BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 MENOPAUSE
2.1.1 Pengertian Menopause
Kata menopause berasal dari Bahasa Yunani, yaitu dari kata 'men' yang berarti
bulan, dan kata 'peuseis' yang berarti penghentian sementara. Secara linguistik kata
yang lebih tepat adalah menocease yang berarti masa berhentinya menstruasi.
Pandangan medis, menopause diartikan sebagai masa penghentian menstruasi untuk
selamanya. Masa menopause ini tidak bisa serta-merta diketahui, tetapi biasanya akan
diketahui setelah setahun berlalu. Menopause merupakan suatu proses peralihan dari
masa produktif menuju perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan
berkurang- nya hormon estrogen dan progesterone. (Yuliastuti, 2016)
Menopause merupakan salah satu titik dalam rangkaian tahapan kehidupan
wanita dan menandai berakhirnya tahun-tahun reproduksinya. Setelah menopause,
seorang wanita tidak dapat hamil, kecuali dalam kasus yang jarang terjadi ketika
perawatan kesuburan khusus digunakan. Kebanyakan wanita mengalami menopause
antara usia 45 dan 55 tahun sebagai bagian alami dari penuaan biologis. Menopause
disebabkan oleh hilangnya fungsi folikel ovarium dan penurunan kadar estrogen
dalam darah yang bersirkulasi. Transisi menopause bisa terjadi secara bertahap,
biasanya dimulai dengan perubahan siklus menstruasi. 'Perimenopause' mengacu pada
periode sejak tanda-tanda ini pertama kali terlihat dan berakhir satu tahun setelah
periode menstruasi terakhir.Perimenopause dapat berlangsung beberapa tahun dan
dapat mempengaruhi kesejahteraan fisik, emosional, mental dan sosial. Berbagai
intervensi non-hormonal dan hormonal dapat membantu meringankan gejala
perimenopause. Menopause dapat disebabkan oleh prosedur bedah atau medis.
(WHO, 2022)
Masalah kesehatan reproduksi tidak hanya menyangkut kehamilan dan
persalinan, namun lebih luas lagi yaitu menarche sampai menopause. Sebagian besar
wanita merasa gelisah saat menghadapi masa-masa menopause, sehingga banyak
masalah yang sederhana menjadi hal yang begitu besar dan bahkan bisa membuat
putus asa seorang wanita saat menghadapi menopause. Menopause merupakan suatu
istilah yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, berasal dari bahasa yunani yang
berarti berhenti haid (apause in the menses). Menopause adalah berakhirnya siklus
menstruasi secara alami, yang biasanya terjadi saat wanita memasuki usia 45 hingga
55 tahun. Seorang wanita dikatakan sudah menopause bila tidak mengalami
menstruasi lagi, minimal 12 bulan. (KEMENKES, 2022)
Tidak hanya berhenti menstruasi, banyak perubahan lain terjadi dalam tubuh
wanita yang menopause, mulai dari penampilan fisik, kondisi psikologis, hasrat seksual,
hingga kesuburan. Wanita yang sudah menopause tidak bisa hamil lagi. Perubahan ini
bisa terjadi secara bertahap atau tiba-tiba, dan disebut sebagai gejala menopause. Masa
terjadinya perubahan tersebut dinamakan masa perimenopause, yang dapat berlangsung
selama beberapa tahun sebelum menopause, dan umumnya dimulai saat usia 40 tahun
atau bisa juga lebih awal. (KEMENKES, 2022)
Menopause adalah penghentian permanen menstruasi yang disebabkan oleh
kegagalan ovarium. Ini dapat didiagnosis setahun setelah periode menstruasi terakhir dan
bersifat retrospektif. Periode yang mengarah ke perubahan ini disebut peri-menopause.
Hal ini ditandai dengan perubahan biologis dan endokrin yang menyebabkan gejala dan
pendarahan yang tidak teratur. Sekitar 80% wanita memiliki setidaknya satu gejala
menopause dan 45% ditemukan wanita menopause dalam masalah. Usia rata-rata saat
menopause yaitu 52 tahun, atau dalam rentang usia 45- 58 tahun. Menopause terjadi
ketika wanita berhenti berovulasi, menstruasi, dan tidak dapat hamil lagi. Kondisi ini
biasanya terjadi satu tahun setelah periode menstruasi terakhir terjadi. Dalam
perbandingannya satu banding empat, kondisi ini terjadi antaru usia 45 dan 55, rata-rata
terjadi pada usia 50 atau 51 tahun. (liswanti, 2021)
Menopause berbeda dengan lanjut usia. Seseorang yang menopause belum tentu
lanjut usia, namun seseorang yang lanjut usia sudah pasti menopause. Berdasarkan
definisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila usianya 65 tahun
ke atas.
International Menopause Society (IMS) pada tahun 1999, menyampaikan rekomendasi
berdasarkan definisi World Health Organization (WHO) tahun 1996, sebagai berikut:
1. Menopause alamiah adalah berhentinya menstruasi secara permanen, sebagai
akibat dari hilangnya aktivitas ovarium. Menopause alami ini dikenal, bila terjadi
amenore selama 12 bulan berturut-turut, tanpa ditemukan penyebab patologi atau
fisiologi yang jelas.
2. Perimenopause adalah waktu antara segera sebelum menopause (terjadi
perubahan gambaran endokrinologik, biologik, dan klinik) dan satu tahun sesudah
menopause.
3. Transisi menopause adalah waktu sebelum masa menstruasi terakhir, pada
umumnya terjadi kenaikan variabilitas siklus menstruasi. Meskipun istilah ini
sinonim dengan perimenopause, namun cukup membingungkan sehingga
dianjurkan untuk tidak digunakan lagi.
4. Premenopause adalah satu atau dua tahun sebelum menopause (seluruh masa
reproduksi sebelum menopause).
5. Pascamenopause, dimulai dari menstruasi terakhir tanpa memandang apakah itu
menopause spontan atau buatan.
6. Induced menopause adalah berhentinya menstruasi sebagai akibat dari operasi
pengangkatan kedua ovarium, tanpa atau dengan histerektomi atau ablasi
iatrogenik fungsi ovarium karena kemoterapi atau radiasi.
7. Menopause premature adalah menopause yang terjadi pada usia di bawah 40
tahun.
8. Klimakterium adalah masa penuaan, merupakan peralihan dari masa reproduksi
ke non reproduksi. Fase ini mencakup perimenopause dengan memperpanjang
periode sebelum dan sesudah perimenopause.
9. Sindroma klimakterik adalah simptomatologi yang berhubungan dengan
klimakterium.
Usia lanjut adalah usia 65 tahun atau lebih. Menopause tidak identik dengan lanjut
usia (lansia), tetapi pascamenopause termasuk lansia. (liswanti, 2021)
2.1.2 Jenis-jenis Menopause
Menopause dibedakan menjadi lima macam, yaitu:
1) Menopause Premature (Dini)
Usia rata-rata wanita untuk mencapai menopause alami atau
berhentinya haid adalah 50 tahun. Meskipun demikian, sebagian wanita
telah mengalaminya dalam usia 40 tahun, sebagian lagi bahkan dalam usia
masih sangat muda, yaitu 20 hingga 30 tahun. Bagi sebagian besar wanita
diagnosa menopause dini yang juga dikenal dengan istilah Premature
Ovarian Failure (POF), adalah pengalaman yang sangat tidak
menyenangkan. Sebagian besar wanita muda yang didiagnosa dengan
POF, bahkan belum berkesempatan untuk melahirkan anak, menyadari
bahwa kesempatan untuk memiliki anak dari uterus sendiri akan hilang.
