0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan16 halaman

KLP 4

Diunggah oleh

forumllaj.provntb
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan16 halaman

KLP 4

Diunggah oleh

forumllaj.provntb
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

LATAR BELAKANG
Good governance merupakan wujud dari penerimaan akan penting suatu
perangkat peraturan atau tata kelola yang baik untuk mengatur hubungan, fungsi
dan kepentingan berbagai pihak dalam urusan bisnis maupun pelayanan publik.
Prinsip – prinsip Good governance menjadi sangat penting dalam mewujudkan
pemerintahan yang baik. Berawal dari arti good governance maka perlu
penyediaan informasi yang relevan dan menggambarkan kinerja (performance)
sektor publik yang sangat penting dalam memberikan pertanggungjawaban akan
segala aktivitas kepada semua pihak yang berkepentingan.
Pemerintahan yang baik secara konseptual, mempunyai pengertian bahwa
kata baik atau good dalam istilah kepemerintahan yang baik yang memiliki
makna bahwa good governance telah mengandung dua pemahaman
1. nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat, dan nilai-nilai yang
dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan (nasional)
kemandirian, pembangunan, berkelanjutan, dan keadilan sosial.
2. Aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan
tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut
Hal ini semakin sangat penting untuk dilakukan atau diaplikasikan dalam era
reformasi melalui pemberdayaan peran lembaga-lembaga kontrol sebagai
pengimbang dalam kekuasaan pemerintah. Untuk menerapkan praktik good
governance maka dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kapasitas
pemerintah, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar
Secara teoritis good governance mengandung arti bahwa pengelolaan
kekuasaan yang didasarkan pada aturan-aturan hukum yang berlaku,
pengambilan kebijakan secara transparan, serta pertanggungjawaban kepada
masyarakat. Sebagai organisasi sektor publik, pegawai
dituntut agar memiliki kinerja yang berorientasi pada kepentingan masyarakat
dan mendorong pemerintah agar senantiasa tanggap akan tuntutan
lingkungannya, dengan berupaya memberikan pelayanan terbaik secara
transparan dan berkualitas serta adanya pembagian tugas yang baik pada
pemerintahan. Kinerja pegawai yang mencermin pada prinsip good governance
dapat mendukung terlaksananya pemerintahan yang demokratis dan masyarakat
dapat memiliki kepercayaannya terhadap kinerja pegawai, bahwa disetiap kinerja
pegawai yang mencerminkan pada prinsip-prinsip good governance diharapakan
dapat memberikan pelayanan publik yang lebih baik kepada masyarakat.
Dalam mewujudkan good governance tentu mempunyai banyak hal dan cara
yang perlu dilakukan, dan dapat dilihat dari kinerja pegawai yang mampu memahami
nilai
dan tradisi dalam sebuah birokrasi pemerintah yang mencirikan praktik good
governance, dan good governance sangat memerlukan perubahan yang
menyeluruh pada semua unsur kelembagaan yang terlibat dalam praktik good
governance meliputi pemerintah sebagai representasi negara yaitu pelaku pasar
dan dunia usaha, serta masyarakat sipil. Perlu diberdayakan agar kesemuanya
dapat berperan secara optimal dan saling melengkapi dalam mewujudkan
kesejahteraan masyarakat, mengingat pengembangan good governance memeliki
kompleksitas yang tinggi dan kendala yang besar maka diperlukan sebuah
langkah strategis untuk memulai pembaharuan terhadap praktik good
governance, dan pengembangan good governance akan lebih mudah jika dimulai
dari sektor pelayanan publik
Tujuan suatu negara tidak lain untuk mewujudkan masyarakat dengan kehidupan
yang baik (Good Life), dimana yang terdapat dalam fungsi negara yaitu
melaksanakan kepentingan rakyat dengan norma yang berlaku untuk mewujudkan cita-
cita negara. Masyarakat sebagai pelaksana dan tingkatan pemerintah negara sebagai
pengelola sumber daya pembangunan. Terjadi berbagai permasalahan seperti krisis
ekonomi di Indonesia antara lain menunjukkan tatacara penyelenggara pemerintah dalam
mengelola sumber daya pembangunan yang tidak diatur dengan baik. Akibatnya
menimbulkan masalah-masalah yang lain yang menyebabkan masyarakat menjadi
terhambat dalam proses pengembangan ekonomi Indonesia, sehingga dampak negative
seperti peningkatan penganguran, jumlah penduduk miskin yang bertambah, tingkat
kesehatan yang menurun, dan bahkan konflik-konflik yang terjadi diberbagai daerah.
Penyelenggara pemerintah yang baik sangat dibutuhkan yang dimana menjadi
landasan pembangunan dan pembuatan kebijakan negara yang demokratis dalam era
globalisasi. Oleh karena itu tata pemerintahan yang baik perlu segera dilakukan agar
segala permasalahan yang timbul dapat diminimalkan , dipecahkan dan juga
dipulihkannya segala bidang dalam masyarakat agar dapat berjalan dengan baik dan
lancar. Disadari, dalam mewujudkan tata pemerintahan membutuhkan waktu yang tidak
singkat dan upaya yang didukung dari segala pihak dan dilakukan secara terus – menerus.
Selain itu aparatur negara, pihak swasta dan masyarakat harus bersatu dalam
mewujudkan tata pemerintahan yang baik.
Lahirnya wacana good governance berakar dari penyimpangan-penyimpangan
yang terjadi dalam praktek pemerintahan,seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) ,
Penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat tidak transparan, nonpartisipatif serta
sentralisasi , menumbuhkan rasa tidak percaya dikalangan masyarakat bahkan
menimbulkan antipati terhadap pihak pemerintah. Masyarakat sangat tidak puas terhadap
kinerja pemerintah yang selama ini dipercaya sebagai penyelenggara urusan publik.
Berbagai ketidakpuasan dan kekecewaan akhirnya melahirkan tuntutan dari masyarakat
untuk mengembalikan dan melaksanakan penyelenggaraan pemerintah yang ideal,
sehingga Good Governance tampil sebagai upaya untuk menjawab berbagai keluhan
masyarakat atas kinerja birokrasi yang telah berlangsung.

