BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Secara umum belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses
perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Reber, dalam
buku psikologi pendidikan, mendefinisikan belajar dalam dua pengertian.
Pertama, belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan dan kedua,
belajar sebagai perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng
sebagai hasil latihan yang diperkuat. Sedangkan Kimble, mendefinisikan
belajar sebagai perubahan yang relative permanen didalam behavioral
potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari
reinforced practice (praktik yang diperkuat) (Festiawan, 2020, p. 6).
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan
suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud
perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relatif permanen
atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya.
Menurut Slameto, mengemukakan belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai prestasi pengalaman
individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Selain itu,
12
Djamarah mengemukakan Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai prestasi dari
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor (Jufri, 2015, p. 24).
Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah
sebagai berikut (Purwaningsih, 2018, p. 64):
a. Perubahan terjadi secara sadar
Ini berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya
perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi
adanya suatu perubahan dalam dirinya.
b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang
berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan
yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan
berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa
bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik
dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar itu
dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh.
Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak
terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri.
13
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan
bersifat menetap.
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Ini berarti perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang
akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah
laku yang benar-benar disadari.
f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses
belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seorang
belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan
tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan,
pengetahuan, dan sebagainya (Purwaningsih, 2018).
Dari definisi belajar yang telah dijelaskan di atas maka dapat
diambil kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah
laku yang terjadi pada individu yang didapat dari aktivitas yang
dilakukannya, dimana perubahan tingkah laku tersebut terjadi secara
sadar, bersifat kontinu dan fungsional, positif dan aktif, bersifat
permanen, bertujuan dan terarah, serta perubahan tersebut mencakup
seluruh aspek tingkah laku.
14
2. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar tidak mungkin terlepas dari dunia pendidikan dan erat
kaitanya dalam bagian terpenting yakni pembelajaran. Untuk mengetahui
berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu
evaluasi, tujuannya untuk mengetahui hasil yang diperoleh peserta didik
setelah proses belajar mengajar berlangsung berikut beberapa definisi
hasil belajar menurut para ahli sebagai berikut:
Sudjana mendefinisikan, hasil belajar peserta didik pada hakikatnya
adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian
yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
(Hasibuan, Hasil Belajar Siswa Pada Materi Bentuk Al-Jabar, 2015, p. 6).
Menurut Syaiful Bahri Djamarah hasil belajar adalah kesan-kesan
yang dihasilkan dari aktivitas belajar menyebabkan perubahan dalam diri
seseorang yang hasilnya diubah dalam bentuk angka atau nilai.
Menurut Purwanto, hasil belajar adalah perubahan perilaku yang
dialami peserta didik sebagai hasil dari penguasaan mereka terhadap
sejumlah materi yang diberikan selama proses pembelajaran. Purwanto
juga menyatakan bahwa perubahan yang dialami dalam aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik. (Octheria Friskilia S, 2018).
Menurut Hamalik, hasil belajar adalah perubahan tingkah laku pada
seseorang yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk pengetahuan,
sikap, serta keterampilan yang dikenal sebagai hasil belajar. Perubahan
15
ini dapat digambarkan sebagai peningkatan dan perkembangan yang
lebih baik dari sebelumnya ketika yang tadinya tidak tahu menjadi tahu.
Menurut Bloom, hasil belajar adalah hasil dari proses belajar
menggunakan alat pengukuran, yaitu tes yang direncanakan, baik tes tulis
maupun tes perbuatan. Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar di
sekolah diukur dengan skor yang diperoleh dari hasil tes untuk mata
pembelajaran tertentu. (Octheria Friskilia S, 2018, p. 38).
