0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan17 halaman

Ketepatan Penempatan Diri dalam Belajar

Diunggah oleh

Muhamad Nurjati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan17 halaman

Ketepatan Penempatan Diri dalam Belajar

Diunggah oleh

Muhamad Nurjati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Konsep Belajar
2.1.1.1 Pengertian Belajar
Belajar salah satu perilaku yang disebabkan oleh pengalaman sehingga
terdapat perubahan tingkah laku pada dirinya. Setiap individu memerlukan belajar
sebagai penuntun dan penambah wawasan. Menurut Winkel dalam (Purwanto
2016:39) “belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam diri
seseorang dan proses interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap.” Dengan kata
lain, belajar merupakan upayadari seseorang agar dapat berubah menjadi
berwawasan, berketerampilan, dan bersikap lebih baik.
Sementara itu menurut Slameto dalam (Nurjaman 2016:14) “belajar adalah
suatu proses usaha yang dikerjakan seorang untuk memperoleh sebuah perubahan
tingkah laku yang baru dengan cara menyeluruh, sebagai akibat dari pengalaman
yang dirasakan seseorang itu sendiri saat berinteraksi dengan lingkungannya.”
Dalam hal ini, masih senada dengan Winkel, belajar juga bisa ditafsirkan sebagai
kegiatan yang berlangsung disebabkan hadirnya interaksi secara aktif antara
individu dengan lingkungan sekelilingnya.
Selanjutnya, menurut Sardiman dalam (Nurjaman 2016:15) “belajar adalah
suatu perubahan perilaku atau tampilan, dengan rangkaian aktiviotas seperti
membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lainnya.” Perubahan tersebut
dibuktikan dari seluruh tingkah laku dan individu yang belajar, dan aktivitas
pembelajaran seperti membaca dan mengamati menjadi cara konkret untuk
meraihnya.
Belajar menurut gagne dalam teori belajar dan pembelajaran (2010:4)
“learning is relatively permanent change in behavior that result from past
experience or purposeful instruction”. Belajar adalah suatu perubahan perilaku
yang relative menetap yang dihasilkan dari hasil pengalaman masa lalu ataupun
dari pembelajaran yang bertujuan atau direncanakan. Pengalaman diperoleh

5
6

individu dalam interaksinya dengan lingkungan, baik yang tidak direncenakan


maupun yang direncanakan, sehingga menghasilkan perubahan yang bersifat
relative menetap.
Berdasarkan definisi para ahli mengenai belajar yang sudah dipaparkan
diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu runutan aktivitas yang
dilakukan dengan interaksi terhadap suatu lingkungan yang akan membawa
perubahan terhadap seseorang, baik itu pengetahuan, keterampilan, maupun
sikap.
2.1.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Tidak semua individu dapat menerima pembelajaran, meskipun dapat
dikatakan pembelajaran itu penting, namun tidak semua individu tertarik untuk
menerima pembelajaran. Menurut Baharrudin dan Wahyuni (2015:19) berbagai
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah sebagai berikut:
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi
fisik individu. Beberapa faktor internal dalam belajar meliputi
kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, sikap kebiasaan
belajar serta kondisi fisik dan Kesehatan.
2. Faktor lingkungan/eksternal/social
Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan peserta didik. Seorang
peserta didik yang memiliki intelegensi yang baik, dari keluarga yang
baik, bersekolah disekolah yang bagus, dan fasilitasnya baik belum
tentu dapat belajar yang baik. Ada faktor yang mempengaruhi prestasi
belajarnya, seperti kelelahan karena jarak rumah dan sekolah cukup
jauh, dan pengaruh lingkungan yang buruk yang terjadi diluar
kemampuannya.
3. Faktor instrumental
Faktor instrumemntal adalah faktor-faktor yang diharapkan dapat
berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang
telah direncanakan. Beberapa faktor instrumental meliputi : 1)
kurikulum yang merupakan unsur substansial dalam Pendidikan, 2)
sarana dan fasilitas seperti ruang belajar dan laboratorium, dan 3)
guru yang harus mengorganisir semua komponen pembeljaran
sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan yang
lainnya dapat berinteraksi secara harmonis.

