Project Based Learning
Project Based Learning
PROPOSAL SKRIPSI
DAFTAR ISI............................................................................................................i
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Batasan Masalah...........................................................................................4
C. Rumusan Masalah.........................................................................................4
D. Tujuan Penelitian..........................................................................................4
E. Manfaat Penelitian........................................................................................5
BAB II.....................................................................................................................6
LANDASAN TEORI..............................................................................................6
A. Landasan Teori..............................................................................................6
B. Studi Relavan..............................................................................................27
C. Hipotesis Tindakan.....................................................................................29
BAB III..................................................................................................................30
METODE PENELITIAN....................................................................................30
A. Setting Penelitian........................................................................................30
B. Sasaran Tindakan........................................................................................30
C. Desain PTK.................................................................................................30
D. Rencana Tindakan.......................................................................................31
E. Jenis Instrumen dan Cara Penggunaanya....................................................32
F. Analisis Data dan Refleksi..........................................................................33
G. Teknik Pengumpulan Data..........................................................................34
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................36
i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada abad 21 masyarakat Indonesia dituntut memiliki kemampuan
dalam memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk dimanfaatkan
dalam kehidupan sehari-hari yang menuntut kita memiliki kemampuan. Salah
satu kemampuan yang harus dimiliki oleh masyarakat Indonesia dalam
menghadapi abad 21 adalah kemampuan berpikir kreatif. Nurmasari
mengatakan bahwa berpikir kreatif merupakan bagian keterampilan hidup
yang perlu dikembangkan dalam menghadapi era informasi dan suasana
bersaing yang semakin ketat (Darman 2020).
Namun faktanya menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif
berdasarkan hasil penelitian Global creativity indeks pada tahun 2015 bahwa
Indonesia menduduki urutan ke 115 dari 139 negara yang memiliki
kemampuan berpikir kreatif rendah. Riset terkait dengan indeks Global
creativity indeks ini mengukur tiga aspek yaitu: technology, talent dan
tolerance. Berdasarkan riset tersebut bahwa rendahnya berpikir kreatif siswa
karena ada kekeliruan terhadap proses pendidikan di Indonesia. Berpikir
kreatif siswa tidak mendapatkan ruang gerak untuk melahirkan ide kreatif baik
di sekolah maupun lingkungan sosial (Darman 2020).
Jika kemampuan berpikir kreatif tidak di kembangkan secara
maksimal, maka kemampuan berpikir kreatif tidak akan bertambah, bahkan
mungkin rendah. Sebagaimana di jelaskan dalam Kemendikbud bahwa secara
global rendahnya keterampilan berpikir kreatif dapat di lihat pada hasil The
Trends International Mathematics And Science Study Assesment (PISA)
menunjukan bahwa prestasi Indonesia berada pada posisi ke 43 dari 45 negara
yang berpartisipasi. Faktor penyebab rendahnya berpikir kreatif siswa di
karenakan pembelajaran yang masih berpusat pada guru, kemudian kurangnya
model- model pembelajaran inovatif sehingga guru masih mengajar dengan
cara konvesional (Ningsih et al. 2021).
1
Hal tersebut sejalan dengan hasil yang didapatkan peneliti saat
melakukan observasi di SD N 069/VI Talang Tembago, rendahnya
kemampuan berpikir kreatif siswa karena guru kurang melibatkan siswa secara
aktif dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini terlihat pada proses
pembelajaran yang masih berlangsung secara konvensional. Dalam model
pembelajaran konvensional guru hanya menyampaikan materi secara langsung
pada siswa sehingga pembelajaran konvensional juga cenderung bersifat
teacher centered (berfokus pada guru). Sehingga, membuat siswa pasif dan
monoton hanya menerima informasi yang diberikan guru dari waktu ke waktu.
Selain itu, penghambat berpikir kretif adalah dengan membeikan drilling.
Siswa selalu disuapi sehingga tidak ada keinginan untuk berusaha sendiri.
Banyak siswa yang belum berani mengungkapkan gagasan dan ide-ide baru
mereka, dan kurangnya wadah untuk mengekspresikan dan berpendapat sesuai
dengan kreatif masing-masing siswa.
