0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan24 halaman

Makalah KDPK

Makalah ini membahas tentang pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) secara intramuscular pada ibu hamil di PMB Bdn. Tri Mulyati sebagai bagian dari praktik klinik mahasiswa. Tujuan dari imunisasi TT adalah untuk mencegah kematian ibu dan bayi akibat infeksi tetanus, dengan penekanan pada pentingnya sosialisasi dan peningkatan cakupan imunisasi. Data menunjukkan bahwa cakupan imunisasi TT di Indonesia masih rendah, sehingga diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi ibu hamil dalam program imunisasi.

Diunggah oleh

Mawar Mutmainah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan24 halaman

Makalah KDPK

Makalah ini membahas tentang pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) secara intramuscular pada ibu hamil di PMB Bdn. Tri Mulyati sebagai bagian dari praktik klinik mahasiswa. Tujuan dari imunisasi TT adalah untuk mencegah kematian ibu dan bayi akibat infeksi tetanus, dengan penekanan pada pentingnya sosialisasi dan peningkatan cakupan imunisasi. Data menunjukkan bahwa cakupan imunisasi TT di Indonesia masih rendah, sehingga diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi ibu hamil dalam program imunisasi.

Diunggah oleh

Mawar Mutmainah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH MAHASISWA

KETERAMPILAN DASAR PRAKTEK KLINIK (KDPK)


PEMBERIAN IMUNISASI TT PADA Ny. R
SECARA INTRAMUSCULAR (IM)
DI PMB Bdn. T.M
TAHUN 2024

DISUSUN OLEH

MAWAR DATUL MUTMAINAH

NPM 2405051805332

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN

STIKES BHAKTI PERTIWI INDONESIA

TAHUN 2024-2025
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat tuhan YME atas segala rahmat dan hidayah-Nya
yang dilimpahkan, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Asuhan Kebidanan
Stase 1 ( KDPK) selama di PMB Bdn. Tri Mulyati
Penyusunan Asuhan Kebidanan ini merupakan salah satu tugas praktek
di Akademi Kebidanan Stikes Bhakti Pertiwi Indonesia untuk memenuhi target
yang telah ditetapkan. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu dalam penyusunan Asuhan Kebidanan ini.
Bersama ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya dengan hati yang tulus, kepada:
1. Dr. Bd. Hj. Lilik Susilowati, S.SiT., M.Kes., MARS selaku Ketua Yayasan
Bhakti Pertiwi Indonesia
2. Dr. Bd. Hj. Ella Nurlelawati, S.SiT., SKM., M.Kes selaku Ketua STIKes
Yayasan Bhakti Pertiwi Indonesia
3. Arsita Pratiwi, S.ST., M.Keb selaku Ketua Program Studi Kebidanan
Program sarjana dan prodi Pendidikan profesi bidan program profesi
STIKes Bhakti Pertiwi Indonesia.
4. Dr. Bd. Hj. Lilik Susilowati, S.SiT., M.Kes., MARS selaku pembimbing
akademik yang telah memberi bimbingan, saran dan ilmu dalam proses
pembuatan makalah ini.
5. Ibu Tri Mulyati, Bdn. SKM, SST, M.Kes selaku pembimbing Lahan
Praktik yang telah memberi bimbingan, saran dan ilmu dalam proses
pembuatan makalah ini.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
Asuhan Kebidanan ini. Penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi peningkatan penyusunan Asuhan Kebidanan selanjutnya.
Jakarta, Desember 2024

Mawar Datul Mutmainah, S.Keb

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1 Latar belakang.................................................................................................1

1.2 Tujuan................................................................................................................3