Pada menopause dini 75% wanita telah mengalami keluhan
vasomotorik dan pada hampir 50% wanita telah terjadi osteoporosis.
Banyak sekali penyebab yang memungkinkan terjadinya menopause dini
yaitu penggunaan obat-obat diet yang bekerja sentral dapat meningkatkan
kadar hormon prolaktin. Karena prolaktin tinggi dapat menekan sekresi
FSH dan LH, sehingga folikel tidak dapat tumbuh dan dengan sendirinya
akan terjadi menopause. Penyinaran terhadap kedua ovarium atau
pengaruh pemberian kemoterapi dapat juga menyebabkan menopause dini.
Penyakit autoimun seperti miastenia, lupus eritematosus, trombositopenia
idiopatik, glomerulonefritis, arthritis rheumatoid dan penyakit crohn dapat
menyebabkan terjadinya menopause dini.
2) Menopause Normal
Menopause yang alami dan umumnya terjadi pada usia di akhir 40
tahun atau di awal 50 tahun. (Andrews, G. 2010). Menopause normal ini
yang paling banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan jumlah folikel
yang mengalami atresia terus meningkat, sampai suatu ketika tidak
tersedia lagi folikel yang cukup. Produksi estrogen berkurang dan tidak
terjadi haid lagi, yang berakhir dengan terjadinya menopause.
3) Menopause Terlambat
Menopause yang terjadi apabila seorang wanita masih mendapat
haid di atas 52 tahun (Prawirohardjo, 2006). Ada beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya menopause terlambat, di antaranya faktor
tersebut adalah konstitusional. fibromioma uteri dan tumor ovarium yang
menghasilkan estrogen. Salah satu faktor yang memungkinkan seorang
wanita akan mengalami keterlambatan menopause adalah apabila
memiliki kelebihan berat badan. Sebagian besar estrogen dibuat di dalam
endometrium, akan tetapi sejumlah kecil estrogen juga dibuat di bagian
tubuh yang lain, termasuk dalam sel lemak. Ketika seorang wanita
mengalami obesitas. maka wanita tersebut akan memiliki kadar estrogen
yang lebih tinggi sepanjang hidupnya.
4) Menopause Karena Operasi
Menopause ini terjadi akibat dilakukannya operasi atau
pembedahan, misalnya operasi rahim (histerektomi) atau yang seringkali
disebut dengan istilah Total Abdominal Hysterectomy (TAHA) maupun
karena kedua indung telur diangkat (oophorectomy bilateral yang
seringkali disebut dengan Bilateral Salpingo Oophorectomy (BSO). Bila
uterus diangkat karena operasi tetapi indung telur dipertahankan, maka
masa haid berhenti namun gejala menopause lainnya biasanya tetap
berlangsung ketika wanita tersebut mencapai usia menopause alami.
Meski demikian, ada sejumlah wanita yang menjalani operasi uterus dan
mengalami gejala-gejala menopause dalam usia yang lebih muda.
5) Menopause Medis
Menopause ini terjadi akibat campur tangan medis yang
menyebabkan berkurangnya atau berhentinya pelepasan hormon oleh
ovarium. Campur tangan ini bisa berupa pembedahan untuk mengangkat
ovarium atau untuk mengurangi aliran darah ke ovarium serta kemoterapi
atau terapi penyinaran pada panggul untuk mengobati kanker. Histerektomi
menyebabkan berakhirnya siklus menstruasi, tetapi selama ovarium tetap
ada hal tersebut tidak akan memengaruhi kadar hormon dan tidak
menyebabkan menopause,Wanita yang harus menjalani kemoterapi karena
menderita kanker, seringkali mengalami menopause sementara atau
permanen. Obat-obatan anti kanker dapat merusak indung telur dan
mengurangi jumlah hormone yang diproduksi. Akibatnya, selama
menjalani kemoterapi, masa haid menjadi tidak teratur, bahkan berhenti
sepenuhnya. (Yuliastuti, 2016)
2.1.3 Tanda dan Gejala Menopause
Penurunan kadar estrogen yang terjadi pada menopause dapat
menyebabkan berbagai gejala. Beberapa wanita terganggu oleh sebagian gejala
selama perimenopause, sedangkan beberapa wanita sangat tidak nyaman,
sementara sisanya hampir tidak merasa gejala menopause. Gejala perimenopause
bervariasi di setiap populasi wanita menopause, pemahaman yang penting pada
menopause bermanfaat untuk merencanakan intervensi yang efektif dalam
meningkatkan kualitas hidup.
Gejala menopause terjadi dalam masa perimenopause, yaitu beberapa
bulan atau beberapa tahun sebelum menstruasi berhenti. Durasi dan tingkat
keparahan gejala yang timbul berbeda-beda pada tiap orang.
Gejala atau tanda-tanda menopause dapat berupa :
1. Perubahan Siklus Menstruasi
Menstruasi menjadi tidak teratur, kadang terlambat atau lebih awal dari
biasanya (Oligomenorea). Dan darah yang keluar saat menstruasi dapat lebih
sedikit atau justru lebih banyak.
2. Perubahan Penampilan Fisik
a) Rambut rontok
b) Kulit kering
c) Payudara kendur
d) Berat badan bertambah
3. Perubahan Psikologis
a) Suasana hati berubah-ubah atau moody
b) Sulit tidur
c) Depresi
4. Perubahan Seksual
a) Vagina menjadi kering
b) Penurunan libido (gairah seksual)
5. Perubahan Fisik
a) Merasa panas atau gerah, sehingga mudah berkeringat. Kondisi ini
disebut hot flashes.
b) Berkeringat di malam hari
c) Pusing
d) Jantung berdebar
e) Infeksi berulang pada saluran kemih.
Selain mengalami berbagai perubahan di atas, wanita yang telah menopause menjadi
lebih berisiko mengalami penyakit jantung dan osteoporosis. (KEMENKES, 2022)
Gambar 2.1 perubahan pada masa menopause
2.1.4 Penyebab Menopause
Menopause merupakan proses alami yang terjadi saat seorang wanita bertambah tua.
Namun, menopause juga dapat terjadi lebih dini, yaitu sebelum usia 40 tahun yang
dapat terjadi akibat :
1. Primary Ovarian Insufficiency
Kondisi ini terjadi akibat kelainan genetik atau penyakit autoimun, yang
membuat indung telur berhenti berfungsi.
2. Operasi Pengangkatan Rahim (Histerektomi)
Setelah histerektomi, seorang wanita memang tidak akan langsung
mengalami menopause, namun cenderung akan mengalami menopause lebih
awal. Menopause dapat langsung terjadi setelah histerektomi bila indung telur
ikut diangkat.
3. Pengobatan Kanker
Kemoterapi atau radioterapi untuk mengatasi kanker rahim dapat merusak
indung telur, sehingga memicu menopause dini.
Pemeriksaan Menopause
Seorang wanita dikatakan mengalami menopause bila menstruasi telah
berhenti selama 12 bulan. Untuk lebih memastikannya, atau bila dokter
mencurigai adanya penyebab lain dari menopause, dapat dilakukan :
a. Pemeriksaan FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan hormon estrogen.
Menopause ditunjukkan saat kadar FSH meningkat, sedangkan kadar estrogen
rendah.
b. Pemeriksaan TSH (Thyroid Stimulating Hormone) dan hormon tiroid
Pemeriksaan kadar hormon ini untuk memastikan penderita tidak mengalami
hipotiroidisme atau penurunan hormon tiroid, yang dapat menimbulkan gejala
serupa dengan menopause. (KEMENKES, 2022)
2.1.5 Fase-fase menopause
1. Masa iklim (pramenopause)
Periode klimakterium merupakan masa peralihan antara masa reproduksi
dan masa senium. Biasanya masa ini disebut juga dengan pra menopause, antara
usia 40 tahun, ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan
haid yang memanjang dan relatif banyak.
