0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan24 halaman

Titrasi Oksidasi Reduksi Oksalat KMnO4

Diunggah oleh

Adellia Putri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan24 halaman

Titrasi Oksidasi Reduksi Oksalat KMnO4

Diunggah oleh

Adellia Putri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR SENYAWA ANORGANIK


TITRASI OKSIDASI REDUKSI : PENENTUAN OKSALAT

Kelas : Kimia NK F
Kelompok :2
Anggota : 1. Adelia Putri (23036002)
2. Angelyne Asyrof (23036008)
3. Diny Clarisa Amri (23036138)
4. Habib Arifin (23036019)
Waktu Praktikum : Jum’at, 25 Oktober 2024/ 09.41-12.20
Dosen : 1. Dra. Syamsi Aini, [Link]. Ph.D
2. Romy Dwipa Y.A, [Link]., [Link]., Ph.D
Asisten : 1. Nadila Safitri, [Link]
2. Mila Lusy Tri Nandi
3. Armayanti Akhiriyah Parinduri

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2024
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Untuk mengenal penentuan anion dalam senyawa kompleks secara
kuantitatif
2. Mengetahui cara titrasi redoks untuk penentuan anion secara kuantitatif
3. Mengetahui kimia redoks

1.2 Teori Dasar


Kalium permanganat bereaksi dengan ion oksalat menghasilkan karbon
dioksida dan air dalam suasana asam dan ion permanganat direduksi menjadi
mangan (II) sebagai berikut :
5 C2O42- (aq) + 2 MnO4- (aq) + 16 H+ (aq) → 10 CO2 (aq) + 8 H2O (g) + 2Mn2- (aq)(1)
Karena reaksi ini berlangsung lambat pada temperatur kamar, diperlukan
penambahan sedikit panas kelarutan untuk mendapatkan kecepatan reaksi yang
cukup. Tidak ada indikator yang diperlukan pada titrasi permanganat, karena titik
akhit titrasi mudah diamati. Ion permanganat berwarna merah pekat, sedangkan ion
mangan (II) hampir tak berwarna. Kelebihan sedikit permanganat memberikan
warna pink pada larutan yang menandakan bahwa semua oksalat telah habis
terpakai.
Setengah reaksi yang telah setara terkait persamaan (1) adalah :
Oksidasi : 5 C2O42- (aq) → CO2 (g) + 2 e- (2)
Reduksi : 2 MnO4- (aq) + 8 H+(aq) + 2 e- → Mn2+(aq) + 8 H2O(l) (3)
Dalam eksperimen ini pertama kali anda harus menstandarisasi larutan
permangano KMnO4 yaitu anda akan menentukan molaritas melalui titrasi dengan
satu sampel natrium oksalat yang murni, Na2C2O4, kemudian anda akan
menggunakan KMnO4 yang telah distandarisasi untuk menentukan presentase ion
oksalat, C2O42-, dalam sampel yang tidak diketahui atau dalam kompleks yang anda
preparasi pada percobaan 1 dan 2. Dasar untuk penentuan oksalat dengan
permanganat adalah bahwa kedua reagen ini bereaksi dengan perbandingan molar
permanganat : oksalat = 5:2 (Tim Kimia Anorganik).
Titrasi oksidasi (redoks) merupakan salah satu jenis titrasi dimana titrasi
berlangsung secara suatu oksidator pada buret sebagai penitrasi dan reduksi pada
erlenmeyer atau sebaliknya. Pada reaksi oksidasi reduksi terjadi aliran dari suatu
reaksi reduktor (Adam,2020).
Berdasarkan sifatnya titrasi redoks dibagi atas :
1. Oksidimetri yaitu metode redoks dengan larutan baku yang bersifat sebagai
oksidator, berdasarkan jenisnya oksidimetri dibagi menjadi 4 jenis yaitu :
a. Permanganometri larutan baku yang digunakan KmnO4 dalam suasana
asam dan mengalami reaksi reduksi
MnO4- + 8 H+ + 5 e- → Mn2+ + 4 H2O
b. Dikbirometri larutan baku yang digunakan K2Cr2O4 sepanjang titrasi
dalam suasana asam yang mengalami reaksi reduksi
Cr2O7 + 14 H+ + 6 e- → 2 Cr2+ + 7 H2O
