0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan9 halaman

Eksepsi Hukum dalam Perkara Pidana 479

Dokumen ini adalah eksepsi yang diajukan oleh penasihat hukum Resta Aulia atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara pidana terhadap terdakwa Saeful Ali Muiz Bin Utar Muhtar. Eksepsi tersebut menyoroti ketidakjelasan dan kejanggalan dalam surat dakwaan, serta prosedur penggeledahan yang dianggap cacat hukum. Penasihat hukum meminta agar surat dakwaan dinyatakan batal demi hukum dan pemeriksaan perkara tidak dilanjutkan.

Diunggah oleh

Resta Aulia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan9 halaman

Eksepsi Hukum dalam Perkara Pidana 479

Dokumen ini adalah eksepsi yang diajukan oleh penasihat hukum Resta Aulia atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara pidana terhadap terdakwa Saeful Ali Muiz Bin Utar Muhtar. Eksepsi tersebut menyoroti ketidakjelasan dan kejanggalan dalam surat dakwaan, serta prosedur penggeledahan yang dianggap cacat hukum. Penasihat hukum meminta agar surat dakwaan dinyatakan batal demi hukum dan pemeriksaan perkara tidak dilanjutkan.

Diunggah oleh

Resta Aulia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAW FIRM RESTA & ASSOCIATES

| ADVOKAT | LEGAL AUDITOR HUKUM | PENGACARA INDONESIA |


ADV. RESTA AULIA, S.H., M. H.
Alamat : Jalan Nyengseret No.13, Pelindung Hewan, Kec. Astanaanyar, Kota
Bandung, Phone : 089534829219

EKSEPSI
ATAS DAKWAAN JAKSA PENUNTUT UMUM
DALAM PERKARA PIDANA NO. 479/Pid.B/2021/[Link]
ATAS NAMA TERDAKWA SAEFUL ALI MUIZ Bin UTAR
MUHTAR (Alm)

Nama Lengkap : SAEFUL ALI MUIZ Bin UTAR MUHTAR (Alm)


Tempat Lahir : Bandung
Umur/Tanggal Lahir : 35 tahun/08 April 1986
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Tempat Tinggal : Kp, Cicukang RT. 02 RW. 01 Desa Mekarrahayu Kec.
Margaasih Kabupaten Bandung
Agama : Islam
Pekerjaan : Karyawan Swasta (Teknisi Mekanik Mesin Kompayer)
Pendidikan : STM / Sederajat

Diajukan oleh Penasihat Hukum :


RESTA AULIA, S.H., M. H.

Disampaikan di hadapan persidangan Pengadilan Negeri Bandung

Hari Kamis, 20 Mei 2021


DIDAKWA :

sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 363 ayat (1) ke-5 KUHP jo.
Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Majelis Hakim yang terhormat,


Jaksa Penuntut Umum yang terhormat,
Serta sidang yang mulia,

Pertama-tama, saya sebagai Penasihat Hukum SAEFUL ALI MUIZ Bin UTAR
MUHTAR (Alm) menyampaikan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya
kepada Hakim Yang Mulia, yang memeriksa dan mengadili perkara pidana ini.
Saya Penasihat Hukum merasa bahwa Hakim Yang Mulia telah bertindak adil dan
bijaksana terhadap semua pihak dalam persidangan ini. Hakim Yang Mulia telah
memberikan kesempatan yang sama baik kepada Jaksa Penuntut Umum untuk
menyusun dakwaannya, maupun kepada Terdakwa dan penasihat hukumnya juga
telah diberi kesempatan yang sama yaitu untuk mangajukan Eksepsi (Nota
Keberatan).

Eksepsi ini saya sampaikan dengan pertimbangan bahwa ada hal-hal prinsip yang
perlu saya sampaikan berkaitan demi tegaknya hukum, kebenaran dan keadilan
serta demi memastikan terpenuhinya keadilan yang menjadi hak Terdakwa
sebagaimana diatur dalam Pasal 156 ayat (1) KUHAP yaitu : "Dalam hal
Terdakwa atau penasihat hukum mengajukan keberatan bahwa Pengadilan tidak
berwenang mengadili perkara atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat
dakwaan harus dibatalkan, maka setelah diberi kesempatan oleh Jaksa Penuntut
Umum untuk menyatakan pendapatnya Hakim mempertimbangkan keberatan
tersebut untuk selanjutnya mengambil keputusan".