2. Menopause
Masa menopause yaitu saat haid terakhir atau berhentinya menstruasi.
Menopause mulai pada umur yang berbeda pada orang-orang yang berbeda. Umur
yang umum adalah sekitar 50 tahun, meskipun ada sedikit wanita memulai
menopause pada umur 30 tahun, sementara wanita-wanita lain mulainya
menopause tertunda sampai umur 50 tahun Ini disebabkan tubuh sudah kehabisan
sel telur dan penurunan hormon estrogen. Proses semakin berkurangnya produksi
estrogen berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Tanggal dari haid
terakhir disebut sebagai menopause. Karena haid tidak lagi teratur, maka wanita
tersebut baru benar-benar yakin bahwa haidnya berhenti setidak- nya selama satu
tahun setelah itu.
3. Senium
Masa senium adalah masa sesudah menopause atau bisa disebut dengan
istilah pasca menopause, Kondisi ini dapat diidentifikasi bila telah mengalami
menopause 12 bulan sampai menuju ke senium dan umumnya terjadi pada usia 50
tahun. Pada. periode pasca menopause, wanita telah mampu menyesuaikan
dengan kondisinya, sehingga tidak mengalami gangguan fisik antara usia 65
tahun. Beberapa wanita juga mengalami berbagai gejala karena perubahan
keseimbangan hormon. Bagian-bagian tubuh dapat mulai menua dengan jelas,
tetapi kebanyakan wanita seharusnya tetap aktif secara fisik, mental, dan seksual
sesudah menopause seperti sebelumnya. (Yuliastuti, 2016)
2.1.6 Fisiologi Menopause
Jumlah folikel pada ovarium pada waktu lahir memiliki sekitar 750.000 oosit
dalam kedua ovariumnya, 1/3 di antaranya hilang sebelum pubertas dan sebagian besar
sisanya hilang sebelum pada masa reproduksi. Pada tiap siklus menstruasi, 20-30
folikel primordial dalam proses perkembangan dan sebagian besar di antaranya
mengalami atresia. Selama masa reproduksi sekitar 400 oosit mengalami proses
pematangan dan sebagian besar hilang spontan akibat bertambahnya usia. Pada waktu
menopause tinggal beberapa ribu buah. Produksi estrogen pun berkurang. Folikel yang
tersisa lebih resistan terhadap rangsangan gonadotropin. Sehingga siklus ovarium yang
terdiri atas pertumbuhan folikel, ovulasi dan pembentukan korpus luteum lambat laun
terhenti. Hilangnya folikel secara terus menerus setelah kelahiran, menyisakan hanya
kurang lebih beberapa ratus folikel pada saat menopause berakibat menimbulkan
gejala amenore dan ketidakteraturan haid. Sebenarnya hanya 480 folikel yang hilang
karena ovulasi, sedangkan sebagian besar hilang karena atresia folikel yang terjadi
menetap hingga usia 35-38 tahun, untuk selanjutnya setelah itu berkurang dengan
cepat.
Semakin tua, folikel seorang wanita akan makin resistan terhadap stimulasi
gonadotropin, akibatnya FSH dan LH di darah akan meningkat. Peningkatan FSH dan
LH akan menyebabkan stimulasi stromal terhadap ovarium yang menyebabkan
peningkatan estrone dan penurunan kadar estradiol.
Gambar 2.2 perubahan ovarium dan hipotalamus yang berperan terhadap
perubahan fisiologi menopause
Pada masa premenopause, estradiol yang biasanya dihasilkan oleh sel
granulose folikel yang berkembang menjadi berkurang. Proporsi siklus menstrual
anovulatoar meningkat dan produksi progesterone juga menurun. Akibat tidak adanya
mekanisme umpan balik negatif estrogen maka produksi Folicle Stimulating Hormone
(FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) akan meningkat, namun produksi hormon
hipofisis lain tidak terganggu. Estrogen diproduksi dalam jumlah di bawah nilai kritis
untuk jangka waktu yang singkat sesudah menopause, tetapi setelah beberapa tahun,
ketika folikel primordial yang tersisa menjadi atretik, produksi estrogen oleh ovarium
tuan menjadi hampir nol. Hilangnya estrogen seringkali menyebabkan terjadinya
perubahan fisiologi yang besar pada fungsi tubuh.
Dalam penelitian ovarium manusia, percepatan kehilangan mulai ketika seluruh
jumlah folikel-folikel mencapai kira-kira 25.000, suatu jumlah dicapai pada wanita-
wanita normal usia 37-38. Kehilangan ini berkaitan dengan suatu peningkatan yang
tidak kentara tetapi nyata dalam FSH dan penurunan dalam inhibin. Percepatan
kehilangan agaknya sekunder terhadap rangsang peningkatan FSH. Perubahan-
perubahan ini, termasuk peningkatan dalam FSH, merefleksikan penurunan kualitas
dan kapabilitas dari folikel-folikel yang tua, dan penurunan sekresi inhibin, produk sel
granulosa yang menghasilkan suatu pengaruh umpan balik negatif pada sekresi FSH
oleh kelenjar hipofise. Kemungkinan bahwa kedua inhibin-A dan inhibin-B berperan,
karena kadar kadar inhibin-A dan inhibin-B fase-luteal menurun dengan usia tua dan
mendahului peningkatan FSH. Suatu penelitian di Australia, menunjukan bahwa
peningkatan dalam FSH berkaitan hanya dengan suatu penurunan inhibin- B. dalam
respons, konsentrasi estradiol meningkat sedikit, Penurunan produksi inhibin dapat
merefleksikan dengan baik suatu pengurangan jumlah folikel-folikel, atau suatu
penurunan fungsi kapasitas dari folikel-folikel yang lebih tua, atau keduanya.
Hubungan terbalik dan ketat antara FSH dan inhibin menunjukkan bahwa inhibin
adalah suatu tanda dari kemampuan folikel ovarium yang sensitif dan, berikutnya,
bahwa pengukuran FSH adalah suatu penaksiran klinis dari inhibin Karena itu,
perubahan-perubahan pada tahun-tahun reproduktif berikutnya (penurunan inhibin
menimbulkan suatu peningkatan dalam FSH) merefleksikan penurunan reaktivitas
folikuler dan kemampuan sebagai ovarium umur tua. Penurunan sekresi inhibin oleh
folikel-folikel ovarium mulai dini sekitar usia 35, tetapi menjadi cepat sesudah usia 40
tahun. Ini digambarkan dalam penurunan kesuburan yang terjadi dengan bertambah-
nya usia/tua). Tahun-tahun perimenopause adalah periode waktu selama mana kadar
FSH pascamenopause (>20 IU/L) dapat dilihat walaupun perdarahan menstruasi terus
berlanjut, sementara kadar-kadar LH masih tetap dalam rentang normal.
Kadang-kadang, pembentukan dan fungsi korpus luteum terjadi, dan wanita
perimenopause tidak aman terhadap risiko dari suatu kehamilan yang tidak direncanakan
dan tidak diinginkan sampai peningkatan kadar- kadar keduanya FSH (> 20 IU/L) dan
LH (> 30 IU/L) dapat ditunjukkan. Bahkan dalam kondisi ini, fluktuasi dapat terjadi,
dengan suatu periode dari kegagalan ovarium diikuti oleh permulaan lagi dari fungsi
ovarium. Kadar inhibin juga menurun drastis karena terjadi peningkatan FSH. Pada saat
ini juga akan terjadi sekresi estrogen yang fluktuatif, wanita pun akan mengalami
beberapa gejala yang secara keseluruhan disebut fase klimakterium, fase yang tidak
stabil. (Yuliastuti, 2016)
2.1.7 Tujuan Asuhan Masa Menopause
Asuhan masa menopause perlu dikembangkan pelaksanaannya serta perlu
diterapkan pada setiap wanita menopause. Adapun tujuan. dilakukannya asuhan pada
masa menopause adalah:
1. Masa menopause merupakan masa yang tidak menyenangkan bagi sebagian
wanita sehingga perlu dilakukan asuhan yang tepat.
