Langkah pertama dalam menulis karya ilmiah adalah mencari research gap.
Research gap
merupakan celah atau kekurangan dalam penelitian yang telah ada, yang dapat menjadi dasar
untuk penelitian baru. Proses ini dilakukan dengan cara meninjau literatur yang relevan,
mengidentifikasi tren, serta menemukan isu atau pertanyaan yang belum terjawab secara
memadai. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki
kebaruan dan memberikan kontribusi nyata pada bidang yang dikaji.
Langkah kedua adalah mendesain penelitian. Setelah menemukan research gap, langkah
berikutnya adalah merancang penelitian yang terstruktur. Hal ini meliputi penentuan pertanyaan
penelitian, metodologi, pengumpulan data, dan analisis. Penelitian harus dirancang dengan baik
agar hasilnya dapat menjawab pertanyaan penelitian secara valid dan dapat diandalkan. Dengan
desain yang kuat, peneliti dapat memastikan bahwa proses penelitian berjalan sistematis dan
menghasilkan data yang sesuai untuk dianalisis.
Langkah ketiga adalah memvisualisasikan data. Data yang diperoleh dari penelitian perlu
disajikan dalam bentuk visual agar lebih mudah dipahami. Peneliti dapat menggunakan grafik,
tabel, atau diagram untuk menggambarkan hasil penelitian. Memilih format visualisasi yang
tepat, seperti diagram batang, pie chart, atau scatter plot, sangat penting untuk menyampaikan
data dengan jelas. Tujuan utama dari visualisasi adalah memberikan gambaran ringkas dan
informatif mengenai temuan penelitian.
Langkah terakhir adalah menyusun naskah karya ilmiah. Peneliti menyusun laporan
penelitian dalam format yang sesuai dengan standar penulisan ilmiah. Naskah tersebut biasanya
terdiri dari beberapa bagian utama, yaitu abstrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, dan
kesimpulan. Penyusunan naskah yang baik membutuhkan kejelasan, konsistensi, dan penulisan
yang sistematis agar dapat dipublikasikan dalam jurnal atau forum ilmiah. Dengan demikian,
hasil penelitian dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi ilmu pengetahuan.
Mencari Research Gap adalah proses untuk mengidentifikasi perbedaan, kekosongan, atau
ketidaksesuaian dalam pengetahuan atau pemahaman mengenai suatu topik atau masalah
penelitian. Research gap menjadi dasar penting untuk menentukan kebaruan dan relevansi
penelitian yang akan dilakukan. Proses ini dapat dilakukan melalui observasi langsung, dengan
cara mengidentifikasi kondisi aktual di lapangan yang dibandingkan dengan kondisi ideal yang
diharapkan.
Pada tingkat pendidikan S1, sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)
Level 6, mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan keahlian di bidangnya dan
memanfaatkan ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEKS) untuk menyelesaikan masalah. Selain
itu, mahasiswa juga harus mampu beradaptasi terhadap berbagai situasi yang dihadapi dalam
penyelesaian masalah. Untuk level di atasnya, hasil penelitian ini diarahkan pada publikasi
internasional guna memberikan dampak yang lebih luas.
Dalam pencarian research gap, peneliti juga perlu mengevaluasi solusi-solusi yang sudah ada,
baik melalui literatur maupun pengamatan langsung. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui
apakah solusi tersebut telah mencakup semua aspek yang relevan, atau justru masih ada
kekurangan yang dapat diatasi dengan penelitian baru. Salah satu indikator keberhasilan adalah
penemuan aspek kebaruan yang belum pernah diteliti sebelumnya, sehingga memberikan nilai
tambah pada penelitian.
Mencari research gap dapat dilakukan melalui analisis pustaka dengan beberapa
langkah penting. Langkah pertama adalah memilih topik atau pertanyaan penelitian
yang menarik dan memotivasi Anda. Setelah itu, cari kata kunci dan istilah terkait
dengan topik yang telah Anda pilih untuk memperluas cakupan pencarian.
Selanjutnya, identifikasi topik atau isu yang belum banyak dibahas atau tidak
terjawab dalam penelitian yang sudah ada, khususnya yang berhubungan dengan
topik utama Anda. Terakhir, bacalah ulasan sistematis untuk mendapatkan
gambaran yang lebih komprehensif mengenai penelitian sebelumnya dan
menemukan celah penelitian yang dapat diisi. Salah satu platform yang dapat
mendukung proses ini adalah Publish or Perish, yang membantu menganalisis
literatur akademik secara mendalam.
