0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan26 halaman

Pengertian dan Fungsi Hasil Belajar

Diunggah oleh

Miftahul Hidayat
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan26 halaman

Pengertian dan Fungsi Hasil Belajar

Diunggah oleh

Miftahul Hidayat
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Hasil Belajar

1. Pengertian Belajar

Secara umum belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses

perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan

lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Reber, dalam

buku psikologi pendidikan, mendefinisikan belajar dalam dua pengertian.

Pertama, belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan dan kedua,

belajar sebagai perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng

sebagai hasil latihan yang diperkuat. Sedangkan Kimble, mendefinisikan

belajar sebagai perubahan yang relative permanen didalam behavioral

potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari

reinforced practice (praktik yang diperkuat) (Festiawan, 2020, p. 6).

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan

suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud

perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relatif permanen

atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya.

Menurut Slameto, mengemukakan belajar adalah suatu proses

usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan

tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai prestasi pengalaman

individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Selain itu,

12
Djamarah mengemukakan Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga

untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai prestasi dari

pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang

menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor (Jufri, 2015, p. 24).

Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah

sebagai berikut (Purwaningsih, 2018, p. 64):

a. Perubahan terjadi secara sadar

Ini berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya

perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi

adanya suatu perubahan dalam dirinya.

b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang

berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan

yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan

berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya.

c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa

bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik

dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar itu

dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh.

Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak

terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri.

13
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara

Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan

bersifat menetap.

e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

Ini berarti perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang

akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah

laku yang benar-benar disadari.

f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses

belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seorang

belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan

tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan,

pengetahuan, dan sebagainya (Purwaningsih, 2018).

Dari definisi belajar yang telah dijelaskan di atas maka dapat

diambil kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah

laku yang terjadi pada individu yang didapat dari aktivitas yang

dilakukannya, dimana perubahan tingkah laku tersebut terjadi secara

sadar, bersifat kontinu dan fungsional, positif dan aktif, bersifat

permanen, bertujuan dan terarah, serta perubahan tersebut mencakup

seluruh aspek tingkah laku.

14
2. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar tidak mungkin terlepas dari dunia pendidikan dan erat

kaitanya dalam bagian terpenting yakni pembelajaran. Untuk mengetahui

berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu

evaluasi, tujuannya untuk mengetahui hasil yang diperoleh peserta didik

setelah proses belajar mengajar berlangsung berikut beberapa definisi

hasil belajar menurut para ahli sebagai berikut:

Sudjana mendefinisikan, hasil belajar peserta didik pada hakikatnya

adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian

yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.

(Hasibuan, Hasil Belajar Siswa Pada Materi Bentuk Al-Jabar, 2015, p. 6).

Menurut Syaiful Bahri Djamarah hasil belajar adalah kesan-kesan

yang dihasilkan dari aktivitas belajar menyebabkan perubahan dalam diri

seseorang yang hasilnya diubah dalam bentuk angka atau nilai.

Menurut Purwanto, hasil belajar adalah perubahan perilaku yang

dialami peserta didik sebagai hasil dari penguasaan mereka terhadap

sejumlah materi yang diberikan selama proses pembelajaran. Purwanto

juga menyatakan bahwa perubahan yang dialami dalam aspek kognitif,

afektif, dan psikomotorik. (Octheria Friskilia S, 2018).

Menurut Hamalik, hasil belajar adalah perubahan tingkah laku pada

seseorang yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk pengetahuan,

sikap, serta keterampilan yang dikenal sebagai hasil belajar. Perubahan

15
ini dapat digambarkan sebagai peningkatan dan perkembangan yang

lebih baik dari sebelumnya ketika yang tadinya tidak tahu menjadi tahu.

Menurut Bloom, hasil belajar adalah hasil dari proses belajar

menggunakan alat pengukuran, yaitu tes yang direncanakan, baik tes tulis

maupun tes perbuatan. Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar di

sekolah diukur dengan skor yang diperoleh dari hasil tes untuk mata

pembelajaran tertentu. (Octheria Friskilia S, 2018, p. 38).