2.1.1.3 Pengertian Prestasi Belajar


Pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar tujuan, tujuan
merupakan suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan peserta
7

didik setelah melaksanakan pengalaman belajar, tercapainya tujuan pengajaran


salah satunya dilihat dari prestasi belajar yang diraih peserta didik dengan pretasi
yang tinggi dari peserta didik yang mempunyai indikasi pengetahuan yang baik.
Pengenalan seseorang terhadap prestasi belajarnya adalah penting, karena
dapat mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai maka peserta didik akan lebih
berusaha untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan demikian peningkatan
prestasi belajar dapat lebih optimal karena peserta didik tersebut merasa
termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajar yang telah diraih. adapun hasil
yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagai yang dinyatakan dalam
raport.
Prestasi belajar menurut Louis dalam Slameto, (2020: 19) adalah
“pernyataan khusus tentang apa yang akan diketahui dan dapat dilakukan oleh
siswa sebagai hasil kegiatan belajar yang biasanya berupa pengetahuan,
keterampilan, atau sikap (knowledge, skill, or attitude)”. Adapun menurut
Prakosa dalam Darmadi, (2017:299) menyimpulkan bahwa “prestasi belajar
sebagai seberapa jauh hasil yang telah dicapai siswa dalam penguasaan tugas-
tugas atau materi pelajaran yang diterima dalam jangka waktu tertentu”.
Pembelajaran yang dilaksanakan oleh peserta didik diharapkan dapat
mengembangkan prestasi belajar peserta didik tersebut, karena prestasi merupakan
tolak ukuru pencapaian aspek-aspek yang bersifat kognitif, afektif dan
psikomotorik sesuai dengan pendapat Fatimah (2011:95) sedangkan menurut
Cronbach dalam (Arifin,2009:45) mengatakan bahwa:
kegunaan prestasi belajar banyak ragamnya antara lain sebagai umpan
balik bagi guru dalam mengajar, untuk keperluan diagnostic, untuk
keperluan bimbingan dan penyuluhan, untuk keperluan seleksi untuk
keperluan penempatan atau penjurusan, untuk menentukan isi kurikulum
dan untuk menentukan kebijakan sekolah.

Berdasarkan pengertian diatas maka bisa dijelaskan bahwa prestasi belajar


merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki peserta didik dalam menerima,
menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar
mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan dalam
sesuatu mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau
8

raport setiap bidang studi setelah mengalami belajar mengajar. Prestasi belajar
peserta didik juga dapat diketahui setalah adanya evaluasi dapat memperlihatkan
tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar peserta didik.
2.1.1.4 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Banyak faktor yang menyebabkan proses belajar dikelas, proses belajar
mengajar terkadang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan banyak factor
yang menyebabkan proses belajar mengajar tidak berjalan sebagai yang
diharapkan misalnya faktor peserta didik, sarana alat dan media yang tersedia
serta faktor lingkungan yang kurang menunjang. Selain faktor -faktor diatas
banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang diungkapkan oleh
beberapa ahli misalnya menurut Edi (2010:2) “keberhasilan peserta didik dalam
belajar dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal
berasal dalam diri sendiri yang berupa faktor biologis seperti faktor kesehatan dan
faktor psikologis seperti kecerdasan, bakat, minat, perhatian serta motivasi.
Sedangkat faktor eksternal yaitu faktor yang berhubungan dengan lingkungan
sekolah.
Secara umum prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal (dalam diri
peserta didik) dan eksternal (luar diri peserta didik). Menurut Suryabrata yang
dikutip Noor Komari Pratiwi (2015:85) “Faktor-faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan” yaitu:

1. Faktor Internal
a. Kecerdasan (intelegensi) adalah kemampuan belajar disertai
kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang
dihadapinya;
b. Jasmaniah (panca indra) atau fisiologis pada umumnya sangat
berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang;
c. Sikap yaitu suatu kecenderungan untuk merekasi terhadap suatu
hal;
d. Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk
merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang
berkecimpung dalam bidang itu;
e. Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang;
f. Motivasi adalah faktor penting karena hal tersebut merupakan
keadaan yang mendorong keadaan peserta didik untuk melakukan
belajar.
9

