Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelumnya,
arsitek Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya.[136] Candi-candi
Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah
tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh
candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi
Tikus dan Gapura Bajang Ratu di Trowulan, Mojokerto. Beberapa elemen
arsitektur berasal dari masa Majapahit, antara lain gerbang terbelah candi
bentar, gapura paduraksa (kori agung) beratap tinggi,
dan pendopo berdasar struktur bata. Gaya bangunan seperti ini masih
dapat ditemukan dalam arsitektur Jawa dan Bali.
"Di sekitar itu (pulau Sumatra) ada pulau besar, bernama Jawa, yang
memiliki ukuran 3000 mil. Dan rajanya memiliki bawahan tujuh raja yang
bermahkota.[Catatan 7] Sekarang pulau ini sangat padat penduduknya, dan
merupakan yang terbaik kedua dari semua pulau yang ada. Karena di
dalamnya tumbuh kapur barus, kemukus, kapulaga, buah pala, dan banyak
rempah-rempah berharga lainnya. Ia juga memiliki persediaan makanan
yang baik kecuali anggur.
Raja pulau ini (Jawa) memiliki istana yang benar-benar mengagumkan.
Karena itu sangat besar, dan memiliki tangga yang sangat besar, lebar dan
tinggi, dan anak tangganya dari emas dan perak secara bergantian.
Demikian juga jalan istana dipasangi satu ubin dari emas dan yang lain dari
perak, dan dindingnya di bagian dalam dilapisi dengan lapisan emas, di
mana ada pahatan ksatria yang semuanya terbuat dari emas, yang
memiliki lingkaran emas besar di sekitar kepala mereka, seperti yang kami
berikan untuk sosok orang-orang suci. Dan lingkaran ini semua dikelilingi
dengan batu mulia. Terlebih lagi, langit-langitnya terbuat dari emas murni,
dan singkatnya, istana ini lebih kaya dan lebih indah daripada istana lain
yang ada pada hari ini di dunia.
Sekarang Khan Agung Cathay (Cina dinasti Yuan) sudah sering berperang
dengan raja ini; tetapi selalu dapat dikalahkan. Dan masih banyak hal lain
disana yang belum saya tulis."
— Gambaran Majapahit menurut Mattiussi (Pendeta Odorico da
Pordenone).[137]:87-89[132]
Catatan yang berasal dari sumber Italia mengenai Jawa pada era
Majapahit didapatkan dari catatan perjalanan Mattiussi, seorang pendeta
Ordo Fransiskan dalam bukunya: "Perjalanan Pendeta Odorico da
Pordenone". Ia mengunjungi beberapa tempat di Nusantara: Sumatra,
Jawa, dan Banjarmasin di Kalimantan. Ia dikirim Paus untuk menjalankan
misi Katolik di Asia Tengah. Pada 1318 ia berangkat dari Padua,
menyeberangi Laut Hitam dan menembus Persia, terus hingga mencapai
Kolkata, Madras, dan Srilanka. Lalu menuju kepulauan Nikobar hingga
mencapai Sumatra, lalu mengunjungi Jawa dan Banjarmasin. Ia kembali ke
Italia melalui jalan darat lewat Vietnam, China, terus mengikuti Jalur
Sutra menuju Eropa pada 1330.
Di buku ini ia menyebut kunjungannya di Jawa tanpa menjelaskan lebih
rinci nama tempat yang ia kunjungi. Disebutkan raja Jawa menguasai tujuh
raja bawahan. Disebutkan juga di pulau ini terdapat
banyak cengkih, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ia
menyebutkan istana raja Jawa sangat mewah dan mengagumkan, penuh
bersepuh emas dan perak. Ia juga menyebutkan raja Mongol beberapa kali
berusaha menyerang Jawa, tetapi selalu gagal dan berhasil diusir kembali.
Kerajaan Jawa yang disebutkan di sini tak lain adalah Majapahit yang
dikunjungi pada suatu waktu dalam kurun 1318–1330 pada masa
pemerintahan Jayanegara.
Bidadari Majapahit, arca emas apsara gaya Majapahit menggambarkan
zaman kerajaan Majapahit sebagai "zaman keemasan" Nusantara.
Topeng paduan emas-perak dari Jawa Timur, Indonesia, abad ke-14.
Patung gajah perunggu beserta penunggangnya, dibuat pada abad ke-
13–14 di Jawa Timur (zaman Singhasari dan Majapahit).
Mainan emas Kāla, abad 11–14, dari Malang, Jawa Timur.
Dalam Yingya Shenglan—catatan tentang ekspedisi Cheng Ho (1405–
1433)—Ma Huan menggambarkan budaya, adat istiadat, berbagai aspek
sosial dan ekonomi Chao-Wa (Jawa) pada masa Majapahit.[138] Ma Huan
mengunjungi Jawa pada ekspedisi ke-4 Cheng Ho pada tahun 1413, pada
masa pemerintahan raja Majapahit Wikramawardhana. Ia menggambarkan
perjalanannya ke ibu kota Majapahit: pertama, ia tiba di pelabuhan Tu-
pan (Tuban) di mana ia melihat sejumlah besar pemukim Tionghoa
bermigrasi dari Guangdong dan Chou Chang. Kemudian dia berlayar ke
timur menuju kota perdagangan baru yang berkembang pesat, Ko-erh-
hsi (Gresik), Su-pa-erh-ya (Surabaya), dan kemudian berlayar ke
pedalaman menuju sungai dengan perahu kecil ke barat daya hingga
mencapai pelabuhan sungai Chang-ku (Changgu).[138] Melanjutkan
perjalanan darat ke arah barat daya sampailah ia di Man-che-po-
I (Majapahit), tempat tinggal raja. Ada sekitar 200 atau 300 keluarga asing
yang tinggal di tempat ini, dengan tujuh atau delapan pemimpin yang
melayani raja. Iklimnya selalu panas, seperti musim panas.[139] Dia
menggambarkan pakaian raja: memakai mahkota dari daun dan bunga
emas atau kadang-kadang tanpa penutup kepala; bertelanjang dada tanpa
mengenakan gamis, bagian bawahnya memakai dua ikat pinggang
berbahan sutra bersulam. Tali sutra tambahan dilingkarkan di pinggang
sebagai ikat pinggang, dan di ikat pinggang tersebut disisipkan satu atau
dua bilah pendek yang disebut pu-la-t'ou (belati atau lebih tepatnya keris),
berjalan tanpa alas kaki. Saat bepergian ke luar, raja mengendarai gajah
atau kereta yang ditarik sapi.[139]