0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan10 halaman

Kontribusi Pendapatan Daerah Bitung

Diunggah oleh

Novi Yanti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan10 halaman

Kontribusi Pendapatan Daerah Bitung

Diunggah oleh

Novi Yanti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum)

Vol. 5 No. 2 Januari-Juni 2022, halaman 1231 - 1240


1231

Analisis Kontribusi Komponen Penerimaan Daerah Terhadap Alokasi


Belanja Modal Pemerintah Kota Bitung

Analysis of the Contribution of Regional Revenue Components to the


Government of Bitung Capital Expenditure Allocation
Faisal Humiang1, Hendrik Manossoh2, Peter Kapojos3
1,2,3
, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas Sam Ratulangi,
[Link] Bahu, Manado, 95115, Indonesia
Email : faisalhumiang@[Link]

ABSTRACT- Regional revenue or regional revenue is money that goes to the regional treasury or more based
on the regulation of the Minister of Home Affairs. Article 17 Paragraph (1) Regional revenue consists of
regional revenue and financing revenue. Regional revenue is the right of the regional government which is
recognized as an addition to net asset value. Meanwhile, financing receipts are all receipts that are paid back
and / or expenditures that will be received back, both in the related fiscal year and in subsequent fiscal years.
Regional revenue is a very important revenue for local governments in supporting regional development in
order to finance regional projects and activities. This study aims to determine how much the contribution of
each component of regional revenue to the city government spending of Bitung. The method used in this
research is descriptive qualitative method.

Keywords : Regional revenue, Capital Expenditure

ABSTRAK-Pendapatan daerah atau pendapatan daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah atau lebih
berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri. Pasal 17 Ayat (1) Pendapatan daerah terdiri dari pendapatan
daerah dan pendapatan pembiayaan. Pendapatan daerah merupakan hak pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah nilai kekayaan bersih. Sedangkan penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang dibayar
kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan
maupun pada tahun anggaran berikutnya. Pendapatan daerah merupakan penerimaan yang sangat penting bagi
pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan daerah dalam rangka membiayai proyek dan kegiatan
daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi masing-masing komponen
pendapatan daerah terhadap belanja pemerintah kota Bitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif kualitatif.

Kata Kunci : Pendapatan Daerah, Belanja Modal

1. PENDAHULUAN
Kebijakan pemerintah Indonesia tentang otonomi daerah, yang mulai dilaksanakan secara
efektif tanggal 1 Januari 2001, merupakan kebijakan yang dipandang sangat demokratis dan
memenuhi aspek desentralisasi pemerintah yang sesungguhnya. Adanya implementasi otonomi daerah
dan desentralisasi fiskal di Indonesia yang ditandai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999
dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, membawa implikasi tersendiri dalam
proses pembangunan di daerah, yaitu dengan adanya perubahan pola penerimaan dan pengeluaran
daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Otonomi daerah diyakini merupakan cara terbaik dalam rangka mendorong pembangunan
daerah menggantikan sistem pembangunan terpusat (sentralisasi) yang oleh banyak pihak dianggap
sebagai penyebab lambannya pembangunan didaerah dan semakin besar ketimpangan antar daerah.
Urusan wajib/kewenangan yang begitu luas diserahkan ke daerah membawa konsekuensi terhadap
pembiayaan, sedangkan bila daerah mengandalkan penerimaan dan pendapatan asli daerah atau PAD
maka membiayai seluruh urusan wajib yang diserahkan pemerintah tersebut masih sangatlah kurang,
untuk itu perlu adanya dana pusat yang diserahkan ke daerah dalam upaya mengurangi ketimpangan

