PENGARUH CONTENT MARKETING TERHADAP BRAND
AWARENESS PRODUK SCARLETT WHITENING DI
KALANGAN MILENIAL DI KOTA
TANJUNGPINANG
SKRIPSI
LENY SANTIKA
NIM : 18612206
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) PEMBANGUNAN
TANJUNGPINANG
2022
PENGARUH CONTENT MARKETING TERHADAP BRAND
AWARENESS PRODUK SCARLETT WHITENING DI
KALANGAN MILENIAL DI KOTA
TANJUNGPINANG
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi
Syarat-Syarat guna Memperoleh Gelar
Sarjana Ekonomi
OLEH :
Nama : LENY SANTIKA
NIM : 18612206
PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE) PEMBANGUNAN
TANJUNGPINANG
2022
HALAMAN PERSEMBAHAN
Sembah sujud serta syukur kepada Allah SWT. Taburan cinta dan kasih
sayang-Mu telah memberikanku kekuatan, membekaliku
dengan ilmu serta memperkenalkanku
dengan cinta. Atas karunia serta kemudahan yang Engkau berikan
akhirnya skripsi yang sederhana ini dapat terselasaikan.
Shalawat dan salam selalu terlimpahkan keharibaan
Rasullah Muhammad SAW.
Kupersembahkan karya sederhana ini kepada orang yang sangat kukasihi dan
kusayangi.
Ibunda dan Ayahanda Tercinta
Sebagai tanda bakti, hormat dan rasa terima kasih yang tiada terhingga
kupersembahkan karya kecil ini kepada Ibu (Nazirah) dan Ayah (Rakhmad
Syafriadi) yang telah memberikan kasih sayang, secara dukungan, ridho, dan
cinta kasih yang tiada terhingga yang tiada mungkin dapat kubalas hanya
dengan selembar kertas yang bertuliskan kata persembahan. Semoga ini
menjadi langkah awal untuk membuat Ibu dan Ayah bahagia karena
kusadar, selama ini belum bisa berbuat lebih. Untuk Ibu dan ayah yang selalu
membuatku termotivasi dan selalu menyirami kasih sayang, selalu
mendoakanku, selalu menasehatiku serta selalu meridhoiku melakukan hal
yang lebih baik, Terima kasih Ibu... Terima kasih Ayah...
Dosen Pembimbing Tugas Akhir
Ibu Selvi Fauzar, S.E., M.M. selaku dosen pembimbing 1 saya
dan Bapak Yuritanto, S.E., M.M selaku dosen pembimbing 2 saya .
Terima kasih banyak Ibu da Bapak sudah membantu selama ini, sudah
menasehati, sudah diajari, dan mengarahkan saya sampai skripsi ini selesai.
Tanpa mereka, karya ini tidak akan pernah tercipta.
HALAMAN MOTTO
“Tidak ada kesuksesan melainkan dengan pertolongan Allah SWT”
(Q.S Huud:88)
“Setiap orang punya jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu saat muda”
(Dahlan Iskan)
“Rahasia untuk maju adalah memulai."
(Mark Twain)
“Hiduplah seakan kamu mati besok, belajarlah seakan kamu hidup
selamanya”
(Mahatma Gandhi)
“Tiada awan dilangit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-
menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa
keindahan. Kehidupan manusia serupa alam”
(R.A KARTINI)
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya
sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Content
Marketing Terhadap Brand Awareness Produk Scarlett Whitening di
Kalangan Milenial di Kota Tanjungpinang” yang merupakan salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Strata 1 (S1) Program studi Manajemen pada Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Pembangunan Tanjungpinang.
Dalam hal ini penulis menyada ri bahwa masih terdapat kekurangan dalam
penyusunan skripsi ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan-
kritikan yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Dalam
penyusunan skripsi ini, banyak pihak-pihak yang turut serta membangun mulai
dari awal hingga akhir penyusunan skripsi ini. Oleh sebab itu, penulis ingin
menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Charly Marlinda, S.E., M.Ak., Ak., CA. selaku Ketua Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan Tanjungpinang.
2. Ibu Ranti Utami, S.E., M.Si.Ak.CA. selaku Wakil Ketua I Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan Tanjungpinang.
3. Ibu Sri Kurnia, S.E., M.Si.Ak.CA. selaku Wakil Ketua II Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi (STIE) Pembangunan Tanjungpinang.
4. Bapak Ir. Imran Ilyas, M.M selaku Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi (STIE) Pembangunan Tanjungpinang.
v
5. Ibu Dwi Septi Handayani, S.T., M.M Selaku Ketua Program Studi SI
Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan
Tanjungpinang.
6. Ibu Selvi Fauzar, S.E., M.M selaku dosen pembimbing I yang telah bersedia
meluangkan waktu dan tempat, dan tidak pernah lelah memberikan saran,
arahan, dan perbaikan dalam penyusunan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
7. Bapak Yuritanto, S.E., M.M selaku dosen pembimbing II yang telah bersedia
meluangkan waktu dan tempat, dan tidak pernah lelah memberikan saran,
arahan, dan perbaikan dalam penyusunan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
8. Seluruh dosen pengajar dan staf sekretariat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
(STIE) Pembangunan Tanjungpinang.
9. Seluruh anggota keluarga terutama ibu dan ayah saya yang terus memberi
dukungan kepada saya.
10. Teman-teman terdekat saya Niki Aisya,Ervan Ardian,Nurvadillah,Arinnanda
Yul Yaertha,Suniyarti,Desty Aulia,Sinta Juni Warman,Rahma dan Andika
Jaya Putra. Tidak lupa juga orang baik yang selalu siap sedia menemani saya
bimbingan setiap saat yaitu Muhammad Kasim (Abib).
11. Teman-teman seperjuangan angkatan 2018, yang terus menemani dan
memotivasi penulis dari awal hingga akhir penyusunan skripsi ini.
12. Semua pihak yang terkait dalam penyusunan skripsi, yang tak dapat dituliskan
satu-persatu, terimakasih atas semuanya.
vi
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSEMBAHAN
HALAMAN MOTTO
KATA PENGANTAR............................................................................................. v
DAFTAR ISI ............................................................................................. ...........viii
DAFTAR TABEL................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................. xii
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... xiii
ABSTRAK............................................................................................................. xiv
ABSTRACT............................................................................................................. xv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 9
1.3 Batasan Masalah .................................................................................... 9
1.4 Tujuan Penelitian ................................................................................... 9
1.5 Kegunaan Penelitian ............................................................................ 10
1.5.1 Kegunaan Ilmiah ........................................................................ 10
1.5.2 Kegunaan Praktis........................................................................ 10
1.6 Sitematika Penulisan ............................................................................ 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................13
2.1 Tinjauan Teori ...................................................................................... 13
2.1.1 Pengertian Manajemen ............................................................... 13
2.1.2 Fungsi Manajemen ..................................................................... 14
2.1.3 Pengertian Pemasaran................................................................. 15
2.1.4 Tujuan Pemasaran ...................................................................... 17
2.1.5 Fungsi Pemasaran ....................................................................... 18
2.1.6 Pengertian Manajemen Pemasaran ............................................. 19
2.1.7 Content Marketing ...................................................................... 21
2.1.8 Brand Awareness ........................................................................ 25
viii
2.2 Hubungan antara Variabel ................................................................... 29
2.3 Kerangka Pemikiran ............................................................................ 30
2.3 Hipotesis .............................................................................................. 30
2.5 Penelitian Terdahulu ............................................................................ 30
2.5.1 Jurnal Nasional ........................................................................... 30
2.5.2 Jurnal Internasional .................................................................... 33
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................36
3.1 Jenis Penelitian..................................................................................... 36
3.2 Jenis Data ............................................................................................. 36
3.2.1 Data Primer ................................................................................ 37
3.2.2 Data Sekunder ............................................................................ 37
3.3 Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 38
3.4 Populasi dan Sampel ............................................................................ 39
3.4.1 Populasi ...................................................................................... 39
3.4.2 Sampel ........................................................................................ 39
3.5 Definisi Operasional Variabel .............................................................. 40
3.6 Teknik Pengolahan Data ...................................................................... 42
3.7 Teknik Analisis Data ............................................................................ 43
3.7.1 Uji Kualitas Data ........................................................................ 44
3.7.2 Uji Asumsi Klasik ...................................................................... 45
3.7.3 Uji Regresi Sederhana ................................................................ 46
3.7.4 Uji Hipotesis ............................................................................... 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .....................................49
4.1 Hasil Penelitian .................................................................................... 49
4.1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ........................................... 49
4.1.2 Analisis Deskriptif...................................................................... 52
4.1.3 Analisis Dekriptif Variabel ........................................................ 54
4.1.4 Uji Kualitas Data ........................................................................ 66
4.1.5 Uji Asumsi Klasik ...................................................................... 68
4.1.6 Uji Hipotesis............................................................................... 72
ix
4.1.7 Uji Koefisien Determinasi (R2) .................................................. 73
4.2 Pembahasan ......................................................................................... 74
BAB V PENUTUP ...............................................................................................75
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 75
5.2 Saran .................................................................................................... 78
DAFTAR PUSTAKA
KUESIONER
PENELITIAN SKRIPSI
TABULASI
CURRICULUM VITAE
x
DAFTAR TABEL
No Tabel Judul Tabel Halaman
Tabel 1.1 BPS Kota Tanjungpinang..............................................…..…... 4
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel..………………......…………...... 42
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin.......…..… 52
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia.....................…..… 52
Tabel 4.3 Penilaian Kuesioner................………………......…………...... 54
Tabel 4.4 Penilaian Kuesioner................………………......…………...... 60
Tabel 4.5 Hasil Uji Validitas..................………………......…………....... 65
Tabel 4.6 Hasil Pengujian Reliabilitas.....………………......…………...... 67
Tabel 4.7 Analisis Regresi Linier Sederhana.....………........…………...... 70
Tabel 4.8 Hasil Uji t Coefficients.......................................…………....... 72
Tabel 4.9 Uji Determinasi (R2)..........................................…………........ 73
xi
DAFTAR GAMBAR
No Gambar Judul Gambar Halaman
Gambar 1.1 Hasil Pra Penelitian.............................................…………..... 3
Gambar 1.2 Hasil Pra Penelitian.............................................…………..... 7
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran.......……………….........……………..... 29
Gambar 4.1 Logo Scarlett Whitening.........................................…………..51
Gambar 4.2 Produk Scarlett Whitening.......….......….........…………….... 52
Gambar 4.3 Hasil Pengujian Normalitas dengan Histogram...………….... 68
Gambar 4.4 Hasil Pengujian Normalitas dengan Histogram...………….... 68
Gambar 4.5 Pengujian Heterokedasitisitas............................…………….. 69
xii
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Lampiran
Lampiran 1 : Kuesioner Penelitian Skripsi
Lampiran 2 : Tabulasi Data
Lampiran 3 : Haasil Uji SPSS
Lampiran 4 : Persentase Plagiat
Lampiran 5 : Riwayat Hidup / Curriculum Vitae
xiii
ABSTRAK
PENGARUH CONTENT MARKETING TERHADAP BRAND
AWARENESS PRODUK SCARLETT WHITENING
DI KALANGAN MILENIAL DI KOTA
TANJUNGPINANG
Leny Santika. 18612206. Manajemen. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE)
Pembangunan Tanjungpinang.