Dari berbagai definisi hasil belajar yang telah dikemukakan oleh
para ahli diatas, maka dapat disimpulkan pengertian hasil belajar
merupakan hasil akhir dari proses pembelajaran yang dinyatakan dalam
bentuk angka atau huruf yang menggambarkan perubahan tingkah laku
atau kemampuan yang menjadi tolak ukur dalam menentukan
keberhasilan peserta didik memahami suatu pelajaran, dimana hasil
belajar menyangkut ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
3. Fungsi Hasil Belajar
Hasil belajar dapat digunakan untuk menentukan langkah atau
upaya apa yang harus dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, orang
tua, peserta didik, dan pemerintah untuk meningkatkan proses dan hasil
belajar. Hasil belajar juga dapat digunakan untuk mengetahui
kemampuan dan perkembangan peserta didik serta tingkat keberhasilan
pendidikan di satuan pendidikan tertentu. Tujuan pembelajaran
sebenarnya adalah perubahan tingkah laku peserta didik. Oleh karena itu,
penilaian harus memeriksa sejauh mana perubahan tingkah laku siswa
16
telah terjadi selama proses belajar. Jika tujuan pembelajaran tidak
tercapai, tindakan dapat diambil untuk memperbaiki proses pembelajaran
dan peserta didik yang bersangkutan. Misalnya, dengan melakukan
perubahan pada strategi mengajar, memberikan bimbingan dan bantuan
belajar kepada siswa, dan menentukan apakah tingkah laku siswa telah
berubah atau tidak. Dengan kata lain, hasil belajar berfungsi sebagai
umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran. (Nizam, Pedoman
Teknis Penilaian Hasil Belajar, 2016, p. 20).
Menurut Surya Dharma, Sejalan dengan pengertian diatas maka
hasil belajar berfungsi sebagai berikut :
a). Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Dengan
fungsi ini maka penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan
tujuan pembelajaran sebagai penjabaran dari kompetensi mata
pelajaran.
b). Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan
mungkin dilakukan dalam hal tujuan pembelajaran, kegiatan atau
pengalaman belajar peserta didik, strategi pembelajaran yang
digunakan guru, media pembelajaran, dll.
c). Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar peserta didik
kepada para orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan
kemampuan dan kecakapan peserta didik dalam berbagai bidang
studi atau mata pelajaran dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang
dicapainya.
17
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Pendidikan bagi setiap orang sangat penting. Dalam proses
pendidikan tentunya yang diharapkan memperoleh hasil yang baik. Hasil
belajar yang baik dapat diperoleh melalui belajar dengan sungguh-
sungguh. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar peserta
didik secara umum dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri individual,
sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang muncul dari luar diri
individual atau lingkungan sekitar. Berikut menurut Slameto, mengenai
beberapa faktor internal dan eksternal.
Ada dua faktor mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam
belajar yaitu (Widyarini, 2015, p. 25):
a. Faktor Internal (dari dalam diri peserta didik) sebagai berikut:
1) Faktor Jasmaniah (meliputi: kondisi fisik, dan cacat tubuh).
2) Faktor Psikologis (meliputi: intelegensi, perhatian, minat, bakat,
motif, kematangan, kesiapan, dan keaktifan siswa dalam
bermasyarakat).
18
b. Faktor Eksternal (dari luar diri peserta didik) sebagai berikut:
1) Lingkungan Keluarga (meliputi: orang tua, relasi antara anggota
keluarga, suasana rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga,
pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan).
2) Lingkungan Sekolah (meliputi: metode mengajar guru,
kurikulum, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar
pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan
tugas rumah).
3) Lingkungan Masyarakat (meliputi: kegiatan siswa dalam
masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan
masyarakat).
Berdasarkan penelitian ini, hasil belajar dalam metode tilawati Tegal
dikategorikan dalam 3 materi :
1. Tajwid
Tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari
tiap-tiap bacaan ayat Al-Qur’an (Yuan, 2021, p. 4). Untuk pembelajaran
tajwid dipelajari dari mulai jilid 3 hingga jilid 6, jilid 3 & 4 (membahas
tentang dasar mengenal nun sukun & mim sukun serta pengenal
lainnya), jilid 5 & 6 (mengenal lebih dalam mim sukun & nun sukun
serta pengenal lainya)
2. Hafalan Doa-Doa
Hafalan doa-doa ialah suatu kegiatan menghafal doa atau berusaha
meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat doa yang diucapkan
19
(Dainuri, 2017, p. 160). Untuk hafalan doa-doa dalam kitab tilawati
sebagaimana menyesuaikan dengan bacaan jilid 1-6.
3. Bacaan Jilid
Bacaan jilid ialah suatu kegitan membaca yang berada dalam kitab
tilawati tersebut, yang dimulai dari jilid 1-6.