Diterima: 25-04-2022; Disetujui untuk Publikasi: 12 -05-2022


Hak Cipta © oleh Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum
p-ISSN: 24072-361X
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1232

baik vertikal maupun horizontal dan dana tersebut dalam peraturan perundang-undangan dinamakan
dana perimbangan. Sesuai dengan namanya, dana perimbangan menurut Undang-Undang Nomor 33
Tahun 2004 adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan ke daerah untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Perimbangan itu meliputi
Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Wujud dari perimbangan keuangan tersebut adalah adanya dana perimbangan yang bersumber
dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana perimbangan terdiri dari DAU, DAK, dan DBH yang
bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Ketiga jenis dana tersebut bersama (PAD) merupakan
sumber dana daerah yang digunakan untuk menyelenggarakan pemerintahan di tingkat daerah. Setiap
jenis dana perimbangan memiliki fungsinya masing-masing. Dana bagi hasil berperan sebagai
penyeimbang fiskal antara pusat dan daerah dari pajak yang dibagihasilkan. DAU berperan sebagai
pemerata fiskal antar daerah di Indonesia. Dana alokasi umum dialokasikan dengan tujuan pemerataan
dengan memperhatikan potensi daerah, luas daerah, keadaan geografi, jumlah penduduk, dan tingkat
pendapatan masyarakat di daerah. DAK berperan sebagai dana yang didasarkan pada kebijakan yang
bersifat darurat.
Dalam pelaksanaannya, kebijakan otonomi daerah didukung pula oleh perimbangan keuangan
antara pusat dan daerah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 (diganti
dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004) tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut yang dimaksud dengan perimbangan keuangan
pusat dan daerah adalah suatu sistem pembiayaan pemerintah dalam kerangka Negara kesatuan, yang
mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta pemerataan antardaerah
secara proporsional, demokrartis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan
kebutuhan daerah sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata acara
penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya.
Dengan diberlakukannya otonomi daerah memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah
untuk lebih mengembangkan potensi yang ada di daerahnya masing-masing. Untuk mengembangkan
potensi daerah tersebut maka pemerintah harus meningkatkan anggaran belanja modal, sumber-
sumber dana yang digunakan untuk membiayai belanja modal tersebut terdiri dari PAD dan DAK.
Otonomi daerah menempatkan Pemerintah Daerah (PEMDA) sebagai institusi yang memiliki
tanggungjawab besar dalam upaya pencapaian tujuan bernegara. Salah satu instrumen sekaligus faktor
penting bagi keberhasilan pembangunan daerah adalah manajemen belanja daerah, yang tercermin
melalui APBD.
Pada tahun 2015-2019 Pendapatan Asli daerah Daerah (PAD), Dana Alokasi Khusus (DAK),
Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Bagi Hasil (DBH) Kota Bitung mengalami peningkatan,
namun peningkatan disetiap tahun ini tidak memberikan dampak yang cukup signifikan dalam upaya
peningkatan kontribusi belanja modal. Pemerintah Kota Bitung dalam mengelola anggaran
keuangannya diberikan kewenangan penuh dengan sedikit campur tangan pemerintah pusat. PAD,
DAK, DAU, dan DBH yang merupakan sumber penerimaan dalam APBD yang dinilai masih kurang
memberikan kontribusi lebih ke belanja modal yang merupakan belanja/pengeluaran, yang terlihat di
laporan APBD.
Berdasarkan pernyataan tersebut maka judul penelitian terhadap Penerimaan Daerah Kota
Bitung adalah “Analisis Kontribusi Penerimaan Daerah terhadap Alokasi Belanja Modal
Pemerintah Kota Bitung”.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistem Akuntansi Pemerintahan

Akuntansi pemerintahan adalah suatu aktivitas pemberian jasa untuk menyadiakan informasi
keuangan pemerintah berdasarkan proses pencatatan, pengklarifikasian, pengikhtisaran suatu transaksi
keuangan pemerintah, serta penafsiran atas informasi keuangan dan tunduk pada Standar Akuntansi
Pemerintah (SAP). Akuntansi pemerintahan merupakan suatu prosedur akuntansi yang telah disusun
sedemikian rupa agar dapat dilakukan monitoring (pemantauan) secara terus-menerus terhadap
pelaksanaan anggaran dengan tujuan agar dapat diketahui cara penciptaan, pengurusan dan
pemantauan terhadap penggunaan dana. Adapun pengertian Akuntansi Pemerintahan menurut
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1233

Bachtiar Arif dkk (2002:3) adalah suatu aktivitas pemberian jasa untuk menyediakan suatu informasi
keuangan pemerintah berdasarkan proses pencatatan, pengklarifikasian, penafsiran atas informasi
keuangan serta pengikhtisaran suatu transaksi keuangan pemerintah tersebut.