Email: [email protected]
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Content Marketing
berpengaruh terhadap Brand Awareness produk Scarlett Whitening dikalangan
milenial dikota Tanjungpinang. Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Teknik analisa data yang
digunakan adalah dengan analisis kuantitatif menggunakan SPSS. Selanjutnya
dilakukan tahap analisa data dengan pengujian instrumen penelitian, analisis
asumsi klasik, analisi regresi linier sederhana, pengujian hipotesis, koefisien
determinasi serta uji t.
Bentuk penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
menggunakan tipe kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi dalam
penelitian ini adalah Masyarakat milenial di Kota Tanjungpinang. Penelitian ini
menggunakan 382 responden sebagai sampel dengan menggunakan purposive
sampling sebagai teknik pengambilan sampel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa content marketing berpengaruh
signifikan terhadap brand awareness. Berdasarkan hasil uji determinasi diperoleh
hasil koefisien korelasi (R) sebesar 0,742 Nilai tersebut menunjukkan R Square
sebesar 74,2%. Artinya variabel bebas yaitu content marketing berpengaruh
sebesar 74,2% terhadap variabel terikat yaitu brand awareness, sedangkan 25,8%
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Kata Kunci: Content Marketing dan Brand Awareness
Dosen Pembimbing: 1. Selvi Fauzar, S.E., M.M.
2. Yuritanto, S.E., M.M.
xiv
ABSTRACT
INFLUENCE OF CONTENT MARKETING ON BRAND
SCARLETT WHITENING PRODUCT AWARENESS
IN THE CITY MILLENIALS
TANJUNG PINANG
Leny Santika. 18612206. Manajemen. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE)
Pembangunan Tanjungpinang.
Email:
[email protected] This study aims to determine whether Content Marketing has an effect on
Brand Awareness of Scarlett Whitening products among millennials in the city of
Tanjungpinang. The research method used in this study is a quantitative research
method. The data analysis technique used is quantitative analysis using SPSS. The
next step is data analysis by testing research instruments, classical assumption
analysis, simple linear regression analysis, hypothesis testing, coefficient of
determination and t test.
The form of research conducted in this study is to use a quantitative type
with a descriptive approach. The population in this study is the Millennial
Community in Tanjungpinang City. This study used 382 respondents as a sample
using purposive sampling as a sampling technique.
The results showed that content marketing had a significant effect on
brand awareness. Based on the determination test, the correlation coefficient (R)
is 0.742. This value shows an R Square of 74.2%. That is, content marketing has
an effect of 74.2% on the variable, namely brand awareness, while 25.8% is
influenced by other variables not included in this study.
Keywords: Content Marketing and Brand Awareness.
Dosen Pembimbing: 1. Selvi Fauzar, S.E., M.M.
2. Yuritanto, S.E., M.M.
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat ini perkembangan produk kecantikan semakin pesat dimana
setiap wanita tentu ingin tampil cantik dan harum agar menarik perhatian publik.
Produk kecantikan memiliki peran penting pada saat ini bagi kaum perempuan
khususnya masyarakat milenial. Tentu dengan adanya kebutuhan seperti ini para
perusahaan akan selalu meningkatkan dan memperbanyak jenis produk kecantikan
tidak hanya untuk wajah tetapi seluruh tubuh. Dengan semakin banyak peminat
produk kecantikan pada saat ini maka perusahaan berlomba-lomba menciptakan
produk unggulan mereka dan bersaing tidak hanya didalam daerah tetapi sampai
keluar daerah dan juga penjualan bisa mencapai nasional bahkan sampai
internasional.
Pada saat ini produsen perusahaan produk kecantikan menciptakan
berbagai jenis produk mulai dari khusus rambut, wajah, dan seluruh tubuh.
Dengan adanya berbagi macam produk kecantikan yang diciptakan ada sebuah
produk kecantikan khususnya untuk seluruh tubuh yang banyak sekali peminatnya
untuk saat ini. Produk yang dimaksud yaitu Scarlett Whitening, dimana produk
perawatan kecantikan milik artis bernama Felicya Angelista yang baru saja berdiri
pada tahun 2017. Scarlett Whitening diproduksi oleh PT. Motto Beringin Abadi,
Bogor, Indonesia. Semua produk Scarlett Whitening sudah diuji oleh Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOMRI). Scarlett Whitening
1
2
menawarkan berbagai macam produk yang terbagi menjadi tiga kategori yaitu
produk perawatan tubuh, perawatan wajah dan rambut. Scarlett Whitening
memiliki fokus terhadap rangkaian produk perawatan untuk mencerahkan dan
memutihkan kulit tubuh juga wajah karena mengandung Glutathione dan Vitamin
E yang sangat bagus untuk membuat kulit lebih cerah dan sehat. Produk
unggulannya yaitu rangkaian perawatan tubuh yang dapat memberikan hasil putih
seketika (instant whitening) yang hasilnya terlihat dalam pemakaian pertama.
Tetapi beberapa para konsumen diantara mereka sangat selektif dalam
memilih dan membeli produk-produk kecantikan yang cocok untuk kebutuhan
mereka. Ada dari beberapa para konsumen yang tidak puas dengan hasil dari
produk scarlat whitening tersebut, seperti salah satu bodylotion dari scarlet tidak
bertahan lama harumnya. Berdasarkan dari hasil Pra-Penelitian yang saya
lakukan bahwasannya ada beberapa para pengguna bodylotion produk Sacarlett
Whitening ini berpendapat salah satu kekurangan dari bodylotion produk tersebut
iyalah mengenai kurangnya ketahanan wangi yang dimiliki bodylotion produk
Scarlett Whitening. Sedangkan ada beberapa merek bodylotion yang murah
dibandingkan Scarlet Whitening yang harumnya bisa bertahan berjam-jam.
Mungkin hal ini adalah salah satu kekurangan atau masalah yang ada pada
produk kecantikan Scarlet Whitening. Tetapi dengan masalah yang ada pada
produk tersebut peminat produk Scarlett Whitening tidak berhenti, bahkan
dikalangan milenial banyaksekali yang membeli produk tersebut.
3
Gambar 1. 1
Hasil Pra Penelitian
Sumber : Hasil Pra Penelitian (2021)
Banyaknya peminat Produk Scarlett Whitening dikalangan Masyarakat
milenial Kota Tanjngpinang dapat dibuktikan dengan Pra-Penelitian yang telah
dilakukan. Untuk hasil Pra-Penelitian bahwasannya peminat Produk Scarlett
Whitening dikalangan Masyarakat milenial Kota Tanjungpinang dari 49
Responden, 30 diantaranya telah memenuhi syarat sampel yaitu masyarakat yang
berusia dari 24-39 tahun. Dari responden tersebut dapat dikatakan bahwa peminat
Scarlett Whitening sebanyak 30:49x100% dari jumlah responden yang didapat
jika dipersenkan menjadi 87,8%.
4
Tabel 1. 1
BPS kota Tanjungpinang
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Tanjungpinang (2021)
Usia masyarakat milenial yaitu dari usia 24 tahun sampai dengan usia 39
tahun. Untuk hasil yang telah didapatkan dari Badan Pusat Statistik Kota
Tanjungpinang (BPS-Statistics of Tanjungpinang Municipality) jumlah
masyarakat Milenial kota Tanjungpinang berjumlah 52,340 orang. laki-laki
berjumlah 26,127 dan perempuan berjumlah 26,213.
Dalam pemasaran produk Scarlett Whitening ini tentu saja produsen
menggunakan strategi yang berbeda dan menarik perhatian para konsumen.
Pemasaran yang tepat digunakan untuk memasarkan produk Sacrlett Whitening
ini yaitu menggunakan teknologi. Dapat diketahui dari tahun ketahun kemajuan
teknologi terus berkembang dari era teknologi pertanian, era teknologi industri,
era teknologi informasi, dan era teknologi komunikasi dan informasi. Dalam
menjalankan kehidupan sehari – hari dengan kemampuan sederhana hingga
sampai pada tingkat kepuasan sebagai individu dan masyarakat sosial tentunya
menggunakan berbagai macam alat untuk mencapai efisiensi setiap tindakan yang
5
dilakukannya. Salah satu alat untuk mencapai efesiensi tersebut adalah komputer.
Munculnya sebuah perangkat keras komputer yang diserati dengan
kelengkapan software yang sangat membantu pekerjaan manusia dengan lebih
fleksibel dan efesien. Perkembangan internet yang sangat pesat juga memberi
perubahan teknologi dengan munculnya smartphone perkembangan
yang menjadikan perangkat ini semakin cerdas (smart), semua aktivitas dapat
dikelola melalui telepon cerdas (smartphone), seperti komunikasi yang dapat
dilakukan digital melalui media sosial, aktivitas jual beli secara online serta
banyak lagi aplikasi pendukung pada smartphone yang dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan sehari-hari.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih dan mengikuti
perkembangan trend tentu membuat individu dapat bertukar informasi dengan
jangkauan sangat luas dan tidak terbatas, akses kegiatan dan aktivitas dapat
dilakukan secara online atau virtual. Menurut Kotler (Waoma & Dwihartono,
2020) Internet adalah jaringan publik luas yang berasal dari komputer dan
menghubungkan ke segala jenis pengguna di seluruh dunia satu sama lain dan
menghubungkan mereka dengan penyimpanan informasi yang sangat besar.
Oleh sebab itu, karena perkembangan teknologi maka mempengaruhi pada
strategi bisnis sehingga trend pemasaran juga beralih ke dunia digital. Dalam
perkembangan teknologi segala kegiatan sangat mudah dijalanan seperti
kemudahan yang ditawarkan mulai dari komunikasi, informasi, transaksi, edukasi,
hiburan sampai urusan pribadi juga dapat menggunakan teknologi.
Sehubungan dengan perkembangan teknologi ini beberapa negara Eropa telah
6
menyebut ini dengan konsep “Industri 4.0”. Konsep transformasi digital ini
memanfaatkan teknologi digital baru sebagai model aktivitas dan transaksi
sehingga muncul industri bidang internet dan teknologi informasi lainnya.
