Makalah Kewarganegaraan Kelompok 4
Makalah Kewarganegaraan Kelompok 4
Disusun Oleh:
2025
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta
keluarga dan para sahabatnya, yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan
menuju cahaya ilmu yang penuh berkah. Semoga kita semua selalu berada dalam
lindungan dan syafa’at beliau. Aamiin.
Makalah ini disusun dengan judul "Demokrasi, Prinsip Demokrasi dan Hakikat
Demokrasi" Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk tugas dan upaya untuk
memahami lebih dalam mengenai konsep demokrasi, prinsip-prinsip yang
mendasarinya, serta hakikat dari sistem pemerintahan yang sangat penting dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Harapan kami, makalah ini dapat memberikan
pemahaman yang lebih jelas dan bermanfaat bagi pembaca, khususnya dalam
mengenal dan mengaplikasikan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kelompok 4
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................... i
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
BAB II .......................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN .......................................................................................................... 4
PENUTUP .................................................................................................................. 23
ii
3.2 Saran .......................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 25
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi dikelola oleh rakyat, dengan
pemerintahan yang berasal dari rakyat dan oleh rakyat.
Pemahaman yang mendalam tentang demokrasi sangat penting,
khususnya bagi generasi muda dan masyarakat umum, agar mereka
dapat berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan
memahami prinsip-prinsip demokrasi, masyarakat diharapkan mampu
menjaga dan mengembangkan nilai-nilai demokrasi yang sehat dan
berkeadilan. Selain itu, dengan memahami esensi dari demokrasi,
masyarakat dapat menyadari bahwa demokrasi bukanlah sekadar
mekanisme politik, melainkan sebuah sistem yang menjunjung tinggi
kebebasan, persamaan, dan keadilan sosial.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan gambaran
yang jelas dan komprehensif mengenai demokrasi, prinsip-prinsip dasar,
serta hakikat demokrasi itu sendiri. Kami berharap makalah ini dapat
menjadi referensi yang bermanfaat bagi para pembaca untuk memahami
dan mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan
sehari-hari, serta berkontribusi dalam upaya membangun masyarakat
yang demokratis dan beradab.
1.3 Tujuan
2
1.3.2 Mengidentifikasi dan menguraikan prinsip-prinsip demokrasi
yang menjadi landasan pelaksanaan sistem demokrasi,
khususnya di Indonesia.
1.3.3 Mengidentifikasi hakikat demokrasi di Indonesia, khususnya
Demokrasi Pancasila
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Demokrasi
4
tersebut menjadi semakin kabur. Sistem politik Athena Klasik,
sebagai contoh, memberikan kewarganegaraan demokratis
hanya kepada pria elit yang bebas, sementara budak dan wanita
tidak diikutsertakan dalam partisipasi politik. Di semua
pemerintahan demokratis, baik di masa kuno maupun modern,
kewarganegaraan demokratis sering kali dikuasai oleh kaum
elit, hingga perjuangan gerakan hak suara pada abad ke-19 dan
ke-20 memastikan bahwa semua penduduk dewasa di sebagian
besar negara demokrasi modern dapat menikmati kebebasan
secara utuh.
Istilah demokrasi (democracy) sendiri sudah dikenal sejak
abad ke-16, dan berasal dari bahasa Prancis Pertengahan serta
Latin Pertengahan. Konsep demokrasi itu sendiri lahir dari
Yunani kuno yang dipraktikkan dalam kehidupan bernegara
antara abad ke-IV SM hingga abad ke-VI SM. Demokrasi yang
diterapkan pada masa tersebut adalah bentuk demokrasi
langsung (direct democracy), yang berarti hak rakyat untuk
mengambil keputusan politik dilaksanakan secara langsung
oleh seluruh rakyat atau warga negara. Pemerintahan yang
demokratis berbeda dari bentuk pemerintahan lainnya di mana
kekuasaan dipegang oleh satu individu, seperti dalam monarki,
atau oleh sekelompok kecil individu, seperti dalam oligarki.