B. LANDASAN TEORI
Berbagai pendapat yang dikemukakan para ahli dalam memahami arti good governance:
1. Robert Charlick dalam Pandji Santosa (2008:130) mendefinisikan good
governance sebagai pengelolaan segala macam urusan publik secara efektif melalui
pembuatan peraturan dan atau kebijakan yang baik demi untuk mempromosikan nilai-
nilai kemasyarakatan.
2. Bintoro Tjokroamidjojo memandang Good Governance sebagai “Suatu bentuk
manajemen pembangunan, yang juga disebut sebagai administrasi pembangunan,
yang menempatkan peran pemerintah sentral yang menjadi Agent of change dari
suatu masyarakat berkembang atau develoving didalam negara berkembang” efisien
dan efektif dengan menjaga kesinergian interaksi yang konstruktif diantara
domaindomain negara, sektor swasta, dan masyarakat.
3. (Suhardono, 2010:72) Dalam fungsi pokok birokrasi dalam negara adalah menjamin
terselenggaranya
kehidupan negara dan menjadi alat rakyat/masyarakat dalam mencapai tujuan
ideal suatu negara
4. Dwipayana(2003:65) Beberapa fungsi pelayanan publik (publik services) yang
bersifat rutinkepada masyarakat, seperti memberikan pelayanan perijinan,
pembuatan document, perlindungan, pemeliharaan fasilitas umum, pemeliharaan
kesehatan, dan
jaminan keamanan bagi penduduk. Kenyataan fungsi birokrasi pemerintah
didaerah ini belum berjalan sebagaimana mestinya
5. Menurut Bank Dunia (World Bank), Good governance merupakan cara kekuasaan
yang digunakan dalam mengelola berbagai sumber daya sosial dan ekonomi untuk
pengembangan masyarakat (Mardoto, 2009).
6. Menurut UNDP (United National Development Planning), Good governance
merupakan praktek penerapan kewenangan pengelolaan berbagai urusan.
Penyelenggaraan negara secara politik, ekonomi dan administratif di semua tingkatan.
Dalam konsep di atas, ada tiga pilar good governance yang penting, yaitu :
a. Kesejahteraan rakyat (economic governance).
b. Proses pengambilan keputusan (political governance).
c. Tata laksana pelaksanaan kebijakan (administrative governance)
Berdasarkan uraian pendapat para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa good
governance adalah proses penyelenggaraan pemerintahan Negara yang solid dan
bertanggung jawab, serta efisien dan efektif dengan menjaga kesinergian interaksi yang
konstruktif diantara berbagai sumber daya dalam negara, sektor swasta, dan masyarakat.

