengan sesama manusia lainnya dalam hal
kebaikan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran : ََََََََََََ
‫ِا‬ ‫َّت‬
‫ِِِِو َتعاو ُن ْ وا َ ع َلى ا ْ لبر وال َّت ْ ق ٰ وى و َ ل َتعاو ُن ْ وا َ ع َلى ا ْ ِ ل ْثم وا ْ ل ُ ع ْدوان وا ُقوا ٰ ال ّل ۗ َّ ن ٰ ال ّل َ ش ِ د ْ ي ُد ا ْ ل ِ ع َقا ِ ب‬
Artinya : ...... dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah
kamu saling tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada
Allah sesungguhnya azab Allah itu sangatlah pedih. (Al-Maidah : 2). Nurcholish Madjid
berpendapat bahwa konsep toleransi dalam Islam sejatinya merupakan sumber kekuatan
Muslim dalam upaya membangun hubungannya dengan orang-orang di luar Islam.
(Nurcholis Majid dkk, Umat Beragama dan Bangsa, 1994). Oleh karena itu berdasarkan
beberapa penjelasan di atas perlu kiranya di kaji lebih detail tentang toleransi dalam
beragama sehingga memberikan pemahaman yang signifikan terhadap masyarakat
tentang Islam dan toleransi.

1.2 Tujuan
Kita sebagai umat yang menganut ajaran agama, semakin menghayati dan
memperdalam ajaran agama dan berusaha untuk mengamalkannya, mencegah terjadinya
perpecahan antara umat beragama akibat perpedaan. Agama bukan alat untuk pemecah
belah. Agama adalah alat untuk mempersatukan umat. Ketika terjadi perpecahan siapa
yang rugi? Perpecahan dapat merugikan masing-masing invidu di dalam melakukan
aktivitasnya. Dengan terciptanya toleransi beragama, kita dapat saling melengkapi antara
yang satu dengan yang lain dan menyatukan perbedaan. Jangan karena berbeda keyakinan
dijadikan suatu permusuhan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

1.3 Konsep toleransi beragama dalam islam


Secara terminologi, menurut Umar Hasyim, toleransi adalah pemberian kebebasan kepada
sesama manusia atau kepada warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau
mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing, selama dalam menjalankan
dan menentukan sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-
syarat asas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat. (Umar Hasyim,
Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam Sebagai dasar Menuju Dialog dan
Kerukunan Antar Umat Beragama, Bina Ilmu, Surabaya). Harun Nasution menyatakan
toleransi beragama akan terwujud manakala terdapat lima hal :
1) Mencoba melihat kebenaran yang ada pada agama lain.
2) Memperkecil perbedaan yang ada di antara agama-agama.
3) Menonjolkan persamaan yang ada dalam agama- agama.
4) Memupuk rasa persaudaraan se-Tuhan.
5) Menjauhi praktik serang-menyerang antar agama. (Harun Nasution,
Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, Mizan, Bandung).
Kisah menarik berkaitan dengan sikap toleran Nabi yaitu pada tahun 7 H, Nabi
menikahi Safiyah putri dari seorang kepala suku Yahudi Bani Quraidlah yang bernama
Huyai bin Akhtab. Safiyah masuk Islam dan bahkan kemudian mendapat gelar ummul-
Mu‟minin, namun orang tuanya masih beragama Yahudi, Bahkan sampai meninggal
belum masuk Islam, yang perlu mendapat perhatian adalah Nabi tidak memaksa
mertuanya masuk Islam. Nabi tetap dapat menjalin hubungan keluarga melalui
perkawinan meskipun keluarga besar istri masih tetap memeluk agama Yahudi. (Badan
Litbang Dan Diklat Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur‟an DEPAG RI).
Manusia merupakan makhluk social, tidak ada satu manusiapun yang bisa hidup di dunia
tanpa ada bantuan dari manusia lainnya, manusia akan saling terkait dan saling
membutuhkan hingga sampai kapanpun. Oleh karena itu manusia membutuhkan agama
dalam hidupnya. Kebutuhannya terhadap agama merupakan hal yang fitrah/kodrati
dimana setiap manusia pasti membutuhkan agama sebagai seperangkat aturan yang
mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, di samping itu juga agamalah yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Pemahaman tentang agama juga tidak
dapat dipisahkan dari nilai-nilai kebudayaan, dimana manusia hidup berdasarkan budaya