Keadaan ini tentu akan membuat siswa kurang berperan aktif dalam
proses pembelajaran karena penggunaan model pembelajaran yang kurang
inovatif akibatnya siswa merasa bosan ketika berada di kelas, kurangnya
media pembelajaran akibatnya pembelajaran monoton, guru tidak melibatkan
siswa saat proses pembelajaran akibatnya siswa kurang kreatif, dan guru tidak
memberikan kebebasan belajar pada siswa untuk mengembangkan
kemampuan berpikir kreatif melalui ide baru dan pemikiran yang dimiliki
siswa. Pada akhirnya membuat siswa tidak mampu mengembangkan
keterampilan berpikir kreatif yang terdapat dalam dirinya. Persepsi seperti ini
akan mempengaruhi kurangnya berpikir kreatif siswa untuk mempelajari dan
memecahkan masalah- masalah.
Oleh karena itu berpikir kreatif ini sangat diperlukan dalam diri siswa
dan seharusnya dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar. Karena
melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara
gagasan dan konsep yang sudah ada dapat membangkitkan motivasi siswa
untuk belajar secara mandiri serta mampu belajar dengan siswa lain dalam
kelompok belajar. Upaya yang dilakukan dapa dari segi proses pembelajaran,
2
peningkatan kemampuan guru dalam mengajar, dan strategi yang digunakan
dalam proses pembelajaran yang bisa menggali kemampuan siswa untuk
berpikir kreatif dalam mengikuti proses pembelajaran.
Model pembelajaran Project Based Learning merupakan model
pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan
memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruksi belajar mereka
sendiri. fokus pembelajaran terletak pada prinsip dan konsep inti dari suatu
disiplin ilmu, melibatkan siswa dalam investigasi pemecahan masalah dan
kegiatan tugastugas bermakna yang lain, memberi kesempatan siswa bekerja
secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri, dan
mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata. Model pembelajaran
ini sangat cocok digunakan untuk meningkatkan kreativitas belajar siswa agar
minat belajar siswa meningkat dan tidak akan menjadi bosan. Model berbasis
proyek ini dapat membuat susasana kelas menjadi menyenangkan dan siswa
akan semangat dalam belajar sebab model pembelajaran ini menuntut siswa
untuk menghasilkan sebuah produk.
Terdapat banyak model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam
proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Salah
satunya yaitu menggunakan model pembelajaran Project Based Learning
(PjBL). Menurut Thomas (Hanafy 2014) Project Based Learning ialah
pendekatan pembelajaran yang terencana, kreatif serta menekankan kepada
pembelajaran yang bersumber dari keadaan nyata. Project Based Learning
berfokus pada ciri dan prinsip yang bertujuan agar siswa terlibat aktif dalam
pembelajaran, mengelola tugas dan waktu belajar, masalah, mengintergrasikan
pembelajaran yang sempurna, menghasilkan suatu produk atau karya
berdasarkan hasil pemikiran kreatif.
Project Based Learning merupakan pembelajaran yang mengarahkan
siswa untuk bekerja di dalam kelompok dalam rangka membuat atau
melakukan sebuah proyek bersama, dan mempresentasikan hasil dari
proyeknya tadi dihadapan siswa yang lainnya. Project Based Learning
memberi peluang pada sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa, lebih
kolaboratif, siswa terlibat
3
secara aktif menyelesaikan proyek-proyek secara mandiri dan bekerja sama
dalam tim dan mengintegrasikan masalah-masalah yang nyata dan praktis.
Tujuan yang ingin dicapai bagi siswa sangat beragam, misalnya keterampilan
berpikir, keterampilan sosial, keterampilan psikomotor, dan keterampilan
proses.
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran
Project Based Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir
Kreatif Siswa Pada Pembelajaran Ipa Di Kelas Iv Sd N 069/Vi Talang
Tembago”.
B. Batasan Masalah
Untuk memfokuskan pembahasan, peneliti menetapkan batasan pada
topik “Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning Untuk
Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kreatif Siswa Pada Pembelajaran Ipa Di
Kelas IV SD N 069/VI Talang Tembago.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas,
maka yang menjadi rumuskan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah
ada terdapat pengaruh “Penerapan Model Pembelajaran Project Based
Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kreatif Siswa Pada
Pembelajaran Ipa Di Kelas IV SD N 069/VITalang Tembago”
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui adanya Penerapan Model Pembelajaran
Project Based Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir
Kreatif Siswa Pada Pembelajaran Ipa Di Kelas Iv Sd N 069/Vi Talang
Tembago.
