Sni 7424 - 2024 Uji Tapis
Sni 7424 - 2024 Uji Tapis
30 September 2024
SNI 7424:2024
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Standar Nasional Indonesia
dikomersialkan”
Metode uji tapis (screening test) residu antibiotik
menggunakan bioassay pada daging, jeroan, telur,
dan susu
ICS 67.050
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
dikomersialkan”
© BSN 2024
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau
seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan
dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN
BSN
Email: [email protected]
www.bsn.go.id
Diterbitkan di Jakarta
SNI 7424:2024
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Daftar isi
dikomersialkan”
Lampiran B (normatif) Pembuatan media agar..................................................................... 17
Lampiran C (normatif) Pembuatan spora dan sel vegetatif .................................................. 19
Lampiran D (normatif) Pembuatan larutan trimetoprim......................................................... 22
Bibliografi ............................................................................................................................. 23
Tabel 1 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja natrium penisilin untuk golongan
beta laktam ............................................................................................................................ 6
Tabel 2 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja oksitetrasiklin hidroklorida untuk
golongan tetrasiklin ................................................................................................................ 6
Tabel 3 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja kanamisin sulfat untuk golongan
aminoglikosida ....................................................................................................................... 7
Tabel 4 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja tilosin tartrat untuk golongan
makrolida ............................................................................................................................... 7
Tabel 5 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja sulfadiazin untuk golongan
sulfonamida ........................................................................................................................... 8
Tabel 6 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja enrofloksasin untuk golongan
kuinolon ................................................................................................................................. 8
Tabel 7 - Larutan kurva standar kerja natrium penisilin untuk golongan beta laktam ............ 13
Tabel 8 - Larutan kurva standar kerja oksitetrasiklin hidroklorida untuk golongan tetrasiklin 13
Tabel 9 - Larutan kurva standar kerja kanamisin tartrat untuk golongan aminoglikosida, tilosin
tartrat untuk golongan makrolida, dan sulfadiazin untuk golongan sulfonamida ................... 14
Tabel 10 - Larutan kurva standar kerja enrofloksasin untuk golongan kuinolon.................... 14
© BSN 2024 i
SNI 7424:2024
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Prakata
SNI 7424:2024 Metode uji tapis (screening test) residu antibiotik menggunakan bioassay pada
daging, jeroan, telur, dan susu yang dalam bahasa Inggris berjudul Screening test of antibiotic
residues in meat, offal, egg, and milk using bioassay merupakan standar revisi dari SNI
7424:2008, Metode uji tapis (screening test) residu antibiotika pada daging, telur, dan susu
secara bioassay. Standar ini disusun dengan jalur pengembangan sendiri dan ditetapkan oleh
BSN Tahun 2024.
Standar ini disusun oleh Komite Teknis 65-20 Kesehatan Masyarakat Veteriner. Standar ini
telah dibahas dalam rapat teknis dan disepakati dalam rapat konsensus pada tanggal 29 Juli
2024 di Bogor secara gabungan rapat luring-daring yang dihadiri oleh para pemangku
kepentingan (stakeholders) terkait, yaitu perwakilan dari pemerintah, pelaku usaha,
konsumen, dan pakar.
dikomersialkan”
Standar ini telah melalui proses jajak pendapat pada tanggal 7 Agustus 2024 sampai dengan
5 September 2024 dan disetujui menjadi SNI.
Untuk menghindari kesalahan dalam penggunaan Standar ini, disarankan bagi pengguna
standar untuk menggunakan dokumen SNI yang dicetak dengan tinta berwarna.
Perlu diperhatikan bahwa kemungkinan beberapa unsur dari Standar ini dapat berupa hak
kekayaan intelektual (HAKI). Namun selama proses perumusan SNI, Badan Standardisasi
Nasional telah memperhatikan penyelesaian terhadap kemungkinan adanya HAKI terkait
substansi SNI. Apabila setelah penetapan SNI masih terdapat permasalahan terkait HAKI,
Badan Standardisasi Nasional tidak bertanggung jawab mengenai bukti, validitas, dan ruang
lingkup dari HAKI tersebut.