Mendesain penelitian yang baik memerlukan persiapan matang, karena artikel yang berkualitas
berasal dari penelitian yang dirancang dengan baik. Salah satu langkah utama adalah
menggunakan metode penelitian yang bersumber dari literatur mutakhir dan primer, sehingga
hasil penelitian dapat menjadi relevan dan berbobot. Selain itu, pemilihan responden yang sesuai
dengan tujuan penelitian juga menjadi aspek penting untuk memastikan validitas data yang
diperoleh.
Dalam proses pengumpulan data, penting untuk menggunakan instrumen yang tepat. Peneliti
dapat mengembangkan sendiri instrumen tersebut atau memanfaatkan instrumen yang telah
dikembangkan oleh peneliti lain dan terbukti valid. Selanjutnya, metode pengambilan data yang
dipilih harus mendukung kebutuhan penelitian, sehingga data yang diperoleh bisa maksimal.
Analisis data juga membutuhkan perhatian khusus. Menentukan teknik analisis yang tepat akan
mempermudah peneliti dalam menarik kesimpulan yang relevan dengan pertanyaan penelitian.
Terakhir, peneliti harus mematuhi etika penelitian, seperti menjaga kerahasiaan responden,
memperoleh izin penelitian, dan mengikuti standar etik tertentu untuk menjaga integritas
penelitian.
Proses menyusun karya ilmiah, khususnya dalam menulis artikel, memiliki tahapan yang
sistematis. Tahap awal adalah menyusun Figures atau Tables yang berisi data hasil penelitian.
Data ini merupakan fondasi utama artikel ilmiah dan harus disajikan dengan jelas serta
mendukung narasi penelitian. Penyajian data yang baik akan mempermudah pembaca memahami
inti penelitian.
Setelah data siap, tahap berikutnya adalah menulis bagian Methods, Results, dan Discussion.
Bagian Methods menjelaskan bagaimana penelitian dilakukan, sehingga pembaca dapat
memahami validitas dan reliabilitas data. Kemudian, Results memuat temuan penelitian,
sementara Discussion bertugas menginterpretasi hasil tersebut, menghubungkannya dengan
literatur yang relevan, dan memberikan pandangan terhadap temuan baru yang signifikan.
Langkah selanjutnya adalah menyusun bagian Introduction dan Conclusion. Bagian Introduction
bertujuan memperkenalkan konteks penelitian, menjelaskan latar belakang, serta menunjukkan
gap penelitian yang ingin diatasi. Sementara itu, Conclusion merangkum temuan utama dan
menyampaikan implikasi penelitian, baik secara teoritis maupun praktis.
Terakhir, susun Title, Abstract, dan Keywords. Bagian ini menjadi penarik perhatian pembaca
pertama kali, sehingga harus ditulis secara singkat namun padat. Judul yang menarik, abstrak
yang ringkas, dan kata kunci yang relevan akan meningkatkan visibilitas artikel pada platform
akademik dan memperluas jangkauan pembaca.
Naskah yang baik harus berisi pesan ilmiah yang jelas, bermanfaat, dan menarik. Pesan yang
disampaikan harus relevan dengan audiens dan memberikan kontribusi terhadap pengetahuan di
bidang yang dibahas. Dengan demikian, naskah tidak hanya menjadi informatif tetapi juga
memiliki nilai tambah bagi pembacanya.
Selain itu, naskah yang baik harus mengalir secara logis agar mudah diikuti oleh pembaca. Setiap
ide dan argumen harus disusun secara sistematis, sehingga pembaca dapat memahami isi naskah
tanpa kebingungan. Penulis perlu memastikan hubungan antarbagian dalam naskah terjaga
dengan baik.
Format naskah juga memainkan peran penting dalam menampilkan materi terbaik. Tata letak
yang rapi, penggunaan tabel atau grafik yang sesuai, dan konsistensi dalam penulisan dapat
membantu pembaca fokus pada isi tanpa terganggu oleh masalah teknis. Penyajian visual yang
mendukung teks juga dapat meningkatkan daya tarik naskah.
Terakhir, gaya penulisan harus mampu menyampaikan pesan secara jelas. Pilihan kata yang
tepat, kalimat yang efektif, serta penggunaan istilah ilmiah yang sesuai akan memperkuat
kredibilitas naskah. Dengan gaya penulisan yang menarik dan profesional, naskah dapat menjadi
lebih mudah dipahami dan diingat oleh pembaca.