1.3 Rumusan masalah............................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................5

2.1. Konsep Kehamilan.........................................................................................5

2.2. Konsep Imunisasi Tetanus Toksoid...........................................................6

2.3. Cara Penyuntikan Imunisasi Tetanus Toksoid.....................................10

BAB III TINJAUAN KASUS................................................................................13

3.1 PENGKAJIAN..............................................................................................13

3.2 SUBJEKTIF..................................................................................................13

3.3 OBJEKTIF....................................................................................................15

3.4 ANALISA.......................................................................................................16

3.5 PENATALAKSANAAN.............................................................................17

BAB IV PEMBAHASAN KASUS........................................................................18

BAB V SIMPULAN SARAN...............................................................................19

5.1 KESIMPULAN.............................................................................................19

5.2 SARAN...........................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................20

ii
BAB I
PENDAHULUHAN

1.1 Latar belakang


Imunisasi merupakan upaya memberikan kekebalan tubuh terhadap
suatu penyakit dengan memasukkan kuman yang sudah dilemahkan atau
dimatikan agar tubuh dapat menghasilkan zat anti bodi untuk melawan
kuman atau bibit penyakit yang menyerang tubuh). Imunisasi Tetanus
Toxoid (TT) merupakan suntikan vaksin tetanus untuk meningkatkan
kekebalan terhadap infeksi tetanus. Pemberian Imunisasi TT pada ibu hamil
bertujuan mencegah kematian ibu dan bayi akibat infeksi tetanus. Imunisasi
Tetanus Toxoid (TT) diberikan rutin saat pelayanan antenatal dengan
interval 4 minggu setelah penyuntikan pertama. Selama hamil pemberian
imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali untuk mencegah tetanus
(Kemenkes, 2012). Penyakit tetanus neonatorum adalah penyakit infeksi
yang disebabkan oleh clostridiium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan
toksin dan menyerang sistem saraf pusat. Kuman tersebut terdapat diseluruh
lingkungan di dunia dan bisa menkontaminasi luka, lecet ringan dan pada
neonatal akan menginfeksi tali pusat (C.Louis Thwaites, 2019).

Menurut WHO, di dunia angka kematian neonatal pada tahun 2018


sebanyak 2.5 juta bayi baru lahir, dengan rata-rata 7000 bayi baru lahir 2
meninggal setiap harinya. Penyebab Tetanus Neonatorum tahun 2018 terjadi
1803 kasus yang dilaporkan dan hingga tahun 2015 sebanyak 34.000 bayi
baru lahir yang terkena tetanus neonatorum meninggal di dunia
(WHO,2019).

WHO bersama UNICEF dan UNFPA telah membuat program


Maternal Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) pada tahun 2000 untuk
menurunkan tetanus neonatorum pada setiap 1000 kelahiran hidup di setiap

iii
daerah per tahun. Sasaran dari MNTE ini adalah Wanita Usia Subur (WUS)
baik calon pengantin maupun ibu hamil. Yang mana pada awalnya terdapat
59 negara didunia yang MNTE nya tidak tercapai, termasuk Indonesia.
Tetapi pada Juli 2019 sudah mengalami penurunan dengan hanya tersisa 12
negara yang belum mencapai MNTE nya, dan Indonesia tidak termasuk
(WHO, 2020).

Menurut data dari Kementrian Kesehatan RI, Angka Kematian


Neonatal (AKN) 15 per 1000 KH menurut SDKI tahun 2017. Penyebab
kematian neonatal dengan Tetanus Neonatorum 1,2%. Dimana jumlah kasus
tetanus di Indonesia pada tahun 2017 sebanyak 25 kasus dan menurun pada
tahun 2018 sebanyak 10 kasus dengan kasus meninggal sebanyak 4 kasus,
dan dilaporkan bahwa 5 dari 10 kasus terjadi pada kelompok yang tidak
dimunisasi dan 2 diantaranya dengan tidak jelas kasus imunisasinya
(KEMENKES RI, 2019). Di Indonesia 9,8% (18.032) dari 184 ribu
kelahiran bayi menghadapi kematian karena cakupan imunisasi Tetanus
Toksoid yang rendah (Kemenkes RI, 2021). Berdasarkan laporan dari
Kementerian Kesehatan tahun 2021, Cakupan imunisasi Td pada status Td1
sampai Td5 pada ibu hamil tahun 2020 masih sangat rendah yaitu kurang
dari 20%. Cakupan Td5 sebesar 15,8% mengalami penurunan dibandingkan
tahun 2019 sebesar 16,3%. (Kemenkes RI, 2021).

