0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan3 halaman

Majapahit 6

Kekalahan Bhre Kertabhumi dari Ranawijaya pada tahun 1474 memicu perang antara Majapahit dan Demak, yang berujung pada keruntuhan Majapahit pada tahun 1527. Demak menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa setelah mengalahkan sisa-sisa Majapahit, sementara sisa keluarga Majapahit melarikan diri ke Bali dan daerah lainnya. Perkembangan militer Majapahit mencakup penggunaan keris dan pembentukan tentara profesional yang mencapai 30.000 orang, menunjukkan kekuatan militer yang signifikan pada masa itu.

Diunggah oleh

kim
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan3 halaman

Majapahit 6

Kekalahan Bhre Kertabhumi dari Ranawijaya pada tahun 1474 memicu perang antara Majapahit dan Demak, yang berujung pada keruntuhan Majapahit pada tahun 1527. Demak menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa setelah mengalahkan sisa-sisa Majapahit, sementara sisa keluarga Majapahit melarikan diri ke Bali dan daerah lainnya. Perkembangan militer Majapahit mencakup penggunaan keris dan pembentukan tentara profesional yang mencapai 30.000 orang, menunjukkan kekuatan militer yang signifikan pada masa itu.

Diunggah oleh

kim
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kekalahan Bhre Kertabhumi dari Ranawijaya pada tahun 1474, memicu

perang antara Kerajaan Majapahit dengan Demak, karena Demak sudah


menjadi penguasa pesisir Jawa yang dominan, dan mereka mengambil alih
daerah Jambi dan Palembang dari kekuasaan Majapahit[61](hlm.154-155) yang
telah terpukul dan berfokus di pedalaman pulau Jawa.

Konon, waktu berakhirnya Kemaharajaan Majapahit berkisar pada kurun


waktu tahun 1478 (tahun 1400 saka,[Catatan 1] berakhirnya abad dianggap
sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan berakhirnya suatu
pemerintahan) hingga tahun 1527.[62]:36 Tetapi dalam tradisi Jawa yang
sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala atau kronogram tersebut
adalah wafatnya Bhre Kertabhumi pada tahun 1478.[60]

Sebenarnya perang Majapahit-Demak ini sudah mulai mereda ketika Patih


Udara menggantikan Girindrawardhana dan mengakui kekuasan Demak,
tetapi peperangan berkecamuk kembali ketika Patih Udara meminta
bantuan Portugis untuk mengalahkan Demak. Sehingga pada tahun 1527,
Demak melakukan serangan ke Majapahit yang mengakhiri sejarah
Majapahit.[62]:54-55

Dengan jatuhnya ibukota yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1527,
pada awal abad ke-16 kekuatan kerajaan Demak akhirnya mengalahkan
sisa-sisa Majapahit dan menjadi akhir dari Kerajaan Majapahit.[63] Catatan
sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tomé Pires), dan Italia (Antonio Pigafetta)
mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit
dari tangan penguasa Hindu ke tangan Pati Unus, penguasa
dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.[60] Sisa-sisa
keluarga Majapahit keturunan Girindrawardhana kemudian melarikan diri
ke daerah Panarukan, Blambangan (sekarang daerah Kabupaten
Banyuwangi). Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota
keluarga kerajaan mengungsi ke pulau Bali.

Demak memastikan posisinya sebagai kekuatan regional dan menjadi


kerajaan Islam pertama yang berdiri di tanah Jawa. Saat itu setelah
keruntuhan Majapahit, sisa kerajaan Hindu yang masih bertahan di Jawa
hanya tinggal kerajaan Pasuruan, Panarukan, Blambangan di ujung timur,
[64]:7
serta Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pajajaran di bagian barat.
Perlahan-lahan Islam mulai menyebar seiring mundurnya masyarakat
Hindu ke pegunungan dan ke Bali. Beberapa kantung masyarakat
Hindu Tengger hingga kini masih bertahan di pegunungan Tengger,
kawasan Bromo dan Semeru.

Militer
[sunting | sunting sumber]
Pada zaman Majapahit terjadi perkembangan, pelestarian, dan penyebaran
teknik pembuatan keris. Teknik pembuatan keris mengalami penghalusan
dan pemilihan bahan menjadi semakin selektif. Keris pra-Majapahit dikenal
berat namun semenjak masa ini dan seterusnya, bilah keris yang ringan
tetapi kuat menjadi petunjuk kualitas sebuah keris. Penggunaan keris
sebagai tanda kebesaran kalangan aristokrat juga berkembang pada masa
ini dan meluas ke berbagai penjuru Nusantara, terutama di bagian barat.

Tentara Majapahit dibagi menjadi 2 jenis, pasukan utama yaitu prajurit


tetap (tentara dan bhayangkara) dan pasukan wajib militer yang diambil
dari para petani. Senjata utamanya adalah tombak.[65]:84–85, 130 Pada
awalnya, kavaleri ada dalam jumlah terbatas, mereka digunakan untuk
pengintaian dan patroli, mungkin dipersenjatai dengan tombak.[65]:90,
94
Setelah serangan Mongol, penggunaan kuda di Jawa semakin meluas
terutama untuk perang.[66]:12–13 Kereta perang digunakan untuk mengangkut
para prajurit ke medan perang dan "diparkirkan" sebelum bertempur.
Beberapa kereta perang memang digunakan dalam pertempuran, sebagai
contoh patih Nambi menggunakan kereta perang dan berperan sebagai
pemanah pada pemberontakan Rangga Lawe (1295 Masehi), Gajah Mada
juga menaiki kereta perang saat menyerang pasukan Sunda
dalam pertempuran Bubat (1357). Kereta perang dipahatkan pada Candi
Penataran, tampaknya dimodelkan dari dunia nyata.[65]:96, 98[67]:64, 76[68]:141,
142
Gajah perang digunakan terutama untuk transportasi, atau sebagai
tunggangan untuk bangsawan dan tentara berpangkat lebih tinggi.[65]:101

Majapahit memiliki 30.000 tentara profesional yang bekerja tetap, dimana


para prajurit dan komandannya digaji dengan emas. Ini menunjukkan
adanya standing army (tentara permanen) sebuah pencapaian yang hanya
bisa dicapai segelintir kerajaan Asia Tenggara.[69]:185[70]:467 Selain tentara
profesional ini, Majapahit diperkuat dengan pasukan yang berasal dari
negara bawahan dan pemimpin daerah.[71]:277 Dari catatan Suma
Oriental dan Sejarah Melayu, jumlah keseluruhan pasukan Majapahit dapat
mencapai 200.000 orang.[61]:175-176[72] Pasukan Majapahit bersifat multietnis,
mirip seperti militer Kesultanan Yogyakarta yang memiliki pasukan Bugis
dan Dhaeng (Makassar). Sebagaimana dicatat Hikayat Raja-Raja Pasai:
Maka kedua pihak laskhar pun kembali-lah masing-masing pada tempat-
nya. Demikian-lah perang itu tiap-tiap hari, kira-kira tiga bulan lama-nya
perang itu, tiada beralahan, karna Jawa itu sa-bagai datang juga bantu-nya
dari benua asing.[73]

Anda mungkin juga menyukai