2.2. Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah semua pendapatan yang berasal dari sumber ekonomi
asli daerah yang terdiri dari penerimaan pajak, retribusi daerah, laba usaha daerah, dan hasil
pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan. Penerimaan rutin daerah yang berasal dari
pungutan (pajak, retribusi) dan hasil dari perusahaan daerah lainnya serta hasil usaha daerah yang sah.
Carunia dkk (2017:119) menyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan penerimaan
yang diperoleh dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri, semakin tinggi peranan PAD dalam
struktur keuangan daerah, maka semakin tinggi pula kemampuan keuangan yang dimiliki oleh daerah
untuk melaksanakan kegiatan pembangunan daerahnya.

2.3. Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai
kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Alokasi Umum (DAU) bertujuan
untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah yang dimaksudkan untuk mengurangi
ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan
kebutuhan dan potensi daerah. DAU suatu daerah ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal (fiscal
gap) suatu daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah (fiscal need) dan potensi daerah
(fiscal capacity). Daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi kebutuhan fiskalnya kecil akan
memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya, daerah yang potensi fiskalnya kecil, namun
kebutuhan fiskal besar akan memperoleh alokasi DAU yang relatif besar. Secara implisit, prinsip
tersebut menegaskan fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal.
Alokasi DAU terdiri dari beberapa, yaitu :
1. DAU dialokasikan untuk Daerah Provinsi dan Kabupaten Kota.
2. Besaran DAU ditetapkan sekurang-kurangya 26 persen dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN)
Netto yang ditetapkan dalam APBN.
3. Proporsi DAU untuk Daerah Provinsi dan untuk Kabupaten atau Kota ditetapkan sesuai
dengan imbangan kewenangan antara Provinsi dan Kabupaten Kota.

2.4. Dana Alokasi Khusus

Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan pada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang
merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Khususnya untuk membiayai
kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar tertentu
atau mendorong percepatan pembangunan daerah. Alokasi DAK per Daerah ditetapkan dengan
Peraturan Menteri Keuangan. Berdasarkan alokasi penetapan DAK dimaksud, Menteri Teknis
menyusun Petunjuk Teknis penggunaan DAK. Petunjuk Teknis Penggunaan DAK dikoordinasikan
oleh Menteri Dalam Negeri.
Mekanisme pengalokasian DAK, yaitu :

2.5. Dana Bagi Hasil

Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan
kepada daerah berdasarkan angka presentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
desentralisasi. Hasil penerimaan Pajak Provinsi sebagaimana dimaksud dalam UU No 28 Tahun 2010
sebagian diperuntukan bagi kabupaten/kota di wilayah provinsi yang bersangkutan dengan ketentuan
sebagai berikut:
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1234

a. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 30%
b. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada kabupaten/kota
sebesar 70%
c. Hasil penerimaan Pajak Rokok diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 70%
d. Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 50%

2.6. Belanja Modal

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 91/PMK.06/2007 tentang Bagan Akun Standar
(BAS) menyebutkan bahwa Belanja modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam
rangka memperoleh atau menambah aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu
periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang
ditetapkan pemerintah. Aset tetap tersebut dipergukan untuk oprasional kegiatan sehari-hari suatu
satuan kerja, bukan untuk dijual.
Belanja modal dapat dikategorikan dalam lima kategori utama, yaitu :
a. Belanja Modal Tanah
Belanja modal tanah adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk
pengadaan/pembelian/pembebasan penyelesaian, balik nama dan sewa tanah, pengosongan,
pengurungan, peralatan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat, dan pengeluaran lainnya
sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah dimaksud dalam kondisi siap pakai.
b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja modal peralatan dan mesin adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk
pengadaan/ penambahan/penggantian dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin serta inventaris
kantor yang memberikan manfaat lebih dari 1 periode sampai peralatan dan mesin yang dimaksud
dalam kondisi siap pakai.
c. Belanja Modal Gedung dan Pembangunan
Belanja modal gedung dan banguan adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk
pengadaan dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan
dimaksud dalam kondisi siap pakai.
d. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja modal jalan, irigasi dan jaringan adalah pengeluaran yang digunakan untuk
pembuatan dan perawatan juga termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengolaan
jalan, irigasi, dan jaringan yang menambah kapasitas sampai jalan, irigasi dan jaringan dimaksud
dalam kondisi siap pakai.
e. Belanja Modal Fisik Lainnya
Belanja modal fisik lainnya adalah pengeluaran yang digunakan untuk pengadaan perawatan
terhadap fisik lainnya yang tidak dapat dikategorikan ke dalam kriteria belanja modal tanah, peralatan
dan mesin, gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan jaringan. Termasuk dalam belanja ini adalah
belanja kontrak sewa beli, pembelian barang-barang kesenian, buku-buku, dan jurnal ilmiah.