Dari berbagai definisi hasil belajar yang telah dikemukakan oleh

para ahli diatas, maka dapat disimpulkan pengertian hasil belajar

merupakan hasil akhir dari proses pembelajaran yang dinyatakan dalam

bentuk angka atau huruf yang menggambarkan perubahan tingkah laku

atau kemampuan yang menjadi tolak ukur dalam menentukan

keberhasilan peserta didik memahami suatu pelajaran, dimana hasil

belajar menyangkut ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

3. Fungsi Hasil Belajar

Hasil belajar dapat digunakan untuk menentukan langkah atau

upaya apa yang harus dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, orang

tua, peserta didik, dan pemerintah untuk meningkatkan proses dan hasil

belajar. Hasil belajar juga dapat digunakan untuk mengetahui

kemampuan dan perkembangan peserta didik serta tingkat keberhasilan

pendidikan di satuan pendidikan tertentu. Tujuan pembelajaran

sebenarnya adalah perubahan tingkah laku peserta didik. Oleh karena itu,

penilaian harus memeriksa sejauh mana perubahan tingkah laku siswa

16
telah terjadi selama proses belajar. Jika tujuan pembelajaran tidak

tercapai, tindakan dapat diambil untuk memperbaiki proses pembelajaran

dan peserta didik yang bersangkutan. Misalnya, dengan melakukan

perubahan pada strategi mengajar, memberikan bimbingan dan bantuan

belajar kepada siswa, dan menentukan apakah tingkah laku siswa telah

berubah atau tidak. Dengan kata lain, hasil belajar berfungsi sebagai

umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran. (Nizam, Pedoman

Teknis Penilaian Hasil Belajar, 2016, p. 20).

Menurut Surya Dharma, Sejalan dengan pengertian diatas maka

hasil belajar berfungsi sebagai berikut :

a). Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Dengan

fungsi ini maka penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan

tujuan pembelajaran sebagai penjabaran dari kompetensi mata

pelajaran.

b). Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan

mungkin dilakukan dalam hal tujuan pembelajaran, kegiatan atau

pengalaman belajar peserta didik, strategi pembelajaran yang

digunakan guru, media pembelajaran, dll.

c). Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar peserta didik

kepada para orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan

kemampuan dan kecakapan peserta didik dalam berbagai bidang

studi atau mata pelajaran dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang

dicapainya.

17
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Pendidikan bagi setiap orang sangat penting. Dalam proses

pendidikan tentunya yang diharapkan memperoleh hasil yang baik. Hasil

belajar yang baik dapat diperoleh melalui belajar dengan sungguh-

sungguh. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar peserta

didik secara umum dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri individual,

sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang muncul dari luar diri

individual atau lingkungan sekitar. Berikut menurut Slameto, mengenai

beberapa faktor internal dan eksternal.

Ada dua faktor mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam

belajar yaitu (Widyarini, 2015, p. 25):

a. Faktor Internal (dari dalam diri peserta didik) sebagai berikut:

1) Faktor Jasmaniah (meliputi: kondisi fisik, dan cacat tubuh).

2) Faktor Psikologis (meliputi: intelegensi, perhatian, minat, bakat,

motif, kematangan, kesiapan, dan keaktifan siswa dalam

bermasyarakat).

18
b. Faktor Eksternal (dari luar diri peserta didik) sebagai berikut:

1) Lingkungan Keluarga (meliputi: orang tua, relasi antara anggota

keluarga, suasana rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga,

pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan).

2) Lingkungan Sekolah (meliputi: metode mengajar guru,

kurikulum, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar

pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan

tugas rumah).

3) Lingkungan Masyarakat (meliputi: kegiatan siswa dalam

masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan

masyarakat).

Berdasarkan penelitian ini, hasil belajar dalam metode tilawati Tegal

dikategorikan dalam 3 materi :

1. Tajwid

Tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari

tiap-tiap bacaan ayat Al-Qur’an (Yuan, 2021, p. 4). Untuk pembelajaran

tajwid dipelajari dari mulai jilid 3 hingga jilid 6, jilid 3 & 4 (membahas

tentang dasar mengenal nun sukun & mim sukun serta pengenal

lainnya), jilid 5 & 6 (mengenal lebih dalam mim sukun & nun sukun

serta pengenal lainya)

2. Hafalan Doa-Doa

Hafalan doa-doa ialah suatu kegiatan menghafal doa atau berusaha

meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat doa yang diucapkan

19
(Dainuri, 2017, p. 160). Untuk hafalan doa-doa dalam kitab tilawati

sebagaimana menyesuaikan dengan bacaan jilid 1-6.

3. Bacaan Jilid

Bacaan jilid ialah suatu kegitan membaca yang berada dalam kitab

tilawati tersebut, yang dimulai dari jilid 1-6.

