0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
231 tayangan46 halaman

82.KEP.E1.2023 Tentang Perencanaan Kebutuhan Alokon Final

Keputusan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 82/KEP/E1/2023 menetapkan perencanaan kebutuhan alat dan obat kontrasepsi untuk pasangan usia subur dalam pelayanan keluarga berencana. Perencanaan ini melibatkan tahapan kuantifikasi yang mencakup persiapan, perkiraan, dan perencanaan pasokan, serta melibatkan tim kuantifikasi yang ditunjuk untuk mengelola data dan analisis kebutuhan. Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan alat dan obat kontrasepsi yang tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Diunggah oleh

arfaalizha483
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
231 tayangan46 halaman

82.KEP.E1.2023 Tentang Perencanaan Kebutuhan Alokon Final

Keputusan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 82/KEP/E1/2023 menetapkan perencanaan kebutuhan alat dan obat kontrasepsi untuk pasangan usia subur dalam pelayanan keluarga berencana. Perencanaan ini melibatkan tahapan kuantifikasi yang mencakup persiapan, perkiraan, dan perencanaan pasokan, serta melibatkan tim kuantifikasi yang ditunjuk untuk mengelola data dan analisis kebutuhan. Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan alat dan obat kontrasepsi yang tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Diunggah oleh

arfaalizha483
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEPUTUSAN KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN

DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL


NOMOR 82/KEP/E1/2023
TENTANG
PERENCANAAN KEBUTUHAN ALAT DAN OBAT KONTRASEPSI

KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Peraturan Badan


Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 1 Tahun
2023 tentang Pemenuhan Kebutuhan Alat dan Obat Kontrasepsi
bagi Pasangan Usia Subur dalam Pelayanan Keluarga Berencana
perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional tentang Perencanaan Kebutuhan Alat
dan Obat Kontrasepsi;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan


Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 161, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5080);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5679);
3. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi,
dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 145 Tahun 2015 tentang Perubahan
Kedelapan atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001
tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan
Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Kementerian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 322);
-2-

4. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga


Berencana Nasional Nomor 82/PER/B5/2011 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi;
5. Peraturan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Nomor 6 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Tahun 2020-2024 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2020 Nomor 466);
6. Peraturan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Nomor 11 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 703);
7. Peraturan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Nomor 12 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Unit Pelaksana Teknis Balai Pendidikan, dan Pelatihan
Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 779);
8. Peraturan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pemenuhan Kebutuhan
Alat dan Obat Kontrasepsi bagi Pasangan Usia Subur dalam
Pelayanan Keluarga Berencana (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2023 Nomor 206);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA
BERENCANA NASIONAL TENTANG PERENCANAAN KEBUTUHAN
ALAT DAN OBAT KONTRASEPSI.

KESATU : Menetapkan Perencanaan Kebutuhan Alat dan Obat Kontrasepsi di


Lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional yang selanjutnya dalam Keputusan ini disebut
Perencanaan Kebutuhan Alat dan Obat Kontrasepsi BKKBN
sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Keputusan ini.

KEDUA : Perencanaan Kebutuhan Alat dan Obat Kontrasepsi BKKBN


sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU menggunakan
metode kuantifikasi.
-4-

LAMPIRAN
KEPUTUSAN KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN
KELUARGA BERENCANA NASIONAL
NOMOR 82/KEP/E1/2023
TENTANG
PERENCANAAN KEBUTUHAN ALAT DAN OBAT
KONTRASEPSI

PERENCANAAN KEBUTUHAN ALAT DAN OBAT KONTRASEPSI

Tahapan kuantifikasi mencakup persiapan, perkiraan, dan perencanaan


pasokan/kebutuhan, serta reviu hasil kuantifikasi sebagaimana secara rinci terlihat
pada Gambar 1 berikut:
Gambar 1.
Tahapan Kuantifikasi

PERSIAPAN
- Membentuk tim kuantifikasi
- Menjelaskan program
- Mendefinisikan ruang lingkup dan tujuan dari
kuantifikasi
- Mengumpulkan data yang dibutuhkan

PERKIRAAN
- Mengelola, menganalisa, dan menyesuaikan data
KUANTIFIKASI

- Membangun asumsi perkiraan


- Menghitung perkiraan kebutuhan tiap alokon
Menyesuaikan asumsi perkiraan - Merekonsiliasikan perkiraan untuk menghasilkan
estimasi akhir
- Membandingkan biaya terhadap ketersediaan
dana

PERENCANAAN PASOKAN
- Mengelola, menganalisa, dan menyesuaikan data
tidak - Membangun asumsi perkiraan
- Menghitung total kebutuhan biaya dan alokon
- Mengembangkan perencanaan pasokan
- Membandingkan biaya terhadap ketersediaan
dana

Menambah Dana cukup


dana

ya
tidak
Mobilisasi sumber pembiayaan yang lain Pengadaan jumlah yang dibutuhkan

A. PERSIAPAN KUANTIFIKASI
1. Membentuk Tim Kuantifikasi
Tim kuantifikasi ditunjuk dan mengacu pada peran dan tanggung jawab
masing-masing yang berkaitan dengan perencanaan kebutuhan alokon
dan didukung dengan adanya Surat Keputusan Kepala BKKBN/Kepala
-5-

Perwakilan BKKBN Provinsi.


Kelompok Kerja Perencanaan Kebutuhan Alat/Obat Kontrasepsi dan
sarana penunjang pelayanan kontrasepsi di BKKBN pusat terdiri atas
berbagai komponen dengan peran dan tanggung jawab sesuai dengan
Tabel 1 berikut:
Tabel 1.
Peran dan tanggung jawab kelompok kerja kuantifikasi
di BKKBN Pusat

KELOMPOK KERJA PERAN DAN TANGGUNG JAWAB


Penasehat: Memberikan masukan dan arahan
 Sekretaris Utama BKKBN tentang kebijakan perencanan
 Deputi Bidang KB dan kebutuhan alokon dan non alokon
Kesehatan Reproduksi
Unit kerja yang bertanggung  Mengkoordinasikan komponen-
jawab di Bidang Keuangan dan komponen yang terkait di
Pengelolaan BMN: kelompok kerja perencanaan
 Ketua: Pimpinan unit kerja yang kebutuhan alokon dan non alokon
bertanggung jawab di Bidang  Menyiapkan data rekapitulasi stok
Keuangan dan Pengelolaan BMN gudang berdasarkan Laporan Stok
 Anggota: Jajaran unit kerja yang Opname dan Laporan Stokku
bertanggung jawab di Bidang terakhir per jenis alokon dari
Keuangan dan Pengelolaan BMN tingkat pusat, per provinsi per
kabupaten/kota dalam provinsi
 Menyiapkan data Analisa
tingkat stock out di gudang
provinsi, dan di gudang
kabupaten/kota setiap bulan
Unit kerja yang bertanggung Menyiapkan data Perkiraan
jawab di Bidang Perencanaan dan Permintaan Masyarakat Peserta
anggaran Program Bangga Kencana KB-Aktif (PPM-PA) dan Peserta KB
 Ketua: Pimpinan unit kerja yang Baru (PPM-PB) per mix kontrasepsi,
bertanggung jawab di Bidang baik PPM jangka Panjang maupun
Perencanaan dan anggaran PPM penyesuaian tahunan
Program Bangga Kencana.
 Anggota: Jajaran unit kerja yang
bertanggung jawab di Bidang
Perencanaan dan anggaran
Program Bangga Kencana.
Lingkup Kedeputian Bidang KB-  Pengumpulan data sampling obat
KR: kontrasepsi dan data realisasi
 Ketua: Pimpinan unit kerja yang historis pengadaan
bertanggung jawab di Bidang  Setelah disepakati hasil
perencanaan kebutuhan sarana penghitungan perencanaan
pelayanan KB/KR. kebutuhan alokon dan non alokon
 Anggota: Jajaran unit kerja oleh seluruh anggota kelompok
yang bertanggung jawab di kerja, untuk menghitung
Bidang perencanaan kebutuhan anggaran kebutuhan dan
sarana pelayanan KB/KR. pembeliannya
 Bersama-sama dengan unit
-6-

