Perilaku Tidak Disiplin di Sekolah
Perilaku Tidak Disiplin di Sekolah
HARTIKA : 23.1.1.0622.0004
LILIS : 23.1.1.0622.0006
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt yang tak bosan-bosannya
memberikan kita berbagai macam nikmat, baik nikmat Kesehatan, kekuatan,
sehingga kita dapat Menyusun makalah ini, walaupun masih ada kesalahan dalam
penulisan kami.
Sebagai mana dalam firman Allah yang berbunyi, barang siapa yang
mensyukuri atas nikmatku niscaya aku akan tambahkan, akan tetapi barang siapa
yang kufur atas nikmatku niscaya siksaan ku amat pedih.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Suryadi. S.Kep. Ns.,
S.K.M., M.Kes sebagai dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan yang telah
membantu memberikan arahan dan pemahaman dalam penyusunan makalah ini.
Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Terima kasih.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perilaku disiplin menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga
ketertiban dan produktivitas di berbagi lingkungan. Namun, perilaku tidak
disiplin seringkali muncul dan menjadi masalah, baik di sekolah, tempat
kerja, maupun dalam masyarakat. Perilaku tidak disiplin dapat berdampak
pada banyak masalah seperti, kesulitan membagi waktu, menjadi lebih
malas, dan tidak berusaha lebih serius menyelesaikan tugas
Perilaku tidak disiplin dapat disebabkan oleh factor internal dan
factor eksternal. Faktor internal yang berasal dari dalam diri sendiri individu
dan dapat mempengaruhi hasil belajar. kurangnya motovasi belajar,
keyakinan diri, minat, bakat, Kesehatan, kelelahan jasmani dan rohani.
Sedangkan factor eksternal adalah factor yang berasal dari luar individu
yang juga dapat mempengaruhi belajar individu.
B. Rumusan masalah.
1. Apa itu perilaku tidak disiplin ?
2. Apa penyebab terjadinya perilaku tidak disiplin ?
3. Apa usaha-usaha yang dapat dapat dilakukan sekolah dalam
menanggulangi perilaku tidak di siplin ?
C. Tujuan.
1. Pengertian perilaku tidak disiplin.
2. Penyebab terjadinya perilaku tidak disiplin.
3. Usaha-usaha sekolah dalam menanggulangi perilaku tidak disiplin.
1
BAB II
PEMBAHASAN
1
Hermawati, Christina, and Nurhenti Dorlina Simatupang. "Pengaruh Operant
Conditioning Terhadap Disiplin Anak Kelompok B." Jurnal PAUD Teratai 5 (2016): 94-96.
2
Irwanto, Ahmad Choliq, and Oksiana Jatiningsih. "Peranan kegiatan ekstrakurikuler
pramuka dalam membentuk kedisiplinan siswa di smp negeri 1 sugio kabupaten
lamongan." Jurnal Pendidikan 3 (2013): 549-563.
2
Mulyasa mengemukakan bahwa disiplin adalah suatu keadaan tertib
dimana orang-orang tergabung dalam suatu sistem tunduk pada peraturan
peraturan yang ada dengan senang hati.
Dr. Rose Mini dalam bukunya menuliskan bahwa disiplin adalah
proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu,
kebiasaan kebiasaan tertentu atau membentuk manusia dengan ciri-ciri
tertentu. Terutama, yang meningkatkan kualitas mental dan moral.Jadi inti
dari disiplin ialah membiasakan anak untuk melakukan hal-hal yang sesuai
dengan aturan yang ada di lingkungan nya. Berdasarkan pendapat 3 disiplin
adalah alat pendidikan bagi anak, sebab dengan disiplin anak dapat
membentuk sikap teratur dan mentaati norma aturan yang ada. Dari kedua
pengertian diatas maka dapat kita simpulkan bahwa disiplin itu adalah
perilaku menaati serta mematuhi norma dan aturan yang berlaku
dilingkungannya.
Jadi, mengenai Tidak disiplin, maka tidak disiplin ini adalah
kebalikan dari disiplin. Yaitu, perilaku tidak menaati atau mematuhi norma
atau aturan yang berlaku di lingkungan nya.
Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak
akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di
sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan
aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolahnya. Kepatuhan dan
ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang yang berlaku
disekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. Sedangkan peraturan, tata
tertib, dan berbagai ketentuan lainnya yang berupaya mengatur perilaku
siswa disebut disiplin sekolah.
Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku
siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku
sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah.
3
Elfa, Nelita. "Pemberian Layanan Informasi untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa
Kelas Xi IPS 2 di SMA Negeri 4 Bukittinggi." Majalah Ilmiah UPI YPTK (2018): 107-119.
3
B. Penyebab terjadinya perilaku tidak disiplin.
Disiplin atau tidak disiplinnya suatu individu itu disebabkan oleh
faktor-faktor yang mempengaruhi individu. Jadi, dapat kita katakan bahwa
apabila faktor-faktor yang mempengaruhi ke disiplinan ini menuju arah
yang negartif maka itulah yang menyebabkan perilaku tidak disiplin suatu
individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi sikap disiplin adalah:
1. Faktor Internal ( dalam diri sendiri )
a. Keadaan fisik.
Keadaan fisik anak akan mempengaruhi pembiasaan dalam
melakukan kegiatan dirumah maupun di sekolah. Anak yang sedang
terganggu kesehatannya atau sakit, akan berpengaruh pada ke
biasaan nya terutama pada kegiatan di sekolah. Kegiatan anak yang
dilakukan akan semakin berkurang atau tidak sepenuhnya dapat
dilakukan seperti biasa. Anak terlihat lebih banyak diam dan enggan
melakukan kegiatan seperti biasa. Berdasarkan uraian di atas,
menunjukkan bahwa kondisi anak yang kurang baik pada
kesehatannya akan berpengaruh pada sikap kesehariannya baik di
rumah maupun sekolah. Saat anak pada kondisi sakit, anak lebih
banyak berdiam diri dengan mengurangi aktivitas yang dilakukan.
b. Keadaan psikis
Pada saat emosi anak yang kurang baik atau tidak mood,
anak bersikap membangkang bahkan anak melakukan sikap yang
seharusnya tidak boleh dilakukan. Berbeda dengan anak yang
memiliki emosi positif, anak dapat mematuhi apa yang dikatakan
4
guru. Sejalan dengan pendapat Unaradjan bahwa keadaan psikis
4
Rukmana, R., and Farida Ainur Rohmah. "Faktor Yang Mempengaruhi Tidak Disiplin
Anak Kelompok a Usia 4-5 Tahun Tk Aba Keringan, Wonokerto, Turi, Sleman,
Yogyakarta." Seminar Nasional Dan Call for Paper †œ …, 130â. Vol. 138. 2018.
4
seseorang yang normal atau sehat secara mental dapat menghayati
norma - norma yang ada dalam lingkungan keluarga, sekolah
maupun masyarakat.
c. Tujuan dan kemampuan
Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat
kedisiplinan anak. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan
ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan
anak. Hal ini berarti bahwa tujuan (pelajaran) yang dibebankan
kepada anak harus sesuai dengan kemampuan peserta kursus
bersangkutan, agar belajar sungguh - sungguh dan disiplin dalam
mengerjakannya. Akan tetapi, jika pelajaran itu di luar kemampuan
nya atau jauh di bawah kemampuannya, maka kesungguhan dan
kedisiplinan anak akan rendah.
2. Faktor eksternal ( luar diri )
a. Keluarga.
Keluarga sebagai tempat pertama dalam pembinaan pribadi
yang merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Hal tersebut
mempengaruhi atau menentukan perkembangan pribadi tersebut
dikemudian hari. Sih A menceritakan bahwa anaknya(R) tidak bisa
diam di rumah dan R termasuk anak yang sangat aktif sehingga tidak
bisa diam. Kebiasaan yang sering dilakukan anak di rumah adalah
lari-lari di dalam rumah sambil berteriak. Bahkan, sering kali anak
saat makan sambil berbicara dan bermain kucing. Anak tidak dapat
duduk diam di rumah. Berdasarkan dari uraian diatas, anak
menunjukkan sikap tidak disiplin. Anak memiliki kebiasaan makan
sambil lari-lari dan tidak dapat merapikan mainan setelah bermain.
Bahkan mainan anak sampai berada pada tempat yang berbeda-beda
karena anak memiliki kebiasaan melempar mainannnya. Senada
dengan pendapat ayah atau sebagai significant person dalam
penelitian ini yang menjelaskan bahwa anak jika di rumah
melakukan sikap yang tidak disiplin di rumah.
5
b. Sekolah.
