0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan23 halaman

Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

Diunggah oleh

Faisal Amin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan23 halaman

Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

Diunggah oleh

Faisal Amin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. AKTIVITAS BELAJAR
1. Pengertian Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar menurut Sardiman (2014:100) keaktifan adalah kegiatan yang
bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai rangkaian yang tidak bisa
dipisahkan.
Aktivitas belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2010:51) merupakan keaktifan
peserta didik dalam kegiatan belajar untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri.
Peserta didik aktif dalam membangun pemahaman atas persoalan dan segala sesuatu yang
mereka hadapi dalam proses pembelajaran. Setiap individu harus belajar aktif
mengembangkan potensinya, tanpa adanya aktivitas pembelajaran proses pembelajaran
tidak menarik, peserta didik dituntut untuk selalu memproses dan mengolah porelahan
belajar yang di dapat peserta didik.
Aktivitas belajar adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan
berfikirsebagai rangkaian yang tidak bisa dipisahkan (Sardiman, 2014:100).
Aktivitas belajar banyak macamnya Paul D. Dieirch (dalam Sardiman, 2014:101)
menyatakan bahwa terdapat beberapa macam kegiatan siswa yang dapat digolongkan
sebagai berikut :
1. Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya membaca,
memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2. Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan,
diskusi, musik, pidato.
4. Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket,
menyalin.
5. Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6. Motor activities, yang termasuk di dalamanya antara lain melakukan
percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun,
berternak.
7. Mental activities, sebagai contoh misalnya menanggapi, mengingat,
memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan. 8.
Emotional activities, seperti misalnya menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup”
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa Aktivitas belajar merupakan salah
satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan peserta didikdalam pembelajaran.
Tanpa adanya aktivitas, peserta didik tidak dapat mengembangkan potensi yangada
dalam dirinya. Aktivitas belajar merupakan sebuah kondisi dimana peserta didik sangat
aktif dalam mengolah dan merespon informasi yang disampaikan oleh guru.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar

3. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran

B. HASIL BELAJAR
1. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Sudjana (Dalam Dessolina 2019:22) hasil belajar adalah beragam
kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Dan pada
umumnya hasil belajar dapat diukur antara lain melalui tes dan non tes. Penilaian ini
dapat dilakukan secara lisan, tulisan dan tindakan atau perbuatan. Untuk mengukur
pencapaian hasil belajar biasanya digunakan tes obyektik dan uraian. Tes uraian
mempunyai keunggulan dari tes obyektif karena dapat mengungkapkan aspek-aspek
stabilitas mental yang lebih tinggi yang tercermin dalam logika berpikir dan kemampuan
berbahasa tulisan. Sedangkan tes obyektif lebih unggul dalam hal materi yang diujikan
dapat lebih banyak dan mudah (praktis) dalam memeriksa dan mengolah hasilnya (Nana
Sudjana,2017:55).
Adapun menurut Muhibbin Syah (2014:114) menyatakan bahwa hasil belajar adalah
tingkat atau taraf keberhasilan siswa dalam melaksanakan pembelajaran yang telah
ditetapkan dan diberikan kepadanya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Pengukuran
hasil belajar harus dilakukan secara terencana berdasarkan materi yang telah disampaikan
dan dihubungkan pula dengan kesiapan siswa untuk mengikuti pengukuran keberhasilan
mereka dalam menyerap materi ajar.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar terdiri dari bermacam-
macam kemampuan, keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa setelah
mengikuti suatu kegiatan, latihan, pendidikan atau proses belajar mengajar. Seseorang
yang tadinya tidak memahami dan mengetahui suatu keterampilan, melalui kegiatan
belajar yang dilakukannya ia mampu menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan.
2. Prinsip-Prinsip Belajar
Prinsip belajar adalah bagian terpentingnya yang wajib diketahui para pengajar untuk dapat
membantu pengajar dalam memilih tindakan yang tepat dalam pembelajarannya.
Dengan prinsip belajar guru memiliki dan mengembangkan sikap yang diperlukan untuk
menunjang peningkatan belajar siswa. Mudjiono & Dinyati (2013:42) menyatakan bahwa,
Prinsip-prinsip belajar berkaitan dengan: “(1) perhatian dan motivasi, (2) keaktifan, (3)
keterlibatan langsung/berpengalaman, (4) pengulangan, (5) tantangan, (6) balikan dan
penguatan, dan (7) perbedaan individual”.
Slameto (2013:27) menyatakan bahwa susunan prinsip-prinsip belajar meliputi:
(1) berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar, (2) sesuai hakikat belajar, (3) sesuai
materi/bahan yang harus dipelajari, (4) syarat keberhasilan belajar. Prinsip-prinsip belajar dapat
mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran teori dan
prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Selain itu juga
berguna untuk mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar
siswa.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsp belajar merupakan
suatu hubungan yang terjadi antara pendidik dan peserta didik. Dimana prinsip-prinsip belajar
tersebut berguna mengembangkan sikap untuk menunjang peningkatan belajar siswa. Prinsip
belajar ini dijadikan sebagai dasar bagi siswa maupun guru dalam upaya mencapai hasil yang
diinginkan.
3. Fungsi Hasil Belajar
4. Tujuan Hasil Belajar
5. Jenis Hasil Belajar
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Slameto (2013:54) menyatakan bahwa Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor
intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang
sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua factor yaitu yang berasal dari
dalam diri siswa dan factor dari luar diri siswa (Susanto, 2016:15).
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Munadi (dalam Rusman,
2013 sebagaimana dikutip Rosyidah, 2016:119) antara lain meliputi:
1. Faktor Internal a. Faktor fisiologis. Secara umum kondisi fisioligis, seperti
kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat
jasmani dan sebgainya. Hal tersebut dapat mempengaruhi siswa dalam menerima materi
pelajaran. b. Faktor Psikologis. Setiap individu dalam hal ini siswa pada dasarnya
memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi
hasil belajarnya. Beberapa faktor psikologis meliputi intelegensi (IQ), perhatian,
minat,bakat, motif, motivasi, kognitif, dan daya nalar siswa.
2. Faktor Eksternal a. Faktor Lingkungan. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi
hasil belajar. Faktor ini meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan
alam misal suhu, kelembaban dan lain-lain. Belajar pada tengah hari di ruangan yang
kurang akan sirkulasi udara akan sangat berpengaruh dan akan sangat berbeda pada
pembelajaran pada pagi hari yang kondisinya masih segar dan dengan ruangan yang
cukup untuk bernapas lega. b. Faktor Instrumental. Faktor instrumental adalah faktor
yang keberadaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-
faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan
belajar yang direncanakan. Faktor-faktor instrumental ini berupa kurikulum, saran dan
guru. Tinggi rendahnya hasil belajar peserta didik dipengaruhi banyak faktor-faktor yang
ada, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut sangat sangat
mempengaruhi upaya pencapaian hasil belajar siswa dan dapat mendukung
terselenggaranya kegiatan proses pembelajaran, sehingga dapat tercapai tujuan
pembelajaran.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor hasil belajar
merupakan segala sesuatu yang mempengaruhi hasil belajar siswa yang kiranya dapat
membantu dan menjadikan hasil belajar siswa ke nilai yang lebih tinggi.
C. MATEMATIKA
1. Pengertian Matematika
Matematika adalah kegiatan konkret, Inilah yang menjadi alasan mengapa
perkembangan kognitif anak yang berusia 7-11 tahun tersebut dinamakan tahap
konkret-operasional (Umbara, 2017:48)

