KLP 4
KLP 4
LATAR BELAKANG
Good governance merupakan wujud dari penerimaan akan penting suatu
perangkat peraturan atau tata kelola yang baik untuk mengatur hubungan, fungsi
dan kepentingan berbagai pihak dalam urusan bisnis maupun pelayanan publik.
Prinsip – prinsip Good governance menjadi sangat penting dalam mewujudkan
pemerintahan yang baik. Berawal dari arti good governance maka perlu
penyediaan informasi yang relevan dan menggambarkan kinerja (performance)
sektor publik yang sangat penting dalam memberikan pertanggungjawaban akan
segala aktivitas kepada semua pihak yang berkepentingan.
Pemerintahan yang baik secara konseptual, mempunyai pengertian bahwa
kata baik atau good dalam istilah kepemerintahan yang baik yang memiliki
makna bahwa good governance telah mengandung dua pemahaman
1. nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat, dan nilai-nilai yang
dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan (nasional)
kemandirian, pembangunan, berkelanjutan, dan keadilan sosial.
2. Aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan
tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut
Hal ini semakin sangat penting untuk dilakukan atau diaplikasikan dalam era
reformasi melalui pemberdayaan peran lembaga-lembaga kontrol sebagai
pengimbang dalam kekuasaan pemerintah. Untuk menerapkan praktik good
governance maka dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kapasitas
pemerintah, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar
Secara teoritis good governance mengandung arti bahwa pengelolaan
kekuasaan yang didasarkan pada aturan-aturan hukum yang berlaku,
pengambilan kebijakan secara transparan, serta pertanggungjawaban kepada
masyarakat. Sebagai organisasi sektor publik, pegawai
dituntut agar memiliki kinerja yang berorientasi pada kepentingan masyarakat
dan mendorong pemerintah agar senantiasa tanggap akan tuntutan
lingkungannya, dengan berupaya memberikan pelayanan terbaik secara
transparan dan berkualitas serta adanya pembagian tugas yang baik pada
pemerintahan. Kinerja pegawai yang mencermin pada prinsip good governance
dapat mendukung terlaksananya pemerintahan yang demokratis dan masyarakat
dapat memiliki kepercayaannya terhadap kinerja pegawai, bahwa disetiap kinerja
pegawai yang mencerminkan pada prinsip-prinsip good governance diharapakan
dapat memberikan pelayanan publik yang lebih baik kepada masyarakat.
Dalam mewujudkan good governance tentu mempunyai banyak hal dan cara
yang perlu dilakukan, dan dapat dilihat dari kinerja pegawai yang mampu memahami
nilai
dan tradisi dalam sebuah birokrasi pemerintah yang mencirikan praktik good
governance, dan good governance sangat memerlukan perubahan yang
menyeluruh pada semua unsur kelembagaan yang terlibat dalam praktik good
governance meliputi pemerintah sebagai representasi negara yaitu pelaku pasar
dan dunia usaha, serta masyarakat sipil. Perlu diberdayakan agar kesemuanya
dapat berperan secara optimal dan saling melengkapi dalam mewujudkan
kesejahteraan masyarakat, mengingat pengembangan good governance memeliki
kompleksitas yang tinggi dan kendala yang besar maka diperlukan sebuah
langkah strategis untuk memulai pembaharuan terhadap praktik good
governance, dan pengembangan good governance akan lebih mudah jika dimulai
dari sektor pelayanan publik
Tujuan suatu negara tidak lain untuk mewujudkan masyarakat dengan kehidupan
yang baik (Good Life), dimana yang terdapat dalam fungsi negara yaitu
melaksanakan kepentingan rakyat dengan norma yang berlaku untuk mewujudkan cita-
cita negara. Masyarakat sebagai pelaksana dan tingkatan pemerintah negara sebagai
pengelola sumber daya pembangunan. Terjadi berbagai permasalahan seperti krisis
ekonomi di Indonesia antara lain menunjukkan tatacara penyelenggara pemerintah dalam
mengelola sumber daya pembangunan yang tidak diatur dengan baik. Akibatnya
menimbulkan masalah-masalah yang lain yang menyebabkan masyarakat menjadi
terhambat dalam proses pengembangan ekonomi Indonesia, sehingga dampak negative
seperti peningkatan penganguran, jumlah penduduk miskin yang bertambah, tingkat
kesehatan yang menurun, dan bahkan konflik-konflik yang terjadi diberbagai daerah.
Penyelenggara pemerintah yang baik sangat dibutuhkan yang dimana menjadi
landasan pembangunan dan pembuatan kebijakan negara yang demokratis dalam era
globalisasi. Oleh karena itu tata pemerintahan yang baik perlu segera dilakukan agar
segala permasalahan yang timbul dapat diminimalkan , dipecahkan dan juga
dipulihkannya segala bidang dalam masyarakat agar dapat berjalan dengan baik dan
lancar. Disadari, dalam mewujudkan tata pemerintahan membutuhkan waktu yang tidak
singkat dan upaya yang didukung dari segala pihak dan dilakukan secara terus – menerus.
