0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan4 halaman

Kasus Baiq Nuril: Hukum ITE dan Relevansinya

Kasus Baiq Nuril melibatkan penolakan permohonan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung, yang mengakibatkan hukuman penjara dan denda karena pelanggaran UU ITE. Indonesia menganut sistem hukum Eropa Kontinental, yang masih relevan, namun perlu perbaikan dalam formulasi undang-undang dan kompetensi hakim. Perkembangan hukum telematika dan revisi UU ITE diperlukan untuk menghindari pasal karet yang dapat mengkriminalisasi masyarakat.

Diunggah oleh

Habbib W S
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan4 halaman

Kasus Baiq Nuril: Hukum ITE dan Relevansinya

Kasus Baiq Nuril melibatkan penolakan permohonan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung, yang mengakibatkan hukuman penjara dan denda karena pelanggaran UU ITE. Indonesia menganut sistem hukum Eropa Kontinental, yang masih relevan, namun perlu perbaikan dalam formulasi undang-undang dan kompetensi hakim. Perkembangan hukum telematika dan revisi UU ITE diperlukan untuk menghindari pasal karet yang dapat mengkriminalisasi masyarakat.

Diunggah oleh

Habbib W S
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : HABBIB WIBOWO SAPUTRO

NIM : 045113123

SOAL :

Kasus Baiq Nuril

Putusan Nomor 83 PK/Pid.Sus/2019, Mahkamah Agung (MA) telah memutus perkara Baiq Nuril
Maknun yang putusannya menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) atas permohonan
Baiq Nuril yang mengajukan PK ke MA. Kasus Baiq Nuril berawal pada tahun 2012, di mana ia
menjadi guru honorer pada SMA 7 Mataram, bermula dari percakapan telepon dengan Kepala
Sekolahnya yang bercerita soal pengalaman hubungan seksual yang diduga juga mengarah pada
pelecehan seksual secara verbal kepada Baiq Nuril. Karena merasa risih, Baiq Nuril kemudian
merekam pembicaraan tersebut dan rekaman itu akhirnya diketahui orang lain. Kemudian Kepala
Sekolah dimaksud melaporkan sebagai kasus pelanggaran terhadap UU Informasi dan Transaksi
Elektronik (ITE).

Ditolaknya permohonan PK Baiq Nuril, berdampak bahwa putusan kasasi MA yang menghukum
Baiq Nuril dinyatakan berlaku. Sebagaimana putusan tingkat Kasasi bulan September 2018
memutus Baiq Nurul Maknun bersalah dan diganjar hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp. 500
juta, karena dianggap melanggar UU ITE, Pasal 27 ayat (1) dan (3) jo Pasal 45 ayat 1 Undang-
Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), walaupun
sebelumnya Pengadilan Negeri Mataram, dalam sidang putusan tertanggal 26 Juli 2017,
menyatakan Baiq Nuril tidak bersalah dan divonis bebas.

Sumber : https://www.kompasiana.com/rat/5d2d95d00d82304da36e6d52/kasus-baiq-nuril-
antara-amnesti-dan-ketiadaan-mekanisme-menemukan-hukum-yang-adil

Soal :

1. Uraikan oleh saudara berdasarkan kasus di atas, Sistem hukum manakah yang dianut oleh
Indonesia dan apakah sistem hukum tersebut masih relevan diberlakukan di Indonesia?

2. Ada dua sistem hukum yang berlaku di dunia, apakah dimungkinkan kedua sistem hukum
tersebut diberlakukan di Indonesia secara bersamaan? Berikan pendapat saudara disertai dengan
contohnya.

3.Berdasarkan kasus di atas menunjukkan bahwa hukum telematika saat ini mulai terus
berkembang seiring perkembangan zaman. Berikan pendapat saudara mengenai perkembangan
hukum telematika dan implementasi UU ITE apakah kasus Baiq Nuril memang termasuk
pelanggaran UU ITE? Jelaskan!
JAWAB :