Masing-masing jilid 1-6 dikelompokan dengan tingkatan kelas 1,2

& 3 sebagai berikut (Wawancara bersama ustadz Ali Muhsin):

1) Kelas 1

 Jilid 1, menghafal doa sebelum dan sesudah bangun tidur, doa

masuk dan keluar WC/KM, doa untuk bapak dan ibu, doa untuk

orang mukmin, dan materi hafalannya dari Surah An-Nas-Al-

Lahab.

 Jilid 2, selain membaca jilid yaitu hafalan doa untuk bapak ibu

guru, doa keselamatan dunia dan akhirat, doa ketika sujud sahwi,

doa waktu pagi dan sore hari, untuk hafalan juz 30 dari Surah An-

Nashr sampai dengan Al-Fiil.

2) Kelas 2

 Jilid 3, menghafal doa sebelum dan sesudah makan atau minum,

doa memakai dan melepas pakaian, doa bercermin, doa ketika

akan keluar rumah, doa naik kendaraan dan untuk hafalan juz 30

dari surah Al-Humazah sampai dengan surah Al-Bayyinah.

 Jilid 4, menghafal doa masuk dan keluar masjid, doa ketika

bersin, doa ketika ditimpa musibah, doa mendengar petir, doa

20
ketika hujan turun, untuk target hafalan surahnya dari Surah Al-

Qadr sampai dengan Surah At-Tin.

3) Kelas 3

 Jilid 5, menghafal doa ketika hujan lebat, doa berbuka puasa, niat

dan doa siwakan, untuk target hafalan surahnya dari Surah At-Tin

sampai dengan Surah Al-Lail.

 Jilid 6, doa aman dari mati kafir, doa sebelum dan sesudah

belajar, untuk target hafalan Surat Al-Lail sampai dengan surat

Al-Balad Dan setelah selesai lanjut kemateri gharib.

B. Metode Tilawati Tegal

1. Pengertian Metode Tilawati Tegal

Metode secara harfiyah menggambarkan jalan atau suatu cara yang

akan dicapai. Metode tilawati dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an

yaitu suatu metode atau cara belajar membaca Al-Qur’an dengan ciri

khas menggunakan lagu rost dan penggunaan pembiasaan secara klasikal

dan membaca secara individual dengan teknik baca simak.

Menurut Ali Muaffa, metode tilawati merupakan suatu metode

belajar membaca Al-Quran yang menggunakan strategi pembelajaran

dengan pendekatan seimbang antara pembisaan melalui sistem klasikal

dan individual yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan dalam

pembelajaran membaca Al-Qur’an (Hermawan, 2021, p. 173).

21
Metode Tilawati adalah metode belajar dan mengajar Al-Qur’an

secara klasikal dan individual, yang tersusun dari satu atau dua kalimah

Al-Qur’an, yang terdapat ayat-ayat pendek dan panjang dengan irama

yang khas, sehingga mudah dibaca dan diajarkan. Metode tilawati ini

sebuah metode pengajaran yang disusun oleh Al-Magfurlah Ust. Imron

Ahmadi beliau adalah seorang ulama Quro dari Tegal, Jawa Tengah.

Kemudian kitab tilawati tersebut diajarkan dalam sebuah lembaga

pendidikan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) Al-Barokah di

Bojongjati Kabupaten Pangandaran lalu dinamakan “Metode Tilawati

Tegal”. Metode tilawati ini tersusun lima jilid, dilengkapi dengan CD

pembelajaran yang dapat dipelajari dengan media computer, serta dapat

diakses melalui internet. Dalam proses pembelajarannya dimulai dari jilid

ke jilid dengan perpaduan dua thoriqoh dan musyafahah yang sesuai

pengajaran Nabi Muhammad Saw (Hasan, 2015, p. 2).

2. Penggunaan Metode Tilawati

Ada 2 (dua) metode dalam pembelajaran kitab tilawati Tegal (Hasan,

2015):

a. Metode Klasikal: Guru membacakan/menjelaskan pokok pelajaran

pada seluruh santri secara bersama-sama.

b. Metode Individual: Penilaian kemampuan santri secara

perorangan/sorogan.