KELOMPOK KERJA PERAN DAN TANGGUNG JAWAB


terkait melakukan pengumpulan
data pasar atau market share
nasional sektor swasta per jenis
alokon
Lingkup Kedeputian Bidang  Melakukan pengumpulan data
ADPIN: historis satu tahun terakhir
 Ketua: Pimpinan unit kerja (tahun sebelumnya) sampai
yang bertanggung jawab di Januari tahun berjalan
Bidang data dan informasi  Menyiapkan data historis
Program Bangga Kencana. SIGA berupa rekapitulasi data
 Anggota: Jajaran unit kerja pelayanan dalam satu tahun
yang bertanggung jawab di untuk capaian peserta baru dan
Bidang data dan informasi peserta aktif per provinsi serta
Program Bangga Kencana data rekapitulasi kunjungan
ulangan per provinsi
 Menyiapkan data historis dari
laporan SIGA berupa jumlah
persediaan alokon di semua
Fasyankes seluruh Indonesia
selama satu tahun terakhir yang
terdiri atas stok awal, transaksi
keluar dan masuk barang serta
sisa stok akhir di tingkat
Fasyankes
 Menyiapkan data rekapitulasi
selama satu tahun untuk
pencabutan dan ganti cara IUD
dan implan per provinsi (SIGA)
 Menyiapkan data Analisa
tingkat stock out di Fasyankes
setiap bulan selama satu tahun
terakhir
Unit kerja yang bertanggung Bersama-sama dengan mitra kerja
jawab dalam pelaksanaan terkait melakukan perhitungan dan
perhitungan hasil capaian menyerahkan hasil capaian Program
Program Bangga Kencana Bangga Kencana antara lain: TFR,
 Ketua: Pimpinan unit kerja yang mCPR nasional dan per provinsi dan
bertanggung jawab dalam per kabupaten/kota, mix
pelaksanaan perhitungan hasil kontrasepsi, drop out rate, unmet
capaian Program Bangga need, serta jumlah PUS menikah dan
Kencana. proporsi PUS menikah peserta JKN
 Anggota: Jajaran unit kerja
yang bertanggung jawab dalam
pelaksanaan perhitungan hasil
capaian Program Bangga
Kencana.
Lingkup Kedeputian Bidang Bersama-sama dengan mitra kerja
Pengendalian Penduduk: terkait melakukan perhitungan dan
 Ketua: Pimpinan unit kerja yang menyerahkan hasil perhitungan
bertanggung jawab di Bidang data demografi penduduk antara
-7-

KELOMPOK KERJA PERAN DAN TANGGUNG JAWAB


Perhitungan Data Demografi lain: LPP, Jumlah Penduduk dan
Penduduk. data lain terkait demografi
 Anggota: Jajaran unit kerja penduduk
yang bertanggung jawab di
Bidang Perhitungan Data
Demografi Penduduk.

Kelompok kerja perencanaan kebutuhan alat/obat kontrasepsi dan sarana


penunjang pelayanan kontrasepsi di BKKBN Pusat ditetapkan dengan
Keputusan Kepala.

Komponen dengan peran dan tanggung jawab kelompok kerja perencanaan


kebutuhan alat/obat kontrasepsi dan sarana penunjang pelayanan
kontrasepsi di Perwakilan BKKBN Provinsi berpedoman pada Tabel 1 dengan
menyesuaikan dan berdasarkan struktur organisasi sesuai dengan tupoksi
bidang masing-masing.
Pada umumnya tim kuantifikasi meliputi pengelola program, pengelola data
lintas komponen dan bidang dan staf ahli dalam hal kuantifikasi beserta
nara sumber lain atau konsultan jika dibutuhkan.
Semua anggota sebaiknya memiliki pengetahuan dan kapasitas untuk
menyelesaikan kuantifikasi dalam bidang keluarga berencana sebagai
berikut:
a. memiliki pengetahuan dalam area program KB dan alokon serta
penggunaannya;
b. memiliki kemampuan dalam bidang komputer untuk membuat dan
mengelola basis data (data base);
c. berkomitmen untuk melaksanakan monitoring, pengumpulan data
dan pembaruan data perkiraan beserta asumsinya serta data
perencanaan pasokan yang berguna untuk mengetahui perkembangan
terkini mengenai status pesanan alokon; dan
d. mempunyai kemampuan dalam menyiapkan dan menyajikan data
kuantifikasi dan metodologinya serta hasil akhir kuantifikasi kepada
pihak pemangku kepentingan dan pelaksana.

2. Menyusun Kerangka Kegiatan Kuantifikasi


Tim perlu membuat latar belakang dan penjelasan yang mencakup evaluasi
terhadap kuantifikasi tahun sebelumnya, kebijakan ke depan dan rencana
kerja.
Cakupan kuantifikasi harus jelas, yaitu untuk kebutuhan alokon dan
sarana penunjang pelayanan kontrasepsi program keluarga berencana
nasional dan terbagi atas kebutuhan per provinsi dan buffer stock nasional.
-8-

Kuantifikasi dilakukan mencakup perkiraan untuk 2 tahun, yaitu


kuantifikasi pengadaan tahun yang direncanakan dan perkiraan kebutuhan
tahun berikutnya. Menghitung kebutuhan alokon dan biaya untuk jangka
waktu 2 tahun bertujuan agar pengadaan tepat waktu dan teridentifikasinya
kesenjangan pendanaan untuk memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan
sebelum terjadinya stock out atau kekurangan stok, atau untuk
menyesuaikan jadwal pengiriman untuk menghindari kelebihan stok.
Kuantifikasi harus mencakup tidak hanya jumlah aktual dari setiap alokon
dan sarana penunjang pelayanan kontrasepsi yang akan dibeli dan kapan
harus dibeli, tetapi juga mempertimbangkan waktu pengadaan, tingkat stok
maksimum dan tingkat persediaan di semua tingkatan serta waktu tunggu
pesanan atau lead time dari penyedia.

3. Pengumpulan data yang dibutuhkan


Data yang digunakan harus data yang berkualitas dan mencakup jumlah
stok yang digunakan (data konsumsi), jumlah dan jenis layanan kontrasepsi
yang dilakukan (data pelayanan), data demografi dan data target program
atau Perkiraan Permintaan Masyarakat (PPM) serta tingkat ketersediaan
stok di setiap tingkatan.
Data yang dikumpulkan sebagaimana daftar pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2.
Data yang digunakan dalam Kuantifikasi

Catatan:
Jika terdapat perubahan pada nomor dan nama tabel pada sistem
informasi keluarga (SIGA), maka daftar ini dapat disesuaikan.

B. PENGUMPULAN DATA YANG DIBUTUHKAN UNTUK KUANTIFIKASI


Pengumpulan data yang dibutuhkan mencakup:
1. Analisa Cakupan Pelaporan
Cakupan pelaporan adalah perbandingan jumlah Fasyankes KB yang
melaporkan Laporan SIGA per bulan dengan total seluruh Fasyankes
-9-

yang seharusnya melapor. Semakin rendah tingkat pelaporan, semakin


rendah kualitas data. Jika tingkat pelaporan sangat rendah, tingkat
keterwakilan data tidak menggambarkan situasi yang sebenarnya. Cakupan
pelaporan digunakan untuk melakukan penyesuaian pada data konsumsi dan
juga data pelayanan. Penyesuaian ini dilakukan untuk memperhitungkan
potensi konsumsi dan pelayanan yang tidak terlaporkan. Untuk
menyesuaikan data pelaporan SIGA yang tidak lengkap harus
memperhatikan hal sebagai berikut:
a. berapa banyak Fasyankes yang tidak melapor;
b. untuk Fasyankes yang tidak melapor, perhatikan kapan Fasyankes
tersebut terakhir melapor; dan
c. membuat asumsi bahwa Fasyankes yang tidak melapor tersebut juga
mengkonsumsi alokon atau melakukan pelayanan yang dianggap sama
dengan Fasyankes yang melapor.
Terdapat risiko dalam asumsi ini, yaitu misalnya jika Fasyankes yang tidak
melapor adalah Fasyankes yang berada di area dengan populasi padat,
maka dapat terjadi kekurangan dalam perhitungan jumlah konsumsi atau
pelayanan bila anda menggunakan rerata konsumsi atau pelayanan dari
Fasyankes yang terletak di populasi yang jarang penduduknya. Lakukan
kajian mengenai bobot pelaporan yang pada tingkat nasional ditimbang
menggunakan populasi provinsi sehingga diketahui bobot pelaporan
secara nasional. Hasil kajian akan memperlihatkan tingkat keterwakilan
data, sehingga dapat ditindaklanjuti untuk daerah yang pelaporannya
rendah.
Pelaksanaan kegiatan
a. tim mengunduh data dari sistem pelaporan BKKBN berupa Tabel 1.
Cakupan Laporan Tempat Pelayanan KB setiap bulannya, paling
sedikit 12 bulan; dan
b. lakukan analisa total cakupan pelaporan setiap bulannya, dengan
mengambil angka cakupan pelaporan di Tempat Pelayanan KB
Pemerintah ditambah dengan Tempat Pelayanan KB Swasta. Buatlah
Analisa tersebut untuk 12 bulan terakhir, lalu ambil rerata cakupan
pelaporan selama 12 bulan untuk digunakan pada penyesuaian data
konsumsi dan data pelayanan setiap tahunnya. Kumpulkan dan
lakukan analisa paling sedikit dua tahun cakupan pelaporan.
2. Analisa Data Konsumsi
Data historis konsumsi adalah jumlah aktual dari alokon yang dikeluarkan
oleh Fasyankes selama jangka waktu tertentu, yang dilaporkan melalui
laporan bulanan SIGA yaitu Tabel 11 Persediaan Alat dan Obat Kontrasepsi
(sumber APBN) dan Tabel 11A Pengeluaran Alat dan Obat Kontrasepsi
- 10 -

(sumber APBN). Data yang digunakan paling sedikit 12 bulan terakhir,


idealnya 2 tahun atau lebih. Hal ini untuk membantu dalam analisa trend
konsumsi.
Data konsumsi lebih dapat diandalkan jika pencatatan dilakukan
dengan baik dan pasokannya stabil dan kontinyu (misalnya yang tidak
mengalami stock out terus menerus atau tingkat stock outnya rendah).
Pelaksanaan Kegiatan
a. Tim mengunduh data dari sistem pelaporan BKKBN berupa Tabel 11A.
Pengeluaran alat dan obat kontrasepsi (Sumber Alokon APBN) setiap
bulannya, paling sedikit 12 bulan. Ambil data dari Tabel 11A tersebut
data “pelayanan KB” per jenis alokon dengan data transaksi
pengeluaran paling sedikit 12 bulan terakhir (idealnya 24 bulan).
b. Buatlah Analisa tersebut untuk 12 bulan terakhir, lalu ambil rerata
konsumsi bulanan selama 12 bulan untuk digunakan pada
penyesuaian data cakupan pelaporan dan data pelayanan.