2. Faktor eksternal adalah faktor yang ada diluar individu yang sedang
belajar, meliputi:
a. Faktor keluarga, yaitu cara orang tua mendidik;
b. Faktor sekolah, yaitu metode mengajar dan kurikulum;
c. Faktor masyarakat, yaitu kegiatan peserta didik dalam
masyarakat, masa media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan
masyarakat.
Kesimpulan dari pendapat di atas bahwa faktor yang memengaruhi prestasi
belajar secara umum terbagi dalam dua yaitu internal dan eksternal seperti
lingkungan.
2.1.1.5 Indikator Prestasi Belajar
Untuk mengetahui prestasi belajar, tidak bisa dilihat secara tersurat begitu
saja. Prestasi belajar haruslah diukur, pengukuran tersebut harus dilakukan dengan
menggunakan indikator. Menurut Gagne dalam Gahar (2011:118), prestasi belajar
adalah hasil yang telah di capai seseorang dalam melakukan kegiatan belajar.
Prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek yaitu :
1. Keterampilan intelektual
Merupakan penampilan yang ditunjukan oleh peserta didik tentang
operasi intelektual yang dapat dilakukannya untuk berinteraksi dengan
lingkungannya
2. Strategi kognitif
Suatu keterampilan yang digunakan untuk mengefektifkan
pembelajaran atau disebut juga proses internal yang digunakan peserta
didik untuk memilih, mengubah dan mengatur proses belajarnya
sendiri dengan cara memberikan perhatian, belajar, mengingat, dan
berpikir mulai dari strategi menghafal, strategi elaborasi, strategi
pengaturan, strategi metakognitif, dan strategi afektif.
3. Informasi verbal
Pengetahuan verbal disimpan sebagai jaringan proporsi-proporsi untuk
mengtahui fakta, generalisasi yang merupakan kumpulan pengetahuan
sebagai hasil belajar yang diperoleh melalui kata-kata yang diucapkan
orang, membaca dari radio, televisi, dan media lainnya.
4. Sikap
Merupakan pembawaan peserta didik yang dapat mempengaruhi
kejadian, benda dan makhluk hidup.
5. Keterampilan Motorik
Tidak hanya mencakup kegiatan fisik, melainkan juga kegiatan
motoric yang digabung dengan keterampilan intelektual.2.1.3 Konsep
Kesiapan Belajar
10

Berdasarkan indikator diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar


peserta didik tidak hanya dapat diukur dengan kecerdasan dalam memahami
pelajaran namun selain itu juga bisa dilihat dari berbagai ranah yaitu anatara lain
keterampilan kognitif, motorik, sikap dan lain sebagainnya

2.1.2 Konsep Kesiapan Belajar


2.1.1.2 Pengertian Kesiapan Belajar
Suatu kegiatan untuk mengadakan perubahan didalam diri seseorang
dalam belajar yaitu perubahan tingkah laku ,sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan,
keterampilan dan sebagainya. Perubahan-perubahan ini merupakan perubahan ini
merupakan perbuatan belajar yang diinginkan, karena itu dapat dikatakan bahwa
perubahan diinginkan menjadi tujuan dari proses pembelajaran untuk mencapai
pembelajaran tersebut maka seseorang harus memiliki kesiapan dalam belajar.
Kesiapan individu akan membawa individu untuk siap memberikan respon
terhadap situasi yang dihadapi melalui cara sendiri. Seperti yang diungkapkan
oleh Slameto (2010:113) bahwa “kesiapan adalah keseluruhan semua kondisi
individu yang membuat siap untuk membuatnya siap untuk memberikan respon
atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap siatuasi tertentu”. Kondisi tertentu
yang dimaksud adalah kondisi fisik dan psikisnya, sehingga untuk mencapai
tingkat kesiapan individu tersebut dalam proses pembelajaran.
Kesiapan individu sebagai seorag peserta didik dalam belajar akan
menentukan kualitas proses dan prestasi belajar peserta didik, kesiapan diri
peserta didik sangat oenting untuk meraih keberhasilan dalam kegiatan belajar.
Keberhasilan peserta didik melakukan kesiapan sebelum mengikuti pelajaran
menentukan kesuksesan peserta didik dalam belajar, sehingga akan
mempengaruhi prestasi belajar peserta didik, berhasil tidaknya suatu pembelajaran
tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami peserta didik.
Kesiapan belajar yang baik, peserta didik dapat mengikuti pembelajaran
dengan aktif dan mudah menyerap pelajaran yang disampaikan ketika dalam
proses pembelajaran. Apabila peserta didik memiliki kesiapan yang matang, maka
11