22
3. Fungsi Metode Tilawati Tegal

Adapun fungsi dari metode tilawati Tegal antara lain (Hasan, 2015,

p. 5):

a). Al-Hifdzu: Untuk menjaga eksistensi dan kesucian Al-Qur’an dari

aspek bacaan yang memenuhi standar qiro’ah mutawatiroh, dan

sesuai kaidah ilmu tajwid.

b). An-Nasyru: Untuk menyebar luaskan ilmu qiro’atil qur’an, agar

tidak terjadi keracunan bacaan dan asumsi yang salah namun kaprah.

c). At-Tadrij: Untuk meningkatkan kualitas pendidik Al-Qur’an.

d). At-Tabsyir: Untuk memberi kabar gembira kepada para guru yang

mengajarkan Al-Qur’an sebagai manusia terbaik disisi Allah Swt.

dan Rasulnya.

e). Al-Indzar: Untuk memberi peringatan kepada para guru yang

mengajarkan Al-Qur’an.

4. Proses Pembelajaran Metode Tilawati Tegal

Proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang

dilaksanakan oleh guru dan peserta didik dalam kegiatan pengajaran

dengan menggunakan sarana dan fasilitas pendidikan sehingga tercapai

tujuan yang telah ditetapkan dalam lembaga pendidikan (Widoyoko,

2015, p. 26).

Tata cara pelaksanaan dalam sistem mengajarnya dimulai dari

tingkatan yang sederhana tahap demi tahap sampai pada tingkat

sempurna. Metode tilawati merupakan metode membaca Al-Qur’an yang

23
langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan

kaidah ilmu tajwid. Sistem pendidikan dan pengajaran metode tilawati

dilakukan secara klasikal (Sadzili, 2018, p. 4).

Adapun isi dari masing-masing jilid yaitu (Hasan, 2015, pp. 6-7):

1) Jilid 1

a. Huruf hijaiyah berharokat fathah tidak sambung.

b. Huruf hijaiyah berharokat fathah sambung.

c. Huruf hijaiyah asli.

d. Angka Arab

2) Jilid 2

a. Kalimat berharokat fathah, kasroh dan dhommah.

b. Kalimat berharokat fathatain, kasrotain dan dhommatain.

c. Bentuk-bentuk ta’.

d. Kalimat/bacaan panjang satu alif.

e. Fathah panjang, kasroh panjang dan dhommah panjang.

f. Dhommah diikuti wawu sukun ada alifnya atau tidak ada alifnya

dan tetap dibaca sama panjangnya.

3) Jilid 3

a. Huruf lam sukun.

b. Lam sukun didahului alif dan huruf yang berharokat.

c. Mim sukun.

d. Sin-syin sukun.

e. Ro’ sukun.

24
f. Hamzah - ta’- ain sukun.

g. Fathah diikuti wawu sukun.

h. Fathah diikuti ya’ sukun.

i. Fa’ – dhal - dho’ sukun.

j. Tsa’ - kha - kho’ sukun.

k. Ghoin - za’ - shod - kaf – ha’ - dhod sukun.

4) Jilid 4

a. Huruf-huruf bertasydid.

b. Mad wajib dan mad jaiz.

c. Bacaan nun dan mim tasydid.

d. Cara mewaqafkan.

e. Lafdhul jalalah.

f. Alif lam syamsiah.

g. Bacaan ikhfa hakiki.

h. Huruf muqottho’ah.

i. Wawu yang tidak ada sukunnya.

j. Idghom bighunnah.

5) Jilid 5

a. Nun sukun atau tanwin bertemu ya’ atau wawu/idghom

bighunnah.

b. Huruf sukun dibaca memantul/qalqalah.

c. Nun sukun atau tanwin bertemu ba/iqlab.

d. Mim sukun bertemu mim atau ba/idghom mimi, ikhfa’ safawi.

25
e. Nun sukun atau tanwin bertemu lam, ro’/idghom bilaghunnah.

f. Lam sukun bertemu ro’.

g. Nun sukun atau tanwin bertemu huruf halqi/idzhar halqi.

h. Huruf muqhotto’ah.

i. Mad lazim mutsaqqol kalimi dan mad lazim mukhoffaf harfi.

j. Tanda-tanda waqof/rumus-rumus waqof.

6) Jilid 6

a. Surat-surat pendek, mulai surat ke 93 (Ad-Duha) sampai dengan

surat terakhir 114 (An-Nas), sesuai kurikulum TPQ.

b. Ayat-ayat pilihan, sesuai kurikulum TPQ.

c. Musykilat dan ghorib (bacaan-bacaan asing yang tidak cocok

dengan tulisannya.

