0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan11 halaman

Prinsip dan Metode Pengolahan Air Bersih

Dokumen ini membahas tentang prinsip pengolahan air bersih dan air minum, termasuk metode fisika, kimia, dan biologi yang digunakan untuk menjernihkan air. Proses pengolahan air meliputi koagulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi, dengan pemilihan metode tergantung pada kualitas air baku. Selain itu, dijelaskan juga tentang media filter dan jenis-jenis filtrasi yang digunakan dalam pengolahan air, seperti filter pasir lambat dan cepat.

Diunggah oleh

Muhamad fadly Arif
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan11 halaman

Prinsip dan Metode Pengolahan Air Bersih

Dokumen ini membahas tentang prinsip pengolahan air bersih dan air minum, termasuk metode fisika, kimia, dan biologi yang digunakan untuk menjernihkan air. Proses pengolahan air meliputi koagulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi, dengan pemilihan metode tergantung pada kualitas air baku. Selain itu, dijelaskan juga tentang media filter dan jenis-jenis filtrasi yang digunakan dalam pengolahan air, seperti filter pasir lambat dan cepat.

Diunggah oleh

Muhamad fadly Arif
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip Pengolahan Air Bersih

Pengolahan dan penyediaan air bersih maupun air minum merupakan proses perubahan
sifat fisik, kimia, dan biologi dari air baku agar memenuhi syarat untuk dapat digunakan
sebagai air bersih dan air minum. Tujuan dari kegiatan pengolahan air minum adalah
untuk menurunkan kekeruhan, mengurangi bau, rasa, warna, menurunkan dan
mematikan kandungan mikroorganisme, mengurangi kadar bahan-bahan yang terlarut
dalam air, menurunkan kesadahan, dan memperbaiki derajat keasaman (pH).
Pengolahan air dapat dilakukan secara individu maupun secara kolektif. Pengolahan air
secara khusus dilakukan oleh Perusahaan Air Minum (PAM). Prinsip dasar dari
penjernihan atau pengolahan air bersih meliputi beberapa aspek, yaitu bersifat tepat
guna dan sesuai dengan kondisi lingkungan fisik maupun sosial budaya masyarakat
setempat, bahan-bahan yang digunakan sederhana, murah, tersedia di lokasi, dan mudah
diperoleh, serta efektif dalam proses untuk memurnikan air. Pengolahan air bersih
secara umum terdiri dari 3 metode yaitu metode fisika (pengolahan air secara fisik)
yang meliputi penyaringan dan pengendapan, metode kimia (melibatkan bahan kimia
pada pengolahannya) yang meliputi koagulasi, aerasi, desinfeksi, dan lain-lain, serta
metode biologi yaitu menggunakan bantuan mikroorganisme (Rohim, 2020).

Menurut Nursubiyantoro, dkk. (2020), instalasi pengolahan air permukaan secara


konvensional yang paling banyak digunakan di berbagai negara berkembang dengan
urutan proses pengolahannya sebagai berikut:
1. Koagulasi
Koagulasi merupakan penambahan bahan kimia (koagulan) ke dalam air olahan
agar terjadi penggumpalan partikel-partikel tersuspensi. Koagulan ditambahkan
pada air yang banyak mengandung partikel koloid yang sulit mengendap. Bahan
kimia tambahan diperlukan untuk mendestabilisasi partikel koloid agar bentuk dan
ukurannya menjadi lebih besar dan lebih mudah diendapkan.
2. Sedimentasi
Sedimentasi merupakan proses dimana air bergerak ke dalam bak sedimentasi yang
tenang dan terjadi proses pengendapan. Aliran air pada proses sedimentasi dibuat
laminer agar tidak mengganggu proses pengendapan dari partikel tersuspensi di
dalam air. Partikel padatan akan terendapkan pada dasar bak sedimentasi.
3. Filtrasi
Filtrasi adalah proses pengaliran air melalui pasir, membran, atau bahan lainnya
yang dapat menyaring partikel di dalam air olahan. Proses filtrasi bertujuan untuk
menurunkan kekeruhan pada air. Padatan akan tersaring pada pori-pori media
filtrasi.
4. Desinfeksi
Desinfeksi merupakan proses penambahan bahan kimia, ozon, atau sinar ultraviolet
ke dalam air untuk membunuh mikroorganisme patogen. Mikroorganisme patogen
yang berbahaya perlu untuk dihilangkan dari dalam air. Bahan kimia atau proses
lain mungkin juga digunakan untuk mencegah korosi sistem distribusi atau
mencegah kerusakan pada gigi.