c. Sirimetri larutan bakunya Ce (SO4)2 reaksi reduksi yang terjadi
d. Iodometri I2 dimana titrasi mengalami reduksi
I2 + 2 e- → 2 I-
2. Redustrimetri yaitu metode titrasi redoks dengan larutan baku yang bersifat
sebagai reduksi salah satu metode yang dikenal adalah iodometri. Pada
iodometri larutan bakunya natrium tiosulfat yang pada titrasinya mengalami
oksidasi
2 S2O32- → S4O62- + 2 e- (Padmanigrum,2019).
Reaksi redoks adalah reaksi reduksi oksidasi yang terjadi secara spontan,
pada awal titrasi didasarkan yang melibatkan penggabungan atau peningkatan
oksigen dan reduksi yang melepas oksigen, namun terdapat adanya serah terima
elektron, yang menyebabkan reaksi dari oksidasi selalu terjadi bersama-sama
sehingga disebut dengan reaksi reduksi-oksidasi (Purnawati,2022).
Proses oksidasi dan reduksi pada dasarnya terjadi secara bersamaan dalam
suatu reaksi, dengan demikian jika ada senyawa mengalami reaksi oksidasi-reduksi,
satu senyawa akan mengalami reaksi oksidasi disatu sisi. Sedangkan satu senyawa
lainya akan mengalami reduksi. Dalam metode ini analisis yang melibatkan
reduksi-oksidasi terjadi perubahan analit-titran, sehingga pengetahuaan tentang
valensi dalam reaksi redoks akan sangat membantu dalam menentukan berat
ekuivalen (BE) analit. Suatu senyawa mengalami oksidasi jika terjadi penambahan
biloks, penambahan hidrogen, terjadi penambahan oksigen. Titrasi redoks
berdasarkan pada perpindahan elektron antara titran dengan analit. KMnO4 dapat
mengalami oksidasi, sehingga valensinya bermacam-macam dan (BE) juga
berbeda sebagai berikut :
MnO4- + 1 e- → MnO42- Valensi = 1
MnO4- + 4 H+ + 3 e- → MnO2 + H2O Valensi = 3 (Rohman,2021).
Metode titrasi ini merupakan pengukuran volume suatu larutan yang
diketahui konsentrasinya dengan pasti, yang diperlukan untuk bereaksi sempurna
dengan salah satu volume tepat pada zat yang akan ditentukan. Larutan yang
datanya diketahui dengan pasti dinamakan larutan baku atau larutan standar.
Selanjutnya titrasi redoks juga merupakan titrasi menggunakan perubahan potensial
sel untuk mengetahui kandungan suatu zat, sama seperti asam-basa titrasi redoks
juga memiliki kurva titrasi redoks hanya menggunakan perubahan indikator saja
sehingga tidak perlu menggunakan potensiometer untuk menghitung potensial tiap
titrasi (Hakim,2022).
Pada saat standarisasi suhu harus berada pada antara 80oC- 90oC, karena
suhu yang tinggi dapat mempercepat laju reaksi antara KMnO4 dan asam oksalat.
Berikut ini adalah syarat-syarat untuk reaksi permanganometri :
1. Larutanya harus dititrasi dalam keadaan asam
2. Sampel harus dapat dioksidasi
3. Tidak diperlukan indikator tambahan
4. Reagen harus bebas dari zat organik yang dapat merusak KMnO4
(Suyatno,2021).
Dalam penentuan oksalat digunakan titrasi permanganometri. Prinsip
permanganometri didasarkan pada reaksi proses oksidasi dan reduksi. Percobaan
ini menggunakan larutan kalium permanganat (KMnO4) yang telah dilakukan
terlebih dahulu. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang
bertindak sebagai asam lemah netral atau basa lemah. Titrasi harus dilakukan dalam
larutan yang bersifat asam kuat, karena reaksi yang terjadi reversibel. Sedangkan
oksalat dioksida menjadi karbon dioksida(Surya,2021).
BAB II

PROSEDUR KERJA

2.1. Alat dan Bahan

No Alat Kegunaan
1 Gelas piala 400 ml Untuk mencampurkan atau
memanaskan larutan.