2. Dapat dilakukan penanganan secara dini jika terjadi adanya kelainan atau
komplikasi selama menopause.
3. Terpantaunya status kesehatan masa menopause.
4. Memberikan asuhan berdasarkan masalah yang dialami klien pada masa
menopause.
5. Meningkatkan kualitas hidup pada masa menopause. (Yuliastuti, 2016)
2.1.8 Faktor-faktor Yang Memengaruhi Menopause
1. Usia Saat Haid Pertama Kali (Menarche)
Beberapa ahli yang melakukan penelitian menemukan adanya hubungan
antara usia pertama kali mendapat haid dengan usia seorang wanita memasuki
menopause. Kesimpulan dari penelitian- penelitian ini mengungkapkan, bahwa
semakin muda seorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua atau lama ia
memasuki masa menopause.
2. Jumlah Anak
Meskipun belum ditemukan hubungan antara jumlah anak dan menopause,
tetapi beberapa peneliti menemukan bahwa makin sering seorang wanita
melahirkan maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopause.
3. Usia Melahirkan
Masih berhubungan dengan melahirkan anak, bahwa semakin tua
seseorang melahirkan anak, semakin tua ia mulai memasuki usia menopause.
Penelitian yang dilakukan Beth Israel Deaconess Medical Center in Boston
mengungkapkan bahwa wanita yang masih melahirkan di atas usia 40 tahun akan
mengalami usia menopause yang lebih tua. Hal ini terjadi karena kehamilan dan
persalinan akan memperlambat sistem kerja organ reproduksi. Bahkan akan
memperlambat proses penuaan tubuh.
4. Faktor Psikis
Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini berhubungan dengan
kadar estrogen, gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah,
berkurangnya konsentrasi dan kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi
seperti mudah tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa kesunyian.
ketakutan keganasan, tidak sabar lagi dll. Perubahan psikis ini berbeda-beda
tergantung dari kemampuan wanita untuk menyesuaikan diri.
5. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi memengaruhi faktor fisik, kesehatan. dan
pendidikan. Apabila faktor-faktor di atas cukup baik, akan mengurangi beban
fisiologis, psikologis. Kesehatan akan faktor klimakterium sebagai faktor
fisiologis.
6. Budaya dan Lingkungan
Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat memengaruhi
wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase klimakterium
dini. (Yuliastuti, 2016)
2.1.9 Kebutuhan Dasar Menopause
Kebutuhan dasar pada menopause pada dasarnya sama dengan kebutuhan
dasar manusia. Abraham Harold Maslow (1908-1970), ahli psikologi membagi
kebutuhan manusia menjadi 4, yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, prestise
dan aktualisasi diri.
1. Kebutuhan Dasar Manusia (KDM) menurut Maslow adalah sebagai berikut.
Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), yaitu kebutuhan makanan, minuman,
tempat tinggal dan lain-lain.
2. Kebutuhan Keamanan (Safety Needs), yaitu kebutuhan akan perlindungan
keselamatan terhadap bahaya atau kekerasan Kebutuhan Sosial (Social Needs)
timbul bila kedua kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi, yaitu kebutuhan akan
afiliasi, persahabatan serta memberi dan menerima kasih sayang/dihargai
dengan/dari/oleh orang lain dalam kehidupan sosial masyarakat.
3. Kebutuhan Prestise (Ego/Esteem Needs), yaitu kebutuhan akan penghargaan atas
harga diri, status, perhatian penerimaan orang lain, yang muncul bila ketiga
kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Menurut Maslow kebutuhan ini jarang
dapat dipuaskan.
4. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs) merupakan kebutuhan
terakhir apabila keempat kebutuhan lainnya di atas. telah terpenuhi, yang dapat
mendorong perilaku seseorang untuk dapat mempertinggi kemampuan kerja.
Menurut Maslow, kebutuhan dasar manusia tersebut adalah berjenjang
seperti piramid, yang mempunyai anak-anak tangga kebutuhan. Kebutuhan-
kebutuhan harus dipenuhi dari kebutuhan tingkat pertama dan naik ke tangga-
tangga kebutuhan berikutnya, tanpa bisa meloncat.
Penting untuk melihat menopause hanya sebagai satu titik dalam
rangkaian tahapan kehidupan. Status kesehatan seorang wanita yang memasuki
masa perimenopause akan sangat ditentukan oleh riwayat kesehatan dan
reproduksi sebelumnya, gaya hidup, dan faktor lingkungan. Gejala perimenopause
dan pascamenopause dapat mengganggu kehidupan pribadi dan profesional, dan
perubahan yang terkait dengan menopause akan memengaruhi kesehatan wanita
seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, perawatan perimenopause memainkan
peran penting dalam meningkatkan penuaan yang sehat dan kualitas hidup.
Menopause dapat menjadi transisi penting dari sudut pandang sosial dan
juga biologis. Secara sosial, pengalaman menopause seorang perempuan mungkin
dipengaruhi oleh norma gender, faktor keluarga dan sosiokultural, termasuk
bagaimana penuaan perempuan dan transisi menopause dipandang dalam
budayanya. (Yuliastuti, 2016)
Populasi global wanita pascamenopause terus bertambah. Pada tahun
2021, perempuan berusia 50 tahun ke atas menyumbang 26% dari seluruh
perempuan dan anak perempuan secara global. Angka ini naik dari 22% pada 10
tahun sebelumnya.Selain itu, perempuan juga hidup lebih lama. Secara global,
seorang perempuan berusia 60 tahun pada tahun 2019 diperkirakan dapat hidup
rata-rata 21 tahun lagi. Menopause dapat memberikan kesempatan penting untuk
menilai kembali kesehatan, gaya hidup, dan tujuan seseorang.
WHO menganggap bahwa dukungan kesehatan sosial, psikologis dan fisik
selama transisi menopause dan setelah menopause harus menjadi bagian integral
dari pelayanan kesehatan. WHO berkomitmen untuk meningkatkan pemahaman
tentang menopause dengan:
1. meningkatkan kesadaran mengenai menopause dan dampaknya terhadap
perempuan pada tingkat individu dan masyarakat, serta terhadap kesehatan
dan pembangunan sosio-ekonomi suatu negara.
2. mengadvokasi dimasukkannya diagnosis, pengobatan dan konseling terkait
pengelolaan gejala menopause sebagai bagian dari cakupan kesehatan
universal.
3. mendorong dimasukkannya pelatihan mengenai menopause dan pilihan
pengobatan dalam kurikulum pra-jabatan bagi petugas kesehatan; Dan
4. menekankan pendekatan perjalanan hidup terhadap kesehatan dan
kesejahteraan (termasuk kesehatan dan kesejahteraan seksual), dengan
memastikan bahwa perempuan memiliki akses terhadap informasi dan layanan
kesehatan yang tepat untuk mendorong penuaan yang sehat dan kualitas hidup
yang tinggi sebelum, selama dan setelah menopause.
Meskipun menopause bukanlah suatu penyakit, lembar fakta ini mengacu pada
pengalaman wanita perimenopause dan pascamenopause sebagai gejala karena dapat
menimbulkan tingkat ketidaknyamanan yang mempengaruhi kualitas hidup mereka.
