0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan9 halaman

Sop (Standar Operasional Prosedur) Inventarisasi Alat Dan Bahan Di Laboratorium Ipa SMP Negeri 7 Kota Magelang

Diunggah oleh

Dyah Ayu K.N
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan9 halaman

Sop (Standar Operasional Prosedur) Inventarisasi Alat Dan Bahan Di Laboratorium Ipa SMP Negeri 7 Kota Magelang

Diunggah oleh

Dyah Ayu K.N
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR)

INVENTARISASI ALAT DAN BAHAN DI LABORATORIUM IPA

SMP NEGERI 7 KOTA MAGELANG

A. TUJUAN
1. Tertibnya mekanisme inventarisasi perlatan leboratorium.
2. Teerkoordinasinya unit kerja dan personil yang terlibat dalam
inventarisasi laboratorium.
3. Usaha untuk memanfaatkan penggunaan setiap peralatan laboratorium
secara maksimal.
4. Terkontrolnya pemrosesan inventaris laboratorium sesuai dengan
pelaksanaan sistem penjaminan mutu internal.
B. RUANG LINGKUP
SOP ini meliputi prosedur administrasi pengelolaan alat dan bahan,
pengecekan alat dan bahan yang sudah ada, inventarisasi alat dan bahan baru
di SMP Negeri 7 Magelang.
C. DEFINISI
SOP (Standar Operasional Prosedur) inventarisasi adalah kegiatan
melaksanakan pengurusan penyelenggaraan, pengaturan, pencatatan dan
pendaftaran alat dan bahan di laboratorium IPA SMP Negeri 7 Magelang.
D. WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB
1. Kepala Sekolah
2. Kepala Laboratorium IPA
3. Guru IPA
E. BAHAN ACUAN
a. PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
b. Buku pedoman Teknik Pengelolaan Laboratorium IPA
F. PROSEDUR
1. Administrasi pengelolaan alat dan bahan
Kepala laboratorium memerintahkan teknisi untuk membuat daftar
inventarisasi alat dan bahan setiap 6 bulan.
2. Pengecekan alat dan bahan yang sudah ada
i. Laboran mencatat jumlah alat yang tersedia di laboratorium.
ii. Laboran mencatat fungsi kerja alat, cara kerja dari setiap alat di
laboratorium.
[Link] rutin memeriksa kondisi alat dan bahan di laboratorium.
3. Inventarisasi alat dan bahan baru
i. Laboran memberikan label penomoran pada alat dan bahan di
laboratorium.
ii. Jika ada alat dan bahan laboratorium yang baru maka laboran
mencatat tanda pengenal alat dan bahan kaboratorium yaitu merk/tipe,
nomor alat dan tahun. Jika tidak laboran menyerahkan laporan daftar
inventarisasi alat dan laboratorium yang telah diisi kepada kepala
laboratorium.
SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR)

KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM IPA

SMP NEGERI 7 KOTA MAGELANG

A. TUJUAN
Prosedur ini dibuat untuk melindungi seluruh civitas akademika termasuk
guru, laboran, siswa dan staf lainnya yang menggunakan laboratorium
dan/atau melakukan kegiatan di laboratorium, agar terhindar bahaya
kecelekaan dan penyakit akibat aktivitas atau kerja di laboratorium.
Menjamin bahwa setiap kegiatan praktikum di laboratorium dilaksanakan
sesuai dengan standar keselamatan yang telah ditetapkan.
B. RUANG LINGKUP
Prosedur ini meliputi pengertian, petunjuk umum keselamatan kerja, jenis
bahaya dan pencegahan.
C. DEFINISI
Standar Operasional Prosedur (SOP) Keselamatan Kerja di Laboratorium
adalah suatu pedoman yang disusun berdasarkan prinsip Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) yang mengatur tentang pelaksanaan aktivitas di
laboratorium dan memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan di
laboratorum berjalan dengan aman dan sesuai standar.
D. TARGET MUTU
1. Setiap tenaga kerja atau laboran dan orang lain yang berada di
laboratorium mendapat perlindungan atas keselamatannya.
2. Setiap bahan kimia dan peralatan dapat dipakai, dipergunakan
secara aman dan efisien.
3. Proses percobaan dalam laboratorium berjalan lancar tanpa gangguan
akibat insiden atau kesalahan operasional.
E. BAHAN ACUAN
a. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
b. UU No. 23 tahun 1992 Tentang kesehatan.
c. PermenLH No. 6 Tahun 2009 Tentang Laboratorium Lingkungan.
d. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan
Limbah Berbahaya dan Beracun.
F. PETUNJUK UMUM KESELAMATAN KERJA
1. Pengguna ruang laboratorium dilarang keras untuk merokok diruangan
lab, serta makan dan minum di dalam ruang laboratorium.
2. Semua pekerjaan dan pemakaian bahan-bahan kimia yang berbahaya
dengan uap yang beracun atau memicu pernafasan, harus dilaksanakan
di dalam almari asam.
3. Hati-hati dengan semua pekerjaan terkait pemanasan. Hindari percikan
cairan atau terhirupnya uap selama bekerja.
4. Jauhkan semua senyawa-senyawa organik yang mudah untuk
menguap, seperti; alkohol, eter, kloroform, aseton, dan spirtus dari api
secara terbuka dikarenakan bahan-bahan tersebut mudah terbakar.
Disarankan untuk pemanasan dilakukan dengan menggunakan
waterbath.
5. Jika pemanasan menggunakan api yang terbuka, nyalakan pembakar
spirtus atau yang biasa disebut bunsen dengan korek api yang biasa,
jangan menyalakannya dengan pembakar spirtus yang lain mudah
untuk menyala, hal tersebut dilakukan agar menghindari terjadinya
letupan api.
6. Mematikan api pada pembakar spirtus dengan menutup sumbu dari
spirtus tersebut, jangan mematikan api dengan meniup. Hal tersebut
dilakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran atau letupan api
didalam ruang laboratorium.
7. Jangan mencoba memakan atau mencicipi bahan kimia atau
menciumlangsung asap atau uap yang ada di mulut tabung reaksi.
Akan tetapi, kipaslah terlebih dahulu uap ke arah muka.
8. Jangan sekali-kali mencoba menghisap pipet melalui mulut untuk
mengambil larutan asam atau basa kuat seperti: HNO3, HCl, H2SO4,
Asam asetat glasial, NaOH, NH4OH, dan lain-lain. Menggunakan
pipet dengan bola penghisap untuk membawa bahan-bahan tersebut
atau bahan yang beracun lainnya ke dalam alat yang akan digunakan di
ruang laboratorium.
9. Segeralah tutup kembali dan kembalikan ke tempat semula bahan-
bahan kimia yang telah tersedia di dalam botol tertutup. Hal tersebut
dilakukan untuk mencegah terjadinya inhalasi dari bahan-bahan.
10. Jangan sampai menumpahkan atau membuang bahan-bahan kimia,
terutama asam atau basa pekat, di meja kerja atau lantai ruang
laboratorium. Jika hal tersebut terjadi, segeralah melaporkan pada
laboran atau petugas laboratorium yang ada di ruangan tersebut.
11. Jika terjadi kontak dengan bahan-bahan kimia yang berbahaya, korosif.
ataupun yang beracun, segeralah bilas dan cuci dengan air sebanyak-
banyaknya. Kemudian segeralah laporkan kepada laboran atau
petugaslaboratorium yang ada diruangan.
