Makalah KDPK
Makalah KDPK
DISUSUN OLEH
NPM 2405051805332
TAHUN 2024-2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat tuhan YME atas segala rahmat dan hidayah-Nya
yang dilimpahkan, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Asuhan Kebidanan
Stase 1 ( KDPK) selama di PMB Bdn. Tri Mulyati
Penyusunan Asuhan Kebidanan ini merupakan salah satu tugas praktek
di Akademi Kebidanan Stikes Bhakti Pertiwi Indonesia untuk memenuhi target
yang telah ditetapkan. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu dalam penyusunan Asuhan Kebidanan ini.
Bersama ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya dengan hati yang tulus, kepada:
1. Dr. Bd. Hj. Lilik Susilowati, S.SiT., M.Kes., MARS selaku Ketua Yayasan
Bhakti Pertiwi Indonesia
2. Dr. Bd. Hj. Ella Nurlelawati, S.SiT., SKM., M.Kes selaku Ketua STIKes
Yayasan Bhakti Pertiwi Indonesia
3. Arsita Pratiwi, S.ST., M.Keb selaku Ketua Program Studi Kebidanan
Program sarjana dan prodi Pendidikan profesi bidan program profesi
STIKes Bhakti Pertiwi Indonesia.
4. Dr. Bd. Hj. Lilik Susilowati, S.SiT., M.Kes., MARS selaku pembimbing
akademik yang telah memberi bimbingan, saran dan ilmu dalam proses
pembuatan makalah ini.
5. Ibu Tri Mulyati, Bdn. SKM, SST, M.Kes selaku pembimbing Lahan
Praktik yang telah memberi bimbingan, saran dan ilmu dalam proses
pembuatan makalah ini.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
Asuhan Kebidanan ini. Penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi peningkatan penyusunan Asuhan Kebidanan selanjutnya.
Jakarta, Desember 2024
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.2 Tujuan................................................................................................................3
3.1 PENGKAJIAN..............................................................................................13
3.2 SUBJEKTIF..................................................................................................13
3.3 OBJEKTIF....................................................................................................15
3.4 ANALISA.......................................................................................................16
3.5 PENATALAKSANAAN.............................................................................17
5.1 KESIMPULAN.............................................................................................19
5.2 SARAN...........................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................20
ii
BAB I
PENDAHULUHAN
iii
daerah per tahun. Sasaran dari MNTE ini adalah Wanita Usia Subur (WUS)
baik calon pengantin maupun ibu hamil. Yang mana pada awalnya terdapat
59 negara didunia yang MNTE nya tidak tercapai, termasuk Indonesia.
Tetapi pada Juli 2019 sudah mengalami penurunan dengan hanya tersisa 12
negara yang belum mencapai MNTE nya, dan Indonesia tidak termasuk
(WHO, 2020).
iv
lanjutan. Imunisasi lanjutan merupakan ulangan imunisasi dasar untuk
mempertahankan tingkat kekebalan dan untuk memperpanjang usia
perlindungan.
Imunisasi lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu
melakukan pelayanan antenatal. Imunisasi TT pada WUS diberikan
sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu, dimulai sebelum dan atau saat
hamil yang berguna bagi kekebalan seumur hidup (Kemenkes RI, 2021).
Imunisasi dilakukan dengan maksud untuk menurunkan angka
mortalitas dan morbiditas yang merupakan salah satu program dari
puskesmas. Bila ibu hamil tidak mendapatkan imunisasi Tetanus Toksoid
(TT) dapat menyebabkan bayi rentan terhadap penyakit Tetanus Toksoid
Neonatorum. Sosialisasi imunisasi TT perlu dilakukan mengingat masih
banyak ibu hamil yang belum mengetahui manfaat imunisasi TT bagi ibu itu
sendiri dan bayi yang dikandungnya dan berapa kali pemberian imunisasi
TT serta jarak antara pemberian imunisasi TT1 dan TT2 (Suryati, 2015).
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Diharapkan selama dilapangan mahasiswa mampu
melaksanakan Asuhan Kebidanan secara nyata dengan
menerapkan teori yang telah ada.