Gelombang transformasi system digital adalah elemen umum yang mendorong
setiap kegiatan untuk memanfatkan media digital sebagai sarana utamanya
sehingga transformasi digital menjadi pilar kebijakan industri pada beberapa
negara. Dengan adanya konsep transformasi digital ini akhirnya industripun
berlomba – lomba untuk berinovasi atau menciptakan sebuah cara atau strategi
untuk melakukan peningkatan penjualan mereka melalui digital marketing.
Strategi yang digunakan para pebisnis untuk meningkatkan penjualan
mereka melalui digital marketing yaitu strategi Content marketing. Isi didalam
sebuah konten tentu ada sebuah pesan penting dan pesan yang disampaikan harus
benar-benar menarik perhatin calon customer, karena dengan isi pesan menarik
dalam sebuah konten maka akan menarik calon customer untuk segera menjadi
customer. Content yang disebarkan melalui media sosial seperti instagram,
facebook, whatsapp dan lain-lain dengan pesan yang menarik, relevan, unik dan
dengan segala kelebihan yang dipaparkan adalah salah satu strategi pemasaran
digital yang wajib dilakukan seorang pengusaha.
Menurut Kotler et al (Abiyyuansyah et al., 2019) adalah strategi
pemasaran dimana pemasar merencanakan, membuat, dan mendistribusikan
konten yang mampu menarik audiens secara tepat sasaran, kemudian mendorong
mereka menjadi pelanggan. Secara singkat content marketing adalah strategi
pemasaran yang menggunakan sebuah konten dengan tujuan untuk memberikan
7
informasi kepada target atau konsumen yang bersifat ajakan atas produk yang
dipasarkan. Dalam hal ini content yang dimaksud seperti gambar, video, audio,
tulisan, e-book, tool, infografis, post di sosial media. Dan didalam content harus
memiliki unsur emosional agar content yang dibuat mempunyai suatu personality
yang tidak kaku dan mudah dipahami. Dalam pembuatan content wajib
memiliki 3 tahapan di yaitu awareness, evalution, dan purchase. Tidak hanya itu,
content juga terbagi lagi atas 3 jenis, yaitu content pengenalan, branding, dan
penjualan.
Salah satu cara yang digunakan dalam memasarkan produk melalui media
digital adalah dengan menciptakan sebuah konten yang menarik. Konten yang
menarik adalah kunci untuk menarik pelanggan ke situs web dan menjaga
ketertarikan mereka atau menciptakan adanya pembelian berulang. Salah satu
produk yang menggunakan strategi content marketing adalah produk Scarlett
Whitening.
Gambar 1. 2
Hasil Pra Penelitian
Sumber : Hasil Pra Penelitian (2021)
8
Pada gambar 1.1 dan gambar 1.2 dapat disimpulkan bahwasannya dari
hasil pra-penelitian yang dilakukan terdapat 49 responden, 30 diantaranya telah
memenuhi syarat sampel yaitu masyarakat milenial yang berusia 24 tahun sampai
dengan 39 tahun .Dari hasil yang didapatkan yaitu 30 responden mengakui telah
menggunakan Scarlett Whitening dan mengetahui adanya sebuah produk Scarlett
Whitening dari konten yang ada di media sosial, maka dari itu masyarakat
milenial mengakui bahwa konten yang menarik dimedia sosial dapat membuat
masyarakat milenial sadar akan sebuah produk Scarlett Whitening.
Karena strategi content marketing yang digunakan scarlet whitening, para
konsumen menjadi lebih aware terhadap produk tersebut. Sebuah perusahaan
yang berkembang menimbulkan sebuah isu baru disetiap aktivitasnya dan bisa
menimbulkan fenomena baru dalam dunia pemasaran. Tentu dalam menciptakan
sebuah produk perusahaan memberikan ciri khas atau karakteristik dari produk
yang mereka ciptakan (brand awaress). Brand Awareness merupakan sejauh
mana pelanggan diberi tahu mengenai karakteristik produk, diyakinkan untuk
mencobanya, dan diingatkan untuk membeli kembali dan memiliki dua dimensi
yaitu kesadaran merek dan pengetahuan produk Kotler dan Keller (Maulani &
Sanawiri, 2019) sehingga hal tersebut mempengaruhi persepsi dan sikap yang
mendorong pilihan merek serta loyalitas merek.
Content Marketing menjadi salah satu strategi yang penting dalam
pemasaran digital. Bentuk content marketing yang digunakan dalam memasarkan
produk Scarlett Whitening yaitu dengan melakukan pembuatan konten yang
menarik, unik dan relevan bagi calon customer dalam bentuk teks, video, foto dan
9
-lain yang didistribusikan melalui situs media sosial seperti Instagram, TikTok dan
lainnya.
Untuk itu berdasarkan uraian sebelumnya peneliti tertarik untuk meneliti
tentang Pengaruh Content Markerting Terhadap Brand awareness produk
kecantikan Scarlett Whitening (Studi Kasus Pada Generasi Milenial diKota
Tanjungpinang)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat di identifikasikan rumusan
masalah yaitu apakah Content Marketing dapat mempengaruhi Brand Awarenss
produk Scarlett Whitening pada masyarakat milenial kota Tanjungpinang?.
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini dilakukan agar penelitian lebih fokus
dan tidak meluas, maka dalam penelitian ini penulis memberikan batasan masalah
untuk objek penelitian, objek yang ditentukan untuk melakukan penelitian ini
adalah masyarakat milenial berdomisili di kota Tanjungpinang yang berumur 24
hingga 39 tahun per tahun 2021.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas dan rumusan masalah yang ada, maka
tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui strategi Content Marketing dapat
mempengaruhi Brand Awarenss produk Scarlett Whitening pada masyarakat
milenial kota Tanjungpinang.
10
1.5 Kegunaan Penelitian
1.5.1 Kegunaan Ilmiah
Hasil Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan
kepustakaan untuk peneliti selanjutnya, dan juga dapat menjadi salah satu
informasi bagi pembaca yang akan membahas topik serupa khususnya dibidang
manajemen pemasaran.
1.5.2 Kegunaan Praktis
a. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan untuk memperluas pengetahuan dalam bidang
yang diteliti bagi peneliti itu sendiri selain itu juga sabagai bahan penulisan
proposal.
b. Bagi pelaku usaha
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pemahaman
tentang seberapa berpengaruhnya content marketing terhadap brand aweress
produk kecantikan Scarlett Whitening pada masyarakat milenial kota
Tanjungpinang dan juga sebagai bahan pertimbangan dalam menjalankan strategi
pemasaran.
11
c. Bagi STIE pembangunan Tanjungpinang
kepada mahasiswa/mahasiswi STIE pembangunan Tanjungpinang
diharapkan agar penelitian ini dapat dijadikan referensi dan dapat dijadikan
sebagai bahan saat akan membuat tugas yang sejenis.
1.6 Sitematika Penulisan
Dalam penyusunan hasil penelitian ini agar mudah dimengerti dan
dipahami, maka dalam penyusunan hasil penelitian ini menggunakan sistematika
penulisan yang terdiri dari lima bab yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian
dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Dalam bab kedua penulis menjelaskan beberapa teori yang
berhubungan dengan penelitian ini.
BAB III METODELOGI PENELITIAN
Dalam bab ketiga penulis membahas mengenai jenis penelitian
yang digunakan, lokasi penelitian, definisi oprasional, populasi
dan sampel, jenis data, metode pengumpulan data dan teknik
pengolahan data.
12
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini menjelaskan mengenai hasil dari analisis data
untuk membuktikan bauran pemasaran yang telah diajukan
dalam pembahasan atas hasil analisis data.
BAB V PENUTUP
Dalam bab terakhir ini berisikan tentang kesimpulan yang
diperoleh dari hasil penelitian, keterbatasan dan saran-saran
yang perlu untuk diajukan penulis sebagai bahan pertimbangan
untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori
2.1.1 Pengertian Manajemen
Menurut Susan (2019) manajemen adalah kegiatan seseorang dalam
mengatur organisasi, lembaga atau sekolah yang bersifat manusia maupun non
manusia, sehingga tujuan organisasi, lembaga atau sekolah dapat tercapai secara
efektif dan efisien. Manajemen sacara umum dapat diartikaan proses mengatur
atau mengelola sesuatu yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang.
Proses manajemen ini termasuk menyusun rencana, pengorganisasian,
pelaksanaan, serta pengendalian atau pengawasan. Manajemen adalah proses
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating),
pengarahan (directing), dan pengawasan (controlling).
Menurut Gesi et al (2019) Manajemen adalah sebuah proses untuk
mengatur sesuatu yang dilakukan oleh sekelompok orang atau organisasi untuk
mencapai tujuan organisasi tersebut dengan cara bekerja sama memanfaatkan
sumber daya yang dimiliki. Secara etimologi, kata manajemen diambil dari
bahasa prancis kuno, yakni “management” yang artinya adalah seni dalam
mengatur dan melaksanakan. Manajemen dapat juga didefenisikan sebagai upaya
perencanaan, pengkoordinasian, pengoraganisasian, dan pengontrolan sumber
daya untuk mencapai sasran secara efisien dan efektif. Dapat disebut juga
manajemen sebuah seni untuk meyelesaikan pekerjaan orang lain.
Menurut Kristiawan dkk (Husaini & Fitria, 2019) manajemen merupakan
13
14
ilmu dan seni dalam mengatur, mengendalikan, mengkomunikasikan dan
memanfaatkan semua sumber daya yang ada dalam organisasi dengan
memanfaatkan fungsi-fungsi manajemen (Planing, Organizing, Actuating,
Controling) agar organisasi dapat mencapai tujuan secara efektif dan efesien.
Menurut George R. Terry (Gesi et al., 2019) manajemen sebuah proses yang khas
yang terdiri dari beberapa tindakan, perencanaan, pengorganisasian,
menggerakan, dan pengawasan. Menurut Terry(Maspeke et al., 2017) Manajemen
merupakan suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau
pengarahan suatu kelompok orang- orang kearah tujuan-tujuan organisasional
atau maksud yang nyata. Hal tersebut meliputi pengetahuan tentang apa yang
harus dilakukan, menetapkan cara bagaimana melakukannya, memahami
bagaimana mereka harus melakukannya dan mengukur efektivitas dari usaha-
usaha yang telah dilakukan.