Pemilihan metode untuk pengolahan air bersih dan air minum bergantung kepada
kualitas air baku yang digunakan dan kualitas produk yang diinginkan. Kualitas air baku
ditentukan oleh kandungan bahan pencemar yang ada di dalamnya . Pencemar utama
yang terdapat di dalam air baku antara lain bakteri patogen dan bahan tersuspensi . Air
permukaan yang biasanya digunakan sebagai air baku apabila kekeruhan airnya sangat
tinggi dan bervariasi sepanjang tahun maka diperlukan proses pengolahan yang meliputi
pengendapan awal untuk menghilangkan lumpur kasar, dilanjutkan dengan proses
koagulasi-flokulasi untuk menghilangkan lumpur halus, lalu penyaringan air (filtrasi),
dan pembebasan kuman (desinfeksi). Air tanah biasanya telah memenuhi syarat untuk
air bersih. Air yang sudah jernih dan tidak berwarna tidak memerlukan usaha yang
kompleks untuk menurunkan kekeruhan (Arsana & Astiti, 2023).

Standar mutu air minum ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air Minum. Kualitas air minum sebaiknya memenuhi persyaratan secara fisik,
kimia, dan mikrobiologi. Persyaratan air minum secara fisik yaitu tidak berwarna,
temperatur normal, tidak berasa, tidak berbau, jernih atau tidak keruh, dan tidak
mengandung zat padatan. Persyaratan air minum secara kimia yaitu memiliki pH netral,
tidak mengandung bahan kimia beracun, tidak mengandung garam atau ion-ion logam,
kesadahannya rendah, dan tidak mengandung bahan organik. Persyaratan air minum
secara mikrobiologi yaitu tidak mengandung bakteri patogen misalnya bakteri golongan
coliform, salmonella typhi, dan vibrio chlotera, kemudian tidak mengandung bakteri
non-patogen seperti actinomycetes, phytoplankton coliform, dan dadocera (Kusnaedi,
2010).

2.2 Pengertian Filtrasi

Filtrasi merupakan suatu proses pemisahan zat padat dari fluida cair maupun gas yang
melalui suatu medium berpori atau bahan berpori lain untuk menghilangkan sebanyak
mungkin zat padat halus yang terdapat di dalam suatu fluida . Filtrasi merupakan salah
satu metode pemisahan secara fisik. Cairan yang telah melalui tahap filtrasi atau
penyaringan disebut dengan filtrat, sedangkan untuk padatan yang tertumpuk di
penyaring disebut sebagai residu. Jenis-jenis filtrasi yaitu filtrasi umum, filtrasi vakum,
filtrasi panas, filtrasi dingin, dan filtrasi hampa. Filtrasi umum adalah bentuk filtrasi
paling dasar yang menggunakan gaya gravitasi untuk menyaring campuran. Campuran
dituangkan dari atas ke media saring dan adanya gaya gravitas akan menarik cairan ke
bawah. Padatan yang tersaring akan tertinggal pada media filter, sedangkan cairan yang
tersaring mengalir di bawahnya. Proses filtrasi yang dilakukan dengan media berbutir
mekanismenya yaitu penyaringan secara mekanis, sedimentasi, adsorbsi atau gaya
elektrokinetik, koagulasi dalam filter bed, dan aktivitas biologis (Ma’ruf, dkk., 2021).