© BSN 2024 ii
SNI 7424:2024
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Pendahuluan
Keamanan pangan asal hewan mempunyai peranan penting dalam memenuhi protein hewani,
karena mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan manusia. Deklarasi WHO tahun
2003 menyatakan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan pangan yang aman dan layak.
Hal tersebut selaras dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam
Pasal 58 ayat (1) dinyatakan bahwa dalam rangka penjaminan produk hewan yang aman,
sehat, utuh, dan halal (ASUH), pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban melakukan
pengawasan, pemeriksaan, pengujian, standardisasi, sertifikasi, dan registrasi produk hewan.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan pangan asal hewan yang aman dan layak untuk
dikonsumsi perlu dilakukan pengawasan berbasis pengujian laboratorium terhadap residu
antibiotik dengan menggunakan metode uji yang terstandardisasi. Metode ini mengacu pada
sejumlah dokumen dari organisasi internasional, peraturan perundangan yang berlaku, dan
pustaka lain yang telah dipublikasikan.
dikomersialkan”
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Metode uji tapis (screening test) residu antibiotik menggunakan bioassay pada
daging, jeroan, telur, dan susu
1 Ruang lingkup
Standar ini menetapkan metode uji tapis (screening test) residu antibiotik menggunakan
bioassay pada daging, jeroan, telur, dan susu. Telur hanya mencakup telur mentah yang
berasal dari unggas untuk konsumsi. Susu mencakup susu mentah (raw milk), susu cair plain,
dan susu bubuk.
Standar ini berlaku untuk pengujian residu antibiotik golongan beta laktam, tetrasiklin,
aminoglikosida, makrolida, sulfonamida, dan kuinolon.
2 Acuan normatif
Dokumen acuan berikut sangat diperlukan untuk penerapan Standar ini. Untuk acuan
bertanggal, hanya edisi yang disebutkan yang berlaku. Untuk acuan tidak bertanggal, berlaku
edisi terakhir dari dokumen acuan tersebut (termasuk seluruh perubahan/amendemennya).
SNI ISO 4833-1, Mikrobiologi rantai pangan – Metode horizontal untuk enumerasi
dikomersialkan”
mikroorganisme – Bagian 1: Penghitungan koloni pada suhu 30 °C dengan teknik cawan tuang
Untuk tujuan penggunaan dokumen ini, istilah dan definisi berikut berlaku.
3.1
metode uji tapis
suatu cara pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi kandungan residu antibiotik secara
kualitatif sesuai dengan batas deteksi tertentu pada daging, jeroan, telur, dan susu
3.2
bioassay
metode pengujian menggunakan mikroorganisme untuk mendeteksi residu antibiotik
3.3
residu antibiotik
zat antibiotik termasuk metabolitnya yang terkandung dalam daging, jeroan, telur, dan susu,
baik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari penggunaan antibiotik
3.4
daging
bagian otot skeletal dari karkas hewan ternak yang aman, layak, dan lazim dikonsumsi oleh
manusia
CATATAN Daging dapat berupa daging hangat (hot meat), daging segar dingin (chilled fresh meat),
atau daging beku (frozen meat).
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
3.5
jeroan
organ dari hewan ternak yang aman, layak, dan lazim dikonsumsi oleh manusia
CATATAN Jeroan dapat berupa jeroan hangat (hot offal), jeroan segar dingin (chilled fresh offal),
atau jeroan beku (frozen offal).
3.6
susu mentah (raw milk)
cairan yang berasal dari ambing hewan ternak sehat dan bersih, yang diperoleh dengan cara
pemerahan yang benar, yang kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu
apapun dan belum mendapat perlakuan apapun kecuali pendinginan
3.7
susu cair plain
produk susu cair yang diperoleh dari susu mentah atau susu rekonstitusi atau susu
rekombinasi tanpa bahan tambahan pangan yang mempunyai sifat antimikrob yang telah
mengalami proses pasteurisasi atau sterilisasi
3.8
susu bubuk
produk susu yang diperoleh melalui pengeringan susu tanpa bahan tambahan pangan yang
mempunyai sifat antimikrob
dikomersialkan”
4 Singkatan
5 Prinsip pengujian
6.1 Mikroorganisme
6.2 Media
a. Media agar Bacillus stearothermophilus: yeast extract, tryptone, bacto agar, dextrose;
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
b. Media agar Bacillus cereus: yeast extract, beef extract, peptone, bacto agar, KH2PO4;
c. Media agar Bacillus subtilis subspesies spizizenii: beef extract, peptone, bacto agar;
d. Media agar Kocuria rhizophila: yeast extract, beef extract, peptone, bacto agar, glucose;
e. Media agar Escherichia coli: yeast extract, beef extract, peptone, bacto agar, glucose;
dan
f. Media cair untuk sel vegetatif (Kocuria rhizophila dan Escherichia coli): HIB.