Masing-masing jilid 1-6 dikelompokan dengan tingkatan kelas 1,2
& 3 sebagai berikut (Wawancara bersama ustadz Ali Muhsin):
1) Kelas 1
Jilid 1, menghafal doa sebelum dan sesudah bangun tidur, doa
masuk dan keluar WC/KM, doa untuk bapak dan ibu, doa untuk
orang mukmin, dan materi hafalannya dari Surah An-Nas-Al-
Lahab.
Jilid 2, selain membaca jilid yaitu hafalan doa untuk bapak ibu
guru, doa keselamatan dunia dan akhirat, doa ketika sujud sahwi,
doa waktu pagi dan sore hari, untuk hafalan juz 30 dari Surah An-
Nashr sampai dengan Al-Fiil.
2) Kelas 2
Jilid 3, menghafal doa sebelum dan sesudah makan atau minum,
doa memakai dan melepas pakaian, doa bercermin, doa ketika
akan keluar rumah, doa naik kendaraan dan untuk hafalan juz 30
dari surah Al-Humazah sampai dengan surah Al-Bayyinah.
Jilid 4, menghafal doa masuk dan keluar masjid, doa ketika
bersin, doa ketika ditimpa musibah, doa mendengar petir, doa
20
ketika hujan turun, untuk target hafalan surahnya dari Surah Al-
Qadr sampai dengan Surah At-Tin.
3) Kelas 3
Jilid 5, menghafal doa ketika hujan lebat, doa berbuka puasa, niat
dan doa siwakan, untuk target hafalan surahnya dari Surah At-Tin
sampai dengan Surah Al-Lail.
Jilid 6, doa aman dari mati kafir, doa sebelum dan sesudah
belajar, untuk target hafalan Surat Al-Lail sampai dengan surat
Al-Balad Dan setelah selesai lanjut kemateri gharib.
B. Metode Tilawati Tegal
1. Pengertian Metode Tilawati Tegal
Metode secara harfiyah menggambarkan jalan atau suatu cara yang
akan dicapai. Metode tilawati dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an
yaitu suatu metode atau cara belajar membaca Al-Qur’an dengan ciri
khas menggunakan lagu rost dan penggunaan pembiasaan secara klasikal
dan membaca secara individual dengan teknik baca simak.
Menurut Ali Muaffa, metode tilawati merupakan suatu metode
belajar membaca Al-Quran yang menggunakan strategi pembelajaran
dengan pendekatan seimbang antara pembisaan melalui sistem klasikal
dan individual yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan dalam
pembelajaran membaca Al-Qur’an (Hermawan, 2021, p. 173).
21
Metode Tilawati adalah metode belajar dan mengajar Al-Qur’an
secara klasikal dan individual, yang tersusun dari satu atau dua kalimah
Al-Qur’an, yang terdapat ayat-ayat pendek dan panjang dengan irama
yang khas, sehingga mudah dibaca dan diajarkan. Metode tilawati ini
sebuah metode pengajaran yang disusun oleh Al-Magfurlah Ust. Imron
Ahmadi beliau adalah seorang ulama Quro dari Tegal, Jawa Tengah.
Kemudian kitab tilawati tersebut diajarkan dalam sebuah lembaga
pendidikan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) Al-Barokah di
Bojongjati Kabupaten Pangandaran lalu dinamakan “Metode Tilawati
Tegal”. Metode tilawati ini tersusun lima jilid, dilengkapi dengan CD
pembelajaran yang dapat dipelajari dengan media computer, serta dapat
diakses melalui internet. Dalam proses pembelajarannya dimulai dari jilid
ke jilid dengan perpaduan dua thoriqoh dan musyafahah yang sesuai
pengajaran Nabi Muhammad Saw (Hasan, 2015, p. 2).
2. Penggunaan Metode Tilawati
Ada 2 (dua) metode dalam pembelajaran kitab tilawati Tegal (Hasan,
2015):
a. Metode Klasikal: Guru membacakan/menjelaskan pokok pelajaran
pada seluruh santri secara bersama-sama.
b. Metode Individual: Penilaian kemampuan santri secara
perorangan/sorogan.