C. PEMBAHASAN
1. Pengertian
Good Governance adalah suatu kondisi penyelegaraan manajemen
pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip
demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi dan
pencegahan korupsi baik secara politik maupun secara administratif menjalankan
disiplin anggaran serta penciptaan legal dan political framework bagi tumbuhnya
aktifitas.
Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada
proses pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan
secara bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga
negara, dan sektor swasta bagi penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara
good Governance bukan sekedar menjadi tanggungjawab pemerintah (goverment)
tetapi juga melibatkan komponen lain, yaitu pemerintah, korporasi, dan masyarakat
sipil. Ketiga unsur harus saling menjaga, saling mendukung, dan saling berpartisipasi
aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan yang sedang dilakukan.
2. Prinsip – prinsip Good Govermence
Konsep good Governance pada prinsipnya merupakan kepemimpinan yang
mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip profesionnalitas, akuntabilitas,
transparan, demokratis, efisien, efektif, menegakkan supremasi hukum, memberikan
layanan prima, dan diterima masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu
diketahui beberapa prinsip good governance yang meliiputi :
a. Partisipasi Masyarakat (Participation)
Setiap warga masyarakat mempunyai hak dan suara dalam pengambilan
keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan
sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun
berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kapasitas
untuk berpartisipasi secara konstruktif. Partisipasi bermaksud untuk menjamin
agar setiap kebijakan yang diambil mencerminkan aspirasi masyarakat. Dalam
rangka mengantisipasi berbagai isu yang ada, pemerintah daerah menyediakan
saluran komunikasi agar masyarakat dapat mengutarakan pendapatnya.
b. Tegaknya Supremasi Hukum (Rule of Law)
Partisipasi masyarakat dalam proses politik dan perumusan-perumusan kebijakan
publik diperlukan dasar dan rambu agar tidak menyimpang dari tujuan yang
diinginkan. Oleh karena itu diperlukan sistem dan aturan-aturan hukum.
Sehubungan dengan itu, dalam proses mewujudkan cita good governance, harus
diimbangi dengan komitmen untuk menegakkan rule of law dengan prinsip-
prinsip dasar antara lain Supremasi hukum (the supremacy of law), dan Kepastian
hukum (legal certainty).
c. Transparansi (Transparency)
Transparansi adalah keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang diambil
oleh pemerintah. Prinsip transparansi menciptakan kepercayaan timbal-balik
antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
Tranparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses
pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-
pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar
dapat dimengerti dan dipantau.
d. Peduli pada Stakeholder/Dunia
Usaha Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha
melayani semua pihak yang berkepentingan. Dalam konteks praktek lapangan
dunia usaha, pihak korporasi mempunyai tanggungjawab moral untuk mendukung
bagaimana good governance dapat berjalan dengan baik di masing-masing
lembaganya. Pelaksanaan good governance secara benar dan konsisten bagi dunia
usaha adalah perwujudan dari pelaksanaan etika bisnis yang seharusnya dimiliki
oleh setiap lembaga korporasi yang ada didunia. Dalam lingkup tertentu etika
bisnis berperan sebagai elemen mendasar dari konsep Corporate Social