Infeksi tetanus merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan


kematian bayi. Kematian karena infeksi tetanus ini merupakan akibat dari
proses persalinan yang tidak aman/steril atau berasal dari luka yang
diperoleh ibu hamil sebelum melahirkan. Sebagai upaya mengendalikan
infeksi tetanus yang merupakan salah satu faktor risiko kematian ibu dan
kematian bayi, maka dilaksanakan program imunisasi Tetanus Toksoid
Difteri (Td) bagi Wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil. Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan
Imunisasi mengamanatkan bahwa wanita usia subur dan ibu hamil
merupakan salah satu kelompok populasi yang menjadi sasaran imunisasi

iv
lanjutan. Imunisasi lanjutan merupakan ulangan imunisasi dasar untuk
mempertahankan tingkat kekebalan dan untuk memperpanjang usia
perlindungan.
Imunisasi lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu
melakukan pelayanan antenatal. Imunisasi TT pada WUS diberikan
sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu, dimulai sebelum dan atau saat
hamil yang berguna bagi kekebalan seumur hidup (Kemenkes RI, 2021).
Imunisasi dilakukan dengan maksud untuk menurunkan angka
mortalitas dan morbiditas yang merupakan salah satu program dari
puskesmas. Bila ibu hamil tidak mendapatkan imunisasi Tetanus Toksoid
(TT) dapat menyebabkan bayi rentan terhadap penyakit Tetanus Toksoid
Neonatorum. Sosialisasi imunisasi TT perlu dilakukan mengingat masih
banyak ibu hamil yang belum mengetahui manfaat imunisasi TT bagi ibu itu
sendiri dan bayi yang dikandungnya dan berapa kali pemberian imunisasi
TT serta jarak antara pemberian imunisasi TT1 dan TT2 (Suryati, 2015).

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023, cakupan


imunisasi Td2+ pada ibu hamil di Indonesia tahun 2022 sebesar 72,7%,
jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun 2021 sebesar 46,4%. Angka
ini juga lebih rendah sekitar 13,5% apabila dibandingkan dengan cakupan
pelayanan kesehatan ibu hamil K4 yang sebesar 86,2%.(7) Berdasarkan
laporan P2P jumlah kasus Tetanus Neonatorum (TN) terkonfirmasi ada
sebanyak 21 anak.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Diharapkan selama dilapangan mahasiswa mampu
melaksanakan Asuhan Kebidanan secara nyata dengan
menerapkan teori yang telah ada.
1.2.2 Tujuan kasus
mahasiswa mampu
1. melakukan pengkajian data.

v
2. Merumuskan masalah.
3. Menentukan rencana.
4. Melaksanakan tindakan.
5. Melakukan evaluasi.

1.3 Rumusan masalah


1.3.1 Apa pengertian imunisati TT
1.3.2 Apa manfaat imunisasi TT pada ibu hamil
1.3.3 Berapa jumlah dosis imunisasi TT pada ibu hamil
1.3.4 Cara penyuntikan imunisasi TT

vi
BAB Il
TIJNAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Kehamilan


2.1.1. Definisi Kehamilan
Menurut Sukarni dan Margareth (2013), kehamilan adalah fertilasi
atau penyatuan sprematozoa dan ovum dilanjutkan dengan nidasi atau
implantasi. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus kira-
kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu)
Prawirohardjo (2020).
2.1.2. Pembagian Usia Kehamilan
Menurut Prawirohardjo (2020), ditinjau dai usia Kehamilan,
kehamilan dibagi menjadi tiga bagian yaitu : a. Kehamilan triwulan
pertama (0-12 minggu), yang mana alat-alat mulai dibentuk. b.
Kehamilan triwulan kedua (12-28 minggu), yang mana alat-alat telah
dibentuk namun belum sempurna. c. Kehamilan triwulan ketiga (28-
40 minggu), yang mana janin yang dilahirkan dapat viable (hidup).
2.1.3. Evidence Based
Evidence-based practice ialah suatu strategi dalam memperoleh
pengetahuan dan keterampilan untuk dapat meningkatkan tingkah laku
yang positif dengan menggabungkan bukti penelitian terbaik sehingga
evidence-based practice dapat diterapkan ke dalam praktik
keperawatan dan membuat suatu keputusan perawatan kesehatan yang
lebih baik (Bostwick, 2013. Bloom et al., 2009. Azmoude, Elham et
al., 2019).

