0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan33 halaman

Proposal Skripsi Agung

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan33 halaman

Proposal Skripsi Agung

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)

ANAK USIA SEKOLAH DENGAN TERJADINYA DIARE


DI DESA KACAMARGA CUKUH BALAK TANGGAMUS
TAHUN 2024

(PROPOSAL SKRIPSI)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat UTS Mata


Kuliah Metodologi Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Malahayati

Disusn Oleh :
Agung Julian Pangestu
22320044

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2024
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa kami ucapkan kepada Allah SWT Robbi seluruh
alam, yang telah memberikan bermacam-macam Rahmat dan Nikmat-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas proposal penelitian ini dengan baik dan lancar untuk memenuhi
salah satu syarat UTS mata kuliah Metodologi Penelitian pada Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
semoga Allah SWT selalu melimpahkan Rahmat-Nya kepada beliau, Aamiin. Penulisan tugas
ini adalah tiada lain untuk memperkaya ilmu pengetahuan kita semua. Dalam penyusunan
proposal penelitian mata kuliah Metodologi Penelitian ini tanpa pertolongan-Nya penulis tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Penulis juga tidak lupa untuk
berterimakasih kepada teman-teman, dosen yang mengajar di Universitas Malahayati Bandar
Lampung, yang telah memberikan dukungan atau motivasi, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah mata kuliah ini dengan baik.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal penelitian ini masih jauh dari kata
sempurna, oleh karena itu bagi pihak yang membaca hal ini bisa memberikan kritik dan saran
untuk mengembangkan serta dalam penyempurnaan proposal penelitian ini. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembaca terutama pada mahasiswa Universitas
Malahayati beserta memberi pengetahuan dalam bidang pendidikan.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................................ii

DAFTAR ISI.................................................................................................................................iii

BAB I..............................................................................................................................................1

PENDAHULUAN..........................................................................................................................1

1.1 Latar Belakang..................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................3

1.3 Tujuan Penelitian..............................................................................................3

1.4 Manfaat Praktis.................................................................................................3

BAB II.............................................................................................................................................5

TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................................5

2.1 Landasan Teori...........................................................................................................5

2.2 Definisi Keluarga...............................................................................................8

2.3 Konsep Diare.....................................................................................................8

2.4 Kerangka Teori.........................................................................................................15

2.5 Kerangka Konsep.....................................................................................................29

2.6 Hipotesis.....................................................................................................................29

BAB III.........................................................................................................................................30

METODE PENELITIAN............................................................................................................30

3.1 Penentuan Lokasi, Waktu, dan Sasaran Penelitian..............................................30

3.2 Metode Penelitian.....................................................................................................30

3.3 Populasi dan Sample Penelitian..............................................................................30

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional..............................................31

3.5 Pengumpulan Data..........................................................................................34

3.6 Uji Validasi dan Realiabilitas.........................................................................35

3.7 Metode Analisa Data.......................................................................................36

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................37

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut WHO (2020) Penyakit diare merupakan salah satu penyebab tertinggi
kematian di dunia. Kematian dengan kejadian diare di negara berkembang sekitar 18% yang
artinya lebih dari 5.000 orang di negara berkembang meninggal setiap harinya. Penyakit
diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara perkembang seperti
Indonesia karena morbiditas dari mortalitasnya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang
dilakukan oleh Subdit Diare, Dapartemen Kesehatan dari tahun 2020 hingga 2024 terlihat
kecendrungan insidens naik. Pada tahun 2020 Immortality Rate (IR) penyakit Diare
301/1.000 penduduk, tahun 2021 naik menjadi 374/1.000 penduduk, tahun 2023 naik
menjadi 423/1.000 penduduk dan pada tahun 2024 menjadi 411/1.000 penduduk (Depkes
RI, 2024).

Angka prevalensi diare di Indonesia masih berfluktuasi. Berdasarkan data Riset


Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi diare klinis adalah 9,0% (rentang:
4,2% - 18,9%), tertinggi di Provinsi NAD (18,9%) dan terendah di D.I. Yogyakarta (4,2%).
Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9%. Lima provinsi dengan insiden
dan period prevalen diare tertinggi yaitu Papua (6,3% dan 14,7%), Sulawesi Selatan (5,2%
dan 10,2%), Aceh (5,0% dan 9,3%), Sulawesi Barat (4,7% dan 10,1%), dan Sulawesi
Tengah (4,4% dan 8,8%). Provinsi Kalimantan Selatan (3,3% dan 6,3%) berada di
peringkat 16 dari 33 Provinsi di Indonesia (Rikesdas, 2023).

Data Dinas Kesehatan Kota Agung dari seluruh Puskesmas yang ada di kota Agung
tahun 2023 jumlah yang mengalami diare di semua kelompok usia sebanyak 12.942 orang,
di dapatkan data tertinggi pada bulan November berjumlah 1.308 orang, bulan September
berjumlah 1.245 orang dan bulan Oktober berjumlah 1.202 orang. Data kejadian diare yang
paling tertinggi anak usia sekolah terdapat pada Puskesmas Cukuh Balak berjumlah 933
orang, yang kedua Puskesmas Kacamarga 841 orang dan yang ketiga Puskesmas Tengor
berjumlah 829 orang (Dinas Kesehatan Kota Agung, 2023).

Diare merupakan suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi
lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya
tiga kali sehari atau lebih) dalam satu hari (Fernando dkk, 2024). Penyakit Diare sampai
saat ini masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian terbesar di dunia. Hampir
seluruh kelompok usia terserang diare khususnya paling banyak menyerang anak berusia
1
di bawah lima tahun karena masih belum mempunyai daya tahan tubuh yang maksimal
atau belum mempunya sistem imun yang belum sepenuhnya terjaga (Seni, W., & Rahmati,
U. 2024). Berdasarkan etiloginya, penyakit diare dapat di sebabkan oleh mikroorganisme
seperti bakteri, virus, dan protozoa. Migroorganisme penyebab diare terutama pada anak
yang paling banyak di temukan antara lain Escherichia coli enterotoksigenik, shigella,
campylobacter jejuni dan cryptosporidium (Fabianus, R. H. 2023).

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan cerminan pola hidup keluarga yang
senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga. Semua
perilaku kesehatan yang di lakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga dapat
mendorong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan-
kegiatan di masyarakat merupakan pengertian lain dari perilaku hidup bersih dan sehat
mencegah lebih baik dari pada mengobati, prinsip kesehatan inilah yang menjadi dasar
dari pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat (Nyorong, M., & Maryanti, E. 2024).