(WHO, 2022)
2.1.10 Peran Bidan dalam Menopause
Bidan sebagai tenaga kesehatan yang memiliki tanggung jawab untuk
memberikan asuhan pada masa menopause harus dapat melakukan peran secara
maksimal sehingga wanita menopause wanita menopause dapat melalui masa
menopause dengan menyenangkan. Adapun peran. yang dapat dilakukan bidan di
antaranya adalah:
1. Memberikan asuhan kebidanan kepada wanita menopause yang sesuai dengan
kebutuhan wanita menopause.
2. Secara berkala memberikan penyuluhan ataupun Komunikasi Edukasi dan
Informasi (KIE) sesuai dengan kebutuhan wanita menopause
3. Membentuk forum bagi wanita menopause yang memiliki kegiatan fisik maupun
spiritual.
Penting bagi wanita untuk mengenali gejala-gejala depresi dan kecemasan selama
masa menopause dan mencari dukungan yang tepat jika diperlukan. Langkah-langkah
untuk menjaga kesehatan mental selama menopause termasuk:
1. Berbicara terbuka dengan dokter atau profesional kesehatan mental tentang gejala
yang dialami.
2. Melakukan aktivitas fisik yang teratur untuk meningkatkan suasana hati dan
mengurangi stres.
3. Menerapkan teknik relaksasi dan meditasi untuk mengurangi kecemasan dan
kesejahteraan emosional. Meningkatkan
4. Menggunakan strategi koping positif, seperti berbicara
5. Menerapkan teknik relaksasi dan meditasi untuk mengurangi kecemasan dan
kesejahteraan emosional. Meningkatkan
6. Menggunakan strategi koping positif, seperti berbicara dengan teman atau
anggota keluarga, untuk mengatasi stres dan perasaan yang sulit.
Dengan perhatian yang tepat terhadap kesehatan mental, wanita dapat mengelola
gejala depresi dan kecemasan selama menopause dan menjalani hidup yang seimbang
dan bermakna selama masa transisi ini. Pengetahuan dan pemahaman tentang menopause
bagi wanita premenopouse diharapkan dapat membantu memasuki masa menopause
sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses kehidupan akan dialami dengan
sukarela dan menerimanya secara positif. (Yuliastuti, 2016)
2.2 KONSEP PENGETAHUAN
2.2.1 Pengertian
Menurut Bloom dalam Notoatmodjo (2010) pengetahuan merupakan hasil
dari tahu, yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek
tertentu. Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari mata dan telinga demikian
menurut Notoatmodjo (2010).
Pengetahuan merupakan domain penting untuk terbentuknya perilaku
seseorang (Notoatmodjo, 2010). Berdasarkan konsep ini, pengetahuan yang perlu
diberikan kepada ibu premenopause meliputi definisi menopause, gejala dan tanda
serta kecemasan yang mungkin akan terjadi. (Srimiyati, 2020)
2.2.2 Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan di dalam
domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu:
A. Tahu (tahu)
Diartikan memanggil memori yang telah ada sebelumnya setelah
mengamati sesuatu. Tingkatan ini adalah mengingat kembali materi yang
telah dipelajari. atau stimulus yang telah diterima.
B. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi secara benar.
Orang yang telah memahami materi setidaknya dapat menyimpulkan apa
yang telah dipelajari. Pada tingkatan ini wanita. premenopause diharapkan
dapat menjelaskan mengapa menopause terjadi pada seorang wanita.
C. Aplikasi (application)
Apabila orang memahami informasi dapat mengapli kasikan prinsip
yang diketahui tersebut pada situasi nyata. Pada tahap ini wanita
menopause diharapkan dapat menerapkan prinsip mengurangi gejala serta
melakukan persiapan fisik dan psikologis dalam menghadapi menopause.
D. Analisis (analisis)
Sebagai kemampuan seseorang untuk menjabarkan kemudian
menghubungkan antara komponen-komponen. Indikasi bahwa
pengetahuan seseorang tersebut sudah sampai pada tingkat analisis apabila
orang tersebut dapat menghubungkan antara pengetahuan dan realita.
E. Sintesis (sintesis)
Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum
dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan.
Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk Menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah dipahami.
F. Evaluasi (evaluation)
berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
penilaian terhadap suatu objek didasarkan pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau yang telah ada.
G. Menciptakan (Created)
Kemampuan menyusun unsur-unsur untuk membentuk suatu
keseluruhan kohoren atau fungsional, mereorganisasi unsur kedalam pola
atau struktur baru, termasuk didalamnya: generating (Hipotesa), planning
(Perencanaan) dan producing (Penghasil). (Srimiyati, 2020)
2.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
1. Pendidikan
Tingkat pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seorang
terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu.
(Sarwono, 1992 dalam Nursalam, 2011). Secara umum, seorang yang
berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas
dibandingkan dengan seorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Orang
yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap
informasi yang datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan. yang mungkin
akan mereka peroleh dari gagasan tersebut.
2. Pekerjaan
Aktifitas perempuan sehari-hari dapat mempengaruhi kualitas hidupyang
dimiliki. Seorang perempuan yang berperan hanya sebagai ibu rumah tangga saja
tingkat pengetahuan yang dimiliki cenderung tidak banyak perubahan. Sedangkan
seorang perempuan yang mempunyai aktifitas sosial diluar rumah akan lebih
banyak mendapat informasi baik, misalnya dari teman bekerja atau teman dalam
aktifitas sosial.
3. Pengalaman
Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal biasa diperoleh dari
lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya, misalnya sering
mengikuti kegiatan. Kegiatan yang mendidik misalnya seminar organisasi dapat
memperluas jangkauan pengalaman karena dari berbagai kegiatan tersebut
informasi tentang suatu hal dapat diperoleh.
4. Usia
Semakin tua usia seseorang maka semakin konstruktif dalam menerima
informasi yang didapat dan semakin banyak pengetahuan yang dimiliki. Jadi,
semakin tua usia seseorang maka semakin banyak pengalaman dan pengetahuan
yang dimiliki.
5. Paparan media massa
Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik seperti televisi,
radio, majalah, koran, dan buku. Sehingga seorang yang lebih sering terpapar
media masa akan memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan
orang yang tidak terpapar informasi media. Ini berarti paparan media massa
mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang .
6. Ekonomi
Untuk memenuhi kebutuhan pokok (Primer) maupun kebutuhan sekunder,
keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan
kebutuhan sekunder.
7. Hubungan sosial
Manusia adalah mahkluk sosial dimana dalam kehidupan saling
berinteraksi antam satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara
continue akan lebih besar terpapar informasi. (Swarjana, 2022)
2.2.4 Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Dalam penelitian tentang pengetahuan, kita mengenal Bloom's Cut off
Point. Bloom membagi tingkatan pengetahuan menjadi tiga, yaitu pengetahuan
baik/tinggi (good knowledge), pengetahuan cukup/sedang (fair/moderate
knowledge), dan pengetahuan rendah/kurang (poor knowledge). Untuk
mengklasifikasikannya, kita dapat menggunakan skor yang telah dikonversi ke
persen seperti berikut ini.
1. Pengetahuan baik jika skor 80-100%.
2. Pengetahuan cukup jika skor 60-79%.
3. Pengetahuan rendah jika skor < 60%.
Anderson dalam bukunya yang berjudul Anatomy for Learning, Teaching
and Assessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives
(2001), menyebutkan ada tiga hal yang direvisi, hal pertama, yaitu memasukkan
unsur metacognitive sebagai bagian tertinggi dari domain kognitif, kemudian
diubah menjadi mencipta atau meng-create untuk menggantikan evaluasi dan
sintesis. Oleh karena itu, perilaku tertinggi dari domain kognitif adalah mencipta.
