NAMA : DEVI NOR IZZATIL HASANAH
NIM : 054942684
JURUSAN : ILMU PEMERINTAHAN
KODE KELAS : 9 (HTP)
Tugas :
1. Siapa yang menjadi subjek penegakan dari peraturan gubernur tersebut,
baik terkait penggunaan pakaian adat maupun penggunaan
bahasa/aksara daerah dalam ruang publik?
Jawab:
Subjek penegakan dari peraturan gubernur terkait penggunaan pakaian adat dan penggunaan
bahasa/aksara daerah dalam ruang publik umumnya terdiri dari:
a. Instansi Pemerintah Daerah: Dinas terkait, seperti Dinas Kebudayaan dan Dinas
Pendidikan, bertanggung jawab untuk mengawasi dan menegakkan peraturan tersebut.
Mereka memiliki wewenang untuk melakukan sosialisasi, pengawasan, dan penegakan
hukum jika diperlukan.
b. Instansi Pendidikan: Sekolah dan universitas di daerah tersebut juga menjadi subjek
penegakan, terutama dalam konteks penggunaan pakaian adat pada hari tertentu. Mereka
diharapkan untuk menerapkan kebijakan ini dalam kegiatan sehari-hari.
c. Masyarakat Umum: Masyarakat juga berperan sebagai subjek penegakan, karena mereka
diharapkan untuk mematuhi dan mendukung penggunaan bahasa dan budaya lokal dalam
interaksi sehari-hari.
d. Pihak Swasta: Fasilitas umum yang dikelola oleh pihak swasta seperti restoran atau pusat
perbelanjaan, juga diharapkan untuk mematuhi peraturan ini dalam penamaan dan penyajian
budaya lokal.
2. Jelaskan bentuk pendelegasian wewenang dalam penerbitan peraturan
gubernur terkait pelestarian budaya lokal tersebut!
Jawab:
Pendelegasian wewenang dalam penerbitan peraturan gubernur terkait pelestarian budaya lokal
yaitu seperti Delegasi dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah, pemerintah pusat
memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan melestarikan budaya lokal
sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah masing-masing. Hal ini tercermin dalam otonomi
daerah yang diatur dalam Undang-Undang. Selain itu Pendelegasian Wewenang Internal, Dalam
lingkup pemerintah daerah, Gubernur dapat mendelegasikan wewenang kepada dinas-dinas terkait
untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan. Misalnya, Dinas Kebudayaan dapat diberi tugas
untuk menyusun peraturan teknis mengenai penggunaan bahasa dan aksara daerah. (PP Gubernur DKi
Jakarta, Jawa Barat , dan DI Yogyakarta terkait pelestarian budaya lokal)
3. Jelaskan hubungan antara peraturan gubernur tersebut dengan Pasal 2
dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik, terutama dalam konteks aksesibilitas dan inklusivitas layanan
publik!
Jawab:
Peraturan gubernur tersebut memiliki hubungan yang erat dengan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, terutama dalam konteks aksesibilitas dan
inklusivitas layanan publik antara lain:
a. Pasal 2 menekankan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan publik yang baik.
Dengan mengatur penggunaan bahasa dan aksara daerah, peraturan gubernur berkontribusi
pada peningkatan aksesibilitas informasi bagi masyarakat yang berbahasa daerah, sehingga
mereka dapat memahami dan mengakses layanan publik dengan lebih baik.
b. Pasal 3 menggarisbawahi pentingnya partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik.
Peraturan ini menciptakan lingkungan yang lebih inklusif karena kebijakan yang mendorong
penggunaan budaya lokal dapat meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap layanan
publik, serta mendorong partisipasi aktif dalam pelestarian budaya. (Sumber: UU No.25 Th
2009 Tentang Pelayanan Publik)
4. Analisis relevansi asas Delegatus Non-Potest Delegare dalam konteks
penerbitan peraturan gubernur terkait di atas.
Jawab:
Asas Delegatus Non-Potest Delegare menyatakan bahwa seseorang yang diberi wewenang tidak
dapat mendelegasikan wewenang tersebut kepada pihak lain, kecuali jika diizinkan oleh undang-
undang dan hukum. Dalam konteks penerbitan peraturan gubernur seperti kepatuhan terhadap Asas,
gubernur sebagai pejabat yang berwenang harus memastikan bahwa setiap pendelegasian wewenang
kepada dinas atau instansi lain dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Contoh: jika Dinas
Kebudayaan diberi wewenang untuk mengatur penggunaan aksara Jawa, maka Dinas tersebut tidak
dapat mendelegasikan wewenang tersebut kepada pihak ketiga tanpa izin yang jelas. Selanjutnya yaitu
pentingnya Akuntabilitas, asas ini juga menekankan pentingnya akuntabilitas dalam pengambilan
keputusan. Gubernur harus bertanggung jawab atas kebijakan yang diambil dan tidak dapat
mengalihkan tanggung jawab tersebut kepada pihak lain. Dengan demikian, penerbitan peraturan
gubernur terkait pelestarian budaya lokal harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek di
atas untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan kebijakan tersebut.
Sumber Referensi :
BMP IPEM4321//Modul 5&6 – Hukum Tata Pemerintahan