2.7. Kajian Penelitian Terdahulu

Sari dan Wirama (2018) dengan judul Pengaruh PAD, DAU Dan DAK Pada Alokasi Belanja
Modal dengan Pendapatan Per Kapita Sebagai Pemoderasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa
Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi Khusus berpengaruh secara signifikan positif terhadap
alokasi Belanja Daerah.
Priabudi (2017) dengan judul Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana AlokasiUmum
Terhadap Belanja Modal Pada Kabupaten DanKota Di Pulau Jawa Tahun 2013, hasil penelitian
menemukan bahwa PAD dan DAU berpengaruh positif terhadap belanja modal.
Ernayani (2017) dengan judul Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum,
Dana Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil terhadap Belanja Daerah (Studi Kasus pada 14
Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Timur Periode 2009-2013) menemukan bahwa Pendapatan
Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil secara simultan
berpengaruh terhadap Belanja Daerahdi 14 Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Timur.
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1235

Ayu (2018) dengan judul Analisis PAD dan Dana Perimbangan Terhadap Kinerja Keuangan
Pemda Se-Jawa Barat menemukan bahwa Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah
berpengaruh terhadap Belanja Daerah dan terjadi Flypaper Effect pada Kabupaten/Kota di Provinsi
Jawa Barat.

3. METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Penelitian kualitatif
sebagai suatu prosedur yang akan menghasilkan data deskriptif berupa kontribusi dari komponen
penerimaan daerah yaitu PAD, DAU, DAK dan DBH terhadap alokasi belanja modal Pemerintah
Kota Bitung.

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Bitung.
Periode pengamatan untuk hasil penelitian ini adalah selama kurun waktu pembuatan skripsi bulan
Mei 2021 sampai dengan selesai.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data
kualitatif dalam penelitian ini berupa hasil wawancara dengan kasubag keuangan tentang gambaran
umum Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Bitung serta mengenai kontribusi dari tiap-
tiap komponen penerimaan daerah terhadap alokasi belanja modal Pemerintah Kota Bitung.
Sedangkan data kuantitatif dalam penelitian ini adalah Laporan Realisasi APBD.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupakan
data yang diperoleh langsung dilapangan oleh peneliti sebagai objek penulisan. Data primer dalam
penelitian ini yaitu hasil wawancara dan dokumentasi, yaitu Laporan APBD terhitung dari tahun
2015-2019.

3.4. Metode Pengumpulan Data

a. Wawancara
b. Dokumentasi
c. Observasi

3.5. Metode Analisis Data

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Proses
analisis yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data berupa gambaran umum instansi dan Laporan Realisasi APBD Tahun
2015-2019, serta data lain berupa hasil wawancara pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset
Daerah (BPKAD) Kota Bitung.
2. Mempelajari tentang penerimaan daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004.
3. Menganalisis data tentang Laporan Realisasi APBD yang dikhususkan pada komponen
penerimaan daerah yaitu PAD, DAU, DAK dan DBH tahun 2015-2019 yang telah
dikumpulkan dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Bitung, dengan cara
melakukan perhitungan rasio dimana total dari setiap komponen penerimaan daerah akan
dibagi dengan total belanja dan dikalikan 100%. Kemudian memastikan kesesuaian
kontribusi dari setiap komponen penerimaan daerah.
4. Memberikan kesimpulan dari hasil analisis tentang Laporan Realisasi APBD tahun 2015-
2019 serta memberikan saran atau masukan kepada pihak Badan Pengelola Keuangan dan
Aset Daerah Kota Bitung untuk pengelolaan APBD diperiode berikut.
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1236