vii
Dalam Praktik Kehamilan Menurut Diyan dan Asmuji (2019),
praktik yang berdasarkan bukti penelitian adalah penggunaan secara
sistematis, ilmiah dan eksplisit dari bukti terbaik mutakhir dalam
membuat keputusan tentang asuhan bagi pasien secara individual.
Berikut ini evidence based yang menjadi standar pelayanan dalam
praktik kehamilan sebagai berikut:
Pemeriksaan Antenatal Care terbaru sesuai dengan standar
pelayanan yaitu minimal 6 kali pemeriksaan selama kehamilan, dan
minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester I dan III. 1 kali
pada trimester pertama ( kehamilan hingga 12 minggu ) , 2 kali pada
trimester kedua ( kehamilan diatas 12 minggu sampai 26 minggu ) , 3
kali pada trimester ketiga ( kehamilan diatas 24 minggu sampai 40
minggu ) (Buku KIA Terbaru Revisi tahun 2024).
Standar pelayanan antenatal adalah pelayanan yang dilakukan
kepada ibu hamil dengan memenuhi kriteria 10T yaitu :

1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan.


2. Ukur tekanan darah.
3. Nilai status gizi ( ukur lingkar lengan atas/LILA).
4. Pemeriksaan puncak rahim ( tinggi fundus uteri ).
5. Tentukan presentasi janin dan denyut janin ( DJJ ).
6. Skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi tetanus
toksoid (TT) bila diperlukan.
7. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama
kehamilan.
8. Tes laboratorium, tes kehamilan, pemeriksaan hemoglobin darah
(Hb), pemeriksaan golongan darah ( bila belum pernah dilakukan
sebelumnya ), pemriksaan protein urin ( bila ada indikasi ) yang
pemberian pelayanan disesuaikn dengan trimester kehamilan.
9. Tatalaksana/penanganan kasus sesuia kewenangan.
10. Temu wicara ( konseling ) ( Permenkes,2016 ).

viii
2.2. Konsep Imunisasi Tetanus Toksoid
2.2.1. Definisi Imunisasi Tetanus Toksoid
Imunisasi adalah suatu program yang dengan sengaja
memasukkan antigen lemah agar merangsang antibodi keluar sehingga
tubuh dapat resisten terhadap penyakit tertentu (Proverawati, 2020).
Imunisasi pada kehamilan dan di awal balita membuat sang
ibu dan bayi akan rentan terhadap adanya infeksi. Penyebab kematian
ibu dan kematian bayi seperti Infeksi Tetanus yang diakibatkan oleh
bakteri Clostridium tetani sebagai akibat dari proses persalinan yang
tidak aman atau steril atau dapat berasal dari luka yang diperoleh ibu
hamil sebelum melahirkan (Indriyani, 2020). Vaksin TT mengandung
atau berisi kuman toksoid tetanus yang telah dimurnikan yang
terabsorbsi atau terserap ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat.
Thimerosal 0,1 mg/ml yang dipergunakan sebagai pengawet. Suatu
dosis sebesar 0,5 ml vaksin mengandung potensi sedikitnya 40 IU
kuman Tetanus Toksoid. Vaksin TT dalam perkembangan selanjutnya
dipergunakan untuk pencegahan pada neonatus atau pada bayi yang
baru lahir dan dengan mengimunisasi wanita usia subur untuk
pencegahan tetanus (Wahidin, 2019).
2.2.2. Manfaat Imunisasi Tetanus Toksoid
Menurut Bartini (2019), imunisasi TT di anjurkan untuk
mencegah terjadinya infeksi tetanus neonatorum. Vaksin tetanus pada
pemeriksaan antenatal dapat menurunkan kemungkinan kematian bayi
dan mencegah kematian ibu akibat tetanus. Imunisasi TT dapat
melindungi bayi yang baru lahir dari tetanus neonatorum. Tetanus
neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi
berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani yaitu
kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem saraf
pusat (Saifuddin dkk, 2020)