5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Tilawati Tegal

1) Kelebihan Metode Tilawati

a. Adanya alat-alat penunjang pembelajaran Al-Qur’an metode

tilawati dilengkapi dengan beberapa media pembelajaran yang

efisien dan efektif.

b. Dilengkapi dengan lantunan lagu rost dari jilid 1-6 dan

menggunakan lagu nahawan untuk pengembangan.

c. Media pembelajaran berupa peraga tilawati mulai jilid 1-6.

d. Dilengkapi dengan kaset pembelajaran jilid 1-6.

26
e. Menerapkan strategi belajar klasikal-individual secara seimbang

dan proposional, sehingga KBM lebih efisien, dan pengelolaan

santri menjadi lebih baik (Sadzili, 2018, p. 5).

2) Kekurangan Metode Tilawati

a. Bagi guru yang akan menggunakan metode ini harus mengikuti

pelatihan dan membaca tartil.

b. Dengan pendekatan irama lagu rost yang digunakan dalam

metode ini, dikhawatirkan tidak terjaga secara intensif.

c. Pada huruf-huruf yang pelafalannya agak sulit tidak boleh

menggunakan pendekatan, jadi sejak awal siswa harus bisa

melafalkan huruf dengan baik, benar dan fasih.

d. Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca Al-Qur’an,

karena harus dengan tilawah sekaligus (Sadzili, 2018, pp. 5-6).

6. Pendekatan Pembelajaran Metode Tilawati Tegal

Pendekatan pembelajaran adalah pengelolaan kelas secara klasikal

maupun individual.

1) Pendekatan klasikal

Pendekatan klasikal adalah proses belajar mengajar yang dilakukan

dengan cara bersama-sama atau berkelompok dengan menggunakan

peraga.

27
a. Manfaat klasikal

Ada beberapa manfaat dalam penerapan klasikal menggunakan

peraga ini (Hasan, 2015, p. 16):

a) Pembiasaan bacaan.

b) Membantu siswa melancarkan buku.

c) Memudahkan penguasaan lagu rost.

d) Melancarkan halaman-halaman awal ketika siswa sudah

halaman akhir.

b. Teknik klasikal

Teknik klasikal dalam metode ada tiga yaitu (Hasan, 2015, p.

17):

a) Teknik 1 : Guru (Membaca) Santri (Mendengarkan)

b) Teknik 2 : Guru (Membaca) Santri (Menirukan)

c) Teknik 3 : Guru & Santri (Membaca bersama-sama)

Tiga teknik diatas tidak digunakan semua pada praktik klasikal,

namun disesuaikan dengan jadwal atau perkembangan

kemampuan peserta didik.

2) Pendekatan individual

Pendekatan individual adalah proses belajar mengajar yang

dilakukan dengan cara membaca bergiliran yang satu membaca dan

yang satu menyimak.

28
a. Manfaat individual

Ada beberapa manfaat dalam penerapan individual

menggunakan buku tilawati ini yaitu (Hasan, 2015, pp. 17-18):

a) Siswa tertib dan tidak ramai.

b) Pembagian waktu setiap peserta didik adil.

c) Mendengarkan sama dengan membaca dalam hati.

d) Mendapat rahmat.

b. Teknik individual

Alokasi waktu pembelajaran dalam teknik individual

menggunakan metode tilawati adalah 30 menit dalam setiap

pertemuan dengan tahapan sebagai berikut (Hasan, 2015, pp. 19-

20):

a) Guru menjelaskan pokok bahasan pada halaman buku yang

akan dibaca.

b) Sebelum baca simak, diawali dengan membaca secara

klasikal halaman buku yang akan diajarkan pada pertemuan

tersebut. Sedangkan teknik yang digunakan disamakan

dengan teknik klasikal pada saat itu.

c) Peserta didik membaca tiap baris bergiliran sampai masing-

masing sisa membaca 1 halaman penuh dalam bukunya.

d) Ketentuan kenaikan halaman, dilakukan secara bersama-

sama dalam satu kelas dengan ketentuan halaman diulang

29
apabila peserta didik yang lancar kurang dari 70 persen dari

jumlah peserta didik yang aktif dan halaman dinaikkan

apabila peserta didik yang lancar minimal 70 persen dari

jumlah peserta didik yang aktif.