Pengajuan Eksepsi yang saya buat ini, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat
saya kepada Jaksa Penuntut Umum yang sedang melaksanakan fungsi dan juga
pekerjaannya, serta juga pengajuan Eksepsi ini tidak semata-mata mencari
kesalahan dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum ataupun menyanggah secara
apriori dari materi ataupun formal dakwaan yang dibuat oleh Jaksa Penutut
Umum. Namun ada hal yang sangat Fundamental untuk dapat diketahui Hakim
Yang Mulia dan saudara Jaksa Penuntut Umum demi tegaknya keadilan
sebagaimana semboyan yang selalu kita junjung bersama selaku penegak hukum
yakni Fiat Justitia Ruat Caelum.

Sebelum melangkah pada proses yang lebih jauh lagi, Perkenankan saya selaku
kuasa hukum untuk memberikan suatu adagium yang mungkin bisa dijadikan
salah satu Pertimbangan Hakim Yang Mulia yaitu : “dakwaan merupakan unsur
penting hukum acara pidana karena berdasarkan hal yang dimuat dalam surat itu
hakim akan memeriksa surat itu“ (Prof. Andi Hamzah, S.H).

Dalam hal ini maka Penuntut Umum selaku penyusun Surat Dakwaan harus
mengetahui dan memahami benar kronologi peristiwa yang menjadi fakta
dakwaan, apakah sudah cukup berdasar untuk dapat dilanjutkan ke tahap
pengadilan ataukah fakta tersebut tidak seharusnya diteruskan karena memang
secara materiil bukan merupakan tindak pidana. Salah satu fungsi hukum adalah
menjamin agar tugas negara untuk menjamin kesejahteraan rakyat bisa terlaksana
dengan baik dan mewujudkan keadilan yang seadil-adilnya dan hukum menjadi
panglima untuk mewujudkan sebuah kebenaran dan keadilan. Melalui uraian ini
saya mengajak Hakim Yang Mulia dan Jaksa Penunutut Umum yang terhormat
untuk bisa melihat permasalahan secara Komprehensif dan tidak terburu-buru
serta bijak, agar dapat sepenuhnya menilai ulang SAEFUL ALI MUIZ BIN UTAR
MUHTAR (Alm) sebagai Terdakwa dalam perkara ini dan saya selaku kuasa
hukum juga memohon kepada Hakim Yang Mulia yang memeriksa perkara ini
untuk memberikan keadilan hukum yang seadil-adilnya.

Bahwa berdasarkan Surat Dakwaan yang disusun oleh Jaksa Penuntut Umum
maka menurut hemat saya ada beberapa hal yang perlu ditanggapi secara seksama
mengingat di dalam Surat Dakwaan tersebut terdapat berbagai kejanggalan dan
ketidakjelasan yang menyebabkan saya mengajukan keberatan.

Berdasarkan uraian diatas saya selaku Penasihat Hukum Terdakwa ingin


mengajukan keberatan terhadap Surat Dakwaan yang telah didakwakan oleh Jaksa
Penuntut Umum dengan alasan sebagai berikut :