Menurut hasil penelitian Firdausi dkk (2023) Ada hubungan yang bermakna antara
sarana sanitasi dasar rumah (sarana air bersih, jamban keluarga, saluran pembuangan air
limbah, sarana pembuangan sampah) dengan kejadian diare pada balita di Desa Bena
tetapi yang paling dominan menyebabkan kejadian diare pada balita adalah penggunaan
jamban keluarga. Munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang keluarga berkaitan
dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sasmita
dkk (2022). terdapat hubungan antara penggunaan air bersih, kebiasaan ibu mencuci
tangan dengan air bersih dan sabun, penggunaan jamban, pengelolahan sampah dan
pengelolahan air limbah dengan kejadian diare pada balita. Dalam penelitian Syamsu
Alam, S. K. M., & Epid, M. (2024) Terdapat hubungan antara penggunaan air bersih,
pengunaan jamban dan mencuci tangan. Penyakit diare merupakan penyakit endemis di
Indonesia dan juga merupakan penyakit yang potensial KLB yang sering disertai dengan
kematian. Diare merupakan penyebab kematian nomer satu pada bayi 31,4% dan pada
masyarakat 25,2% (Kemenkes RI, 2015). Selain itu faktor perilaku kesadaran dan
pengetahuan masyarakat, ketersediaan sumber air bersih, ketersediaan jamban keluarga
dan jangkauan layanan kesehatan perlu dipertimbangkan juga sebagai faktor yang
mempengaruhi kejadian luar biasa diare (Amalia, L. 2024). Penularan penyakit diare
karena infeksi bakteri dari virus biasanya melalui air minum dan makanan yang
terkontaminasi. Disamping itu jamban keluarga juga ikut berperan terjadinya diare karena
tanpa jamban masyarakat memilih buang air besar disembarang tempat. Hal inilah yang
dapat menularkan penyakit diare melalui media air atau media makanan melalui lalat
(Yeniana, R. D. P. 2024).

2
Hasil Studi pendahuluan yang di lakukan oleh peneliti di Desa Kacamarga, Cukuh
Balak, Tanggamus pada tanggal 16 Oktober 2023 didapatkan jumlah total kunjungan
Puskesmas Kacamarga untuk kasus diare di usia anak sekolah dari bulan Januari –
Desember 2023 berjumlah 869 orang, di dapatkan data tertinggi pada bulan Februari
berjumlah 85 orang, bulan Agustus berjumlah 76 orang dan bulan September berjumlah
67. Melihat dari karakteristik wilayah kerja Puskesmas Kacamarga sebagian besar
penduduknya bermukim di daerah pinggiran sungai dan masih banyak menggunakan
jamban cemplung.

Bedasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian
mengenai hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) anak usia sekolah dengan
riwayat terjadinya diare di Desa Kacamarga, Cukuh Balak, Tanggamus.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dapat penulis kemukakan
adalah : “ Apakah Terdapat Hubungan Antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
anak usia sekolah Dengan Terjadinya Diare di Desa Kacamarga, Cukuh Balak, Tanggamus
? ’’

1.3 Tujuan Penelitian


a. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis hubungan perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) Anak usia sekolah dengan terjadinya diare di Desa
Kacamarga, Cukuh Balak, Tanggamus.
b. Tujuan Khusus

Beberapa tujuan yang ingin dicapai dari penelitian yang akan dilaksanakan :
a. Mengidentifikasi karakteristik responden di wilayah kerja Puskemas Kacamarga,
Cukuh Balak, Tanggamus.
b. Mengetahui gambaran perilaku hidup bersih dan sehat di wilayah kerja Puskesmas
Kacamarga, Cukuh Balak, Tanggamus.
c. Mengidentifikasi riwayat kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas
Kacamarga, Cukuh Balak, Tanggamus.
d. Menganalisis hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat anak usia sekolah
dengan kejadian diare.
1.4 Manfaat Praktis

1. Bagi penelitian
3
Menambah referensi data mengenai cara pencegahan kejadian diare di keluarga serta
hubungan perilaku hidup bersih dan sehat anak usia sekolah dengan riwayat diare dapat
dijadikan data dasar untuk penelitian lebih lanjut.
2. Bagi pendidikan
Dapat dijadikan dasar untuk pengembangan kurikulum mata ajar ilmu kesehatan
masyarakat dan keperawatan medikal bedah khususnya dalam hal perilaku hidup
bersih dan sehat serta pencegahan kejadian diare di keluarga.
3. Bagi praktisi keperawatan
Dapat dijadikan referensi ilmiah dalam pencegahan kejadian diare anak usia sekolah
dan menentukan tindakan keperawatan yang perlu diberikan dalam perilaku hidup
bersih dan sehat.
4. Bagi responden
Sebagai masukan untuk cara mencegah terjadinya kejadian diare anak usia sekolah dan
memperluas perilaku hidup bersih dan sehat anak usia sekolah dengan riwayat
terjadinya diare.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


1. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
a. Definisi
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku yang
dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong
dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan
kesehatan di masyarakat (Vanessa, dkk. 2023).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan
pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga,
kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalan komunikasi, memberikan
informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan
perilaku, melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina suasana (social support)
dan pemberdayaan masyarakat (empowerman) sebagai suatu upaya untuk membantu
masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, dalam tatanan masing-
masing, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat, dalam rangka menjaga,
memelihara dan meningkatkan kesehatan (Yani, F. dkk. 2022).
b. Indikator perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
Melalui serangakaian pertemuan / diskusi intensif, uji instrumen, uji sistem dan
uji statistik / item reduction untuk melihat keterkaitan 16 indikator-indikator yang di
kembangkan pada tahun 2023 dengan penyebab terjadinya gangguan kesehatan dan
angka kesakitan yang dilakukan sejak tahun 2022 – 2024, maka di simpulkan bahwa
16 indikator PHBS dalam rumah tangga tahun 2023 di anggap terlau banyak. Oleh
karena itu, bedasarkan pada Rapat Koordinasi Promosi Kesehatan Nasional pada
tahun 2024, maka dari 16 indikator awak di tetapkan 10 indikator PHBS di Rumah
tangga sebagai berikut:

1. Persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan

2. Memberikan bayi ASI setiap bulan

3. Menimbang balita

4. Mengguanakan air bersih

5. Mencuci tangan dengan sabun

6. Menggunakan jamban sehat

7. Memberantas jentik nyamuk

5
8. Mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari

9. Melakukan aktivitas fisik sehari-hari

10. Tidak merokok di dalam rumah

c. PHBS Dirumah Tangga

1. Definisi

PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memperdayakan anggota rumah


tangga agar tahu, mau dan mamou mempraktikan perilaku hidup bersih dan sehat
serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat (Angraini, W, dkk .
2022).

Menurut Kemenkes (2011) di rumah tangga, sasaran primer harus


mempraktikan perilaku yang dapat menciptakan Rumah Tangga Ber-PHBS, yang
mencakup persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI eksklusif,
menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih dan sabun, pengelolaan air
minum dan makan di rumah tangga, menggunakan jamban sehat (Stop Buang Air
Besar Sembarangan / Stop BAB), pengelolaan limbar cair di rumah tangga,
membuang sampah di tempat sampah, memberantas jentik nyamuk, makan buah
dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari, tidak merokok di dalam
rumah dan lain-lain.
Menurut hasil penelitian Susianti (2022). PHBS di Rumah Tangga adalah
upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu
melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan
kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai
Rumah Tangga Sehatdi desa kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kegiatan PHBS
ini sendiri memiliki manfaat baik bagi rumah tangga itu sendiri maupun
masyarakat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dapat di kategorikan seperti, Keluarga
yang ber PHBS baik yaitu keluarga yang mampu memenuhi semua indikator yang
ada di PHBS tatatan rumah tangga, PHBS yang Cukup yaitu kelurga yang hanya
memenuhi beberapa indikator yang ada di indikator tatanan PHBS di keluarga dan
PHBS yang buruk/kurang yaitu keluarga yang tidak menggunakan semua indikator
yang ada di indikator tatanan rumah tangga (Jamko, dkk. 2024).