Responsibility (CSR) yang dimiliki oleh perusahaan. Pihak perusahaan
mempunyai kewajiban sebagai bagian masyarakat yang lebih luas untuk
memberikan kontribusinya. Praktek good governance menjadi guidence atau
panduan untuk operasional perusahaan, baik yang dilakukan dalam kegiatan
internal maupun eksternal perusahaan. Internal berkaitan dengan operasional
perusahaan dan bagaimana perusahaan tersebut bekerja, sedangkan eksternal lebih
kepada bagaimana perusahaan tersebut bekerja dengan stakeholder lainnya,
termasuk di dalamnya publik.
e. Berorientasi pada Konsensus (Consensus)
Menyatakan bahwa keputusan apapun harus dilakukan melalui proses
musyawarah melalui konsesus. Model pengambilan keputusan tersebut, selain
dapat memuaskan semua pihak atau sebagian besar pihak, juga akan menjadi
keputusan yang mengikat dan milik bersama, sehingga ia akan mempunyai
kekuatan memaksa (coercive power) bagi semua komponen yang terlibat untuk
melaksanakan keputusan tersebut. Paradigma ini perlu 4 dikembangkan dalam
konteks pelaksanaan pemerintahan, karena urusan yang mereka kelola adalah
persoalan-persoalan publik yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
f. Kesetaraan (Equity)
Kesetaraan yakni kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan. Semua warga
masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan
kesejahteraan mereka. Prinsip kesetaraan menciptakan kepercayaan timbal-balik
antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
g. Efektifitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency)
Untuk menunjang prinsip-prinsip yang telah disebutkan, pemerintahan yang baik
dan bersih juga harus memenuhi kriteria efektif dan efisien yakni berdaya guna
dan berhasilguna. Kriteria efektif biasanya di ukur dengan parameter produk yang
dapat menjangkau sebesar-besarnya kepentingan masyarakat dari berbagai
kelompok dan lapisan sosial. Agar pemerintahan itu efektif dan efisien, maka para
pejabat pemerintahan harus mampu menyusun perencanaan-perencanaan yang
sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat, dan disusun secara rasional dan
terukur. Dengan perencanaan yang rasional tersebut, maka harapan partisipasi
masyarakat akan dapat digerakkan dengan mudah, karena program-program itu
menjadi bagian dari kebutuhan mereka.
h. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas adalah pertangungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat yang
memberinya kewenangan untuk mengurusi kepentingan mereka. Para pengambil
keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat
bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga
yang berkepentingan. Bentuk pertanggungjawaban tersebut berbeda satu dengan
lainnya tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan. Instrumen dasar
akuntabilitas adalah peraturan perundang-undangan yang ada, dengan komitmen
politik akan akuntabilitas maupun mekanisme pertanggungjawaban, sedangkan
instrumen-instrumen pendukungnya adalah pedoman tingkah laku dan sistem
pemantauan kinerja penyelenggara pemerintahan dan sistem pengawasan dengan
sanksi yang jelas dan tegas.
i. Visi Strategis (Strategic Vision)
Visi strategis adalah pandangan-pandangan strategis untuk menghadapi masa
yang akan datang. Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas
dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia,
serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan
tersebut. Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas
kesejarahan, budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.