3. Analisa Data Pelayanan


Data historis pelayanan adalah jumlah layanan KB yang telah diberikan
kepada akseptor per metode kontrasepsi oleh Fasyankes selama jangka
waktu tertentu. Data layanan dilaporkan melalui laporan bulanan
kumulatif SIGA (per mix kontrasepsi) yaitu Tabel 21, Tabel 27, dan Tabel
28.
Data pelayanan lebih dapat diandalkan jika pencatatan dilakukan dengan
baik dan pasokannya stabil dan kontinyu (misalnya yang tidak mengalami
stock out terus menerus atau tingkat stock outnya rendah) dan hanya
memiliki sedikit hambatan pelayanan (misalnya hambatan pelayanan
karena tidak tersedianya tenaga kesehatan terlatih untuk pemasangan
implan/IUD).
Pelaksanaan Kegiatan
a. Tim mengunduh rekapitulasi data pelayanan dari SIGA yang
berkaitan dengan data pelayanan (bulan kumulatif), yaitu:
 Tabel 21. Jumlah Pelayanan Peserta KB Baru Berdasarkan
Metode Kontrasepsi. Pada Tabel 21 ini, mencakup jumlah
pelayanan peserta KB baru untuk masing-masing jenis
kontrasepsi. Untuk kebutuhan kuantifikasi, diambil angka
aktual jumlah peserta KB Baru (PB) per jenis kontrasepsi.
Kumpulkan data paling sedikit 2 tahun kumulatif.
 Tabel 28. Jumlah Pelayanan Peserta KB Ulangan Berdasarkan
Metode Kontrasepsi. Pada Tabel 28 ini, mencakup jumlah
capaian pemberian kontrasepsi ulang yaitu pelayanan peserta KB
- 11 -

aktif untuk masing-masing jenis kontrasepsi. Untuk kebutuhan


kuantifikasi, diambil angka capaian aktual jumlah Peserta KB
Ulangan per jenis kontrasepsi. Kumpulkan data paling sedikit 2
tahun kumulatif
 Tabel 27. Jumlah Pelayanan Peserta KB Ganti Cara Berdasarkan
Metode Kontrasepsi. Pada Tabel 27 ini, dicakup jumlah
pelayanan kontrasepsi ganti cara per jenis kontrasepsi. Untuk
kebutuhan kuantifikasi, diambil angka capaian jumlah peserta
KB ganti cara per metode kontrasepsi. Kumpulkan paling sedikit
2 tahun kumulatif.
b. Data pelayanan di atas diolah dengan menambahkan masing-masing
tabel per jenis alokon, sehingga akan didapatkan hasil jumlah
pelayanan per jenis alokon tahunan, dimana:
 Untuk MKJP (Implan dan IUD) hanya menggunakan capaian
pelayanan PB ditambah dengan ganti cara dari tabel-tabel SIGA
di atas.
 Untuk non MKJP menggunakan capaian pelayanan PA ditambah
dengan PB dan ganti cara dari tabel-tabel SIGA di atas.

c. Lakukan konversi data pelayanan menjadi alokon dengan


menggunakan faktor konversi CYP (Couple Years of Protection), sehingga
dari jumlah pelayanan menjadi jumlah alokon yang dibutuhkan.
Faktor konversi CYP didasarkan pada bagaimana metode yang
digunakan, tingkat kegagalan, tingkat pembuangan atau wastage rate,
dan berapa banyak unit metode biasanya diperlukan untuk
menyediakan satu tahun perlindungan kontrasepsi. Perhitungan
tersebut mempertimbangkan bahwa beberapa metode, seperti kondom
dan kontrasepsi oral, misalnya, dapat digunakan secara tidak benar
dan kemudian dibuang, atau IUD dan implan dapat dicabut sebelum
masa penggunaannya (use life).
Standar nilai CYP yang digunakan di Indonesia adalah sebagai Tabel 4
berikut:
- 12 -

Tabel 4.
Faktor konversi standar CYP untuk Indonesia

Metode Faktor konversi CYP


IUD Copper T 4.6 tahun
Implan 3 tahunan 2.5 tahun
Pil 13 cycle
Kondom 72 buah
Suntikan 4 Vial

Dalam kuantifikasi faktor konversi CYP digunakan untuk


mengkonversi jumlah pengguna menjadi jumlah produk (alokon). Oleh
karena itu tidak semua jenis data pada metode kuantifikasi
membutuhkan faktor konversi, sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 5
berikut:

Tabel 5.
Faktor Konversi untuk Menghitung Perkiraan Alokon

Perkiraan
Jenis Data Faktor Konversi Kebutuhan
Konsumsi Estimasi jumlah tiap Tidak perlu di
alokon yang digunakan konversi
x =
Pelayanan Estimasi jumlah Jumlah alokon yang
layanan KB per dikeluarkan sesuai
metode, ataupun dengan pedoman
berdasarkan prosedur pelayanan (dispensing
Layanan protocol) per kunjungan
x =
Demografi Estimasi jumlah CYP atau Faktor
pengguna baru dan konversi lainnya
aktif (distratifikasi
berdasarkan pengguna
alokon program)
x = Estimasi jumlah
Target Target peserta CYP atau Faktor tiap produk yang
KB yang ditetapkan konversi lainnya dibutuhkan
oleh program per
metode kontrasepsi
(distratifikasi
berdasarkan pengguna
alokon program)
x =

4. Analisa Tingkat Stock out di Fasyankes


Suatu Fasyankes akan dianggap stock out untuk suatu metode jika sisa stok
- 13 -

akhir bulan ini adalah kosong atau nol untuk metode kontrasepsi yang
dilayani di Fasyankes tersebut. Stock out dibagi atas dua kategori, yaitu:
a. Stock out per metode yaitu jika pada laporan bulanan sisa stok akhir
suatu Fasyankes adalah nol untuk suatu metode kontrasepsi
yang dilayani; dan
b. Stock out untuk berbagai metode (any methods stock out) yaitu
pengukuran tingkat stock out per Fasyankes tanpa memandang ada
berapa metode yang mengalami stock out, karena yang dihitung
adalah Fasyankesnya dan bukan jumlah kejadian stock outnya.
Pada kuantifikasi, karena penghitungan kebutuhan adalah per metode
kontrasepsi maka kategori stock out yang digunakan adalah stock out per
metode. Digunakan utamanya dalam penyesuaian data konsumsi. Tingkat
stock out digunakan untuk melakukan penyesuaian pada data konsumsi.
Penyesuaian ini dilakukan untuk memperhitungkan potensi konsumsi
jika tidak terjadi stock out. Durasi terjadinya stock out dapat berpotensi
menutupi kebutuhan sebenarnya dari alokon karena kebutuhan ini tidak
dapat terpenuhi selama periode stock out. Data stock out diperoleh dari
Dashboard aplikasi Sistem Informasi Rantai Pasok Alokon.

5. Analisa Data Demografi


Data demografi mencakup jumlah total populasi penduduk, Laju
Pertumbuhan Penduduk (LPP), Wanita Usia Subur (WUS), Pasangan Usia
Subur (PUS) serta Contraceptive Prevalance Rate atau CPR dan method mix
atau ragam kontrasepsi yang lalu dikonversi menggunakan faktor konversi
CYP (Couple Years of Protection) menjadi jumlah produk. Data demografi
dapat menggunakan berbagai sumber, misalnya data jumlah penduduk
dapat menggunakan data sensus, SUPAS ataupun sumber data populasi
lainnya. Sementara data mCPR per metode dapat menggunakan Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), Pendataan Keluarga, ataupun
data survei lainnya.