30
C. Kajian Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan adalah penelitian yang memiliki kaitan dengan

penelitian yang akan dibahas dengan penelitian ini. Penelitian yang relevan

adalah kajian terhadap buku dan jurnal ilmiah yang dianggap memiliki

hubungan dengan penelitian ini yang bertujuan untuk menghindari kesamaan

dengan penelitian penelitian terdahulu. Buku dan jurnal ilmiah yang memiliki

hubungan dengan penelitian kita antara lain:

1. PENGARUH PENGGUNAAN METODE TILAWATI TERHADAP

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN (2020).

Yang disusun oleh Khoirul Fariandi. Penelitian ini mengkaji "Pengaruh

Penggunaan Metode Tilawati Terhadap Peningkatan Kemampuan

Membaca Al-Qur’an". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

menentukan peran guru TPA di Taman Pendidikan Al-Qur’an Khoirul

Huda di Kecamatan Metro Timur dalam meningkatkan kemampuan

membaca Al-Qur’an. Penelitian ini bersifat kuantitatif dan bersifat

kualitatif karena bertujuan untuk menentukan "Pengaruh Penggunaan

Metode Tilawati Terhadap Peningkatan Kemampuan Membaca Al-

Qur'an di TPA Khoirul Huda Kecamatan Metro Timur." Guru TPA,

orang tua, dan santri adalah sumber data penelitian ini. Test membaca Al-

Qur'an adalah metode pengumpulan data yang digunakan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode tilawati

meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di TPA Khoirul Huda di

Kecamatan Metro Timur. Penelitian menemukan bahwa pengajaran

31
dengan metode Tilawati menggunakan pendekatan klasikal, yang berarti

bahwa guru membaca kepada muridnya, mereka mendengarkannya,

mereka menirukannya, mereka membaca bersama-sama, dan mereka

menggunakan teknik membaca simak. Selain itu, peran guru lain

didukung, sehingga kemampuan membaca santri sebelumnya menjadi

lebih baik. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama menggunakan

metode tilawati pada pengajaran. Sedangkan perbedaanya adalah pada

tempat lokasi dan nama dari metode tilawati Tegalnya.

2. PENGARUH PENERAPAN METODE TILAWATI TERHADAP

KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN (2018). Yang disusun oleh

Noviatun Ariska. Dalam penelitian ini membahas tentang “Pengaruh

Penerapan Metode Tilawati Terhadap Kemampuan Membaca Al-

Qur’an”. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi dan

sampel data dalam penelitian ini adalah 41 orang siswa. Teknik

pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes,

dokumentasi dan observasi. Instrumen penelitian adalah observasi dan

tes. Teknik pengolahan data pada yang digunakan dalam penelitian ini

adalah editing, coding, dan tabulating. Teknik analisi data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah data statistik sederhana yang

berupa analisis regresi. Hasil dari penelitian ini adalah 1) Penerapan

metode tilawati di kelas III di MIN 2 Kotawaringin Barat selalu

dilakukan oleh guru terbukti dengan skor rata-rata 2,66% 2) Kemampuan

membaca Al-Qur’an siswa kelas III di MIN 2 Kotawaringin Barat sangat

32
baik dapat diketahui dengan rata-rata nilai 94,26% 3) Terdapat pengaruh

yang signifikan penerapan metode tilawati terhadap kemampuan

membaca Al-Qur’an siswa kelas III di MIN 2 Kotawaringin Barat.

Terbukti dengan adanya Fhitung sebesar 8,04 lebih besar dari Ftabel pada

taraf signifikan 0,05 sebesar 4,09. Dengan demikian Ha diterima dan H0

ditolak. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama menjadikan

metode tilawati sebagai acuan untuk mempelajari cara membaca Al-

Qur’an. Sedangkan perbedaannya adalah pada tempatnya yaitu disekolah

MI merupakan lembaga pendidikan formal dan nama dari metode tilawati

Tegalnya.

3. IMPLEMENTASI METODE TILAWATI DALAM MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR BACA AL-QUR’AN SANTRI (2015), yang disusun

oleh Abdul Waris Albar. Dalam penelitian ini membahas tentang

“Implementasi Metode Tilawati Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Baca

Al-Qur’an Santri Ra. Al-Mujtama’ Plakpak Pegantenan Pamekasan”.