Selanjutnya, hal kedua yang direvisi, yaitu bentuk perilaku pada semua
tingkatan pada kognitif diubah dari kata benda (hasil rumusan Bloom) menjadi
kata kerja. Misalnya, pengetahuan atau knowledge diubah menjadi mengingat
atau remembering, pemahaman atau comprehension diubah menjadi memahami
atau to understand. Adapun tahapan secara rinci sebagai berikut:
1. Mengingat.
2. Memahami.
3. Menerapkan.
4. Analisis.
5. Mengevaluasi.
6. Menciptakan.
Adapun hal ketiga yang direvisi, yaitu menarik aspek knowledge atau
pengetahuan yang awalnya dari kognitif dalam rumusan Bloom menjadi aspek tersendiri
yang dibagi menjadi empat aspek pengetahuan seperti berikut ini.
1. Pengetahuan tentang fakta atau factual knowledge.
2. Pengetahuan tentang konsep atau conceptual knowledge.
3. Pengetahuan prosedur atau procedural knowledge.
4. Pengetahuan metakognitif atau metacognitive knowledge. (Swarjana, 2022)
2.2.5. Pengukuran Variabel Pengetahuan
Dalam penelitian, pengukuran variabel menjadi sangat penting. Hal ini
dikarenakan variabel penelitian syaratnya adalah harus dapat diukur. Pengukuran
variabel dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur. Khusus untuk variabel
pengetahuan, alat atau instrumen yang dapat dan umum digunakan adalah dengan list
pertanyaan yang menanyakan tentang pengetahuan. List pertanyaan tersebut kita
kenal sebagai kuesioner. Terkait dengan variabel pengetahuan, ada beberapa jenis
kuesioner yang biasa digunakan, di antaranya kuesioner dengan pilihan jawaban
benar dan salah; benar, salah, dan tidak tahu. Selain itu, ada juga kuesioner
pengetahuan dengan pilihan ganda atau multiple choice yang memungkinkan
responden untuk memilih salah satu pilihan jawaban yang dianggap paling tepat.
Hal penting lainnya yang perlu dipahami adalah skala pengukuran variabel
pengetahuan. Variabel pengetahuan dapat berupa variabel dengan skala numerik
maupun kategori. Berikut ini adalah beberapa contoh pengukuran skala variable:
1. Pengetahuan dengan skala numerik Pengetahuan dengan skala numerik artinya
hasil pengukuran variabel pengetahuan tersebut berupa angka. Misalnya, total
skor pengetahuan berupa angka absolut maupun berupa persentase (1- 100%).
2. Pengetahuan dengan skala kategorial Pengetahuan dengan skala kategorial adalah
hasil pengukuran pengetahuan yang berupa skor total atau berupa persentase
tersebut dikelompokkan atau dilevelkan menjadi beberapa contoh berikut ini:
a. Pengetahuan dengan skala ordinal Pengetahuan dengan skala ordinal dapat
dilakukan dengan mengonversi dari total skor atau persen menjadi bentuk
ordinal menggunakan Bloom's cut off point.
a) Pengetahuan baik/tinggi/good/high knowledge: skor 80- 100%.
b) Pengetahuan sedang/cukup/fair/moderate knowledge: skor 60-79%.
c) Pengetahuan kurang/rendah/poor knowledge: skor <60%.
b. Pengetahuan dengan skala nominal Variabel pengetahuan dapat juga
dinominalkan dengan cara me-recode atau membuat kategori ulang, misalnya,
dengan membagi menjadi dua kategori menggunakan mean jika data
berdistribusi normal dan menggunakan median jika data tidak berdistribusi
normal.
a) Pengetahuan yang tinggi/baik.
b) Pengetahuan rendah/kurang/buruk.
Atau dengan cara lainnya dengan melakukan convert:
a) Pengetahuan yang tinggi.
b) Pengetahuan rendah/sedang. (Swarjana, 2022)
2.3 KONSEP KECEMASAN
2.3.1. Pengertian
Kecemasan adalah keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai
dengan ketidak stabilan emosi, lebih mudah tersinggung, marah, sering gelisah, dan
perasaan yang lebih subjektif seperti ketegangan, ketakutan, dan kekhawatiran.
(Herliawati, 2024)
Kecemasan atau rasa cemas yang berlebihan juga sering terjadi selama
menopause. Perubahan hormonal selama menopause dapat memengaruhi keseimbangan
neurotransmitter dalam otak, yang dapat meningkatkan risiko kecemasan. Gejala
kecemasan selama menopause dapat mencakup perasaan gelisah atau khawatir yang
berlebihan, ketegangan otot, sulit berkonsentrasi, dan gejala fisik seperti detak jantung
cepat atau napas pendek. (Saras, 2024)
2.3.2 Tingkat Kecemasa
1. Kecemasan normal
Pada level ini, klien mungkin mengalami peringatan berkala dari ancaman,
seperti kegelisahan atau ketakutan yang mendorong klien untuk mengambil
langkah-langkan yang diperlukan untuk mencegah ancaman atau mengurangi
konsekuensinya.
2. Kecemasan Ringan (Mild Anxiety)
Pada level ini, klien mengalami peningkatan kewaspadaan terhadap
perasaan batin atau lingkungan. Untuk bersantai, individu bekerja di bawah
tekanan untuk memenuhi tenggat waktu dan mungkin mengalami keadaan
kecemasan ringan yang akut sampai pekerjaan mereka selesai. Klien dengan
riwayat kecemasan kronis mungkin sering mengalami kegelisahan, aktivitas
motorik gemetar, postur kaku, dan ketidakmampuan untuk bersantai.
3. Kecemasan Sedang
Pada level ini, bidang persepsi penglihatan, pendengaran, sentuhan, dan
penciuman menjadi terbatas. Klien mengalami penurunan kemampuan
berkonsentrasi, dengan ken npuan untuk fokus atau berkonsentrasi hanya pada
satu hal tertentu pada suatu waktu. Mondar-mandir, tremor suara, peningkatan
kecepatan bicara, perubahan fisiologis dan verbalisasi tentang bahaya yang
diharapkan terjadi. Pemecahan masalah dan kemampuan untuk memobilisasi
sumber daya dapat terhambat. Klien yang mencari pengobatan untuk kecemasan
umumnya hadir dengan gejala-gejala ini selama fase akut.
4. Kecemasan Parah (Kecemasan Parah)
Pada level ini, kemampuan untuk merasakan semakin berkurang dan fokus
terbatas pada satu detail tertentu. Ketidaktepatan verbalisasi atau
ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan jelas, terjadi karena peningks an
kecemasan dan penurunan proses berpikir intelektual. Kurangnya tekad atau
kemampuan untuk melakukan terjadi saat orang tersebut mengalami perasaan
tanpa tujuan. (Swarjana, 2022)
2.3.3 Reaksi Kecemasan
Menurut Hurlock (2000) reaksi kecemasan secara fisiologis muncul perasaan
tegang, bingung, merasa terancam, kurang konsentrasi, kurang percaya diri. Reaksi
kecemasan ditandai dengan khawatir, Insomnia.