1. Berdasarkan kasus yang menimpa Baiq Nuril, system hukum yang dianut bangsa Indonesia
adalah system Eropa Kontinental yang dinamakan juga sebagai Civil Law, sitem Rechtaat
atau system Romawi Jerman. Sistem tersebut masih relevan diberlakukan di Indonesia.
Hanya saja, mengacu pada kasus Baiq Nuril, bangsa ini perlu meningkatkan kecakapan
hakim dan juga menyempurnakan formulasi Undang-Undang agar tidak bias dan melukai
prinsip keadilan.
Kasus yang menumpa Baiq Nuril diselesaikan di pengadilan dan diputuskan oleh hakim
berdasarkan pada Undang-Undang yang berlaku. Dengan demikian, jelas Indonesia
menganut sitem hukum Civil Law atau Eropa Kontinental sebab pada system lainnya,
yakni Common Law, persdiangannya disebut dengan Jury Trial yang masih dimpimpin
hakim namun keputusannya ada di tangan para juri. Hakim dalam hal ini hanya bertugas
mengarahhkan jalannya siding agar kondusif sesuai aturan yang ada.
Kasus Baiq Nuril sendiri berkaitan dengan UU ITE yang memang disebut-sebut ahi hukum
kaya akan pasal karet. Maksud pasal karet adalah pasal yang maknanya tidak tegas dan
lentur sehingga cenderung multitafsir. Mengacu pada kasus tersebut maka bangsa
Indonesia harus ketat dalam memformulasikan Undang-Undang sebba jika cacat atau bias
maka yang menjadi korban adalah rakyat. Selain itu, kompetensi hakim juga perlu
ditingkatkan sebab meski menganut Civil Law, kepastian hukum tidak selalu sumbernya
dari Undang-Undang semata. Hakim harus mampu melihat persolan lebih luas dengan
mempraktekan metode penemuan hukum menurut Van Apeldorn. Jika UU ITE belum
mampu menjangkau substansi dari kasus secara utuh maka hakim semestinya
mempertimbangkan nilai-nilai dan nromayang berlaku dengan mempertimbangkan
tindakan pelecehan seksual yang terjadi pada Baiq Nuril.

2. Tidak dimungkinkan bisa kedua system hukum didunia yang ada di terapkan pada
Indonesia berupa Eropa Kontinental dan Anglo Saxon dapat dilakukan bersamaan. Hal ini
dikarenakan pada Erpo Kontinental lebih terfokus pada sumber hukum yang ada di
Indonesia berupa UUD dang Anglo Saxon lebuh fokus ke putusan hakim, contoh pada
Indonesia sendiri memiliki berbagai contoh ada hukum-hukum yang masih memfokuskan
ke Eropa Kontinental adanya putusan hukum yang kaku meskipun hanya ada orang tua
yang mencuri beberapa kayu tetap dihukum namun ada juga yang fokus Anglo Sexon lebih
kepada keputusan hakim seperti pembatalan hukum istri yang dilaporkan suami karena
memarahinya mabuk.
Ada berbagai system hukum yang mana diterapkan di dunia ini. Berikut beberapa system-
sistem hukum yang ada:
a. Sistem Hukum Eropa Kontinental, system ini hampir digunakan 60% dari setiap
Negara yang ada di dunia ini. Jaid, tidak heran banyak orang diluar negeri maupun di
Indonesia mengetahui hal ini. Pada system ini segala keputusan dikembalikan ke
peraturan sumber hukum yang utama, bisa dibilang maupun hukuman kecil dan
seharusnya tidak dibesar-besarkan seperti seorang kakek yang hanya mencuri sebatang
kayu namun tetap dihukum. Meskipun sang kakek sudah tua dan tidak berpikir jernih,
Maka masih ada pro serta kontra jika sepenuhnya hukum tidak adil dengan perasaan
keputusan hakim yang ada.
b. Sistem hukum Anglo Saxon, sebuah hukum yang difokuskan terhadap keputusan
hakim, keputusan hakim tersebut menjadi keputusan dasar selanjutnya. Anglo Saxon
keputusan memang terfokuskan kepada keputusan, pandangan dan perasaan hakim
yang didasarkan terhadap kasus yang ditangani serta dasar hukum yang dipegang. Mak
dari hal ini Anglo Saxon bisa dianggap sebagai penengah hukum Eropa Kontinental
yang relative kaku.
c. Sistem hukum adat, system ini berupa system yang mana berdasarkan norma serta
aturan yang mana berlaku di suatu wilayah. Maka dari hal ini aturan hukum yang ada
terkadang ada aturan-aturan yang memiliki beberapa hubungan dengan daerah tersebut.

3. Indoneisa sangat memerlukan perkembangan hukum telematika. UU ITE yang sekarang


perlu di revisi karena dirasa mengekang kebebasan berpendapat. Banyaknya pasal karet di
dalam UU ITE yang dapat mengkriminalisasi disinyalir menjadi biang keladinya. Menurut
data SafeNet, setidaknya ada Sembilan pasal karet yang membuat banyak orang harus
terjerat pidana oleh UU ITE. Masih berdasarkan catatan SafeNet, terdapat 381 korban dari
UU ITE sejak pertama kali diundangkan pada tahun 2008 hingga tahun 2018. Selain itu
Koalisi Masyarakat Sipil juga melaporkan bahwa kasus-kasus yang dijerat dengan Pasal
27, 28, dan 29 UU ITE menunjukan penghukuman mencapai 96,8% (744 perkara)dengan
tingkat pemejaraan yang sangat tinggi, yakni mencapai 88% (676 pekara)

Anda mungkin juga menyukai