Hasil penelitian Widyasari, K. C. (2021). PHBS keluarga dalam kehidupan


sehari-hari meskipun keluarga memiliki pengetahuan tinggi tetapi masih
ditemukan keluarga yang menerapkan PHBS klasifikasi I dan II (sehat pratama
madya) hal ini disebabkan karena tidak hanya pengetahuan saja yang
mempengaruhi perilaku seseorang, tetapi banyak faktor yang mempengaruhinya.
6
Ada 3 faktor yang mempengaruhi perilaku hidup bersih dan sehat keluarga yaitu
prediposisi factors (faktor pemudah), enambling factors (faktor pemungkin), dan
reinforcing factors (faktor penguat). Prediposisi factors (faktor pemudah) seperti
tradisi atau kebiasaan, kepercayaan, tingkat pendidikan dan tingkat sosial
ekonomi, enambling factors (faktor pemungkin) mencakup tersedianya sarana dan
prasarana atau fasilitas kesehatan untuk kelurga serta reinforcing factors (faktor
penguat) yang mencakup ada tidaknya dukungan terhadap tindakan kesehatan
yang dilakukan. Keluarga sebagian besar tingkat sosial ekonominya menengah ke
bawah dan adanya beberapa keluarga yang memiliki kebiasaan seperti persalinan
yang dilakukan didukun sehingga meskipun keluarga memiliki pengetahuan yang
tinggi tetapi karena adanya tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah dan
kebiasaan atau tradisi yang tidak mendukung kesehatan keluarga menyebabkan
tidak semua indikator PHBS di tatanan rumah tangga dapat diterapkan. Selain itu,
meskipun keluarga memiliki pengetahuan yang tinggi tetapi karena bertempat
tinggal di pinggir aliran sungai sehingga masih ada keluarga yang menggunakan
air sungai untuk MCK meskipun WC umum sudah ada dan dapat disimpulkan
pengetahuan yang tinggi tidak menjamin seseorang memilki perilaku yang baik.

2. Tujuan
Menurut Semol, K. (2021) tujuan PHBS adalah sebegai berikut :

a. Untuk meningkatkan dukungan dan peran aktif petugas kesehatan, petugas


lintas sektor, media massa, organisasi, masyarakat, LSM, tokoh masyarakat,
tim penggerak PKK dan dunia usaha dalam pembinaan PHBS di Keluarga.
b. Meningkatkan kemampuan keluarga untuk melaksanakan PHBS berperan
aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.
3. Sasaran
Menurut Semol, K. (2021) sasaran PHBS tatatan rumah tangga adalah seluruh
anggota keluarga, yaitu :
a. Pasangan usia subur.
b. Ibu Hamil dan atau ibu menyusui.
c. Anak dan remaja.
d. Usai lanjut.
e. Pengasuh anak.
4. Manfaat PHBS Bagi Keluarga
Menurut Semol (2021) manfaat PHBS Bagi Keluarga yaitu:
a. Setiap rumah tangga meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit.
b. Anak tumbuh sehat dan cerdas.
c. Produktifitas kerja anggota keluarga meningkat dengan meningkat kesehatan
7
anggota rumah tangga, maka biaya yang tadinya di alokasikan untuk
kesehatan dapat di alihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan,
pemenuhan gizi keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan
keluarga.
5. Peran Anggota Rumah Tangga Dalam Ber-PHBS
Menurut Semol (2021) peran anggota rumah tangga dalam ber PHBS, yaitu :

a. Menerapkan PHBS di rumah tangga dalam kehidupan sehari- hari.


b. Mengajak anggota rumah tangga lain untuk ber PHBS melalui kelompok
DASAWISMA.
c. Ikut berpatisipasi dalam kegiataan di masyarakat terkait PHBS seperti
Posyandu, gerakan pemberantasan sarang nyamuk dan sebagainya.
d. Menjadi kader untuk memberdayakan anggota rumah tangga di masyarakat
bekerja sama tim di tingkat desa melalui penyuluhan perorangan, penyuluhan
kelompok dan penyuluhan massa.
2.2 Definisi Keluarga
Istilah keluarga telah didefinisikan dalam berbagai cara dan untuk berbagai
tujuan sesuai dengan kerangka pemikiran, penilaian tentang tata nilai atau disiplin ilmu
individu tersebut. Sebagai contoh, bidang biologis menggambarkan keluarga sebagai
pemenuhan fungsi biologis untuk berkelangsungan hidup spesies tertentu. Bidang
psikologis menekankan aspek interpersonal keluarga dan tanggung jawab keluarga
terhadap perkembangan kepribadian. Dalam pandangan bidang ekonomi, keluarga
sebagai unit produksi yang memenuhi kebutuhan materi dan secara sosial
menggambarkan suatu unit sosial yang bereaksi dengan masyarakat yang lebih besar.
Pendapat lain menyatakan bahwa keluarga berhubungan dengan seseorang yang
membuat unit keluarga dan tipe- tipe hubugan yang terjadi antara lain : hubungan darah
(consanguineous), hubungan pernikahan (affinal) dan keluarga asal ia dilahirkan
(family ig origin)
Dahulu keluarga telah di konseptuasi sebagai suatu kelompok, dengan
keyakinan bahwa baik ayah maupun ibu diperlukan membesarkan anak. Hampir
seluruh masyarakat mempunyai pad mempunyai pandangan yang sangat tinggi
terhadap status pernikahan, tetapi dalam pandangan masyarakat saat ini definisi tentang
keluarga menjadi lebih luas, yaitu “sekelompok orang yang hidup bersama atau
berhubungan erat, yang saling memberikan perhatian dan memberikan bimbingan
untuk anggota keluarga mereka”.
2.3 Konsep Diare
a. Pengertian Diare
Diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. World Health

8
Organization (WHO) mendefenisikan diare sebagai berak air tiga kali atau lebih
dalam sehari semalam (4 jam) para ibu mungkin mempunyai istilah tersendiri seperti
lembek, cair, berdarah, berlendir atau dengan muntah (muntaber). Penting untuk
menanyakan kepada orang tua mengenai frekuensi dan konsistensi tinja anak yang
dianggap sudah tidak normal lagi (Amraeni, Y., & Nirwan, M. 2021).
Diare atau penyakit diare (Diarrheal Disease) berasal dari bahasa Yunani yaitu
Diarroi yang artinya mengalir terus, adalah keadaan abnormal dari pengeluaran tinja
yang frekuen (Nuraeni, T., & Wardani, S. P. D. K. 2022).