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil penelitian
Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Bitung

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Bitung tahun anggaran 2015 – 2019 berdasarkan hasil
wawancara dengan salah satu pegawai di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung.
Dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1. Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019
Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp)
2015 [Link],00 [Link],00
2016 [Link],00 [Link],00
2017 [Link],00 [Link],00
2018 [Link],00 [Link],00
2019 [Link],00 [Link],00
Sumber : Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung 2021

Berdasarkan Tabel 1. di atas menunjukkan bahwa Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kota
Bitung tahun anggaran 2015 – 2019 pencapaiannya melebihi target pada tahun 2015 dan tahun 2017
sedangkan tahun 2016, 2018 dan 2019 Pendapatan Asli Daerah tidak mencapai target yang telah
ditetapkan. Tahun 2015 realisasi pendapatan asli daerah Kota Bitung sebesar Rp103.133.530.054,00
turun menjadi Rp82.910.970.810,00 ditahun 2016. Kemudian mengalami kenaikan kembali pada
tahun 2017 menjadi Rp122.773.221.957,00. Tahun 2018 dan tahun 2019 mengalami penurunan
menjadi Rp109.653.370.127,00 dan Rp. [Link],00

Realisasi Dana Bagi Hasil ( DBH ) Kota Bitung


Realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) Kota Bitung tahun anggaran 2015 – 2019 berdasarkan hasil
wawancara dengan pegawai di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung. Dapat
dilihat pada tabel 2 sebagai berikut :

Tabel 2. Realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) Kota BitungTahun Anggaran 2015 – 2019
Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp)
2015 [Link],00 [Link],00
2016 [Link],00 [Link],00
2017 [Link],00 [Link],00
2018 [Link],00 [Link],00
2019 [Link],00 [Link],00
Sumber : Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung 2021

Berdasarkan Tabel 2. di atas menunjukkan bahwa realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) Kota
Bitung tahun anggaran 2015 – 2019 berfluktuasi dengan pencapaian melebihi target terjadi di tahun
2016 dan 2017 sedangkan tahun 2015, 2018 dan 2019 tidak mencapai target yang telah ditetapkan.
Tahun 2015 Dana Bagi Hasil (DBH) Kota Bitung sebesar Rp15.983.321.603,00 naik menjadi
Rp28.257.851.824,00 ditahun 2016. Kemudian mengalami kenaikan kembali pada tahun 2017 dan
tahun 2018 menjadi Rp57.160.199.212,00 dan Rp91.620.573.850,00. Tahun 2019 turun menjadi
Rp82.426.371.914,00

Realisasi Dana Alokasi Umum ( DAU ) Kota Bitung

Realisasi Dana Alokasi Umum (DAU) Kota Bitung tahun anggaran 2015 – 2019 berdasarkan
hasil wawancara dengan pegawai di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung. Dapat
dilihat pada tabel 3 sebagai berikut :
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1237

Tabel 3. Realisasi Dana Alokasi Umum (DAU) Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019
Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp)
2015 [Link],00 [Link],00
2016 [Link],00 [Link],00
2017 [Link],00 [Link],00
2018 [Link],00 [Link],00
2019 [Link],00 [Link],00
Sumber : Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung 2021

Berdasarkan Tabel 3. di atas menunjukkan bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) Kota Bitung
tahun anggaran 2015 – 2019 berfluktuasi dengan pencapaian melebihi target tahun 2019 dan pada
tahun 2018 tidak mencapai target sedangkan pada tahun 2015,2016, 2017 memenuhi target.

Realisasi Dana Alokasi Khusus ( DAK ) Kota Bitung


Realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kota Bitung tahun anggaran 2015 – 2019 berdasarkan hasil
wawancara dengan pegawai di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung. Dapat
dilihat pada tabel 4 sebagai berikut :

Tabel 4. Realisasi Alokasi Khusus (DAK) Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019
Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp)
2015 [Link],00 [Link],00
2016 [Link],00 [Link],00
2017 [Link],00 [Link],00
2018 [Link],00 [Link],00
2019 [Link],00 [Link],00
Sumber : Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung 2021

Berdasarkan Tabel 4. di atas menunjukkan bahwa realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kota
Bitung tahun anggaran 2015 – 2019 berfluktuasi dengan pencapaian memenuhi target tahun 2015
sedangkan pada tahun 2016 – 2019 tidak mencapai target.