2 Buret 50 ml Untuk wadah titran pada


melakukan titrasi
3 Botol timbangan Untuk wadah menimbang sampel
kompleks oksalat dan natrium
oksalat
4 Termometer Untuk suhu dalam larutan

5 Timbangan analitik Untuk menimbang bahan dalam


jumlah kecil untuk memastikan
akurasi secara tepat.
6 Pembakar bunsen Untuk memanaskan larutan

7 Kelm dan statif Untuk menjepit dan menopang


buret
8 Erlenmeyer Untuk tempat titrat saat
melakukan titrasi
No Bahan Kegunaan
1 Natrium oksalat Sebagai larutan standar primer
dalam titrasi
2 Asam sulfat Sebagai media asam dalam
reaksi redoks untuk memastikan
proses berlangsung dengan baik
3 KMnO4 Sebagai pengoksida dalam
titrasi
4 Sampel kompleks Sebagai bahan uji kandungan
oksalat oksalat dalam senyawa
kompleks
2.2. Prosedur kerja

A. Standarisasi larutan kalium permanganat dengan metoda natrium oksalat


1. Natrium oksalat murni ditimbang sebanyak 0,04 dan dimasukkan ke
dalam gelas piala 400 ml.
2. Sebanyak 50 ml larutan asam sulfat 0,1 M ditambahkan kemudian
larutan dipanaskan sambil diaduk hingga suhu mencapai 80°C sampai
90 °C.
3. Larutan kalium permanganat dimasukkan ke dalam buret dan volume
dicatat.
4. Titik akhir dianggap tercapai ketika larutan berwarna merah muda pucat
5. Volume larutan dicatat dan prosedur dilakukan duplo

B. Penentuan oksalat dalam sampel kompleks oksalat


1. Sampel sebanyak 0,04 g dimasukkan ke dalam erlenmeyer 400 ml yang
terpisah.
2. Sebanyak 50 ml larutan asam sulfat 0,1 M ditambahkan ke erlenmeyer
3. Sampel dititrasi menggunakan larutan kalium permanganat yang telah
distandarisasi.
4. Persen berat C₂O₄2- dihitung.
2.3 Skema kerja

A. Standarisasi larutan kalium permanganat dengan metoda Natrium Oksalat

Timbang 0,04 g Natrium oksalat

• Tambahkan 50 ml asam sulfat 0,1 M


• Masukan kalium permanganat
ke buret
• Titrasi larutan oksalat dengan kalium
permanganat
• Titik akhir titrasi warna pink seulas
• Lakukan duplo

Catat volume hasil


B. Penentuan oksalat dalam sampel kompleks oksalat

Timbang 0,4 g Sampel

• Ke dalam Erlenmeyer 400 ml


• Tambahkan 50 ml asam sulfat
0,1 M
• Dilakukan titrasi dengan larutan
Kalium permanganat

Hitung persen berat C2O42-

\
BAB III

DATA DAN PEMBAHASAN

3.1 Data

a. Standarisasi KMnO4
Volume KMnO4 Rata-rata Pengamatan
I II
7,5 ml 7,7 ml 7,6 ml Warna pink seulas

b. Titrasi oksidasi reduksi : penentuan oksalat


No. Zat Volume KMnO4 Rata-rata Pengamatan
I II
1. Cis 0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml Warna pink seulas
2. Trans 0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml Warna pink seulas

3.2 Perhitungan

a. Standarisasi KMnO4
𝐺 0,04 𝑔𝑟𝑎𝑚
[Na2S2O4] = n = 𝑀𝑟 = 134 𝑔/𝑚𝑜𝑙 =0,0002 mol

5C2O42- + 2MnO4 - + 16H+→ 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O

2
n KMnO4 = 5 𝑥 0,0002 = 0, 00008 mol
𝑚𝑜𝑙 0,00008 𝑚𝑜𝑙
Molaritas = = = 0,01 M
𝑉 0,0076𝐿

[KMnO4]
V1 . M1 . e = M2 . V2 . e

7,6 .M1 . 5 = 0,01 . 50 .1


= 0,26 M
b. Penentuan oksalat dalam sampel kompleks oksalat

1. Titrasi sampel cis-

5C2O42- + 2MnO4 - + 16H+→ 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O


M 0,026 mmol
B 0,0104mmol 0,026 mmol - -

S 0,0104mmol - -

𝑛 0,0104mmol
[C2O4] = 𝑣 = = 0,104 mol
0,1

gram = n C2O4 × Mr
= 0,104 mol × 88 g/mol
= 9,152 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐶2𝑂4
% C2O42- sampel = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 ×100%
9,152 𝑔𝑟𝑎𝑚
= × 100%
0,04 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 22,88 %