2.1.2 Fungsi Manajemen
Menurut Nashar (2013) fungsi Manajemen adalah serangkaian kegiatan
Yang dijalankan dalam manajemen berdasarkan fungsinya masing-masing dan
mengikuti satu tahapan-tahapan tertentu dalam pelaksanaannya. Fungsi-fungsi
manajemen, sebagaimana diterangkan oleh Nickles, McHoughand Hough
(Nashar, 2013) terdiri dari empat fungsi, yaitu:
a) Perencanaan atau planning, yaitu proses yang menyangkut upaya yang
dilakukan untuk mengantisipasi kecendrungan di masa yang akan datangan
penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan
organisasi. Di antara kecenderungan dunia bisnis sekarang misalnya, bagaimana
15
merencanakan bisnis yang ramah lingkungan, bagiamana merancang organisasi
bisnis yang mampu bersaingdalam persaingan global, dan lain sebagainya.
b) Pengorganisasian atau organizing, yaitu proses yang menyangkut bagaimana
strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam
sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan
organisasi yang kondusif, dan bisa memastikan bahwa semua pihak dalam
organisasi bisa bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan
organisasi.
c) Pengimplementasian atau direction, yaitu proses implementasi rogram agar
bisa dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar
semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh
kesadaran dan produktivitas yang tinggi.
d) Pengendalian atau pengawasan atau controlling, yaitu proses yang dilakukan
untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan,
diorganisasikan, dan diimplementasikan bisa berjalan 13 sesuai dengan target
yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia
bisnis yang dihadapiPengertian Pemasaran
Menurut Rahmawati (2016) Pemasaran merupakan aktifitas yang memiliki
tujuan untuk mengidentifikasi dan menemukan kebutuhan manusia. Singkatnya
pemasaran dapat diartikan sebagai “meeting needs profitably” dimana bagaimana
bisa melayani kebutuhan konsumen dengan cara yang menguntungkan bagi
konsumen maupun perusahaan. Seperti, banyak orang yang karena
kesibukanmenjadi tidak punya waktu untuk melakukan pemilihan dan pembelian
16
barang dengan mendatangi satu per satu toko, maka perdagangan online akan
berkembang untuk melayani jenis konsumen seperti ini. Selain itu manusia
modern semakin sadar dengan kesehatan dan butuh produk makanan organik,
sehingga banyak usaha katering makanan organik dan supplier produk makanan
organik.
Menurut Widyaastuti (2017) Pemasaran merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem ekonomi pada masyarakat modern. Pemasaran dengan
menggunakan komunikasi pemasaran sudah berkembang dewasa ini menjadi
sistem komunikasi yang sangat penting tidak saja bagi produsen barang/jasa,
tetapi juga bagi para konsumennya. Kemampuan dan metode promosi dalam
menyampaikan informasi kepada konsumen merupakan hal yang penting dan
berpengaruh terhadap keberhasilan pemasaran dan pembentukan merek suatu
perusahaan.
Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang
dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan
kelangsungan hidup usahanya dan untuk mengembangkan perusahaan serta
untuk mendapatkan keuntungan atau laba yang sebesar-besarnya. Berhasil atau
tidaknya dalam pencapaian tujuan bisnis tergantung pada keahlian para pengusaha
tersebut dibidang pemasaran, produksi , keuangan maupun bidang lain
(Zainurossalamia, 2020). Menurut Assauri (Sitorus & Utami, 2017)
mendefinisikan bahwa pemasaran sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk
memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
Definisi pemasaran melalui perspektif sosial dan manajerial. Definisi
17
pemasaran secara sosial menunjukkan peran pemasaran dalam masyarakat sosial
dengan definisi bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial dimana individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui
penciptaan, penawaran, dan secara bebas bertukar nilai produk dan layanan
dengan orang lain.
2.1.3 Tujuan Pemasaran
Tujuan pemasaran adalah mengarahkan barang-barang dan jasa-jasa ke
tangan konsumen. Untuk ini diperlukan kegiatan-kegiatan tertentu. Berbagai jenis
kegiatan dan proses yang diperlukan karena spesialisasinya di dalam pemasaran.
Menurut Zainurossalamia (2020) ada beberapa tujuan dari pemasaran lainya,
diantaranya:
a) Memberi informasi (promosi), promosi adalah upaya untuk memberitahukan
atau menawarkan produk atau jasa dengan tujuan menarik calon konsumen untuk
membeli atau mengkonsumsinya. Dengan adanya promosi produsen atau
distributor mengharapkan kenaikan pada angka penjualan.
b) Menciptakan pembelian.
c) Menciptakan pembelian ulang, jika konsumen puas maka akan tercipta
pembelian ulang yang akan menjadikan konsumen sebagai pelanggan setia.
d) Menciptakan tenaga kerja tidak langsung, dalam memasarkan harga atau jasa
secara tidak langsung pun akan tercipta tenaga kerja.
e) Menciptakan produk megabrand, produk yang sudah memiliki pelanggan setia
akan menciptakan megabrand sehingga tidak mungkin produk tidak dilirik oleh
knsumen.
18
2.1.5 Fungsi Pemasaran
Menurut Zainurossalamia (2020) fungsi pemasaran merupakan kegiatan
yang dilakukan dalam bisnis yang terlibat dalam menggerakkan barang dan jasa
dari produsen sampai ke tangan konsumen. Adapun fungsi-fungsi pemasaran
terdiri dari :
a) Pembelian (Buying) yaitu fungsi yang mengikuti aktivitas-aktivitas mencari
dan mengumpulkan barang-barang yang di perlukan sebagai dasarnya merupakan
proses atau kegiatan mencari penjual dan merupakan tibal balik dari kegiatan
penjualan (Selling). Untuk itu maka, sangat perlu dipahami kegiatan apa saja
yang dapat mengakibatkan orang melakukan pembelian.
b) Penjualan (Selling) Mencakup aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk mencari
calon pembeli produk yang ditawarkan dengan harapan dapat menguntungkan.
Kegiatan penjualan merupakan lawan dari pembelian. Buying tidak akan terjadi
tanpa selling demikian pun sebaliknya.
c) Transportasi Adalah proses pendistribusian atau pemindahan barang
ari suatu tempat ke tempat yang lain.
d) Penggudangan/penyimpanan ialah fungsi penyimpanan produk yang dibeli
sebagai persediaan agar terhindar dari resiko kerusakan maupun resiko lainnya.
e) Informasi Pasar Poin ini merupakan fungsi pemasaran yang luas dan penting,
karena fungsi ini memberikan informasi tentang situasi perdagangan pada
umumnya yang berhubungan dengan produk, harga yang inginkan konsumen dan
situasi pasar secara menyeluruh.
19
2.1.6 Pengertian Manajemen Pemasaran
Menurut Yulia et al (2019) Manajemen Pemasaran adalah sebagai analisis,
perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang dirancang untuk
menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang
menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan –
tujuan organisasi. Jika suatu perusahaan memasukkan kegiatan manajemen
pemasaran, maka perusahaan akan berjalan dengan baik. Manajemen pemasaran
mempengaruhi aktivitas pemasaran yang dilakukan dan juga menjadi kriteria bagi
kelangsungan hidup perusahaan, yang merupakan peran yang tidak dapat
dipisahkan dari awal proses produksi hingga tahap dimana barang sampai ke
konsumen.
Menurut Tanama (2017) Manajemen pemasaran adalah suatu usaha untuk
merencanakan, mengimplementasikan (yang terdiri dari kegiatan
mengorganisaikan, mengarahkan, mengkoordinir) serta mengawasi atau
mengendalikan kegiatan pemasaran dalam suatu organisasi agar tercapai tujuan
organisasi secara efesien dan efektif yang dikenal dengan istilah fungs
manajemen. Tugas manajemen pemasaran ialah merencanakan bagaimana
menemukan peluang pasar untuk menukar barang dan jasa konsumen.Kemudian,
rencana implementasi manajemen pemasaran menjalin dan memelihara
komunikasi yang bermanfaat dengan konsumen untuk mencapai tujuan
perusahaan. Untuk definisi lebih detailnya, penulis merangkum beberapa
pengertian manajemen pemasaran dari beberapa ahli. Manajemen pemasaran
berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran, menurut Kotler dan
20
Armstrong (Yulia et al., 2019) pemasaran adalah analisis, perencanaan,
implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk
menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan
dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. Sedangakan
manajemen adalah proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (organizing)
penggerakan (Actuating) dan pengawasan. Jadi dapat diartikan bahwa Manajemen
Pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian
program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan
pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk
mencapai tujuan –tujuan organisasi.
Manajemen Pemasaran adalah penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan,
dan pengawasan program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran
dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan
Kotler (Priangani, 2013). Perusahaan yang sudah mulai mengenal bahwa
pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses usahanya, akan
mengetahui adanya cara dan falsafah baru yang terlibat di dalamnya. Cara dan
falsafah baru ini disebut "Konsep Pemasaran".
Menurut Zainurossalamia (2020) manajemen pemasaran merupakan suatu
proses perencanaan dan pelaksanaan dari perwujudan dari pemberian harga,
promosi, dan distribusi dari barang-barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan
pertukaran dengan kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelayanan
organisasi. Dengan kemampuan menguasai suatu pasar yang ada, dapat
memungkinkan suatu perusahaan memperoleh dana untuk membiayai kegiatan
21
operasinya, pengembangan dan faktor lainnya. Untuk hal itu, perusahaan harus
melakukan suatu konsolidasi yang mengarah ke dalam maupun keluar agar
dapat mengetahui kelemahan, kekuatan, peluang serta hambatan yang
mungkin diketahui apabila perusahaan dapat memutuskan tugas manajemen
yang berkompetisi di pasar.
2.1.7 Content Marketing
2.1.7.1 Pengertian Content Marketing
Menurut Kotler (2017) adalah strategi pemasaran di mana pemasar
merencanakan, membuat, dan mendistribusikan konten yang mampu menarik
audiens secara tepat sasaran, kemudian mendorong mereka menjadi pelanggan.
Menurut Heidi Cohen (yusuf, R., Hendrayati, H., dan Wibowo, 2020) Content Marketing
merupakan strategi pemasaran dengan cara membuat konten yang tujuannya untuk
memberi informasi kepada konsumen atas produk yang dipasarkan. Penggunaan content
marketing mendorong perusahaan dalam untuk mencapai tujuan seperti kesadaran merek,
menarik calon pelanggan, mempertahankan hubungan dengan pelanggan, loyalitas
pelanggan Elisa dan Gordini (Abiyyuansyah et al., 2019). Fungsi dan tujuan dari
terciptanya sebuah konten yaitu sebagai alat penghubung antara produsen dan konsumen.
Konten yang berisi suguhan yang menarik dan menyenangkan dapat menarik perhatian
konsumen untuk melirik produk yang ditawarkan. Sebuah konten bukan hanya strategi
memasarkan produk tetapi juga sebagai usaha penciptaan konten yang tujunnya untuk
mempengaruhi konsumen agar melakukan pembelian.