Meskipun demikian, perbedaan yang berasal dari filosofi
Yunani ini kini tampak ambigu, mengingat bahwa beberapa
pemerintahan kontemporer mengombinasikan elemen-elemen
demokrasi, oligarki, dan monarki.
5
2.1.2 Makna Demokrasi
a. Berdasarkan Ideologi
Berdasarkan sudut pandang ideologi, sistem politik
demokrasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu demokrasi
konstitusional atau demokrasi liberal dan demokrasi
rakyat.
6
1. Demokrasi konstitusional (demokrasi liberal)
Dasar pelaksanaan demokrasi konstitusional
adalah kebebasan individu. Ciri khas pemerintahan
demokrasi konstitusional adalah kekuasaan
pemerintahannya terbatas dan tidak diperkenankan
banyak campur tangan dan bertindak sewenang-
wenang terhadap warganya. Kekuasaan pemerintah
dibatasi oleh konstitusi.
2. Demokrasi rakyat
Demokrasi rakyat mencita-citakan kehidupan
tanpa kelas sosial dan tanpa kepemilikan pribadi.
Demokrasi rakyat merupakan bentuk khusus
demokrasi yang memenuhi fungsi diktator proletar.
Pada masa Perang Dingin, sistem demokrasi rakyat
berkembang di negara-negara Eropa Timur, seperti
Cekoslovakia, Polandia, Hungaria, Rumania,
Bulgaria, Yugoslavia, dan Tiongkok. Sistem politik
demokrasi rakyat disebut juga “demokrasi proletar”
yang berhaluan Marxisme-komunisme.
3. Berdasarkan Cara Penyaluran Kehendak Rakyat
Sebuah sistem politik demokrasi yang berdasar pada
rakyat akan dibedakan menjadi tiga jenis, antara lain:
1. Demokrasi Langsung
Demokrasi langsung atau yang juga disebut
dengan demokrasi murni adalah jenis demokrasi
dimana rakyatlah yang mempunyai kekuasaan
secara langsung tanpa adanya perwakilan, perantara,
atau majelis parlemen. Demokrasi yang satu ini
memerlukan partisipasi luas dalam politik. Apabila
7
pemerintah harus mengesahkan undang-undang
ataupun kebijakan tertentu, maka peraturan tersebut
akan ditentukan oleh rakyat. Mereka akan
memberikan suara pada suatu masalah dan berperan
untuk menentukan nasib negaranya sendiri. (Yusuf,
t.thn.)
2. Demokrasi Perwakilan
Demokrasi perwakilan atau yang biasa disebut
Demokrasi Tidak Langsung adalah hal yang akan
dilakukan saat rakyat bisa memilih siapa yang akan
mewakili suara mereka di parlemen. Dimana
demokrasi ini adalah bentuk demokrasi yang paling
umum di seluruh dunia. Penekanannya sendiri ada
pada perlindungan hak-hak yang tidak hanya pada
mayoritas rakyat di negara bagian saja, tapi juga
minoritas. Dengan memilih perwakilan yang lebih
berkualitas, minoritas kemudian akan bisa
menyuarakan dengan cara yang lebih efisien.
3. Demokrasi Perwakilan Sistem Referendum
Demokrasi yang satu ini adalah gabungan
antara demokrasi langsung dan demokrasi
perwakilan. Rakyat akan memilih wakilnya untuk
duduk di dalam lembaga perwakilan yang kemudian
dikontrol oleh rakyat itu sendiri.
b. Berdasarkan Titik Perhatian
Jika berdasar pada titik perhatiannya, maka sistem politik
demokrasi ini dibedakan menjadi tiga jenis, antara lain:
8
1. Demokrasi Formal
Demokrasi formal merupakan sistem politik
demokrasi yang menjunjung tinggi persamaan politik,
tanpa menghilangkan kesenjangan dalam bidang
ekonomi. Di dalam demokrasi formal, setiap orang
dinilai mempunyai hak yang sama.