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang mengumpulkan data

primer melalui wawancara dengan kepala madrasah, guru madrasah dan

pembina Al-Qur'an Yayasan Al-Mujtama. Data sekunder dari literatur

dan dokumen dianalisis secara kualitatif, dalam bentuk deskriptif. Hasil

penelitian bahwa hasil belajar membaca Al-Qur'an siswa cukup baik

dengan menggunakan metode tilawati. Fungsi metode tilawati sebagai

cara atau jalan yang ditempuh guru untuk mengajar membaca Al-Qur'an

dengan teknik klasikal dan baca simak. Alhasil, mereka bisa membaca

33
Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Faktor tersebut

didukung kualitas guru, kecerdasan siswa, fasilitas. Faktor penghambat

kondisi sosial siswa yaitu perbedaan metode di rumah dan di sekolah.

Persamaan penelitian ini adalah sama-sama mengembangkan metode

tilawati sebagai acuan belajar membaca Al-Qur’an. Sedangkan

Perbedaannya adalah pada tempatnya di sekolah RA, yang merupakan

lembaga pendidikan formal dan nama dari metode tilawati Tegalnya.

4. EFEKTIVITAS METODE TILAWATI SEBAGAI PEMBELAJARAN

MEMBACA AL-QURAN PADA ANAK DISLEKSIA (2018), yang

disusun oleh Nidar Yusuf. Dalam penelitian ini membahas tentang

“Efektivitas Metode Tilawati Sebagai Pembelajaran Membaca Al-Quran

Pada Anak Disleksia, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kualitatif deskriftif dengan teknik pengumpulan deta menggunakan

observasi, wawancara, serta dokumentasi. Dengan fokus masalah yaitu

fashohah, tajwid, dan bacaan yang lancar tanpa jeda yang dilakukan di

TPQ Masjid Raya Bintaro Jaya dengan subyek satu anak disleksia yang

saat ini sudah memasuki tilawati. Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa metode tilawati efektif untuk anak disleksia. Ini dikarenakan

pendekatan yang digunakan oleh metode tilawati yaitu klasikal dan baca

simak. Hasil dari metode tilawati akan sama antara anak normal dengan

anak disleksia akan tetapi untuk anak disleksia membutuhkan waktu yang

lebih lama dibangdingkan dengan anak normal. Persamaan penelitian ini

adalah sama-sama meneliti tentang metode tilawati. Sedangkan

34
perbedaannya adalah pada anaknya yang menderita disleksia, yaitu

kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan belajar yang

menyebabkan masalah pada proses menulis, berbicara dan membaca dan

nama dari metode tilawati Tegalnya.

35
D. Kerangka Pikir

Penelitian ini membahas tentang pengaruh penggunaan metode tilawati

Tegal terhadap hasil belajar santri kelas III di TPQ Al-Barokah Bojongjati-

Pangandaran. Maka kerangka berfikir sebagai berikut:

Kerangka Berfikir

Penggunaan Metode Hasil Belajar


Tilawati Tegal Santri
(X) (Y)

Gambar 2. 1 Pengaruh Penggunaan Metode Tilawati Tegal Terhadap Hasil Belajar


Santri Kelas III di TPQ Al-Barokah Bojongjati-Pangandaran

36
E. Hipotesis Penelitian

Hipotesis Penelitian adalah pernyataan yang sifatnya sementara.

Jawaban sementara dapat diterima jika kebenaran dapat dibuktikan dengan

fakta, dan sebaliknya jawaban sementara dapat ditolak jika dianggap palsu.

Penerimaan dan penolakan hipotesis tergantung pada hasil yang didapatkan

dalam penelitian (Zulfa, 2019, p. 127). Adapun hipotesis yang dirumuskan

pada penelitian ini adalah

Dari penjelasan diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Hipotesis kerja atau Hipotesis alternatif (Ha) yaitu hipotesis yang

menyatakan ada Pengaruh antara variabel X dan Y (Independent dan

dependent Variabel). Hipotesis kerja (Ha) dalam Penelitian ini adalah

“Adanya Pengaruh Penggunaan Metode Tilawati Tegal Terhadap Hasil

Belajar Santri Kelas III di TPQ Al-Barokah Bojongjati-Pangandaran”.

2. Hipotesis Nol atau Hipotesis Nihil (H0) yaitu hipotesis yang menyatakan

tidak hubungan antara variabel X dan Y (Independent dan dependent

Variabel). Hipotesis nol dalam Penelitian ini adalah “Tidak Ada

Pengaruh Penggunaan Metode Tilawati Tegal Terhadap Hasil Belajar

Santri Kelas III di TPQ Al-Barokah Bojongjati-Pangandaran”.

37

Anda mungkin juga menyukai