Diare adalah buang air besar dengan frekuensi lebih sering (lebih dari 3 kali
sehari) dan bentuk tinja lebih cair dari biasanya ( Putri, S. M. 2020). Diare adalah
defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir atau lendir dalam
tinja. Diare merupakan suatu terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus. Diare
diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit
secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih
dengan bentuk encer atau cair (Siahaan, R. T., & Tambunan, D. M. 2024)

b. Penyebab Diare
Menurut Rifka Putri (2024) secara umum penyebabnya diare adalah sebagai berikut:
1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain, seperti campak,
infeksi telinga, infeksi tenggorokan, malaria dan lain-lain.
4. Makanan seperti basi, beracun dan pemanis buatan.
5. Psikologi seperti rasa takut atau cemas.
Menurut hasil penelitian M Syaud, F. (2018). Kejadian diare di desa Karang
mangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang berhubungan dengan kualitas sumber
air minum dan pemanfaatan jamban keluarga. Buruknya kualitas sumber air minum
disebabkan karena adanya kandungan bakteri patogen penyebab diare, sehingga tidak
memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air minum. Adapun buruknya pemanfaatan
jamban keluarga ditandai dengan perilaku buang air besar di sungai.
c. Patofiologi

Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan


osmotic, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi
pergerseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan
ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare (Arifiani, N.,
dkk, 2024).
Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
9
terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selajutnya diare
timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus (Arifani,N.,,dkk, 2024).
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadi hiperperistaltik akan mengakibatkan
berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare
sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan diare pula. Selain itu
diare juga dapat terjadi akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah
berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang baik,
kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang
selanjutnya akan menimbulkan diare (Arifani,N.,,dkk, 2024).
d. Penularan
Penularan terjadi terutama karena mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi
seperti: tercemar dengan Salmonela, hal ini paling sering terjadi karena daging sapi
yang tidak dimasak dengan baik (terutama daging sapi giling) dan juga susu mentah
dan buah atau sayuran yang terkontaminasi dengan kotoran binatang pemamah biak
seperti halnya Shigella, penularan juga terjadi secara tidak langsung dari orang ke
orang, dalam keluarga, pusat penitipan anak dan asrama yatim piatu. Penularan juga
dapat melalui air, misalnya pernah dilaporkan adanya KLB sehabis berenang di sebuah
danau yang ramai , dikunjungi orang dan KLB lainnya disebabkan oleh karena
minum air PAM yang terkontaminasi dan tidak dilakukan klorinasi dengan
semestinya (Hapsan, A. (Ed.). 2023).
e. Gejala Diare
Mula-mula orang yang tekena menjadi gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu
makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin
disertai lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijauan-hijauan
karena tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya
deteksi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat
yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare (Anggraini, D.,
& Kumala, O. 2022).
Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan
oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan
elektrolit. Bila telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi
makin tampak. Berat badan menurun, tugor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun
membesar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
Bedasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan,
sedang dan berat. Sedangkan bedasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi
dehidrasi hipotonik, isotonik dan hipertonik (Rohmah, A. R. N.,dkk 2019).
Menurut Faisal, M. S. (2018). gejala diare adalah tinja encer dengan frekuensi 4

10
kali atau lebih dalam sehari, yang terkadang disertai beberapa hal berikut:
1. Muntah
2. Badan lesu atau lemah
3. Panas
4. Tidak nafsu makan
5. Darah dan lendir kotoran
6. Cengeng
7. Gelisah
8. Suhu meningkat
9. Tinja cair dan lendir terkadang bercampur darah. Lama kelamaan, tinja berwarna
hijau dan asam
10. Anus lecet
11. Dehidrasi, jika menjadi dehidrasi berat, akan terjadi volume darah berkurang,
nadi cepat dan kecil, denyut jantung cepat, tekanan darah menurun, kesadaran
menurun dan diakhiri dengan shook.
12. Berat badan menurun
13. Tugor kulit menurun
14. Mata dan ubun-ubun cekung
15. Selaput lendir, serta mulut dan kulit menjadi kering.
f. Pencegahan
Menurut Faisal, M. S. (2018) Ada 3 tingkat pencegahan penyakit diare secara
umum, yaitu pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention), pencegahan tingkat
kedua (Secondary Prevention) dan pecegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
yaitu:

1. Pencegahan Primer (Primary Prevention)


Pencegahan primer atau pencegahan tingkat pertama ini dilakukan pada masa
prepatogenesis dengan tujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap diare.
Adapun tindakan- tindakan yang dilakukan dalam pencegahan primer yaitu:
a. Pemberian ASI
b. Pemberian MP-ASI Menggunakan air bersih yang cukup
c. Menggunakan jamban sehat
2. Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention)
Ditunjukan kepada yang telah menderita diare atau yang terancam akan
menderita yaitu dengan menentukan diagnosa dini dan pengobatan yang cepat dan
tepat, serta untuk mencegah terjadinya efek samping dan komplikasi.
Pencegahan sekunder meliputi diagnosis dan pengobatan yang tepat. Pada
pencegahan sekunder, sasaranannya adalah yang terkena penyakit diare upaya yang
11
dilakukan adalah:
a. Segera setelah diare, berikan penderita lebih banyak cairan daripada biasanya
untuk mencegah dehidrasi. Gunakan cairan yang dianjurkan, seperti larutan
oralit, makanan yang cair (sup, air tajin) dan kalau tidak ada berikan air
matang.
b. Jika anak berusia kurang dari 6 bulan dan belum makan makanan padat lebih
baik diberi oralit dan air matang daripada makanan cair.
c. Beri makanan sedikitnya 6 kali sehari untuk mencegah kurang gizi. Teruskan
pemberian ASI bagi anak yang masih menyusui dan bila anak tidak
mendapatkan ASI berikan susu yang biasa diberikan.
d. Segera bawa anak kepada petugas kesehatan bila tidak membaik dalam 3 hari
atau menderita ha berikut yaitu BAB cair lebih sering, muntah berulang-
ulang, rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit dengan atau tinja
berdarah.
e. Apabila di temukan penderita diare yang disertai dengan penyakit lain, maka
berikan pengobatan sesuai indikasi dengan tetap mengutamakan rehidrasi.
3. Pencegahan Tersier (Tetiary Prevention)
Pecegahan tersier adalah penderita penyakit diare dengan maksud jangan
sampai bertambah berat penyakitnya atau terjadi komplikasi. Bahaya yang dapat
diakibatkan oleh diare adalah kurang gizi dan kematian. Kematian akibat diare
disebakan oleh dehidrasi, yaitu kehilangan banyak cairan dan garam dari tubuh.
Diare dapat mengakibatkan kurang gizi dan memperburuk keadaan gizi yang
telah ada sebelumnya. Hal ini terjadi karena selama diare penderita susah makan dan
tidak merasa lapar sehingga masukan zat gizi berkurang atau tidak sama sekali. Jadi,
pada tahap ini penderita diare di usahakan pengembalian fungsi fisik, psikologis
semaksimal mungkin. Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk
mencegah terjadinya akibat samping dari penyakit diare. Usaha yang dapat
dilakukan yaitu dengan terus mengkonsumsi makanan bergizi dan menjaga
keseimbangan cairan. Upaya yang dilakukan adalah:
a. Pengobatan dan perawatan diare dilakukan sesuai dengan derajat dehidrasi.
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan oleh petugas kesehatan dengan
menggunakan tabel penilaian derajat dehidrasi. Bagi penderita diare dengan
dehidrasi berat segera diberikan cairan IV dengan RL.
b. Berikan makanan secukupnya selama serangan diare untuk memberikan gizi
pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta
mencegah berkurangnya berat badan.
c. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama dua