2. Demokrasi Material
Demokrasi material merupakan sistem politik
yang fokus pada usaha menghilangkan perbedaan
dalam bidang ekonomi. Sedangkan persamaan bidang
politik kurang diperhatikan bahkan terkadang
dihilangkan.
3. Demokrasi Gabungan
Demokrasi gabungan ini menggabungkan kebaikan
dan membuang semua keburukan demokrasi formal
dan demokrasi material. Di dalam ini, persamaan
derajat dan hak setiap orang diakui, namun kegiatan
rakyat terbatas demi kesejahteraan.
c. Demokrasi Berdasarkan Sistem
Jenis demokrasi juga dapat dibedakan berdasarkan
sistemnya. Setidaknya terdapat 3 (tiga) jenis demokrasi
berdasarkan sistem yakni demokrasi parlementer,
demokrasi presidensial, dan demokrasi campuran.
1. Demokrasi Parlementer
Demokrasi parlementer adalah konsep
pemerintahan disuatu negara yang memberikan otoritas
kepada parlemen untuk mengerjakan tugas-tugas
negara. Parlemen memiliki peran yang fundamental dan
kuat untuk mengangkat seorang perdata Menteri.
9
Bahkan, parlemen memiliki legitimasi untuk
menjatuhkan pemerintahan di suatu negara. Menurut
Miriam Budiardo, dalam bukunya yang berjudul
“Dasar-Dasar Ilmu Politik” mengammbarkan dua pola
dalam demokrasi parlementer, yakni badan eksekutif
(pemerintah), dan badan legislatif (parlemen) memiliki
ketergantung satu sama lain.
2. Demokrasi presidensial
Demokrasi Presidensial adalah sistem
pemerintahan dimana kepala pemerintahan dipegang
oleh presiden dan tidak memiliki tanggung jawab
terhadap parlemen (legislatif). Sementara itu, Menteri
bertanggung jawab kepada presiden karena presiden
memiliki kedudukan sebagai kepala negara sekaligus
kepala pemerintahan. Menurut Rod Hagus, demokrasi
presidensial memiliki 3 (tiga) unsur pokok, yakni:
presiden dipilih oleh rakyat dan bisa mengangkat para
pejabat pemerintahan, presiden memiliki masa jabatan
yang tetap, dan tidak ada status tumpang tindih antara
badan eksekutif dan badan legislatif.
3. Demokrasi Campuran
Demokrasi campuran adalah sistem
pemerintahan yang diambil hal-hal terbaik dari sistem
pemerintahan presidensial dan parlementer.
Berdasarkan pandangan I Made Pasek Diantha,
setidaknya terdapat 3 (tiga) ciri utama dalam demokrasi
campuran, yakni:
10
1) Menteri-menteri dipilih oleh Parlemen;
2) Lamanya masa jabatan eksekutif ditentukan
dengan pasti dalam konstitusi
3) Menteri-menteri tidak bertanggung jawab baik
kepada parlemen maupun kepada presiden.
(Demokrasi: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Jenis, 2022)
1. Kedaulatan Rakyat
Kekuasaan politik di Indonesia dilaksanakan oleh rakyat melalui
mekanisme pemilihan umum serta partisipasi masyarakat.