3
dan tak ada manusia yang dalam tatanan kehidupannya tanpa hadirnya budaya.
Kebudayaan inilah yang sebenarnya berpangkal pada agama, sehingga segala pergerakan,
diarahkan dan dikendalikan oleh agama. Bukan malah sebaliknya, dimana agama yang
dikendalikan oleh budaya. Agama Islam juga tidak terlepas dari nilai-nilai kebudayaan
yang kemudian di integrasikan dalam ajaran Islam yang memberikan pemahaman kepada
manusia bahwa Islam dapat di terima secara baik oleh masyarakat di luar agama Islam.
ajaran yang Islam yang bersumberkan pada al-Qur’an dan hadits merupakan sebuah relasi
gambaran tentang bagaimana wajah Islam sesungguhnya, hal tersebut sebagaimana
ungkapan Prof. Syahrin “al-Qur’an adalah wahyu Tuhan bagi semua bangsa di semua
waktu, maka al-Qur’an berisikan ajaran yang menjadi rahmat bagi seluruh umat
manusia”. Hadirnya Islam, sebagai suatu agama yang mampu memberikan suatu petunjuk
yang jelas terhadap kehidupan manusia yang pluralistis. (Harun Nasution, Islam Rasional
Gagasan dan Pemikiran, Mizan, Bandung).

1.4 Toleransi dalam al-Quran

Secara bahasa, toleransi memiliki arti tenggang rasa. Sedangkan secara istilah,
toleransi memiliki sikap saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan antar
sesama manusia. Allah SWT telah menciptakan manusia berbeda satu sama lain. Hal ini
bisa menjadi kekuatan jika dipandang secara positif, namun bisa memicu konflik jika
dipandang secara negatif. Toleransi antar umat beragama telah dicontohkan oleh
Rasulullah SAW. Misalnya, saat selesai Perang Badar, pasukan muslim yang menang
ingin tawanan non muslim untuk dibunuh. Namun, Rasulullah SAW justru meminta agar
tawanan perang tersebut dibebaskan. Ada beberapa hadis dan ayat Al-Qur’an tentang
toleransi. Beberapa ayat Al-Quran tentang toleransi di antaranya, yaitu sebagai berikut:

1. Surah Al-Kafirun

Terdapat jenis toleransi dalam Islam yang telah diatur dalam ayat Al-Quran
tentang toleransi, salah satunya dalam surat Al-Kafirun.

‫ َو اَل َأَنا‬. ‫ َو اَل َأْنُتْم َعاِبُدوَن َم ا َأْعُبُد‬. ‫اَل َأْعُبُد َم ا َتْعُبُدوَن‬. ‫ُقْل َيا َأُّيَه ا اْلَكاِف ُر وَن‬
‫َأ‬ ‫اَل َأ‬
‫ َلُكْم ِديُنُكْم َو ِلَي ِديِن‬. ‫ َو ْنُتْم َعاِبُدوَن َم ا ْعُبُد‬. ‫َعاِبٌد َم ا َعَبْدُتْم‬

4
Artinya: “Katakanlah (Muhammad): ‘Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan
menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,
dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak
pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, untukmu agamamu, dan
untukku agamaku’.” (QS Al-Kafirun: 1-6).

2. Al-Mumtahanah

Berlaku adil antar sesama juga termasuk dalam bagian toleransi.