Contoh data demografi:

Berdasarkan SUPAS 2015: Jumlah WUS nasional adalah 68.633.937


dengan proporsi kawin 69.03%. Jumlah PUS sebanyak 47.379.446. Dari
baseline SUPAS 2015 digunakan proyeksi* ke tahun 2017 menjadi jumlah
WUS 70.250.500 dan PUS 48.495.397.
Berdasarkan SDKI 2017 mCPR nasional adalah 57.2, dengan ragam
kontrasepsi implan 4.7, IUD 4.7, Suntikan 29, pil 12.1 dan kondom 2.5.
- 14 -

Pelaksanaan Kegiatan
Lakukan stratifikasi dari data pengguna alokon per metode dengan data
konsumsi alokon BKKBN, untuk mendapatkan proporsi pengguna alokon
BKKBN per metode kontrasepsi, sehingga pada perhitungan kebutuhan
nanti tidak mencakup pengguna alokon swasta.
Gambar 2 menunjukkan alur analisa pada data demografi untuk
menghasilkan proporsi penggunaan alokon program BKKBN dan alokon
swasta.
Gambar 2.
Alur analisa data demografi penggunaan alokon BKKBN

6. Analisa Data target Program


Data target program atau disebut juga Perkiraan Permintaan Masyarakat
(PPM) merupakan perkiraan permintaan jumlah Pasangan Usia Subur
(PUS) yang akan menjadi peserta KB Baru (PB), Peserta KB Aktif (PA) dan
Peserta KB Aktif Tambahan baik cakupan nasional mupun per provinsi.
Data PPM berasal proses analisa demografi serta kebijakan program.
Dalam kuantifikasi karena PPM masih berupa jumlah pengguna potensial,
maka harus dikonversi dengan menggunakan faktor konversi CYP menjadi
jumlah produk.
Pada data target dan data demografi, biasanya digunakan lebih banyak
asumsi dibandingkan data konsumsi dan pelayanan. Sehingga cenderung
lebih tinggi dari yang dibutuhkan karena menggunakan keseluruhan
populasi. Oleh karena itu, perlu digunakan data tambahan berupa proporsi
penggunaan alokon program BKKBN dibandingkan dengan pengguna
alokon swasta.
Pelaksanaan Kegiatan
PPM ditetapkan berdasarkan data trend historis demografi, capaian
program dan kebijakan ke depan program keluarga berencana serta
- 15 -

dinamika faktor penentu fertilitas dalam rangka mencapai sasaran angka


fertilitas total yang ditetapkan.
Hasil akhir dari penentuan target berupa PPM merupakan target peserta KB
dari seluruh populasi, yang karenanya maka target perlu distratifikasi
dengan persen pengguna alokon pemerintah atau alokon program.
Proporsi penggunaan alokon program perintah dengan swasta ini dapat
dihasilkan melalui Total Market Assessment atau asesmen pasar total.

7. Analisa Data Stok di Setiap Tingkatan


Data stok yang dibutuhkan dalam kuantifikasi adalah stok yang tersedia
di setiap tingkat penyimpanan, yaitu dari gudang pusat, gudang provinsi
dan juga gudang kabupaten/kota serta Fasyankes. Data tersebut dapat
diperoleh dari laporan stokku untuk gudang di semua tingkatan, serta
laporan SIGA untuk Fasyankes. Namun diutamakan data stok yang berasal
dari Laporan Stock Opname Semester per Jenis Kontrasepsi, karena
laporan tersebut juga mencantumkan informasi tanggal kedaluwarsa.
Sertakan juga data kehilangan dan penyesuaian stok jika tersedia.
Pelaksanaan Kegiatan
Kumpulkan data stok alokon yang tersedia atau Stock on Hand (SOH) di
setiap tingkatan yang dibutuhkan untuk kuantifikasi, ditunjukkan pada
Tabel 6 di bawah ini.
- 16 -

Tabel 6.
Daftar sumber laporan stok yang tersedia
di setiap tingkatan
Tingkatan Sumber Data Keterangan
Gudang • Laporan Stokku Gunakan bulan pelaporan yang sama
Pusat Gudang Pusat untuk kedua data. Jika terdapat
• Laporan Stock perbedaan, lakukan analisa
opname Gudang mengenai penyebab perbedaannya.
Pusat Putuskan mengenai data mana yang
akan dicapai.
Catat asumsi yang digunakan untuk
mendasari keputusan tersebut
Gudang • Laporan Stokku Gunakan bulan pelaporan yang
Provinsi Gudang Provinsi sama untuk kedua data. Jika
• Laporan Stock terdapat perbedaan, lakukan analisa
opname Gudang mengenai penyebab perbedaannya.
Provinsi Putuskan mengenai data mana yang
akan dicapai.
Catat asumsi yang digunakan untuk
mendasari keputusan tersebut
Gudang  Laporan Stokku Gunakan bulan pelaporan yang
Kabupaten/ Gudang Kab/Kota sama untuk kedua data. Jika
Kota  Laporan Stock terdapat perbedaan, lakukan
opname Gudang analisa mengenai penyebab
Kab/Kota perbedaannya.
Putuskan mengenai data mana yang
akan dicapai.
Catat asumsi yang digunakan untuk
mendasari keputusan tersebut
Fasyankes SIGA BKKBN Tabel 11 Gunakan bulan pelaporan yang
Pengeluaran Alat dan sama dengan data stok di atas.
Obat Kontrasepsi Pastikan bahwa tingkat pelaporan
(Sumber alokon APBN) cukup tinggi untuk menjaga kualitas
dan keterwakilan data

8. Analisa Data pipeline order


Pipeline order adalah jumlah pengadaaan tahun ini yang belum diterima
di gudang atau belum terealisasi dan dipastikan akan terealisasi sebelum
tahun pengadaan berakhir. Sedangkan untuk pemesanan yang dipastikan
tidak akan terealisasi atau penyedia tidak dapat menyelesaikan
keseluruhan pekerjaan, maka jumlah dan/atau sisa jumlah yang dimaksud
tersebut tidak lagi dianggap sebagai sisa pemesanan atau pipeline order.
Sehingga pada konteks ini tidak perlu lagi diperhitungkan.
Pelaksanaan Kegiatan
a. Data pipeline order perlu dikumpulkan untuk ditambahkan kedalam
total stok yang tersedia antara saat ini sampai dengan tahun
kuantifikasi yang diperkirakan. Data pipeline order hanya akan ada
- 17 -

pada tingkatan pusat dan provinsi.

b. Buatlah data rekapitulasi stok yang tersedia terbaru dan data pipeline
order sebagaimana dicontohkan pada Tabel 7, Tabel 8, dan Tabel 9
dibawah ini:

Tabel 7.
Contoh Penyusunan Data Stok Tersedia dan Pipeline Order per Metode
Tingkat Pusat dan per Provinsi

Implan IUD Suntikan Pil Kondom


Tingkatan Stok Pipeline Sto Pipeline Sto Pipelin Stok Pipeline Stok Pipeline
Tersedia order k order k e Tersedia order Tersedia order
Juni 18 Tersed Tersed order Juni 18 Juni 18
Pusat ia ia
Juni Juni
Per provinsi 18 18

Tabel 8.
Contoh Penyusunan Data Stok Tersedia dan Pipeline Order per Metode
Agregat Kabupaten/Kota per Provinsi

Tingkatan Stok Tersedia


Implan IUD Suntikan Pil Kondom
Aggregate
Kabupaten/Kota
per Provinsi

Tabel 9.
Contoh Penyusunan Data Stok Tersedia dan Pipeline Order per Metode Agregat
Fasyankes per Provinsi

Tingkatan Stok Tersedia


Implan IUD Suntikan Pil Kondom
Aggregate
Fasyankes per
Provinsi

C. PERKIRAAN KUANTIFIKASI
Dalam kegiatan perkiraan ada 4 (empat) kegiatan pokok, yaitu:
1. Memproses data.
2. Membangun hipotesa.
3. Menghitung perkiraan kebutuhan.
4. Rekonsiliasi hasil.
- 18 -

Dalam melakukan setiap tahapan kegiatan, dokumentasikan atau catat semua


asumsi yang digunakan.
1. Memproses data
Setelah dilakukan pengumpulan data, data dikelola berdasarkan jenisnya
baik data konsumsi, pelayanan, demografi, dan data target. Komponen yang
digunakan dalam memproses data adalah cakupan pelaporan Fasyankes,
jumlah stock out, waktu pelaporan data dan faktor yang mempengaruhi
permintaan alokon ke depan.
Data atau laporan yang digunakan harus yang paling terbaru atau update.
Hal ini berlaku untuk semua jenis data baik data konsumsi, data layanan
ataupun data demografi serta data target. Semakin tua umur data maka
semakin rendah kualitasnya.
Faktor yang mempengaruhi permintaan ke depan misalnya strategi
kebijakan program, sehingga dibutuhkan faktor asumsi untuk
memperkirakan perubahan dan dampaknya terhadap permintaan alokon.
Pelaksanaan Kegiatan
a. Proses Perkiraan Data Konsumsi
 Konsumsi Aktual
Gunakan data histori konsumsi bulanan yang dikumpulkan,
buatlah rerata konsumsi bulanan tahunan atau Average Monthly
Consumption (AMC), kemudian forecast atau perkirakan
pertumbuhannya ke tahun mendatang. Perkiraan pertumbuhan
dapat dilakukan dengan cara:
- Berdasarkan trend pertumbuhan atau growth trend
Untuk menghasilkan trend tingkat pertumbuhan yang lebih
akurat, sebaiknya menggunakan histori AMC diatas 3
tahun, lalu proyeksikan ke tahun mendatang dengan
melihat histori trend pertumbuhan konsumsinya, sehingga
didapatkan perkiraan konsumsi di tahun mendatang.
- Berdasarkan Laju Pertumbuhan Penduduk
Gunakan histori AMC tahun terakhir, lalu proyeksikan ke
tahun mendatang dengan menggunakan Laju Pertumbuhan
Penduduk (LPP) untuk mendapatkan perkiraan konsumsi di
tahun mendatang.
Sebaiknya tahun perkiraan pada kuantifikasi hanya dibuat
untuk paling banyak dua tahun mendatang, agar jaraknya tidak
terlalu jauh kedepan untuk mengantisipasi perubahan trend
konsumsi pada tahun sesudah perkiraan dilakukan,
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 10 berikut:
- 19 -