Selain itu aparatur negara, pihak swasta dan masyarakat harus bersatu dalam
mewujudkan tata pemerintahan yang baik.
Lahirnya wacana good governance berakar dari penyimpangan-penyimpangan
yang terjadi dalam praktek pemerintahan,seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) ,
Penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat tidak transparan, nonpartisipatif serta
sentralisasi , menumbuhkan rasa tidak percaya dikalangan masyarakat bahkan
menimbulkan antipati terhadap pihak pemerintah. Masyarakat sangat tidak puas terhadap
kinerja pemerintah yang selama ini dipercaya sebagai penyelenggara urusan publik.
Berbagai ketidakpuasan dan kekecewaan akhirnya melahirkan tuntutan dari masyarakat
untuk mengembalikan dan melaksanakan penyelenggaraan pemerintah yang ideal,
sehingga Good Governance tampil sebagai upaya untuk menjawab berbagai keluhan
masyarakat atas kinerja birokrasi yang telah berlangsung.
B. LANDASAN TEORI
Berbagai pendapat yang dikemukakan para ahli dalam memahami arti good governance:
1. Robert Charlick dalam Pandji Santosa (2008:130) mendefinisikan good
governance sebagai pengelolaan segala macam urusan publik secara efektif melalui
pembuatan peraturan dan atau kebijakan yang baik demi untuk mempromosikan nilai-
nilai kemasyarakatan.
2. Bintoro Tjokroamidjojo memandang Good Governance sebagai “Suatu bentuk
manajemen pembangunan, yang juga disebut sebagai administrasi pembangunan,
yang menempatkan peran pemerintah sentral yang menjadi Agent of change dari
suatu masyarakat berkembang atau develoving didalam negara berkembang” efisien
dan efektif dengan menjaga kesinergian interaksi yang konstruktif diantara
domaindomain negara, sektor swasta, dan masyarakat.
3. (Suhardono, 2010:72) Dalam fungsi pokok birokrasi dalam negara adalah menjamin
terselenggaranya
kehidupan negara dan menjadi alat rakyat/masyarakat dalam mencapai tujuan
ideal suatu negara
4. Dwipayana(2003:65) Beberapa fungsi pelayanan publik (publik services) yang
bersifat rutinkepada masyarakat, seperti memberikan pelayanan perijinan,
pembuatan document, perlindungan, pemeliharaan fasilitas umum, pemeliharaan
kesehatan, dan
jaminan keamanan bagi penduduk. Kenyataan fungsi birokrasi pemerintah
didaerah ini belum berjalan sebagaimana mestinya
5. Menurut Bank Dunia (World Bank), Good governance merupakan cara kekuasaan
yang digunakan dalam mengelola berbagai sumber daya sosial dan ekonomi untuk
pengembangan masyarakat (Mardoto, 2009).
6. Menurut UNDP (United National Development Planning), Good governance
merupakan praktek penerapan kewenangan pengelolaan berbagai urusan.
Penyelenggaraan negara secara politik, ekonomi dan administratif di semua tingkatan.
Dalam konsep di atas, ada tiga pilar good governance yang penting, yaitu :
a. Kesejahteraan rakyat (economic governance).
b. Proses pengambilan keputusan (political governance).
c. Tata laksana pelaksanaan kebijakan (administrative governance)
Berdasarkan uraian pendapat para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa good
governance adalah proses penyelenggaraan pemerintahan Negara yang solid dan
bertanggung jawab, serta efisien dan efektif dengan menjaga kesinergian interaksi yang
konstruktif diantara berbagai sumber daya dalam negara, sektor swasta, dan masyarakat.
C. PEMBAHASAN
1. Pengertian
Good Governance adalah suatu kondisi penyelegaraan manajemen
pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip
demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi dan
pencegahan korupsi baik secara politik maupun secara administratif menjalankan
disiplin anggaran serta penciptaan legal dan political framework bagi tumbuhnya
aktifitas.
Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada
proses pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan
secara bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga
negara, dan sektor swasta bagi penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara
good Governance bukan sekedar menjadi tanggungjawab pemerintah (goverment)
tetapi juga melibatkan komponen lain, yaitu pemerintah, korporasi, dan masyarakat
sipil. Ketiga unsur harus saling menjaga, saling mendukung, dan saling berpartisipasi
aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan yang sedang dilakukan.
2. Prinsip – prinsip Good Govermence
Konsep good Governance pada prinsipnya merupakan kepemimpinan yang
mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip profesionnalitas, akuntabilitas,
transparan, demokratis, efisien, efektif, menegakkan supremasi hukum, memberikan
layanan prima, dan diterima masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu
diketahui beberapa prinsip good governance yang meliiputi :
a. Partisipasi Masyarakat (Participation)
Setiap warga masyarakat mempunyai hak dan suara dalam pengambilan
keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan
sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun
berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kapasitas
untuk berpartisipasi secara konstruktif. Partisipasi bermaksud untuk menjamin
agar setiap kebijakan yang diambil mencerminkan aspirasi masyarakat. Dalam
rangka mengantisipasi berbagai isu yang ada, pemerintah daerah menyediakan
saluran komunikasi agar masyarakat dapat mengutarakan pendapatnya.
b. Tegaknya Supremasi Hukum (Rule of Law)
Partisipasi masyarakat dalam proses politik dan perumusan-perumusan kebijakan
publik diperlukan dasar dan rambu agar tidak menyimpang dari tujuan yang
diinginkan. Oleh karena itu diperlukan sistem dan aturan-aturan hukum.