Pemilihan presiden, anggota legislatif, dan kepala daerah
merupakan contoh kongkret dari kedaulatan rakyat. Namun, dalam
praktiknya, terdapat pelanggaran yang mengancam proses
demokrasi, seperti yang terjadi di Kabupaten Pangandaran dan
Tasikmalaya.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia, hak asasi
manusia, dan keadilan sosial merupakan nilai-nilai yang terkandung
dalam sila kedua Pancasila. Sila ini mencerminkan komitmen
bangsa Indonesia untuk mengakui setiap individu sebagai makhluk
yang bermartabat, menjamin hak-hak dasar yang melekat pada
setiap manusia, serta mewujudkan keadilan dalam kehidupan
bermasyarakat, sehingga dapat tercipta keselarasan dan
keseimbangan sosial yang mencerminkan kemanusiaan yang adil
dan beradab. (Brahman, Christian, Fadhilah, & Denita, 2021)
3. Persatuan Indonesia
Menjaga keharmonisan di tengah keragaman sosial, budaya, dan
agama merupakan nilai inti yang sejalan dengan sila ketiga
11
Pancasila. Sila ini mencerminkan semangat persatuan bangsa
Indonesia yang, meskipun memiliki perbedaan latar belakang
masyarakat, tradisi, dan keyakinan, tetap bersatu untuk
menciptakan persatuan yang kokoh dan damai dalam kerangka
"Persatuan Indonesia" yang menjadi dasar kehidupan bernegara.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
Dalam sistem demokrasi Pancasila, pengambilan keputusan
dilaksanakan melalui musyawarah dengan melibatkan lembaga
perwakilan seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan
Perwakilan Daerah (DPD), dengan mufakat atau kesepakatan
sebagai ciri khasnya. Berbeda dengan sistem demokrasi Barat yang
lebih menekankan pada kekuasaan mayoritas, pendekatan ini
mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong untuk
mencapai keputusan yang harmonis dan diterima oleh seluruh
pihak.
5. Pemilihan Umum yang Bebas, Adil, dan Jujur (Luber Jurdil)
Penyelenggaraan pemilihan umum harus dilakukan secara
transparan dan adil. Namun, dalam praktiknya, masih dihadapkan
pada berbagai kendala, seperti praktik politik uang dan
penyalahgunaan daftar pemilih. Hal ini menunjukkan bahwa
meskipun prinsip-prinsip ideal telah ditetapkan, kenyataan di
lapangan seringkali ternoda oleh tindakan-tindakan yang merusak
integritas proses demokrasi.
6. Kesetaraan di Depan Hukum
Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di depan
hukum dan masyarakat, tanpa adanya perbedaan perlakuan yang
berdasarkan agama, etnis, atau latar belakang sosial.
12
7. Pembatasan Kekuasaan Secara Konstitusional
Kekuasaan pemerintah di Indonesia dibatasi oleh Undang-
Undang Dasar 1945 beserta peraturan hukum lainnya untuk
mencegah penyalahgunaan jabatan. Terdapat sistem checks and
balances antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif yang saling
mengawasi dan menyeimbangkan satu sama lain demi memastikan
bahwa pemerintah bertindak sesuai dengan hukum dan kepentingan
rakyat.
8. Pluralisme dan Toleransi
Mengakui dan menghormati keragaman sekaligus mendorong
partisipasi aktif di semua tingkat masyarakat. Pluralisme dalam
demokrasi Pancasila berlandaskan pada pengakuan dan
penghormatan terhadap keberagaman yang terdapat di Indonesia,
baik dari aspek agama, etnis, budaya, maupun pandangan politik.
Pancasila sebagai dasar negara menegaskan konsep Ketuhanan
Yang Maha Esa, di mana diakui adanya satu Tuhan dalam berbagai
agama, sehingga setiap warga negara berhak untuk menjalankan
agamanya masing-masing dengan bebas dan damai. Toleransi
merupakan pilar terpenting agar perbedaan tidak menjadi sumber
konflik, melainkan sumber kekayaan sosial yang memperkuat
persatuan dan kesatuan bangsa. (Gufur, Mutholingah, & Munir,
2021)
9. Jaminan Hak Asasi Manusia
Pentingnya jaminan atas hak asasi manusia menunjukkan bahwa
setiap individu memiliki hak yang tidak dapat dicabut, menjamin
kebebasan, dan melindungi martabat setiap warga negara dalam
kehidupan bermasyarakat. Konstitusi Republik Indonesia,
khususnya Undang-Undang Dasar 1945, menjamin perlindungan
hak asasi manusia bagi seluruh warga negara. Hak atas kebebasan
13
berekspresi, kebebasan beragama, dan hak-hak dasar lainnya
dijamin secara konstitusional. Negara memiliki tanggung jawab
untuk melindungi kebebasan beragama serta kebebasan untuk
melaksanakan agama sesuai dengan keyakinan masing-masing
tanpa adanya diskriminasi. Perlindungan hak asasi manusia ini
sangat penting untuk memastikan bahwa setiap individu dapat
berpartisipasi secara aktif dan bebas dalam kehidupan demokratis
tanpa rasa takut akan penindasan atau diskriminasi.. Demokrasi
Pancasila menempatkan HAM sebagai bagian integral dari nilai-
nilai Pancasila, sehingga hak individu dan kepentingan kolektif
dapat berjalan seimbang demi terciptanya keadilan sosial dan
harmoni dalam Masyarakat.