1.2.2 Tujuan kasus
mahasiswa mampu
1. melakukan pengkajian data.
v
2. Merumuskan masalah.
3. Menentukan rencana.
4. Melaksanakan tindakan.
5. Melakukan evaluasi.
vi
BAB Il
TIJNAUAN PUSTAKA
vii
Dalam Praktik Kehamilan Menurut Diyan dan Asmuji (2019),
praktik yang berdasarkan bukti penelitian adalah penggunaan secara
sistematis, ilmiah dan eksplisit dari bukti terbaik mutakhir dalam
membuat keputusan tentang asuhan bagi pasien secara individual.
Berikut ini evidence based yang menjadi standar pelayanan dalam
praktik kehamilan sebagai berikut:
Pemeriksaan Antenatal Care terbaru sesuai dengan standar
pelayanan yaitu minimal 6 kali pemeriksaan selama kehamilan, dan
minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester I dan III. 1 kali
pada trimester pertama ( kehamilan hingga 12 minggu ) , 2 kali pada
trimester kedua ( kehamilan diatas 12 minggu sampai 26 minggu ) , 3
kali pada trimester ketiga ( kehamilan diatas 24 minggu sampai 40
minggu ) (Buku KIA Terbaru Revisi tahun 2024).
Standar pelayanan antenatal adalah pelayanan yang dilakukan
kepada ibu hamil dengan memenuhi kriteria 10T yaitu :
viii
2.2. Konsep Imunisasi Tetanus Toksoid
2.2.1. Definisi Imunisasi Tetanus Toksoid
Imunisasi adalah suatu program yang dengan sengaja
memasukkan antigen lemah agar merangsang antibodi keluar sehingga
tubuh dapat resisten terhadap penyakit tertentu (Proverawati, 2020).
Imunisasi pada kehamilan dan di awal balita membuat sang
ibu dan bayi akan rentan terhadap adanya infeksi. Penyebab kematian
ibu dan kematian bayi seperti Infeksi Tetanus yang diakibatkan oleh
bakteri Clostridium tetani sebagai akibat dari proses persalinan yang
tidak aman atau steril atau dapat berasal dari luka yang diperoleh ibu
hamil sebelum melahirkan (Indriyani, 2020). Vaksin TT mengandung
atau berisi kuman toksoid tetanus yang telah dimurnikan yang
terabsorbsi atau terserap ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat.
Thimerosal 0,1 mg/ml yang dipergunakan sebagai pengawet. Suatu
dosis sebesar 0,5 ml vaksin mengandung potensi sedikitnya 40 IU
kuman Tetanus Toksoid. Vaksin TT dalam perkembangan selanjutnya
dipergunakan untuk pencegahan pada neonatus atau pada bayi yang
baru lahir dan dengan mengimunisasi wanita usia subur untuk
pencegahan tetanus (Wahidin, 2019).
2.2.2. Manfaat Imunisasi Tetanus Toksoid
Menurut Bartini (2019), imunisasi TT di anjurkan untuk
mencegah terjadinya infeksi tetanus neonatorum. Vaksin tetanus pada
pemeriksaan antenatal dapat menurunkan kemungkinan kematian bayi
dan mencegah kematian ibu akibat tetanus. Imunisasi TT dapat
melindungi bayi yang baru lahir dari tetanus neonatorum. Tetanus
neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi
berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani yaitu
kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem saraf
pusat (Saifuddin dkk, 2020)
ix
2.2.3. Jumlah Dosis Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid
Ibu hamil harus mendapatkan penjelasan tentang pentingnya
imunisasi TT sebanyak 5 kali seumur hidup. Setiap ibu hamil yang
belum pernah imunisasi TT harus mendapatkan imunisasi TT paling
sedikit 2 kali suntikan selama hamil yaitu :
a. Kunjungan pertama kehamilan.
b. 4 minggu setelah imunisasi pertama Apabila ibu telah diimunisasi
TT sebanyak 2 kali, kemudian dalam satu tahun ibu hamil maka
saat hamil diberikan 1 kali suntikan paling lambat 2 minggu
sebelum melahirkan (Bartini, 2019).
Wanita Usia Subur (WUS) adalah wanita yang keadaan organ
reproduksinya berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun.
Puncak kesuburan ada pada rentang usia 20-29 tahun. Wanita Usia
Subur (WUS) diwajibkan untuk melakukan imunisasi TT saat
mendaftarkan pernikahan di KUA (Kantor Urusan Agama) sebagai
bentuk pencegahan infeksi tetanus saat kehamilan. Imunisasi TT1
dilakukan pertama kemudian dilanjutkan TT2 4 minggu setelah TT1.