Jenis filtrasi salah satunya adalah filter pasir lambat. Sistem saringan pasir lambat
merupakan teknologi pengolahan air yang sangat sederhana dengan hasil air bersih yang
dihasilkan dengan kualitas yang baik. Sistem saringan pasir lambat memiliki
keunggulan, antara lain tidak memerlukan bahan kimia koagulan yang mana bahan
kimia ini merupakan kendala yang sering dialami pada proses pengolahan air di daerah
pedesaan. Saringan pasir lambat dapat menurunkan kadar besi, timbal, dan mangan
hingga 97% karena adanya biomassa bakteri yanng terdistribusi berdasarkan kedalaman
media. Saringan pasir lambat menggunakan pasir sebagai media filter dengan ukuran
butiran yang sangat kecil, tetapi memiliki kandungan kuarsa yang tinggi . Proses
penyaringan dengan pasir lambat membutuhkan variasi media filtrasi yang tepat, di
antaranya berupa pasir, kerikil, dan media filtrasi yang lain seperti bioball dan bioring.
Bioball memiliki luas permukaan dan volume rongga (porositas) yang besar, sehingga
bioball mempunyai kemampuan dalam melekatkan mikroorganisme dalam jumlah yang
besar dan risiko mengalami penyumbatan sangat kecil . Bioring memiliki sifat yang
tidak mudah bereaksi, memiliki kelembapan yang tinggi, dan mudah digunakan
(Fibriana, 2021).

Jenis filtrasi yang lain adalah filter pasir cepat atau rapid sand filter. Rapid sand filter
(saringan cepat) merupakan penyaringan partikel yang didahului proses pengolahan
kimiawi (koagulasi). Kecepatan aliran air dalam media pasir lebih cepat karena ukuran
media pasir lebih besar. Media yang digunakan untuk proses filter pasir cepat atau rapid
sand filter tersusun dari pasir silika alami, antrasit atau pasir garnet yang memiliki
variasi ukuran, bentuk dan komposisi kimia. Filter pasir cepat digunakan untuk
menyaring partikel yang tidak terendapkan di bak sedimentasi. Flok akan tertempel
pada permukaan pasir dan mengumpul sehingga dapat tertahan pada media pasir tanpa
keluar menuju ke air olahan. Kecepatan aliran berpengaruh pada proses rapid sand
filter. Debit air yang cepat tersebut menyebabkan lapisan bakteri yang berguna untuk
menghilangkan patogen namun membutuhkan proses desinfeksi yang lebih intensif.
Mekanisme filtrasi dalam filter pasir cepat meliputi penyaringan secara mekanis
(mechanical straining), sedimentasi, adsorpsi atau gaya elektrokinetik, koagulasi di
dalam filter bed, dan aktvitas biologis. Bagian-bagian filter pasir cepat meliputi bak
filter, media filter, yaitu media yang digunakan untuk menyaring polutan, dan sistem
underdrain, yaitu sistem pengaliran air yang telah melewati proses filtrasi (Achmad,
1996).

2.3 Media Filter


Media filter merupakan media yang digunakan untuk menyaring padatan pada suatu
cairan. Media filter dalam proses filtrasi dapat terdiri dari satu jenis bahan atau media
saja yang disebut dengan single media maupun terdiri dari beberapa lapisan media atau
yang disebut dengan multi media. Media filter secara umum dapat terdiri dari kapas
filtrasi, batu berukuran sedang, pasir, arang, ijuk, dan batu kerikil, yang mana memiliki
fungsinya masing-masing yang tentunya sangat penting pada tahap filtrasi. Kapas
filtrasi berfungsi agar endapan kotoran air tidak naik lagi ke atas . Batu berukuran
sedang berfungsi untuk menahan kapas filtrasi . Pasir dan batu kerikil berfungsi untuk
menjernihkan air. Arang berfungsi untuk menghilangkan bau pada air . Ijuk berfungsi
untuk menyaring serbuk atau kotoran yang terdapat pada air (Iskandar, dkk., 2021).

Media penyaringan memiliki kegunaan masing-masing, hal ini diharapkan agar


penyaringan dapat berjalan dengan maksimal. Media yang digunakan pada proses
penyaringan sangat berpengaruh kepada media yang lainnya karena setiap media
memiliki keterkaitan dan ketergantungan kepada media yang satu dengan yang lainnya.
Ketergantungan antar media filtrasi dapat dicontohkan yaitu apabila salah media filter
bermasalah maka akan menggangu kinerja dari media yang lainnya dan menyebabkan
kinerja dari alat filterisasi tidak dapat berjalan atau bekerja dengan maksimal, sehingga
hasil yang didapat dari proses penyaringan sangat tidak memuaskan. Terganggunya
kinerja dapat mengakibatkan media yang lain ikut bermasalah (rusak atau kotor),
bahkan yang lebih parah lagi dapat mengakibatkan alat fitrasi dengan menggunakan
membran akan rusak dan tidak dapat dipakai lagi (Effendi, 2003).