10. Kesejahteraan Sosial
Sila kelima Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh
Rakyat Indonesia,” menjadi landasan utama bagi upaya
mewujudkan kesejahteraan sosial dalam demokrasi Pancasila.
Demokrasi tidak hanya berfokus pada kebebasan politik dan hak-
hak individu, tetapi juga pada pemerataan kesejahteraan dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Negara
berkewajiban menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap
warga negara memperoleh akses yang adil terhadap sumber daya
ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja.
Kesejahteraan sosial ini juga mencakup perlindungan terhadap
kelompok-kelompok rentan dan minoritas agar tidak terjadi
ketimpangan sosial yang dapat mengancam persatuan dan stabilitas
nasional. Dengan demikian, demokrasi Pancasila mengintegrasikan
nilai-nilai sosial dan keadilan sebagai bagian tak terpisahkan dari
praktik demokrasi di Indonesia.
14
2.3 Hakikat Demokrasi Indonesia ( Demokrasi Pancasila )
15
Menurut pandangan Prof. Hazairin, Demokrasi Pancasila
sejatinya merupakan sistem demokrasi yang telah diterapkan
oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu dan masih
dapat ditemukan dalam kehidupan sosial yang berbasis hukum
adat. Beberapa contohnya adalah sistem nagari di
Minangkabau, desa di Jawa, serta marga di komunitas suku
Batak. Hal ini menegaskan bahwa Demokrasi Pancasila
bukanlah sistem yang diadopsi dari luar, melainkan lahir dan
berkembang dari nilai-nilai asli masyarakat Indonesia. Oleh
karena itu, Demokrasi Pancasila dapat dikatakan sebagai
bentuk demokrasi yang mencerminkan jati diri bangsa dan
diterapkan oleh seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan
bernegara.
16
fungsi dan peran lembaga-lembaga permusyawaratan dan
perwakilan rakyat seperti MPR, DPR, dan DPD menurut UUD
NRI Tahun 1945. (Bambang Trisno, 2024)
1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 telah mengubah
ketentuan yang berkaitan dengan Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR), yang sebelumnya merupakan lembaga tertinggi
negara. Setelah dilakukannya amandemen, sistem
ketatanegaraan mengalami pergeseran dari sistem hierarkis
vertikal dengan prinsip supremasi MPR menjadi sistem
horizontal yang menekankan saling kontrol antar lembaga
negara. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kini memiliki
wewenang untuk melantik Presiden dan Wakil Presiden (Pasal
3 ayat (2) UUD 1945) serta untuk memberhentikan Presiden
dan/atau Wakil Presiden selama masa jabatannya sesuai dengan
ketentuan yang terdapat dalam UUD (Pasal 3 ayat (3) UUD
1945).
2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Perubahan yang terjadi pada Dewan Perwakilan Rakyat
setelah amandemen konstitusi mencakup penambahan
ketentuan mengenai pemilihan anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, sementara komposisi dan masa jabatan anggota DPR
tetap tidak berubah. DPR memiliki tiga fungsi utama, yaitu:
fungsi legislatif (membuat undang-undang), fungsi anggaran
(menyusun dan mengesahkan anggaran negara bersama dengan
Presiden), serta fungsi pengawasan (memantau pelaksanaan
konstitusi). Selain itu, DPR juga memegang hak interpelasi
(meminta informasi dari pemerintah), hak angket (melakukan
penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah), serta hak untuk
17
menyatakan pendapat (memberikan pendapat mengenai
kebijakan pemerintah).
3. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
Ketentuan yang mengatur mengenai Dewan Perwakilan
Daerah (DPD) merupakan aspek baru dalam Undang-Undang
Dasar 1945 dan tercantum dalam bab tersendiri, terdiri dari
Pasal 22C dan 22D. Sistem perwakilan di Indonesia memiliki
karakteristik yang unik, di mana selain DPR sebagai lembaga
perwakilan rakyat, terdapat pula DPD yang berfungsi sebagai
wadah bagi aspirasi Masyarakat.
18
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan turut serta dalam mewujudkan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,"
sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
(UUD) 1945. Cita-cita tersebut dijabarkan dalam Negara Republik
Indonesia yang berlandaskan pada kedaulatan rakyat dengan dasar
Pancasila.
Hakikat demokrasi, pada intinya, adalah tidak adanya pihak
yang dapat secara absolut menentukan kebenaran dan keadilan
dalam pemerintahan suatu masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan
dialog (musyawarah) antara pihak mayoritas dan minoritas. Hakikat
demokrasi ini berlandaskan pada Pancasila yang berfungsi sebagai
tolak ukur dan sumber moral. Dengan demikian, Demokrasi
Pancasila menjadi bentuk demokrasi yang menjadi dasar sistem
pemerintahan berdasarkan kedaulatan rakyat dalam bentuk
musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan
permasalahan-permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang adil dan merata
secara spiritual dan material, sebagaimana tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Pernyataan-pernyataan
yang terdapat dalam Pembukaan tersebut merupakan perwujudan
dari asas-asas yang terkandung dalam Pancasila, yang menjadi cita-
cita negara Indonesia. Asas kerakyatan diwujudkan dalam
kedaulatan rakyat, sedangkan asas keadilan sosial mencerminkan
kesejahteraan umum.
Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi konstitusional
karena didasarkan pada UUD 1945, yang berhubungan langsung
dengan Pancasila yang mengandung norma-norma abstrak dengan
19
dimensi universalitas sekaligus partikular. Saat ini, susunan norma-
norma tersebut telah menjadi identitas normatif masyarakat
Indonesia. Di dalamnya terkandung visi masa depan bangsa, dan
untuk merumuskan visi yang masih abstrak dan kurang operasional
tersebut sangat bergantung pada konteks zaman. Tafsir terhadap
Pancasila dalam UUD 1945 dapat diperbaharui sesuai dengan
konteks zaman, sehingga sistem demokrasi yang tertuang dalam
UUD, hasil tafsir terhadap Pancasila, disebut sebagai Demokrasi
Pancasila. Model Demokrasi Pancasila, yang merujuk pada salah
satu varian bentuk demokrasi, memiliki konsep tersendiri mengenai
prinsip kedaulatan rakyat. Pancasila, dalam hal ini, menjadi
landasan filosofis untuk pelaksanaan demokrasi "model" Indonesia
yang dikenal sebagai Demokrasi Pancasila. Pancasila, khususnya
sila keempat, mengandung dua terminologi penting yang
menentukan bentuk demokrasi yang diterapkan.