Sekolah merupakan tempat sebagai pembinaan dan
pendidikan disiplin yang ditentukan oleh keadaan sekolah tersebut.
guru memiliki peran melakukan berbagai cara untuk membentuk
sikap disiplin anak.
1) Guru.
Guru harus memberi contoh yang baik, jujur, adil, serta
sesuai kata dengan perbuatan. Dengan guru yang baik, ke
disiplinan peserta kursus pun akan ikut baik. Jika teladan
instruktur kurang baik (kurang berdisiplin), para peserta didik
pun akan kurang disiplin. Guru tidak dapat mengharapkan ke
disiplinan peserta kursus baik jika dirinya sendiri kurang
disiplin. Guru harus menyadari bahwa perilaku nya akan
dicontoh dan diteladani peserta didik, Hal inilah yang
mengharuskan guru mempunyai ke disiplinan yang baik agar
para peserta didik pun mempunyai disiplin yang baik pula.
2) Tujuan dan kemampuan
Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat ke
disiplinan anak. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan
ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan
anak. Hal ini berarti bahwa tujuan (pelajaran) yang dibebankan
kepada anak harus sesuai dengan kemampuan peserta kursus
bersangkutan, agar belajar sungguh-sungguh dan disiplin dalam
mengerjakannya. Akan tetapi, jika pelajaran itu di luar
kemampuannya atau jauh di bawah kemampuannya, maka
kesungguhan dan kedisiplinan anak akan rendah.
3) Pengawasan melekat.
6
Pengawasan melekat (waskat) adalah tindakan nyata dan
paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan peserta didik
lembaga. Dengan waskat berarti guru harus aktif dan langsung
mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah belajar, dan prestasi
belajar peserta didiknya. Hal ini berarti guru harus selalu
ada/hadir di lembaga agar dapat mengawasi dan memberikan
petunjuk, jika ada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan pelajarannya.
c. Masyarakat.
Masyarakat sebagai suatu lingkungan yang lebih luas dari
pada keluarga dan sekolahturut menentukan berhasil tidaknya
pembinaan dan pendidikan disiplin diri.Pembinaan dan pendidikan
dari masyarakat dapat dilihat dari tata tertib yang digunakan pada
lingkungan tersebut.
Misal pada kebiasaan anak yang mulai terlihat dengan suka
berkelahi di sekolah. Hal tersebut dia dapatkan dari lingkungan
masyarakat. Sehingga senada dengan pendapat Unaradjan 5bahwa
lingkungan masyarakat menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi tidak disiplin anak usia 4-5 tahun. Hal tersebut
dijelaskan bahwa termasuk lingkungan yang lebih luas lagi untuk
anak, karena anak akan menemukan berbagai macam sikap orang
yang berbeda-beda. Hal tersebut menjadi contoh bagianak terutama
dalam pembiasaan di masyarakat. Anak akan ikut bersikap disiplin
jika berada pada lingkungan masyarakat yang disiplin pula dan
sebaliknya. Sehingga dengan hal ini, perlu adanya lingkungan
masyarakat yang melakukan pembiasaan disiplin dengan baik.
5
Rukmana, R., and Farida Ainur Rohmah. "Faktor Yang Mempengaruhi Tidak Disiplin
Anak Kelompok a Usia 4-5 Tahun Tk Aba Keringan, Wonokerto, Turi, Sleman,
Yogyakarta." Seminar Nasional Dan Call for Paper †œ …, 130â. Vol. 138. 2018.
7
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan belajar
Menurut Elizabeth B. Hurlock6 faktor yang mempengaruhi ke
disiplinan di antaranya :
1. Sikap teman sebaya.
Sikap teman sebaya merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi disiplin belajar sisw. Hubungan yang terjalin dengan
baik dan sikap teman yang memberi arahan serta dukungan dan motivasi
dalam kegiatan sekolah akan menujukkan sikap disiplin belajar bagi
siswa tersebut.
2. Sikap orang tua.
Sikap orang tua dapat mempengaruhi cara belajar anak. Perhatian
orang tua merupakan salah satu komponen yang diperlukan dalam
memndidik anak. Anak akan merasa terdorong untuk belajar karena
orang tuanya selalu memberi dorongan atau motivasi untuk belajar dan
mengawasi kegiatan belajarnya. Dengan adanya perhatian dan
pengawasan orang tua maka siswa akan menunjukkan sikap disiplin
belajar.