Menurut Akitson (2000) reaksi kecemasan dibedakan dalam dua kelompok yaitu:
a) Reaksi Fisiologis
Reaksi fisiologis yaitu reaksi yang ditampilkan oleh organ-organ tubuh yang ada
di bawah saraf otonom seperti jantung, peredaran darah, sistem pencernaan. Bila
seseorang mengalami kecemasan maka satu atau lebih dari organ-organ tubuh
akan meningkatkan reaksinya, seperti detak jantung menjadi cepat, berke-ringat
banyak, tidak bisa tidur nyenyak, nyeri kepala.
b) Reaksi Psikologis
Reaksi psikologis merupakan reaksi berupa peningkatan atau penurunan
dorongan untuk berprilaku berupa perasaan susah konsentasi, tegang, bingung,
takut dan khawatir. (Srimiyati, 2020)
2.3.4 Tanda Klinis Kecemasan
Kecemasan memiliki beberapa tanda-gejala klinis dan juga karakteristik
diagnostik. Tanda-gejala klinis mencakup gejala fisiologis, psikologis atau
emosional, perilaku, intelektual atau kognitif dan karakteristik diagnostik (Louise,
2012).
1. Gejala Fisiologis
a. Denyut nadi, tekanan darah, dan pernapasan meningkat.
b. Dispnea atau hiperventilasi.
c. Diaforesis.
d. Vertigo atau pusing.
e. Penglihatan kabur.
f. Anoreksia, mual, dan muntah.
g. Frekuensi buang air kecil.
h. Sakit kepala.
i. Insomnia atau gangguan tidur.
j. Kelemahan atau ketegangan otot
k. Sesak di dada.
l. Telapak tangan berkeringat.
m. Pupil terdilatasikan.
2. Gejala Psikologis atau Emosional
a. Penarikan.
b. Depresi.
c. Pemarah.
d. Menangis.
e. Kurang minat atau apatis.
f. Hiperkritis.
g. Kemarahan..
h. Perasaan tidak berharga, ketakutan, atau ketidakberdayaan.
3. Gejala Perilaku
a. Mondar-mandir.
b. Ketidakmampuan untuk duduk diam.
c. Meraba rambut terus menerus atau kebiasaan gugup lainnya.
d. Kewaspadaan berlebihan.
4. Intelektual atau Gejala Kognitif
a. Kehilangan minat.
b. Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi.
c. Tidak tanggap terhadap rangsangan eksternal.
d. Penurunan produktivitas.
e. Kesibukan.
f. Kelupaan.
g. Orientasi ke masa lalu, bukan masa kini atau masa depan.
h. Perenungan. (Swarjana, 2022)
2.3.5 Kecemasan pada Wanita Menopause
Perubahan hormon dalam siklus reproduksi seorang wanita dapat
memberikan pengaruh besar atas kesehatan emosional dan mentalnya. Fluktuasi
hormon estrogen dan progesteron berperan pada perubahan suasana hati. Selama
menopause, hormon- hormon berfluktuasi kemudian turun drastis, sering
mempengaruhi suasana hati dan akan meningkatkan gejala kecemasan pada diri
wanita.
Kecemasan sering kali terjadi sepanjang masa premenopause, menopause dan
pasca-menopause. Berbagai faktor yang kompleks dapat berkontribusi menimbulkan
kecemasan selama dalam masa transisi kehidupan seorang wanita. Menjelang
menopause (premenopause) banyak wanita yang mengalami kecemasan. Wanita
pada masa premenopause mengalami kecemasan sebanyak 79.49% (Taikamatsu,
2004) Kecemasan tersebut berhubungan dengan pekerjaan, masalah keluarga dan
kesulitan hidup. Kecemasan bisa muincul sebagai lkegelisahan, kekhawatiran,
ketakutan tertentu, serangan panik berulang, atau gangguan pikiran
Menopause sering terjadi bersamaan dengan adanya ketegangan hidup yang
lain dalam kehidupan wanita dalam keluarga dan masyarakat. Kekhawatiran dan
tanggung jawab yang kompleks, stres kronis dapat membuat seorang wanita usia
setengah baya rentan terhadap kecemasan. Tekanan umum dari peran ganda seorang
wanita tengah baya misalnya dalam mengurus anak-anak dan orang tua yang
mengalami penuaan, serta masalah yang berhubungan dengan (perceraian status
janda), finansial, dan karier Tekanan emosional yang muncul dari cara seorang
wanita memandang dirinya serta penampilannya dalam kehidupan dapat
berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya secara fisik seorang wanita. Beberapa hal
yang pantas diperhatikan tentang menopause antara lain pengertian menopause,
fisiologi menopause, tahap-tahap menopause, gejala menopause yang mungkin akan
timbul, dan faktor-faktor yang mempengaruhi. (Srimiyati, 2020)
2.3.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan
Bermacam-macam pendapat tentang sebab-sebab yang menimbulkan
cemas Ada yang mengatakan akibat tidak terpenuhinya keinginan keinginan
seksual, karena merasa diri (fisik) kurang dan karena pengaruh pendidikan waktu
kecil, atau sering terjadi frustasi karena tidak tercapainya yang diinginkan baik
material maupun sosial Mungkin juga akibat dipelajari dan ditiru, atau dari rasa
tidak berdaya, tidak ada rasa kekeluargaan dan sebagainya. Dengan ringkas dapat
dikatakan, bahwa cemas itu timbul karena orang tidak mampu menyesuaikan diri
dengan dirinya, dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah:
1. Faktor Internal
a. Usia
Permintaan bantuan dari sekeliling menurun dengan bertambahnya usia,
pertolongan diminta bila ada kebutuhan akan kenyamanan, reasurance dan
nasehat-nasehat.
b. Pengalaman
Individu yang mempunyai modal kemampuan pengalaman menghadapi
stres dan punya cara menghadapinya akan cenderung lebih menganggap
stres yang bertapun sebagai masalah yang bisa diselesaikan. Tiap
pengalaman merupakan sesuatu yang berharga dan belajar dari
pengalaman dapat meningkatkan ketrampilan menghadapi stres.
c. Aset Fisik
Orang dengan aset fisik yang besar, kuat dan garang akan menggunakan
aset ini untuk menghalau stres yang datang mengganggu.
2. Faktor eksternal
a. Pengetahuan
Seseorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan kemampuan intelektual
akan dapat meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri dalam
menghadapi stres mengikuti berbagai kegiatan untuk meningkatkan
kemampuan diri akan banyak menolong individu tersebut.
b. Pendidikan
Peningkatan pendidikan dapat pula mengurangi rasa tidak mampu untuk
menghadapi stres. Semakin tinggi pendidikan sesorang akan mudah dan
semakin mampu menghadapi stres yang ada.
c. Financial Material Aset berupa harta yang melimpah tidak akan
menyebabkan individu tersebut mengalami stres berupa kekacauan
finansial, bila hal ini terjadi dibandingkan orang lain yang aset finasialnya
terbatas.
d. Keluarga
Lingkungan kecil dimulai dari lingkungan keluarga, peran pasangan dalam
hal ini sangat berarti dalam memberi dukungan. Istri dan anak yang penuh
pengertian serta dapat mengimbangi kesulitan yang dihadapi suami akan
dapat memberikan bumper kepada kondisi stres suaminya.
e. Obat
Dalam bidang Psikiatri dikenala obata-obatan yang tergolong dalam
kelompok anti ansietas. Obat obat ini mempunyai kasiat mengatasi
ansietas sehingga penderitanya cukup tenang.
f. Sosial Budaya Suport.
Dukungan sosial dan sumber sumber masyarakat serta lingkungan sekitar
individu akan sangat membantu seseorang dalam menghadapi stresor,
pemecahan asalah bersama-sama dan tukar pendapat dengan orang
disekitarnya akan membuat situasi individu lebih siap menghadapi stres
yang akan datang
Menurut Nadesul (2008) kecemasan yang timbul saat menghadapi
menopause biasanya meliputi perasaan gelisah dan khawatir akibat
adanya:
1. Perubahan fisik menua, kulit kering, keriput, rambut rontok, gigi
mudah goyang.