Realisasi Belanja Modal Kota Bitung


Realisasi Belanja Modal Kota Bitung tahun anggaran 2015 – 2019 berdasarkan hasil
wawancara dengan pegawai di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung. Dapat
dilihat pada tabel 5 sebagai berikut :

Tabel 5. Realisasi Belanja Modal Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019
Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp)
2015 [Link],- [Link],-
2016 [Link],- [Link],-
2017 [Link],- [Link],-
2018 [Link],- [Link],-
2019 245.476.739,320,- [Link],-
Sumber : Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bitung 2021

Berdasarkan Tabel 5. di atas menunjukkan bahwa Realisasi Belanja Modal Kota Bitung tahun
anggaran 2015 – 2019 berfluktuasi dengan realisasi melebihi target tahun 2018 sedangkan tahun
2015, 2016, 2017 dan 2019 realisasi belanja modal Kota Bitung tidak melebihi dari target yang
dianggarkan.

4.2. Pembahasan
Kontribusi Pendapatan Asli Daerah terhadap alokasi Belanja Modal
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1238

Tabel 6. Kontribusi Pendapatan Asli Daerah pada alokasi Belanja Modal Kota Bitung Tahun
Anggaran 2015 – 2019
Tahun Realisasi PAD Realisasi BM Kontribusi Kriteria
Anggaran (Rp) (Rp) (%)
2015 [Link],00 [Link],00 60.23 Sangat Baik
2016 [Link],00 [Link],00 37.18 Cukup Baik
2017 [Link],00 [Link],00 61.25 Sangat Baik
2018 [Link],00 [Link],00 36.20 Cukup Baik
2019 [Link],00 [Link],00 39.60 Cukup Baik
Sumber : Data Olahan, 2021

Perhitungan Tabel 6. diatas dapat dilihat bahwa Kontribusi Pendapatan Asli Daerah pada
alokasi Belanja Modal Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019 bervariasi antara 36,60 % sampai
dengan 61,25 %. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 61.25 % dan terendah pada
tahun anggaran 2018 yaitu sebesar 36,20 %. Pada tahun 2015 kontribusi yang diberikan Pendapatan
Asli Daerah pada alokasi Belanja Modal sebesar 60,23 % sedangkan pada tahun 2016 turun menjadi
37,18 %. Tahun 2019 mengalami peningkatan menjadi 39,60 %, dibanding tahun 2018. Dengan
kontribusi rata-rata tiap tahun sebesar 46,89%, membuktikan bahwa Pendapatan Asli Daerah
memberikan kontribusi dengan kriteria baik pada alokasi Belanja Modal Kota Bitung.

Kontribusi Dana Bagi Hasil terhadap alokasi Belanja Modal


Tabel 7. Kontribusi Dana Bagi Hasil (DBH) pada alokasi Belanja Modal Kota Bitung Tahun
Anggaran 2015 – 2019
Tahun Realisasi DBH Realisasi BM Kontribusi Kriteria
Anggaran (Rp) (Rp) (%)
2015 [Link],00 [Link],00 9.33 Sangat Kurang
2016 [Link],00 [Link],00 12.67 Kurang
2017 [Link],00 [Link],00 28.51 Sedang
2018 [Link],00 [Link],00 30.25 Cukup Baik
2019 [Link],00 [Link],00 37.01 Cukup Baik
Sumber : Data Olahan, 2021

Perhitungan Tabel 7. diatas dapat dilihat bahwa Kontribusi Dana Bagi Hasil (DBH) pada
alokasi Belanja Modal Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019 mengalami peningkatan antara
9.33% sampai dengan 37,01%.
Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2019 yaitu sebesar 37.01% dan terendah pada tahun
anggaran 2015 yaitu sebesar 9.33%. Pada tahun 2016 kontribusi yang diberikan Dana Bagi Hasil
(DBH) pada alokasi Belanja Modal sebesar 12.67 % sedangkan pada tahun 2017 naik menjadi
28.51%. Tahun 2018 mengalami peningkatan menjadi 30,25%,.
Dengan kontribusi rata-rata tiap tahun sebesar 23,55%, membuktikan bahwa Dana Bagi Hasil (DBH)
memberikan kontribusi dengan kriteria sedang pada alokasi belanja modal kota Bitung.