peserta didik akan memperoleh kenudahan dalam memperdalami materi pelajaran


dan konsentrasi dalam proses pembelajaran.
Kesiapan belajar sangat berpengaruh dalam menentukan output dari proses
pemebelajaran. Menurut Slameto (2003: 113) “kesiapan adalah keseluruhan
kondisi seseorang yang membuatnya sikap untuk memberi respon jawaban
didalam cara tertentu terhadap suatu situasi(Ambar et al., 2017)”.
Adapun menurut Soemanto (1998: 191) “ada orang yang mengartikan
readiness sebagai kesiapan atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu”.
Seorang ahli bernama Cronbach memberikan pengertian tentang readiness sebagai
sifat atau kekuatan yang membuat seseorang dapat berekasi dengan cara tertentu.
Sedangkan menurut Darsono (2000: 27) “faktor kesiapan, baik fisik maupun
psikologis, merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar”.
Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan pengertian kesiapan
belajar adalah kondisi awal suatu kegiatan belajar yang membuatnya siap untuk
memberi jawaban yang ada pada diri peserta didik dalam mencapai tujuan
pengajaran tertentu.
2.1.2.2 Faktor-faktor Kesiapan Belajar
Kesiapan merupakan suatu sikap dimana seorang individu bersedia dalam
menerima semua wawasan dan teori dalam proses pembelajaran. Ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan belajar peserta didik. Di bawah ini
dikemukakan faktor-faktor kesiapan belajar dari beberapa pendapat yaitu sebagai
berikut:
Menurut Darsono (2007: 27) “Faktor kesiapan belajar meliputi: Kondisi
fisik yang tidak kondusif, misalnya sakit, pasti akan mempengaruhi faktor-faktor
lain yang dibutuhkan untuk belajar. Kondisi psikologis yang kurang baik,
misalnya gelisah, tertekan. Merupakan kondisi awal yang tidak menguntungkan
bagi kesiapan belajar”. Adapun menurut Slameto (2003: 113) “kesiapan belajar
mencakup 3 aspek, yaitu: Kondisi fisik, mental dan emosional, kebutuhan-
kebutuhan, motif dan tujuan, keterampilan pengetahuan dan pengertian yang lain
yang telah dipelajari”.
12

Menurut Djamurah (2002: 35) “faktor-faktor kesiapan meliputi: misalnya


tubuh tidak sakit. Kesiapan psikis, misalnya ada hasrat untuk belajar. kesiapan
materil, misalnya ada bahan yang dipelajari atau dikerjakan berupa buku bacaan”.
Menurut Tim penyusunan mata kuliah belajar dan pembelajaran (2008:71)
ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kesiapan pembelajaran yaitu :
13

1. Seseorang individu akan belajar dengan baik bila tugas yang diberikan
kepadanya erat dengan kemampuan, minat dan latar belakang.
2. Kesiapan untuk belajar harus dikaji dengan hal yang mengandung arti
bila seseorang guru inhin mendapatkan gambaran kesiapan peserta
didik dalam pembelajaran.
3. Tugas dapat dikembangkan dengan kesiapan pembelajaran atau guru
menata tugas itu sesuai dengan kesiapan peserta didik
4. Kesiapan untuk belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan
seorang peserta didik
5. Bahan -bahan kegiatan dan tugas divariasikan sesuai dengan faktor
kesiapan kognitif , afektif dan psikomotor dari berbagai individu.

Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai dasar indikator kesiapan


belajar adalah kondisi fisik peserta didik, mental, emosional, kebutuhan dan
pengetahuan. Kondisi fisik yang dimaksud misalnya pendengaran, penglihatan,
Kesehatan. Kondisi mental menyangkut kepercayaan pada diri sendiri, penyesuain
diri. Kondisi emosional konflik, tegang, kebutuhan misalnya buku pelajaran
2.1.2.3 Indikator Kesiapan Belajar
Untuk melihat apakah individu siap atau tidak untuk menerima
pembelajaran adalah dengan mengukurnya secara sistematis dengan menggunakan
indikator. Indikator kesiapan belajar dibutuhkan untuk memengaruhi prestasi
belajar. Menurut Slameto (2003: 115) “indikator kesiapan belajar meliputi:
1. Semua aspek perkembangan berinteraksi (saling pengaruh
mempengaruhi);
2. Kematangan jasmani dan rohani adalah perlu untuk memperoleh
manfaat dari pengalaman;
3. Pengalaman - pengalaman mempunyai pengaruh yang positif terhadap
kesiapan;
4. Kesiapan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam periode
tertentu selama masa pembentukan dalam masa perkembangan.

Dari indikator tersebut menjelaskan bahwa kesiapan belajar bisa diukur


dari semua aspek perkembangan berinteraksi yang saling mempengaruhi bagi
peserta didik, kematangan jasmani dan rohanis, pengalaman, dan kesiapan dasar
yang dapat membentuk masa perkembangan peserta didik.
14

2.1.3 Konsep Aktualisasi Diri


2.1.1.2 Pengertian Aktualisasi Diri
Menilai kebutuhan dalam belajar untuk mengoptimalkan potensi yang
dimiliki, maka individu akan memilih pekerjaan berdasarkan potensi dan minat,
kebutuhan atau hasrat untuk mengembangkan potensi diri disebut kebutuhan
aktualisasi diri.
Bagi orang yang kurang memiliki kebutuhan untuk beraktualisasi diri,
maka individu tersebut cenderung mengabaikan hal-hal dalam kebutuhan
aktualisasi diri, sebaliknya bagi orang yang memiliki hasrat beraktualisasi tinggi
akan cenderung memenuhi kebutuhan akan nilai tersebut seperti keinginan untuk
menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Hal yang penting dalam Pendidikan adalah memproduksi pengalaman
belajar, ekspresi diri dan merangsang keingintahuan. Karena ketiga hal ini
menunjukan kemampuan yang diinginkan, aktualisasi diri merupakan hal yang
harus dikembangkan dalam pelaksanaan pembelajaran,.
Aktualisasi diri merupakan puncak kematangan dan kedewasaan seseorang
saat mampu memanfaatkan potensi sekaligus mengetahui batasan dan kekurangan
yang dimiliki. Hirarchy of Needs menggunakan istilah aktualisasi diri sebagai
kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia. Maslow dalam Arianto
(2009: 139) aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan
mengembangkan sifat-sifat potensi dan psikologis yang unik. Menurut Maslow
“seorang individu siap untuk bertindak sesuai kebutuhan pertumbuhan jika
kebutuhan kekurangan terpenuhi, konseptualisasi awal Maslow hanya mencakup
suatu pertumbuhan aktualisasi diri”(Ningsih & Suniasih, 2020).
Aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan yang diharapkan dapat
terpenuhi oleh setiap orang, aktualisasi dipengaruhi oleh beberapa hal diantarnya
adalah kepercayan diri sendiri, memiliki kebebasan dan kemampuan untuk
memilih bidang pekerjaan dan keahlian yang mereka sukai dan mereka mendapat
kepuasan atas pekerjaan dan keahliannya (2021:7).
kepuasan atas pekerjaan dan keahliannya.Alasan utama keterlibatan
peserta didik dalam pembelajaran pemberdayaan dan aktualisasi diri melalui
15

pengembangan aktualisasi diri, tentunya berdampak terhadap hasi belajar karena


peserta didik dapat menunjukan kemampuan yang dimiliki dengan optimal,
aktualisasi diri yang dimaksud kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan
kemampuan yang dimiliki secara optimal sehingga peserta didik mampu
mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki, sikap ini ditunjukan
keikutsertaan peserta didik dalam berbagai kegiatan sekolah baik secara akademik
maupun non akademik.
Dari definisi aktualisasi diri diatas, dapat disimpulkan aktualisasi diri
adalah nilai-nilai peningkatan kualitas hidup berkaitan dengan kemampuan
seseorang untuk memahami kemampuan diri sendiri yang menunjukkan bahwa
diri sendiri mampu memberikan penilaian diri, peniaian positif kepada diri sendiri
atau ketepatan seseorang di dalam menempatkan dirinya sesuai dengan
kemampuan yang ada dalam diri.
2.1.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktualisasi Diri
Banyak faktor yang mempengaruhi individu dalam memhami aktualisasi
diri. Faktor-faktor dalam aktualisasi diri adalah tentang kebutuhan-kebutuhan
yang timbul dari dalam diri individu. Menurut Rogers dalam Ginting (2011:26)
“faktor-faktor yang memperngaruhi aktualisasi diri antara lain sebagai berikut:
1. Pemeliharaan;
2. Kebutuhan yang timbul dalam rangka memuaskan kebutuhan dasar
makan, udara, dan keamanan;
3. Peningkatan diri;
4. Walaupun ada keinginan yang kuat untuk mempertahankan keadaan
tetap seperti asalnya, orang tetap ingin belajar dan berubah.
5. Penerimaan positif dari diri sendiri;
6. Penerimaan diri ini merupakan akibat dari pengalamn kepuasan
dimana seseorang akan mampu menerima kelemahan dirinya namun
tetap berusaha melakukan yang terbaik. Penerimaan positif dari dalam
diri merupkan bagian dari dalam dimensi harga diri.

Dari penjabaran faktor-faktor yang memperngaruhi aktualisasi diri diatas


dapat disimpulkan bahwa seseorang memaknai aktualisasi diri dapat dipengaruhi
kemampuan diri, kebutuhan diri, dan nilai dilingkungan social yang dimiliki
individu terhadap aktualisasi dirinya.
16

2.1.3.3 Indikator Aktualisasi Diri


Aktualisasi diri peserta didik dapat diukur menggunakan indikator yang
dijadikan acuan untuk menilai perkembangan dan perubahan dari dirinya.
Menurut Widyanto et al. (2014:25) indikator aktualisasi diri yaitu:
1. Dewasa dalam bertindak
Seorang anak yang sudah dapat mengaktualisasikan dirinya mestinya
akan lebih dewasa dan berhati-hati dalam segala tindakannya. Dewasa
disini dapat diartikan dapat mengontrol diri, mandiri, disiplin, dan
bertanggung jawab
2. Penyesuaian diri positif
Dalam lingkungan yang ada di sekitar anak pasti abnyak sekali
fenomena berupa hal yang positif atau negatif, ada baiknya seorang
anak dapat menyesuaikan diri ke hal yang positif seperti bergaul
dengan lingkungan yang baik dan tidak terpengaruh hal yang negative.
3. Dapat mengambil keputusan secara realistis
Anak yang bisa mengaktualisaikan dirinya harus dapat mengambil
keputusan yang realistis dan dapat dilakukan.
4. Mudah bersahabat
Anak yang mampu mengaktualisasikan dirinya tentu sudah tidak
bergantung pada orang tua dalam berinteraksi. Sejatinya anak yang
mampu mengaktalisasikan dirinya harus supel, berani berbicara
kepada orang dewasa tanpa malu atau canggung, dan dapat
menyesuaikan sikap dan Bahasa ketika berinteraksi.
5. Sangat dapat dipercaya
Anak yang mampu mengaktualisikan dirinya harus mampu diberikan
amanah dan dapat dipercaya
6. Mandiri dan kreatif
Anak yang mampu mengaktualisasi dirnya harus memiliki ide yang
kreatif, mandiri, dan memiliki wawasan yang luas.