3. ASAS-ASAS GOOD GOVERMANCE


Asas-asas umum good govermance memiliki peran yang penting dalam
jalannya fungsi-fungsi kelembagaan negara. Konsep asas-asas umum
pemerintahan yang baik berkaitan langsung dengan sikap tindak pemerintah serta
pertanggunjawaban terhadap tindakan mereka dalam menjalankan pemerintahan.
Asas-asas ini menjadi dasar dan pedoman dalam penyelenggaraan pemerintahan
yang layak. Dengan begitu, penyelenggaraan pemerintahan menjadi baik, adil,
terhormat serta bebas dari kezaliman, pelanggaran, penyalahgunaan wewenang,
dan tindakan sewenang-wenang. Asas-asas umum good govermance yang dapat
diterapkan dalam pelaksanaan pelayanan publik, yakni:
a. Asas kepastian hukum
Asas kepastian hukum menekankan pada adanya kepastian perlindungan atas
hak-hak warga dan dipenuhinya harapan-harapan yang telah diberikan
pemerintah.
b. Asas kepentingan umum
Asas kepentingan umum menekankan pada dorongan kepada pemerintah
untuk selalu mengedepankan kepentingan rakyat dalam melaksanakan
kegiatan pemerintahan. Pemerintah dalam menjalankan kewajibannya sebagai
pelayan rakyat harus mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan
pribadi dan kelompok.
c. Asas keterbukaan
Asas keterbukaan menekankan pada keharusan pemerintah untuk membuka
diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur,
dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara, namun, dengan tetap
memperhatikan hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara. Asas ini
memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memberikan tanggapan,
penilaian dan kritik membangun terhadap pemerintah.
d. Asas kemanfaatan
Asas kemanfaatan sangat berkaitan dengan tujuan pemerintahan, yakni
memiliki kemanfaatan untuk masyarakat. Oleh karena itu, asas ini sangat
penting karena berkaitan dengan posisi pemerintahan yang memiliki tugas dan
tanggung jawab untuk menyejahterakan rakyat.
e. Asas ketidakberpihakan/tidak diskriminatif
Asas ketidakberpihakan/tidak diskriminatif menekankan bahwa setiap warga
negara berhak mendapatkan pelayanan yang adil dan tidak diskriminatif dari
negara atau pemerintah. Hak atas pelayanan yang adil dan tidak diskriminatif
ini harus dilindungi dan dihormati oleh negara demi mewujudkan pelayanan
publik yang baik.
f. Asas kecermatan
Asas kecermatan menekankan pada sikap kehati-hatian para pengambil
keputusan, yakni dengan mempertimbangkan secara komprehensif mengenai
berbagai aspek dari keputusan yang dihasilkan, agar tidak menimbulkan
kerugian bagi masyarakat. Asas ini menekankan bahwa keputusan yang
dikeluarkan oleh pemerintah harus didasarkan pada informasi dan dokumen
yang akurat dan lengkap demi mendukung keabsahan penetapan dan/atau
pelaksanaan keputusan tersebut.
g. Asas tidak menyalahgunakan kewenangan Secara umum, penyalahgunaan
kewenangan dapat dibagi menjadi tiga unsur, yakni: Melampaui wewenang,
Mencampuradukkan wewenang, dan/atau Bertindak sewenang-wenang. Asas
tidak menyalahgunakan kewenangan penting diterapkan demi lahirnya
keputusan atau tindakan pejabat atau badan pemerintah yang sah dan tidak
bisa dibatalkan.
h. Asas pelayanan yang baik
Asas pelayanan yang baik dimaknai sebagai asas yang memberikan pelayanan
yang tepat waktu, sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), biaya
yang jelas, dan sesuai ketentuan perundang-undangan. Asas ini memastikan
bahwa aparat pemerintah harus memberikan layanan yang prima dengan
berpedoman pada aturan yang berlaku.
i. Asas tertib penyelenggaraan negara
Asas tertib penyelenggaraan negara menekankan bahwa setiap
penyelenggaraan negara atau pemerintahan harus dibangun atau dikendalikan
berdasarkan prinsip keteraturan, keserasian dan keseimbangan.
j. Asas akuntabilitas
Asas akuntabilitas menekankan pada pelaksanaan tugas dan kegiatan
pemerintahan yang dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya pada
masyarakat. Pertanggungjawaban kepada rakyat merupakan kewajiban
pemerintah karena sesuai UUD 1945, rakyat adalah pemegang kedaulatan
tertinggi negara.
k. Asas proporsionalitas
Asas proporsionalitas atau keseimbangan menekankan pada adanya
keseimbangan hak dan kewajiban aparatur pemerintah. Aspek ini berkaitan
dengan kewajaran bertindak serta balasan yang diberikan atas tindakan yang
dilakukan.
l. Asas profesionalitas
Asas profesionalitas berkaitan dengan kemampuan aparatur penyelenggara
pemerintahan dalam memberikan pelayanan kepada publik. Aparatur
penyelenggara pemerintahan wajib memiliki kemampuan terkait bidang yang
dilayani, baik secara ilmu maupun praktiknya.
m. Asas keadilan
Asas keadilan berkaitan dengan sikap aparatur penyelenggara pemerintahan
dalam memberikan layanan publik. Aparatur penyelenggara pemerintahan
tidak boleh memberikan keistimewaan untuk memastikan seluruh masyarakat
yang dilayani mendapat standar pelayanan dan perilaku yang sama.