Kontribusi Dana Alokasi Umum terhadap alokasi Belanja Modal


Tabel 8. Kontribusi Dana Alokasi Umum (DAU) pada alokasi Belanja Modal Kota Bitung
Tahun Anggaran 2015 – 2019
Tahun Realisasi DAU Realisasi BM Kontribusi Kriteria
Anggaran (Rp) (Rp) (%)
2015 [Link],00 [Link],00 254.65 Sangat Baik
2016 [Link],00 [Link],00 216.56 Sangat Baik
2017 [Link],00 [Link],00 236.78 Sangat Baik
2018 [Link],00 [Link],00 157.44 Sangat Baik
2019 [Link],00 [Link],00 234.66 Sangat Baik
Sumber : Data Olahan, 2021
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1239

Perhitungan Tabel 8. diatas dapat dilihat bahwa kontribusi Dana Alokasi Umum (DAU) pada
alokasi Belanja Modal Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019 berfluaktuasi antara 157.44%
sampai dengan 254.65%.
Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 254.65% dan terendah pada tahun
anggaran 2018 yaitu sebesar 157.44%. Pada tahun 2016 kontribusi yang diberikan Dana Alokasi
Umum (DAU) pada alokasi Belanja Modal sebesar 216.56% sedangkan pada tahun 2017 naik
menjadi 236.78%. Tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 234.66%,.
Dengan kontribusi rata-rata tiap tahun sebesar 220.02%, membuktikan bahwa Dana Alokasi Umum
(DAU) memberikan kontribusi dengan kriteria sangat baik pada alokasi belanja modal kota Bitung.

Kontribusi Dana Alokasi Khusus terhadap alokasi Belanja Modal


Tabel 9. Kontribusi Dana Alokasi Khusus (DAK) pada alokasi Belanja Modal Kota Bitung
Tahun Anggaran 2015 – 2019
Tahun Realisasi DAK Realisasi BM Kontribusi Kriteria
Anggaran (Rp) (Rp) (%)
2015 [Link],00 [Link],00 29.59 Sedang
2016 [Link],00 [Link],00 75.13 Sangat Baik
2017 [Link],00 [Link],00 72.46 Sangat Baik
2018 [Link],00 [Link],00 67.11 Sangat Baik
2019 [Link],00 [Link],00 54.36 Sangat Baik
Sumber : Data Olahan, 2021

Perhitungan tabel 4.10 diatas dapat dilihat bahwa kontribusi Dana Alokasi Khusus (DAK)
pada alokasi Belanja Modal Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019 berfluaktuasi antara 29.59%
sampai dengan 75.13%.
Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 75.13% dan terendah pada tahun
anggaran 2015 yaitu sebesar 29.59%. Pada tahun 2017 kontribusi yang diberikan Dana Alokasi
Khusus (DAK) pada alokasi Belanja Modal sebesar 72.46% sedangkan pada tahun 2018 turun
menjadi 67.11%. Tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 54.36%,. Dengan kontribusi rata-rata
tiap tahun sebesar 59.73%, membuktikan bahwa Dana Alokasi Khusus (DAK) memberikan
kontribusi dengan kriteria sangat baik pada alokasi belanja modal kota Bitung.

Perbandingan Kontribusi Komponen Penerimaan Daerah terhadap alokasi Belanja Modal


Tabel 10. Perbandingan Kontribusi Komponen Penerimaan Daerah pada alokasi Belanja
Modal Kota Bitung Tahun Anggaran 2015 – 2019
Tahun Anggaran Kontribusi Kontribusi Kontribusi Kontribusi
PAD (%) DBH (%) DAU (%) DAK (%)
2015 60.23 9.33 254.65 29.59
2016 37.18 12.67 216.56 75.13
2017 61.25 28.51 236.78 72.46
2018 36.20 30.25 157.44 67.11
2019 39.60 37.01 234.66 54.36
Rata-rata 46,89 23,55 220.02 59.73
Kriteria Baik Sedang Sangat Baik Sangat Baik
Sumber : Data Olahan, 2021

Berdasarkan Tabel 10. diatas dapat dilihat bahwa kontribusi komponen Penerimaan Daerah
terhadap alokasi Belanja Modal kota Bitung pada tahun anggaran 2015-2019 rata-rata masih di
dominasi oleh Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan kriteria sangat
baik meskipun kontribusi pendapatan asli daerah terhadap belanja modal berada pada kriteria baik.