ix
2.2.3. Jumlah Dosis Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid
Ibu hamil harus mendapatkan penjelasan tentang pentingnya
imunisasi TT sebanyak 5 kali seumur hidup. Setiap ibu hamil yang
belum pernah imunisasi TT harus mendapatkan imunisasi TT paling
sedikit 2 kali suntikan selama hamil yaitu :
a. Kunjungan pertama kehamilan.
b. 4 minggu setelah imunisasi pertama Apabila ibu telah diimunisasi
TT sebanyak 2 kali, kemudian dalam satu tahun ibu hamil maka
saat hamil diberikan 1 kali suntikan paling lambat 2 minggu
sebelum melahirkan (Bartini, 2019).
Wanita Usia Subur (WUS) adalah wanita yang keadaan organ
reproduksinya berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun.
Puncak kesuburan ada pada rentang usia 20-29 tahun. Wanita Usia
Subur (WUS) diwajibkan untuk melakukan imunisasi TT saat
mendaftarkan pernikahan di KUA (Kantor Urusan Agama) sebagai
bentuk pencegahan infeksi tetanus saat kehamilan. Imunisasi TT1
dilakukan pertama kemudian dilanjutkan TT2 4 minggu setelah TT1.
Jika WUS tidak melanjutkan TT2 kemudian setelah 1 tahun hamil
maka imunisasi TT harus diulang dari imunisasi TT1 (Depkes RI,
2023). Menurut Syaifuddin (2020), jumlah dan dosis pemberian
imunisasi TT untuk ibu hamil yaitu :
1. Pasien dianggap mempunyai kekebalan jika telah mendapat 2
dosis terakhir dengan interval 4 minggu, dan jarak waktu
sekurangnya 4 minggu antara dosis terakhir dengan saat terminasi
kehamilan. Pasien yang telah mendapat vaksinasi lengkap (5
suntikan) lebih dari 10 tahun sebelum kehamilan perlu diberikan
booster berupa toksoid 0,5 ml IM.
2. Jika pasien belum pernah imunisasi, berikan serum anti tetanus
1500 unit IM dan suntikkan booster Tetanus Toksoid (TT) 0,5 ml
IM diberikan 4 minggu kemudian.

x
3. Pencegahan dan perlindungan diri yang aman terhadap penyakit
tetanus dilakukan dengan pemberian 5 dosis imunisasi untuk
mencapai kekebalan penuh (Depkes RI, 2023).
4. Pencegahan dan perlindungan diri yang aman terhadap penyakit
tetanus dilakukan dengan pemberian 5 dosis imunisasi untuk
mencapai kekebalan penuh (Depkes RI, 2023)

2.2.4. Jarak Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid

Menurut WHO (2010), jika seorang ibu yang tidak pernah


diberikan imunisasi tetanus maka ia harus mendapatkan paling
sedikit 2 kali suntikan selama kehamilan yaitu pertama saat
kunjungan antenatal dan kedua pada 4 minggu setelahnya.

Tabel 2.2.4 Jadwal Pemberian Imunisasi


Imunisasi Interval Lama Perlindung an
perlindungan %
TT 1 Pada kunjungan
ANC pertama
TT 2 4 minggu 3 tahun 80%
setelah TT 1
TT 3 6 bulan setelah 5 tahun 95%
TT 2
TT 4 1 tahun setelah 10 tahun 99%
TT 3
TT 5 1 tahun setelah 25 thaun/seumur 99%
TT 4 hidup

2.2.5 Efek samping imunisasi Tetanus Toksoid

xi
Efek samping dari imunisasi TT biasanya gejala-gejala ringan
seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada area suntikan
(Depkes RI, 2023). Tetanus toksoid adalah antigen yang sangat aman
dan juga aman untuk wanita hamil, tidak ada bahaya bagi janin
apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT. Efek samping tersebut
berlangsung 1-2 hari kemudian akan sembuh sendiri dan tidak
perlukan tindakan/pengobatan (Saifuddin dkk, 2020).