1. SURAT DAKWAAN TIDAK CERMAT, TIDAK JELAS DAN TIDAK


LENGKAP
Bahwa berdasarkan Pasal 143 ayat (2) KUHAP surat dakwaan harus
memenuhi syarat formil dan materil dan apabila surat dakwaan tidak
memenuhi syarat materil, maka surat dakwaan yang demikian adalah batal
demi hukum.
Bahwa setelah mempelajari surat dakwaan Penuntut Umum terhadap
Terdakwa dalam perkara a quo, maka sudah seharusnya surat dakwaan
Penuntut Umum batal demi hukum karena :
1) Dakwaan Penuntut Umum tidak cermat, dimana pemilihan bentuk
surat dakwaan tindak pidana yang didakwakan belum didapat
kepastian tentang Tindak Pidana mana yang paling tepat dapat
dibuktikan, seharusnya mengajukan bentuk dakwaan jenis
alternatif dibandingkan dengan bentuk dakwaan tunggal,
berdasarkan fakta yang terjadi bahwa terdakwa SAEFUL ALI
MUIZ BIN UTAR MUHTAR (Alm) diduga melakukan tindak
pidana pencurian dengan pemberatan (Pasal 363 KUHP) disertai
dengan adanya tindakan menjual sebagian barang-barang ekspedisi
hasil curian milik konsumen di kantor PT. Semut Merah Squad
(J&t Express) kepada orang selewat ketika terdakwa pulang
bekerja, yaitu di daerah Kopo Kota Bandung, dimana antara
lapisan satu dengan yang lainnya menggunakan kata sambung atau
dapat diterapkan dan ditambahkan pula unsur tindak pidana berupa
penadahan (Pasal 480 KUHP). Atas fakta rumusan dakwaan
Penuntut Umum pada dakwaan tunggal tersebut, maka jelaslah
dakwaan Penuntut Umum adalah dakwaan yang kabur dan tidak
cermat serta cacat hukum dan karenanya sudah seharusnya batal
demi hukum.
2) Bahwa Surat dakwaan tidak mencantumkan tanggal yang pasti atas
perbuatan yang didakwakan ("Pada hari dan tanggal yang tidak
dapat diingat lagi antara bulan Januari 2021 sampai dengan bulan
Maret 2021"), sehingga melanggar Pasal 143 ayat (2) huruf b
KUHAP.
3) Bahwa Penuntut Umum dalam rumusan dakwaannya menyatakan,
bahwa pada hari Rabu tanggal 10 Maret 2021 Sekitar Pukul 12.30
WIB, saksi Resta Aulia dan saksi Edi Kusnandar masuk ke dalam
rumah kontrakan Terdakwa dan kantor dimana Terdakwa bekerja
bermaksud untuk melakukan penggeledahan sedangkan saksi
Regian Permana dan saksi Yuda Rizal Danu berjaga-jaga di pintu
depan rumah dan kantor ekspedisi.

Berdasarkan rumusan dakwaan tersebut diatas, Dapat disimpulkan


bahwa :
- Anggota Kepolisian Resort kota Bandung yang mendatangi
rumah Terdakwa adalah berjumlah 4 (empat) orang yaitu Resta
Aulia, Edi Kusnandar, Regian Permana dan Yuda Rizal Danu;
- Sekitar pukul 12.30 WIB dirumah Terdakwa telah Dilakukan
Penggeledahan oleh 4 (empat) orang anggota polisi tersebut
diatas. Penggeledahan tersebut dilakukan tanpa izin dari Ketua
Pengadilan Negeri Bandung sebagaimana ketentuan Pasal 33
ayat (1) KUHAP;
- Pada saat memasuki rumah Terdakwa, Anggota Kepolisian
Resort kota Bandung yaitu Resta Aulia, Edi Kusnandar, Regian
Permana dan Yuda Rizal Danu; tidak didampingi oleh Ketua
Rukun Tetangga Setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
33 Ayat (3) dan ayat (4) KUHAP;
Bahwa berdasarkan kesimpulan tersebut diatas, Penasihat Hukum
Terdakwa berpendapat, yaitu:

