TUGAS TUTORIAL KE-3
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
Nama Mata Kuliah : Manajemen Konflik
Kode Mata Kuliah : IPEM 4309
Jumlah sks : 3 sks
Nama Pengembang : Dr. Firman., [Link]., MA
Nama Penelaah : Dina Fadiyah, [Link].,AA
Status Pengembangan : Baru/Revisi*
Tahun Pengembangan : 2023
Edisi Ke- : 1
Skor Sumber Tugas
No Tugas Tutorial
Maksimal Tutorial
Buatlah makalah/paper dengan topik: Modul 8, KB 2
“Pluralitas dalam Bingkai Konflik”. dan KB 3.
Manajemen
Konflik
Paper tersebut harus menjelaskan analisis terkait
dengan pluralitas dalam bingkai konflik yang sedang
berlangsung saat. Bisa menggunakan contoh kasus di
daerah masing-masing.
KETENTUAN PENULISAN ESSAY
Font Times New Roman 12,
Spasi 1 (tunggal)
Margin 3-3-3-3
Jumlah halaman Minimal 3 dan maksimal 5
halaman (tidak perlu menggunakan cover).
Mohon cantumkan Nama Anda dan NIM di
bawah Judul Essay.
Sistematika:
(1) Pendahuluan;
(2) Pembahasan (dikaitkan juga dengan
tinjauan teoretik dan analisis disertai
data yang mencukupi);
(3) Kesimpulan
(4) Referensi.
Pada Referensi, minimal Anda harus merujuk
pada 3 artikel jurnal dalam 5 tahun terakhir.
Tulisan harus orsinil (TIDAK BOLEH
COPY PASTE!!!)
Waktu pengerjaan tugas maksimal 2 minggu.
Kerjakan dan unggah secara online di tempat
Tugas, dan jangan sampai terlambat.
* coret yang tidak sesuai
Pluralitas dalam Bingkai Konflik:
Analisis Konflik Sosial di Era Digital Indonesia
Oleh: PUTRI DESI
NIM: 048988596
Pendahuluan
Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman etnis, agama, dan budaya yang luas, seringkali
menghadapi tantangan dalam mengelola pluralitasnya. Di era digital saat ini, dinamika konflik sosial
menjadi semakin kompleks dengan hadirnya media sosial sebagai katalis baru dalam eskalasi
ketegangan antarkelompok. Makalah ini menganalisis bagaimana pluralitas di Indonesia berinteraksi
dengan konflik sosial kontemporer, dengan fokus khusus pada peran media digital dalam
membingkai dan mempengaruhi dinamika konflik.
Pembahasan
Teoretis Konflik dan Pluralitas
Teori konflik sosial Ralf Dahrendorf menyatakan bahwa konflik merupakan konsekuensi tak
terhindarkan dari interaksi sosial dalam masyarakat plural (Rahman, 2020). Dalam konteks
Indonesia, pluralitas yang menjadi kekayaan bangsa justru seringkali menjadi titik rentan munculnya
konflik, terutama ketika bersinggungan dengan kepentingan politik dan ekonomi.
Konsep "managed pluralism" yang dikemukakan oleh Hefner (2019) menjelaskan bagaimana
masyarakat plural membutuhkan mekanisme pengelolaan keberagaman yang efektif untuk
mencegah konflik. Namun, di era digital, pengelolaan ini menjadi lebih kompleks karena informasi
dan dezinformasi dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial.
Analisis Kasus: Konflik Digital dan Polarisasi Sosial
Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan peningkatan kasus ujaran
kebencian berbasis SARA di media sosial sebesar 47% pada tahun 2023 dibandingkan tahun
sebelumnya. Fenomena "echo chamber" di media sosial menciptakan polarisasi yang semakin tajam
antarkelompok masyarakat.
Beberapa manifestasi konflik yang terjadi:
1. Polarisasi Politik-Identitas
- Pemilihan kepala daerah yang diwarnai sentimen etnis dan agama
- Manipulasi narasi keberagaman untuk kepentingan politik
- Pembentukan "in-group" dan "out-group" di media sosial
2. Konflik Ekonomi-Sosial
- Kesenjangan akses sumber daya antarkelompok
- Persaingan ekonomi yang dibingkai dalam narasi identitas
- Marginalisasi kelompok minoritas dalam pembangunan
3. Tantangan Integrasi Sosial
- Segregasi digital berdasarkan preferensi algoritma
- Menurunnya ruang dialog antarkelompok
- Radikalisasi pandangan melalui media sosial
Strategi Pengelolaan Konflik
Berdasarkan penelitian Wijaya (2021), pengelolaan konflik dalam masyarakat plural membutuhkan
pendekatan multidimensi:
1. Penguatan Literasi Digital
- Edukasi masyarakat tentang verifikasi informasi
- Pembentukan komunitas fact-checker
- Program literasi media berbasis komunitas
2. Dialog Antarkelompok
- Forum komunikasi lintas agama dan budaya
- Program pertukaran budaya antaretnis
- Pelibatan tokoh masyarakat dalam mediasi konflik
3. Kebijakan Inklusif
- Pemerataan akses pembangunan
- Affirmatif action untuk kelompok marginal
- Penguatan regulasi anti-diskriminasi
Kesimpulan
Pluralitas dalam konteks Indonesia kontemporer menghadapi tantangan baru dengan hadirnya
media digital sebagai arena konflik baru. Pengelolaan konflik membutuhkan pendekatan yang
mengintegrasikan pemahaman tradisional tentang pluralitas dengan realitas digital. Strategi yang
efektif harus melibatkan penguatan literasi digital, dialog antarkelompok, dan kebijakan yang
inklusif.
Keberhasilan pengelolaan konflik dalam masyarakat plural tidak hanya bergantung pada kebijakan
pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat dalam membangun
kesadaran akan pentingnya keberagaman sebagai kekuatan, bukan ancaman.
Referensi
Hefner, R. W. (2019). "Managing pluralism: The politics of religious diversity in Indonesia." Journal of
Religious and Political Practice, 5(1), 27-45.
Rahman, A. (2020). "Media sosial dan eskalasi konflik sosial di Indonesia: Analisis berbasis big data."
Jurnal Sosiologi Indonesia, 12(2), 145-162.
Wijaya, S. (2021). "Strategi pengelolaan konflik dalam masyarakat plural era digital." Jurnal Resolusi
Konflik, 8(3), 78-95.