12
minggu untuk membantu pemuliham penderita.
g. Penatalaksanaan Diare
Menurut Mulyasih, R. (2023) penatalaksanaan diare di Indonesia sesuai dengan
kebijakan pemerintah dalam mengendalikan penyakit diare adalah dengan Lima
Langkah Tuntaskan Diare atau disebut Lintas diare. Penatalaksanaan Lintas diare
adalah sebagai berikut:
1) Berikan oralit
Oralit yang saat ini beredar di pasaran adalah oralit baru dengan
osmolaritas rendah yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Oralit
merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan
yang hilang. Jika tidak tersedia oralit, berikan cairan rumah tangga seperti air
tajin, kuah sayur atau air matang. Dosis oralit bagi penderita diare tanpa

dehidrasi untuk anak usia kurang dari 1 tahun adalah 1/4- ½ gelas, usia 1

sampai 4 tahun adalah 1/2 - 1 gelas, usia di atas 5 tahun adalah 11/2 gelas,

diberikan setiap kali anak mencret atau diare. Dosis oralit untuk diare
dehidrasi ringan atau sedang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/kg BB dan
selajutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi
tidak dapat minum maka harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk diberi infus.
2) Berikan obat zinc
Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan
tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi
volume tinja,serta menurunkan kekambuan kejadian diare pada tiga bulan
berikutnya. Dosis pemberian zinc pada balita untuk usia kurang dari 6 bulan

adalah 1/2 tablet (10mg) hari selama 10 hari untuk usia lebih dari 6 bulan

adalah 1 tablet (20 mg)/hari selama 10 hari.


3) Pemberian ASI atau makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada
penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan. Anak yang minum ASI harus lebih sering diberi
ASI sedangkan anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering
dari biasanya.
4) Pemberian antibiotika hanya atas indikasi
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian
diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat
pada penderita diare dengan parah (sebagian besar karena shigellosis) dan
suspect kolera.
13
5) Pemberian nasehat (edukasi)
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi
nasehat mengenai hal berikut:
[Link].1.1 Cara memberikan cairan dan obat di rumah.
[Link].1.2 Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila
diare lebih sering, muntah berulang, sangat haus, makan atau minum
sedikit, timbul demam, tinja berdarah dan tidak membaik dalam tiga
hari.

h. Komplikasi

Menurut Faisal, M. S. (2018) sebagai akibat kehilangan cairan dan


elektrolit secara mendadak, dapat terjadi berbagai macam komplikasi seperti:
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
b. Rejatan hipovelemik
c. Hypokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,
bradikardia, perubahan pada elekrtokardiogram).
d. Hipoglikemia
e. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defesiensi enzim laktase
karena kerusakan vili mukosa usus halus.
f. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik
g. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita juga
mengalami kelaparan.

14
2.4 Kerangka Teori

Lingkungan :
1. Sampah
2. TPS (Tempat Pembuangan
Sampah)

Manusia :
Faktor yang
1. Kebiasaan jajan
mempengaruhi
2. Kebiasaan cuci tangan
kejadian Diare pada
3. Kebiasaan dan cara
Keluarga
menyimpan makanan

Faktor Agent (Vektor Lalat)

Perilaku Hidup Bersih dan


Kejadian Diare
Sehat (PHBS)

PHBS pada Tatanan Rumah


Tangga :
1. Perilaku mencuci tangan.
2. Perilaku membuang
sampah.
3. Perilaku menggunakan
jamban sehat.
4. Perilaku menggunakan /
memanfaatkan air bersih.

Skema 2.1 Kerangka Teori PHBS dan Diare


Sumber: Faisal, M. S. (2018)

15
2.5 Kerangka Konsep

Perilaku Hidup Bersih dan Riwayat Terjadinya Diare.


Sehat Keluarga.

Skema 2.2 Kerangka Konsep


(PHBS dan Diare)

2.6 Hipotesis
Hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang sedang diteliti. Hipotesa
mempunyai karakteristik sebagai berikut: harus mengespresikan hubungan antara dua
variabel atau lebih, harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda, harus dapat
uji, maksudnya ialah memungkinkan untuk diungkapkan dalam bentuk operasional
yang dapat di evaluasi bedasarkan data.
Hipotesis penelitian :
Ha : Ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat keluarga dengan
riwayat kejadian diare

29
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Penentuan Lokasi, Waktu, dan Sasaran Penelitian


1. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kacamarga, Cukuh Balak, Tanggamus
2. Waktu penelitian
Tanggal 1-10 November 2024
3. Sasaran penelitian
Sasaran penelitian ini adalah seluruh anak usia sekolah di Desa Kacamarga,
CukuhBalak, Tanggamus
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Nadirah, S. P., dkk. 2022).
Metode ini menggunakan metode cross sectional yaitu mengambil data hanya dengan
satu kali dimana pengumpulan variabel dependent dan Independent dilakukan pada waktu
yang bersamaan. Tentunya tidak semua objek penelitian harus observasi pada hari atau
pada waktu yang sama, akan tetapi baik variabel dependent dan independent dinilai
hanya satu kali saja. Dengan studi ini akan di peroleh prevalensi atau efek suatu
fenomena (variable dependen) dan dihubungkan dengan penyebab (variabel idependen).
3.3 Populasi dan Sample Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Suriani, N., & Jailani, M. S.
(2023).Sedangkan populasi penelitian ini adalah seluruh anak usia sekolah yang
tinggal di desa Kacamarga, CukuhBalak, Tanggamus.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut (Waruwu, M. 2023). Besar sampel dari penelitian ini dihitung menggunakan
rumus lameshaw, sebagai berikut :

{Z 𝖺√2P(1 − P) + Z1−𝛽 √P1(1 − P1) + P2 (1 − P2)}2


𝑛 = 1−
2 (P1 − P2)

30
𝑛 = 73

Di genapkan menjadi 75 responden.


Keterangan :
Z1−𝛼/2 = 5% = 1,96 (derajat kemaknaan)
Z1− 𝛽 = 95% = 1,64 (kekuatan uji)
P 1 = Proporsi anggota keluarga yang memiliki riwayat diare (P1 = 0,28)
(Faisal, M. S. 2018)
P2 = Proporsi anggota keluarga yang tidak memiliki riwayat diare (P2 = 0,06)
(Faisal, M. S. 2018)

Hasil perhitungan rumus lameshaw berbeda proporsi ini, diperoleh jumlah sampel
minimal untuk penelitian ini adalah 73 responden kemudian di genapkan menjadi 75
responden dengan menggunakan Simple Random Sampling. Pertama dengan membagi
jumlah respoden di 3 kelurahan, yaitu kelurahan Kacamarga, Hulu way dan Purwodadi.
Masing-masing kelurahan mendapat proporsi responden yang sama yaitu sebanyak 25
responden. Pengambilan sampel masing-masing kelurahan ditentukan di RT 1 (satu)
dengan cara menentukan nomer rumah yang genap sampai jumlah responden yang di
inginkan di kelurahan tersebut terpenuhi yaitu sebanyak 25 responden.