Tabel 10.
Contoh pengelolaan dan analisa data konsumsi pada perkiraan
dengan tren pertumbuhan dan LPP
Perkiraan
Konsumsi dengan Perkiraan
Konsumsi Data histori trend Konsumsi
Aktual per jenis Konsumsi (AMC) pertumbuhan dengan LPP
alokon (growth rate)

2015 2016 2017 2018 2019 2020 2019 2020


Per provinsi
Pusat

Konsumsi Penyesuaian Terhadap Cakupan Pelaporan


Perhitungan penyesuaian data konsumsi terhadap cakupan
pelaporan dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
Konsumsi disesuaikan dengan cakupan pelaporan:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙


=
% 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛

Contoh penyesuaian konsumsi terhadap cakupan pelaporan

Cakupan pelaporan Provinsi Sulawesi Selatan pada


bulan Juni 2016 – Juli 2017 adalah 98%, dengan
rerata konsumsi bulanan untuk Suntik KB adalah
28.211 vial.
Penyesuaian diperlukan untuk mengetahui konsumsi pada
2% data yang tidak terlaporkan:
28.211
= 98%
Maka jumlah rerata konsumsi suntikan di Sulawesi
Selatan yang disesuaikan terhadap pelaporan adalah
28.787 vial

Buat data konsumsi yang disesuaikan terhadap cakupan pelaporan


seperti Tabel 10 di atas
Konsumsi Penyesuaian terhadap Cakupan Pelaporan dan Stock Out
Hanya data konsumsi yang perlu disesuaikan terhadap tingkat
pelaporan dan stock out. Perhitungan penyesuaian data konsumsi
atau pelayanan terhadap cakupan pelaporan dan stock out dilakukan
dengan rumus sebagai berikut:
Konsumsi disesuaikan dengan cakupan pelaporan dan stock out:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛


= (100%−% 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑠𝑡𝑜𝑐𝑘 𝑜𝑢𝑡)
- 20 -

Contoh konsumsi yang disesuaikan terhadap pelaporan dan stock out:

Berdasarkan contoh sebelumnya, di Sulawesi Selatan konsumsi


penyesuaian terhadap cakupan pelaporan untuk suntikan adalah
28.787 vial. Berdasarkan pengolahan dan analisa data, didapati
rerata stock out suntik di provinsi ini pada tahun 2017 sebanyak
14%.
Maka penyesuaian diperlukan untuk mengetahui potensi konsumsi
jika stock out tidak terjadi.
28.787
=
(100%−14%)
Maka data konsumsi suntikan Sulawesi Selatan yang disesuaikan
terhadap pelaporan dan stock out adalah 33.473 vial

Buat data konsumsi yang disesuaikan terhadap cakupan pelaporan


seperti Tabel 10 di atas.
b. Proses Perkiraan Data Pelayanan
 Pelayanan Aktual
Gunakan data histori pelayanan tahunan yang dikumpulkan,
sama dengan proses pada data konsumsi, forecast atau
perkirakan pertumbuhannya ke tahun mendatang.
 Berdasarkan Tren Pertumbuhan atau growth trend
Untuk menghasilkan trend tingkat pertumbuhan yang lebih
akurat, sebaiknya menggunakan histori rerata bulanan pelayanan
di atas 3 tahun, lalu proyeksikan ke tahun mendatang dengan
melihat histori trend pertumbuhan pelayanannya, sehingga
didapatkan perkiraan konsumsi di tahun mendatang.
 Berdasarkan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP)
Gunakan histori rerata bulanan pelayanan tahun terakhir, lalu
proyeksikan ke tahun mendatang dengan menggunakan Laju
Pertumbuhan Penduduk (LPP) untuk mendapatkan perkiraan
pelayanan di tahun mendatang.

Sebaiknya tahun perkiraan pada kuantifikasi hanya dibuat untuk


maksimal dua tahun mendatang, agar jaraknya tidak terlalu jauh
kedepan untuk mengantisipasi perubahan trend konsumsi pada
tahun sesudah perkiraan dilakukan, sebagaimana ditunjukkan pada
Tabel 11 berikut:
- 21 -

Tabel 11
Contoh pengelolaan dan analisa data pelayanan pada perkiraan dengan
tren pertumbuhan dan LPP

Perkiraan
Konsumsi Perkiraan
Konsumsi Data histori Konsumsi dengan trend Konsumsi
Aktual per (AMC) pertumbuhan dengan
jenis alokon (growth rate) LPP

2015 2016 2017 2018 2019 2020 2019 2020


Per provinsi
Pusat

 Pelayanan Penyesuaian terhadap Cakupan Pelaporan


Perhitungan penyesuaian data konsumsi terhadap cakupan
pelaporan dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
Pelayanan disesuaikan dengan cakupan pelaporan:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙


=
% 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑐𝑎𝑘𝑢𝑝𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑝𝑜𝑟𝑎𝑛

Buat data pelayanan yang disesuaikan terhadap cakupan


pelaporan seperti Tabel 11 diatas.
c. Proses Perkiraan Data Demografi
Pelaksanaan Kegiatan
 Buatlah analisa data demografi 3 tahun terakhir, sehingga
didapati histori jumlah pengguna alokon program BKKBN pada
tahun sebelumnya. Serupa dengan data konsumsi dan data
pelayanan, buatlah perkiraan dengan menggunakan tingkat
pertumbuhan dan Laju Pertumbuhan Penduduk.
 Penyesuaian untuk data lama mungkin diperlukan ketika
menggunakan data demografi, terutama untuk mendapatkan
perkiraan jumlah populasi saat ini. Perlu dibuat asumsi tentang
tren di banyak variabel, bukan hanya pertumbuhan penduduk.
Tidak ada sumber data demografi tunggal yang akan
menyediakan semua data yang diperlukan, data demografi sering
digabungkan dari beberapa sumber data yang mewakili periode
waktu yang berbeda. Beberapa atau semuanya mungkin perlu
disesuaikan agar mencerminkan periode waktu yang sama.
Asumsi tambahan dapat menyebabkan kesalahan yang signifikan
dalam proses perkiraan. Untuk meminimalkan jumlah
- 22 -

penyesuaian, untuk tahun dimulainya proses perkiraan,


tentukanlah waktu survei yang digunakan sebagai sumber data
utama untuk proyeksi.

Contoh penyesuaian terhadap data lama: data populasi


penduduk tersedia yaitu berdasarkan Sensus Nasional tahun
2010. Pada saat kuantifikasi dilakukan pada tahun 2018
untuk menghitung kebutuhan di tahun 2019, belum ada
sensus nasional terbaru. Sehingga perlu menggunakan sumber
data populasi lainnya yang lebih baru, misalnya SUPAS 2015,
dan menggunakan proyeksinya untuk tahun 2019

d. Perkiraan Data Target (PPM)


Data target biasanya sudah ditentukan untuk jangka panjang, namun
target tahun berikutnya biasanya difinalisasi pada tahun sebelumnya.
Gunakan data PPM yang sudah final untuk tahun mendatang tersebut
untuk mendapatkan target pengguna alokon program BKKBN di tahun
mendatang. Buatlah perkiraan dengan menggunakan PPM jangka
panjang dan LPP, serta dengan memproyeksikan menggunakan tren
pertumbuhan dan LPP seperti pada Tabel 12.

Tabel 12
Contoh Pengelolaan dan Analisa Data Target pada Perkiraan dengan
Tren Pertumbuhan dan LPP
Perkiraan
Target PPM trend PPM proyeksi
(PPM) per pertumbuhan proyeksi PPM
jenis alokon Data histori PPM (growth trend) jangka dengan
panjang LPP

2015 2016 2017 2018 2019 2020 2019 2020 2021 2022
Per provinsi
Pusat

2. Membangun Hipotesa
Dalam membangun hipotesa, ada dua jenis asumsi yang perlu dibuat:
a. Asumsi untuk penyesuaian terhadap histori data ketika data tidak
tersedia, validitas data diragukan, data lama dan tidak lengkap; dan
b. Asumsi untuk kinerja program di masa mendatang berdasarkan
faktor yang mempengaruhi permintaan untuk pelayanan.

Seringkali data yang dibutuhkan tidak tersedia secara lengkap. Dalam


membuat asumsi sangat penting untuk mencatat dan mendokumentasikan
secara jelas dan spesifik asumsi mana yang dibuat dan atas dasar apa serta
- 23 -

sumber yang dipakai. Karena jika data tidak tersedia, atau tidak lengkap,
perkiraan akan sangat bergantung pada asumsi.
Pelaksanaan Kegiatan
Tim kuantifikasi perlu mencapai konsensus terhadap asumsi yang
digunakan dalam proses perkiraan. Lokakarya atau workshop kuantifikasi
merupakan forum yang efektif untuk mencapai konsensus. Dianjurkan
untuk melakukan proses konsultasi dengan berbagai pelaksana program,
termasuk perencana program, tim pengadaan dan pengelola gudang. Hal ini
merupakan bagian penting dalam membuat asumsi perkiraan. Kuantifikasi
harus direvisi jika terjadi perubahan pada asumsi perkiraan.
Direkomendasikan agar dilakukan proses konsultasi dan pesetujuan atas
asumsi yang digunakan sebelum mulai mengerjakan perkiraan. Dengan
demikian, akan menghindarkan tim kuantifikasi dari situasi dimana sudah
dilakukan semua tahapan perkiraan dan hasilnya dipresentasikan, lalu
muncul ketidaksetujuan terhadap asumsi yang telah dipakai, sehingga akan
dibutuhkan revisi secara menyeluruh atas semua perkiraan yang terlanjur
sudah dilakukan.