- Bahwa Penggeledahan yang dilakukan oleh Resta Aulia, Edi


Kusnandar, Regian Permana dan Yuda Rizal Danu di rumah
dan kantor tempat bekerja Terdakwa pada tanggal 10 Maret
2021 Sekitar pukul 12.30 WIB tersebut adalah bertentangan
dengan amanat Pasal 33 ayat (1), Ayat (3) dan ayat (4) KUHAP,
oleh karenanya Penggeledahan tersebut adalah cacat hukum;
- Bahwa karena penggeledahan tersebut cacat hukum, maka
penahanan dan pemeriksaan terhadap Tersangka juga menjadi
tidak sah;
- Bahwa karena penahanan dan pemeriksaan terhadap Tersangka
tidak sah, maka surat dakwaan penuntut umum yang
didasarkan pada Berita Acara Pemeriksaan Terdakwa di tingkat
penyidikan tersebut menjadi Batal Demi Hukum.
4) Bahwa dalam surat dakwaannya, Penuntut Umum terkesan
memaksakan keadaan yaitu dengan menyebutkan Terdakwa ada
mengambil barang-barang ekspedisi yang dikirim melalui PT
SEMUT MERAH SQUAD (J&T Express) sebanyak 14 (empat
belas) kali dan dari itu terdakwa menjual dan menggunakan
beberapa barang tersebut dengan perincian sebagai berikut :
 Untuk 40 (empat puluh) buah voucher Axis Aigo telah
dijual 18 (delapan belas) buah seharga Rp.132.300,-
(seratus tiga puluh dua ribu tiga ratus rupiah) dan 20
(dua puluh) buah telah digunakan sendiri oleh terdakwa
sehingga sisanya tinggal 2 (dua) buah;
 Untuk 1 (satu) buah emas antam sebesar 1 (satu) gram
telah dijual seharga Rp.820.000,- (delapan ratus dua
puluh ribu rupiah) dan
 Untuk 50 (lima puluh) buah voucher tri pulsa telah
dijual 18 (delapan belas) buah seharga Rp.132.300,-
(seratus tiga puluh dua ribu tiga ratus rupiah) dan 30
(tiga puluh) buah telah digunakan sendiri oleh terdakwa
sehingga sisanya tinggal 2 (dua) buah.
Sehingga total keseluruhan barang-barang yang diambil oleh
terdakwa senilai Rp.4.405.744,- (empat juta empat ratus lima ribu
tujuh ratus empat puluh empat rupiah).

Akan tetapi Penuntut Umum dalam surat dakwaannya tidak dapat


menguraikan secara cermat dan jelas siapa saja orang-orang yang
telah membeli dari Terdakwa, dimana dan kapan Terdakwa
menjualnya, serta bagaimana cara Terdakwa menjualnya.
Sedangkan barang bukti yang diperoleh Penyidik dari tangan
Terdakwa disebutkan telah mengambil 14 barang-barang ekspedisi
milik konsumen di Kantor PT SEMUT MERAH SQUAD (J&t
Express).

Bahwa berdasarkan fakta pada point 3 di atas, saya berpendapat


dakwaan rekan JPU yang mendakwa dan menuntut Terdakwa
dengan Pasal 363 ayat (1) ke-5 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.
adalah tidak tepat. Bahwa sehubungan dengan uraian pada point 3
diatas, dimana dalam surat dakwaan tidak merumuskan semua
unsur dalil yang didakwakan, atau tidak merinci secara jelas peran
dan perbuatan Terdakwa dalam dakwaan yakni hanya fokus pada
tindak pidana pencurian berulangnya saja tanpa dijelaskan dan
disertai dengan adanya tindakan penadahan atau proses jual beli
barang hasil curian yang telah dilakukan pula, serta adanya
kekeliruan dalam penerapan pasal yang didakwakan terhadap
perbuatan Terdakwa menjadikan surat dakwaan tersebut Batal
Demi Hukum (null and void).

Berdasarkan pada pokok-pokok Eksepsi yang kami uraikan di atas, maka saya
selaku Penasihat Hukum Terdakwa SAEFUL ALI MUIZ Bin UTAR MUHTAR
(Alm) memohon kepada Hakim Yang Mulia untuk menjatuhkan Putusan Sela
dengan Amar Putusan yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut:

1. Menerima Eksepsi dari penasihat hukum SAEFUL ALI MUIZ Bin UTAR
MUHTAR (Alm) untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Surat Dakwaan Penuntut Umum dengan Nomor Register
Perkara: PDM-415/BDUG/05/2021 Batal Demi Hukum;
3. Menyatakan pemeriksaan perkara Nomor : 479/Pid.B/2021/[Link] atas
nama Terdakwa SAEFUL ALI MUIZ Bin UTAR MUHTAR (Alm) tidak
dilanjutkan;
4. Menyatakan barang bukti yang disita dari Terdakwa dikembalikan kepada
Terdakwa.
5. Membebankan biaya perkara kepada negara;

ATAU
Apabila Hakim Yang Mulia berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya
(ex aequo et bono).

Atas Perkenan Bapak/Ibu Ketua dan anggota Majelis, kami ucapkan terima kasih.

Bandung, 20 Mei 2021


Hormat Kami
Penasihat Hukum Terdakwa

RESTA AULIA, S.H., M. H.


Nama : Resta Aulia

Kelas : A2 Pagi / Semester 7

NPM : 41151010210104

Anda mungkin juga menyukai