22
3. Fungsi Metode Tilawati Tegal
Adapun fungsi dari metode tilawati Tegal antara lain (Hasan, 2015,
p. 5):
a). Al-Hifdzu: Untuk menjaga eksistensi dan kesucian Al-Qur’an dari
aspek bacaan yang memenuhi standar qiro’ah mutawatiroh, dan
sesuai kaidah ilmu tajwid.
b). An-Nasyru: Untuk menyebar luaskan ilmu qiro’atil qur’an, agar
tidak terjadi keracunan bacaan dan asumsi yang salah namun kaprah.
c). At-Tadrij: Untuk meningkatkan kualitas pendidik Al-Qur’an.
d). At-Tabsyir: Untuk memberi kabar gembira kepada para guru yang
mengajarkan Al-Qur’an sebagai manusia terbaik disisi Allah Swt.
dan Rasulnya.
e). Al-Indzar: Untuk memberi peringatan kepada para guru yang
mengajarkan Al-Qur’an.
4. Proses Pembelajaran Metode Tilawati Tegal
Proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang
dilaksanakan oleh guru dan peserta didik dalam kegiatan pengajaran
dengan menggunakan sarana dan fasilitas pendidikan sehingga tercapai
tujuan yang telah ditetapkan dalam lembaga pendidikan (Widoyoko,
2015, p. 26).
Tata cara pelaksanaan dalam sistem mengajarnya dimulai dari
tingkatan yang sederhana tahap demi tahap sampai pada tingkat
sempurna. Metode tilawati merupakan metode membaca Al-Qur’an yang
23
langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan
kaidah ilmu tajwid. Sistem pendidikan dan pengajaran metode tilawati
dilakukan secara klasikal (Sadzili, 2018, p. 4).
Adapun isi dari masing-masing jilid yaitu (Hasan, 2015, pp. 6-7):
1) Jilid 1
a. Huruf hijaiyah berharokat fathah tidak sambung.
b. Huruf hijaiyah berharokat fathah sambung.
c. Huruf hijaiyah asli.
d. Angka Arab
2) Jilid 2
a. Kalimat berharokat fathah, kasroh dan dhommah.
b. Kalimat berharokat fathatain, kasrotain dan dhommatain.
c. Bentuk-bentuk ta’.
d. Kalimat/bacaan panjang satu alif.
e. Fathah panjang, kasroh panjang dan dhommah panjang.
f. Dhommah diikuti wawu sukun ada alifnya atau tidak ada alifnya
dan tetap dibaca sama panjangnya.
3) Jilid 3
a. Huruf lam sukun.
b. Lam sukun didahului alif dan huruf yang berharokat.
c. Mim sukun.
d. Sin-syin sukun.
e. Ro’ sukun.
24
f. Hamzah - ta’- ain sukun.
g. Fathah diikuti wawu sukun.
h. Fathah diikuti ya’ sukun.
i. Fa’ – dhal - dho’ sukun.
j. Tsa’ - kha - kho’ sukun.
k. Ghoin - za’ - shod - kaf – ha’ - dhod sukun.
4) Jilid 4
a. Huruf-huruf bertasydid.
b. Mad wajib dan mad jaiz.
c. Bacaan nun dan mim tasydid.
d. Cara mewaqafkan.
e. Lafdhul jalalah.
f. Alif lam syamsiah.
g. Bacaan ikhfa hakiki.
h. Huruf muqottho’ah.
i. Wawu yang tidak ada sukunnya.
j. Idghom bighunnah.
5) Jilid 5
a. Nun sukun atau tanwin bertemu ya’ atau wawu/idghom
bighunnah.
b. Huruf sukun dibaca memantul/qalqalah.
c. Nun sukun atau tanwin bertemu ba/iqlab.
d. Mim sukun bertemu mim atau ba/idghom mimi, ikhfa’ safawi.
25
e. Nun sukun atau tanwin bertemu lam, ro’/idghom bilaghunnah.
f. Lam sukun bertemu ro’.
g. Nun sukun atau tanwin bertemu huruf halqi/idzhar halqi.
h. Huruf muqhotto’ah.
i. Mad lazim mutsaqqol kalimi dan mad lazim mukhoffaf harfi.
j. Tanda-tanda waqof/rumus-rumus waqof.
6) Jilid 6
a. Surat-surat pendek, mulai surat ke 93 (Ad-Duha) sampai dengan
surat terakhir 114 (An-Nas), sesuai kurikulum TPQ.
b. Ayat-ayat pilihan, sesuai kurikulum TPQ.
c. Musykilat dan ghorib (bacaan-bacaan asing yang tidak cocok
dengan tulisannya.