2. Titrasi sampel trans-

5C2O42- + 2MnO4 - + 16H+→ 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O


M 0,026 mmol
B 0,0104mmol 0,026 mmol - -

S 0,0104mmol - -
𝑛 0,0104mmol
[C2O4] = 𝑣 = = 0,104 mol
0,1

gram = n C2O4 × Mr
= 0,104 mol × 88 g/mol
= 9,152 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐶2𝑂4
% C2O42- sampel = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 ×100%
9,152 𝑔𝑟𝑎𝑚
= × 100%
0,04 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 22,88 %
3.3 Pengamatan

No. Cara kerja dan Reaksi Foto Pengamatan Analisis

A. Standarisasi Larutan Permanganat Dengan Natrium Oksalat


1. Buret di isi dengan larutan Saat memasukkan larutan buret Penutupan buret dengan tissue
KMnO4 dilapisi dengan tissue karena kalium permanganat
bersifat reduktor.

2. 0,04 gram Na2C2O4 Warna larutan bening dan Penambahan asam sulfat
dilarutkan dengan 250 mL terbentuknya uap gas. bertujuan untuk memberikan
Asam sulfat 0,1 M suasana asam agar titik akhir
titrasi mudah teramati

3. Panaskan larutan sampai Saat pemanasan terbentuknya uap Pemanasan bertujuan untuk
Na2C2O4 larut dan suhu gas. mempercepat terjadinya reaksi
antara 80-90°c atau mempercepat terlarutnya
natrium oksalat.
4. Titrasi larutan oksalat Titrasi dilakukan saat keadaan Titrasi dilakukan saat keadaan
dengan KMnO4 masih panas dan sampai bewarna panas untuk mempercepat laju
pink seulas. reaksi antara asam oksalat
dengan kaium permanganat.

5. Melakukan titrasi duplo dan Volume KMnO4 terpakai Titrasi duplo dilakukan untuk
menentukan konsentrasi 1. 7,5 ml mendapatkan hasil yang lebih
kalium permanganat 2. 7,7 ml akurat.
Volume rata-rata = 7,6 ml
B. Penentuan oksalat dalam sampel kompleks oksalat

1. Timbang 0,4 gr sampel - Menimbang dengan timbangan


kompleks oksalat cis dan analitik agar massa zat atau
trans dan dimasukkan sampel lebih akurat karena tingkat
kedalam erlemeyer ketelitian analitik yang tinggi.

2. Menambahkan H2SO4 0,1 Sampel terlarut dalam asam sulfat Penambahan asam sulfat
M 50 mL bertujuan untuk menyediakan
suasana asam agar titik akhir
titrasi mudah teramati.

3. Titrasi sampel dengan Titrasi dihentikan setelah warna Titrasi permanganometri


kalium permanganat dan larutan pink seulas. melibatkan reaksi redoks, di mana
lakukan duplo KMnO₄ mengalami reduksi
menjadi ion mangan (Mn²⁺) yang
tidak berwarna atau warna
ungunya menjadi pudar dalam
suasana asam.
4. Mencatat volume KMnO₄ Volume KMnO₄ terpakai: Titrasi dilakukan duplo untuk
yang terpakai Cis meminimalkan kesalahan dan
1. 0,1 ml untuk lebih akurat.
2. 0,1 ml
Trans
1. 0,1 ml
2. 0,1 ml
3.4 Pembahasan

Struktur cis dan trans dari kompleks oksalat mempengaruhi kestabilan


koordinasi ion oksalat, tetapi dalam lingkungan asam yang panas, kedua isomer
tersebut menghasilkan jumlah ion oksalat bebas yang sama, sehingga volume
KMnO yang dibutuhkan untuk oksidasi tetap sama.