Berikut bacaan ayat suci Al-Qur’an tentang toleransi selanjutnya:

‫اَّل َيْنَه ٰىُكُم ٱل َّل ُه َعِن ٱ َّل ِذي َن َلْم ُيَٰق ِتُلوُكْم ِف ى ٱل ِّدي ِن َو َلْم‬
‫َأ‬
‫ُيْخ ِر ُج وُكم ِّم ن ِدَٰيِر ُكْم ن َتَبُّر وُه ْم َو ُتْق ِس ُطٓو ۟ا۟ا ِإَلْيِه ْم‬
‫ۚ ِإَّن ٱل َّل َه ُيِح ُّب ٱ ْل ُم ْق ِس ِطي َن‬

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir
kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku
adil.” (QS Al-Mumtahanah: 8)
3. Al-Hujurat
Islam turut mengajarkan umatnya untuk selalu menghargai dan menghormati
sesama. Adapun perintahnya terdapat dalam salah satu ayat Al-Quran tentang
toleransi, yakni Surat Al-Hujurat Ayat 13.

‫ٰٓيَاُّيَه ا الَّناُس ِاَّنا َخ َلْق ٰنُكْم ِّمْن َذَكٍر َّو ُاْنٰثى َو َجَع ْلٰنُكْم‬
‫َل ِلَتَع اَر ُف ْو ا ۚ ِاَّن َاْكَر َم ُكْم ِعْنَد الّٰلِه َاْتٰق ىُكْم‬
‫َب‬‫َّو‬‫ُش ُع ْو ًبا ۤاَّو َق َبۤا‬
‫َقِٕى‬
‫ۗ ِا َّن الّٰلَه َعِلْيٌم َخ ِبْيٌر‬

5
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu
saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah
orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

1.5 Hadis Rasullulah SAW Tentang Toleransi

‫َع ِن ا ْب ِن َع َّبا ٍس َقا َل ِقي َل ِل َر ُسو ِل ال َّل ِه َص َّلى ال َّل ُه َع َل ْي ِه َو َس َّل َم َأ ُّي ْال َأ ْد َيا ِن َأ َح ُّب ِإ َلى ال َّل ِه َقا َل ا ْل َح ِني ِف َّي ُة ال َّس ْم َح ُة‬
Artinya:
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; ditanyakan kepada Rasulullah SAW: “’Agama manakah
yang paling dicintai oleh Allah? Maka beliau bersabda: ‘Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang
lurus lagi toleran)’.” (HR Bukhari).

6
BAB III
PRINSIP-PRINSIP TOLERANSI DALAM ISLAM

1.6 Menghargai kebebasan beragama


Hidup berdampingan meski berbeda agama bukan hal baru dalam perjalanan bangsa
Indonesia. Para pendahulu republikpun telah memberikan contoh nyata toleransi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian, problem-problem toleransi masih
sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk kesalahpahaman dalam
memahami makna toleransi yang berakibat kesalahan dalam interaksi dan hubungan antar
umat beragama. Dengan latar belakang inilah penelitian ini dibuat. Penelitian ini mencoba
melihat berbagai fenomena sosial yang terjadi terkait hubungan antar umat beragama
dengan dinamikanya serta mendeskripsikannya berdasarkan data-data yang diperoleh,
baik data terkait subyek secara individu, kelompok, lembaga maupun masyarakat. Dari
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Islam sangat menjaga toleransi,
menghormati hak-hak manusia dan menempatkan dalamderajat yang tinggi dan mulia.
Karena itu, perlu adanya kesepahaman bersama dengan asas saling menghormati dan
menghargai satu dengan lainnya. Juga perlu langkah-langkah praktis untukmembangun
toleransi yang bermartabat agar hubungan antar umat beragama terjalin harmonis tidak
saling curiga dan penuh dengan kebersamaan. Beberapa langkah tersebut adalah:
1). Saling menghormati dan menghargai keyakinan orang lain tanpa harus
mencampuradukkan keyakinan tersebut.
2). Membangun saling menghormati dan menghargai dengan menghilangkan sikap
saling curiga.
3). Membangun masyarakat dengan keyakinan bahwa keragaman adalah kekayaan
bangsa Indonesia.
4). Bersama-sama menatap masa depan untuk kemajuan dan kemakmuran masyarakat
Indonesia.