Jika WUS tidak melanjutkan TT2 kemudian setelah 1 tahun hamil
maka imunisasi TT harus diulang dari imunisasi TT1 (Depkes RI,
2023). Menurut Syaifuddin (2020), jumlah dan dosis pemberian
imunisasi TT untuk ibu hamil yaitu :
1. Pasien dianggap mempunyai kekebalan jika telah mendapat 2
dosis terakhir dengan interval 4 minggu, dan jarak waktu
sekurangnya 4 minggu antara dosis terakhir dengan saat terminasi
kehamilan. Pasien yang telah mendapat vaksinasi lengkap (5
suntikan) lebih dari 10 tahun sebelum kehamilan perlu diberikan
booster berupa toksoid 0,5 ml IM.
2. Jika pasien belum pernah imunisasi, berikan serum anti tetanus
1500 unit IM dan suntikkan booster Tetanus Toksoid (TT) 0,5 ml
IM diberikan 4 minggu kemudian.
x
3. Pencegahan dan perlindungan diri yang aman terhadap penyakit
tetanus dilakukan dengan pemberian 5 dosis imunisasi untuk
mencapai kekebalan penuh (Depkes RI, 2023).
4. Pencegahan dan perlindungan diri yang aman terhadap penyakit
tetanus dilakukan dengan pemberian 5 dosis imunisasi untuk
mencapai kekebalan penuh (Depkes RI, 2023)
xi
Efek samping dari imunisasi TT biasanya gejala-gejala ringan
seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada area suntikan
(Depkes RI, 2023). Tetanus toksoid adalah antigen yang sangat aman
dan juga aman untuk wanita hamil, tidak ada bahaya bagi janin
apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT. Efek samping tersebut
berlangsung 1-2 hari kemudian akan sembuh sendiri dan tidak
perlukan tindakan/pengobatan (Saifuddin dkk, 2020).
xii
2.3.2. Indikasi dan Kontraindikasi Pemberian Obat Secara
Intramuskuler
Indikasi pemberian obat secara intramuskuler biasa dilakukan
pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak
memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi
lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saraf besar
dibawahnya.
xiii
Gambar 1. Daeran Penyuntikan Secara Intramuskuler
xiv
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 PENGKAJIAN
Dilakukan pengkajian pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2024.
3.2 SUBJEKTIF
1. Biodata
Nama : Ny. Rini
Umur : 34 tahun
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
xv
Alamat : Kp. Ciaul Rt 01 Rw 06 Desa Cibedug Ciawi
Kabupaten Bogor
2. Alasan Berkunjung
Klien sedang hamil anak kedua tidak pernah keguguran. Klien ingin
melakukan pemeriksaan kehamilan dan ingin mendapatkan
pelayanan imunisasi TT pada ibu hamil.
3. Riwayat Kehamilan Sekarang
Klien mengatakan saat ini sedang hamil 6 bulan. Haid Pertama Haid
Terakhir tanggal 12-06-2024. Klien merasa saat ini sedang sehat.
4. Riwayat Kehamilan Lalu
Kehamilan Tahun penolong BB Jenis penyulit
ke kelahiran Bayi Kelamin
1 2018 bidan 2900 laki Tidak ada
xvi
Siklus haid : 28 hari
Lama haid : 7 hari
Jumlah : 3x ganti pembalut/ hari. Konsistensi encer.
Nyeri haid : tidak pernah
HPHT : 12-06-2024
9. Riwayat Kebiasaan sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Makan 3 x/ hari dengan porsi, nasi lauk, sayur, minum ± 6-8
gelas/hari air putih. Tidak ada pantang makanan dan tidak ada
alergi makanan.
b. Pola istirahat dan tidur.
Tidur siang ± 1-2 jam.
Tidur malam ± 7-8 jam.
c. Pola aktivitas.
Pekerjaan klien setiap hari bekerja, pekerjaan nya ada system
shift. Apabila sedang di rumah, klien mengerjakan pekerjaan
rumah tangga seperti mencuci dan menyetrika.
d. Personal hygiene
Mandi 2 x / hari, gosok gigi 3 x / hari, ganti pakaian 2 x / hari
atau bila kotor, keramas 2-3 x / minggu atau bila perlu ganti
celana dalam 2-3 x / hari.