2. Pembelajaran Matematika di Sekolah


Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khusus jika
dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain (Chairani, 2016:1). Dalam proses belajar,
Bruner (Burris. 2010 dalam Ibrahim & Kudsiah, 2017:3) menegaskan bahwa anak
membangun pengetahuan mereka sendiri dengan mengintegrasikan konsep dan
prosedur baru ke dalam struktur mental yang ada. Anak-anak harus mcnciptakan
hubungan matematis dalam pikiran mereka sendiri. Menurut Bruner belajar
matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur matematika yang
terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mancari hubunganhubungan antara
konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu (Hudojo. 1988 dalam Ibrahim &
Kudsiah, 2017:3)
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan pemahaman guru tentang hakekat
siswa SD dan pembelajaran matematika SD dapat mendesain pelaksanaan proses
pembelajaran yang lebih baik. Dengan pemahaman tersebut guru dimungkinkan dapat
merancang pembelajaran untuk siswa sesuai dengan perkembangan kognitif siswa,
penggunaan media, metode, dan pendekatan yang sesuai sehingga dapat menciptakan
suasana yang kondusif demi terselenggaranya pembelajaran yang efektif.

3. Tujuan Pembelajaran Matematika


D. MATERI PECAHAN SEDERHANA
1. Pengertian Pecahan
Pecahan merupakan salah satu materi dalam pelajaran matematika yang diajarkan di
kelas III Sekolah Dasar. Depdiknas dalam Mahanani Ayu (2018: 11) menyebutkan bahwa
pecahan sederhana adalah materi yang penyajiannya merupakan konsep-konsep pecahan
dengan kompetensi dasarnya yaitu mengenal pecahan, membandingkan pecahan, dan
memecahkan masalah yang berkaitan dengan pecahan
Selain itu, Hajeni Anang (2020: 2) berpendapat bahwa pengertian dari pecahan dalam
matematika adalah bilangan rasional yang dapat ditulis dalam bentuk a/b (dibaca a per b),
dengan bentuk dimana a dan b merupakan bilangan bulat, b tidak sama dengan nol, dan
bilangan a bukan kelipatan bilangan b. Tampomas dalam Untari E. (2013: 3)
mengutarakan bahwa bilangan pecahan adalah bilangan-bilangan yang logis yang
dinyatakan dalam bentuk X =, dengan a bilangan bulat dan b bilangan asli, di mana a
tidak habis dibagi b.
Dapat disimpulkan bahwa pecahan adalah bilangan yang terdiri dari dua angka, yakni
angka yang sebagai pembilang dan angka sebagai penyebut dengan bilangan yang
mempunyai bentuk 𝑎 𝑏 . a dan b adalah bilangan bulat.
2. Nama dan Lambang Pecahan
Karso dalam Unaenah E., Sumantri, dan Muhammad S. (2019: 106-111) berpendapat
a
bahwa pecahan adalah bilangan yang dapat dilambangkan sebagai , disebut pembilang
b
dan b disebut penyebut di mana a dan b bilangan bulat dan b ≠ 0. Bentuk 𝑎 𝑏 juga dapat
diartikan a dibagi b (a:b). Kotib Nur (2020: 55) juga berpendapat bahwa pada daerah
1
yang diarsir yaitu 1 dari 2 bagian, maka daerah yang diarsir menunjukkan pecahan .
2
1
Lambang pecahan dibaca satu perdua atau seperdua.
2
1
Lambang Pecahan
2
Agustine dan Smith dalam Baruna Antonius R. (2013: 39) mengatakan bahwa pada awal
mengajar tentang pecahan, siswa diberikan benda yang nyata atau konkret dan berukuran
sama.