3. Menghitung Perkiraan Kebutuhan Untuk Setiap Alokon


Tipe dan spesikasi alokon yang dibeli ditentukan oleh program dimana saat
ini mencakup lima jenis alokon. Meski demikian spesifikasi dapat saja
bertambah sesuai dengan arah kebijakan program.
Dalam menghitung perkiraan kebutuhan alokon, tim kuantifikasi perlu
memahami karakteristik masing-masing produk. Dalam Program
Keluarga Berencana dikenal ada dua macam metode kontrasepsi yaitu:
a. Metode Kontrasepsi Jangka Pendek (Non MKJP); dan
b. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ini:


- 24 -

Tabel 13 Karakteristik Alat dan Obat Kontrasepsi


yang dipertimbangkan dalam Kuantifikasi

Lakukan konversi jumlah pengguna MKJP menjadi jumlah produk dengan


mengalikan dengan faktor konversi CYP. Tabel konversi CYP sesuai dengan
Tabel 4.
- 25 -

4. Rekonsiliasi Hasil
Keempat data yang digunakan, yaitu data konsumsi, pelayanan dan data
demografi serta target, akan menghasilkan masing-masing perkiraan
kebutuhan per jenis alokon berdasarkan metode kuantifikasi tersebut.
Hasilnya akan dibandingkan untuk kemudian ditentukan yang manakah
yang akan diputuskan sebagai perkiraan final kebutuhan.
Pelaksanaan Kegiatan
a. Pada saat dilakukan rekonsiliasi hasil dari keempat metode, lakukan
kajian pada beberapa faktor berikut:
 Kualitas dari masing-masing tipe data, yaitu kelengkapan,
akurasi, ketepatan waktu dan ketersediaan data
 Parameter yang ditetapkan oleh program, misalnya dispensing
protocol atau standar pelayanan pemberian ke akseptor per jenis
alokon, faktor konversi CYP, jumlah populasi yang di cakup dalam
program, ragam kontrasepsi atau method mix, maupun rencana
peningkatan atau arah kebijakan program. Hal yang berkaitan
dengan kejadian yang berpengaruh ke pelayanan dan data
konsumsi juga harus diperhatikan, misalnya terjadinya stock out
yang cukup lama dan tinggi untuk salah satu metode, karena
akan mengakibatkan jumlah penggunaan metode tersebut terlihat
lebih rendah dari seharusnya.
b. Berdasarkan pertimbangan diatas, tim kuantifikasi memilih salah satu
metode perkiraan sebagai angka final perkiraan kebutuhan, atau dapat
juga melakukan penyesuaian, ataupun mengambil rerata dari berbagai
metode perkiraan tersebut.
c. Jika kualitas data salah satu metode diragukan, tim kuantifikasi
dapat memutuskan untuk tidak memilih perkiraan dari metode
tersebut. Misalnya jika terdapat gap atau kesenjangan yang sangat
tinggi pada data konsumsi kondom dibandingkan dengan data
pelayanan, maka lakukan analisa akar masalah mengenai penyebab
kejadian tersebut. Selanjutnya, tim akan memilih metode mana yang
lebih dapat diandalkan.
d. Tahapan rekonsiliasi sebaiknya dilaksanakan sebagai bagian dari
workshop kuantifikasi lintas unit kerja dan bidang, sehingga
dimungkinkan adanya proses kolaborasi dalam mengkaji kekuatan
atau kelebihan asumsi yang digunakan. Pada tahapan ini, perkiraan
kebutuhan bulanan per jenis alokon sudah dihitung, dan tim
kuantifikasi melanjutkan ke tahapan perencanaan pasokan atau.
Output dari perkiraan menjadi input utama dalam perencanaan
pasokan.
- 26 -

D. PERENCANAAN PASOKAN
Dalam kegiatan perencanaan pasokan ada empat kegiatan pokok, yaitu:
 Mengelola dan menganalisa data
 Membangun parameter
 Menghitung total kebutuhan dan biaya
 Menyusun rencana pasokan

1. Mengelola dan Menganalisa Data


a. lakukan kajian terhadap stok yang tersedia di setiap tingkatan,
yaitu stok gudang pusat, gudang provinsi, gudang OPD KB
kabupaten/kota serta stok di Fasyankes. Sumber data stok di setiap
tingkatan seperti di Tabel 6. Cakupan pelaporan juga sangat penting
untuk dikaji pada tahapan ini. Agar dapat memberikan hasil yang
dapat diandalkan, cakupan pelaporan F/V/KB sangat penting untuk
dikaji, dan ditindaklanjuti jika hasilnya rendah;
b. lakukan kajian mengenai status persediaan di tingkat pusat, provinsi,
kabupaten/kota maupun Fasyankes. Status persediaan atau yang
dulunya dikenal sebagai stok rasio adalah penentuan dari seberapa
lama (dalam bulan) sejumlah stok yang tersedia akan bertahan
dibandingkan data konsumsi. Dengan perhitungan ini maka akan
memungkinkan Tim Kuantifikasi mengetahui seberapa lama stok akan
bertahan dan apakah stok yang ada masih tersedia hingga jadwal
pengiriman berikutnya tiba;
c. untuk perencanaan pasokan, tingkat persediaan dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut:

Tingkat persediaan di gudang pusat:


𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑡𝑜𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 𝑑𝑖 𝑔𝑢𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑠𝑎𝑡
= 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑓𝑎𝑠𝑦𝑎𝑛𝑘𝑒𝑠 𝑑𝑖 𝑝𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡

Tingkat persediaan di gudang provinsi:


𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑡𝑜𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 𝑑𝑖 𝑔𝑢𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖
=
𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑓𝑎𝑠𝑦𝑎𝑛𝑘𝑒𝑠 𝑑𝑖 𝑝𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡

Tingkat persediaan di gudang kabupaten:


𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑡𝑜𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 𝑑𝑖 𝑔𝑢𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑏/𝑘𝑜𝑡𝑎
=
𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑓𝑎𝑠𝑦𝑎𝑛𝑘𝑒𝑠 𝑑𝑖 𝑝𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡

Tingkat persediaan di fasyankes:


𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑡𝑜𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 𝑑𝑖 𝑔𝑢𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑓𝑎𝑠𝑦𝑎𝑛𝑘𝑒𝑠
= 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑓𝑎𝑠𝑦𝑎𝑛𝑘𝑒𝑠 𝑑𝑖 𝑝𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡
- 27 -

d. Dokumentasikan tanggal kedaluwarsa untuk setiap jenis alokon yang


ada di stok gudang, untuk memastikan stok tersebut masih tersedia
dan dapat digunakan sebelum kedaluwarsa dan sebelum pengadaan
yang baru datang.
2. Membangun Parameter
Susunlah parameter secara jelas beserta sumber informasinya. Parameter
ini menjadi acuan dalam menghitung perencanaan pasokan, sesuai dengan
yang ditunjukkan pada Tabel 14 berikut ini:
Tabel 14.
Contoh Daftar Parameter yang digunakan dalam Perencanaan Pasokan
Kategori Asumsi Parameter Sumber
Manajemen  Stok maksimal yang digunakan: Pedoman Penerimaan,
inventaris semua tingkatan (pusat, provinsi, Penyimpanan dan Penyaluran
kabupaten/kota, Fasyankes),
yaitu:
-Kuantifikasi Provinsi: 18 bulan
(provinsi) + 6 bulan
(kabupaten/kota) + 4 bulan
(Fasyankes) = 28 bulan
-Kuantifikasi Pusat 3 bulan stok
penyangga
 Titik stok realokasi: stok yang
dianggap berlebih dan dapat
ditarik kembali untuk di realokasi
ke tempat lain. Untuk kuantifikasi
kebutuhan tahunan, yang dapat di
realokasi adalah stok yang
tersedia di gudang provinsi
Data stok Stok akhir yang digunakan:  Gudang: Laporan stokku
tersedia (stock on semua tingkatan (pusat, provinsi, dan Laporan Stock
hand) kabupaten/kota, Fasyankes) pada Opname
bulan yang di tentukan  Fasyankes: Laporan
F/II/KB
Status pengadaan Jumlah pengadaan tahun ini yang  Kontrak pengadaan tahun
tahun ini yang belum diterima namun diasumsikan ini
masih belum akan tetap diterima sebelum akhir  Data realisasi
diterima tahun pengadaan (pipeline order) pengadaan tahun ini
Prosedur  Rencana Umum Pengadaan  DIPA tahun anggaran
Pengadaan  Persiapan pelaksanaan berjalan
pengadaan  Kaji ulang dokumen
 Pelaksanaan pengadaan RUP
(Inspeksi, produksi, pemeriksaan,  Kontrak-kontrak tahun
pengiriman, penerimaan dan berjalan
pembayaran)  Sandingan
 Durasi atau lama waktu  dokumen tahun lalu
pengadaan dan tahun ini
Perkiraan bulan Bulan Juli yang akan datang Hasil analisa data
pasokan diterima pada setiap tahun kuantifikasi Realisasi pengadaan tahunan
di gudang provinsi
- 28 -

3. Menghitung Total Kebutuhan dan Biaya


a. Menghitung Total Kebutuhan Alokon
Pertimbangkan ke semua parameter di atas ke dalam hasil akhir
jumlah alokon yang diperkirakan dibutuhkan setiap bulannya. Maka
akan diperoleh jumlah rencana kebutuhan tahunan yang dituangkan
ke dalam dokumen Rencana Kebutuhan untuk pengadaan tahunan
per jenis alokon per provinsi dan untuk pusat.