10. Riwayat Psikologi dan Spiritual
Klien mengatakan sudah siap dan sangat menanti kehamilan saat ini,
klien mengatakan sangat Bahagia dengan kehamilan ini. Kedua
belah pihak yaitu suami istri beserta keluarga sangat menanti
kehamilannya. Hubungan dengan keluarga terjalin dengan baik.
Hubungan klien dengan petugas Kesehatan baik, klien kooperatif
dan terbuka kepada petugas. Klien beragama Islam, klien
mengatakan saat hamil beribadah semakin rajin.
xvii
3.3 OBJEKTIF
Pemeriksaan Umum
2. Pemeriksaan fisik
Mata : Simetris, kojungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik.
Leher : Tidak ada pembesaran lympe, tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid.
Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening,
tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa.
Payudara : Simetris. Areola berwarna kehitaman dan ada
pelebaran areola. Sudah ada colostrum.
Abdomen : TFU : 20 cm
Posisi : lintang
Detak Jantung Janin : 142 x/menit
Ekstremitas
3.4 ANALISA
Ny. R 32 th G2P1A0 umur kehamilan 26 minggu dengan imunisasi TT3
xviii
3.5 PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada klien.
2. Menjelaskan pada klien tentang manfaat vaksinasi TT, serta efek
samping pemberian imunisasi.
3. Menjelaskan pada klien cara penanganannya efek samping imunisasi
TT pada ibu hamil.
4. Membuat informed consent tindakan injeksi vaksin TT.
5. Menjelaskan pada ibu tentang penatalaksanaan tindakan injeksi dan
dosis vaksin TT.
6. Memberikan imunisasi TT dengan mengacu pada prinsip pemberian
obat.
7. Vaksin diberikan secara IM pada lengan atas kiri dengan dosis 0,5 ml.
8. Mengembalikan vaksin sesuai dengan cara penyimpanannya (sesuai
cold chain)
9. Memberitahukan pada klien untuk tidak menekan dan memijit pada
area bekas suntikan.
10. Menjelaskan kunjungan ulang untuk ANC selanjutnya.
11. Menjelaskan pada klien tentang jarak dan waktu pemberian imunisasi
TT selanjutnya.
12. Melakukan pendokumentasian.
xix
BAB IV
PEMBAHASAN
xx
Melakukan penyuntikkan vaksin secara IM dengan dosis 0,5 cc pada
lengan ibu 3 jari dari bahu. Hal ini sesuai dengan daftar tilik BPI (2024)
yang menyebutkan dosis vaksin TT yang dibutuhkan yaitu 0,5cc. Maka dari
itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dengan
praktek pada kasus ini.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Selama asuhan kebidanan pada Ny. R, mendapatkan imunisasi TT3
pada kehamilan saat ini. Pemberian obat parenteral ada empat cara yaitu,
subcutan (SC atau SQ), intramuscular (IM). Pemberian obat secara
parenteral lebih cepat diserap dibandingkan dengan obat oral tetapi tidak
dapat diambil kembali setelah diinjeksikan. Tindakan pemberian imunisasi
TT3 pada Ny. R dilakukan secara IM, yaitu pada daerah deltoid (lengan
atas), posisi klien saat tindakan yaitu klien dalam posisi duduk.
5.2 SARAN
5.2.1 Untuk Tenaga Kesehatan
● Agar meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan
klien sehingga dapat menjelaskan informasi dan prosedur
dengan baik dan benar.
● Menjalin hubungan yang baik dengan klien.
xxi
● Memberikan motivasi dan dukungan kepada klien.
DAFTAR PUSTAKA
xxii
Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Jambu Kabupaten Semarang. Skripsi.
Semarang: Akademi Kebidanan Ngudi Waluyo.
UNICEF, UNFPA., WHO. 2020. Achieving and Sustaining Maternal and
Neonatal Tetanus
Yen,L.M.,&Thwaites,C.L.(2019). Tetanus. The Lancet Buku Kesehatan Ibu
dan Anak. Jakarta : Kementerian Kesehatan dan JICA (Japan
International Cooperation Agency)
xxiii