NAMA : ENNISA VALENTIA
NIM : EAA 118 034
MATA KULIAH : PENDIDIKAN DAN LATIHAN KEMAHIRAN HUKUM
DOSEN PENGAJAR : TOTOK BAMBANG SAPTO DWIDJO, SH.
TUGAS
Cari kasus hukum dan buat analisis kira-kira dalam kasus tersebut pasal apa saja yang termuat dan
semakin rumit pasalnya maka semakin baik nilainya.
JAWAB
Di Indonesia, bentuk tindak kejahatan yang semakin hari semakin meningkat kualitas maupun
kuantitasnya adalah tindak pidana pencurian. Jenis tindak pidana pencurian merupakan salah satu bentuk
tindak pidana yang paling sering terjadi di masyarakat. Salah satunya adalah kasus pencurian dengan
pemberatan yang dilakukan oleh Anak bernama AIP Alias Alv Alias Kenthir bin PH berumur 17 (tujuh
belas) tahun yang terjadi di sebuah Kios yang berada di Pasar Bejen Karanganyar. Berikut kasus
posisinya, pada hari Sabtu tanggal 11 Juli 2015 sekitar pukul 18.00 WIB, saudara Nursaid (DPO) datang
ke rumah terdakwa dengan maksud hendak mengajak terdakwa melakukan pencurian. Kemudian sekitar
pukul 18.30 WIB, terdakwa dan saudara Nursaid (DPO) dengan berboncengan menggunakan sepeda
motor Yamaha Vega ZR warna merah Nomor Polisi yang sudah tidak dapat diingat lagi berputar – putar
mencari sasaran di daerah Sukoharjo namun tidak dapat. Lalu terdakwa dan saudara Nursaid (DPO)
menuju daerah Karangpandan namun tidak dapat sasaran pencurian. Setelah sampai di daerah Pasar Tegal
Gede Karanganyar, terdakwa dan saudara Nursaid (DPO) melihat ada sebuah sepeda motor Yamaha Vega
ZR warna merah Nomor Polisi AD 2696 LU yang diparkir di depan sebuah kios. Kemudian saudara
Nursaid (DPO) turun dari boncengan menuju tempat sepeda motor tersebut diparkir, sedangkan terdakwa
menunggu di atas sepeda motor yang mereka gunakan di sebelah barat kios sekitar 3 (tiga) meter sambil
mengamati situasi. Dengan menggunakan kunci Shock T yang atasnya diberi mata drei yang ditipiskan,
saudara Nursaid (DPO) merusak kunci stang motor yang dalam keadaan terkunci hingga terbuka (tidak
terkunci). Setelah berhasil membuka kunci stang dengan kunci T, saudara Nursaid (DPO) menuntun
sepeda motor tersebut ke arah barat sekitar 2 (dua) meter lalu terdakwa menaiki sepeda motor curian
tersebut sementara saudara Nursaid (DPO) mendorong dari belakang dari atas motor menuju sebuah
perkampungan. Setelah sampai disebuah perkampungan, terdakwa menyalakan sepeda motor dengan cara
menarik kabel kontak dan kemudian kabel kontak tersebut dikupas dengan menggunakan korek dan bias
dinyalakan. Setelah berhasil menyalakan motor, terdakwa mengendarai sepeda motor hasil curian menuju
rumah saksi Yolanda. Dan tidak berapa lama kemudian terdakwa berhasil diamankan oleh anggota
Kepolisian ketika terdakwa berada di Hotel PGS SOLO beserta barang bukti berupa 1 (satu) unit sepeda
motor Yamaha Vega ZR warna merah Nomor Polisi AD 2696 LU. Akibat perbuatan terdakwa dan
saudara Nursaid (DPO), saksi Ngadiman mengalami kerugian yang ditaksir sebesar Rp. 8.000.000,00
(delapan juta rupiah).
Maka dari itu, Terdakwa AIP Alias Alv Alias Kenthir bin PH diduga telah melanggar Pasal 363
ayat (1) ke-3, ke-4, ke-5 KUHP dan Pasal 363 ayat (1) ke-4. Ke-5 dimana perbuatan terdakwa tersebut
telah melanggar ketentuan bahwa, mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan
orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum yang dilakukan pada waktu malam hari
dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dilakukan oleh yang ada disitu tiada
dengan setahunya atau bertentangan dengan kemauan orang yang berhak oleh dua orang atau lebih
dengan bersekutu serta untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan atau untuk sampai pada barang yang
diambil dilakukan, dengan merusak memotong atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu,
perintah palsu atau pakaian jabatan palsu. Dan dikatakan di atas, bahwa terdakwa adalah seorang anak
yang melakukan pengulangan tindak pidana yang sama yaitu anak residivis.
Dari kasus diatas, terdakwa yang seorang anak yang melakukan pengulangan tindak pidana
(residivis) dapat dijerat sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang menjelaskan bahwa Anak yang merupakan seorang
residivis tidak dapat diupayakan diversi. Dalam Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dijelaskan bahwa pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada
Anak paling lama ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana pidana penjara bagi orang dewasa.
Juga dijelaskan pada pasal 81 ayat (6) yang menyebutkan bahwa jika tindak pidana yang dilakukan Anak
merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka
pidana yang dijatuhkan adalah pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun. Berdasarkan hal tersebut
tindak pidana yang dilakukan oleh anak merupakan suatu bentuk kejahatan sehingga terhadap anak yang
melakukan tindak pidana dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang
Sistem Peradilan Pidana Anak berlaku asas lex specialis derogate legi generalis terhadap KUHP, yang
khususnya berkaitan dengan tindak pidana yang dilakukan oleh anak.