4
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan
dan mengembangkan pengetahuan dalam dunia pendidikan khususnya
dalam aspek strategi belajar mengajar
2. Manfaat Praktis
a) Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi guru
untuk mengkoreksi/memperbaiki salah satu faktor kualitas belajar
dari segi model pembelajaran sehingga guru dapat menciptakan
inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran yang memungkinkan
terbentuknya suasana kelas yang menyenangkan dan tujuan
pembelajaran dapat tercapai lebih baik.
b) Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat baik bagi siswa
yaitu dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatifnya terutama
pada pembelajaran geografi agar tujuan pembelajaran yang
diharapkan dapat tercapai dengan baik.
c) Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
evaluasi pembelajaran di sekolah mengenai efektifitas penggunaan
model pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran
geografi.
d) Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan
mendalam mengenai pengaruh penerapan suatu model
pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan kreatif sehingga
hal ini dapat membantu peneliti selanjutnya untuk memahami
secara lebih rinci bagaimana suatu model pembelajaran dapat
mempengaruhi peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa.
5
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Model Pembelajaran
a. Definisi Model Pembelajaran
Model merupakan kerangka konseptual yang digunakan
sebagai panduan atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan kerja.
(2023)
Menurut KKBI , model adalah pola atau acuan dari sesuatu yang
akan di buat atau di hasilkan. Model dipandang sebagai suatu
representasi dari gagasan, informasi, ataupun objek dalam bentuk yang
telah disesuaikan dan mudah untuk dipahami. Sedangkan,
pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.19 Pada hakikatnya,
pembelajaran adalah proses interaksi yang terjadi antara siswa dengan
lingkungannya yang memiliki peran dalam mempengaruhi perubahan
perilaku siswa kearah yang lebih baik dan seorang guru memiliki tugas
untuk mengatur lingkungan tersebut agar dapat mendukung terjadinya
perubahan perilaku.
Joyce, Weil & Calhoun memaparkan bahwa model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan
langkah-langkah sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar guna mencapai tujuan pembelajaran yang ditentukan dan
berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para
pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar-
mengajar.20 Definisi lain model pembelajaran menurut Trianto, adalah
suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran tutorial (
Simeru,A. et al., 2019). Sementara itu, Model pembelajaran adalah
rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum.
Chauhan juga mengungkapkan bahwa model pembelajaran merupakan
sebuah perencanaan pengajaran yang menggambarkan proses yang
6
ditempuh pada proses belajar mengajar agar dicapai perubahan spesifik
pada perilaku siswa seperti yang diharapkan.
Berdasarkan pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan
langkah-langkah proses pembelajaran dikelas yang dirancang oleh
seorang guru agar dapat merubah perilaku siswa ke arah yang lebih
baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Model pembelajaran merupakan sarana yang sangat penting
dalam mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu, dalam penerapannya,
model pembelajaran perlu ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa,
karena setiap model pembelajaran memiliki tuntutannya masing-
masing. Dalam memilih atau menentukan model pembelajaran yang
akan diterapkan pada proses pembelajaran sangat dibutuhkan guru
yang memiliki kompetensi yang baik agar model pembelajaran yang
diterapkan dapat mendorong siswa menjadi lebih aktif dan interaktif
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
b. Karakteristik Model Pembelajaran
Karakteristik model pembelajaran menurut Rusman adalah
sebagai berikut (Dasep Bayu Ahyar, 2021)
1) Berdasarkan beberapa teori pendagogis dan teori belajar.
2) Memiliki misi atau tujuan pendidikan tertentu.
3) Dapat digunakan sebagai panduan untuk meningkatkan
kegiatan belajar dikelas.
4) Memiliki perangkat ruang model.
5) Memiliki dampak sebagai akibat penerapan model pembelajaran,
secara langsung maupun tidak langsung.