2.3. Cara Penyuntikan Imunisasi Tetanus Toksoid


2.3.1. Penyuntikan Secara Intramuskular
Pengertian pemberian obat secara intramuskular adalah
pemberian obat/cairan dengan cara dimasukkan langsung kedalam
otot (muskulus). Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada
bagian tubuh yang berotot besar, agar tidak ada kemungkinan untuk
menusuk saraf, misalnya pada bokong dan kaki bagian atas atau pada
lengan bagian atas. Pemberian obat seperti ini memungkinkan obat
akan dilepas secara berkala dalam bentuk depot obat. Jaringan
intramuskular terbentuk dari otot yang bergaris yang mempunyai
banyak vaskularisasi aliran darah tergantung dari posisi otot ditempat
penyuntikan
Intramuskular (IM), rute IM memungkinkan absorbsi obat
yang lebih cepat dari pada rute SC karena pembuluh darah lebih
banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika
obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati-hati ada
resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah. Dengan injeksi
di dalam otot yang terlarut berlangsung dalam 10-30 menit, guna
memperlambat adsorbsi dengan maksud memperpanjang kerja obat,
seringkali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak umpamanya
suspense penicilin dan hormone kelamin Tujuan pemberian obat
secara intramuskuler yaitu agar obat di absorbsi tubuh dengan cepat.

xii
2.3.2. Indikasi dan Kontraindikasi Pemberian Obat Secara
Intramuskuler
Indikasi pemberian obat secara intramuskuler biasa dilakukan
pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak
memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi
lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saraf besar
dibawahnya.

Kontra indikasi pemberian obat secara intramuskuler: infeksi,


lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang dan otot atau saraf besar
dibawahnya.

2.3.3. Daerah Penyuntikan Pemberian Secara Intramuskuler


a. Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan pasien
untuk berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi.
b. Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk miring,
tengkurang atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi
yang akan dilakukan penyutikan dalam keadaan fleksi.
c. Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untut
tengkurap dengan lutut diputar ke arah dalam atau miring dengan
lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan
tungkai bawah.
d. Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan pasien
untuk duduk atau berbaring mendatar lengan atas fleksi.

xiii
Gambar 1. Daeran Penyuntikan Secara Intramuskuler

2.3.4. Yang Harus Di Perhatikan Saat Penyuktikan Secara


Intramuskuler
a. Tempat injeksi.
b. Jenis spuit dan jarum yang digunakan.
c. Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.
d. Kondisi atau penyakit klien.
e. Obat yang akan digunakan.
f. Pastikan dosis yang akan diberikan sudah benar.
g. Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar.

xiv
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 PENGKAJIAN
Dilakukan pengkajian pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2024.

3.2 SUBJEKTIF
1. Biodata
Nama : Ny. Rini
Umur : 34 tahun
Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

xv
Alamat : Kp. Ciaul Rt 01 Rw 06 Desa Cibedug Ciawi
Kabupaten Bogor
2. Alasan Berkunjung
Klien sedang hamil anak kedua tidak pernah keguguran. Klien ingin
melakukan pemeriksaan kehamilan dan ingin mendapatkan
pelayanan imunisasi TT pada ibu hamil.
3. Riwayat Kehamilan Sekarang
Klien mengatakan saat ini sedang hamil 6 bulan. Haid Pertama Haid
Terakhir tanggal 12-06-2024. Klien merasa saat ini sedang sehat.
4. Riwayat Kehamilan Lalu
Kehamilan Tahun penolong BB Jenis penyulit
ke kelahiran Bayi Kelamin
1 2018 bidan 2900 laki Tidak ada