7
5). Banyak melakukan dialog karena banyak-titik-titik persamaan untuk kemaslahatan
berbangsa dan bernegara, bukan untuk mencari titik perbedaan apalagi
mempertentangkannya.

1.7 Persamaan Derajat Manusia


Islam mengajarkan cara pandang terhadap sesama manusia dalam perspektif
persamaan derajat dan kemuliaan martabat kemanusiaan. Ajaran tersebut melahirkan
prinsip persamaan manusia di mata hukum. Islam lebih jauh menegakkan prinsip-prinsip
kemerdekaan, toleransi dan hak asasi manusia di atas landasan tauhid dan perlindungan
martabat manusia. Semua manusia bersaudara dalam iman atau kemanusiaan. Sahabat
Rasulullah, Khalifah Ali bin Abi Thalib, mengatakan, “Mereka yang bukan saudaramu
dalam iman, saudaramu dalam kemanusiaan.”
Umat Islam haruslah menjadi pionir terdepan dalam menegakkan dan membela nilai-
nilai kemanusiaan sejalan dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Prof. Dr. Yusril Ihza
Mahendra dalam uraian hikmah Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Istana
Negara Jakarta tanggal 24 Mei 2002 M/12 Rabiul Awal 1423 M mengemukakan,
“Sepanjang keberadaannya, Islam telah membangun peradaban besar yang telah
memberikan sumbangan sangat menentukan dalam sejarah peradaban umat manusia
hingga ke zaman kita sekarang ini. Demikian pula sumbangannya dalam rangka
mengakui dan menghormati harkat dan martabat manusia. Tidaklah berlebihan kiranya,
jika kita mengatakan bahwa Islam adalah agama kemanusiaan (religion of humanity).”
Islam mengajarkan, setiap manusia harus dihargai karena ia dilahirkan sebagai
manusia, sebagai satu pribadi yang utuh. Ilmu, kekuasaan dan kekayaan tidak
menentukan tinggi-rendahnya nilai kemanusiaan seseorang. Sikap menghargai manusia
yang kini mulai luntur dalam masyarakat perlu dibudayakan kembali. Jangankan
menyakiti dan membunuh, merendahkan dan mengolok-olok sesama manusia adalah
perbuatan terlarang dalam agama.
Sikap jujur dan objektif tidak boleh dikalahkan oleh pandangan sempit. Mereka yang
berbeda keyakinan atau berbeda pendapat bukanlah musuh, melainkan kawan dalam
berpikir. Sebagaimana pesan Al-Qur’an, “Janganlah sekali-kali kebencianmu kepada satu
kaum, mendorong kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih
dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Maidah [5]: 8). Seorang pahlawan bangsa

8
Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengajarkan sikap teladan yang mencerminkan jiwa Islam,
"Jangan pernah kehilangan objektifitas meskipun terhadap mereka yang tidak kita sukai."