5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Tilawati Tegal
1) Kelebihan Metode Tilawati
a. Adanya alat-alat penunjang pembelajaran Al-Qur’an metode
tilawati dilengkapi dengan beberapa media pembelajaran yang
efisien dan efektif.
b. Dilengkapi dengan lantunan lagu rost dari jilid 1-6 dan
menggunakan lagu nahawan untuk pengembangan.
c. Media pembelajaran berupa peraga tilawati mulai jilid 1-6.
d. Dilengkapi dengan kaset pembelajaran jilid 1-6.
26
e. Menerapkan strategi belajar klasikal-individual secara seimbang
dan proposional, sehingga KBM lebih efisien, dan pengelolaan
santri menjadi lebih baik (Sadzili, 2018, p. 5).
2) Kekurangan Metode Tilawati
a. Bagi guru yang akan menggunakan metode ini harus mengikuti
pelatihan dan membaca tartil.
b. Dengan pendekatan irama lagu rost yang digunakan dalam
metode ini, dikhawatirkan tidak terjaga secara intensif.
c. Pada huruf-huruf yang pelafalannya agak sulit tidak boleh
menggunakan pendekatan, jadi sejak awal siswa harus bisa
melafalkan huruf dengan baik, benar dan fasih.
d. Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca Al-Qur’an,
karena harus dengan tilawah sekaligus (Sadzili, 2018, pp. 5-6).
6. Pendekatan Pembelajaran Metode Tilawati Tegal
Pendekatan pembelajaran adalah pengelolaan kelas secara klasikal
maupun individual.
1) Pendekatan klasikal
Pendekatan klasikal adalah proses belajar mengajar yang dilakukan
dengan cara bersama-sama atau berkelompok dengan menggunakan
peraga.
27
a. Manfaat klasikal
Ada beberapa manfaat dalam penerapan klasikal menggunakan
peraga ini (Hasan, 2015, p. 16):
a) Pembiasaan bacaan.
b) Membantu siswa melancarkan buku.
c) Memudahkan penguasaan lagu rost.
d) Melancarkan halaman-halaman awal ketika siswa sudah
halaman akhir.
b. Teknik klasikal
Teknik klasikal dalam metode ada tiga yaitu (Hasan, 2015, p.
17):
a) Teknik 1 : Guru (Membaca) Santri (Mendengarkan)
b) Teknik 2 : Guru (Membaca) Santri (Menirukan)
c) Teknik 3 : Guru & Santri (Membaca bersama-sama)
Tiga teknik diatas tidak digunakan semua pada praktik klasikal,
namun disesuaikan dengan jadwal atau perkembangan
kemampuan peserta didik.
2) Pendekatan individual
Pendekatan individual adalah proses belajar mengajar yang
dilakukan dengan cara membaca bergiliran yang satu membaca dan
yang satu menyimak.
28
a. Manfaat individual
Ada beberapa manfaat dalam penerapan individual
menggunakan buku tilawati ini yaitu (Hasan, 2015, pp. 17-18):
a) Siswa tertib dan tidak ramai.
b) Pembagian waktu setiap peserta didik adil.
c) Mendengarkan sama dengan membaca dalam hati.
d) Mendapat rahmat.
b. Teknik individual
Alokasi waktu pembelajaran dalam teknik individual
menggunakan metode tilawati adalah 30 menit dalam setiap
pertemuan dengan tahapan sebagai berikut (Hasan, 2015, pp. 19-
20):
a) Guru menjelaskan pokok bahasan pada halaman buku yang
akan dibaca.
b) Sebelum baca simak, diawali dengan membaca secara
klasikal halaman buku yang akan diajarkan pada pertemuan
tersebut. Sedangkan teknik yang digunakan disamakan
dengan teknik klasikal pada saat itu.
c) Peserta didik membaca tiap baris bergiliran sampai masing-
masing sisa membaca 1 halaman penuh dalam bukunya.
d) Ketentuan kenaikan halaman, dilakukan secara bersama-
sama dalam satu kelas dengan ketentuan halaman diulang
29
apabila peserta didik yang lancar kurang dari 70 persen dari
jumlah peserta didik yang aktif dan halaman dinaikkan
apabila peserta didik yang lancar minimal 70 persen dari
jumlah peserta didik yang aktif.