Pancasila mempunyai peranan penting dalam menentukan
penafsiran terhadap makna kedaulatan rakyat. Dalam konteks
demokrasi Pancasila, kedaulatan rakyat dimaknai sebagai
kedaulatan terlembaga. Hal ini mengindikasikan bahwa rakyat tidak
dapat secara langsung menjalankan roda pemerintahan atau
menguasai negara secara penuh. Untuk itu, diperlukan lembaga
yang berfungsi mewakili kepentingan rakyat melalui pemilihan
wakil yang akan menyalurkan aspirasi mereka. Dengan demikian,
kedaulatan rakyat dalam perspektif ini tidak serta-merta berarti hak
bebas bagi rakyat untuk bertindak sesuai dengan keinginan dan
kepentingan pribadi tanpa memperhatikan sistem dan norma yang
dibangun untuk kepentingan bangsa Indonesia. Kedaulatan rakyat
dalam Pancasila memiliki nilai sinergis dengan hakikat dasar
demokrasi dalam pengertian yang lebih universal, karena norma
20
dan kebijakan negara harus sejalan dengan kepentingan rakyat.
Pernyataan tersebut dapat dipahami karena norma yang
berkembang dalam masyarakat Indonesia telah terintegrasi dalam
Pancasila, serta apa yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar
1945 pada hakikatnya mencerminkan kepentingan rakyat
Indonesia. Contohnya, beberapa hak dasar yang disebutkan dalam
Pancasila harus dijamin oleh negara, yaitu kemanusiaan yang adil
dan beradab, serta keadilan sosial. Jaminan terhadap hak-hak warga
negara diharapkan dapat berjalan beriringan dengan konsep
ketaatan rakyat terhadap sistem bernegara yang berlandaskan nilai-
nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana tertuang dalam sila
pertama Pancasila.
21
pada individu, namun sering menghadapi kesulitan dalam
melindungi hak-hak minoritas karena dominasi suara mayoritas,
yang mencerminkan perbedaan konteks sosial budaya antara kedua
sistem tersebut.
Indonesia, yang menerapkan demokrasi Pancasila,
melaksanakan pemilihan presiden secara langsung melalui
pemilihan umum. Di sisi lain, negara-negara yang menganut
demokrasi Barat tidak memilih presiden secara langsung,
melainkan memilih perwakilan yang akan bertindak sebagai wakil
dalam pemilihan presiden yang dikenal dengan sistem Electoral
College. Selain itu, di Indonesia, pemilihan anggota parlemen
dilakukan oleh anggota partai tanpa mempertimbangkan keahlian,
sementara di negara-negara yang menganut demokrasi liberal,
pemilihan anggota parlemen biasanya ditentukan oleh partai dari
kalangan individu yang memiliki keahlian di bidangnya. (Toni
Nasution1, 2023)
22
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
23
berfungsi secara optimal. Dengan demikian, aspirasi daerah dapat
terwakili dengan baik dalam proses pengambilan keputusan nasional.
Selanjutnya, pendidikan kewarganegaraan serta sosialisasi nilai-nilai
demokrasi harus ditingkatkan untuk menumbuhkan budaya demokrasi
yang sehat dan partisipatif di Indonesia. Di era digital saat ini, media
sosial menjadi ruang penting untuk partisipasi publik. Oleh karena itu,
media sosial harus dimanfaatkan secara positif guna meningkatkan
kualitas demokrasi, memperluas akses informasi, dan memperkuat
peran masyarakat dalam proses demokrasi.
24
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Trisno, O. A. (2024). Konsep dan Urgensi Demokrasi yang Bersumber dari
Pancasila. JISPENDIORA: Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan Dan Humaniora
Vol. 3, No. 2.
Brahman, M. K., Christian, G. A., Fadhilah, N. S., & Denita, N. D. (2021). Analisis
Prinsip Demokrasi Dalam Konstitusi Indonesia: Tinjauan Terhadap
Implementasi Dan Tantangannya. Vol. 1, No. 2, 225.
Demokrasi: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Jenis. (2022, Desember 14). Diambil kembali
dari ADCO Law: https://adcolaw.com/id/blog/demokrasi-pengertian-ciri-ciri-
dan-jenis/
Gufur, A., Mutholingah, S., & Munir, M. (2021). MEMBANGUN SIKAP TOLERAN
DAN DEMOKRATIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.
TA’LIMUNA Vol. 10, No. 2, 84.
25
26