BAB IV
IMPLEMENTASI TOLERANSI BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
1.8 Pendidikan Multikultural di Indonesia Untuk Menumbuhkan Nilai Toleransi Agama
Hingga saat ini bangsa Indonesia terus dihimpit oleh berbagai problem, mulai dari
problem politik, budaya, ekonomi, hukum hingga pendidikan. Berbagai kekerasan
yang berbau SARA di negara ini sangat memprihatinkan. Misalnya, penistaan agama,
terorisme, pelecehan seksual, KDRT,trafficking, konflik antar agama dan aliran, dan
lain-lain. Di satu sisi multikultur menjadi sumber perekat keragamanetnis, tetapi
disisi lain berpotensi konflik yang sewaktu-waktu meletus.Sampai saat ini pendidikan
multikultural memang masih sebatas wacana. Praktek pendidikan multikultural di
Indonesia nampaknya memerlukan waktu panjang, walaupun ditinjau dari keragaman
budaya sudah mendukung. Hal itu disebabkan oleh perjalanan panjang histori
penyelenggaraan pendidikan yang banyak dilatarbelakangi oleh primordialisme.
Misalnya pendirian lembaga pendidikan berdasar latar belakang agama, daerah,
perorangan maupun kelompok. Oleh karena itu, praktek pendidikan multikultural di
Indonesia dapat dilaksanakan secara fleksibel dengan mengutamakan prinsip-prinsip
dasar multikultural yakni menuntut peran pendidik (guru, dosen, ustad dsb) untuk
mampu tampil profesional denganmengintegrasikan multikulturalisme dalam pendidikan;
memilih strategi yang relevan; memperkuat pendidikan karakter di sekolah; dan
memberikan materi yang kontekstual untuk menumbuhkan toleransi agama di sekolah.
a. Mengintegrasikan Multikulturalisme dalam Pendidikan Ada tiga istilah yang
sering digunakan untuk menggambarkan keberagaman, yaitu keberagaman agama,
ras, bahasa dan budaya atau dikenal dengan istilah (plurality), (diversity), dan
(multicultural).Menurut Sonia, pendidikan multikultural harus melekat pada
kurikulum dan strategi pengajaran termasuk interaksi antara guru, murid dan
keluarga serta keseluruhan suasana belajar mengajar. Karena jenis pendidikan ini
9
merupakan pedagogikritis, reflektif dan berbasis aksi perubahan dalam
masyarakat. Konsekuensinya, pendidikan multikultural mampu mengembangkan
prinsip demokrasi dalam berkeadilan sosial.18Cara mengintegrasikannya lewat mata
pelajaran PKN dan PAI, kita harus mengetahui ruang lingkup mata pelajaran tersebut.
Jika ruang lingkup PKN adalah persatuan dan kesatuan bangsa meliputi hidup rukun,
cinta lingkungan, sumpah pemuda, keutuhan NKRI, partisipasi dalam pembelaan
negara, sikap positif, keterbukaan, dan jaminan keadilan.
b. Metode dan Strategi Pembelajaran yang Relevan
Ketepatan dalam memilih metode pembelajaran merupakan salah satu faktor penting
dalam membangkitkan motivasi dan semangat belajar peserta didik. Adapun metode
mengajar yang kita kenal dalam dunia pendidikan adalah metode ceramah, diskusi,
eksperimen, demonstrasi, pemberian tugas, drill, kerja kelompok, tanya jawab,
simulasi, karya wisata, dsb.Menurut James A.Banks adalah strategi-strategi
pembelajaran yang dapat memfasilitasi para siswa untuk belajar, bisa
mengeksplorasi sumber-sumber informasi, bisa melakukan interpretasi dan membuat
kesimpulan-kesimpulan yang mereka perlukan dalam mengembangkan sikap dan
perilakunya yang sesuai dengan paradigma masyarakat multikultur yang demokratis,
berkeadilan dan mengharhagai HAM. Oleh sebab itu, dalam membina dan
mengembangkan sikap multikultur, guru harus melibatkan siswa dalam proses
mencari informasi, membahas berbagai persoalan yangterkait dengan informasi-
informasi tersebut, serta merefleksi nilai-nilai yang mereka peroleh dalam proses
pembelajarannya itu.