30
C. Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan adalah penelitian yang memiliki kaitan dengan
penelitian yang akan dibahas dengan penelitian ini. Penelitian yang relevan
adalah kajian terhadap buku dan jurnal ilmiah yang dianggap memiliki
hubungan dengan penelitian ini yang bertujuan untuk menghindari kesamaan
dengan penelitian penelitian terdahulu. Buku dan jurnal ilmiah yang memiliki
hubungan dengan penelitian kita antara lain:
1. PENGARUH PENGGUNAAN METODE TILAWATI TERHADAP
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN (2020).
Yang disusun oleh Khoirul Fariandi. Penelitian ini mengkaji "Pengaruh
Penggunaan Metode Tilawati Terhadap Peningkatan Kemampuan
Membaca Al-Qur’an". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menentukan peran guru TPA di Taman Pendidikan Al-Qur’an Khoirul
Huda di Kecamatan Metro Timur dalam meningkatkan kemampuan
membaca Al-Qur’an. Penelitian ini bersifat kuantitatif dan bersifat
kualitatif karena bertujuan untuk menentukan "Pengaruh Penggunaan
Metode Tilawati Terhadap Peningkatan Kemampuan Membaca Al-
Qur'an di TPA Khoirul Huda Kecamatan Metro Timur." Guru TPA,
orang tua, dan santri adalah sumber data penelitian ini. Test membaca Al-
Qur'an adalah metode pengumpulan data yang digunakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode tilawati
meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di TPA Khoirul Huda di
Kecamatan Metro Timur. Penelitian menemukan bahwa pengajaran
31
dengan metode Tilawati menggunakan pendekatan klasikal, yang berarti
bahwa guru membaca kepada muridnya, mereka mendengarkannya,
mereka menirukannya, mereka membaca bersama-sama, dan mereka
menggunakan teknik membaca simak. Selain itu, peran guru lain
didukung, sehingga kemampuan membaca santri sebelumnya menjadi
lebih baik. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama menggunakan
metode tilawati pada pengajaran. Sedangkan perbedaanya adalah pada
tempat lokasi dan nama dari metode tilawati Tegalnya.
2. PENGARUH PENERAPAN METODE TILAWATI TERHADAP
KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN (2018). Yang disusun oleh
Noviatun Ariska. Dalam penelitian ini membahas tentang “Pengaruh
Penerapan Metode Tilawati Terhadap Kemampuan Membaca Al-
Qur’an”. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi dan
sampel data dalam penelitian ini adalah 41 orang siswa. Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes,
dokumentasi dan observasi. Instrumen penelitian adalah observasi dan
tes. Teknik pengolahan data pada yang digunakan dalam penelitian ini
adalah editing, coding, dan tabulating. Teknik analisi data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data statistik sederhana yang
berupa analisis regresi. Hasil dari penelitian ini adalah 1) Penerapan
metode tilawati di kelas III di MIN 2 Kotawaringin Barat selalu
dilakukan oleh guru terbukti dengan skor rata-rata 2,66% 2) Kemampuan
membaca Al-Qur’an siswa kelas III di MIN 2 Kotawaringin Barat sangat
32
baik dapat diketahui dengan rata-rata nilai 94,26% 3) Terdapat pengaruh
yang signifikan penerapan metode tilawati terhadap kemampuan
membaca Al-Qur’an siswa kelas III di MIN 2 Kotawaringin Barat.
Terbukti dengan adanya Fhitung sebesar 8,04 lebih besar dari Ftabel pada
taraf signifikan 0,05 sebesar 4,09. Dengan demikian Ha diterima dan H0
ditolak. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama menjadikan
metode tilawati sebagai acuan untuk mempelajari cara membaca Al-
Qur’an. Sedangkan perbedaannya adalah pada tempatnya yaitu disekolah
MI merupakan lembaga pendidikan formal dan nama dari metode tilawati
Tegalnya.
3. IMPLEMENTASI METODE TILAWATI DALAM MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR BACA AL-QUR’AN SANTRI (2015), yang disusun
oleh Abdul Waris Albar. Dalam penelitian ini membahas tentang
“Implementasi Metode Tilawati Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Baca
Al-Qur’an Santri Ra. Al-Mujtama’ Plakpak Pegantenan Pamekasan”.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang mengumpulkan data
primer melalui wawancara dengan kepala madrasah, guru madrasah dan
pembina Al-Qur'an Yayasan Al-Mujtama. Data sekunder dari literatur
dan dokumen dianalisis secara kualitatif, dalam bentuk deskriptif. Hasil
penelitian bahwa hasil belajar membaca Al-Qur'an siswa cukup baik
dengan menggunakan metode tilawati. Fungsi metode tilawati sebagai
cara atau jalan yang ditempuh guru untuk mengajar membaca Al-Qur'an
dengan teknik klasikal dan baca simak. Alhasil, mereka bisa membaca
33
Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Faktor tersebut
didukung kualitas guru, kecerdasan siswa, fasilitas. Faktor penghambat
kondisi sosial siswa yaitu perbedaan metode di rumah dan di sekolah.