Rumus menghitung jumlah yang dibutuhkan:


(Tingkat stok maksimum semua tingkatan dalam bulan – total status persediaan semua
tingkatan) x rata-rata perkiraan kebutuhan per bulan.

Penggunaan Parameter:
 SOH gudang provinsi + SOH gudang kabupaten/kota + SOH
Fasyankes + Pipeline order.
 Sesudah didapat hasil perhitungannya, lalu hitung tingkat
ketersediaan total (dalam bulan).
 Berdasarkan jumlah perkiraan kebutuhan perbulan, hitung
estimasi sisa stok pada bulan dimana diperkirakan barang akan
datang.

Contoh:
 Kuantifikasi menggunakan SOH bulan Juni 2018 dan dengan
lead time diperkirakan kedatangan barang pada Juli 2019, maka
hitung estimasi stok yang tersedia pada bulan Juli 2019.
 Hitung tingkat persediaan pada bulan Juli 2019 tersebut,
lalu hitung berapa jumlah alokon yang akan dibeli, yaitu
sejumlah untuk membuat tingkat persediaan mencapai
tingkat stok maksimum yang diinginkan, yaitu 28 bulan.
 Jika tingkat persediaan sudah melebihi 28 bulan, maka hal ini
berarti alokon tersebut tidak perlu dibeli kembali tahun ini,
karena sudah melebihi tingkat stok maksimal yang ditetapkan.

Menghitung Kebutuhan Sarana Penunjang Pelayanan Kontrasepsi


Contoh:
 Tahap Perkiraan
Di Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Juli tahun ini, dalam
proses tahapan perkiraan kebutuhan IUD untuk tahun x,
dilakukan rekonsiliasi kuantifikasi. Sesudah konsensus
- 29 -

bersama, dengan memperhitungkan berbagai pertimbangan


terhadap tipe data dan metodologi kuantifikasi, Tim Kuantifikasi
memutuskan untuk memilih metode konsumsi penyesuaian
terhadap cakupan pelaporan. Sehingga untuk IUD tersebut
jumlah perkiraan kebutuhan perbulannya adalah 860 buah.
 Tahap Perencanaan Pasokan Parameter ditetapkan sebagai
berikut:
Tingkat Stok Pusat Provinsi Kab/Kota Fasyankes
Minimum 6 3 2
Maksimum 3 18 6 4
Titik darurat (EOP) 3 1,5 0,5
Titik Stok 24 8 5
Realokasi

Lead Time Renbut Tahun X


Stok akhir di bulan Juni tahun ini
Perkiraan bulan pasokan diterima Juli tahun x
gudang provinsi

Metode-Perencanaan Pasokan
Menggunakan stok akhir yang tersedia di Gudang Prov + Gudang
Kab/kota + Fasyankes KB

Dalam proses perencanan pasokan, digunakan perhitungan:


1) Penggunaan parameter SOH
SOH gudang provinsi diketahui sebanyak 1.037 buah; SOH
gudang kabupaten/kota: 1.747 buah; SOH Fasyankes: 4.731
buah. Terdapat pengadaan yang belum terealisasi dan
diperkirakan akan tiba pada dua bulan mendatang (pipeline
order) sebanyak 2.000 buah.
Maka: 1.037+1.747+4.731+2.000 = 9.515 buah
2) Penggunaan hasil perkiraan kebutuhan bulanan
Dengan jumlah perkiraan kebutuhan sebanyak 860
buah/bulan, maka tingkat persediaan pada bulan Juni tahun
ini adalah = 9.515 / 860 = 11,1 bulan
Karena ketersediaan hanya bersisa 11,1 bulan, maka diperkirakan
IUD akan stock out bahkan sebelum IUD dari pengadaan yang baru
akan tiba di bulan Juli tahun X.
Sehingga jumlah IUD yang dibutuhkan untuk mencapai 28 bulan
= (28 –11,1) * 860 = 14.534 buah.
- 30 -

Maka Renbut IUD untuk Sulawesi Selatan pada tahun x adalah


sebanyak 14.534 buah.

Sarana penunjang pelayanan kontrasepsi yang disediakan oleh


program mencakup obat, alat kesehatan ataupun Perbekalan
Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) untuk pelayanan pemasangan dan
pencabutan kontrasepsi implan, antara lain:
1. Disposable syringe 3 ml
2. Obat anestesi: Lidokain injeksi 2% @ 2 ml tanpa adrenalin
3. Plester steril
4. Kain penutup operasi steril atau Doek Steril Disposable
5. Sarung tangan steril (disposable)
6. Analgetik: contoh asam mefenamat kaplet 500 mg dalam bentuk
strip @ 10 kaplet
7. Face mask/masker
8. Larutan antiseptik: misal Povidon Iodine
9. Safety box

Perhitungan kebutuhan sarana penunjang pelayanan pemasangan


dan pencabutan implan menggunakan rasio sebagai berikut:
 Setiap set Susuk KB dilengkapi dengan 1 buah Disposable
Syringe 3 ml, 1 ampul obat anestesi, 1 buah plester steril, 1 doek
steril disposable, 1 pasang sarung tangan steril, 1 strip analgetik,
1 buah face mask.
 Satu botol povidone iodine 30 ml digunakan untuk tiap 10 set
Susuk KB
 Penyediaan safety box berdasarkan perhitungan setiap safety box
untuk 100 Disposable Syringe

b. Menghitung Biaya
Berdasarkan data histori harga dari pengadaan sebelumnya, lakukan
perhitungan total biaya yang dibutuhkan per jenis alokon. Perhatikan
bila harga masing-masing adalah sama untuk semua daerah atau
terdapat perbedaan harga karena pertimbangan wilayah.
Hasil akhir ini disajikan kepada pimpinan untuk mengambil keputusan,
karena keputusan akhir untuk jumlah alokon yang akan dibeli
ditentukan oleh jumlah anggaran yang tersedia.
Tim Kuantifikasi Pusat juga perlu mempertimbangkan pilihan realokasi dari
provinsi yang memiliki kelebihan alokon (yaitu provinsi yang tingkat
persediaannya melebihi titik stok realokasi) ke provinsi yang
- 31 -

membutuhkan. Sehingga akan mengurangi kesenjangan anggaran.


Pertimbangkan juga untuk menghitung jumlah yang akan dibeli
berdasarkan prinsip rationing atau membuat rasio atas
kesenjangan anggaran. Misalnya jika anggaran yang tersedia hanya
bisa mencakup 80% dari kebutuhan, maka jumlah yang akan dibeli
menjadi 80% untuk masing-masing tingkat baik provinsi maupun
pusat.
Sesudah jumlah kebutuhan alokon disepakati, perhitungan
kebutuhan sarana penunjang pelayanan kontrasepsi dilakukan
dengan cara menyesuaikannya dengan jumlah alokon yang
dibutuhkan. Hasil final sebagai rencana kebutuhan tahunan
dituangkan kedalam dokumen Rencana Kebutuhan alokon dan sarana
penunjang pelayanan kontrasepsi.
Tim Kuantifikasi Provinsi membandingkan hasil kuantifikasi mereka
dengan dokumen Renbut yang berasal dari hasil Tim Kuantifikasi
Pusat. Dalam membandingkan kedua hasil, perlu diperhatikan bahwa
keduanya menggunakan sumber data serta prosedur kuantifikasi yang
sama.

4. Menyusun Rencana Pasokan


Pengiriman harus dijadwalkan agar tiba sebelum ketersediaan stok
mencapai tingkat stok minimum yang ditetapkan. Pada saat tiba di
perhitungan akhir, bulatkan jumlah pesanan mempertimbangkan satuan
kemasan.
Dalam beberapa kasus, jadwal pengiriman perlu disesuaikan untuk
mengakomodasi kendala dalam kapasitas penyimpanan. Jika mekanisme
pengadaan memungkinan, dapat dilakukan dengan membagi jadwal
pengiriman menjadi beberapa kali dalam setahun, dengan pertimbangan
kapasitas gudang.
Penyajian Hasil Kuantifikasi
Tim kuantifikasi mempresentasikan hasil dari kuantifikasi kepada
pimpinan, sehingga memungkinkan tim menerima umpan balik tentang
hasil perhitungan kebutuhan, asumsi yang dibuat pada proses perkiraan,
serta sumber data yang digunakan. Dengan menyajikan hasil kuantifikasi,
tim dapat menampilkan tingkat persediaan nasional untuk alokon dan
memaparkan tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat
stok di tingkat yang memadai.
Penyajian hasil kuantifikasi kepada pemangku kebijakan, pengelola
program, pengelola pengadaan, dan pengelola alokon, menjadi dasar untuk
keputusan dan tindakan berikut:
- 32 -

 Perencanaan program dan keputusan penganggaran.