6) Membuat persiapan mengajar.
c. Prinsip-Prinsip Model Pembelajaran
Prinsip-prinsip dalam model pembelajaran merupakan unsur
utama pembelajaran, yang meliputi bagaimana pembelajaran terjadi
agar siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut Joyce and
7
Weil, terdapat beberapa prinsip umum dalam model pembelajaran,
yaitu sebagai berikut (Mertayasa 2023):
1) Langkah-Langkah (Syntax)
Kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan.
2) Sistem Sosial (Social System)
Memberikan gambaran peran dan hubungan siswa dengan guru dan
aturan yang direkomendasikan untuk menerapkan model
3) Prinsip Reaksi (Principles of Reaction)
Menggambarkan bagaimana seharusnya siswa memandang,
memperlakukan, dan merespon
4) Sistem Pendukung (Support System)
Menjelaskan fasilitas, alat atau lingkungan belajar yang mendukung
5) Dampak Pembelajaran (Intructional and Nurturant Effects)
Menjelaskan hasil belajar langsung dari tujuan pembelajaran
(Intructional) dan hasil belajar pengiring/penyerta tujuan
pembelajaran (nurturant effects).
d. Fungsi Model Pembelajaran
Model pembelajaran memiliki fungsi yang lebih luas dari
hanya mengubah perilaku siswa sesuai dengan yang diharapkan, tetapi
juga berfungsi untuk mengembangkan dan meningkatkan berbagai
aspek kemampuan yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Adapun fungsi model pembelajaran menurut Chauhan adalah sebagai
beriku t(Hidayat 2016) :
1) Pedoman.
Model pembelajaran dapat berfungsi sebagai pedoman guru dalam
melaksanakan proses mengajar secara komprehensif guna
mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, model pembelajaran
dapat melukiskan apa saja yang harus guru lakukan sehingga
proses mengajar akan jauh lebih ilmiah, terencana, dan sistematis.
2) Pengembangan kurikulum
8
Model pembelajaran dapat membantu dalam mengembangkan
kurikulum untuk satuan dan kelas yang berbeda dalam pendidikan.
Hal ini dikarenakan model pembelajaran dapat membantu guru
dalam merancang pengalaman pembelajaran yang efektif dan
relevan sesuai dengan kebutuhan siswa, meningkatkan keterlibatan
siswa dan membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran
yang ditetapkan.
3) Menetapkan bahan-bahan pengajaran
Model pembelajaran menentukan secara terperinci variasi bahan
pengajaran yang berbeda guna mendukung perubahan positif dalam
kepribadian siswa.
4) Membantu perbaikan dalam pembelajaran
Dengan adanya model pembelajaran dapat mengidentifikasi dan
mengatasi hambatan atau kesulitan pada proses pembelajaran
dengan menyediakan startegi dan pendekatan yang efektif untuk
mengatasi masalah siswa sehingga nantinya proses pembelajaran
dapat berlangsung dengan baik dan siswa dapat mencapai hasil
belajar yang terbaik.
e. Jenis-jenis Model Pembelajaran
Untuk mencapai tujuan pendidikan diperlukan suatu inovasi
dan kreativitas dalam pembelajaran, salah satunya melalui penggunaan
model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran merupakan
pedoman yang melukiskan lagkah-langkah dalam proses pembelajaran.
Adapun jenis-jenis model pembelajaran yang dapat digunakan dalam
proses belajar mengajar menurut Joyce dan Weil yaitu sebagai berikut
(Ferry Wibowo 2022) :
1) Model Pemrosesan Informasi (Information Processing Model)
Model ini berfokus pada pengelolaan informasi di dalam otak
sebagai aktivitas mental dengan tujuan meningkatkan kemampuan
berpikir dan penalaran siswa dengan cara memberikan
permasalahan dan siswa akan berupaya menyelesaikan masalah-
9
masalah tersebut. Dalam model ini terdapat tujuh model
pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
a) Model berpikir induktif (Inductive Thingking Model)
b) Model Pelatihan Inkuiri (Inquiry Training Model)
c) Penyelidikan Ilmiah (Scientific Inquiry)
d) Pencapaian Konsep (Concept Attainment)
e) Pertumbuhan Kognitif (Cognitive Growth)
f) Model Penyelenggaraan Tingkat Lanjut (Advance Organizer
Model)
g) Daya Ingat (Memory)
2) Model Pribadi (Personal Model)
Model mengajar ini berfokus pada perkembangan diri individu.