Untuk menciptakan sebuah content marketing yang baik, unik, dan
menarik ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti :
22
1. Design
Untuk menarik perhatian para konsumen, perusahaan harus bisa membuat
design semenarik mungkin agar saat mereka melakukan pengunjungnya
dibeberapa situs media sosial, mereka melihat sebuah design produk yang
menonjol dan unik berbeda dengan produk yang lain. Maka mereka akan kembali
lagi ke media sosial yang sama untuk melihat produk tersebut. Konsumen sudah
terlalu sering melihat desain menarik dan juga estetika, hal
itu menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi konsumen untuk melirik produk
dengan design yang menarik dan unik . tentu juga termasuk ukuran dan bobot
font, mengatur konten dalam kesatuan frame yang dapat dicerna secara visual dan
terhubung dengan artikel terkait, adalah hal yang penting dan perlu diperhatikan.
Maka dari itu konten yang menarik tidak akan berpengaruh besar apabila tidak
diseimbangkan dengan desain yang unik dan menarik tentunya beda dari design
produk yang lain.
2. Current Event
Sebuah konten yang baik maka didalam nya menyajikan berita seputar
fenomena yang sedang terjadi.Dengan menyajikan berita yang fenomena yang
sedang berlangsung maka otomatis juga akan terbaca oleh google, dan juga
kemungkinan dengan konten yang ada membuat pengguna internet untuk
mengunjungi situs maupun media sosial yang di miliki.
3. The Reading Experience
Tidak hanya current event, dalam membuat sebuah konten tidak hanya
design yang unik tetapi harus mudah dipahami oleh pembaca. Desain yang
23
menarik tidak semua harus tentang warna-warna dan gambar yang eye catchy,
tetapi tata letak dan font yang digunakan harus bisa terbaca dengan baik dan
mudah dimengerti.
4. Timming
Selanjutnya yaitu timming, yaitu kapan dan berapa kali konten yang
telah dibuat akan di unggah. Dalam mengunggah sebuah konten harus
adanyakonsisten waktu, karena tidak semua para pengguna media sosial langsung
melihat postingan konten yang telah diunggah. Dan untuk saat ini Facebook dan
Instagram memiliki algoritma tersendiri dalam menampilkan postingan terbaru
pada beranda home dan newsfeed sehingga unggahan-unggahan yang muncul
bukan lagi berdasarkan postingan terbaru, namun seberapa besar engagement dari
account user terhadap official account yang dimiliki. Oleh karena itu, perlu
adanya frekuensi dan waktu-waktu tertentu dimana waktu tersebut adalah saat
prime time pada social media.
5. Tone
Kesesuaian sebuah konten antara perusahaan dan target penjualan. Konsep
dasar yaitu kualitas dan penataannya yang bersifat universal, namun beberapa
Produk yang disediakan oleh perusahaan baiknya diterjemahkan dalam
komunikasi yang baik dan sesuai dengan target pasar dan audience yang telah
ditentukan. Scarlett Whitening sebagai produk kecantikan yang harus dimiliki
para masyarakat milenial, Maka dari itu produsen harus menciptakan konten-
konten yang unik dan menarik juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh
masyarakat milenial saat ini.
24
2.1.7.2 Indikator – Indikator Content Marketing
Menurut Milhinhos (Amalia, 2020) indikator-indikator wajib dimiliki
sebuah content marketing dalam rangka mengukur konten yaitu :
1. Relevansi, produsen dapat menyediakan konten dengan menggunakan
informasi yang relevan. Dan Informasi yang disajikan sesuai dengan kebutuhan
yang berhubungan dengan fenomena yang dihadapi konsumen.
2. Akurasi, produsen juga dapat menyediakan konten yang berisi informasiyang
up to date dan akurat. Informasi yang diberikan adalah fakta, sesuai dengan
kenyataan yang terjadi saat itu.
3. Bernilai, Produsen harus menyediakan konten yang berguna dan bermanfaat
bagi para konsumen. Membuat konten unik serta menarik dan juga yang
mempunyai nilai jual salah satu persyaratan dasar dari perilaku konsumen.
4. Mudah Dipahami, Produsen menyediakan konten yang mudah dipahami dan
dimengerti oleh konsumen.
5. Mudah Ditemukan, Produsen bisa mengunggah sebuah konten menggunakan
media sosial yang mudah dijangkau oleh para konsumen.
6. Konsisten, Seorang produsen harus bisa mempertahankan kuantitas dari konten
yang disajikan kepada para konsumen. Selalu konsisten terhadap waktu (update)
dalam memperbaharui atau mengunggh informasi secara berkala.
Menurut As’ad dan Alhadid (Zulfikar & Mikhriani, 2017) indikator-
indikator Content Marketing terdiri dari :
a) Online Communities, Sebuah perusahaan atau sejenis usaha dapat
menggunakan media social untuk membangun sebuah komunitas disekitar minat
25
pada produk atau bisnisnya. Semangat komunitas untuk membangun kesetiaan,
mendorong diskusi-diskusi, dan menyumbangkan informasi, sangat berguna
untuk pengembangan dan kemajuan bisnis tersebut.
b) Interaction, Di dalam media sosial memungkinkan terjadinya interaksi yang
lebih besar dengan online communities, melalui informasi yang selalu up-to-date
serta relevan dari pelanggan.
c) Sharing of content, berbicara mengenai lingkup dalam pertukaran individual,
distribusi dan menerima konten dalam aturan media sosial.
d) Accessibility, mengacu pada kemudahan untuk mengakses dan biaya minimal
untuk menggunakan media sosial. Media sosial juga mudah untukdigunakan dan
tidak memerlukan keahlian kusus.
e) Credibility, digambarkan sebagai pengiriman pesan yang jelas untuk
membangun kredibilitas atas apa yang dikatakan atau dilakukan yang
berhubungan secara emosional dengan target audien.
2.1.8 Brand Awareness
2.1.8.1 Pengertian Brand Awareness
Kesadaran merek (Brand Awareness) kesadaran calon pelanggan untuk
mengetahui dan mengingat ciri - ciri dari produk seperti bentuk, warna, simbol
atau logo yang digunakan produk tersebut. Brand awareness adalah kemampuan
calon customer untuk mengenali atau mengingat bahwa sebuah merek merupakan
bagian dari kategori produk tertentu menurut (Humdiana; Chamid dkk,
2015).Semakin banyak calon pelanggan mengingat ciri – ciri dari produk maka
26
semakin baik Brand Awareness produk tersebut. Brand awareness sangat
penting bagi produsen, dimana konsumen akan cenderung membeli produk yang
sudah dikenal atau diingat oleh mereka menurut Severi & Ling (Sander & Riza,
n.d.). Maka dapat disimpulkan bahwasannya dalam menciptakan kesadaran suatu
merek (brand awareness) merupakan langkah penting bagi suatu perusahaan
untuk mempromosikan produk dan jasanya.
Kesadaran merek (brand awareness) terdiri dari brand recognition dan
brand recall performance. Brand Recognition yaitu kemampuan seorang calon
pembeli untuk mengenali merek yang ditawarkan perusahaan kepada calon
pembeli, dan Brand Recall yaitu kesanggupan seorang calon pembeli untuk
kembali memberi merek saat mengingat kategori produk yang di tawarkan
perusahaan. Menurut Aaker (Aji & Semuel, n.d.) Brand awareness adalah
kemampuan calon pembeli untuk mengenali, mengingat merek bahwa merek
terdiferensiasi dari merek lain melalui di-mensinya.
Brand Awareness adaalah kemampuan calon pembeli untuk mengenali
atau mengingat bahwa sebuah merek merupakan bagian dari kategori produk
tertentu menurut Humdiana Chamid dkk (Harijono et al., 2021). Brand Awareness
mempunyai tingkatan level, yaitu level tinggi hingga level terendah (tidak
menyadari merek), berikut penjelasannya:
1. Top of Mind adalah merek yang pertama kali disebutkan oleh konsumen atau
yang pertama kali muncul di benak konsumen.
2. Brand Recall adalah mengingat kembali merek tanpa terganggu.
3. Pengakuan Merek adalah tingkat kesadaran merek minimum, di mana
pengenalan merek muncul lagi setelah dipanggil kembali dengan bantuan.
27
4. Unaware of Brand adalah level terendah dalam piramida brand awareness di
mana konsumen tidak menyadari merek.
Kesadaran merek dapat menghubungkan merek dengan asosiasi yang
diharapkan oleh perusahaan, familiarity diciptakan oleh pelanggan untuk
mengenali merek tersebut. Tingkat kesadaran merek berkisar dari tingkat
recognize the brand artinya pelanggan bisa mengenal sebuah merek sampai
dimana mereka menjadi dominant brand recalled. Sebuah merek adalah sesuatu
yang ada dibenak konsumen dan diingat untuk menjadi identitas kategori produk
tersebut. Merek menjadi salah satu bagian dari consideration set hingga dapat
mempengaruhi pelanggan atau konsumen untuk membeli produk tersebut. Dari
sekian banyak pelanggan mereka akan kembali membeli produk yang sudah
dikenal. Menurut Hasbun dan Endang (Pranata & Pramudana 2018) kesadaran
merek (brand awareness) adalah kemampuan merek yang munculdi benak
konsumen ketika mereka berpikir tentang produk tertentu dan seberapamudah
bahwa produk muncul.
2.1.8.2 Indikator – Indikator Brand Awareness
Menurut Keller (Sari et al., 2021) ada empat indikator yang dapat
digunakan untuk mengetahui seberapa jauh konsumen mengenal Brand
Awareness terhadap sebuah merek yaitu:
1. Recall, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat nama merek yang
sederhana, mudah diucapkan, dan memiliki arti yang jelas membuat suatu merek
mudah muncul dalam ingatan konsumen.
28
2. Recognition, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut
termasuk ke dalam kategori tertentu.
3. Purchase, yaitu seberapa jauh konsumen akan memasukkan suatu merek ke
dalam alternatif pilihan ketika akan membeli produk/layanan.
4. Consumption, yaitu seberapa jauh konsumen konsumen dapat mengenali
suatu merek ketika sedang menggunakan merek pesaing.
Menurut Graciola (2020) indikator Brand Awarenes dapat dilihat dari
beberapa ketentuan yaitu sebagai berikut :
1. Merek yang terkait dengan desain kemasan Atribut merek membantu
meningkatkan nilai yang dipersepsikan, yang memengaruhi keputusan pembelian
antara lain yang terdiri dari warna, simbol, tata letak, desain kemasan, periklanan,
dan layanan pelanggan.