3
Pecahan
4
3
Bagian yang diberi warna atau yang diarsir menunjukkan pecahan , 3 disebut sebagai
4
pembilang dan menunjukkan bagian yang diwarnai atau diarsir, sedangkan 4 disebut penyebut
dan menunjukkan bagian dari keseluruhan satuan

Selanjutnya Heruman (2016: 43) juga menyatakan bahwa pecahan bisa diartikan sebagai
bagian dari suatu yang utuh. Dalam gambar ilustrasi, bagian yang dimaksud adalah bagian yang
diperhatikan ditandai dengan arsiran. Bagian tersebut disebut pembilang. Adapun bagian yang
utuh adalah bagian yang dianggap sebagai satuan, dan disebut penyebut.

Bilangan Pecahan
a
Dari pendapat-pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa lambang dari pecahan adalah
b
dimana a disebut sebagai pembilang dan b disebut sebagai penyebut.
3. Mengurutkan Pecahan
1. Mengurutkan pecahan pembilang sama
Isant, Mr (2018) menjelskan bahwa jika dua pecahan memiliki pembilang yang
sama, maka pecahan yang penyebutnya lebih besar nilai pecahannya lebih kecil dari
pecahan yang penyebutnya lebih kecil. Kusumawati Yun dan Ariguntar Panca (2018: 78)
menyimpulkan bahwa untuk pecahan yang mempunyai pembilang yang sama, maka
semakin besar angka penyebutnya, semakin kecil nilai pecahan tersebut. Contoh:
18 18 18 18 18 18
Urutan pecahan , , dari terkecil ke terbesar adalah , ,
9 10 18 18 10 9
Agar lebih mudah dipahami, berikut adalah gambar mengurutkan pecahan
pembilang yang sama:
1 1 1 1 1 1
> > ¿ > ¿
2 3 4 5 6 7
Mengurutkan Pecahan Pembilang Sama
Gambar diatas menunjukkan bahwa yang perlu diperhatikan pada pecahan yang
mempunyai pembilang yang sama hanyalah penyebutnya. Semakin kecil nilai pada
penyebutmya maka semakin besar pula nilai pecahannya dan semakin besar nilai
penyebutnya maka semakin kecil nilai pecahannya
2. Mengurutkan pecahan penyebut sama
Isant, Mr (2018) menjelaskan bahwa dalam mengurutkan pecahan, apabila
penyebut pada pecahan tersebut sama, maka bisa langsung mengurutkan bilangannya
dan apabila penyebutnya berbeda maka harus menyamakan penyebutnya. Kusumawati
Yun dan Ariguntar Panca (2018: 108) berpendapat bahwa untuk pecahan yang
berpenyebut sama makin besar angka pembilang pada suatu pecahan, maka makin
besar nilai pecahannya. Contoh:
6 30 20
1) Urutkanlah pecahan , , mulai dari yang terkecil ke terbesar!
10 10 10
6 30 20
Urutan pecahan mulai dari yang terkecil ke terbesar adalah , ,
10 10 10
8 3
2) Agus mempunyai kue tar sebanyak Lisa mempunyai ku tar sebanyak
12 12
6
Lisa mempunyai ku tar sebanyak Urutkanlah kue tar dari yang terbesar ke terkecil!
12
8 6 3
Urutan kue tar dari yang terbesar ke yang terkecil adalah , ,
12 12 12
Agar lebih mudah dipahami, berikut adalah gambar mengurutkan pecahan
penyebut sama.
1 2 3 4 5 6
7 < 7 < 7 < 7 < 7 < 7
Mengurutkan Pecahan Penyebut Sama
Gambar diatas menunjukkan bahwa yang perlu diperhatikan pada pecahan yang
berpenyebut sama hanyalah pembilangnya. Semakin kecil nilai pada pembilangnya
maka semakin kecil pula nilai pecahannya dan semakin besar nilai pembilangnya maka
semakin besar nilai pecahannya.
4. Membandingkan Dua Pecahan Sederhana
Augustine dan Smith dalam Baruna Antonius R. (2013: 42) memberikan penjelasan dalam
pembelajaran membandingkan pecahan, sebagai berikut:
1. Guru harus menekankan bahwa dalam membandingkan dua pecahan harus menggunakan
1 1
satuan yang sama. Contoh: membandingkan dengan
2 3