Persamaan penelitian ini adalah sama-sama mengembangkan metode
tilawati sebagai acuan belajar membaca Al-Qur’an. Sedangkan
Perbedaannya adalah pada tempatnya di sekolah RA, yang merupakan
lembaga pendidikan formal dan nama dari metode tilawati Tegalnya.
4. EFEKTIVITAS METODE TILAWATI SEBAGAI PEMBELAJARAN
MEMBACA AL-QURAN PADA ANAK DISLEKSIA (2018), yang
disusun oleh Nidar Yusuf. Dalam penelitian ini membahas tentang
“Efektivitas Metode Tilawati Sebagai Pembelajaran Membaca Al-Quran
Pada Anak Disleksia, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kualitatif deskriftif dengan teknik pengumpulan deta menggunakan
observasi, wawancara, serta dokumentasi. Dengan fokus masalah yaitu
fashohah, tajwid, dan bacaan yang lancar tanpa jeda yang dilakukan di
TPQ Masjid Raya Bintaro Jaya dengan subyek satu anak disleksia yang
saat ini sudah memasuki tilawati. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa metode tilawati efektif untuk anak disleksia. Ini dikarenakan
pendekatan yang digunakan oleh metode tilawati yaitu klasikal dan baca
simak. Hasil dari metode tilawati akan sama antara anak normal dengan
anak disleksia akan tetapi untuk anak disleksia membutuhkan waktu yang
lebih lama dibangdingkan dengan anak normal. Persamaan penelitian ini
adalah sama-sama meneliti tentang metode tilawati. Sedangkan
34
perbedaannya adalah pada anaknya yang menderita disleksia, yaitu
kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan belajar yang
menyebabkan masalah pada proses menulis, berbicara dan membaca dan
nama dari metode tilawati Tegalnya.
35
D. Kerangka Pikir
Penelitian ini membahas tentang pengaruh penggunaan metode tilawati
Tegal terhadap hasil belajar santri kelas III di TPQ Al-Barokah Bojongjati-
Pangandaran. Maka kerangka berfikir sebagai berikut:
Kerangka Berfikir
Penggunaan Metode Hasil Belajar
Tilawati Tegal Santri
(X) (Y)
Gambar 2. 1 Pengaruh Penggunaan Metode Tilawati Tegal Terhadap Hasil Belajar
Santri Kelas III di TPQ Al-Barokah Bojongjati-Pangandaran
36
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis Penelitian adalah pernyataan yang sifatnya sementara.
Jawaban sementara dapat diterima jika kebenaran dapat dibuktikan dengan
fakta, dan sebaliknya jawaban sementara dapat ditolak jika dianggap palsu.
Penerimaan dan penolakan hipotesis tergantung pada hasil yang didapatkan
dalam penelitian (Zulfa, 2019, p. 127). Adapun hipotesis yang dirumuskan
pada penelitian ini adalah
Dari penjelasan diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Hipotesis kerja atau Hipotesis alternatif (Ha) yaitu hipotesis yang
menyatakan ada Pengaruh antara variabel X dan Y (Independent dan
dependent Variabel). Hipotesis kerja (Ha) dalam Penelitian ini adalah
“Adanya Pengaruh Penggunaan Metode Tilawati Tegal Terhadap Hasil
Belajar Santri Kelas III di TPQ Al-Barokah Bojongjati-Pangandaran”.
2. Hipotesis Nol atau Hipotesis Nihil (H0) yaitu hipotesis yang menyatakan
tidak hubungan antara variabel X dan Y (Independent dan dependent
Variabel). Hipotesis nol dalam Penelitian ini adalah “Tidak Ada
Pengaruh Penggunaan Metode Tilawati Tegal Terhadap Hasil Belajar
Santri Kelas III di TPQ Al-Barokah Bojongjati-Pangandaran”.
37