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

a. Variabel Independen (bebas)

Variabel independen yang disebut bebas atau dikatakan juga memperngaruhi


(Faisal, M. S. 2018). Variabel independen adalah faktor yang diduga sebagai
faktor yang memperangaruhi variabel depeden. Variabel independen dalam
penelitian ini adalah PHBS Keluarga.

b. Variabel Dependen (terikat)

Variabel dependen adalah variabel yang mempengaruhi oleh variabel


independen. Variabel dependen yaitu variabel tergantung, akibat atau
terpengaruhi (Faisal, M. S. 2018). Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah Riwayat Kejadian Diare.

c. Definisi Operasional

Defininis operasional mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan


karateristik yang diamati ketika melakukan pengukuran secara cermat terhadap
suatu objek atau fenomena dengan menggunakan parameter yang jelas (Faisal,
M. S. 2018).

31
Tabel 3.1 Definisi Operasional

Definisi
Variabel Alat Ukur Hasil ukur Skala
Operasional

Variabel Upaya atau Kuesioner Jika jawaban : Ordinal

Independent tindakan yang Tidak = 0


dilakukan anggota
PHBS Keluarga Ya = 1
keluarga
melakukan air Kemudian
bersih, mencuci dikategorikan
tangan dengan
air mengair 1. Kurang (0-4)
dengan sabun 2. Cukup (5-8)
gizi anak, 3. Baik (9-12)
menjaga kesehatan
gizi
anak, menjaga
kesehatan
perorongan atau
lingkungan dan
mengindari faktor
pencetus.

Indikator PHBS Air bersih


Keluarga : Kuesioner Ordinal
merupakan
- Air Bersih kebutuhan dasar Jika jawaban :
yang digunakan Tidak = 0
untuk memenuhi
kebutuhan sehari- Ya = 1
hari, dengan
Kemudian
syarat
dikategorikan
air tidak
1. Kurang (0-1)
berwarna, tidak
2. Cukup (2)
berbau dan tidak
3. Baik (3)
berasa.

Perilaku mencuci Kuesioner Ordinal


- Perilaku tangan merupakan
Mencuci perilaku dimana
Tangan seseorang atau Jika jawaban :
individu Tidak = 0
membersihkan
Ya = 1
tangannya
menggunakan air Kemudian
yang dikategorikan

mengalir dan 1. Kurang (0-1)


sabun. 2. Cukup (2)
3. Baik (3)

32
- Jamban Jamban Kuesioner Jika jawaban : Ordinal
Sehat
merupakan suatu Tidak = 0
ruangan
Ya = 1
yang mempunyai
fasilitas Kemudian
pembuangan dikategorikan
kotoran manusia
yang terdiri atas 1. Kurang (0-1)
jongkok atau 2. Cukup (2)
3. Baik (3)
tempat duduk

dengan leher
angsa (cemplung)
yang dilengkapi
dengan unit
penampungan
kotoran.

Sampah Kuesioner Ordinal


- Pengelolaan
merupakan limbah
Sampah
yang Jika jawaban :
Tidak = 0
bersifat padat,
terdiri dari bahan Ya = 1
yang bisa
membusuk Kemudian
(organik) dan dikategorikan
tidak membusuk 1. Kurang (0-1)
(anorganik) yang 2. Cukup (2)
harus di kelola
3. Baik (3)
dengan baik dan
benar.

Variabel
Riwayat diare Kuesioner Dikategorikan Ordinal
Dependen
adalah kejadian
Kejadian Riwayat 1 = Riwayat diare 3
terjadinya diare
Diare 3 bulan bulan terakhir
dalam 3 bulan
terakhir
terakhir di tandai
2 = Tidak ada
dengan
riwayat diare
BAB
yang lebih dari 3
kali atau lebih
dalam 24 jam
dengan frekuensi
dan
konsistensi tinja
lembek, cair,
berdarah,
berlendir atau
dengan muntah
(muntaber).

33
3.5 Pengumpulan Data
1. Pengumpulan data
a. Jenis data
Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini menggunakan data primer
dan data sekunder adalah sebagai berikut:
1) Data primer
Data primer adalah data yang hanya dapat kita peroleh dari sumber asli atau
pertama. Data primer harus secara langsung kita ambil dari sumber aslinya,
melalui narasumber yang dapat dan yang kita jadikan responden dalam penelitian
kita. Tehnik yang dapat digunakan pada penelitian ini untuk mengumpulkan data
primer antara lain mewawancarai responden, yang pertama adalah kepala rumah
tangga (bapak) apabila tidak ada diwakilkan oleh ibu, apabila juga tidak ada turun
ke anak pertama atau anak yang paling tertua di keluarga yang mampu di ajak
berkomunikasi dan bersedia menjadi responden oleh. Seperti data Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) anak usia sekolah dengan Riwayat Diare 3 bulan
terakhir.
2) Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang sudah tersedia sehingga kita tinggal
mencari dan mengumpulkan. Data sekunder merupakan data penelitian yang
diperoleh penelitti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan
dicatat oleh pihak lain). Data yang dikumpulkan adalah jumlah penderita Diare
dan Data tentang PHBS yang didapat di Puskesmas.
2. Cara Mengumpulkan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan
dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan penelitian yang diungkapkan dalam
bentuk hipotesis merupakan jawaban sementara tentang pertanyaan penelitian.
Metode pengumpulan data bisa dilakukan dengan cara: Data dikumpulkan dengan cara
mentransfer data dari Puskesmas dan mengisi lembar observasi yang disediakan,
penelitian ini juga melakukan metode observasi. Observasi adalah pengamatan dan
pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala-
gejala dalam objek penelitian (Ramdhan, M. 2021).
3. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah merupakan sebuah alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan
penelitian. Instrumen sebagai alat pada waktu penelitian yang menggunakan suatu
metode (Ramdhan, M. 2021). Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah observasi, wawancara dan kueisoner.

34
3.6 Uji Validasi dan Realiabilitas
1. Uji Validasi
Validitas adalah suatu indek yang menunjukan alat ukur itu benar- benar
mengukur apa yang di ukur. Validitas berasal dari kata validity yang berarti
ketetapan dan kecermatan, secara sederhana yang dimaksud valid adalah sahih
(Aksara, P. B. 2021).

Menurut Aksara, P. B. (2021) alat ukur instrumen penelitian yang dapat diterima
sesuai standar adalah alat ukur yang telah melalui uji validasi dan realibitasi
data. Tehnik korelasi yang dapat dipakai adalah tehnik kolerasi product moment
dengan uji validasi dalam penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Kacamarga
karena Puskesmas Kacamarga memiliki karakteristik penduduk yang sama dengan
di wilayah kerja Puskesmas. Uji tersebut dapat menggunakan rumus pearson
product moment yaitu sebagai berikut :
Rumus pearson product moment :

𝑟 ℎi𝑡𝑢𝑛𝑔 =
n (∑ XY) − (∑ X). (∑ Y)
√[n. ∑ X2 − (∑ X)2]. [n. ∑ X2 − (∑ Y)2]

Keterangan :

r hitung = Koefisensi kolerasi

∑X = Jumlah skor total (item)

∑𝑌 = Jumlah skor total

n = Jumlah skor total

Butir soal pada kuesioner dinyatakan valid 𝑟ℎi𝑡𝑢𝑛g > 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙.

