0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan3 halaman

Konflik Istri dan Suami dalam Keluarga

cerpen istri

Diunggah oleh

winda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
84 tayangan3 halaman

Konflik Istri dan Suami dalam Keluarga

cerpen istri

Diunggah oleh

winda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ide: istri yang tidak mengerti suami, tidak merasa adil, iri dengan mertua yang

diberikan gaji oleh suami. (menggunakan kata berhubungan kesehatan dan kimia)

Orang bilang, istri adalah sigaraning jiwa. Apa yang dirasakan suami tentu dapat
dirasakan istri. Seorang istri memiliki sifat secara lahiriah yang lembut terhadap suami dan
keluarganya. Apabila suami merasa lelah bekerja, ia selalu memberikan kenyamanan.
Sementara seorang suami seperti nahkoda yang mengantarkan kapal mengarungi samudra
kehidupan rumah tangga. Suami harus dapat membenarkan istri jika melakukan kesalahan.
Seperti halnya aku. Jabatan suami kupegang sejak pernikahan bersama Lastri.

***

Harum teh bercampur melati mewarnai setiap pagi di dalam rumah. Lastri biasa
membuatkanku secangkir teh sebelum aku berangkat kerja ke rumah sakit. Sementara
anakku, Rio, sudah berlarian kecil menuju garasi.

“Ayah, ayo antar aku sebelum gerbang ditutup. Aku nggak mau kalau nanti
membersihkan WC di sekolah”, bujuk Rio sambil membuka pintu mobil sedan. Kemudian
dia duduk di depan dengan posisi sangat siap melaju. Lucu. Ia seperti waktu aku kecil.
Bedanya, dahulu aku tidak memiliki mobil karena aku berasal dari keluarga yang sangat
miskin. “Sebentar ya Dik... Ayah panggil Mama dulu,” jawabku sembari memanggil Lastri
yang berada di dapur. Kecupan Lastri kepada Rio mengakhiri perjumpaan kami. Dengan
lambaian tanganku dan Rio, Lastri menjawab dengan doa agar kami hati-hati di jalan.

***

Dalam arus zaman yang semakin maju, ibuku yang sudah lanjut usia masih tetap
tinggal di desa pelosok. Ibu merasa lebih nyaman dengan kenangannya bersama almarhum
bapak. Walaupun aku selalu membujuknya tetapi ibu tetap bersitegas untuk tinggal di desa.
Alasannya, ibu tidak ingin membebani aku dan Lastri.

Suatu hari ketika ibu sedang pergi ke alas, kaki ibu terpeleset. Aku mendapat kabar
dari saudara kalau ibuku sudah tidak dapat berjalan dengan baik sehingga membutuhkan
pertolongan. Dengan intensitas waktu yang tidak memungkinkan untuk menjenguk ibu setiap
minggu, aku berniat membawa ibu ke rumah kami. Mungkin dengan paksaan agar ibu dapat
aku jaga. Aku tidak mau menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tua, terutama ibu
yang telah membesarkanku hingga aku menjadi seorang dokter.

Malam itu, niat itu kuberitahukan kepada Lastri. Namun, kerutan alis dan lukisan
ujung bibir Lastri yang turun ke bawah menggariskan bahwa Lastri merasa keberatan. Lastri
merasa belum siap jika harus mengurus ibuku. Lastri merasa tidak tega jika harus
memandikan bahkan jika harus membersihkan kotoran ibuku. Aku tidak menyangka kalau
Lastri dapat mengucapkan kata-kata seperti itu. Dengan kepala dingin, aku berusaha sabar.
Pikiranku melayang bagai burung yang kehilangan arah memikirkan solusi yang tepat untuk
keluargaku ini. Bahkan aku tidak dapat tidur dengan nyenyak karena memikirkan ibuku.
Sedang apakah beliau?

***

Matahari pagi yang setia telah meyambutku dengan kehangatan yang ramah. Dengan
mata yang masih mengantuk, Lastri ingin berbicara denganku. Lastri meminta agar aku
mencarikan seorang perawat yang dapat merawat segala kebutuhan ibuku di desa.

“Ma, apakah tidak sebaiknya kamu besarkan hatimu untuk merawat ibuku saja? Aku
ingin membalas kebaikan ibu dan menjaga ibu yang sudah tua. Jujur saja, aku kurang setuju
dengan pendapatmu”, jawabku dengan nada rendah agar Lastri tidak tersinggung.

“Tapi Mas, bukankah gaji Mas sangat cukup untuk menyewa perawat? Mas juga tidak
akan merasa khawatir karena sudah ada yang menjaga ibu”, kata Lastri meninggi.

“Ma... bukan masalah uang tetapi masalah tanggung jawab dan kasih sayang terhadap
seorang ibu. Kamu juga memiliki orang tua di sini, sedangkan ibuku berada di rumah sendiri.
Aku anak laki-laki satunya.”

“Iya aku paham. Begini saja, bagaimana jika Mbak Imah yang merawat ibu?
Bukankah dia anak paling tua, Mas? Dan dia sudah berjanji dahulu akan merawat ibu kan?”

“Ya sudah... nanti aku pikirkan. Aku mandi dulu. Banyak pasien yang harus aku
tangani hari ini”.

***

Sejak aku berikan sebagian gajiku kepada ibu, Lastri memang sudah terlihat sinis. Ia
sering berdiam dengan bibir cemberut. Lastri yang terbawa arus teknologi semakin sering
merawat diri di salon kecantikan. Itulah sebabnya Lastri merasa keberatan dengan pembagian
materi dan waktuku. Aku mengerti bahwa haknya sebagai istri harus dipenuhi. Lastri tidak
ingin jika kasih sayangku terganti oleh kehadiran ibu. Kerja juga sudah menyita waktuku
sangat banyak. Ada kerja, meeting, belum lagi seminar keluar kota. Aku berusaha benar-
benar memahami Lastri. Mungkin semua laki-laki sama denganku.

Anda mungkin juga menyukai