7 Bahan
7.1 Standar
dikomersialkan”
c. Asam fosfat (H3PO4);
d. Natrium hidroksida (NaOH);
e. Dikalium hidrogen fosfat (K2HPO4);
f. Asam klorida (HCl);
g. Natrium klorida (NaCl);
h. Standar trimetoprim;
i. Alkohol 70%;
j. Metanol (CH3OH);
k. Etanol (C2H5OH); dan
l. Air distilasi atau akuabides atau air dengan grade yang setara atau lebih (contoh: air
demineralisasi, reverse osmosis water).
Kertas cakram (paper disc) yang steril tebal (thick) yang mampu menyerap larutan minimum
75 µl dengan diameter 8 mm atau 10 mm.
8 Peralatan
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
k. Roux’s bottle;
l. Botol media; dan
m. Tabung pengenceran minimum 25 ml.
CATATAN Semua bahan gelas yang digunakan dalam pengujian ini dalam keadaan steril, kecuali
pipet volumetrik.
8.2 Alat
a. Sentrifus;
b. Penangas air;
c. Clean bench atau laminar air flow atau biosafety cabinet (BSC);
d. Homogenizer atau ultrasonic homogenizer;
e. Autoklaf;
f. Lemari pendingin (refrigerator);
g. Freezer;
h. Timbangan analitik;
i. Inkubator;
j. Magnet pengaduk (spin bar);
k. pH Meter;
l. Tube shaker;
m. Bulb;
n. Rak tabung;
o. Magnetic stirrer;
dikomersialkan”
p. Pipet mikro 20 µl s.d. 1.000 µl;
q. Kaliper atau jangka sorong atau alat lain yang sesuai untuk mengukur diameter zona
hambatan;
r. Burner;
s. Loop needle (öse);
t. Hot plate;
u. Pinset;
v. Gunting; dan
w. Kapas steril.
9 Prosedur
a. Sebelum membuat larutan standar antibiotik, terlebih dahulu lakukan pengecekan potensi
standar yang tertera pada label kemasan standar tersebut. Timbang standar tersebut
dalam botol timbang.
b. Buat larutan stok standar dengan konsentrasi 1.000 µg/ml atau 1.000 IU/ml dengan
volume minimum 4 ml.
c. Penimbangan standar dilakukan di ruang timbang yang terkendali pada suhu ≤ 25 °C dan
kelembapan ≤ 50%.
CONTOH Apabila standar antibiotik mempunyai potensi 98%, maka untuk membuat larutan standar
1.000 µg/ml, diperlukan 4,9 mg (5 mg x 98%) standar tersebut dalam 4,9 ml masing-masing pelarut.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
9.1.2 Pembuatan larutan stok standar
Larutkan sejumlah standar natrium penisilin dalam larutan dapar fosfat Nomor 1 (lihat
Lampiran A.1) sehingga diperoleh konsentrasi 1.000 IU/ml.
Larutkan sejumlah standar oksitetrasiklin hidroklorida dalam air distilasi hingga diperoleh
konsentrasi 1.000 µg/ml.
Larutkan sejumlah standar kanamisin sulfat dalam larutan dapar fosfat Nomor 3 (lihat
Lampiran A.3) sehingga diperoleh konsentrasi 1.000 µg/ml.
Larutkan sejumlah standar tilosin tartrat dalam metanol 10% dalam air distilasi sehingga
diperoleh konsentrasi 1.000 µg/ml.
dikomersialkan”
Larutkan sejumlah standar sulfadiazin dalam metanol 10% dalam air distilasi sehingga
diperoleh konsentrasi 1.000 µg/ml.
CATATAN Simpan semua larutan stok standar di dalam freezer pada suhu minimum –20 °C paling
lama 1 bulan. Sebelum digunakan, cairkan (thawing) larutan stok standar dengan cara diletakkan dalam
refrigerator.
CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Tabel 1 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja natrium penisilin
untuk golongan beta laktam
dikomersialkan”
CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.
CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Tabel 3 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja kanamisin sulfat
untuk golongan aminoglikosida
CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.
dikomersialkan”
Tabel 4 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja tilosin tartrat
untuk golongan makrolida
CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Tabel 5 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja sulfadiazin untuk
golongan sulfonamida
CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.
dikomersialkan”
Tabel 6 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja enrofloksasin
untuk golongan kuinolon
Persiapan contoh uji dapat dilakukan dengan metode langsung atau metode ekstraksi.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
9.2.1.2 Penyiapan contoh telur
a. Bersihkan permukaan cangkang telur menggunakan alkohol 70% dengan kapas steril
dan biarkan hingga kering;
b. Buat lubang pada bagian yang lancip untuk mengeluarkan putih telur (albumen) dengan
hati-hati sehingga terpisah dengan kuning telur;
c. Pindahkan kuning telur ke dalam gelas piala dan homogenkan; dan
d. Celupkan kertas cakram selama beberapa menit ke dalam kuning telur hingga seluruh
bagian kertas cakram menyerap contoh uji, dan siap digunakan sebagai contoh uji.
9.2.1.3 Penyiapan contoh susu mentah (raw milk) dan susu cair plain
Contoh susu mentah (raw milk) dan susu cair plain langsung dapat digunakan sebagai larutan
contoh uji.
dikomersialkan”
9.2.2.2 Penyiapan contoh telur
a. Bersihkan permukaan cangkang telur menggunakan alkohol 70% dengan kapas steril
dan biarkan hingga kering;
b. Buat lubang pada bagian lancip untuk mengeluarkan putih telur (albumen) dengan hati-
hati sehingga terpisah dengan kuning telur;
c. Pindahkan kuning telur ke dalam gelas piala;
d. Timbang contoh kuning telur sebanyak 10 g, tambahkan pelarut dapar fosfat Nomor 2
(lihat Lampiran A.2) sebanyak 20 ml, homogenkan menggunakan homogenizer;
e. Sentrifus 3.000 rpm selama 10 menit; dan
f. Ambil supernatan dan siap digunakan sebagai larutan contoh uji.
Letakkan media agar yang telah dibuat dalam penangas air hingga suhu mencapai 48 °C ±
2 °C. Media agar yang tidak habis digunakan pada pengujian sebelumnya dapat disimpan
maksimum 14 hari pada suhu 1 °C s.d. 7 °C, dan dapat digunakan untuk pengujian berikutnya.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
9.3.1 Pembuatan media kultur Bacillus stearothermophilus untuk golongan beta
laktam
a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
c. Tambahkan 2,5% larutan dextrose 2%, kemudian campurkan ke dalam 100 ml media,
homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
d. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo) dan tambahkan satu cawan petri untuk
uji peneguhan; dan
e. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.
CATATAN Cara pembuatan spora dan verifikasi dapat dilihat pada Lampiran C.
a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
dikomersialkan”
c. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo); dan
d. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.
CATATAN Cara pembuatan spora dan verifikasi dapat dilihat pada Lampiran C.
9.3.3 Pembuatan media kultur Bacillus subtilis subspesies spizizenii untuk golongan
aminoglikosida
a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
c. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo); dan
d. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.
CATATAN Cara pembuatan spora dan verifikasi dapat dilihat pada Lampiran C.
9.3.4 Pembuatan media kultur sel vegetatif Kocuria rhizophila untuk golongan
makrolida
a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
c. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo); dan
d. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.
9.3.5 Pembuatan media kultur Bacillus subtilis subspesies spizizenii untuk golongan
sulfonamida
a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
c. Tambahkan 1 ml larutan trimetoprim 50 µg/ml (lihat Lampiran D), homogenkan dengan
cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga merata;
d. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo) dan tambahkan satu cawan petri untuk
uji peneguhan; dan
e. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.