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa indikator aktualisasi diri


dapat diukur dari beberapa indikator tersebut. Seorang peserta didik harus mampu
memutuskankan sesuatu secara benar dan jujur, harus dapat menerima peran
lingkungan yang baik, memiliki spontanitas, memiliki target, dan yang lainnya.
17

2.2 Hasil Penelitian yang Relevan


Tabel 2.1
Hasil Penelitian yang Relevan
No. Sumber Judul Hasil
1. Ni Luh Putu Yuni Pengaruh Kesiapan Hasil penelitian ini
Widia Ningsih Belajar dan Aktualisasi menunjukkan bahwa (1)
Diri Terhadap Hasil terdapat pengaruh yang
Belajar IPA Peserta signifikan terhadap
didik Kelas V SD VII kesiapan belajar terhadap
Kecamatan Mengwi hasil belajar IPA
dibuktikan berdasarkan
nilai Fhitung = 18,86 >
Ftabel = 3,92 dan
kontrubusinya sebesar
14%. (2) terdapat
pengaruh yang signifikan
aktualisasi diri terhadap
hasil belajar IPA
dibuktikan berdasarkan
nilai Fhitung = 20,03 >
Ftabel = 3,92 dan
kontribusinya sebesar
8,6%. (3) terdapat
pengaruh yang signifikan
kesiapan belajar dan
aktualisasi diri terhadap
hasil belajar IPA
dibuktikan berdasrkan
nilai Fhitung = 13,92 >
Ftabel = 3,08 dan
kontribusinya sebesar
19,8%.
2. Mardliyah Laili, Pengaruh Aktualisasi Hasil penelitian ini
2016 diri terhadap motivasi ditemukan bahwa (1)
belajar peserta didik Prosentase aktualisasi diri
pada Mata pelajaran peserta didik di MTsN
SKI kelas VIII di MtsN Kota Madiun sebesar
Kota Madiun Tahun 69,29% termasuk dalam
Pelajaran 2015/2016. kategori cukup. (2)
prosentase motivasi
belajar peserta didik pada
mata pelajaran SKI di
MTsN kota Madiun
sebesar 73,23% termasuk
dalam kategori cukup. (3)
18

ada pengaruh aktulisasi


diri terhadap motivasi
belajar peserta didik pada
mata pelajaran peserta
didik kelas VIII di MtsN
Kota Madiun tahun
pelajaran 2015/2016
sebesar 33,7813%.
3. Dwi Junianto, Pengaruh kinerja Hasil penelitian
Wagiran Wagiran mengajar guru, menunjukkan bahwa
keterlibatan orang tua, terdapat pengaruh kinerja
aktualisasi diri terhadap mengajar guru,
prestasi keterlibatan orang tua,
aktualisasi diri dan
motivasi berprestasi
masing-masing sebesar
0,145; 0,128; 0,108; dan
0,098.

Berdasarkan penelitian sebelumnya terdapat persamaan dan perbedaan


dengn hasil penelitian yang relevan. Persamaan dalam penelitian keseluruhan
pada table 1 diatas, sama-sama ada menggunakan variabel yang sama, yaitu
Aktualisasi diri dan kesiapan belajar sebagai variabel bebas dan prestasi belajar
sebagai variabel terikat. Aktualisasi diri dan kesiapan belajar mempengaruhi
prestasi belajar, prestasi belajar tersebut dapat dijadikan alat ukur sehingga dapat
mudah melohat adanya peningkatan kemampuan berfikir kreatif peserta didik.
Terdapat perbedaan dalam penelitian sebelumnya yaitu subyek, waktu dan tempat.

2.3 Kerangka Berpikir


Kerangka Berpikir menurut Sugiyono (2019:95), merupakan model
konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang
telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.Prestasi belajar merupakan hasil
yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri
individu sebagai hasil dan aktivitas dalam belajar. Prestasi belajar yang tinggi
merupakan lambang keberhasilan seseorang peserta didik dalam belajarnya.
Peserta didik atau peserta didik yang memiliki prestasi tinggi menunjukkan bahwa
yang bersangkutan memiliki tingkat kemampuan, penguasaan, pengetahuan,
pemahaman, dan aplikasi yang tinggi terhadap mata pelajaran yang diberikan.
19