 Mobilisasi dan alokasi anggaran untuk pengadaan alokon
 Koordinasi berbagai sumber anggaran untuk pengadaan.
 Menginformasikan tindakan untuk pengadaan, berapa banyak yang
diadakan dan kapan hasil pengadaan diterima.
 Menyesuaikan waktu pengadaan dan jadwal pengiriman dan
penerimaan untuk memastikan kelangsungan penyediaan dan
menghindari stok kosong atau stock out dan stok berlebih.

Ketika melakukan penyajian hasil kuantifikasi, tim harus menjelaskan


setiap langkah dari kuantifikasi, termasuk hal-hal di bawah ini:
 Ruang lingkup, tujuan, dan kerangka waktu dari kuantifikasi
 Ulasan dari semua sumber data yang digunakan dan tantangan
dalam pengumpulan data.
 Ringkasan dari asumsi perkiraan utama dan deskripsi dari apa
sumber data yang digunakan untuk membuat asumsi.
 Ringkasan dari asumsi perencanaan pasokan (terutama jika asumsi
tentang jumlah dan waktu komitmen pendanaan akan
mempengaruhi pengadaan dan pengiriman).
 Total jumlah setiap alokon yang dibutuhkan untuk setiap tahun
kuantifikasi
 Tingkat persediaan nasional per alokon, mempertimbangkan alokon
yang akan segera kedaluwarsa, stock out, stok berlebih,
berdasarkan hasil analisa tingkat persediaan.
 Ringkasan prosedur dan durasi pengiriman oleh penyedia.
 Tindakan khusus yang diperlukan untuk mengatasi
ketidakseimbangan stok yang kritis atau kekurangan dan
mempertahankan stok pada tingkatan yang ditentukan.

E. REVIU HASIL KUANTIFIKASI


Dalam rangka meningkatkan akurasi hasil kuantifikasi dilakukan pemantauan
dan evaluasi dengan mengkaji ulang dan memperbaharui kuantifikasi pada
tahun berjalan sekaligus untuk menghitung untuk tahun berikutnya.
1. Mengkaji Ulang Data dan Memperbaharui Data Kuantifikasi kebutuhan
tidak berakhir hanya sampai jumlah kebutuhan final didapatkan.
Perlu dilakukan pemantauan yang dilakukan melalui pengkajian dan
pembaharuan data perkiraan dan perencanaan pasokan secara rutin
sesuai dengan perkembangan data. Pemantauan dan pembaharuan
kuantifikasi sangat penting bagi pengelola program dan pemangku
kebijakan lainnya untuk menjaga ketersediaan alokon dan membuat
- 33 -

keputusan tepat waktu tentang pembiayaan, pengadaan dan pengiriman


alokon.
Mengkaji ulang dan memperbaharui kuantifikasi meliputi kegiatan sebagai
berikut:
a. membandingkan data perkiraan dengan data konsumsi aktual untuk
menentukan kualitas dari perencanaan atau mereviu tingkat
kesalahan/tingkat keakuratan atau degree of error/forecast accuracy;
b. mengkaji dan memperbaharui data perkiraan dan asumsi yang
digunakan;
c. memperbarui stok saat ini per jenis alokon dan mengkaji tingkat
ketersedian di semua tingkatan per jenis alokon;
d. mengkaji ulang dan pembaharuan jadwal pengiriman dari penyedia
untuk menjamin pasokan yang berkelanjutan dan menjaga tingkat
stok yang diinginkan; dan
e. menghitung ulang perkiraan kebutuhan menggunakan data terbaru.
Pemantauan dan pembaharuan kuantifikasi dapat dilakukan setiap enam
bulan sekali, atau diluar dari jadwal itu jika dibutuhkan karena adanya
pertumbuhan yang sangat cepat atau adanya perubahan arah program.
Idealnya dilakukan melalui pertemuan lokakarya atau workshop
kuantifikasi sebelum pertemuan Konsolidasi Perencanaan (Koren), sesuai
dengan Gambar 3 dan Tabel 15 berikut:

Gambar 3
Simulasi tenggat waktu kuantifikasi
- 34 -

Tabel 15
Contoh jadwal lokakarya kuantifikasi per semester

Lokakarya
Kuantifikasi Waktu ideal Keluaran
Sebelum Awal Maret • Evaluasi atas perkiraan tahun
Pertemuan sebelumnya berdasarkan tingkat
Koren I kesalahan/ tingkat keakuratan
• Kajian tingkat ketersediaan,
asumsi perkiraan dan perencanaan
pasokan dari kuantifikasi
sebelumnya
• Draft I kuantifikasi tahun
berikutnya untuk diajukan pada
Koren I
Sebelum Awal • Evaluasi atas perkiraan tahun ini
Koren II Agustus berdasarkan tingkat kesalahan/
tingkat keakuratan
• Kajian tingkat ketersediaan,
asumsi perkiraan dan perencanaan
pasokan dari kuantifikasi
sebelumnya
• Draft II kuantifikasi tahun
berikutnya

Agar perencanaan menjadi lebih berguna dan efektif, lokakarya kuantifikasi


sebaiknya dilakukan setelah realisasi pengadaan. Pada Gambar dan Tabel di
atas, digunakan asumsi bahwa alokon yang diadakan akan tiba sekitar
bulan Juli tahunnya, maka pada bulan Agustus sudah dapat dilakukan
pertemuan evaluasi kuantifikasi yang tidak hanya memperbaharui data
berdasarkan pengadaan yang telah terealisasi, namun juga melakukan
kuantifikasi untuk tahun berikutnya.

2. Evaluasi Akurasi Kuantifikasi


Perkiraan sebagaimana pengertian harfiahnya merupakan suatu perkiraan
atau estimasi, sehingga tidak ada perkiraan yang sempurna. Masing-
masing metode kuantifikasi akan menghasilkan akurasi hasil yang berbeda.
Dengan melakukan pengukuran terhadap akurasi perkiraan atau
forecasting accuracy akan membantu tim kuantifikasi dalam memahami
metode perkiraan atau asumsi mana yang menghasilkan tingkat akurasi
yang lebih tinggi.
Terdapat beberapa metode dalam menghitung akurasi perkiraan, yang
kesemuanya membandingkan antara hasil perkiraan sebelumnya dengan
konsumsi aktual selama periode yang sama.
Salah satu metode perhitungan yang lebih sederhana dan umum digunakan
- 35 -

disebut Mean Absolute Percentage Error (MAPE) atau persentase kesalahan


mutlak/pasti, dimana dihitung dengan mengambil perbedaan mutlak
antara perkiraan dengan konsumsi yang sebenarnya (mutlak berarti tanpa
mengarah ke pertimbangan apapun) lalu membaginya dengan konsumsi
yang sebenarnya.

𝐴𝐵𝑆 (𝐾𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 − 𝑝𝑒𝑟𝑘𝑖𝑟𝑎𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛)


𝑥 100% = % 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎

ABS dalam rumus excel didefinisikan sebagai absolut. Sedangkan konsumsi


sebenarnya merupakan jumlah konsumsi akual yang didapat dari data
historis. Sedangkan perkiraan kebutuhan merupakan jumlah kebutuhan
yang diperkirakan pada kuantifikasi sebelumnya.

Karena MAPE digunakan untuk menghitung tingkat kesalahan, maka


semakin kecil persentase tingkat kesalahan, semakin akurat perkiraan yang
dilakukan.
Metode lainnya dalam menentukan akurasi perkiraan mencakup Mean
Deviation (MD), Mean Absolute Deviation (MAD), Mean Squarred Error (MSE),
Root Mean Squared Error (RMSE), dan Mean Percent Error (MPE). Evaluasi
dalam akurasi perkiraan dapat dilakukan di setiap tingkatan pada
lokakarya kuantifikasi, baik di pusat maupun di provinsi. Dan masing-
masing tingkatan memberikan umpan balik hasil evaluasi, sehingga dapat
dilakukan tindak lanjut dan perbaikan untuk meningkatkan akurasi
perkiraan mendatang.
Contoh:
 Workshop kuantifikasi tahun 2016
Pada workhop ini untuk Provinsi Jawa Tengah diperkirakan jumlah
kebutuhan kontrasepsi Pil untuk tahun 2017 sebagai berikut:
- Tipe data konsumsi yang disesuaikan dengan pelaporan: 183.375
cycle/bulan
- Tipe data pelayanan yang disesuaikan dengan pelaporan:137.516
cycle/bulan
- Tipe data target (PPM): 817.794 cycle/bulan untuk seluruh
populasi. Dengan stratifikasi berdasarkan pengguna alokon
program sebanyak 24%, menjadi 386.196 cycle/bulan.
Pada tahap rekonsiliasi, konsensus dilakukan dan diputuskan
memilih data konsumsi yang disesuaikan dengan cakupan pelaporan.
 Workshop kuantifikasi tahun 2018
Pada workshop ini, data historis konsumsi sebenarnya untuk tahun

Anda mungkin juga menyukai