1.9 Toleransi Dalam Konteks Masyarakat Indonesia


Toleransi itu sikapnya satu tingkat di bawah sikap pluralis. Toleransi masih
memahami kondisi keragaman pada level membiarkan dan menganggap perbedaan sebagai
sesuatu yang mutlak ada. Tetapi sikap semacam ini betapapun bagus, tidak cukup bagi
merawat kondisi-kondisi keragaman yang begitu banyak memiliki perbedaan antar agama
atau kelompok. Sikap pluralis mengandaikan adanya kemauan yang konsisten untuk saling
mengerti atau memahami perbedaan sebagai suatu identitas yang penting bagi penghayatan
hidup yang dimiliki oleh kelompok-kelompok tertentu. Tidak sekedar bagaimana perbedaan
itu saling berhadap-hadapan secara harmoni, tetapi juga saling berdialog, mengisi, dan
mengormati sebagai satu entitas yang sama pentingnya dengan sikap individualisme
golongan tertentu.
10
Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak suku dan agama sudah selayaknya
menjaga persatuan dan kesatuan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan sangat mudah atau
rentan memunculkan konflik. Kita bisa melihat bagaimana kondisi konflik Timur Tengah
yang berkepanjangan, konflik antar suku, golongan dan kekuatan politik telah memporak-
porandakan wilayah mereka. Kita perlu bejalar dari mereka bahwa betapa pentingnya sikap
saling menjaga dan merawat keragaman itu sebagai entitas yang penting dalam kehidupan
bersama.
Indonesia tidak hanya milik satu kelompok atau agama tertentu. Indonesia adalah
milik kita bersama, milik orang-orang Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain sebagainya.
Semua golongan memiliki arti penting dan peran yang sama dalam berpartisipasi dan
menciptakan suasana harmonis dalam berkeagamaan. Ini adalah tanggungjawab kita bersama
untuk merawat, menjaga, dan memupuk sikap toleransi yang lebih tinggi sekaligus sikap
pluralis agar masa depan Indonesia terhindar dari konflik fanatisme antar golongan yang itu
akan merusak tatanan sosial dan diharapkan lebih mampu menjaga perdamaian sesama umat.
Oleh karena itu, perlu adanya upaya-upaya rekonstruksif dari berbagai pihak, baik itu
pemerintah dan ormas-ormas untuk lebih peduli dan selalu menanamkan nilai-nilai
kebangsaan, merawat dan memperjuangkan budaya toleransi dan kebhinekaan di Indonesia,
agar negeri yang kita cintai ini terus damai dan tidak terjerat pada konflik antar golongan di
kemudian hari.

11
BAB V
TANTANGAN DAN KENDALA DALAM MENERAPKAN TOLERANSI
BERAGAMA

1.10 Tiga tantangan dalam proses penguatan moderasi beragama

Setidaknya terdapat tiga tantangan dalam proses penguatan moderasi beragama, yang
pertama berkembangnya pemahaman dan pengamalan ajaran keagamaan yang berlebihan,
ekstem, dan melebihi batas sehingga bertentangan dengan esensi ajaran agama itu sendiri.
Pemahaman keagamaan yang ekstrem justru mengingkari nilai kemanusiaan atas nama
agama. Klaim kebenaran atas tafsir agama menjadi tantangan selanjutnya, sebagian orang
merasa paling paham dan benar terhadap tafsir keagamaannya dan memaksa orang lain
untuk mengikuti pemahamannya dengan cara yang tidak benar seperti melalui kekerasan
dan paksaan. Klaim ini bersifat sepihak dan memaksakan kehendak. Tantangan terakhir
berkaitan dengan pemahaman yang malah mengancam dan merusak ikatan kebangsaan.
Sebagai contoh orang yang mengatas namakan agama lalu menyalahkan pancasila,
mengkafirkan orang lain yang menyanyikan lagu nasional, bahkan mengajarkan bahwa
nasionalisme tidak penting karena tidak diajarkan agama. Dari ketiga tantangan tersebut
tidak lepas dari sikap, cara pandang, dan praktik beragama yang berlebihan. Hal-hal
tersebut yang harus dimoderasi, diposisikan berada ditengah, tidak ekstrem kanan atau
kiri, itu cara beragamanya. Kebijakan penguatan moderasi beragama ini diarahkan pada
upaya pembentukan SDM Indonesia yang berpegang teguh pada nilai dan esensi ajaran
agama, berorientasi menciptakan kemaslahatan umum, dan menjungjung tinggi komitmen
kebangsaan.

1.11 Intoleransi dan Radikalisme Agama di Indonesia

12
Intoleransi dan radikalisme merupakan istilah-istilah yang belakangan ini kerap
muncul di berbagai media Indonesia. Dalam masyarakat Indonesia yang beragam, istilah
intoleran sering muncul karena tindakan oknum yang enggan menghargai perbedaan. Padahal
Indonesia bukan terdiri dari satu agama, suku dan adat melainkan beragam. Secara umum,
radikalisme memanifestasikan dirinya sebagai hasil dari pemahaman ekstrem yang
disebabkan oleh ketidakpuasan dengan situasi. Kadang-kadang radikalisme kini diasosiasikan
dengan agama. Munculnya berbagai aksi radikalisme atas nama agama yang membawanya
untuk tindakan kekerasan dan intoleransi. Alhasil, berbagai tayangan muncul. Menolak
agama tertentu dan merusak kredibilitas.