12. Jika terjadi luka karena tergores benda tajam, tindakan pertama yang
dilakukan adalah mengupayakan agar luka tidak kemasukkan bibit
penyakit. Jika terjadi luka kecil sapulah dengan betadine atau obat
merah.
13. Jangan mencoba menggosok-gosok mata atau anggota badan yang lain
dengan tangan. Karena mungkin tangan sudah terkontaminasi oleh
bahan- bahan kimia.
14. Apabila bekerja dengan bahan uji yang berasal dari bahan biologis
hendaknya berhati-hati. Contohnya saliva, ada kemungkinan terinveksi
kuman atau virus berbahaya seperti hepatitis
a. Gunakan sarung tangan sekali pakai.
b. Apabila kontak atau terpercik bahan tersebut segera cuci tangan
danbersihkan.
c. Gunakan sabun dan sterilisasi (direndam larutan Natrium hipoklorit
0,5%30 menit) untuk mencuci alat-alat praktikum.
d. Gunakan air sabun dan larutan Natrium hipoklorit 0.5% untuk
membersihkan meja laboratorium.
15. Gunakan jerigen penampungan limbah sesuai dengan karakteristik
limbahcair untuk menampung larutan yang telah selesai digunakan.
16. Meja dan alat kerja harus dalam keadaan bersih dan rapi seperti semula
ketika akan ditinggalkan.
G. JENIS BAHAYA DAN PENCEGAHAN
Bahaya bahaya yang mungkin terjadi dalam laboratorium:
1. Bahaya api
Dalam laboratorium terdapat resiko terjadi kebakaran bahan
disinfektan yang mudah menyala (flammable) dan beracun yang
bersumber dari bahan kimia maupun kompor. Kebakaran dapat terjadi
apabila ada tiga unsur yaitu bahan yang mudah terbakar,
oksigen, dan panas.
Akibat:
a. Timbul luka bakar ringan maupun berat, hingga kematian
b. Dapat menyebabkan keracunan apabila tidak berhati-hati.
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
1) Menggunakan kontruksi bangunan yang tahan api.
2) Membuat sistem penyimpanan yang baik untuk bahan yang
sekiranya mudah terbakar.
3) Dilakukan pengawasan.
4) Mengatur sistem tanda kebakaran dengan:
a) Manual: memungkinkan seseorang menyatakan tanda
bahaya sesegera mungkin.
b) Otomatis: mendeteksi kebakaran lalu memberi tanda secara
otomatis.
5) Disediakan jalur evakuasi.
6) Disediakan perlengkapan penanggulangan kebakaran.
7) Membuat ruangan penyimpanan dan penanganan zat kimia
yang benar dan aman.
2. Bahaya Fisik
Bahaya fisik dapat mencakup cedera akibat peralatan laboratorium
seperti pisau, pipet, bahan kaca, atau benda tajam lainnya.
Pencegahan :
1) Gunakan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan,
kacamata pelindung, dan jas lab.
2) Hindari penggunaan alat yang rusak atau retak.
3) Pastikan tempat kerja bersih dari benda-benda tajam atau yang
bisa menyebabkan cedera.
4) Menyediakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
5) Memantau jalanya kegiatan praktikum yang dilakukan oleh siswa
3. Bahaya Kimia
Dalam uji makanan, bahan kimia tertentu digunakan untuk mendeteksi
kandungan zat-zat tertentu (misalnya, reagen untuk uji glukosa,
protein, dan lipid). Bahan-bahan ini dapat berbahaya jika tertelan,
terhirup, atau terkena kulit.
Pencegahan:
1) Gunakan sarung tangan dan masker saat menangani bahan kimia.
2) Hindari kontak langsung dengan kulit dan mata.
3) Baca label dan petunjuk penggunaan bahan kimia dengan cermat.
4) Buang sisa bahan kimia sesuai prosedur yang [Link]:
4. Bahaya Biologis
Uji makanan dapat melibatkan bahan biologis seperti bakteri atau
enzim yang digunakan dalam proses pengujian, yang berpotensi
menimbulkan infeksi atau kontaminasi.
Pencegahan:
1) Gunakan teknik aseptik saat bekerja dengan bahan biologis.
2) Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah praktik.
3) Sterilkan alat-alat yang digunakan dan buang sampah biologis di
tempat yang sesuai.
4) Hindari kontak langsung dengan bahan biologis tanpa APD yang
sesuai.
5. Bahaya Termal
Penggunaan panas dalam beberapa uji makanan (misalnya,
penggunaan pemanas untuk mereaksikan bahan kimia) dapat
menyebabkan luka bakar.
Pencegahan:
1) Gunakan penjepit atau alat khusus untuk memegang benda panas.
2) Biarkan benda yang baru dipanaskan mendingin sebelum
dipegang.
3) Gunakan pelindung panas jika diperlukan.

Anda mungkin juga menyukai