4. Mengkritisi Pelaksanaan Good Govermance


Mewujudkan konsep good governance dapat dilakukan dengan mencapai
keadaan yang baik dan sinergi antar pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil
dalam pengelolaan sumber-sumber alam, sosial, lingkungan, dan ekonomi. Prasyarat
minimal untuk mencapaai good governance adalah adanya trasparansi, akuntabilitas,
partisipasi, pemberdayaan hukum, efektifitas dan efisiensi, dan keadilan. Sebagai
bentuk penyelenggaraan Negara yang baik maka harus ada keterlibatan masyarakat
di setiap jenjang proses pengambilan keputusan[11]. Konsep good governance dapat
diartikan acuan untuk proses dan struktur hubungan politik dan social ekonomi yang
baik.
Berdasarkan uraian diatas dalam perjalanan penerapan good
governance hampir banyak negara mengasumsikannya sebagai sebuah ideal type of
governance, padahal konsep itu sendiri sebenarnya dirumuskan oleh banyak praktisi
untuk kepentingan praktis-strategis dalam rangka membangun relasi negara-
masyarakat-pasar yang baik dan sejajar.
Beberapa ahli malah tidak setuju dengan konsep good governance, karena
dinilai terlalu bermuatan nilai-nilai ideologis. Alternatif lainnyaadalah democratic
governance, yaitu suatu tata pemerintahan yang berasal dari (partisipasi), yang
dikelola oleh rakyat (institusi demokrasi yang legitimate, akuntabel dan transparan),
serta dimanfaatkan (responsif) untuk kepentingan masyarakat. Konseptualisasi ini
secara substantif tidak berbeda jauh dengan konseptualisasi good governance, hanya
saja ia tidak memasukkan dimensi pasar dalam governance.
Kritik berikutnya terhadap good governance adalah kegagalannya dalam
memasukkan arus globalisasi dalam pigura analisisnya. Dalam good
governance seolah-olah kehidupan hanya berkutat pada interaksi antara pemerintah
di negara tertentu, pelaku bisnis di negara tertentu dengan rakyat di negara tertentu
pula. Tentulah ini sangat naif, secara kenyataan bahwa aktor yang sangat besar dan
bekuasa di atas ketiga elemen tersebut tidak dimasukkan dalam hitungan, aktor
tersebut adalah dunia internasional. Merestrukturisasi pola relasi pemerintah, swasta
dan masyarakat secara domestik dengan mengabaikan peran aktor internasional
adalah pengingkaran atas realitas global. Dampak dari pengingkaran ini adalah
banyaknya variable, yang sebenarnya sangat penting, tidak masuk kedalam hitungan.
Variabel-variabel yang absen itu adalah kearifan lokal (akibat hegemoni terma
“good” oleh Barat) dan dampak dari kekuatan kooptatif internasional. Secara
konseptual keberhasilan penerapan good governance di berbagai dunia akan
selayaknya juga dibarengi dengan dampak kuatnya fundamental ekonomi rakyat.
Kenyataannya, relasi antara kesejahteraan rakyat dengan good governance tidaklah
seindah teori. Makin merekatnya hubungan antara negara, bisnis dan rakyat ternyata
tidak serta merta menguatkan fundamental ekonomi rakyat. Pukulan krisis pangan
adalah bukti konkrit yang tidak bisa dipecahkan oleh good governance.
Bila kita memahami kembali kutipan bahwa Presiden Tanzania Julius K.
Nyerere di depan Konferensi PBB sepuluh tahun lalu, beliau dengan lantang telah
mengkritik habis-habisan good governance yang dikatakannya sebagai konsep
imperialis dan kolonialis. Good governance hanya akan mengerdilkan struktur
negara berkembang, sementara kekuatan bisnis dunia makin membesar. Terlepas
dari benar salahnya kritik sang Presiden, kritik tersebut mengilhami Ali Farazmand
(2004) dalam menggagas konsep Sound Governance (SG) yang sekaligus membuka
arah baru bagi pembangunan global ke depan. Setelah good governance berhasil
menginklusifkan hubungan si kaya dan si miskin di tingkat nasional, maka fase
berikutnya adalah menginklusifkan hubungan negara kaya dengan negara miskin
melalui agenda Sound Governance. Konsep Sound Governance merupakan konsep
baru yang jauh lebih komprehensif dan reliable dalam menjawab kegagalan
epistimologis dan solusi atas arus besar kesalah kaprahan dari good governance.
Terdapat tiga alasan utama yang muncul dari wacana Sound Governance.
a. Dari evaluasi terhadap pelaksanaan good governance bahwa aktor kunci yang