2. Perubahan sosial tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang
3. Perubahan seksual tidak puas dengan keadaan, kurang bergairah,
dilanda rasa kesepian, takut ditinggal suami.
Perubahan tersebut membuat seseorang merasa penampilannya tidak utuh lagi
sebagai wanita. (Srimiyati, 2020)
2.3.6 Berbagai Kecemasan Wanita Menghadapi Premenopause Menurut Beberapa Ahli
Hasil penelusuran kepustakaan terkait menopause, pengaruh pendidikan
kesehatan, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap gejala psikologis (kecemasan) pada
wanita premenopause, hal- hal yang terkait dengan pembahasan ini antara lain:
1. Takamatsu (2004), Study of psychosocial factors in Japanese patients
suffering from menopausal disorders. Subyek sebanyak 97 wanita berusia 40-
60 tahun yang mengalami gangguan menopause di klinik menopause Dalam
pembahasan ini sebanyak 79,4% memiliki beberapa masalah dengan keluarga
atau kerabat mereka. Kecemasan yang berhubungan dengan pekerjaan atau
kesulitan hidup sering terjadi pada pasien masa premenopause. Keluhan
sindrom sarang kosong dilaporkan tinggi pada perempuan yang dilakukan
ovariektomi, namun kecemasan terhadap penuaan banyak terjadi pada
menopause alami. Di antara mereka yang bekerja sebanyak 43,8% memiliki
masalah yang berhubungan dengan pekerjaan. Perselisihan dengan saudara
sedarah sebanyak (26,8%) dan kecemasan terhadap penuaan sebanyak
(16,5%). Kesimpulan pada pembahasan ini yaitu, bahwa masalah dengan
keluarga dan kesehatan berpengaruh terhadap gangguan psikososial yang
berdampak pada gangguan menopause. Subyek pada penelitian Takamatsu
(2004) adalah wanita berusia 40-60 tahun dan sudah mengalami gangguan
menopause
2. Indrawati (2008), dengan judul "Kecemasan wanita menghadapi
pramenopause ditinjau dari dukungan suami dan kepercayaan diri. Penelitian
menggunakan metode non experimental dengan rancangan cross sectional.
Pengambilan samplemenggunakan purposivesampling. Dalam pembahasan
tersebut terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial suami dan
kepercayaan diri akan semakin rendah kecemasan wanita menghadapi
pramenopause. Menurut Indrawati (2008) menggunakan metode non
experimental dengan rancangan cross sectional. Sementara penelitian yang
dilakukan menggunakan metode pra- eksperimerital dengan rancangan one
group pretest-posttest tanpa kontrol, fokusnya pada pengaruh pendidikan
kesehatan menggunakan booklet terhadap pengetahuan dan gejala kecemasan,
subyeknya para wanita sebelum dan menjelang memasuki masa menopause.
Kelompok subjek diobservasi sebanyak dua kali yakni sebelum dan setelah
perlakuan. Perbedaan hasil dari kedua pengukuran tersebut dianggap sebagai
efek perlakuan.
3. Senba and Matsuo (2010) Effect of a health education program on climacteric
women. Penelitian dilakukan di jepang, data dikumpulkan menggunakan The
Simplified Menopausal Index (SMI), The Hospital Anxiety and Depression
Scale (HADS), The Medical Outcomes Study dengan 36-Item Short Form
Health Survey. Menggunakan metode experimental dengan rancangan Quasi
experiment. Subyek penelitian 22 wanita klimakterium usia 45-65 tahun
berperan sebagai kelompok intervensi Dibandingkan dengan nilai pretest, skor
SMI secara signifikan meningkat pada post-test dan follow up. Skor HADS
post-test cenderung membaik. Perubahan kognitif secara signifikan meningkat
dan ANS teraktivasi lebih baik. Terbukti bahwa program pendidikan
kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan wanita klimakterik, berpengaruh
positif terhadap pengelolaan gejala menopause, meningkatkan kualitas hidup
dan aktivitasi sistem sarafotonom.
4. Wijayanti (2011) dengan topik "Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap
pengetahuan dan kecemasan wanita menghadapi pramenopause". Penelitian
menggunakan metode Quasi-exsperiment. Populasi dalam penelitian ini
adalah wanita usia masa menopause usia 40-50 tahun. Pengambilan sampel
dengan purposive sampling dengan jumlah sampel 62 orang. Hasil penelitan
ada pengaruh yang signifikan pendidikan kesehatan terhadap kecemasan, atau
pendidikan kesehatan mampu menurunkan kecemasan (p<0,05).
5. Zhou (2011), Judul penelitian "The simtomatologi climacteric syndrome:
apakah berhubungan dengan faktor fisik atau gangguan psikologis pada pasien
perimenopause/pascamenopause dengan gangguan kecemasan-depresi
Penelitian menghadapi pramenopause". Penelitian menggunakan metode
Quasi-exsperiment. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita usia masa
menopause usia 40-50 tahun. Pengambilan sampel dengan purposive sampling
dengan jumlah sampel 62 orang. Hasil penelitan ada pengaruh yang signifikan
pendidikan kesehatan terhadap kecemasan, atau pendidikan kesehatan mampu
menurunkan kecemasan (p<0,05) (Srimiyati, 2020)
2.3.7 Cara Pengukuran Kecemasan
Dalam penelitian, variabel kecemasan dapat diukur menggunakan
instrumen penelitian yang khusus mengukur kecemasan. Ada beberapa
instrumen atau alat ukur yang dapat digunakan, yaitu dengan
menggunakan kuesioner yang sudah baku atau peneliti dapat
mengembangkan sendiri kuesioner kecemasan, kemudian melakukan uji
validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Sementara itu, peneliti juga
dapat menggunakan kuesioner baku yang telah ada dan telah sering
digunakan sebagai instrumen penelitian.
1. The Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A)
Salah satu pengukuran kecemasan yang banyak digunakan adalah
The Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) yang dikembangkan oleh
Professor Max Hamilton tahun 1959. HAM-A terdiri dari 14 item
pernyataan atau dimensi yang meliputi (Hamilton, 1959) (Townsend and
Morgan, 2017)
1) Anxious mood
2) Tension
3) Fear
4) Insomnia
5) Intellectual
6) Depressed mood
7) Somatic ( muscular)
8) Somatic ( sensory)
9) Cardiovascular symptoms
10) Gastrointestinal symptoms
11) Genitourinary symptoms
12) Autonomic symptoms
13) behavior at interview
skor
Tiap item pernyataan memiliki skor 0 s.d. 4:
Skor 0 = tidak ada (not present)
Skor 1 = ringan (mild)
Skor 2 = sedang (moderate)
Skor 3 = berat (severe)
Skor 4 = sangat berat (very severe)
Total skor dan level kecemasan
Skor 14-17 = kecemasan ringan
Skor 18-24 = kecemasan sedang
Skor 25-30 = kecemasan berat
(Hamilton, 1959), (Townsend dan Morgan, 2017)
Skor <17 = kecemasan ringan
Skor 18-24 = kecemasan ringan sampai sedang
Skor 25-30 = kecemasan sedang hingga berat
(Maust dkk., 2012)
2.4 KERANGKA TEORI
Faktor- faktor yang mempengaruhi
kecemasan
1. Faktor internal
a. Usia
b. Pengalaman
c. Aset fisik
KECEMASAN
WANITA PRE
MENOPAUSE
2. Faktor eksternal
a. Pengetahuan
b. Pendidikan
c. Financial material
d. Keluarga
e. Obat
f. Sosial budaya