5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum) 1240

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Komponen penerimaan daerah yaitu Pendapatan Asli Daerah memberikan kontribusi dengan
kriteria baik pada alokasi Belanja Modal Kota Bitung sebesar 60%.
2. Dana Bagi Hasil (DBH) memberikan kontribusi dengan kriteria sedang pada alokasi belanja
modal kota Bitung sebesar 37%.
3. Dana Alokasi Umum (DAU) memberikan kontribusi dengan kriteria sangat baik pada alokasi
belanja modal kota Bitung sebesar 70%
4. Dana Alokasi Khusus (DAK) memberikan kontribusi dengan kriteria sangat baik pada alokasi
belanja modal kota Bitung sebesar 75%.
5. Kontribusi komponen Penerimaan Daerah terhadap alokasi Belanja Modal kota Bitung pada
tahun anggaran 2015-2019 rata-rata masih di dominasi oleh Dana Alokasi Umum (DAU) dan
Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan kriteria sangat baik meskipun kontribusi pendapatan asli
daerah terhadap belanja modal berada pada kriteria baik.

5.2. Saran
Saran untuk penelitian ini :
Pemerintah Kota Bitung disadari masih bergantung pada penerimaan dana transfer dari
pemerintah pusat seperti Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus sehingga diharapkan dapat
memaksimalkan potensi penerimaan asli daerah dari sektor pajak daerah dan retribusi daerah untuk
membiayai belanja daerah khususnya dalam belanja modal

DAFTAR PUSTAKA

Arif, B, Muchlis., dan Iskandar. 2002. Akuntansi Pemerintahan. Edisi Pertama. Salemba Empat.
Jakarta.
Ayu, P. P. 2018. Analisis PAD dan Dana Perimbangan Terhadap Kinerja Keuangan Pemda Se-Jawa
[Link] Akuntansi & Ekonomi FE. UN PGRI Kediri 3(1): 2541-0180.
Carunia, M Firdausy, dan Idawati, R. 2017. Kebijakan dan strategipeningkatan pendapatan asli
daerah dalam pembangunan nasioanl. Jakarta: Yayasan Pustaka.
Ernayani, R. 2017. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus
dan Dana Bagi Hasil terhadap Belanja Daerah (Studi Kasus pada 14 Kabupaten/Kota di
Provinsi Kalimantan Timur Periode 2009-2013). Jurnal Sosial Humaniora 1(1): 2580-
5398.
Kieso, D. E., Weygandt, J. J., and Warfield, T. D. 2015. Intermediate Accounting Volume 1. Edisi
Kedua Belas. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Pemerintahan Daerah. 15 Oktober 2004.
Tambahan Lembaran Republik Indonesia Nomor 4437. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah. 15 September 2005. Tambahan Lembaran Republik
Indonesia Nomor 4438. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2000 Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 20
Desember 2000. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246. Jakarta.
Priabudi, W 2017. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Dana AlokasiUmum Terhadap Belanja
Modal Pada Kabupaten Dan Kota Di Pulau Jawa Tahun 2013. Jurnal Nominal 6(1): 136-
147.
Sari, D. M. M. Y. dan Wirama, D. G. 2018. Pengaruh PAD, DAU Dan DAK Pada Alokasi Belanja
Modal denganPendapatan Per Kapita Sebagai Pemoderasi. Jurnal Akuntansi Universitas
Udayana 22(3): 2065-2087.
Sholikhah, I dan Agus, W. 2014. Analisis Belanja Modal Pada Pemerintah Kabupaten/KotaDi Jawa.
AAJ 3(4): 553-56

Anda mungkin juga menyukai