Hasil Uji Validitas telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kacamarga


selama 1 hari pada tanggal 4 November 2024 dengan 15 responden yang
tinggal di wilayah Kerja Puskesmas Kacamarga. Uji Validitas di lakukan
dengan cara membagikan kuesioner kepada responden yang terdiri dari 12
pertanyaan untuk mengukur Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Setelah
itu dilakukan analisis uji validitas dengan menggunakan bantuan program
komputerisasi statistik, di dapatkan dari 12 pertanyaan untuk mengukur
tingkat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) semua pertanyaannya
dinyatakan valid, sehingga pertanyaan tersebut bisa digunakan untuk
penelitian. Pertanyaan yang di anggap valid adalah yang jumlah 𝑟ℎi𝑡𝑢𝑛g >
𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙. Jumlah 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 pada penelitian ini adalah 0,514. 𝑟ℎi𝑡𝑢𝑛g pada
35
pertanyaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah P1=0,812,
P2=0,856, P3=0,812, P4=0,856, P5=0,812, P6=0,553, P7=0,856, P8=0,812,
P9=0,682, P10=0,856, P11=0,812 dan P12=0,682.

2. Uji Reabilitas
Reabilitas merupakan kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta
atau kenyataan hidup tadi di ukur atau diamati berkali-kali dalam waktu berlainan.
Dalam mengukur realibilitas digunakan rumus uji spearman borwn (Widodo, S.,
dkk 2023).
𝑟11 = 2.𝑟𝑏
1 + 𝑟𝑏
Keterangan
𝑟11 : koefisien reabilitas internal seluruh item
𝑟𝑏 : kolerasi product moment antara belahan Dengan langkah sebagai
berikut :
a. Hitung total skor.
b. Hitung kolerasi Pearson Product Momen tiap item pertanyaan.
c. Hitung realibilitas seluruh dengan Sperman Brown.
d. Cari R tabel, dengan dk = n – 2, α = 0,05
e. Analisis keputusan, apabila 𝑟11 tabel berarti reliabel dan apabila
𝑟11 < r tabel tidak reliabel.
Hasil uji realibilitas di dapatkan nilai Konstanta Cronbach Alpha

adalah 0,870 (Reabilitas Tinggi).

3.7 Metode Analisa Data


1. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan cara menggunakan dengan menggunakan
program komputerisasi yang melalui beberapa tahap.
a. Editing
Editing dilakukan untuk memeriksa kelengkapan pengisian kuesioner dan
konsistensi jawaban dengan pertanyaan.
b. Coding
Coding dilakukan dengan cara mengubah jawaban dari kuesioner kedalam
kode-kode angka.
c. Processing
Proses data dilakukan dengan cara memasukan data atau entry data dari
kuesioner ke komputer dengan program SPSS.
d. Cleaning

36
Setelah data dimasukan atau entry maka dilakukan pengecekan kembali pada
data tersebut apakah terdapat kesalahan atau tidak (Abdiyanti, D. S. 2023).
2. Analisis Univariat
Penelitian analisis univariat adalah analisa yang dilakukan menganalisis tiap
variabel hasil penelitian (Abdiyanti, D. S. 2023). Analisa univariat berfungsi
untuk meringkas kumpulan data hasil pengukuran sedemikian rupa sehingga
kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna. Peringkasan
tersebut dapat berupa ukuran statistik, tabel, grafik. Bentuk analisa univariat
tergantung dari jenis data. Untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-
rata, median dan standar deviasi. Pada umumnya dalam analisis ini hanya
menghasilkan distribusi frekuensi responden (Abdiyanti, D. S. 2023). Analisa
univariat dilakukan masing-masing variabel yang diteliti yaitu ada 1 variabel
independen (Perilaku Hidup Bersih anak usia sekolah) dan 1 variabel dependen
(Riwayat kejadian Diare).
3. Analisa Bivariat
Analisis Bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang
di duga berhubungan atau berkolerasi (Abdiyanti, D. S. 2023). Dalam penelitian
ini yang menjadi analisis Bivariat peneliti adalah:
“Menganalisis Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat anak usia sekolah
Dengan Riwayat Kejadian Diare di desa Kacamarga, CukuhBalak, Tanggamus”.
Dalam penelitian ini menggunakan uji kendall tau. Uji ini digunakan untuk
meliat hubungan antara variabel independen yaitu Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat dengan variabel dependen yaitu riwayat kejadian Diare.
Uji kendall tau merupakan uji analisis yang menghubungkan 2 variabel yang
berskala ordinal dan mengetahui tingkat kolerasi antara 2 variabel tersebut
(Sujarweni, V. W., & Utami, L. R. 2019).
a. Karakteristik Kendall Tau:
1. Menguji hubungan dua variabel atau lebih
2. Termasuk kolerasi nonparametik
3. Bisa digunakan untuk sampel kecil.
b. Cara penggunaan uji ini adalah sebagai berikut:

𝑟=
S

n (n2− 1)
1

Ket :

𝑟 = Nilai koefesien kendall tau


37
S = Pembilang dari jumlah konkordasi dan diskonkordasi secara
keseluruhan
𝑛 = Jumlah sampel

2 dan 2 = Konstanta
c. Syarat dari Uji Kendall Tau
Agar pengujian hipotesis dengan kendall tau dapat digunakan dengan baik
maka hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut (Faisal, M. S.
2018).
1) Skala data variabel ordinal.
2) Jenis hipotesis koleratif.
Kesimpulan dalam uji kendall tau ini di dapatkan dengan cara
membandingkan hasil 𝑟 dengan 𝑟 tabel. Bila 𝑟 hitung lebih kecil dari𝑟
tabel berarti Ho diterima (tidak ada hubungan antara perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) anak usia sekolah dengan riwayat terjadinya diare). Jika 𝑟
hitung lebih besar atau sama dengan 𝑟 tabel atau Pvalue < 0,05 berarti Ha
diterima (ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) anak
usia sekolah dengan riwayat kejadian diare).