CATATAN Cara pembuatan spora dan verifikasi dapat dilihat pada Lampiran C.
dikomersialkan”
a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
c. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo); dan
d. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.
a. Tempelkan kertas cakram yang sudah berisi contoh uji (metode langsung) atau kertas
cakram yang telah ditetesi contoh uji (metode ekstraksi) sebanyak 75 µl (diameter 8 mm)
atau 100 µl (diameter 10 mm) pada media kultur;
b. Teteskan larutan standar pada kertas cakram kosong sebanyak 75 µl (diameter 8 mm)
atau 100 µl (diameter 10 mm) sebagai kontrol positif dan larutan dapar fosfat Nomor 2
(lihat Lampiran A.2) sebagai kontrol negatif;
c. Khusus untuk pengujian golongan beta laktam, teteskan sebanyak 20 µl enzim
penisilinase pada kertas cakram contoh uji dan larutan standar pada satu cawan petri
tambahan, dan untuk golongan sulfonamida, teteskan sebanyak 20 µl para-aminobenzoic
acid (PABA) pada kertas cakram contoh uji dan larutan standar pada satu cawan petri
tambahan;
d. Tempatkan masing-masing cawan petri yang berisi media kultur, contoh uji, dan kontrol
pada permukaan datar pada suhu ruang selama 30 menit; dan
e. Inkubasikan dalam inkubator selama 16 jam s.d. 18 jam, untuk:
(1) golongan makrolida, aminoglikosida, sulfonamida, dan kuinolon pada suhu
36 °C ± 1 °C;
(2) golongan tetrasiklin pada suhu 30 °C ± 1 °C; dan
(3) golongan beta laktam pada suhu 55 °C ± 1 °C.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
9.5 Interpretasi hasil uji
a. Amati dan ukur diameter zona hambatan yang terdapat di sekeliling kertas cakram
dengan menggunakan kaliper atau jangka sorong;
b. Kontrol positif harus terdapat zona hambatan di sekeliling kertas cakram dengan diameter
> 18 mm; dan
c. Kontrol negatif harus tidak terdapat zona hambatan.
a. Hasil uji positif ditunjukkan dengan adanya zona hambatan ≥ 2 mm dari diameter kertas
cakram (lihat Gambar 1);
b. Hasil uji positif untuk golongan beta laktam, selain memenuhi kriteria pada huruf a, juga
ditunjukkan dengan tidak adanya zona hambatan pada cawan petri tambahan untuk
peneguhan; dan
c. Hasil uji positif untuk golongan sulfonamida, selain memenuhi kriteria pada huruf a, juga
ditunjukkan dengan tidak adanya zona hambatan pada cawan petri tambahan untuk
peneguhan.
dikomersialkan”
Hasil uji negatif ditunjukkan dengan tidak adanya zona hambatan atau adanya zona hambatan
< 2 mm dari diameter kertas cakram (lihat Gambar 1).
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
10 Pengendalian mutu pengujian
Kurva standar pada metode ini diperlukan dalam rangka pengendalian mutu pengujian.
Pembuatan kurva standar dilakukan:
a. secara berkala minimum 6 bulan sekali; dan
b. pada saat pergantian stok mikroorganisme.
a. Siapkan larutan kurva standar kerja natrium penisilin untuk golongan beta laktam dengan
variasi konsentrasi sesuai Tabel 7.
Tabel 7 - Larutan kurva standar kerja natrium penisilin untuk golongan beta
laktam
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1
dikomersialkan”
1 8 20 0,4
0,4 2 20 0,04 a
0,04 10 20 0,02 a
0,02 10 20 0,01 a
0,01 10 20 0,005 a
0,005 10 20 0,0025 a
b. Siapkan larutan kurva standar kerja oksitetrasiklin hidroklorida untuk golongan tetrasiklin
dengan variasi konsentrasi sesuai Tabel 8.
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 4 20 2a
2 10 20 1a
1 10 20 0,5 a
0,5 10 20 0,25 a
0,25 10 20 0,125 a
a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan kurva standar kerja.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
c. Siapkan larutan standar kerja kanamisin tartrat untuk golongan aminoglikosida, tilosin
tartrat untuk golongan makrolida, dan sulfadiazin untuk golongan sulfonamida, dengan
variasi konsentrasi sesuai Tabel 9.
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 8 20 4a
4 10 20 2a
2 10 20 1a
1 10 20 0,5 a
0,5 10 20 0,25 a
dikomersialkan”
d. Siapkan larutan kurva standar kerja enrofloksasin untuk golongan kuinolon dengan
variasi konsentrasi sesuai Tabel 10.
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1
1 8 20 0,4 a
0,4 10 20 0,2 a
0,2 10 20 0,1 a
0,1 10 20 0,05 a
0,05 10 20 0,025 a
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
e. Inkubasikan dalam inkubator selama 16 jam s.d. 18 jam, untuk:
(1) golongan makrolida, aminoglikosida, sulfonamida, dan kuinolon pada suhu
36 °C ± 1 °C;
(2) golongan tetrasiklin pada suhu 30 °C ± 1 °C; dan
(3) golongan beta laktam pada suhu 55 °C ± 1 °C.
f. Diameter zona hambatan diukur dengan menggunakan kaliper atau jangka sorong; dan
g. Buat kurva yang menyatakan hubungan linier regresi antara konsentrasi antibiotik dengan
diameter zona hambatan.
dikomersialkan”
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Lampiran A
(normatif)
Pembuatan larutan dapar
a. Timbang 7 g KH2PO4, dan 6 g Na2HPO4 dalam gelas piala, dan larutkan dalam 500 ml air
distilasi;
b. Ukur pH larutan. Jika pH > 6,1 teteskan larutan 1 N H3PO4 atau jika pH < 5,9 teteskan
larutan 1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 6,0 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam
botol media;
c. Tambahkan air distilasi sampai 1.000 ml; dan
d. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, dengan tekanan 15 Psi selama 15
menit.
a. Timbang 6,4 g KH2PO4 dan 18,9 g Na2HPO4 dalam gelas piala, dan larutkan dalam
500 ml air distilasi;
b. Ukur pH larutan. Jika pH > 7,1 teteskan larutan 1 N H3PO4 atau jika pH < 6,9 teteskan
larutan 1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 7,0 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam
dikomersialkan”
botol media;
c. Tambahkan air distilasi sampai 1.000 ml; dan
d. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, dengan tekanan 15 Psi selama 15
menit.
a. Timbang 3,5 g KH2PO4, dan 3 g Na2HPO4 dalam gelas piala, dan larutkan dalam 500 ml
air distilasi;
b. Ukur pH larutan. Jika pH > 6,1 teteskan larutan 1 N H3PO4 atau jika pH < 5,9 teteskan
larutan 1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 6,0 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam
botol media;
c. Tambahkan air distilasi sampai 1.000 ml; dan
d. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, dengan tekanan 15 Psi selama 15
menit.
Pipet 10 ml metanol kemudian tambahkan air distilasi hingga volume menjadi 100 ml.
a. Timbang 4 g NaOH;
b. Larutkan ke dalam 50 ml air distilasi; dan
c. Tambahkan air distilasi sampai volume 100 ml.
Pipet 52,1 ml etanol 96% kemudian tambahkan air distilasi hingga volume menjadi 100 ml.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Lampiran B
(normatif)
Pembuatan media agar
dikomersialkan”
e. Didihkan menggunakan hot plate sampai bacto agar tersebut larut; dan
f. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.
a. Timbang 2 g dextrose dalam botol media, kemudian larutkan ke dalam air distilasi sampai
100 ml; dan
b. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
(3) yeast extract sebanyak 3,0 g;
(4) KH2PO4 sebanyak 1,35 g;
(5) bacto agar sebanyak 15 g s.d. 18 g; dan
(6) air distilasi s.d. 1.000 ml.
b. Larutkan peptone, beef extract, yeast extract dan KH2PO4 pada gelas piala dengan
500 ml air distilasi;
c. Ukur pH larutan. Jika pH > 5,8 teteskan larutan 1 N HCl atau jika pH < 5,6 teteskan larutan
1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 5,7 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam botol
media;
d. Tambahkan bacto agar, selanjutnya tambahkan air distilasi sehingga volume keseluruhan
menjadi 1.000 ml;
e. Didihkan menggunakan hot plate sampai bacto agar tersebut larut; dan
f. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.
B.4 Media biakan Kocuria rhizophila dan media biakan Escherichia coli
dikomersialkan”
b. Larutkan peptone, beef extract, yeast extract, dan glucose pada gelas piala dengan
500 ml air distilasi;
c. Ukur pH larutan. Jika pH > 8,6 teteskan larutan 1 N HCl atau jika pH < 8,4 teteskan larutan
1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 8,5 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam botol
media;
d. Tambahkan bacto agar, selanjutnya tambahkan air distilasi sehingga volume keseluruhan
menjadi 1.000 ml;
e. Didihkan menggunakan hot plate sampai bacto agar tersebut larut; dan
f. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Lampiran C
(normatif)
Pembuatan spora dan sel vegetatif
a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) dalam Roux's bottle sebanyak
100 ml;
b. Inokulasikan mikroorganisme Bacillus cereus ATCC 11778 ke dalam botol-botol yang
telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan menggunakan
loop needle (öse). Inkubasikan selama 2 minggu dalam inkubator dengan suhu
30 °C ± 1 °C, amati pertumbuhan setiap hari;
c. Biakan yang telah membentuk spora dipanen dengan cara mengerok permukaan media
yang ditumbuhi mikroorganisme dengan loop needle (öse), dan masukkan ke dalam
tabung yang berisi 20 ml NaCl fisiologis steril (jumlah tabung bergantung pada
banyaknya hasil panen spora);
d. Panaskan larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C selama 30 menit;
e. Sentrifus hasil dari huruf d dengan kecepatan 3.000 rpm selama 10 menit dan buang
supernatannya (lapisan atas);
f. Tambahkan maksimum 20 ml NaCl fisiologis steril, selanjutnya kocok hingga homogen.
Masukkan dalam refrigerator dengan kisaran suhu 4 °C s.d. 8 °C selama 18 jam s.d.
dikomersialkan”
24 jam;
g. Panaskan kembali larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C
selama 30 menit; dan
h. Sentrifus kembali dengan kecepatan 1.000 rpm selama 5 menit dan ambil semua
supernatan sebagai stok spora dan simpan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d.
8 °C.
a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) dalam Roux’s bottle sebanyak
100 ml;
b. Inokulasikan mikroorganisme Bacillus subtillis ATCC 6633 ke dalam botol-botol yang
telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan menggunakan
loop needle (öse). Inkubasikan selama 2 minggu dalam inkubator dengan suhu 36 °C ±
1 °C, amati pertumbuhan setiap hari;
c. Biakan yang telah membentuk spora dipanen dengan cara mengerok permukaan media
yang ditumbuhi mikroorganisme dengan loop needle (öse) dan masukkan ke dalam
tabung yang berisi 20 ml NaCl fisiologis steril (jumlah tabung bergantung pada banyaknya
hasil panen spora);
d. Panaskan larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C selama 30 menit;
e. Sentrifus dengan kecepatan 3.000 rpm selama 10 menit dan buang supernatannya
(lapisan atas);
f. Tambahkan maksimum 20 ml NaCl fisiologis steril, selanjutnya kocok hingga homogen.
Masukkan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d. 8 °C selama 18 jam s.d. 24 jam;
g. Panaskan kembali larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C
selama 30 menit; dan
h. Sentrifus kembali dengan kecepatan 1.000 rpm selama 5 menit dan ambil semua
supernatan sebagai stok spora dan simpan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d.
8 °C.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
C.3 Pembuatan spora Bacillus stearothermophillus ATCC 7953
a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) dalam Roux’s bottle sebanyak
100 ml yang telah ditambahkan dextrose 2% sebanyak 2,5% ke dalam masing-masing
botol;
b. Inokulasikan mikroorganisme Bacillus stearothermophillus ATCC 7953 ke dalam botol-
botol yang telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan
menggunakan loop needle (öse), inkubasikan selama 4 minggu dalam inkubator dengan
suhu 55 °C ± 1 °C, amati pertumbuhan setiap hari;
c. Biakan yang telah membentuk spora dipanen dengan cara mengerok permukaan media
yang ditumbuhi mikroorganisme dengan loop needle (öse) dan masukkan ke dalam
tabung yang berisi 20 ml NaCl fisiologis steril (jumlah tabung bergantung pada banyaknya
hasil panen spora);
d. Panaskan larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C selama 30 menit;
e. Sentrifus dengan kecepatan 3.000 rpm selama 10 menit dan buang supernatannya;
f. Tambahkan larutan NaCl fisiologis steril maksimum 20 ml, selanjutnya kocok hingga
homogen. Masukkan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d. 8 °C selama 18 jam s.d.
24 jam;
g. Panaskan kembali larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C selama
30 menit; dan
h. Sentrifus kembali dengan kecepatan 1.000 rpm selama 5 menit dan ambil semua
supernatan sebagai stok spora dan simpan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d.
8 °C.
dikomersialkan”
C.4 Pembuatan sel vegetatif mikroorganisme Kocuria rhizophila (Micrococcus luteus)
ATCC 9341
a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) sebanyak 10 ml dalam tabung reaksi
steril;
b. Inokulasikan mikroorganisme Kocuria rhizophila ATCC 9341 dalam tabung reaksi yang
telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan menggunakan
loop needle (öse). Inkubasikan selama 18 jam s.d. 24 jam dalam inkubator dengan suhu
36 °C ± 1 °C;
c. Ambil 1 loop needle (öse) mikroorganisme biakan Kocuria rhizophila ATCC 9341 dan
masukkan ke dalam 10 ml media HIB;
d. Inkubasikan selama 18 jam s.d. 24 jam dalam inkubator dengan suhu 36 °C ± 1 °C ; dan
e. Mikroorganisme siap digunakan untuk pengujian dan harus selalu dalam keadaan baru.
a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) sebanyak 10 ml dalam tabung reaksi
steril;
b. Inokulasikan mikroorganisme Escherichia coli ATCC 11303 dalam tabung reaksi yang
telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan menggunakan
loop needle (öse). Inkubasikan selama 18 jam s.d. 24 jam dalam inkubator dengan suhu
36 °C ± 1 °C;
c. Ambil 1 loop needle (öse) mikroorganisme biakan Escherichia coli ATCC 11303 dan
masukkan ke dalam 10 ml media HIB;
d. Inkubasikan selama 18 jam s.d. 24 jam dalam inkubator dengan suhu 36 °C ± 1 °C; dan
e. Mikroorganisme siap digunakan untuk pengujian dan harus selalu dalam keadaan baru.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
C.6 Penghitungan spora
Hitung spora dengan mengacu pada cara uji angka lempeng total (ALT) sesuai dengan SNI
ISO 4833-1.
dikomersialkan”
menentukan hasil uji; dan
i. Gunakan persentase spora dan sel vegetatif yang menunjukkan zona hambatan dengan
diameter > 18 mm.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Lampiran D
(normatif)
Pembuatan larutan trimetoprim
dikomersialkan”
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Bibliografi
[1] Al-Mashhadany D A. Detection of antibiotic residues among raw beef in Erbil City (Iraq)
and impact of temperature on antibiotic remains. Italian Journal of Food Safety, 2019,
8(1): 6-10.
[3] Division of Microbiology. U.S. Food and Drug Administration. Bacteriological Analitical
Manual [BAM]. Gaithersburg: USA AOAC International, 1998.
[4] Ferrini A M, Mannoni V, Aureli P. Combined Plate Microbial Assay (CPMA): A 6-plate-
method for simultaneous first and second level screening of antibacterial residues in
meat. Food Additives and Contaminants, 2006, 23(1): 16–24.
[5] Gaudin V, Hedou C, Rault A, Verdon E. Validation of a five plate test, the STAR protocol,
for the screening of antibiotic residues in muscle from different animal species according
dikomersialkan”
to the European decision 2002/657/EC. Food Additives and Contaminants, 2010, 27(07):
935-952.
[7] Idowu F, Junaid K, Paul A, Gabriel O, Paul A, Sati N, Jarlath U. Antimicrobial screening
of commercial eggs and determination of tetracycline residue using two microbiological
methods. International Journal of Poultry Science, 2010, 9(10): 959-962.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
[11] Shahid M A, Muhammad Siddique M S, Sajjad-ur-Rehman S U R, Sajid Hameed S H,
Muhammad Imran M I. Evaluation of a microbiological growth inhibition assay as a
screening test for the presence of antibiotic residues in poultry meat. American Journal
of Food Technology. 2007, 2(5): 457-461.
dikomersialkan”
dikomersialkan”
Achmad Fachmi
Akhmad Sawaldi