Intoleransi adalah awal terbentuknya radikalisme, lalu ekstremisme, dan terakhir


dalam bentuk terorisme. Artinya, intoleransi adalah benih dari radikalisme an terorisme.
Intoleransi adalah kebalikan dari semua prinsip yang terdapat dalam toleransi. Ada
setidaknya tiga komponen intoleransi :

a) Ketidakmampuan menahan diri tidak suka kepada orang lain

b) Sikap mencampuri dan menentang sikap atau keyakinan orang lain

c) Sengaja mengganggu orang lain.

Radikalisme adalah suatu faham atau gagasan yang menginginkan adanya perubahan
sosial-politik dengan menggunakan cara-cara ekstrem. Termasuk cara-cara kekerasan, bahkan
juga teror. Kelompok-kelompok yang berpaham radikal ini menginginkan adanya perubahan
yang dilakukan secara drastis dan cepat, walaupun harus melawan tatanan sosial yang berlaku
di masyarakat. Radikalisme punya tiga arti, yaitu :

a) Paham atau aliran yang radikal dalam politik

b) Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik
dengan cara kekerasan atau drastic

c) Sikap ekstrem dalam aliran politik

13
BAB VI
PENUTUP

1.12 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan mengenai Islam dan toleransi beragama, dapat disimpulkan


bahwa:

Ajaran Islam Mendorong Toleransi:

Islam mengajarkan nilai saling menghormati dan penghargaan terhadap keberagaman


melalui prinsip-prinsip yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Ayat seperti dalam Surah Al-Baqarah 256 dan Surah Al-Kafirun menggarisbawahi
pentingnya kebebasan beragama dan hidup berdampingan secara damai.

Implementasi Nilai Toleransi dalam Kehidupan Sosial:

Penerapan ajaran toleransi di masyarakat terlihat melalui dialog antar agama, kerjasama
sosial, dan pendidikan yang menanamkan nilai toleransi pada generasi muda. Hal ini
sangat krusial di negara yang multikultural seperti Indonesia.

14
DAFTAR PUSTAKA

Khoir, M, Abdullah., Anshory, I, Muhammad. (2023). Toleransi dan Prinsip-Prinsip


Hubungan Antarumat Beragama dalam Perspektif Dakwah Islam. Jurnal of
Communication and Da’wah, 1(2), 55-81.
Prasetiawati, E. (2017). Urgensi Pendidikan Multikultural untuk Menumbuhkan Nilai
Toleransi Agama di Indonesia. Jurnal Penelitian Ilmiah, 1(2), 273-303.
Cantika, Yuli. Hadits dan Ayat Al-Qur’an Tentang Toleransi, dari
https://www.gramedia.com/literasi/hadits-dan-ayat-al-quran-tentang- toleransi/?
srsltid=AfmBOop3PLPsWtY1GpxEJnhr_urwMl6GDb2hz2P8wvRihvOv- Vac4wOy.
Nasar, M, Fuad. Al-Qur’an Tegaskan Persamaan Derajat Manusia, Diakses pada 20 April
2022, dari https://kemenag.go.id/opini/al-qurrsquoan-tegaskan-persamaan-derajat-
manusia-1xa67i.
Izad, R. Toleransi dalam Masyarakat Indonesia, Diakses pada 27 Maret 2018, dari
https://www.nu.or.id/opini/toleransi-dalam-masyarakat-indonesia-KSypw.
Tantangan Toleransi dan Moderasi Beragama di Indonesia. Diakses pada 26 Mei 2022,
dari https://suakaonline.com/tantangan-toleransi-dan-moderasi-beragama-di-
indonesia/.

15

Anda mungkin juga menyukai