5. Riwayat Imunisasi TT sebelum nya (Status TT)


Klien mengatakan tidak memiliki catatan imunisasi sebelumnya,
yang klien ingat klien saat hamil pertama sudah mendapatkan
imunisasi TT sebanyak 2x.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan baik dalam keluarga tidak ada yang menderita
penyakit keturunan seperti DM, Asma, Jantung, dan tidak ada
penyakit menular seperti TBC, Hepatitis.
7. Riwayat Kesehatan yang lalu
Klien mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular (TBC,
Hepatitis) dan penyakit menurun (DM, Asma, Jantung) dan tidak
pernah dirawat dirumah sakit.
8. Riwayat Haid
Menarche : 12 tahun

xvi
Siklus haid : 28 hari
Lama haid : 7 hari
Jumlah : 3x ganti pembalut/ hari. Konsistensi encer.
Nyeri haid : tidak pernah
HPHT : 12-06-2024
9. Riwayat Kebiasaan sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Makan 3 x/ hari dengan porsi, nasi lauk, sayur, minum ± 6-8
gelas/hari air putih. Tidak ada pantang makanan dan tidak ada
alergi makanan.
b. Pola istirahat dan tidur.
Tidur siang ± 1-2 jam.
Tidur malam ± 7-8 jam.
c. Pola aktivitas.
Pekerjaan klien setiap hari bekerja, pekerjaan nya ada system
shift. Apabila sedang di rumah, klien mengerjakan pekerjaan
rumah tangga seperti mencuci dan menyetrika.
d. Personal hygiene
Mandi 2 x / hari, gosok gigi 3 x / hari, ganti pakaian 2 x / hari
atau bila kotor, keramas 2-3 x / minggu atau bila perlu ganti
celana dalam 2-3 x / hari.
10. Riwayat Psikologi dan Spiritual
Klien mengatakan sudah siap dan sangat menanti kehamilan saat ini,
klien mengatakan sangat Bahagia dengan kehamilan ini. Kedua
belah pihak yaitu suami istri beserta keluarga sangat menanti
kehamilannya. Hubungan dengan keluarga terjalin dengan baik.
Hubungan klien dengan petugas Kesehatan baik, klien kooperatif
dan terbuka kepada petugas. Klien beragama Islam, klien
mengatakan saat hamil beribadah semakin rajin.

xvii
3.3 OBJEKTIF
Pemeriksaan Umum

1. Keadaan Umum : baik


Kesadaran : compos mentis
BB/TB : 77,9 kg/ 160 Cm
Lila : 25 cm
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Suhu : 36,7 oC

2. Pemeriksaan fisik
Mata : Simetris, kojungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik.
Leher : Tidak ada pembesaran lympe, tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid.
Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening,
tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa.
Payudara : Simetris. Areola berwarna kehitaman dan ada
pelebaran areola. Sudah ada colostrum.
Abdomen : TFU : 20 cm
Posisi : lintang
Detak Jantung Janin : 142 x/menit
Ekstremitas

Atas : simetris, pergerakan baik, tidak ada odem, tidak


ada varises

Bawah : simetris, pergerakan baik, tidak ada odem, tidak


ada varises

3.4 ANALISA
Ny. R 32 th G2P1A0 umur kehamilan 26 minggu dengan imunisasi TT3

xviii
3.5 PENATALAKSANAAN
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada klien.
2. Menjelaskan pada klien tentang manfaat vaksinasi TT, serta efek
samping pemberian imunisasi.
3. Menjelaskan pada klien cara penanganannya efek samping imunisasi
TT pada ibu hamil.
4. Membuat informed consent tindakan injeksi vaksin TT.
5. Menjelaskan pada ibu tentang penatalaksanaan tindakan injeksi dan
dosis vaksin TT.
6. Memberikan imunisasi TT dengan mengacu pada prinsip pemberian
obat.
7. Vaksin diberikan secara IM pada lengan atas kiri dengan dosis 0,5 ml.
8. Mengembalikan vaksin sesuai dengan cara penyimpanannya (sesuai
cold chain)
9. Memberitahukan pada klien untuk tidak menekan dan memijit pada
area bekas suntikan.
10. Menjelaskan kunjungan ulang untuk ANC selanjutnya.
11. Menjelaskan pada klien tentang jarak dan waktu pemberian imunisasi
TT selanjutnya.
12. Melakukan pendokumentasian.