3. Sikap guru.
Hubungan yang terjadi antara guru dengan siswa akan berpengaruh
terhadap disiplin belajar siswa. Siswa akan merasa senang bila guru
brsikap baik terhadap dirinya. Siswa yang merasa diperhatikan dengan
baik akan bersikap baik dengan guru. Dengan demikian siswa akan
menunjukkan keadaan pada perintah guru dan melaksanaknan disiplin
belajar sehingga dapat mencapai prestasi yang baik.
4. Nilai
Nilai-nilai yang menunjukkan keberhasilan atau kegagalan siswa
dalam berbagai kegiatan akademis dapat mempengaruhi sikap siswa
dalam belajar. Nilai-nilai akademis yang buruk dapat memacu siswa
6
Nisa, Liranda Khaira, and Taufik Taufik. "Relationship between Parenting and Self-
Concept in Students with Low Learning Achievement in High School." Jurnal Neo Konseling 1.3
(2019).
8
untuk belajar dengan disiplin agar mendapatkan nilai yang baik.
Motivasi belajar Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan
seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan
dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang
didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan
motivasi yang mendasarinya
7
Rusmiatiwi, Ria. "Studi kasus kedisiplinan belajar siswa SDIT LHI yang menerapkan
model pembelajaran problem based learning." E-Jurnal Skripsi Program Studi Teknologi
Pendidikan 7.3 (2018): 295-303.
9
a. Membuat peraturan yang jelas. Peraturan yang di buat harus jelas dan
tegas, serta tidak memiliki makna ganda.
b. Memberikan contoh yang bai. Guru dapat menjadi teladan bagi siswa
dalam berdisiplin
c. Menanamkan kesadaran berdisiplin. Guru dapat memberikan
bimbingan atau penyuluhan kepada siswa tentang pentingnya disiplin.
d. Bekerjasama dengan orang tua. Sekolah dapat bekerjasama dengan
orang tua siswa dalam menegakkan kedisiplin.
e. Memberikan sanksi. Sekolah dapat memberikan sanksi kepada siswa
yang melanggar peraturan.
f. Menerapkan tata tertib yang fleksibel. Tata tertib yang ditetapkan harus
nyaman dan tidak membuat siswa merasa tertekan.
10
4. Penggunaan metode pembelajaran aktif.
Kegiatan belajar yang menarik, kreatif, dan interaktif dapat
mengurangi peluang siswa untuk melakukan Tindakan tidak disiplin.
Metode pembelajaran aktif membuat siswa lebih terlibat sehingga
mengurangi kebosanan yang sering memicu perilaku negative.
5. Penghargaan dan penguatan perilaku positif.
Menghargai dan mengakui perilaku baik siswa memberikan
penguatan positif dan mendorong siswa lain untuk berprilaku disiplin.
Penghargaan ini tidak selalu harus berupa hadiah, tetapi bisa juga dalam
bentuk pujian atau pengakuan.
6. Pelatihan keterampilan sosial dan emosional.
Pembinaan keterampilan sosial dan emosional seperti, keterampilan
komunikasi, pengelolaan emosi, dan penyelesaian konflik, membantu
siswa mengatasi masalah secara konstruktif, mengurangi perilaku
negative.
7. Kolaborasi dengan orang tua dan komunitas kerja sama antara sekolah,
orang tua dan komunitas sangat penting dalam pencegahan perilaku
tidak disiplin. Pertemuan rutin antara pihak sekolah dan orang tua
memungkinkan koordinasi dalam menangani perilaku siswa di rumah
dan sekolah.
8. Pendekatan retoratif pendekatan ini melibatkan siswa yang melanggar
aturan untuk bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahan mereka,
misalnya melalui medis dan konseling. Hal ini membuat siswa
memahami dampak dari tindakan mereka dan berkontribusi pada
pemulihan lingkungan.
11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tidak disiplin adalah kebalikan dari disiplin. Yaitu, perilaku tidak
menaati atau mematuhI norma atau aturan yang berlaku di lingkungannya
atau tempat dia berada.
Apabila faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku disiplin lebih
mengarah ke negatif di anak atau ke siapapun, maka itu adalah hal yang
menjadi penyebab timbulnya perilaku tidak disiplin pada suatu individu.
Usaha yang dapat dilakukan guru dalam menaggulangi perilaku
tidak disiplin anak adalah pemberian hukuman, yang dimana hukumannya
itu disesuaikan dengan tingkat perilaku tidak disiplin yang dilakukan anak.
12
DAFTAR PUSTAKA
13