Pada percobaan ini didapatkan kadar oksalat dalam sampel cis- dan trans-
sama yaitu 22,88 %. Hal ini sesuai secara teoritis isomer cis dan trans dari oksalat
kalium dikromat tidak akan memberikan perbedaan yang signifikan dalam titrasi
dengan KMnO₄. Hal ini karena reaksi oksidasi yang terjadi hanya melibatkan ion
oksalat (C₂O₄²⁻) sebagai spesies yang bereaksi. Kompleks cis dan trans memiliki
perbedaan stereokimia, tetapi dalam analisis ini, keduanya memberikan hasil yang
sama karena reaksi redoks melibatkan ion oksalat bebas yang dilepaskan dari
kompleks. Isomer cis yang lebih reaktif cenderung melepaskan ion oksalat lebih
cepat, sedangkan isomer trans membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai
kondisi yang sama. Namun, setelah proses reaksi selesai, total ion oksalat yang
terlibat dalam kedua isomer adalah identik, sehingga volume KMnO, yang
dibutuhkan sama. Perbedaan sifat kinetik antara kedua isomer tidak mempengaruhi
hasil akhir, karena analisis ini berfokus pada jumlah ion oksalat, bukan pada laju
reaksi.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Untuk menentukan anion oksalat,dapat dilakukan dengan titrasi
menggunakan kalium permanganat, dimana sebelumnya kristal cis dan trans
dikompleks dengan oksalat

2. Titrasi redoks memberikan hasil yang akurat dalam penentuan konsentrasi


anion karena sifat reaksi yang spesifik dan mudah dikontrol.

3. Pemahaman mengenai kimia redoks, termasuk konsep oksidasi, reduksi, dan


bilangan oksidasi, sangat penting untuk menjalankan proses titrasi redoks
secara efektif dan memperoleh data yang valid.

4.2 Saran
1. Seharusnya menggunakan buret coklat karena titran yang digunakan adalah
KMnO4 yang tidak boleh terkena cahaya matahari langsung karena jika
terkena matahari langsung akan mengalami dekomposisi.
TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM
1. Jika 0,5468 g natrium oksalat, Na2C2O4 memerlukan 35,43 ml larutan
KMnO4 untuk mencapai titik akhir titrasi, berapa molaritas larutan
KMnO4?
Jawab :
2 MnO4 + 5 C2O42- + 16 H+ → 2 Mn2+ + 10 CO2 + 8 H2O
Massa molar Na2C2O4 = 134 g /mol
0,5468 𝑔
n Na2C2O4 = = 0,00408 mol
134 𝑔/𝑚𝑜𝑙
2 2
n KMnO4 = 5
𝑥 n Na2C2O4 = 5
𝑥 0,00408 mol = 0,01632 mol

Molaritas KMnO4
0,00632 𝑚𝑜𝑙
n KMnO4 = = 0,40605 mol /L
0,03543 𝐿

2. Titrasi sampel oksalat menghasilkan presentase sebagai berikut : 15,75%,


15,55%, dan 15,70%, hitung rata-rata dan standar deviasinya ?
Jawab :
15,75+15,55+15,70 46,00
Rata-rata = = 15,67%
3 3

Srandar Deviasi (SD)

3. Kenapa larutan kehilangan warna setelah titik equivalen pada titrasi


permanganat tercapai ?
Jawab :
karena setelah semua zat reduktor (seperti oksalat) habis direduksi, tidak
ada lagi yang tereduksi MnO4- (ion permanganat) sendiri berwarna ungu
dan ketika bereaksi hilang karena berubah menjadi Mn2+ yang tidak
berwarna.

4. Kenapa larutan KMnO4 harus disaring dan kenapa tidak boleh disimpan
dalam botol ditutup dengan sumbat karet ?
Jawab :
KMnO4 harus disaring karena permanganat sering mengandung partikel
ini dapat mempengaruhi akurasi titrasi, sehingga perlu disaring sebelum
digunakan tidak boleh disimpan kerena KMnO4 pengoksidasi yang kuat
dan dapat bereaksi dengan karet, menyebabkan degderasi sumbat dan
kontaminan larutan.