2. Merek yang terkait dengan kebiasaan konsumen menentukan merek produk.
Ketika pelanggan tidak terbiasa dengan suatu merek, mereka diarahkan pada
pengambilan keputusan; Dengan kata lain, menentukan apakah konsumen akan
melakukan pembelian dalam suatu perusahaan atau tidak.
3. Merek yang terkait dengan nilai yang dirasakan Merek bertanggung jawab
untuk menciptakan skenario yang meningkatkan persepsi pelanggan tentang
kualitas, meningkatkan persepsi mereka tentang layanan pelanggan yang
disediakan dan fungsi produk, mempengaruhi preferensi konsumen, dan
meningkatkan nilai yang dirasakan yang dibayarkan untuk produk atau layanan.
29
Untuk itu menurut Tjiptono (Muthiah & Setiawan 2019) mengemukan
pendapatnya bahwa Brand Awareness merupakan kemampuan konsumen untuk
mengenali atau mengingat bahwa sebuah merek merupakan anggota dari kategori
produk tertentu dan Kesadaran merek adalah sejauh mana pelanggan mampu
mengingat atau mengenali merek dalam kondisi yang berbeda. Kesadaran merek
adalah salah satu dari dua dimensi dari pengetahuan merek, model memori
jaringan asosiatif.
2.2 Hubungan antara Variabel
Content Marketing dan Brand Awareness
Menurut Pertiwi & Gusfa (2018) hubungan antara Content Marketing
terhadap Brand Awareness memiliki pengaruh positif dan signifikan. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin menarik Content Marketing yang diciptakan maka
semakin tinggi tinggat pencapaian sebuah Brand Awareness suatu produk. Hasil
pengujian Social Media terhadap Brand sebuah produk mempunyai pengaruh
positif dan signifikan. Hal ini menunjukkan semakin banyak interaksi di Social
Media, maka semakin tinggi pengaruh Brand Awareness yang dimiliki produk
tersebut.
Hasil pengujian Content Marketing terhadap brand awareness mempunyai
pengaruh positif dan signifikan. Hal ini menunjukkan semakin menarik Content
Marketing, maka semakin tinggi interaksi di Social Media.
30
2.3 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah:
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Penelitian
Content Brand
Marketing(x) Awareness(y)
Sumber: Konsep yang disesuaikan untuk penelitian 2021
2.4 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian
yang diajukan menurut (Sugiyono, 2013). Dengan mengacu pada rumusan
masalah, landasan teori, dan kerangka pemikiran tersebut maka hipotesis yang di
ajukan penelitian ini adalah ”diduga content marketing berpengaruh secara
signifikan terhadap brand awareness pada Produk Scarlett Whitening pada
masyarakat Milenial Kota Tanjungpinang”
2.5 Penelitian Terdahulu
2.5.1 Jurnal Nasional
1. Menurut Pertiwi & Gusfa (2018) dengan judul Pengaruh Content
Marketing terhadap pembentukan Brand Awareness pada Kalbis Institute.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengukur sejauh mana content
marketing pada sosial media Instagram Kalbis Institute dapat berpengaruh
terhadap pembentukan brand awareness. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif, populasi dalam penelitian ini yaitu followers pada
Instagram @kalbisinstitute untuk jumlah responden sebanyak 104
responden. Pengumpulan data menggunakan teknik metode Survei dengan
31
cara menyebarkan kuesioner secara acara kepada responden. Dari hasil
yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa content marketing
berpengaruh pada instagram kalbis institute terhadap brand awareness
Kalbis Institute. Dalam uji regresi yang dilakukan, hasil yang diperoleh
dari nilai R square sebesar 0.866. Maka dapat disimpulkan bahwa content
marketing Instagram berpengaruh terhadap brand awareness sebesar
86,6% sementara 13,4% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain diluar
penelitian ini.
2. Menurut Lokito (2018) dengan judul Perencanaan strategi pemasaran
content marketing Buleleng Bali Coffe. Tujuan dari penelitian ini yaitu
untuk merencanakan strategi pemasaran content marketing Buleleng Bali
Coffee. Content marketing yang digunakan dalam penelitian ini melalu
media sosial yaitu Instagram. Dimana instagram adalah bagian untuk
mengomunikasikan promosi dan pemasaran produk di era digital saat ini.
Elemen-elemen yang ada di dalam content marketing dapat dianalisa
pergerakannya melalui interaction, impressions,reach, dan engagements.
metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
primer dan metode skunder. Dimana metode primer didaptkan dari
narasumber atau responden, yaitu dari Buleleng Bali Coffee, wisman dan
wisnus, serta toko oleh-oleh setempat. Dan metode skunder dari data
Badan Pusat Statistik (BPS), studi literatur dengan menganalisa artikel-
artikel yang sesuai dengan apa yang ingin diteliti, dokumentasi, teori , dan
juga berita yang dimuat di internet, buku, surat kabar dan lainnya. Metode
32
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deduktif dengan
menggunakan metode analisis data berupa SWOT. Hasil dari penelitian
membuktikan bahwa content marketing dan teknik bercerita (storytelling)
di dalamnya menjadi salah satu cara promosi yang tepat digunakan untuk
memasarkan produkproduk UMKM seperti Buleleng Bali Coffee.
3. Menurut Waoma & Dwihartono (2020) dengan judul Brand Awareness
Properti : Analisis ContentMarketing Dan Social Media ( Kasus : Citra
Garden City Jakarta) dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat
pengaruh Content Marketing dan Social Media dalam rangka membangun
product awareness masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode kuantitatif untuk menentukan pengaruh antar variabel
dalam sebuah populasi dengan melakukan pengukuran antar variabel
untuk melihat hubungan sebab-akibat dari fenomena yang diteliti melalui
penyebaran kuesioner kepada konsumen Citra Graden City
Jakarta.Penelitian ini bersifat terbatas. Populasi dalam penelitian ini adalah
konsumen Citra Garden City Jakarta berjumlah 140 dengan jumlah sampel
sebanyak 107 konsumen. Analisis data dalam penelitian ini melalui tiga
tahapan, yaitu analisis deskriptif; uji validitas dan realibilitas; uji asumsi
klasik serta pengujian hipotesis melalui analisis korelasi dan analisis jalur
(path analysis). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa product
Awareness adalah salah satu tolak ukur keberhasilan dalam membangun
kesadaran merek atau product awareness sebuah perusahaan, dimana
semakin bagus kualitas suatu content, semakin tinggi pula product
33
awareness yang tentu berpengaruh pada keberhasilan perusahaan. Social
media menjadi salah satu media yang sering digunakan untuk mencari
produk, untuk itu social media penting untukdiperhatikan dan dianalisa.
2.5.2 Jurnal Internasional
1. Menurut Wang (2017) dengan judul B2B content marketing for
professionalservices: In-person versus digital contacts. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui apakah pemasaran dapat memiliki peran baru,
peran yang lebih searah dengan tenaga penjualan, dengan beradaptasi
pemasaran konten (CM) diorganisasi layanan profesional B2B. Dari
penelitin ini membuktikan bahwa jumlah prospek penjualan dan peluang
yang dimenangkan dari akun utamanya dipengaruhi secara positif oleh
frekuensi karyawan akun menghadiri acara digital dan mengonsumsi
konten digital, tetapi tidak secara langsung acara. Variabel independen
utama dalam penelitian ini adalah keterlibatan dengan perbedaan jenis
kegiatan CM. Penelitian ini memiliki tiga variabel untuk menangkap
keterlibatan dengan masing-masing jenis kegiatan CM. Analisis yang
digunakan yaitu binomial negatif efek acak random model regresi. Model
regresi binomial negatif cocok untuk menangani data hitungan seperti
jumlah prospek penjualan atau peluang yang dimenangkan dari rekening
per tahun anggaran. Untuk sampel dari penelitian ini yaitu perusahaan
pembeli yang besar dan beragam. Masalah dalam pengambilan sampel
terbatas karena peneliti hanya memiliki data dari layanan yang ditawarkan
oleh konsultan industri, di mana reputasi sangat penting. Maka penelitian
34
mengenai tentang CM mungkin tidak berlaku untuk industri jasa lainnya.
Hasil dari pemaparan tersebut menyatakan bahwa CM digital aktivitas
lebih efektif daripada aktivitas CM secara langsung menyarankan cara,
yang melengkap tenaga penjualan, untuk mempraktikkan pemasaran
practice dalam organisasi layanan B2B.
2. Menurut Bilgin (2018) dengan judul The Effect Of Social Media
Marketing Activities On Brand Awareness, Brand Image and Brand
Loyalty. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh
aktivitas pemasaran media sosial terhadap kesadaran merek, citra merek
dan loyalitas merek. Dan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh kesadaran merek dan citra merek terhadap loyalitas merek.
Populasi terdiri dari konsumen yang aktif mengikuti lima merek dengan
skor sosial tertinggi menurut data kinerja merek media sosial Marketing
Turkey pada saluran komunikasi media sosial seperti Facebook, Twitter
dan Instagram. Dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif dan data
penelitian diperoleh melalui kuesioner online yang dibagikan di media
sosial dari 547 pengikut merek dengan menerapkan metode convenience
sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan structural equation
modeling (SEM). Sebagai hasil dari analisis, aktivitas pemasaran media
sosial ditemukan sebagai faktor yang efektif terhadap citra merek dan
loyalitas merek, selain itu telah ditentukan bahwa efek yang paling jelas
terlihat pada kesadaran merek. Selain itu, telah ditemukan bahwa
kesadaran merek dan citra merek berpengaruh signifikan terhadap
35
loyalitas merek. Selanjutnya, dalam penelitian telah dicapai bahwa
kesadaran merek memiliki efek terbatas pada citra merek.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk
mengetahui gambaran Content Marketing terhadap Brand Awareness di
Masyarakat milenial kota Tanjungpinang. Metode penelitian digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada
umumnya dilakukan secara random (acak) sehingga kesimpulan penelitian dapat
digenneralisasikan pada populasi dimana sampel tersebut diambil. Menurut
Sugiyono (2013) dalam penelitian ini, riset kuantitatif digunakan untuk
mengetahui jawaban dari rumusan masalah penelitian, jawaban terhadap masalah
yang ingin diteliti menggunakan teori tersebut yang dinamakan dengan hipotesis.
3.2 Jenis Data
Jenis data terbagi menjadi dua yaitu, data kualitatif dan data kuantitatif.
Sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu: data primer dan data sekunder. Dalam
penelitian ini, jenis data yang digunakan yaitu jenis data kuantitatif yang dimana
data dicatat dengan menggunakan angka klasifikasi atau keterangan yang
diperoleh setelah menyebarkan kuesioner melalui google form. Sumber data yang
digunakan adalah:
36
37
3.2.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari subjek
penelitian, dalam melakukan penelitian dengan menggunakan data primer
peneiliti mendapatkan data atau informasi langsung dengan menggunakan
pertanyaan yang sudah ditetapkan. Data primer dikumpulkan oleh peneliti untuk
mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan didalam kuesioner yang
disebarkan ke masyarakat milenial kota Tanjng Pinang. Menurut Sugiyono (2013)
Data primer adalah sumber data yang dihasilkan secara langsung dengan
memberikan data kepada pengumpul data. Untuk mendapatkan data
menggunakan data primer bisa melalui kegiatan wawancara dengan subjek
penelitian dan dengan observasi atau pengamatan secara langsung di lapangan.
3.2.2 Data Sekunder
Data skunder adalah data yang digunakan untuk mendukung informasi
dari data primer yang telah diperoleh sebelumnya. Data skunder bisa didapatkan
melalui bahan pustaka, literatur, penelitian terdahulu, buku, dan lain sebagainya.
Menurut (Sugiyono 2013) data sekunder adalah sumber data yang didapatan
secara tidak langsung yang diberikan kepada pengumpul data, misalnya melalui
perantara atau lewat sebuah dokumen. Sumber data sekunder adalah sumber data
pelengkap yang fungsinya melengkapi data yang diperlukan oleh data primer.
38
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan pengumpulan
data menggunakan beberapa teknik metode pengumpulan sumber data. Teknik
dalam melakukan penelitian ini yaitu:
1. Kuesioner
Dalam melakukan penelitian ini penulis melakukan sebuah survei dengan
cara menyebarkan kuesioner melalui google form kepada masyarakat milenial
kota Tanjung Pinang. Google form adalah teknik mengumpulkan data yang
dilakukan dengan cara memberikan link yang berupa kuesioner online dan
didalamnya berisikan beberapa pertanyaan untuk dijawab oleh responden.
2. Studi pustaka
Studi pustaka merupakan sebuah acuan untuk membuat analisis teori.
Studi pustaka perlu dilakukan untuk pertimbangan agar dapat dijadikan panduan
ketika seorang peneliti berada di lapangan sehingga dapat membantu penulis
ketika mendalami sebuah objek yang akan diteliti. Menurut Sugiyono (2013) studi
pustaka merupakan metode yang dilakukan penulis untuk mendapatkan informasi
dari textbook serta mencari beberapa artikel dan kutipan dari berbagai sumber
yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Dalam penelitian ini, penulis
mendapatkan informasi data melalu beberapa artikel dan jurnal yang telah ditulis
oleh peneliti sebelumnya, yang berhubungan dengan variabel content marketing
terhadap brand awareness pada masyarakat milenial kota Tanjungpinang dimana
data ini menjadi landasan teori.
39
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Populasi dalam sebuah penelitian merupakan kumpulan individu atau
objek yang bersifat umum. Menurut Sugiyono (2013) Populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang memiliki kualitas dan
karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini populasinya yaitu seluruh masyarakat
Milenial kota Tanjungpinang yang pernah menggunakan produk scarlett
whitening.
3.4.2 Sampel
Menurut Sugiyono (2013) sampel merupakan bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh sejumlah populasi. Bila populasi besar, dan
peneliti tidak mungkin memahami semua yang ada pada populasi, misalnya
karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan
sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel pada penelitian ini adalah
responden yang memiliki karakteristik seperti masyarakat Milenial Tanjugpinang
yang berusia 24 tahun sampai dengan 39 tahun dan juga telah melakukan
pembelian Produk Scarlett Whitening (setidaknya satu kali) dalam rentang waktu
6 bulan.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
probability sampling dengan cara purposive sampling. probability sampling
adalah teknik yang memberikan kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota
populasi untuk dipilih menjadi sampel. Menurut Arikunto, Suharsimi (Husain,
40
2018) Sampel merupakan wakil atau sebagian dari subjek populasi yang akan
diteliti. Mengenai banyak sampel yang akan diambil, peneliti menggunakan
teknik probability sampling dimana teknik pengambilan sampel yang memberikan
kesempatan yang sama kepada seluruh pelanggan sebagai populasi menjadi
sampel. Sampel yang diambil berdasarkan jumlah populasi masyarakat Milenial
Kota Tanjungpinang yaitu sebanyak 52,340 jiwa.
Untuk menentukan ukuran sampel pada penelitian ini, penulis
menggunakan rumus Issac dan Michael. Cara menentukan sampel dalam
penelitian ini dengan menggunakan penentuan sampel dari Isaac dan Michael,
dengan tingkat kesalahan 5% diperoleh sampel sebanyak 382 jiwa.
Gambar : Rumus Sampel Isaac dan Michael
S = 382
Perhitungan Sampel Isaac dan Michael :
3,841 × 52.340 × 0,5 × 0,5
S=
0,0025 × 52,339 + 3,841 × 0,5 × 0,5
50.259,485
S=
131,80775
S= 382
41
Dari jumlah sampel pada penelitian yang saya dapatkan setelah menggunakan
rumus Isaac dan Michael dengan tingkat eror sebesar 5% maka sampel yang saya
dapatkan sebesar 382 sampel.
3.5 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel merupakan penjelasan dari masing-masing
variabel secara operasional dalam lingkup sebuah objek penelitian. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel bebas (X) dan variabel terkait (Y) :
a. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang dapat mempengaruhi, yang dapat
menyebabkan timbulnya atau berubahnya variabel terkait. Variabel bebas yang
digunakan dalam penelitian ini adalah content marketing
b. Variabel Terkait (Dependent Variable)
Variabel terkait adalah variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel
bebas. Variabel terkait yang digunakan dalam penelitian ini adalah Brand
Awareness.
Menurut Djollong (2014) Defenisi Operasional adalah mendefinisikan
variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati yang
memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara
cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Defenisi operasional ditentukan
berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian. Sedangkan cara
pengukuran adalah cara di mana variable dapat diukur dan ditentukan
karakteristiknya.
42
Definisi operasional variabel penelitian adalah penjelasan dari masing-
masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada table
berikut ini:
Tabel 3. 1
Definisi Operasional Penelitian
Variabel Definisi Indikator Butir Skala
pernyataan
Content Menurut Kotler 1. Relevansi2.Akurasi 1, 2, 3 Sakala
Marketing(X1) (2017)adalah strategi 3. Bernilai 4, 5, 6 Likert
pemasaran di mana 4. Mudah Dipahami 7, 8, 9
pemasar 5. Mudah Ditemukan 10, 11, 12
merencanakan, 6. Konsisten Sumber : 13, 14, 15
membuat, dan Amalia(2020) 16, 17, 18
mendistribusikan
konten yang mampu
menarik audiens
secaratepat sasaran,
kemudian mendorong
mereka menjadi
pelanggan.
Brand Brand awareness 1. Recall 1, 2, 3 Skala
Awareness(Y) adalah kemampuan 2. Recognition 4, 5, 6 Likert
calon customer untuk 3. Purchase 7, 8, 9
mengenali atau 4. Consumption 10, 11, 12
mengingat bahwa Sumber : Sari et al
sebuah merek (2021)
merupakan bagian dari
kategori produk
tertentu menurut
(Humdiana; Chamid
dkk, 2015).
Sumber : Data yang diolah (2021)
3.6 Teknik Pengolahan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yaitu
berdasarkan Variabel X (content marketing) terhadap Variabel Y (Brand
Awareness) dengan menggunakan teknik pengolahan data. Tahap dalam
43
penelitian ini pengolahan data yang akan digunakan adalah data setelah data
enelitian diproses secara manual ataupun dengan bantuan komputer Sunyoto
dalam (Mariah, 2020) dengan kata lain deskriptif kuantitatif berkaitan langsung
dengan angka yaitu :
1. Editing (pengeditan) merupkan sebuah proses pengkoreksian data yang telah
terkumpul.
2. Coding (pemberian kode) yaitu sebuah isyarat atau tanda yang dibuat dalam
bentuk huruf atau angka untuk sebagai petunjuk atau identitas pada suatu data
yang dianalisis
3. Scoring (pemberian nilai) dimana saat pemberian nilai, skala likert merupakan
salah satu cara menentukan nilai.
4. Tabulating (Proses pembeberan) dimana tahapan lanjutan dalam rangkaian
proses analisis data, melalui tabulasi maka ringkasan dan susunan dalam bentuk
tabel. Sehingga variabel bebas dan variabel terikat yang telah dijawab oleh
responden melalui kuisioner dapat diperoleh kemudian data ini siap dianalisis.
3.7 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan yaitu untuk
mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan
cara melakukan analisis data sampel. Menurut Sugiyono (2013) mengatakan
dalam statistik deskriptif juga dapat mencari kuatnya hubungan antara variabel
melalui analisis korelasi, melakukan peramalan dengan analisis regeresi, dan
membuat perbandingan antara rata-rata data sampel atau populasi.
44
3.7.1 Uji Kualitas Data
3.7.1.1 Uji Validasi
Menurut Sugiyono (2013) uji validitas merupakan petunjuk sebuah
ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang
dikumpulkan oleh peneliti untuk mencari validitas sebuah item, kita
mengkorelasikan skor item dengan total item-item tersebut. Jika koefisien antara
item dengan total item sama atau diatas 0,3 maka item tersebut dinyatakan valid,
tetapi jika nilai korelasinya dibawah 0,3 maka item terebut dinyatakan tidak
valid.
Agar mendapatkan data yang valid nilai indeks valid adalah nilai indeks
validitasnya ≥ 0,3 (Sugiyono, 2013). Oleh karena itu, semua pernyataan
yang memiliki tingkat korelasi dibawah 0,3 harus diperbaiki karena dianggap
tidak valid.
3.7.1.2 Uji Reliabilitas
` Uji Reliabilitas adalah sebagai alat ukur untuk mengukur kuesioner yang
menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2013). realianilitas kuesioner dalam
penelitian merupakan indikator dari variabel. Kuesioner dinyatakan benar jika
jawaban seseorang terhadap pertanyaan dalam kuesioner adalah konsisten atau
stabil setiap waktu. Uji reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dengan
menggunakan objek yang sama akan digunakan metode split half item tersebut
dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelimpok item ganjil dan kelompok item
genap. Kemudian masing-masing kelompok skor tiap itemnya dijumlahkan
sehinga menghasilkan skor total. Apabila korelasi 0,5 maka dikatakan item
45
tersebut memberikan tingkat reliabel yang cukup, sebaliknya apabila nilai korelasi
dibawah 0,5 maka dikatakan item tersebut kurang reliabel.