Membandingkan Pecahan
1 1 1
2. Siswa diberi latihan untuk membandingkan pecahan , , dan seterusnya
2 3 4
dengan satuan yang sama.
3. Selanjutnya, siswa diberi latihan untuk membandingkan dua pecahan yang
pembilangnya lebih dari satu
2 1
Contoh: > di sini siswa memerlukan banyak latihan untuk menunjukkan
3 2
2 1
kebenaran bahwa >
3 2
Sulardi dalam Mahanani Ayu (2018: 11) Membandingkan dua pecahan dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu dengan gambar dan dengan garis bilangan. Uraian materi
membandingkan pecahan sederhana akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Membandingkan pecahan dengan gambar
Membelajarkan materi matematika akan lebih mudah diawali dengan benda
konkret dahulu, lalu dilanjutkan dengan cara semi konkret melalui gambar dan
abstrak. Berikut dijelaskan cara membelajarkan matematika membandingkan
pecahan sederhana dengan cara semi konkret.
Dua bilangan dapat dibandingkan dengan menggunakan tanda sebagai berikut:
1) Tanda >, misalnya a > b, artinya bilangan a lebih besar dari bilangan b.
2) Tanda < b, artinya bilangan a lebih kecil dari bilangan b.
3) Tanda =, misalnya a = b, artinya kedua bilangan (a dan b), nilainya sama besar.
4) Contoh yang lain untuk membandingkan pecahan yaitu dapat dilihat pada
gambar dibawah ini:

1
Pecahan :
2
Daerah yang diarsir adalah 1 dari bagian 2, maka daerah yang diarsir menunjukkan
1 1
pecahan Lambang pecahan dibaca satu per dua atau seperdua
2 2

1
Pecahan
4
Daerah yang diarsir adalah 1 dari 4 bagian, maka daerah yang diarsir menunjukkan
1 1
pecahan Lambang pecahan dibaca satu per empat atau seperempat. Hal tersebut
4 4
1 1
membuktikan bahwa lebih besar dari Perbandingan pecahan tersebut dapat ditulis
2 4
1 1
>
2 4
Contoh yang lain membandingkan pecahan yaitu pada gambar dibawah ini:
1 3
Membandingkan Pecahan dan
4 4
1
Dari gambar di atas dapat kita lihat bahwa bagian yang diarsir lebih kecil dari
4
3 1 3
bagian yang diarsir. Pecahan ini dapat ditulis sebagai berikut < . Contoh
4 4 4
berikutnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

1
Membandingkan Pecahan
2
1
Gambar di atas menunjukkan 2 bagian yang sama besar yaitu bagian. Hal
2
1 1
tersebut menunjukkan bahwa sama dengan . Perbandingan pecahan tersebut
2 2
1 1
dapat ditulis =
2 2
b. Membandingkan pecahan dengan garis bilangan
Garis bilangan dapat digunakan juga untuk membandingkan pecahan. Perhatikan
gambar garis bilangan berikut ini:
Garis bilangan
Dari gambar garis bilangan di atas dapat kita lihat pecahan yang letaknya segaris
ke bawah menyatakan nilai bilangan-bilangan tersebut sama besar. Bilangan pecahan
yang letaknya di sebelah kanannya menyatakan lebih besar. Bilangan pecahan yang
letaknya di sebelah kirirnya menyatakan lebih kecil.
Misalnya:
1 2 3 4 5 2 3 4 5
terletak segaris dengan , , dan , maka = = =
2 4 6 8 10 4 6 8 10
2 1 2 1
terletak di sebelah kanan , maka >
3 2 3 2
2 3 2 3
terletak di sebelah kiri , maka <
4 5 4 5
Berdasarkan penjelasan di atas, membandingkan dua pecahan dengan
menggunakan garis bilangan adalah sebagai berikut:
1) Jika pecahan A terletak di sebelah kiri pecahan B, maka pecahan A
lebih kecil dari pecahan B, ditulis A < B,
2) Jika pecahan A terletak di sebelah kanan pecahan B, maka pecahan
A lebih besar dari pecahan B, ditulis A > B,
3) Jika pecahan A sejajar dengan pecahan B, maka pecahan A
sama dengan pecahan B, ditulis A=B.
Untuk membandingkan pecahan, maka perlu dilatihkan teknik cepat yang dapat
dilakukan oleh siswa. Menurut Sukaryati dalam Baruna Antonius R. (2013: 44) teknik
cepat yang perlu diajarkan dalam membandingkan pecahan yaitu:
1) Bila pembilang sama
Dalam membandingkan dan mengurutkan pecahan pembilang sama, maka yang
harus dibandingkan adalah penyebutnya. Penyebut lebih besar berarti pecahan
lebih kecil.
2) Bila penyebutnya sama
Dalam membandingkan dan mengurutkan pecahan berpenyebut sama, maka
yang harus diperhatikan adalah pembilangnya saja. Pembilang lebih kecil
menunjukkan pecahan yang lebih kecil juga.
3) Dalam membandingkan dan mengurutkan pecahan dengan pembilang dan
penyebut tidak sama, maka penyebut harus disamakan terlebih dahulu, kemudian
pembilangnya dibandingkan.
5. Operasi Hitung Pecahan
a) Penjumlahan Pada Pecahan
Sofiana (2015: 32) mengemukakan bahwa dalam menjumlahkan pecahan hanya dapat
2 6 8
dilakukan jika bilangan penyebut sama besar, contohnya + = . Dalam menjumlahkan
4 4 4
pecahan, yang menjumlahkan adalah pembilangnya sedangkan penyebutnya tidak
dijumlahkan. Contoh operasi hitung penjumlahan pada pecahan yaitu dapat dilihat pada
soal berikut:
Sita membawa oleh-oleh dari Surabaya berupa kue lapis Surabaya. Pada pagi hari adiknya
2
memakan kue tersebut bagian. Sepulangnya dari sekolah adiknya memakan lagi kue
6
1
tersebut bagian. Berapa bagian kue lapis Surabaya yang dimakan adik Sita?
6