berperan adalah terfokus pada tiga aktor (pemerintah, pasar dan civil society),
dan good governance selama ini lebih merestrukturisasi pola relasi pemerintah,
swasta dan masyarakat secara domestik. Sound Governance mempunyai
pandangan yang jauh komprehensif dengan empat aktor, yaitu inklusifitas relasi
politik antara negara, civil society, bisnis yang sifatnya domestik dan satu lagi
aktor yaitu kekuatan internasional. Kekuatan internasional di sini mencakup
korporasi global, organisasi dan perjanjian internasional. Dalam
pandangan Sound Governance penerapan good governance kehidupannya hanya
berkutat pada interaksi antara pemerintah di negara tertentu, pelaku bisnis di
negara tertentu dengan rakyat di negara tertentu pula. Tentulah ini sangat naif,
sebab kenyataan bahwa aktor yang sangat besar dan bekuasa di atas ketiga
elemen tersebut tidak dimasukkan dalam hitungan. Aktor tersebut adalah dunia
internasional.
b. bermula dari kritik terhadap identitas dari good governance kata “good” menjadi
sesuatu yang hegemonik, seragam dan juga dilakukan tak jarang dengan paksaan.
Term “good” dalam good governance adalah westernized dan diabsolutkan
sedemikian rupa. Sound Governance mempunyai pandangan yang berbeda dan
justru mengedepankan adanya penghormatan atas keragaman konsepsi birokrasi
dan tata pemerintahan, utamanya nilai dasar budaya pemerintahan tradisional
yang telah terkubur. Ali Farazmand mencontohkan kebesaran kerajaan Persia,
sebelum digulung oleh dominasi budaya barat, memiliki prestasi yang sangat
besar dalam pengelolaan pemerintahan. Berdasarkan apa yang disampaikan Ali
Farazmand bahwa pentingnya sistem pemerintahan yang berbasis pada budaya
lokal sudah mulai banyak terabaikan dan ini juga terjadi di negara dunia ketiga
termasuk di Indonesia. Hal ini terjadi karena kontruksi konsep birokrasi modern
Weber yang mewarnai perkembangan ilmu administrasi publik termasuk
lahirnya good governance adalah bentuk pembantaian budaya lokal dalam sistem
pemerintahan. Sound governance muncul untuk memberikan peluang dalam
menyelamatkan keragaman kebudayaan lokal dalam mewarnai konsep tata
pemerintahan.
c. dalam pelaksanaan good governance untuk berjalannya proses tata pemerintahan
yang baik maka ada satu jalan yaitu bagaimana pemerintahan harus menjalankan
prinsip-prinsip yang digariskan dalam good governance yaitu: participation, rule
of law, transparancy, responsiveness, consensus orientation, equity,
effectiveness and efficiency, accountability, strategic vision. Sound
Governance mempunyai pandangan berbeda dan lebih melihat pada proses
menuju tercapainya tujuan, dari pada membahas perdebatan soal bagaimana
(prinsip-prinsip) dilakukan untuk mencapai tujuan. Kendati demikian di dalam
sound governance masih menekankan perlunya prasyarat-prasyrat dasar
universal terkait demokrasi, transparansi, dan akuntabilitas. Untuk itu titik tekan
dari sound governance adalah fleksibilitas dan ini dibutuhkan “inovasi” yang
kemudian menjadi ruh implementasi sound governance dalam praktek
pemerintahan.
Berdasarkan uraian diatas bahwa Sound governance sebagai wacana baru
yang muncul sebagai kritik good governance, yaitu memberikan makna term
“Sound” menggantikan “Good” adalah dalam rangka penghormatan terhadap
kenyataan keragaman (diversity). Untuk itu Sound governance dalam tata
pemerintahan (pola relasi pemerintah, swasta dan masyarakat) membuka kembali
peluang variable-variable yang absen yaitu kearifan lokal (akibat hegemoni term
“good” oleh Barat) dan dampak dari kekuatan kooptatif internasional. Menyadarkan
kembali bahwa konsep-konsep non-barat sebenarnya banyak yang applicable,
khususnya di bidang pemerintahan. Selain itu Sound governance pada prinsipnya
juga memberikan ruang bagi tradisi atau invoasi lokal tentang bagaimana negara dan
pemerintahan harus ditata, sesuai dengan kebiasaan, budaya dan konteks lokal. Tentu
ukuran universal tentang kesejahteraan rakyat dan penghormatan hak dasar harus
tetap ditegakkan[14].
D. PENUTUP
1. Kesimpulan

2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai