0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan34 halaman

Sni 7424 - 2024 Uji Tapis

Diunggah oleh

syam.pratiwi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan34 halaman

Sni 7424 - 2024 Uji Tapis

Diunggah oleh

syam.pratiwi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

448/KEP/BSN/9/2024

30 September 2024
SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Standar Nasional Indonesia

dikomersialkan”
Metode uji tapis (screening test) residu antibiotik
menggunakan bioassay pada daging, jeroan, telur,
dan susu

ICS 67.050
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
dikomersialkan”

© BSN 2024

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau
seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan
dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN

BSN
Email: [email protected]
www.bsn.go.id

Diterbitkan di Jakarta
SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Daftar isi

Daftar isi ................................................................................................................................. i


Prakata .................................................................................................................................. ii
Pendahuluan ......................................................................................................................... iii
1 Ruang lingkup .................................................................................................................. 1
2 Acuan normatif ................................................................................................................. 1
3 Istilah dan definisi ............................................................................................................ 1
4 Singkatan ......................................................................................................................... 2
5 Prinsip pengujian ............................................................................................................. 2
6 Mikroorganisme dan media .............................................................................................. 2
7 Bahan .............................................................................................................................. 3
8 Peralatan ......................................................................................................................... 3
9 Prosedur .......................................................................................................................... 4
10 Pengendalian mutu pengujian ...................................................................................... 13
Lampiran A (normatif) Pembuatan larutan dapar ................................................................. 16

dikomersialkan”
Lampiran B (normatif) Pembuatan media agar..................................................................... 17
Lampiran C (normatif) Pembuatan spora dan sel vegetatif .................................................. 19
Lampiran D (normatif) Pembuatan larutan trimetoprim......................................................... 22
Bibliografi ............................................................................................................................. 23

Tabel 1 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja natrium penisilin untuk golongan
beta laktam ............................................................................................................................ 6
Tabel 2 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja oksitetrasiklin hidroklorida untuk
golongan tetrasiklin ................................................................................................................ 6
Tabel 3 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja kanamisin sulfat untuk golongan
aminoglikosida ....................................................................................................................... 7
Tabel 4 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja tilosin tartrat untuk golongan
makrolida ............................................................................................................................... 7
Tabel 5 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja sulfadiazin untuk golongan
sulfonamida ........................................................................................................................... 8
Tabel 6 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja enrofloksasin untuk golongan
kuinolon ................................................................................................................................. 8
Tabel 7 - Larutan kurva standar kerja natrium penisilin untuk golongan beta laktam ............ 13
Tabel 8 - Larutan kurva standar kerja oksitetrasiklin hidroklorida untuk golongan tetrasiklin 13
Tabel 9 - Larutan kurva standar kerja kanamisin tartrat untuk golongan aminoglikosida, tilosin
tartrat untuk golongan makrolida, dan sulfadiazin untuk golongan sulfonamida ................... 14
Tabel 10 - Larutan kurva standar kerja enrofloksasin untuk golongan kuinolon.................... 14

Gambar 1 - Interpretasi hasil uji ........................................................................................... 12

© BSN 2024 i
SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Prakata

SNI 7424:2024 Metode uji tapis (screening test) residu antibiotik menggunakan bioassay pada
daging, jeroan, telur, dan susu yang dalam bahasa Inggris berjudul Screening test of antibiotic
residues in meat, offal, egg, and milk using bioassay merupakan standar revisi dari SNI
7424:2008, Metode uji tapis (screening test) residu antibiotika pada daging, telur, dan susu
secara bioassay. Standar ini disusun dengan jalur pengembangan sendiri dan ditetapkan oleh
BSN Tahun 2024.

Perubahan dalam Standar ini meliputi:


1. judul SNI;
2. penambahan ruang lingkup terkait dengan matriks contoh uji dan golongan antibiotiknya;
dan
3. penyempurnaan metode uji.

Standar ini disusun oleh Komite Teknis 65-20 Kesehatan Masyarakat Veteriner. Standar ini
telah dibahas dalam rapat teknis dan disepakati dalam rapat konsensus pada tanggal 29 Juli
2024 di Bogor secara gabungan rapat luring-daring yang dihadiri oleh para pemangku
kepentingan (stakeholders) terkait, yaitu perwakilan dari pemerintah, pelaku usaha,
konsumen, dan pakar.

dikomersialkan”
Standar ini telah melalui proses jajak pendapat pada tanggal 7 Agustus 2024 sampai dengan
5 September 2024 dan disetujui menjadi SNI.

Untuk menghindari kesalahan dalam penggunaan Standar ini, disarankan bagi pengguna
standar untuk menggunakan dokumen SNI yang dicetak dengan tinta berwarna.

Perlu diperhatikan bahwa kemungkinan beberapa unsur dari Standar ini dapat berupa hak
kekayaan intelektual (HAKI). Namun selama proses perumusan SNI, Badan Standardisasi
Nasional telah memperhatikan penyelesaian terhadap kemungkinan adanya HAKI terkait
substansi SNI. Apabila setelah penetapan SNI masih terdapat permasalahan terkait HAKI,
Badan Standardisasi Nasional tidak bertanggung jawab mengenai bukti, validitas, dan ruang
lingkup dari HAKI tersebut.

© BSN 2024 ii
SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Pendahuluan

Keamanan pangan asal hewan mempunyai peranan penting dalam memenuhi protein hewani,
karena mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan manusia. Deklarasi WHO tahun
2003 menyatakan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan pangan yang aman dan layak.
Hal tersebut selaras dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam
Pasal 58 ayat (1) dinyatakan bahwa dalam rangka penjaminan produk hewan yang aman,
sehat, utuh, dan halal (ASUH), pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban melakukan
pengawasan, pemeriksaan, pengujian, standardisasi, sertifikasi, dan registrasi produk hewan.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan pangan asal hewan yang aman dan layak untuk
dikonsumsi perlu dilakukan pengawasan berbasis pengujian laboratorium terhadap residu
antibiotik dengan menggunakan metode uji yang terstandardisasi. Metode ini mengacu pada
sejumlah dokumen dari organisasi internasional, peraturan perundangan yang berlaku, dan
pustaka lain yang telah dipublikasikan.

dikomersialkan”

© BSN 2024 iii


“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
dikomersialkan”
SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Metode uji tapis (screening test) residu antibiotik menggunakan bioassay pada
daging, jeroan, telur, dan susu

1 Ruang lingkup

Standar ini menetapkan metode uji tapis (screening test) residu antibiotik menggunakan
bioassay pada daging, jeroan, telur, dan susu. Telur hanya mencakup telur mentah yang
berasal dari unggas untuk konsumsi. Susu mencakup susu mentah (raw milk), susu cair plain,
dan susu bubuk.

Standar ini berlaku untuk pengujian residu antibiotik golongan beta laktam, tetrasiklin,
aminoglikosida, makrolida, sulfonamida, dan kuinolon.

2 Acuan normatif

Dokumen acuan berikut sangat diperlukan untuk penerapan Standar ini. Untuk acuan
bertanggal, hanya edisi yang disebutkan yang berlaku. Untuk acuan tidak bertanggal, berlaku
edisi terakhir dari dokumen acuan tersebut (termasuk seluruh perubahan/amendemennya).

SNI ISO 4833-1, Mikrobiologi rantai pangan – Metode horizontal untuk enumerasi

dikomersialkan”
mikroorganisme – Bagian 1: Penghitungan koloni pada suhu 30 °C dengan teknik cawan tuang

3 Istilah dan definisi

Untuk tujuan penggunaan dokumen ini, istilah dan definisi berikut berlaku.

3.1
metode uji tapis
suatu cara pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi kandungan residu antibiotik secara
kualitatif sesuai dengan batas deteksi tertentu pada daging, jeroan, telur, dan susu

3.2
bioassay
metode pengujian menggunakan mikroorganisme untuk mendeteksi residu antibiotik

3.3
residu antibiotik
zat antibiotik termasuk metabolitnya yang terkandung dalam daging, jeroan, telur, dan susu,
baik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari penggunaan antibiotik

3.4
daging
bagian otot skeletal dari karkas hewan ternak yang aman, layak, dan lazim dikonsumsi oleh
manusia

CATATAN Daging dapat berupa daging hangat (hot meat), daging segar dingin (chilled fresh meat),
atau daging beku (frozen meat).

© BSN 2024 1 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
3.5
jeroan
organ dari hewan ternak yang aman, layak, dan lazim dikonsumsi oleh manusia

CATATAN Jeroan dapat berupa jeroan hangat (hot offal), jeroan segar dingin (chilled fresh offal),
atau jeroan beku (frozen offal).

3.6
susu mentah (raw milk)
cairan yang berasal dari ambing hewan ternak sehat dan bersih, yang diperoleh dengan cara
pemerahan yang benar, yang kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu
apapun dan belum mendapat perlakuan apapun kecuali pendinginan

3.7
susu cair plain
produk susu cair yang diperoleh dari susu mentah atau susu rekonstitusi atau susu
rekombinasi tanpa bahan tambahan pangan yang mempunyai sifat antimikrob yang telah
mengalami proses pasteurisasi atau sterilisasi

3.8
susu bubuk
produk susu yang diperoleh melalui pengeringan susu tanpa bahan tambahan pangan yang
mempunyai sifat antimikrob

dikomersialkan”
4 Singkatan

Psi = pressure square inch;


rpm = rotation per minute;
ATCC = American Type Culture Collection;
IU = International Unit; dan
HIB = Heart Infusion Broth.

5 Prinsip pengujian

Residu antibiotik akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar.


Penghambatan dapat dilihat dengan adanya zona hambatan di sekitar kertas cakram.

6 Mikroorganisme dan media

6.1 Mikroorganisme

a. Spora Bacillus stearothermophilus ATCC 7953 untuk golongan beta laktam;


b. Spora Bacillus cereus ATCC 11778 untuk golongan tetrasiklin;
c. Spora Bacillus subtillis subspesies spizizenii ATCC 6633 untuk golongan aminoglikosida
dan golongan sulfonamida;
d. Sel vegetatif Kocuria rhizophila ATCC 9341 untuk golongan makrolida; dan
e. Sel vegetatif Escherichia coli ATCC 11303 untuk golongan kuinolon.

6.2 Media

a. Media agar Bacillus stearothermophilus: yeast extract, tryptone, bacto agar, dextrose;

© BSN 2024 2 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
b. Media agar Bacillus cereus: yeast extract, beef extract, peptone, bacto agar, KH2PO4;
c. Media agar Bacillus subtilis subspesies spizizenii: beef extract, peptone, bacto agar;
d. Media agar Kocuria rhizophila: yeast extract, beef extract, peptone, bacto agar, glucose;
e. Media agar Escherichia coli: yeast extract, beef extract, peptone, bacto agar, glucose;
dan
f. Media cair untuk sel vegetatif (Kocuria rhizophila dan Escherichia coli): HIB.

7 Bahan

7.1 Standar

a. Standar natrium penisilin untuk golongan beta laktam;


b. Standar oksitetrasiklin hidroklorida untuk golongan tetrasiklin;
c. Standar kanamisin sulfat untuk golongan aminoglikosida;
d. Standar tilosin-tartrat untuk golongan makrolida;
e. Standar sulfadiazin untuk golongan sulfonamida; dan
f. Standar enrofloksasin untuk golongan kuinolon.

7.2 Bahan kimia/dapar

a. Kalium dihidrogen fosfat (KH2PO4);


b. Dinatrium hidrogen fosfat (Na2HPO4);

dikomersialkan”
c. Asam fosfat (H3PO4);
d. Natrium hidroksida (NaOH);
e. Dikalium hidrogen fosfat (K2HPO4);
f. Asam klorida (HCl);
g. Natrium klorida (NaCl);
h. Standar trimetoprim;
i. Alkohol 70%;
j. Metanol (CH3OH);
k. Etanol (C2H5OH); dan
l. Air distilasi atau akuabides atau air dengan grade yang setara atau lebih (contoh: air
demineralisasi, reverse osmosis water).

7.3 Bahan lainnya

Kertas cakram (paper disc) yang steril tebal (thick) yang mampu menyerap larutan minimum
75 µl dengan diameter 8 mm atau 10 mm.

8 Peralatan

8.1 Bahan gelas

a. Cawan petri ukuran 100 mm x 12 mm;


b. Tabung reaksi ukuran 7 ml, 20 ml, 50 ml;
c. Tabung sentrifus ukuran 50 ml;
d. Labu ukur 50 ml, 100 ml;
e. Gelas ukur 100 ml, 500 ml, 1.000 ml;
f. Gelas piala;
g. Erlenmeyer 250 ml, 500 ml;
h. Botol timbang ukuran 20 ml;
i. Pipet volumetrik ukuran 1 ml, 2 ml, 3 ml, 5 ml, 10 ml, 18 ml;
j. Pipet graduasi ukuran 1 ml, 5 ml, 7 ml, 10 ml, 20 ml;

© BSN 2024 3 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
k. Roux’s bottle;
l. Botol media; dan
m. Tabung pengenceran minimum 25 ml.

CATATAN Semua bahan gelas yang digunakan dalam pengujian ini dalam keadaan steril, kecuali
pipet volumetrik.

8.2 Alat

a. Sentrifus;
b. Penangas air;
c. Clean bench atau laminar air flow atau biosafety cabinet (BSC);
d. Homogenizer atau ultrasonic homogenizer;
e. Autoklaf;
f. Lemari pendingin (refrigerator);
g. Freezer;
h. Timbangan analitik;
i. Inkubator;
j. Magnet pengaduk (spin bar);
k. pH Meter;
l. Tube shaker;
m. Bulb;
n. Rak tabung;
o. Magnetic stirrer;

dikomersialkan”
p. Pipet mikro 20 µl s.d. 1.000 µl;
q. Kaliper atau jangka sorong atau alat lain yang sesuai untuk mengukur diameter zona
hambatan;
r. Burner;
s. Loop needle (öse);
t. Hot plate;
u. Pinset;
v. Gunting; dan
w. Kapas steril.

9 Prosedur

9.1 Larutan standar

9.1.1 Larutan stok standar

a. Sebelum membuat larutan standar antibiotik, terlebih dahulu lakukan pengecekan potensi
standar yang tertera pada label kemasan standar tersebut. Timbang standar tersebut
dalam botol timbang.
b. Buat larutan stok standar dengan konsentrasi 1.000 µg/ml atau 1.000 IU/ml dengan
volume minimum 4 ml.
c. Penimbangan standar dilakukan di ruang timbang yang terkendali pada suhu ≤ 25 °C dan
kelembapan ≤ 50%.

CONTOH Apabila standar antibiotik mempunyai potensi 98%, maka untuk membuat larutan standar
1.000 µg/ml, diperlukan 4,9 mg (5 mg x 98%) standar tersebut dalam 4,9 ml masing-masing pelarut.

© BSN 2024 4 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
9.1.2 Pembuatan larutan stok standar

9.1.2.1 Standar natrium penisilin

Larutkan sejumlah standar natrium penisilin dalam larutan dapar fosfat Nomor 1 (lihat
Lampiran A.1) sehingga diperoleh konsentrasi 1.000 IU/ml.

9.1.2.2 Standar oksitetrasiklin hidroklorida

Larutkan sejumlah standar oksitetrasiklin hidroklorida dalam air distilasi hingga diperoleh
konsentrasi 1.000 µg/ml.

9.1.2.3 Standar kanamisin sulfat

Larutkan sejumlah standar kanamisin sulfat dalam larutan dapar fosfat Nomor 3 (lihat
Lampiran A.3) sehingga diperoleh konsentrasi 1.000 µg/ml.

9.1.2.4 Standar tilosin tartrat

Larutkan sejumlah standar tilosin tartrat dalam metanol 10% dalam air distilasi sehingga
diperoleh konsentrasi 1.000 µg/ml.

9.1.2.5 Standar sulfadiazin

dikomersialkan”
Larutkan sejumlah standar sulfadiazin dalam metanol 10% dalam air distilasi sehingga
diperoleh konsentrasi 1.000 µg/ml.

9.1.2.6 Standar enrofloksasin

Larutkan sejumlah standar enrofloksasin dalam 1 N larutan NaOH sehingga diperoleh


konsentrasi 1.000 µg/ml.

CATATAN Simpan semua larutan stok standar di dalam freezer pada suhu minimum –20 °C paling
lama 1 bulan. Sebelum digunakan, cairkan (thawing) larutan stok standar dengan cara diletakkan dalam
refrigerator.

9.1.3 Pembuatan larutan standar kerja

9.1.3.1 Natrium penisilin untuk golongan beta laktam

a. Pipet 2 ml larutan stok standar natrium penisilin ke dalam tabung pengencer;


b. Encerkan hingga 20 ml dengan dapar fosfat Nomor 2 (lihat Lampiran A.2) sehingga
diperoleh larutan standar kerja 100 IU/ml, homogenkan dengan tube shaker;
c. Lakukan pengenceran serial hingga diperoleh konsentrasi 0,01 IU/ml; dan
d. Larutan standar kerja mengacu pada Tabel 1.

CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.

© BSN 2024 5 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Tabel 1 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja natrium penisilin
untuk golongan beta laktam

Konsentrasi larutan Volume yang diambil Diencerkan sampai Konsentrasi


(IU/ml) (ml) dengan (ml) (IU/ml)
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1
1 2 20 0,1
0,1 2 20 0,01 a
a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan standar kerja.

9.1.3.2 Oksitetrasiklin hidroklorida untuk golongan tetrasiklin

a. Pipet 2 ml larutan stok standar oksitetrasiklin hidroklorida ke dalam tabung pengencer;


b. Encerkan hingga 20 ml dengan dapar fosfat Nomor 2 (lihat Lampiran A.2) sehingga
diperoleh larutan standar kerja 100 μg/ml, homogenkan dengan tube shaker;
c. Lakukan pengenceran serial hingga diperoleh konsentrasi 0,5 μg/ml; dan
d. Larutan standar kerja mengacu pada Tabel 2.

dikomersialkan”
CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.

Tabel 2 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja oksitetrasiklin


hidroklorida untuk golongan tetrasiklin

Konsentrasi larutan Volume yang Diencerkan sampai Konsentrasi (µg/ml)


(µg/ml) diambil (ml) dengan (ml)
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1
1 5 5 0,5 a
a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan standar kerja

9.1.3.3 Kanamisin sulfat untuk golongan aminoglikosida

a. Pipet 2 ml larutan stok standar kanamisin sulfat ke dalam tabung pengencer;


b. Encerkan hingga 20 ml dengan dapar fosfat Nomor 2 (lihat Lampiran A.2) sehingga
diperoleh larutan standar kerja 100 μg/ml, homogenkan dengan tube shaker;
c. Lakukan pengenceran serial hingga diperoleh konsentrasi 1,0 μg/ml; dan
d. Larutan standar kerja mengacu pada Tabel 3.

CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.

© BSN 2024 6 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Tabel 3 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja kanamisin sulfat
untuk golongan aminoglikosida

Konsentrasi larutan Volume yang diambil Diencerkan sampai Konsentrasi (µg/ml)


(µg/ml) (ml) dengan (ml)
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1a
a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan standar kerja.

9.1.3.4 Tilosin tartrat untuk golongan makrolida

a. Pipet 2 ml larutan stok standar tilosin tartrat ke dalam tabung pengencer;


b. Encerkan hingga 20 ml dengan dapar fosfat Nomor 2 (lihat Lampiran A.2) sehingga
diperoleh larutan standar kerja 100 μg/ml, homogenkan dengan tube shaker;
c. Lakukan pengenceran serial hingga diperoleh konsentrasi 1,0 μg/ml; dan
d. Larutan standar kerja mengacu pada Tabel 4.

CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.

dikomersialkan”
Tabel 4 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja tilosin tartrat
untuk golongan makrolida

Konsentrasi larutan Volume yang diambil Diencerkan sampai Konsentrasi (µg/ml)


(µg/ml) (ml) dengan (ml)
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1a
a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan standar kerja.

9.1.3.5 Sulfadiazin untuk golongan sulfonamida

a. Pipet 2 ml larutan stok standar sulfadiazin ke dalam tabung pengencer;


b. Encerkan hingga 20 ml dengan air distilasi steril sehingga diperoleh larutan standar kerja
100 μg/ml, homogenkan dengan tube shaker;
c. Lakukan pengenceran serial hingga diperoleh konsentrasi 1,0 μg/ml; dan
d. Larutan standar kerja mengacu pada Tabel 5.

CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.

© BSN 2024 7 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Tabel 5 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja sulfadiazin untuk
golongan sulfonamida

Konsentrasi larutan Volume yang diambil Diencerkan sampai Konsentrasi (µg/ml)


(µg/ml) (ml) dengan (ml)
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1a
a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan standar kerja.

9.1.3.6 Enrofloksasin untuk golongan kuinolon

a. Pipet 2 ml larutan stok standar enrofloksasin ke dalam tabung pengencer;


b. Encerkan hingga 20 ml dengan air distilasi steril sehingga diperoleh larutan standar kerja
100 μg/ml, homogenkan dengan tube shaker;
c. Lakukan pengenceran serial hingga diperoleh konsentrasi 0,1 μg/ml; dan
d. Larutan standar kerja mengacu pada Tabel 6.

CATATAN Semua larutan standar kerja dibuat pada saat akan dipergunakan untuk pengujian dan
tidak digunakan untuk pengujian berikutnya.

dikomersialkan”
Tabel 6 - Pengenceran dan konsentrasi larutan standar kerja enrofloksasin
untuk golongan kuinolon

Konsentrasi larutan Volume yang diambil Diencerkan sampai Konsentrasi (μg/ml)


(μg/ml) (ml) dengan (ml)
1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1
1 2 20 0,1 a

a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan standar kerja.

9.2 Persiapan contoh uji

Persiapan contoh uji dapat dilakukan dengan metode langsung atau metode ekstraksi.

9.2.1 Metode langsung

9.2.1.1 Penyiapan contoh daging dan/atau jeroan

a. Buat sayatan pada daging dan/atau jeroan;


b. Tempelkan kertas cakram pada bagian dalam sayatan selama beberapa menit hingga
seluruh bagian kertas cakram menyerap contoh uji; dan
c. Pindahkan kertas cakram pada cawan petri dan siap digunakan sebagai contoh uji.

© BSN 2024 8 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
9.2.1.2 Penyiapan contoh telur

a. Bersihkan permukaan cangkang telur menggunakan alkohol 70% dengan kapas steril
dan biarkan hingga kering;
b. Buat lubang pada bagian yang lancip untuk mengeluarkan putih telur (albumen) dengan
hati-hati sehingga terpisah dengan kuning telur;
c. Pindahkan kuning telur ke dalam gelas piala dan homogenkan; dan
d. Celupkan kertas cakram selama beberapa menit ke dalam kuning telur hingga seluruh
bagian kertas cakram menyerap contoh uji, dan siap digunakan sebagai contoh uji.

9.2.1.3 Penyiapan contoh susu mentah (raw milk) dan susu cair plain

Contoh susu mentah (raw milk) dan susu cair plain langsung dapat digunakan sebagai larutan
contoh uji.

9.2.2 Metode ekstraksi

9.2.2.1 Penyiapan contoh daging dan/atau jeroan

a. Timbang contoh daging dan/atau jeroan sebanyak 10 g;


b. Potong kecil-kecil, tambahkan pelarut dapar fosfat Nomor 2 (lihat Lampiran A.2)
sebanyak 20 ml, homogenkan menggunakan homogenizer;
c. Sentrifus 3.000 rpm selama 10 menit; dan
d. Ambil supernatan dan siap digunakan sebagai larutan contoh uji.

dikomersialkan”
9.2.2.2 Penyiapan contoh telur

a. Bersihkan permukaan cangkang telur menggunakan alkohol 70% dengan kapas steril
dan biarkan hingga kering;
b. Buat lubang pada bagian lancip untuk mengeluarkan putih telur (albumen) dengan hati-
hati sehingga terpisah dengan kuning telur;
c. Pindahkan kuning telur ke dalam gelas piala;
d. Timbang contoh kuning telur sebanyak 10 g, tambahkan pelarut dapar fosfat Nomor 2
(lihat Lampiran A.2) sebanyak 20 ml, homogenkan menggunakan homogenizer;
e. Sentrifus 3.000 rpm selama 10 menit; dan
f. Ambil supernatan dan siap digunakan sebagai larutan contoh uji.

9.2.2.3 Penyiapan contoh susu bubuk

a. Timbang contoh susu sebanyak 10 g;


b. Tambahkan pelarut dapar fosfat Nomor 2 (lihat Lampiran A.2) sebanyak 20 ml,
homogenkan menggunakan tube shaker;
c. Sentrifus 3.000 rpm selama 10 menit; dan
d. Ambil supernatan dan siap digunakan sebagai larutan contoh uji.

9.3 Pembuatan media kultur

Media kultur digunakan untuk pengujian dan pengendalian mutu pengujian.

Letakkan media agar yang telah dibuat dalam penangas air hingga suhu mencapai 48 °C ±
2 °C. Media agar yang tidak habis digunakan pada pengujian sebelumnya dapat disimpan
maksimum 14 hari pada suhu 1 °C s.d. 7 °C, dan dapat digunakan untuk pengujian berikutnya.

CATATAN Cara pembuatan media agar dapat dilihat pada Lampiran B.

© BSN 2024 9 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
9.3.1 Pembuatan media kultur Bacillus stearothermophilus untuk golongan beta
laktam

a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
c. Tambahkan 2,5% larutan dextrose 2%, kemudian campurkan ke dalam 100 ml media,
homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
d. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo) dan tambahkan satu cawan petri untuk
uji peneguhan; dan
e. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.

CATATAN Cara pembuatan spora dan verifikasi dapat dilihat pada Lampiran C.

9.3.2 Pembuatan media kultur Bacillus cereus untuk golongan tetrasiklin

a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;

dikomersialkan”
c. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo); dan
d. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.

CATATAN Cara pembuatan spora dan verifikasi dapat dilihat pada Lampiran C.

9.3.3 Pembuatan media kultur Bacillus subtilis subspesies spizizenii untuk golongan
aminoglikosida

a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
c. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo); dan
d. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.

CATATAN Cara pembuatan spora dan verifikasi dapat dilihat pada Lampiran C.

9.3.4 Pembuatan media kultur sel vegetatif Kocuria rhizophila untuk golongan
makrolida

a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;

© BSN 2024 10 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
c. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo); dan
d. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.

9.3.5 Pembuatan media kultur Bacillus subtilis subspesies spizizenii untuk golongan
sulfonamida

a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
c. Tambahkan 1 ml larutan trimetoprim 50 µg/ml (lihat Lampiran D), homogenkan dengan
cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga merata;
d. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo) dan tambahkan satu cawan petri untuk
uji peneguhan; dan
e. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.

CATATAN Cara pembuatan spora dan verifikasi dapat dilihat pada Lampiran C.

9.3.6 Pembuatan media kultur Escherichia coli untuk golongan kuinolon

dikomersialkan”
a. Pipet 1 ml atau berdasarkan hasil verifikasi biakan mikroorganisme uji, dan campurkan
ke dalam 100 ml media;
b. Homogenkan dengan cara menggoyangkan botol media menggunakan tangan hingga
merata;
c. Pipet 8 ml media yang telah mengandung mikroorganisme uji ke dalam setiap cawan
petri, gunakan minimum tiga cawan petri (triplo); dan
d. Tempatkan cawan petri yang berisi media kultur pada permukaan yang datar sampai
media memadat.

9.4 Pelaksanaan pengujian

a. Tempelkan kertas cakram yang sudah berisi contoh uji (metode langsung) atau kertas
cakram yang telah ditetesi contoh uji (metode ekstraksi) sebanyak 75 µl (diameter 8 mm)
atau 100 µl (diameter 10 mm) pada media kultur;
b. Teteskan larutan standar pada kertas cakram kosong sebanyak 75 µl (diameter 8 mm)
atau 100 µl (diameter 10 mm) sebagai kontrol positif dan larutan dapar fosfat Nomor 2
(lihat Lampiran A.2) sebagai kontrol negatif;
c. Khusus untuk pengujian golongan beta laktam, teteskan sebanyak 20 µl enzim
penisilinase pada kertas cakram contoh uji dan larutan standar pada satu cawan petri
tambahan, dan untuk golongan sulfonamida, teteskan sebanyak 20 µl para-aminobenzoic
acid (PABA) pada kertas cakram contoh uji dan larutan standar pada satu cawan petri
tambahan;
d. Tempatkan masing-masing cawan petri yang berisi media kultur, contoh uji, dan kontrol
pada permukaan datar pada suhu ruang selama 30 menit; dan
e. Inkubasikan dalam inkubator selama 16 jam s.d. 18 jam, untuk:
(1) golongan makrolida, aminoglikosida, sulfonamida, dan kuinolon pada suhu
36 °C ± 1 °C;
(2) golongan tetrasiklin pada suhu 30 °C ± 1 °C; dan
(3) golongan beta laktam pada suhu 55 °C ± 1 °C.

© BSN 2024 11 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
9.5 Interpretasi hasil uji

a. Amati dan ukur diameter zona hambatan yang terdapat di sekeliling kertas cakram
dengan menggunakan kaliper atau jangka sorong;
b. Kontrol positif harus terdapat zona hambatan di sekeliling kertas cakram dengan diameter
> 18 mm; dan
c. Kontrol negatif harus tidak terdapat zona hambatan.

9.5.1 Pembacaan hasil uji positif

a. Hasil uji positif ditunjukkan dengan adanya zona hambatan ≥ 2 mm dari diameter kertas
cakram (lihat Gambar 1);
b. Hasil uji positif untuk golongan beta laktam, selain memenuhi kriteria pada huruf a, juga
ditunjukkan dengan tidak adanya zona hambatan pada cawan petri tambahan untuk
peneguhan; dan
c. Hasil uji positif untuk golongan sulfonamida, selain memenuhi kriteria pada huruf a, juga
ditunjukkan dengan tidak adanya zona hambatan pada cawan petri tambahan untuk
peneguhan.

9.5.2 Pembacaan hasil uji negatif

dikomersialkan”
Hasil uji negatif ditunjukkan dengan tidak adanya zona hambatan atau adanya zona hambatan
< 2 mm dari diameter kertas cakram (lihat Gambar 1).

Gambar 1 - Interpretasi hasil uji

© BSN 2024 12 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
10 Pengendalian mutu pengujian

10.1 Kurva standar

Kurva standar pada metode ini diperlukan dalam rangka pengendalian mutu pengujian.
Pembuatan kurva standar dilakukan:
a. secara berkala minimum 6 bulan sekali; dan
b. pada saat pergantian stok mikroorganisme.

10.2 Pembuatan kurva standar

a. Siapkan larutan kurva standar kerja natrium penisilin untuk golongan beta laktam dengan
variasi konsentrasi sesuai Tabel 7.

Tabel 7 - Larutan kurva standar kerja natrium penisilin untuk golongan beta
laktam

Konsentrasi awal Volume yang diambiil Diencerkan sampai Konsentrasi akhir


(IU/ml) (ml) dengan (ml) (IU/ml)

1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1

dikomersialkan”
1 8 20 0,4
0,4 2 20 0,04 a
0,04 10 20 0,02 a
0,02 10 20 0,01 a
0,01 10 20 0,005 a
0,005 10 20 0,0025 a

a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan kurva standar kerja.

b. Siapkan larutan kurva standar kerja oksitetrasiklin hidroklorida untuk golongan tetrasiklin
dengan variasi konsentrasi sesuai Tabel 8.

Tabel 8 - Larutan kurva standar kerja oksitetrasiklin hidroklorida untuk


golongan tetrasiklin

Konsentrasi awal Volume yang diambil Diencerkan sampai Konsentrasi akhir


(µg/ml) (ml) dengan (ml) (µg/ml)

1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 4 20 2a
2 10 20 1a
1 10 20 0,5 a
0,5 10 20 0,25 a
0,25 10 20 0,125 a
a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan kurva standar kerja.

© BSN 2024 13 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
c. Siapkan larutan standar kerja kanamisin tartrat untuk golongan aminoglikosida, tilosin
tartrat untuk golongan makrolida, dan sulfadiazin untuk golongan sulfonamida, dengan
variasi konsentrasi sesuai Tabel 9.

Tabel 9 - Larutan kurva standar kerja kanamisin tartrat untuk golongan


aminoglikosida, tilosin tartrat untuk golongan makrolida, dan sulfadiazin untuk
golongan sulfonamida

Konsentrasi awal Volume yang diambil Diencerkan sampai Konsentrasi akhir


(µg/ml) (ml) dengan (ml) (µg/ml)

1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 8 20 4a
4 10 20 2a
2 10 20 1a
1 10 20 0,5 a
0,5 10 20 0,25 a

a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan kurva standar kerja.

dikomersialkan”
d. Siapkan larutan kurva standar kerja enrofloksasin untuk golongan kuinolon dengan
variasi konsentrasi sesuai Tabel 10.

Tabel 10 - Larutan kurva standar kerja enrofloksasin untuk golongan kuinolon

Konsentrasi awal Volume yang diambil Diencerkan sampai Konsentrasi akhir


(µg/ml) (ml) dengan (ml) (µg/ml)

1.000 2 20 100
100 2 20 10
10 2 20 1
1 8 20 0,4 a
0,4 10 20 0,2 a
0,2 10 20 0,1 a
0,1 10 20 0,05 a
0,05 10 20 0,025 a

a Konsentrasi yang digunakan sebagai larutan kurva standar kerja.

10.3 Pengujian untuk pengendalian mutu

a. Tempelkan kertas cakram kosong pada media kultur;


b. Teteskan kertas cakram sesuai dengan konsentrasi larutan kurva standar kerja sebanyak
75 µl (diameter 8 mm) atau 100 µl (diameter 10 mm);
c. Teteskan larutan dapar fosfat Nomor 2 (lihat Lampiran A.2) pada kertas cakram kosong
sebanyak 75 µl (diameter 8 mm) atau 100 µl (diameter 10 mm) sebagai blangko;
d. Letakkan cawan petri yang berisi media kultur, standar, dan blangko pada permukaan
datar pada suhu ruang selama 30 menit;

© BSN 2024 14 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
e. Inkubasikan dalam inkubator selama 16 jam s.d. 18 jam, untuk:
(1) golongan makrolida, aminoglikosida, sulfonamida, dan kuinolon pada suhu
36 °C ± 1 °C;
(2) golongan tetrasiklin pada suhu 30 °C ± 1 °C; dan
(3) golongan beta laktam pada suhu 55 °C ± 1 °C.
f. Diameter zona hambatan diukur dengan menggunakan kaliper atau jangka sorong; dan
g. Buat kurva yang menyatakan hubungan linier regresi antara konsentrasi antibiotik dengan
diameter zona hambatan.

dikomersialkan”

© BSN 2024 15 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Lampiran A
(normatif)
Pembuatan larutan dapar

A.1 Dapar fosfat Nomor 1

a. Timbang 7 g KH2PO4, dan 6 g Na2HPO4 dalam gelas piala, dan larutkan dalam 500 ml air
distilasi;
b. Ukur pH larutan. Jika pH > 6,1 teteskan larutan 1 N H3PO4 atau jika pH < 5,9 teteskan
larutan 1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 6,0 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam
botol media;
c. Tambahkan air distilasi sampai 1.000 ml; dan
d. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, dengan tekanan 15 Psi selama 15
menit.

A.2 Dapar fosfat Nomor 2

a. Timbang 6,4 g KH2PO4 dan 18,9 g Na2HPO4 dalam gelas piala, dan larutkan dalam
500 ml air distilasi;
b. Ukur pH larutan. Jika pH > 7,1 teteskan larutan 1 N H3PO4 atau jika pH < 6,9 teteskan
larutan 1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 7,0 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam

dikomersialkan”
botol media;
c. Tambahkan air distilasi sampai 1.000 ml; dan
d. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, dengan tekanan 15 Psi selama 15
menit.

A.3 Dapar fosfat Nomor 3

a. Timbang 3,5 g KH2PO4, dan 3 g Na2HPO4 dalam gelas piala, dan larutkan dalam 500 ml
air distilasi;
b. Ukur pH larutan. Jika pH > 6,1 teteskan larutan 1 N H3PO4 atau jika pH < 5,9 teteskan
larutan 1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 6,0 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam
botol media;
c. Tambahkan air distilasi sampai 1.000 ml; dan
d. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, dengan tekanan 15 Psi selama 15
menit.

A.4 Larutan metanol 10%

Pipet 10 ml metanol kemudian tambahkan air distilasi hingga volume menjadi 100 ml.

A.5 Larutan 1 N NaOH

a. Timbang 4 g NaOH;
b. Larutkan ke dalam 50 ml air distilasi; dan
c. Tambahkan air distilasi sampai volume 100 ml.

A.6 Larutan etanol 50%

Pipet 52,1 ml etanol 96% kemudian tambahkan air distilasi hingga volume menjadi 100 ml.

© BSN 2024 16 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Lampiran B
(normatif)
Pembuatan media agar

B.1 Media biakan Bacillus stearothermophilus

B.1.1 Pembuatan media agar

a. Timbang dan siapkan bahan-bahan sebagai berikut:


(1) tryptone sebanyak 5,0 g;
(2) yeast extract sebanyak 12,0 g;
(3) bacto agar sebanyak 15 g s.d. 18 g;
(4) dextrose sebanyak 1,0 g; dan
(5) air distilasi s.d. 1.000 ml.
b. Larutkan tryptone, dextrose, dan yeast extract pada gelas piala dengan 500 ml air
distilasi;
c. Ukur pH larutan. Jika pH > 5,8 teteskan larutan 1 N HCl atau jika pH < 5,6 teteskan larutan
1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 5,7 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam botol
media;
d. Tambahkan bacto agar, selanjutnya tambahkan air distilasi sehingga volume keseluruhan
menjadi 1.000 ml;

dikomersialkan”
e. Didihkan menggunakan hot plate sampai bacto agar tersebut larut; dan
f. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.

B.1.2 Pembuatan larutan dextrose 2%

a. Timbang 2 g dextrose dalam botol media, kemudian larutkan ke dalam air distilasi sampai
100 ml; dan
b. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.

B.2 Media biakan Bacillus subtillis

a. Timbang dan siapkan bahan-bahan sebagai berikut:


(1) peptone sebanyak 5,0 g;
(2) beef extract sebanyak 3,0 g;
(3) bacto agar sebanyak 15 g s.d. 18 g; dan
(4) air distilasi s.d. 1.000 ml.
b. Larutkan peptone dan beef extract pada gelas piala dengan 500 ml air distilasi;
c. Ukur pH larutan. Jika pH > 8,6 teteskan larutan 1 N HCl atau jika pH < 8,4 teteskan larutan
1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 8,5 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam botol
media;
d. Tambahkan bacto agar, selanjutnya tambahkan air distilasi sehingga volume keseluruhan
menjadi 1.000 ml;
e. Didihkan menggunakan hot plate sampai bacto agar tersebut larut; dan
f. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.

B.3 Media biakan Bacillus cereus

a. Timbang dan siapkan bahan-bahan sebagai berikut:


(1) peptone sebanyak 6,0 g;
(2) beef extract sebanyak 1,5 g;

© BSN 2024 17 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
(3) yeast extract sebanyak 3,0 g;
(4) KH2PO4 sebanyak 1,35 g;
(5) bacto agar sebanyak 15 g s.d. 18 g; dan
(6) air distilasi s.d. 1.000 ml.
b. Larutkan peptone, beef extract, yeast extract dan KH2PO4 pada gelas piala dengan
500 ml air distilasi;
c. Ukur pH larutan. Jika pH > 5,8 teteskan larutan 1 N HCl atau jika pH < 5,6 teteskan larutan
1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 5,7 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam botol
media;
d. Tambahkan bacto agar, selanjutnya tambahkan air distilasi sehingga volume keseluruhan
menjadi 1.000 ml;
e. Didihkan menggunakan hot plate sampai bacto agar tersebut larut; dan
f. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.

B.4 Media biakan Kocuria rhizophila dan media biakan Escherichia coli

a. Timbang dan siapkan bahan-bahan sebagai berikut:


(1) peptone sebanyak 6,0 g;
(2) beef extract sebanyak 1,5 g;
(3) yeast extract sebanyak 3,0 g;
(4) glucose sebanyak 1,0 g;
(5) bacto agar sebanyak 15 g s.d. 18 g; dan
(6) air distilasi s.d. 1.000 ml.

dikomersialkan”
b. Larutkan peptone, beef extract, yeast extract, dan glucose pada gelas piala dengan
500 ml air distilasi;
c. Ukur pH larutan. Jika pH > 8,6 teteskan larutan 1 N HCl atau jika pH < 8,4 teteskan larutan
1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 8,5 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam botol
media;
d. Tambahkan bacto agar, selanjutnya tambahkan air distilasi sehingga volume keseluruhan
menjadi 1.000 ml;
e. Didihkan menggunakan hot plate sampai bacto agar tersebut larut; dan
f. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.

B.5 Media biakan spora (media agar Nomor 1)

a. Timbang dan siapkan bahan-bahan sebagai berikut:


(1) peptone sebanyak 10,0 g;
(2) beef extract sebanyak 5,0 g;
(3) NaCl sebanyak 2,5 g;
(4) bacto agar sebanyak 20 g s.d. 25 g; dan
(5) air distilasi s.d. 1.000 ml.
b. Larutkan peptone, beef extract, dan NaCl pada gelas piala dengan 500 ml air distilasi;
c. Ukur pH larutan. Jika pH > 6,6 teteskan larutan 1 N HCl atau jika pH < 6,4 teteskan larutan
1 N NaOH sehingga larutan mencapai pH 6,5 ± 0,1. Pindahkan larutan ke dalam botol
media;
d. Tambahkan bacto agar, selanjutnya tambahkan air distilasi sehingga volume keseluruhan
menjadi 1.000 ml;
e. Didihkan menggunakan hot plate sampai bacto agar tersebut larut; dan
f. Sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 °C ± 1 °C, tekanan 15 Psi selama 15 menit.

© BSN 2024 18 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Lampiran C
(normatif)
Pembuatan spora dan sel vegetatif

C.1 Cara kerja pembuatan spora Bacillus cereus ATCC 11778

a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) dalam Roux's bottle sebanyak
100 ml;
b. Inokulasikan mikroorganisme Bacillus cereus ATCC 11778 ke dalam botol-botol yang
telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan menggunakan
loop needle (öse). Inkubasikan selama 2 minggu dalam inkubator dengan suhu
30 °C ± 1 °C, amati pertumbuhan setiap hari;
c. Biakan yang telah membentuk spora dipanen dengan cara mengerok permukaan media
yang ditumbuhi mikroorganisme dengan loop needle (öse), dan masukkan ke dalam
tabung yang berisi 20 ml NaCl fisiologis steril (jumlah tabung bergantung pada
banyaknya hasil panen spora);
d. Panaskan larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C selama 30 menit;
e. Sentrifus hasil dari huruf d dengan kecepatan 3.000 rpm selama 10 menit dan buang
supernatannya (lapisan atas);
f. Tambahkan maksimum 20 ml NaCl fisiologis steril, selanjutnya kocok hingga homogen.
Masukkan dalam refrigerator dengan kisaran suhu 4 °C s.d. 8 °C selama 18 jam s.d.

dikomersialkan”
24 jam;
g. Panaskan kembali larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C
selama 30 menit; dan
h. Sentrifus kembali dengan kecepatan 1.000 rpm selama 5 menit dan ambil semua
supernatan sebagai stok spora dan simpan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d.
8 °C.

C.2 Cara kerja pembuatan spora Bacillus subtillis ATCC 6633

a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) dalam Roux’s bottle sebanyak
100 ml;
b. Inokulasikan mikroorganisme Bacillus subtillis ATCC 6633 ke dalam botol-botol yang
telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan menggunakan
loop needle (öse). Inkubasikan selama 2 minggu dalam inkubator dengan suhu 36 °C ±
1 °C, amati pertumbuhan setiap hari;
c. Biakan yang telah membentuk spora dipanen dengan cara mengerok permukaan media
yang ditumbuhi mikroorganisme dengan loop needle (öse) dan masukkan ke dalam
tabung yang berisi 20 ml NaCl fisiologis steril (jumlah tabung bergantung pada banyaknya
hasil panen spora);
d. Panaskan larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C selama 30 menit;
e. Sentrifus dengan kecepatan 3.000 rpm selama 10 menit dan buang supernatannya
(lapisan atas);
f. Tambahkan maksimum 20 ml NaCl fisiologis steril, selanjutnya kocok hingga homogen.
Masukkan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d. 8 °C selama 18 jam s.d. 24 jam;
g. Panaskan kembali larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C
selama 30 menit; dan
h. Sentrifus kembali dengan kecepatan 1.000 rpm selama 5 menit dan ambil semua
supernatan sebagai stok spora dan simpan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d.
8 °C.

© BSN 2024 19 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
C.3 Pembuatan spora Bacillus stearothermophillus ATCC 7953

a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) dalam Roux’s bottle sebanyak
100 ml yang telah ditambahkan dextrose 2% sebanyak 2,5% ke dalam masing-masing
botol;
b. Inokulasikan mikroorganisme Bacillus stearothermophillus ATCC 7953 ke dalam botol-
botol yang telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan
menggunakan loop needle (öse), inkubasikan selama 4 minggu dalam inkubator dengan
suhu 55 °C ± 1 °C, amati pertumbuhan setiap hari;
c. Biakan yang telah membentuk spora dipanen dengan cara mengerok permukaan media
yang ditumbuhi mikroorganisme dengan loop needle (öse) dan masukkan ke dalam
tabung yang berisi 20 ml NaCl fisiologis steril (jumlah tabung bergantung pada banyaknya
hasil panen spora);
d. Panaskan larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C selama 30 menit;
e. Sentrifus dengan kecepatan 3.000 rpm selama 10 menit dan buang supernatannya;
f. Tambahkan larutan NaCl fisiologis steril maksimum 20 ml, selanjutnya kocok hingga
homogen. Masukkan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d. 8 °C selama 18 jam s.d.
24 jam;
g. Panaskan kembali larutan tersebut dalam penangas air pada suhu 65 °C ± 1 °C selama
30 menit; dan
h. Sentrifus kembali dengan kecepatan 1.000 rpm selama 5 menit dan ambil semua
supernatan sebagai stok spora dan simpan dalam refrigerator dengan suhu 4 °C s.d.
8 °C.

dikomersialkan”
C.4 Pembuatan sel vegetatif mikroorganisme Kocuria rhizophila (Micrococcus luteus)
ATCC 9341

a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) sebanyak 10 ml dalam tabung reaksi
steril;
b. Inokulasikan mikroorganisme Kocuria rhizophila ATCC 9341 dalam tabung reaksi yang
telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan menggunakan
loop needle (öse). Inkubasikan selama 18 jam s.d. 24 jam dalam inkubator dengan suhu
36 °C ± 1 °C;
c. Ambil 1 loop needle (öse) mikroorganisme biakan Kocuria rhizophila ATCC 9341 dan
masukkan ke dalam 10 ml media HIB;
d. Inkubasikan selama 18 jam s.d. 24 jam dalam inkubator dengan suhu 36 °C ± 1 °C ; dan
e. Mikroorganisme siap digunakan untuk pengujian dan harus selalu dalam keadaan baru.

C.5 Pembuatan sel vegetatif mikroorganisme Escherichia coli ATCC 11303

a. Buat media agar miring Nomor 1 (lihat Lampiran B.5) sebanyak 10 ml dalam tabung reaksi
steril;
b. Inokulasikan mikroorganisme Escherichia coli ATCC 11303 dalam tabung reaksi yang
telah berisi media agar Nomor 1 dengan cara melakukan goresan dengan menggunakan
loop needle (öse). Inkubasikan selama 18 jam s.d. 24 jam dalam inkubator dengan suhu
36 °C ± 1 °C;
c. Ambil 1 loop needle (öse) mikroorganisme biakan Escherichia coli ATCC 11303 dan
masukkan ke dalam 10 ml media HIB;
d. Inkubasikan selama 18 jam s.d. 24 jam dalam inkubator dengan suhu 36 °C ± 1 °C; dan
e. Mikroorganisme siap digunakan untuk pengujian dan harus selalu dalam keadaan baru.

© BSN 2024 20 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
C.6 Penghitungan spora

Hitung spora dengan mengacu pada cara uji angka lempeng total (ALT) sesuai dengan SNI
ISO 4833-1.

C.7 Verifikasi spora dan sel vegetatif

a. Siapkan media kultur untuk masing-masing golongan antibiotik;


b. Buat variasi persentase spora dan sel vegetatif (1% s.d. 10% volume media), masing-
masing variasi tersebut dicampurkan dengan media yang telah disiapkan;
c. Tuang media yang telah dicampur spora atau sel vegetatif ke dalam cawan petri
kemudian dibiarkan sampai memadat;
d. Letakkan kertas cakram di atas permukaan media kultur;
e. Teteskan larutan standar kerja sebanyak 75 µl pada kertas cakram yang berdiameter
8 mm atau 100 µl pada kertas cakram yang berdiameter 10 mm;
f. Letakkan cawan petri yang berisi media kultur dan standar kerja pada permukaan datar
pada suhu ruang selama 30 menit;
g. Inkubasikan dalam inkubator selama 16 jam s.d. 18 jam, untuk:
(1) golongan makrolida, aminoglikosida, sulfonamida, dan kuinolon pada suhu 36 °C ±
1 °C;
(2) golongan tetrasiklin pada suhu 30 °C ± 1 °C; dan
(3) golongan beta laktam pada suhu 55 °C ± 1 °C.
h. Ukur diameter zona hambatan dengan menggunakan kaliper atau jangka sorong untuk

dikomersialkan”
menentukan hasil uji; dan
i. Gunakan persentase spora dan sel vegetatif yang menunjukkan zona hambatan dengan
diameter > 18 mm.

© BSN 2024 21 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Lampiran D
(normatif)
Pembuatan larutan trimetoprim

Pembuatan larutan trimetoprim 50 μg/ml dilakukan dengan cara:


a. Sebelum membuat larutan stok standar trimetoprim, terlebih dahulu lakukan pengecekan
potensi standar yang tertera pada label kemasan standar tersebut;
b. Timbang standar tersebut dalam botol timbang, larutkan dalam pelarut etanol 50%
sehingga diperoleh konsentrasi 1.000 µg/ml dengan volume minimum 4 ml;
c. Pipet 2 ml larutan stok standar trimetoprim ke dalam tabung pengencer;
d. Encerkan hingga 20 ml dengan air distilasi steril sehingga diperoleh larutan standar
100 μg/ml, homogenkan dengan tube shaker; dan
e. Lakukan pengenceran serial hingga diperoleh konsentrasi 50 μg/ml.

dikomersialkan”

© BSN 2024 22 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Bibliografi

[1] Al-Mashhadany D A. Detection of antibiotic residues among raw beef in Erbil City (Iraq)
and impact of temperature on antibiotic remains. Italian Journal of Food Safety, 2019,
8(1): 6-10.

[2] Alla M B W, Mohamed T E, Abdelgadir A E. Detection of antibiotics residues in beef in


Ghanawa Slaughterhouse, Khartoum State, Sudan. African Journal of Food
Science, 2011, 5(10): 574-580.

[3] Division of Microbiology. U.S. Food and Drug Administration. Bacteriological Analitical
Manual [BAM]. Gaithersburg: USA AOAC International, 1998.

[4] Ferrini A M, Mannoni V, Aureli P. Combined Plate Microbial Assay (CPMA): A 6-plate-
method for simultaneous first and second level screening of antibacterial residues in
meat. Food Additives and Contaminants, 2006, 23(1): 16–24.

[5] Gaudin V, Hedou C, Rault A, Verdon E. Validation of a five plate test, the STAR protocol,
for the screening of antibiotic residues in muscle from different animal species according

dikomersialkan”
to the European decision 2002/657/EC. Food Additives and Contaminants, 2010, 27(07):
935-952.

[6] Gaudin V, Maris P, Fuselier R, Ribouchon J L, Caudien N, Rault A. Validation of a


microbilogical methode: the STAR protocol, a five plate test, for the screening of
antibiotic residues in milk. Food Additive Contaminant, 2004, 21(5): 422-33.

[7] Idowu F, Junaid K, Paul A, Gabriel O, Paul A, Sati N, Jarlath U. Antimicrobial screening
of commercial eggs and determination of tetracycline residue using two microbiological
methods. International Journal of Poultry Science, 2010, 9(10): 959-962.

[8] Kozarova I, Janosova J, Mate D, Pipova M, Jevinova P. Utilisation of para-aminobenzoic


acid (PABA) for the presumptive identification of sulphadimidine at its residue screening
by using the microbiological four-plate test. Bulletin Veterinary Institute in Pulawy, 2005,
49: 59-64.

[9] Liousia M, Gousia P, Εconomou V, Sakkas H, Papadopoulou C. Screening for antibiotic


residues in swine and poultry tissues using the STAR test. International Journal of Food
Safety, Nutrition and Public Health, 2015, 5(2): 173-183.

[10] Myllyniemi A L, Nuotio L, Lindfors E, Rannikko R, Niemi A, Bäckman C. A microbiological


six-plate method for the identification of certain antibiotic groups in incurred kidney and
muscle samples. The Analyst, 2001, 126(5): 641-646.

© BSN 2024 23 dari 24


SNI 7424:2024

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
[11] Shahid M A, Muhammad Siddique M S, Sajjad-ur-Rehman S U R, Sajid Hameed S H,
Muhammad Imran M I. Evaluation of a microbiological growth inhibition assay as a
screening test for the presence of antibiotic residues in poultry meat. American Journal
of Food Technology. 2007, 2(5): 457-461.

[12] White A C, Dey B P, Reamer H R, Thaker H N. USDA/FSIS Microbiology Laboratory


Guidebook 3rd Ed. Bioassay for The Detection, Identification and Quantitation of
Antimicrobial Residues in Meat and Poultry Tissue. Philadelphia, PA: United States
Department of Agriculture, Food Safety and Inspection Service, Government Printing
Press, 1998.

dikomersialkan”

© BSN 2024 24 dari 24


“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-20, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan tidak untuk
Informasi perumus SNI

[1] Komite Teknis Perumusan SNI


Komite Teknis 65-20 Kesehatan Masyarakat Veteriner

[2] Susunan keanggotaan Komite Teknis Perumusan SNI

Ketua : Fery Fahrudin Munier


Wakil Ketua : Endang Ekowati
Sekretaris : Aulia
Anggota : Nuraini Triwijayanti
Rini Prastyanty
Juniawati
Sri Usmiati
Denny Widaya Lukman
Hadri Latif
Ratih Dewanti
Retno Dewi Wiwiek Bagja
Puji Rahayu
Kanti Puji Rahayu
Thia Gaffiana

dikomersialkan”
Achmad Fachmi
Akhmad Sawaldi

[3] Konseptor Rancangan SNI


1. Aulia
2. Puji Rahayu
3. Sani Susanty
4. Hadri Latif
5. Endang Ekowati
6. Dyah Ayu Widiasih
7. Nur Sabiq Assadah
8. Lynda Nugrahaning Imanjati
9. Inggarsetya Syah Audini
10. Dyah Ayu Kurniawati
11. Dianita Dwi Sugiartanti
12. Zaki Aminullah
13. Vinny Anisya Larasati

[4] Sekretariat Pengelola Komite Teknis Perumusan SNI


Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Veteriner
Badan Standardisasi Instrumen Pertanian
Kementerian Pertanian

Anda mungkin juga menyukai