Air olahan yang mempunyai padatan dengan ukuran seragam, saringan yang sebaiknya
digunakan adalah single medium. Ukuran padatan yang beragam, sebaiknya digunakan
saringan dual medium atau three medium. Penyaringan air olahan yang mengandung
padatan beragam, dari ukuran besar sampai kecil atau halus. Penyaringan dilakukan
dengan cara membuat saringan bertingkat, yaitu saringan kasar, saringan sedang sampai
saringan halus. Filter pasir lambat mulai digunakan di Amerika pada 1872, filter pasir
lambat ini sangat menjanjikan untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) ukuran
kecil-sedang. Filter pasir lambat mempunyai keterbatasan pemakaian, yaitu jika air yang
akan disaring terlalu keruh. Filter pasir cepat tidak sebaik filter pasir lambat. Filter pasir
cepat hanya mampu mengurangi sebagian kekeruhan air dan bakteri. Filter pasir cepat
meski hanya mengurangi sebagian kekeruhan, tetapi cukup bermanfaat jika saluran
pasir lambat tidak dapat digunakan, misalnya karena air terlalu keruh. Filter pasir cepat
juga mempunyai keuntungan lain, yaitu area yang digunakan untuk unit filter tidak
terlalu besar karena kecilnya ruang antar partikel pada filter pasir lambat (Triarmadja,
2019).
DAFTAR PUSTAKA

1. Achmad, H., 1996, Kimia Larutan, Erlangga, Jakarta.

2. Arsana, I. G. N. K., & Astiti, S. P. C., 2023, Penyediaan Air Minum Berbasis
Masyarakat, Kaizen Media Publishing, Bandung.

3. Effendi, H., 2003, Telaah Kualitas Air, Kanisius, Surabaya.

4. Fibriana, R., 2021, Pembuatan Saringan Pasir di Sungai Atu Kul Tembolon
Kabupaten Bener Meriah untuk Mengurangi Kekeruhan, Jurnal Biram Samtani,
Volume 05, Nomor 01, Universitas Gajah Putih, Aceh Tengah (Diakses pada hari
Jum’at, 25 Oktober 2024 pukul 22.43 WITA).

5. Iskandar, Y., Wahyuni, R. S., Rohmat, dkk., 2021, Filtrasi Air dengan
Menggunakan Alat Sederhana untuk Menghasilkan Air Bersih bagi Warga Desa
Cikurutug Kecamatan Cireunghas, Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat,
Volume 07, Nomor 01, Universitas Nusa Putra, Sukabumi (Diakses pada hari
Jum’at, 25 Oktober 2024 pukul 22.27 WITA).

6. Kusnaedi, 2010, Mengolah Air Kotor untuk Air Minum, Penebar Swadaya, Bekasi.

7. Ma’ruf, Subagyo, R., Isworo, H., dkk., 2021, Studi Simulasi Filtrasi pada Formasi
Tiga Jenis Ukuran Membran Berbeda dengan Variasi Kecepatan dan Tekanan,
Jurnal Teknik Mesin, Volume 08, Nomor 01, Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarbaru (Diakses pada hari Jum’at, 25 Oktober 2024 pukul 22.44 WITA).

8. Nursubiyantoro, E., Ismianti, & Wibowo, A. W. A., 2020, Otomasi Sistem


Pengolahan Air, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPN
Veteran Yogyakarta, Yogyakarta.
9. Rohim, M., 2020, Teknologi Tepat Guna Air Bersih, Qiara Media, Pasuruan.

10. Triarmadja, R., 2019, Teknik Penyediaan Air Minum Perpipaan, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
LAMPIRAN
`

Anda mungkin juga menyukai