3.7.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik memiliki fungsi yaitu untuk meyakini persamaan garis
regresi yang didapat adalah linier dan bisa digunakan untuk mencari peramalan,
maksudnya adalah akan dilakukan pengujian asumsi uji normalitas, uji
multikolinearitas, dan uji heterokdiditas.
3.7.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas menurut Ghozali (Ernawatiningsih, 2019) tujuannya untuk
menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki
distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai
residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik
menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi
apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan cara analisis grafik
dan uji statistik. Distribusi data normal atau mendekati normal merupakan syarat
model regresi agar dapat dikatakan baik.
3.7.2.2 Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas memiliki tujuan untuk menguji apakah model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda
disebut Heteroskedastisitas. Uji heterokdiditas berfungsi untuk menguji
46
apakah model regresi memiliki ketidaksamaan variance dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lainnya Ghozali (Ernawatiningsih, 2019). Jika
variance dari pengamatan memiliki perbedaan maka disebut Heteroskedastisitas
dan apabila variance dari pengamatan lain tetap disebut Homoskedastisitas.
3.7.3 Uji Regresi Sederhana
Menurut Sugiyono (2013) Analisis regresi linear sederhana yang
didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal pada satu variabel
independen dengan satu variabel dependen”. Analisis regresi sederhana
digunakan sebagai alat ukur untuk mengukur pengaruh antara variabel
independen X (content mereketing) dengan variabel Y (brand awareness).
Persamaan Umum regresi linier sederhana adalah:
Y = a + BX
Keterangan:
Y = Subjek dalam Variabel dependen yang diprediksikan
a = Harga Y bila X = 0 (harga kontan)
b = Angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukan angka peningkatan
ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel independen.
Bila b (+) maka naik, dan bila (-) maka terjadi penurunan.
X = Subjek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu
3.7.4 Uji Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk
menjelaskan suatu hal yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya.
Menurut Sugiyono (2013) mendefinisikan hipotesis statistik yaitu, dalam
47
perumusan hipotesis statistik, antara hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif
(Ha) selalu berpasangan, bila salah satu ditolak, maka yang lain pasti diterima
sehingga keputusan yang tegas, yaitu kalau Ho ditolak Ha diterima. Hipotesis
statistik dinyatakan melalui simbol-simbol. Rancangan pengujian hipotesis
digunakan untuk mengetahui korelasi dari kedua variabel yang diteliti. Uji
signifikasi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara
stimultan menggunakan uji F dan secara parsial menggunakan uji t. Beberapa
tahap pengujian hipotesis yaitu :
3.7.4.1 Uji (t)
Uji Parsial (test) digunakan untuk mengetahui secara parsial pengaruh
variabel independen dengan variabel dependen dengan membandingkan t- hitung
dengan t- table.
a) Penentuan nilai kritis (t- table)
Berfungsi untuk menguji hipotesis menggunakan uji – t dengan tingkat signifikan
(X) 5% dengan sampel (n).
b) Kriteria Hipotesis
Ho: tidak ada pengaruh secara signifikan antara variabel independen terhadap
variabel dependen.
Ha: ada pengaruh secara signifikan antara variabel independen terhadap variabel
dependen.
Apabila nilai t-hitung > t-tabel, Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya
bahwa ada hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen
begitu juga sebaliknya.
48
3.7.4.2 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Uji koefisien determinasi merupakan suatu ukuran yang memberikan
informasi baik atau tidaknya model regresi yang terestimasi, atau dapat mengukur
seberapa dekat garis regresi yang terestimasi dengan data yang sesungguhnya.
Menurut Imam Ghazali (Ernawatiningsih, 2019) Koefisien determinasi (R²) pada
intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi
variabel independen. Nilai koefisien determinasi adalah 0 dan 1. Nilai R² yang
kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi
variabel dependen amat terbataas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-
variabel independen memberikan hamper semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen. Intinya yaitu, nilai R² yang kecil berarti
kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel
dependen amat terbataas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel
independen memberikan hamper semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen.
DAFTAR PUSTAKA
Abiyyuansyah, F., Kusumawati, A., & Irawan, A. (2019). Analisis Implementasi
Strategi Cntent Marketing Dalam Meningkatkan Customer Engangement (
Studi pada Strategi Content Marketing Amstirdam Coffee Malang ).
Administrasi Bisnis (JAB), 73(1), 78–87.
Aji, F. H., & Semuel, P. D. H. (n.d.). Analisa Pengaruh Brand Identity Terhadap
Brand Awareness dan Brand Satisfaction Brotherwood Decoration
Surabaya. 1–10. https://media.neliti.com/media/publications/140369-ID-
analisa-pengaruh-brand-identity-terhadap.pdf
Amalia, C. D. (2020). Pengaruh Content Marketing di Instagram Stories
@lcheesefactory terhadap Minat Beli Konsumen. Jom Fisip, 7, 1–11.
Djollong, A. F. (2014). Tehnik Pelaksanaan Penelitian Kuantitatif. Istiqra`:
Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam, 2(1), 86–100.
http://jurnal.umpar.ac.id/index.php/istiqra/article/view/224
Bilgin, Y. (2018). Business & management studies: an international journal. 1,
128–148.
Ernawatiningsih, N. P. L. (2019). Analisis Determinan Minat Mahasiswa
Akuntansi Dalam Berwirausaha. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis, 4(1),
34–47. https://doi.org/10.38043/jimb.v4i1.2157
Gesi, B., Laan, R., & Lamaya, F. (2019). Manajemen dan Eksekutif. Manajemen,
3(2), 51–66.
Harijono, H., Budiarsi, S. Y., & Agung., D. A. (2021). Pengaruh Service , Brand
Awareness , dan Trust Ter- hadap Customer Loyalty Pada Band Starbucks
Citraland Surabay. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen (JUMMA), 10(1),
1–7.
Husain, B. A. (2018). Pengaruh Disiplin Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt.
Bank Danamon, Tbk. Cabang Bandung. Jurnal Disrupsi Bisnis, 1(1), 1–16.
https://doi.org/10.32493/jee.v1i4.10709
Lokito, S., Hartanto, D. D., & S, M. A. (2018). Perencanaan Strategi Pemasaran
Content Marketing Buleleng Bali Coffee.
Mariah, J. C. (2020). Pengaruh Price Perception , Social Media Marketing dan
Brand Awareness Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kertas Titik
Koma. Jurnal Bisnis Dan Komunikasi, 7(2), 59–66.
Maulani, L. S., & Sanawiri, B. (2019). Pengaruh Social Media Marketing
Terhadap Brand Awareness Serta Dampaknya Pada Purchase Decision
(Survei Online pada Followers Aktif Instagram dan Facebook Vauza Tamma
Hijab). Jurnal Administrasi Bisnis, 72(2), 148–156.
Muthiah, F., & Setiawan, B. (2019). Pengaruh Brand Awareness, Brand
Characteristic, dan Emotional Branding terhadap Keputusan Pembelian.
Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan, 7(2), 259–267.
https://doi.org/10.37641/jimkes.v7i2.228
Nashar, H. (2013). Dasar Dasar Manajemen.
https://doi.org/10.31227/osf.io/uk5yp
Pertiwi, D., & Gusfa, H. (2018). Pengaruh content marketing terhadap
pembentukan brand awareness pada kalbis institute. Jurnal Media Kom,
VII(2), 45–57.
Pranata, I. W. D. R., & Pramudana, K. A. S. (2018). Peran Kesadaran Merek
(Brand Awareness) Dalam Memediasi Hubungan Iklan Oppo Dengan Niat
Beli Konsumen. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana, 7(10), 5230.
https://doi.org/10.24843/ejmunud.2018.v07.i10.p02
Rahmawati. (2016). Manajemen Pemasaran. University Mulawarman, 4–5.
Sander, O. A., & Riza, F. (n.d.). Pengaruh Kesadaran Merek Ritel, Asosiasi
Merek Ritel, Kualitas Yang diterima Merek Ritel, Kesetiaan Merek Ritel
Terhadap Ekuitas Merek Ritel (Studi Empiris pada Kartika Sari). 243–259.
https://doi.org/10.30813/bmj.v12i2.431
Sari, S., Syamsuddin, & Syahrul. (2021). Analisis Brand Awareness Dan
Pengaruhnya Terhadap Buying Decision Mobil Toyota Calya di Makasar.
1(1), 37–48.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Tindakan.
Alfabeta.
Susan, E. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jurnal Manajemen
Pendidikan, 9(2), 952–962.
Wang, W., Carl, E., Calder, B., & Uzunoglu, E. (2017). B2B Content Marketing
For Professional Services : In-Person Versus Digital Contacts. Industrial
Marketing Management, November, 2–9.
https://doi.org/10.1016/j.indmarman.2017.11.006
Waoma, G., & Dwihartono, B. (2020). Pengaruh Brand Awareness Properti :
Analisis Content Marketing Dan Social Media (Kasus : Citra Garden City
Jakarta). Jurnal Manajemen Bisnis Dan Publik, 1(1), 41–47.
Yulia, F., Lamsah, & Periyadi. (2019). BUKU MANAJEMEN
PEMASARAN_compressed.pdf (Issue April, p. 79).
yusuf, R., Hendrayati, H., dan Wibowo, L. . (2020). Pengaruh Konten Pemasaran
Shoppe Terhadap Pembelian Pelanggan. Jurnal Manajemen Pendidikan Dan
IImu Sosial, 1(2), 506–515. https://doi.org/10.38035/JMPIS
Zainurossalamia, D. S. (2020). Manajemen Pemasaran Teory dan Strategi.
Zulfikar, A. R., & Mikhriani. (2017). Pengaruh Sosial Media Marketing
Terhadap Brand Trust Pada Followers Instagram Dompet Cabang Yogyakarta.
1(2), 279–294.
CURRICULUM VITAE
A. PERSONAL INFORMATION
Full Name : Leny Santika
Gender : Perempuan
Place and Date of Birth : Tanjungpinang, 21 Januari 2000
Citizen : Indonesia
Age : 22 years old
Religion : Islam
Email : [email protected]
Present Addres : Perumahan Griya Mawaddah Blok B.12,
RT05/RW05, Kelurahan Kawal, Kecamatan
Gunung Kijang, Kabupaten Bintan Kepulauan
Riau Indonesia
Nama Ayah & Ibu : Rakmad Syafriadi & Nazirah
Phone Number / WA : 083186255005
B. EDUCATION BAGROUND
NO. OF YEARS
TYPE OF SCHOOL NAME OF SCHOOL & LOCATION
COMPLETED
Primary School SDN Negeri 007 Karang Rejo 2012 year
Junior High School SMPN 5 Bintan 2015 year
Senior High School SMAN 1 Toapaya 2018 year