Sehubungan dengan itu, dalam proses mewujudkan cita good governance, harus
diimbangi dengan komitmen untuk menegakkan rule of law dengan prinsip-
prinsip dasar antara lain Supremasi hukum (the supremacy of law), dan Kepastian
hukum (legal certainty).
c. Transparansi (Transparency)
Transparansi adalah keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang diambil
oleh pemerintah. Prinsip transparansi menciptakan kepercayaan timbal-balik
antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
Tranparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses
pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-
pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar
dapat dimengerti dan dipantau.
d. Peduli pada Stakeholder/Dunia
Usaha Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha
melayani semua pihak yang berkepentingan. Dalam konteks praktek lapangan
dunia usaha, pihak korporasi mempunyai tanggungjawab moral untuk mendukung
bagaimana good governance dapat berjalan dengan baik di masing-masing
lembaganya. Pelaksanaan good governance secara benar dan konsisten bagi dunia
usaha adalah perwujudan dari pelaksanaan etika bisnis yang seharusnya dimiliki
oleh setiap lembaga korporasi yang ada didunia. Dalam lingkup tertentu etika
bisnis berperan sebagai elemen mendasar dari konsep Corporate Social
Responsibility (CSR) yang dimiliki oleh perusahaan. Pihak perusahaan
mempunyai kewajiban sebagai bagian masyarakat yang lebih luas untuk
memberikan kontribusinya. Praktek good governance menjadi guidence atau
panduan untuk operasional perusahaan, baik yang dilakukan dalam kegiatan
internal maupun eksternal perusahaan. Internal berkaitan dengan operasional
perusahaan dan bagaimana perusahaan tersebut bekerja, sedangkan eksternal lebih
kepada bagaimana perusahaan tersebut bekerja dengan stakeholder lainnya,
termasuk di dalamnya publik.
e. Berorientasi pada Konsensus (Consensus)
Menyatakan bahwa keputusan apapun harus dilakukan melalui proses
musyawarah melalui konsesus. Model pengambilan keputusan tersebut, selain
dapat memuaskan semua pihak atau sebagian besar pihak, juga akan menjadi
keputusan yang mengikat dan milik bersama, sehingga ia akan mempunyai
kekuatan memaksa (coercive power) bagi semua komponen yang terlibat untuk
melaksanakan keputusan tersebut. Paradigma ini perlu 4 dikembangkan dalam
konteks pelaksanaan pemerintahan, karena urusan yang mereka kelola adalah
persoalan-persoalan publik yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
f. Kesetaraan (Equity)
Kesetaraan yakni kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan. Semua warga
masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan
kesejahteraan mereka. Prinsip kesetaraan menciptakan kepercayaan timbal-balik
antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
g. Efektifitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency)
Untuk menunjang prinsip-prinsip yang telah disebutkan, pemerintahan yang baik
dan bersih juga harus memenuhi kriteria efektif dan efisien yakni berdaya guna
dan berhasilguna. Kriteria efektif biasanya di ukur dengan parameter produk yang
dapat menjangkau sebesar-besarnya kepentingan masyarakat dari berbagai
kelompok dan lapisan sosial. Agar pemerintahan itu efektif dan efisien, maka para
pejabat pemerintahan harus mampu menyusun perencanaan-perencanaan yang
sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat, dan disusun secara rasional dan
terukur. Dengan perencanaan yang rasional tersebut, maka harapan partisipasi
masyarakat akan dapat digerakkan dengan mudah, karena program-program itu
menjadi bagian dari kebutuhan mereka.
h. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas adalah pertangungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat yang
memberinya kewenangan untuk mengurusi kepentingan mereka. Para pengambil
keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat
bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga
yang berkepentingan. Bentuk pertanggungjawaban tersebut berbeda satu dengan
lainnya tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan. Instrumen dasar
akuntabilitas adalah peraturan perundang-undangan yang ada, dengan komitmen
politik akan akuntabilitas maupun mekanisme pertanggungjawaban, sedangkan
instrumen-instrumen pendukungnya adalah pedoman tingkah laku dan sistem
pemantauan kinerja penyelenggara pemerintahan dan sistem pengawasan dengan
sanksi yang jelas dan tegas.
i. Visi Strategis (Strategic Vision)
Visi strategis adalah pandangan-pandangan strategis untuk menghadapi masa
yang akan datang. Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas
dan jauh ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia,
serta kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan
tersebut. Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas
kesejarahan, budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.
2. Saran
DAFTAR PUSTAKA