Kue lapis Surabaya

Kue lapis Surabaya Dibagi Menjadi 6 Bagian

Dari kedua gambar diatas dijelaskan bahwa kue lapis Surabaya yang utuh dibagi menjadi
2
6 potong bagian yang sama besar. Kemudian kue lapis Surabaya bagian tersebut dimakan
6
oleh adik Sita sehingga potongan bagian kue lapis yang dimakan akan nampak seperti
gambar dibawah ini:
2
Kue Lapis Surabaya Bagian
6
1
Kemudian pada sore harinya, adik memakan lagi kue lapis tersebut bagian.
6
Sehingga potongan bagian kue lapis Surabaya yang telah dimakan adik Sita akan nampak
seperti gambar dibawah ini:

Hasil Penjumlahan Pecahan


Gambar diatas menunjukkan potongan kue lapis yang dimakan oleh adik Sita
2 1 3
yaitu ditambah hasilnya adalah
6 6 6
Penyelesaiannya dapat dilakukan secara langsung dengan simbol angka yaitu
2 1 3
+ =
6 6 6
b) Pengurangan Pada Pecahan
Selain itu Sofiana (2015: 34) mengemukakan bahwa dalam mengurangkan pecahan, jika
penyebutnya tidak sama maka belum bisa diselesaikan. Kusunawati Yun dan Ariguntar Panca
(2018: 183) juga menyatakan bahwa dalam mengurangkan pecahan yang berpenyebut sama
yaitu dengan mengurangkan pembilangnya saja dan penyebutnya tetap. Contoh operasi
hitung pengurangan pada pecahan adalah sebagai berikut:
Ibu Vera membeli sebuah semangka di pasar. Semangka tersebut dipotong menjadi 7
6
bagian. Semangka tersebut dimakan bagian oleh anak-anak ibu Vera. Berapa bagiankah
7
sisa semangka tersebut?

Semangka Dipotong Menjadi 7 Bagian


6
Semangka Yang Telah Dimakan Bagian
7

Bagian Semangka Yang Tersisa


7 6 1
Penyelesaiannya dapat dilakukan secara langsung dengan simbol angka yaitu - =
7 7 7

E. PENDEKATAN REALISTIK
1. Pengertian Pembelajaran Matematika Realistik
2. Prinsip-prinsip Pembelajaran Matematika Realistik
Karunia Eka Lestari (2017: 40-41) menyatakan Pembelajaran Realistic Mathematics
Education (RME) dilandasi oleh teori belajar konstruktivisme dengan memprioritaskan
enam prinsip yang tercermin dalam tahapan pembelajarannya.
a. Aktivitas Pada fase ini, siswa mempelajari matematika melalui aktivitas doing, yaitu
dengan mengerjakan masalahmasalah yang didesain secara khusus. Siswa
diperlakukan sebagai partisipan aktif dalam keseluruhan proses pendidikan sehingga
mereka mampu mengembangkan sejumlah mathematical tools yang kedalaman serta
likulikunya betul-betul dihayati.
b. Realitas Tujuan utama fase ini adalah agar siswa mampu mengaplikasikan
matematika untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Pada tahap ini,
pembelajaran dipandang suatu sumber untuk belajar matematika yang dikaitkan
dengan realitas kehidupan sehari-hari melalui proses matematisasi. Matematisasi
dapat dilakukan secara horizontal dan vertikal.
c. Pemahaman Pada fase ini, proses belajar matematika mencakup berbagai tahapan
pemahaman mulai dari pengembangan kemampuan menemukan solusi informal yang
berkaitan dengan konteks, menemukan rumus dan skema, sampai dengan menemukan
prinsip-prinsip keterkaitan.
d. Intertwinetment Pada tahap ini, siswa memiliki kesempatan utuk menyelesaikan
masalah matematika yang kaya akan konteks dengan menerapkan berbagai konsep,
rumus, prinsip, serta pemahaman secara terpadu dan saling berkaitan
e. Interaksi Proses belajar matematika dipandang secabagai suatu aktivitas sosial.
Dengan demikian, siswa diberi kesempatan untuk melakukan sharing pengalaman,
strategi penyelesaian, atau temuan lainnya. Interaksi memungkinkan siswa untuk
melakukan refleksiyang pada akhirnya akan mendorong mereka mendapatkan
pemahaman yang lebih tinggii dari sebelumnya
f. Bimbingan Bimbingan dilakukan melalui kegiatan guided reinvention, yaitu dengan
memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mnecoba menemukan
sendiri prinsip, konsep, atau rumus-rumus matematika melalui kegiatan pembelajaran
yang secara spesifik dirancang oleh guru.
3. Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik
Adapun langkah-langkah model pembelajaran RME (Aris Sohimin, 2016:150) adalah
sebagai berikut:
a. Memahami masalah kontekstual Guru memberikan masalah (soal) kontekstual dan
siswa
diminta untuk memahami masalah tersbut. Guru menjelaskan soal dengan memberi
petunjuk/saran seperlunya (terbatas) terhadap bagian-bagian tertentu yang dipahami
siswa.
b. Menyelesaikan Masalah Kontekstual Siswa secara individual disuruh menyelesaikan
masalah kontekstual pada buku siswa atau LKS dengan caranya sendiri. Cara
pemecahan dan jawaban masalah yang berbeda lebih diutamakan. Guru memotivasi
siswa untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan
pertanyaanpertanyaan penuntun untuk mengarahkan siswa memperoleh penyelesaia
soal.
c. Membandingkan dan Mendiskusikan Jawaban Siswa diminta untuk membandingkan
dan
mendiskusikan jawaban mereka dalam kelompok kecil. Setelah tu, hasil dari diskusi
itu dibandingkan pada diskusi kelas yang dipimpin oleh guru. Pada tahap ini dapat
digunakan siswa untuk melatih keberanian mengemukakan pendapat, meskipun
berbeda dengan teman lain atau bahkan dengan gurunya.
d. Menarik Kesimpulan Berdasarkan hasil diskusi kelompok dan diskusi kelas yang
dilakukan,
guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan tentang konsep, defenisi,
teorema, prinsip atau prosedur matematika yang terkait dengan masalah kontekstual.
4. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran RME
1. Kelebihan Model Pembelajaran Realistic Mathematics Education Secara umum
kelebihan atau kekuatan dari penerapan Model Pembelajaran Realistic Mathematics
Education:
a. Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa
tentang kehidupan sehari-hari dan kegunaan pada umumnya bagi manusia.
b. Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa
bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan
sendiri oleh siswa, tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.
c. Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa
cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama
dengan oran lain. Setiap orang bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri,
asalkan orang itu sungguhsungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut.
Selanjutnya, dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu dengan cara
penyelesaian yang satu dengan yang lain, akan bisa diperoleh cara penyelesaian yang
tepat, sesuai dengan tujuan dari proses penyelesaian masalah tersebut.
d. Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa
bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang
utama dan orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri
konsepkonsep matematika dengan bantuan pihak lain yang lebih mengetahui (misalnya
guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang
bermakna tidak akan tercapai.
2. Kekurangan Model Pembelajaran Realistic Mathematics Education Secara umum
kekurangan dari penerapan Model Pembelajaran Realistic Mathematics Education:
a. Tidak mudah untuk mengubah pandangan yang mendasar tentang berbagai hal,
misalnya mengenai siswa, guru, dan peranan sosial atau masalah kontekstual, sedang
perubahan itu merupakan syarat untuk dapat diterapkan RME.
b. Pencarian soal-soal kontekstual yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut dalam
pembelajaran matematika realistik tidak selalu mudah untuk setiiap pokok bahasan
matematika yang dipelajari siswa, terlebihlebih karena soal-soal tersebut harus bisa
dieselesaikan dengan bermacam-macam cara.
c. Tidak mudah bagi guru untuk memberi bantuan kepada siswa agar dapat melakukan
penemuan kembali konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika yang dipelajari.
F. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KELAS III SD

Perkembangan Intelektual
Perkembangan intelektual, kecerdasan atau untuk ranah psikologi atau pendidikan
diistilahkan dengan perkembangan kognitif, adalah suatu pengetahuan yang menganalisis
aktivitas psikis atau cara kerja keahlian berpikir abstrak individu. Perkembangan
intelektual berhubungan dengan kemampuan kognitif seseorang, yaitu kemampuan
berpikir dan memecahkan masalah. Aspek kognitif juga dipengaruhi olehh perkembangan
sel saraf pusat di otak. Berbicara mengenai masalah tumbuh kembang dan
perkembangan intelektual (kognitif) anak, secara umum masyarakat mengacu pada
teori Jean Piagett yang menyatakan bahwa perkembangan intelektual merupakan hasil
interaksi dengan lingkungan dan kematangan anak.
Menurut Piagett dalam (Ibda: 2015) perkembangan intelektual didasarkan pada dua
fungsi yaitu organisme dan adaptasi. Pertama,fungsi organisme, yaitu mensistematisasikan
proses fisik atau psikologis dari suatu sistem yang teratur dan terkait atau terstruktur,
seperti halnya bayi memiliki struktur perilaku untuk memusatkan perhatian secara
visual dan memegang objek secara terpisah. Kedua, proses adaptasi, yaitu sebagai proses
penyesuaian skema untuk merespon lingkungan melalui proses yang tidak terpisahkan.
Seluruh anak melewati tahapan intelektual untuk proses yang sama, meskipun tidak wajib
pada usia yang sama. Masing-masing tahap awal tersebut selanjutnya dimasukkan ke
dalam tahap selanjutnya yang merupakan bagian dari pemikiran baru yang berada di
tahap pengembangan. Oleh karena itu, setiap tahap kognitif adalah campuran dari tahap-
tahap sebelumnya.
Piaget dengan teori perkembangan intelektualnya mengatakan bahwasanya potensi
anak dalam menjalankan abstraksi atau analisis baru akan dimulai ketika mereka
berumur diiatas 100 tahun, yang dinamakan dengan tahap perkembangan formal.
Seiring bertambahnya usia anak, perkembangan intelektualnya akan sangat kompleks
sebab informasi yang didapat semakin bermacam-macam. Pada anak dengan masalah belajar
tertentu, fungsi perkembangan intelektualnya belum optimum sebab kendala yang
dialaminya, seperti kemampuan membaca, menulis serta berhitung. Hingga anak akan
mengalami masalah dalam menyiapkan tugas yang membutuhkan potensi dasar yang
optimum. Beda halnya dengan anak yang perkembangan intelektualnya berguna secara
optimum akan cenderung mendapatkan prestasi akademik yang bagus yang dapat diamati
dengan hasil belajar anak, baik dari rapor maupun tes hasil belajar penguasaan ilmu
pengetahuan.
Dalam teori Piaget, pemahaman kognitif adalah potensi intelektual yang
dipunyai anak. Pemahaman intelektual ini sangat berhubungan dengan pengetahuan
yang dipunyai anakyang bisa diamati dengan hasil belajar anak di sekolah seperti
buku laporan hasil belajar. Tidak hanya hasil belajar, sebenarnya proses belajar anak
penting diketahui. Sebab proses atau pola anak dalam mendapatkan hasil yang bagus
tidak lepas dari cara anak belajar.
Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan salah satu faktor penunjang komunikasi. Melalui bahasa manusia
mampu mengungkapkan informasi baik berupa ide, gagasan, hasil kreasi, dan penelitian
secara lebih mudah. Hal ini sesuai dengan pendapat (Ningsih, 2014: 243) yang mengatakan
bahwa bahasa merupakan sarana manusia untuk menyampaikan pemikiran atau penalaran,
sikap, dan perasaannya. Kemampuan berbahasa tidak didapat manusia sejak lahir, melainkan
perlu adanya usaha atau latihan untuk mempelajarinya. Belajar kemampuan berbahasa
dimulai sejak masih anak-anak. Awalnya orang tua mengenalkan kemampuan berbahasa
mereka kepada anaknya, kemudian si anak lama-kelamaan akan menirukan apa yang telah
diajarkan oleh orang tuanya. Anak usia Sekolah Dasar sudah mahir menyimbolkan objek-
objek melalui kata-kata. Namun pemikiran di usia mereka masih bersifat egosentris yang
artinya pemikiran mereka masih mengedepankan atau mementingkan diri mereka sendiri.
Walaupun begitu, siswa usia Sekolah Dasar belum mengetahui jika satu objek dapat
dideskripsikan lebih dari satu kata. Inilah alasan pentingnya anak mempelajari dan
menguasai kemampuan berbahasa.
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, emosional, dan
merupakan sarana penunjang keberhasilan peserta didik dalam mempelajari semua bidang
studi (Sulestiyani, 2016: 10). Karena itulah kemampuan berbahasa tidak hanya diajarkan
dalam lingkungan keluarga saja, melainkan juga diajarkan dalam lingkungan sekolah
terutama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Dasar memberikan pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan
mendengarkan atau menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Semua itu dimaksudkan
untuk dapat memahami pengetahuan, mengungkapkan pikiran dan perasaan serta
pengalaman, baik secara lisan maupun tertulis. Adapun beberapa faktor yang penting untuk
diperhatikan ketika berbicara adalah: siapa yang berbicara, kepada siapa berbicara, dalam
suasana apa pembicaraan itu dilakukan, apa yang menjadi pokok pembicaraan dan apa tujuan
pembicaraan, merupakan faktor-faktor yang sangat menentukan terjadinya pemakaian bahasa
dalam masyarakat (Saddhono, 2011: 433).
Perkembangan Sosial
Sebagai makhluk social, seseorang akan mengalami proses interaksi dan sosialisasi
dengan makhluk lainnya. Perkembangan social merupakan kematangan yang dicapai sebagai