38
DAFTAR PUSTAKA

ABDIYANTI, D. S. (2023). HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PERKEMBANGAN PADA


ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK DAARUL MUTTAQIEN DAN AT-TAUBAH DI
KARAWANG TAHUN 2022 (Doctoral dissertation, Universitas Aisyiyah Bandung).
Aksara, P. B. (2021). Metodologi penelitian kuantitatif. Bumi Aksara.
Amalia, L. (2024). STUDI LITERATUR FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PERILAKU BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN (BABS). Jurnal Kesehatan
Bidkemas, 15(1), 14-26.
Amraeni, Y., & Nirwan, M. (2021). Sosial Budaya Kesehatan Dan Lingkungan Masyarakat Pesisir
Dan Tambang. Penerbit NEM.
Anggraini, D., & Kumala, O. (2022). Diare Pada Anak. Scientific Journal, 1(4), 309-317.
Angraini, W., Febriawati, H., & Amin, M. (2022). Peningkatan Pengetahuan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat Rumah Tangga. Jurnal Kesmas Asclepius, 4(1), 26-32.
ARIFIANI, N., Meilinawati, E., & Puji Suryantini, N. (2024). HUBUNGAN PEMBERIAN ASI
EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI DI RSUD SYAMRABU
BANGKALAN (Doctoral dissertation, Perpustakaan Universitas Bina Sehat PPNI).
FABIANUS, R. H. (2023). HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA IBU
RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PADUKUHAN
POTORONO BANTUL YOGYAKARTA (Doctoral dissertation, SEKOLAH TINGGI ILMU
KESEHATAN WIRA HUSADA).
Faisal, M. S. (2018). Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Keluarga dengan Riwayat
Terjadinya Diare di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Jingah Banjarmasin. Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Sari Mulia, 1-126.
Fernando, P. S., Togubu, D. M., & Kasau, S. (2024). Hubungan Personal Higiene Dengan Kejadian
Diare Pada Siswa Sekolah Dasar YPK Merauke. INHEALTH: INDONESIAN HEALTH
JOURNAL, 3(1), 66-80.
Firdausi, R. A., Thohari, I., Kriswandana, F., & Marlik, M. (2023). Sanitasi dasar rumah dan perilaku
buang air besar terhadap kejadian diare pada masyarakat pesisir (studi di desa gisik cemandi
kabupaten sidoarjo tahun 2023). Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan, 17(2), 72-80.
Hapsan, A. (Ed.). (2023). Aktivitas Salmonella Typhii pada Ikan Bandeng (Chanos chanos) secara
Invitro. CV. Ruang Tentor.
Jamko, M. N., Djanah, S. N., & Handayani, L. (2024). Analisis Strategi Promosi Kesehatan Terhadap
Implementasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Desa Dullah Laut Kota Tual Provinsi
Maluku. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development, 6(6), 2363-
2385.
M Syaud, F. (2018). HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) KELUARGA
DENGAN RIWAYAT TERJADINYA DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI
JINGAH BANJARMASIN.
MULYASIH, R. (2023). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IBU DALAM
IMPLEMENTASI LINTAS DIARE DI DESA TEMUROSO DEMAK (Doctoral dissertation,
Universitas Islam Sultan Agung Semarang).
Nadirah, S. P., Pramana, A. D. R., & Zari, N. (2022). metodologi penelitian kualitatif, kuantitatif, mix
method (mengelola Penelitian Dengan Mendeley dan Nvivo). CV. Azka Pustaka.
Nuraeni, T., & Wardani, S. P. D. K. (2022). Faktor Risiko Penyakit Diare di Wilayah Kerja UPTD
Puskesmas Sindang, Kabupaten Indramayu. Gema Wiralodra, 13(1), 133-144.
Nyorong, M., & Maryanti, E. (2024). Promosi Kesehatan Tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
(PHBS) Pada Tatanan Rumah Tangga Di Kelompok Pengajian Masjid Taqwa
Muhammadiah. Media Pengabdian Kesehatan Indonesia, 1(2), 33-39.
39
Putri, S. M. (2020). GAMBARAN PEMERIKSAAN WIDAL Salmonella typhi O DAN H METODE
SLIDE PADA PENDERITA DIARE DI RS KARTIKA HUSADA KUDUS (Doctoral dissertation,
UNIMUS).
Ramdhan, M. (2021). Metode penelitian. Cipta Media Nusantara.
RIFKA PUTRI, D. E. W. I. (2024). ANALISIS HUBUNGAN DIARE INFEKSI DAN NON INFEKSI
DENGAN HASIL PEMERIKSAAN LEUKOSIT DARAH DAN PEMERIKSAAN FESES
PADA BALITA YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. H. ABDUL
MOELOEK PROVINSI LAMPUNG.
Rohmah, A. R. N., Widyastuti, Y., & Estiwidani, D. (2019). Hubungan Praktik Cuci Tangan Pakai
Sabun Anak Prasekolah Dengan Kejadian Diare di Rw 08 Kelurahan Warungboto (Doctoral
dissertation, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta).
Sasmita, H., Sapriana, S., & Sitorus, S. B. M. (2022). Hubungan Pemanfaatan Sarana Sanitasi Terhadap
Kejadian Stunting Tahun 2021. Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan, 16(1), 8-15.
SEMOL, K. (2021). GAMBARAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) RUMAH
TANGGA PADA MASYARAKAT (Doctoral dissertation, STIKES BINA SEHAT PPNI).
Seni, W., & Rahmati, U. (2024). HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN RUMAH DENGAN
KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANGO RAYA
BANDA ACEH. Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO), 1(1), 412-419.
Siahaan, R. T., & Tambunan, D. M. (2024). Pengelolaan Klien dengan Diare Disertai Dehidrasi
Berbasis Evidence Nursing di Ruang Dahlia RS Murni Teguh Sudirman. OBAT: Jurnal Riset
Ilmu Farmasi dan Kesehatan, 2(4), 105-123.
Sujarweni, V. W., & Utami, L. R. (2019). The master book of SPSS. Anak Hebat Indonesia.
Suriani, N., & Jailani, M. S. (2023). Konsep populasi dan sampling serta pemilihan partisipan ditinjau
dari penelitian ilmiah pendidikan. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 1(2), 24-36.
Susianti, S., Rudiyanto, W., Windarti, I., & Zuraida, R. (2022). Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) pada Rumah Tangga di Desa Kalisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung
Selatan. JPM (Jurnal Pengabdian Masyakat) Ruwa Jurai, 6(1), 1-5.
Syamsu Alam, S. K. M., & Epid, M. (2024). BAB 5 Kejadian Luar Biasa. BUNGA RAMPAI
PENGANTAR ILMU KESEHATAN MASYARAKAT, 54.
Vanessa, T., Yulianto, A., & Efendi, R. (2023). Penyuluhan kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan
sehat dengan kejadian ispa pada balita. Bagimu Negeri: Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat, 7(2), 131-135.
Waruwu, M. (2023). Pendekatan penelitian pendidikan: metode penelitian kualitatif, metode penelitian
kuantitatif dan metode penelitian kombinasi (Mixed Method). Jurnal Pendidikan
Tambusai, 7(1), 2896-2910.
Widodo, S., Ladyani, F., Lestari, S. M. P., Wijayanti, D. R., Devrianya, A., Hidayat, A., ... & Widya, N.
(2023). Buku Ajar Metode Penelitian.
WIDYASARI, K. C. (2021). Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Dengan Kejadian
Stunting Pada Anak Usia 24–59 Bulan Di Desa Kintamani. Repository. Itekes-Bali. Ac. Id.
Yani, F., Irianto, S. E., Djamil, A., & Setiaji, B. (2022). Determinan Tingkat Pengetahuan Sikap Dan
Perilaku Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Tatanan Rumah Tangga
Masyarakat. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal, 12(3), 661-672.
YENIANA, R. D. P. (2024). HUBUNGAN KONDISI SARANA SANITASI DASAR DENGAN
KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PEKON PAMENANG KECAMATAN PAGELARAN
KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2024 (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes
Tanjungkarang).

40
41
42

Anda mungkin juga menyukai