Aktualisasi diri menurut Maslow (1970) adalah “keinginan yang dimiliki


individu untuk menjadi diri sepenuhnya, dan mengaktualisasikan potensi yang
dimiliki”. Pada dasarnya memberi perhatian pada manusia, khususnya terhadap
nilai-nilai martabatnya secara penuh. Hal tersebut dicapai melalui penggunaan
segenap prestasi, bakat, dan kemampuan yang dimiliki dengan bekerja sebaik-
baiknya, sesuai dengan bidangnya masing-masing, sehingga tercapai suatu
eksistensi yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan diri. Dalam mencapai
aktualisasi diri, individu harus berjuang mencapai kesehatan dan kesejahteraan
emosional, cukup memiliki kepercayaan diri serta tersedianya kesempurnaan yang
lebih memungkinkan individu mengembangkan motif-motif dalam dirinya secara
terus menerus, untuk memperhatikan memelihara dan mendukung pertumbuhan
diri. Aktualisasi diri pada peserta didik dapat mempengaruhi prestasi belajarnya.
Karena semakin tinggi aktualisasi diri peserta didik maka akan semakin tinggi
pula prestasi belajarnya. Sebaliknya jika aktualisasi diri rendah maka belajar
peserta didik juga akan rendah.
Kesiapan belajar merupakan hukum belajar dimana setiap individu akan
merespon dengan cepat dan mudah dari setiap dalam diri individu tersebut. Jamies
Brever (Slameto, 2010:32) menyatakan bahwa kesiapan belajar adalah kesediaan
untuk memberi respon bereaksi dan merupakan syarat untuk belajar berikutnya.
Kesiapan belajar merupakan hukum belajar dimana setiap individu akan merespon
dengan cepat dan mudah dari stimulus manakalah dalam diri individu tersebut
terdapat kesiapan yang matang.
Adapun grand theory yang digunakan pada penelitian ini adalah Teori
pembelajaran humanistik adalah teori belajar yang tergerak dari dalam diri
manusia berdasarkan keinginan dan kebutuhannya sendiri dalam berbagai proses
pemenuhan, aktualisasi, pemeliharaan, hingga peningkatan diri. Menurut Arbayah
(2013:207) teori belajar humanistik adalah teori belajar yang menempatkan
individu pembelajar sebagai pelaku dan sebab tujuann secara sekaligus potensi
dirinya tidak hanya dalam bentuk yang terasing dari sebab-sebab diluar, tetapi
bahkan juga dalam posisi yang mengemban tujuan dari perwujudan dirinya.
20

Dari penjelasan grand theory tersebut, dapat disusun hubungan antar


variabel dan kaitannya dengan teori yang digunakan, dimana aktualisasi diri dan
kesiapan belajar merupakan kebutuhan atau keinginan yang ada pada diri individu
untuk memperoleh prestasi belajar sebagai perwujudan dalam dirinya sesuai
dengan teori humanistic.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka kerangka berpikir dalam penelitian
yaitu:

Aktualisasi diri

Prestasi Belajar

Kesiapan Belajar

Gambar 2.1
Kerangka Berpikir
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara seperti menurut
Sugiyono (2016:96) “Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan
masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam
bentuk kalimat pernyataan”. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan
baru didasarkan pada teoriyang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Dengan demikian, hipotesis
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Hipotesis 1
H0: Tidak terdapat pengaruh aktualisasi diri terhadap prestasi belajar pada
peserta didik SMAN 1 Karangnunggal
Ha: Terdapat pengaruh aktualisasi diri terhadap prestasi belajar pada peserta
didik SMAN 1 Karangnunggal
Hipotesis 2
H0: Tidak terdapat pengaruh kesiapan belajar terhadap prestasi belajar peserta
didik SMAN 1 Karangnunggal
21

Ha: Terdapat pengaruh terhadap kesiapan belajar terhadap prestasi belajar


peserta didik SMAN 1 Karangnunggal
Hipotesis 3
H0: Tidak terdapat pengaruh aktualisasi diri dan kesiapan belajar terhadap
prestasi belajar peserta didik SMAN 1 Karangnunggal
Ha: Terdapat pengaruh aktualisasi diri dan kesiapan belajar terhadap prestasi
belajar peserta didik SMAN 1 Karangnunggal

Anda mungkin juga menyukai