proses hubungan social (Sitorus, 2017) atau jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai
dari orang tua, saudara, teman sebaya, hingga masyarakat secara luas (Suyadi, 2010)
yang dimaknai sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma yang
berlaku dalam proses penyesuaian diri dan bersosialisasi di lingkungan masyarakat
(Assingkily & Hardiyati, 2019).
Perkembangan social sudah muncul pada masa awal kanak -kanak atau disebut
masa prakelompok (Hurlock, 1980). Dasar untuk sosialisasi diletakkan dengan
meningkatnya hubungan antar anak dengan teman-teman sebaya dari tahun ke tahun.
Meskipun pada tahap ini anak lebih menunjukkan sikap egosentrisnya, masa wal kanak-
kanak bisa juga bersikap ramah dan aktif secara social jika pendampingan dari orang
dewasa berhasil. Dan Hurlock (1980) meramalkan jika sejak usia 2,5 anak bisa bersikap
social yang baik, maka anakakan terus bersikap seperti itu sampai usia 7.5 tahun.
Pada masa kanak-kanak akhir (usia 6-12 tahun) para pendidik memberi label
sebagai anak usia sekolah dasar, (Hurlock, 1980) atau middle childhood (Sabani, 2019).
Pada masa ini disebut sebagai usia matang untuk belajar. Anak mampu menguasai
kecakapan-kecakapan baru yang diberikan guru di sekolah. Disamping itu menurut
Sabani (2019) sikap mereka terhadap keluarga tidak lagi egosentris, tetapi bisa bersikap
objektif dan empiris terhadap dunia luar sehingga masa ini disebut periode intelektual atau
masa keserasian sekolah. Anak usia sekolah dasar dibedakan pada kelas rendah dan kelas
tinggi. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda.
Karakteristik social anak sekolah dasar usia rendah usia 6-8 tahun (kelas 1, 2, 3)
memiliki sifat diantaranya: (1) hasrat besar terhadap hal-hal yang bersifat drama; (2)
berkhayal dan suka meniru; (3) gemar akan keadaan alam; (4) senang akan cerita-
cerita; (5) sifat pemberani; (6) senang mendapat pujian.
Sementara karakteristik anak sekolah dasar sering disebut sebagai usia berkelompok
karena ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya
keinginan untuk diterima sebagai anggota kelompok. Kematangan aspek social pada
anak menurut Hurlock (1980) bisa ditingkatkan melalui keanggotaan kelompok melalui
beberapa cara: 1) belajar menerima dan melaksanakan tanggungjawab, 2) belajar
bersaing dengan orang lain, 3) belajar perilaku social yang baik, 4) belajar bekerja sama, 5)
belajar dari orang-orang dewasa, 6) belajar kepada kelompok, 7) belajar
menyesuaikan diri dengan standar kelompok, 8) belajar bermain dan olah raga, 9)
belajar berbagi rasa dengan orang lain, 10) belajar bersikap sportif.
Perkembangan Emosional
Perkembangan emosi pada anak usia Sekolah Dasar dimulai pada usia 5-6 tahun pada
usia ini anak sudah mulai mempelajari kaidah-kaidah aturan yang berlaku, mampu
mempelajari konsep keadilan, mampu menjaga rahasia sebagai kemampuan anak dalam
belajar menyembunyikan informasi. Pada usia 6 tahun mereka sudah memahami konsep
emosi yang lebih kompleks seperti cemburu, merasa bangga, sedih, dan kehilangan,
tetapi masih kesulitan untuk mengontrol dan mengarahkan ekspresi emosionalnya.
pada usia 7-8 tahun, perkembangan emosi sudah terinternalisasi dan sudah
mengekspresikan rasa malu dan bangga. sehingga mereka bisa mengungkapkan perasaannya
secara verbal terhadap konflik emosi yang dirasakannya (Ladubasari, Erna; Sriastria,
2012).
Pada usia 9-10 tahun, anak sudah mampu mengatur ekspresi emosi positif
maupun negative dalam situasi social dan dapat merespon distress emosional yang
terjadi pada orang lain dan bisa belajar bagaimana meredam emosi. Pada usia 11-12
tahun anak sudah bisa belajar memahami keberagaman emosi yang dirasakan.
Dalam pandangan teori psikoanalisa, perkembangan moral merupakan proses
internalisasi norma-norma masyarakat dan dipengaruhi oleh kematangan biologis
individu. Sementara teori bihavioristik memandang bahwa perkembangan moral
merupakan rangkaian stimulus respon yang dipelajari anak berupa reward and
punishment yang sering dialami anak (Latifa, 2017).
Perkembangan Moral
Pada masa awal kanak-kanak perkembangan moral masih dalam tingkat rendah,
disebabkan oleh perkembangan intelektual anak belum mencapai titik dimana anak
dapat mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah, dan
tidak memiliki dorongan untuk mengikuti peraturan-peraturan karena belum mengerti
manfaat sebagai anggota kelompok social (Hurlock, 1980). Pada masa akhir kanak-kanak
(usia sekolah dasar), kode moral sangat dipengaruhi oleh standar moral dari kelompok
dimana anak mampu mengidentifikasi diri. Anak akan mengikuti standar moral anggota
kelompoknya tanpa meninggalkan kode moral yang berasal dari keluarganya. pada
periode ini, kode moral anak berangsur menuju kode moral masa remaja.
Hurlock (1980) menegaskan bahwa anak yang memiliki IQ tinggi akan memiliki
kematangan moral lebih tinggi dibanding anak yang IQ nyadibawah mereka. Peran
disiplin sangat penting dalam perkembangan moral anak periode ini, karena disiplin
adalah masalah serius bagi anak yang lebih dewasa. Kohlberg memperluas tahapan
perkembangan moral Piaget dengan memasukkan dua tahapan tingkat perkembangan yaitu
tingkat “moralitas prakonvensional” orientasinya kepada patuh dan hukuman dalam arti
menilai benar salahnya perbuatan.

Anda mungkin juga menyukai