5. Berapa volume KMnO4 0,1 M yang diperlukan untuk menitrasi 0,56 g


K2[Cu(C2O4)2].2 H2O ?
Jawab :
0,56 𝑔
n K2[Cu(C2O4)2].2 H2O = 353,81 𝑔/𝑚𝑜𝑙 = 0,001582 mol

2 MnO4 + 5 C2O42- + 16 H+ → 2 Mn2+ + 10 CO2 + 8 H2O


Jumlah mol C2O4- dari 0,001582 mol kompleks
2 x 0,001582 mol = 0,003164 mol C2O4-
2
Jumlah MnO4- = 5 𝑥 0,003164 mol = 0,001266 mol

0,001266 L
V KMnO4 0,1 M = = = 0,01266 L = 12,66 ml
0,1 𝑀

6. Hitunglah persentase C2O42- pada senyawa-senyawa berikut H2C2O4,


Na2C2O4 dan K3 Al (C2O4)3.3 H2O ?

Jawab :

Massa molar C2O4 = 88,02 g /mol


Massa molar Na2C2O4 = 134 g /mol
Massa molar H2C2O4 = 90 g /mol
Massa molar K3 Al (C2O4)3.3 H2O = 498 g /mol

massa molar C2O42−


Persentase C2O42- = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎 x 100 %

88,02 g /mol
= x 100 % = 97,78 %
90 g /mol

massa molar NaC2O42−


Persentase Na2C2O4 = x 100 %
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎

88,02 g /mol
x 100 % = 65,67 %
134 g /mol
massa molar K3 Al (C2O4)3.3 H2O
Persentase K3 Al (C2O4)3.3 H2O = x 100 %
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎

264 g /mol
x 100 % = 53,723 %
498 g /mol

7 Jika 29,00 ml KMnO4 0,0200 M di perlukan untuk mentitrasi suatu


larutan 0,250 g sampel K3 [Fe(C2O4 0)3] 3H2O, berapa persen C2O42-
dalam kompleks tersebut ?
Jawab
Mr C2O42- = 88,02 g /mol
Massa C2O4 = 1,46 x 10-3 mol x 88,02 g/
mol = 0,1276 g

Massa sampel K3 [Fe(C2O4 0)3] 3H2O = 0,250 g

massa C2O42−
C2O42- = x 100 %
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

0,1276 g
x 100 % = 53,04 %
0,250 g

8 Berapa % kemurnian kompleks pada pertanyaan 7 ?


Mr K3 [Fe(C2O4 0)3] 3H2O = 591,3 g /mol
Massa C2O42- = 3 x 88,02 = 269,06 g /mol

269,06 g /mol
x 100 % = 49,65 %
591,39 g /mol
51,09 %
Kemurnian = x 100 % = 114,30 %
49,65 %
KUIS PRAKTIKUM
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan
a. titran adalah larutan yang berada dalam buret
b. titrat adalah larutan yang akan dicari konsentrasinya
c. titik akhir titrasi adalah telah terjadinya perubahan warna pada titrasi

2. Apa yang dimaksud dengan larutan standar primer dan larutan standar
sekunder besrta contohnya ?
Standar primer adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya
sedangkan larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya
diketahui dengan cara distandarisasi dulu dengan larutan standar primer.

3. Apa warna dari ion permanganat dari warna apa yang menandakan
bahwa ion oksalat telah habis bereaksi dalam titrasi ?
Warna ion permanganat adalah merah
Warna ion oksalat telah habis bereaksi adalah warna pink seulas

4. Mengapa KMnO4 harus dijauhkan dari panas dan cahaya matahari


selama penyimpanan dan penggunaan ?
Karena KMnO4 mudah oksidasi bila terkena cahaya.
DAFTAR PUSTAKA

Adam (2020). Kimia Analitik. Malang : Pendidikan UI


Hakim (2022). Materi Olimpiade Kimia. Jakarta : Lukman Hakim
Padmanigrum (2019). Kimia Dasar Edisi III. Jakarta : Erlangga
Purnawati (2022). Kimia Itu Asik. Lombok Tengah : PPI
Rohman (2021). Analisis Serta Volumetri. Yogyakarta : UGM Press
Surya (2021). Titrasi Redoks. Jakarta : Gramedia Press
Suyatno (2021). Pengaruh Penggunaan Larutan Lain Dari Kalium
Permanganat. Jurnal Pendidikan [Link].2 vol.15
Tim Dosen Kimia Anorganik (2024). Penuntun Praktikum Strukrur Senyawa
Anorganik. Padang : Universitas Negeri Padang

Anda mungkin juga menyukai