xix
BAB IV
PEMBAHASAN

Pengkajian terhadap Ny. R pada hari Senin 23 Desember 2024


diperoleh data subjektif tidak ada keluhan. Ny. R datang untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan dan ingin mendapatkan pelayanan imunisasi TT .
Dari hasil data objektif Ny. R dalam batas normal.
Wanita Usia Subur (WUS) diwajibkan untuk melakukan imunisasi TT
saat mendaftarkan pernikahan di KUA (Kantor Urusan Agama) sebagai
bentuk pencegahan infeksi tetanus saat kehamilan. Imunisasi TT1 dilakukan
pertama kemudian dilanjutkan TT2 4 minggu setelah TT1. Jika WUS tidak
melanjutkan TT2 kemudian setelah 1 tahun hamil maka imunisasi TT harus
diulang dari imunisasi TT1 (Depkes RI, 2007). Namun pada pengkajian Ny.
R, klien hanya mendapatkan 2x selama kehamilan saja.
Nn. R mendapatkan imunisasi TT ibu hamil. Hal ini sesuai dengan
Peraturan Menteri Kesehatan No. 12 Tahun 2017 tentang Penyelanggaraan
imunisasi, wanita usia subur (WUS) termasuk calon pengantin dan ibu
hamil wajib mendapatkan imunisasi Td. Sehingga tidak ada kesenjangan
antara teori dengan praktek.

xx
Melakukan penyuntikkan vaksin secara IM dengan dosis 0,5 cc pada
lengan ibu 3 jari dari bahu. Hal ini sesuai dengan daftar tilik BPI (2024)
yang menyebutkan dosis vaksin TT yang dibutuhkan yaitu 0,5cc. Maka dari
itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dengan
praktek pada kasus ini.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Selama asuhan kebidanan pada Ny. R, mendapatkan imunisasi TT3
pada kehamilan saat ini. Pemberian obat parenteral ada empat cara yaitu,
subcutan (SC atau SQ), intramuscular (IM). Pemberian obat secara
parenteral lebih cepat diserap dibandingkan dengan obat oral tetapi tidak
dapat diambil kembali setelah diinjeksikan. Tindakan pemberian imunisasi
TT3 pada Ny. R dilakukan secara IM, yaitu pada daerah deltoid (lengan
atas), posisi klien saat tindakan yaitu klien dalam posisi duduk.

5.2 SARAN
5.2.1 Untuk Tenaga Kesehatan
● Agar meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan
klien sehingga dapat menjelaskan informasi dan prosedur
dengan baik dan benar.
● Menjalin hubungan yang baik dengan klien.

xxi
● Memberikan motivasi dan dukungan kepada klien.

5.2.2 Untuk pasien


● Rutin melakukan kunjungan ke posyandu guna untuk
melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.
● Klien diharapkan selain rutin melakukan pemeriksaan
kehamilan, klien dianjurkan untuk mengikuti kelas ibu
hamil.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2016. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI


Proverawati, A. 2019. Imunisasi dan Vaksinasi. Jakarta: Nuha Offset
Rinaldi, Syahputra. 2019. Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil
Tentang Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) Di Puskesmas Bungus Tahun
2019. Diploma thesis. Padang: Universitas Andalas.
Sukarni, Margareth ZH ; Penerbitan, Yogyakarta : Nuha Medika, 2019 ;
Suryati, Eskalila. 2015. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil
Dengan Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid Di Wilayah Kerja
Puskesmas Maga Kecamatan Lembah Sorik Marapi Kabupaten
Mandailing Natal Tahun 2015. Skripsi. Medan: Fakultas Kesehatan
Masyarakat.
Syafrudin, dkk, 2019. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta: JNPKKR-POGI dan Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohard.
Wijayanti, I., Setyowati, H., & Siswanto, Y. 2019. Hubungan Pengetahuan
dan Sikap Terhadap Imunisasi TT dengan Pemberian Imunisasi TT

xxii
Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Jambu Kabupaten Semarang. Skripsi.
Semarang: Akademi Kebidanan Ngudi Waluyo.
UNICEF, UNFPA., WHO. 2020. Achieving and Sustaining Maternal and
Neonatal Tetanus
Yen,L.M.,&Thwaites,C.L.(2019). Tetanus. The Lancet Buku Kesehatan Ibu
dan Anak. Jakarta : Kementerian Kesehatan dan JICA (Japan
International Cooperation Agency)

xxiii

Anda mungkin juga menyukai