Dalam model ini guru harus mempersiapkan pembelajaran sesuai
dengan minat, pengalaman dan perkembangan berpikir siswa.
Model-model mengajar yang berada dalam rumpun ini merupakan
model pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered).
3) Model Interaksi Sosial (Social Interaction Model)
Rumpun model mengajar interaksi sosial menitikberatkan pada
proses interaksi antar individu yang terjadi dalam suatu kelompok
dengan fokus utama pengembangan keterampilan individu dalam
berinteraksi dengan orang lain.
4) Model Perilaku (Behavioral Model)
Rumpun model ini sesuai dengan teori belajar behavioristik. Model
pembelajaran ini diarahkan untuk menciptakan perubahan dalam
perilaku siswa yang sejalan dengan tujuan pembelajaran.
Transformasi perilaku yang terjadi harus dapat diamati. Sehingga,
guru dapat merinci tahapan-tahapan pembelajaran yang dapat
diamati selama evaluasi perkembangan siswa.
Selain itu, terdapat jenis-jenis model pembelajaran dengan
pendekatan saintifik, yaitu sebagai berikut:
1) Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
1
Menurut Kang, model pembelajaran problem based
learning adalah model pembelajaran di mana siswa diberikan
permasalahan sehari-hari yang kompleks dan tidak terdapat satu
jawaban yang benar. Model pembelajaran ini menggunakan
masalah kehidupan sehari-hari sebagai media dalam proses
pembelajaran. Karakteristik utama dari model problem based
learning adalah menyajikan masalah yang nyata dan
mengorganisasikan siswa ke dalam sebuah kelompok selanjutnya,
siswa akan melakukan kegiatan penyelidikan. Dari permasalahan
yang disajikan oleh guru, diharapkan siswa akan menemukan inti
permasalahan dan berpikir bagaimana cara menyelesaikan
permasalahan tersebut dengan atau tanpa bimbingan guru (Ade Hi
Haerullah 2017). Dalam problem based learning, guru bertugas
untuk memfasilitasi siswa memperoleh pengalamannya sendiri
sehingga pembelajaran akan berpusat pada siswa.
2) Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
Menurut Saefudin, model pembelajaran project based
learning adalah model pembelajaran yang menggunakan masalah
sebagai tahapan awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru melalui pengalaman nyata dalam beraktivitas
(Ayi Suherman 2023). Model pembelajaran project based learning
merupakan model pembelajaran yang melibatkan proyek sebagai
media pembelajaran. Model pembelajaran ini di dasarkan pada
pertanyaan dan permasalahan yang sesuai dengan konteks
kehidupan nyata. Model pembelajaran project based learning
merupakan model pembelajaran inovatif yang berpusat pada siswa
(Suriyadi, Fivia Eliza 2018). Sehingga, siswa diberikan hak
otonom untuk mengkonstruksi proses belajarnya sendiri. Pada
model ini guru hanya bertugas sebagai motivator dan fasilitator.
3) Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)
1
Menurut Bruner, model pembelajaran penemuan atau
discovery learning adalah proses di mana siswa secara mandiri
menemukan sendiri konsep-konsep baru melalui kegiatan
eksplorasi, percobaan, dan manipulasi (Sriwahyuni 2023). Model
pembelajaran penemuan adalah serangkaian kegiatan pembelajaran
yang mengoptimalkan kemampuan siswa dalam melakukan
eksplorasi dan penyelidikan secara sistematis, kritis, dan logis. Hal
ini bertujuan agar siswa dapat menemukan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan secara mandiri yang mencerminkan adanya
perubahan tingkah laku.
4) Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning)
Menurut Coffman, model pembelajaran inkuiri atau Inquiry
learning adalah model pembelajaran yang secara aktif melibatkan
siswa dalam proses berpikir, mengajukan pertanyaan, serta
melakukan kegiatan eksplorasi dan eksperimen. Hal ini bertujuan
agar siswa dapat menyajikan solusi atau ide yang bersifat logis dan
ilmiah. Tangkas menambahkan bahwa model pembelajaran inkuiri
dapat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan
intelektual dan keterampilan lain, seperti mengajukan pertanyaan
dan menemukan jawaban yang didasarkan pada keingintahuan
mereka sendiri (Sulanjani 2019).
5) Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Kooperatif berasal dari kata cooperative yang artinya
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama sebagai suatu
kelompok. Menurut Bern dan Erickson, pembelajaran kooperatif
merupakan metode pembelajaran yang mengatur proses
pembelajaran melalui pembentukan kelompok belajar kecil, di
mana para siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Dalam pembelajaran ini siswa akan tergabung
kedalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-6 orang
dan bersifat heterogen. Artinya, anggota
1
kelompok terdiri dari siswa dengan kecerdasan, kemampuan, dan
serta terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda (Fatirani 2022).
Model pembelajaran kooperatif ini membutuhkan
partisipasi aktif siswa dalam suatu kelompok untuk saling
berkolaboratif dan berinteraksi, sehingga siswa dibebankan pada
tanggung jawab ganda dimana siswa harus belajar untuk dirinya
sendiri dan membantu sesama anggota kelompoknya. Dalam
pengaplikasiannya, pembelajaran kooperatif memiliki beberapa
tipe, diantaranya seperti Jigsaw, STAD (Student Teams
Achievement Division), GI (Group Investigation), Make a Match,
TPS (Think Pair Share), TGT (Teams Games Tournament).
1
masalah, mengambil keputusan, menyelidiki, menganalisis dan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkerja secara kreatif
dan mandiri dalam menjalankan proyek pembelajaran mereka (Tobeli
2022).
Buck Institute For Education atau (BIE) mengemukakan bahwa
model pembelajaran project based learning merupakan pembelajaran
yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang baik dalam
memecahkan suatu permasalahan dan memberikan peluang bagi siswa
untuk lebih mengekspresikan kreatifitas mereka sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar dan kreativitas. Sementara, Saefuddin dan
Berdiati menyatakan bahwa project based learning merupakan model
pembelajaran dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal
dalam pembelajaran bertujuan untuk mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalaman yang
diperoleh siswa melalui aktivitas nyata (Hidayat 2023).
Model pembelajaran project based learning ini melatih
kemampuan siswa dalam beberapa hal misalnya, kemampuan
berkolaboratif, kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan
berpikir kreatif sehingga hal ini efektif dalam meningkatkan
keterampilan hidup siswa, seperti manajemen waktu, kerja sama antar
siswa, dan tanggung jawab terhadap proyek yang sedang dikerjakan
siswa.
Model pembelajaran project based learning memfokuskan
pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru hanya bertindak
sebagai fasilitator dan motivator saja yang memberikan tanggung
jawab kepada siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian,
interprestasi dan mensintesis suatu informasi agar dapat menciptakan
produk hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam hal ini
siswa akan dilatih untuk belajar mandiri dengan periode waktu yang
telah ditentukan.
1
c. Karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning
Model pembelajaran project based learning dikembangkan
agar dapat diterapkan dalam mengatasi masalah yang sifatnya
kompleks. Dalam pengaplikasian model PjBL, masalah yang ada akan
diamati dan di eksplorasi oleh siswa, sehingga proses pembelajaran
dapat berjalan dengan inovatif dan kontekstual dalam kegiatan
pembelajaran yang kompleks. Adapun karakteristik model
pembelajaran PjBL, menurut Zaenal dan Murtadlo yaitu sebagai
berikut (Hidayat 2021):
1) Centrality. Dalam hal ini, proyek menjadi pusat dalam
pembelajaran
2) Driving Question. Proyek berfokus pada pertanyaan atau masalah
yang membuat siswa mencari solusi dengan prinsip dan konsep
ilmu pengetahuan yang sesuai
3) Constuctive Investigation. Pada pembuatan proyek, siswa
mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri dengan melakukan
investigasi secara mandiri.
4) Autonomy. Pembelajaran berlangsung secara student centered
dengan siswa sebagai penyelesai masalah dari masalah yang
telah ditentukan.
5) Realism. Kegiatan siswa diadopsi dari situasi dunia nyata.
Model pembelajaran project based learning menuntut siswa
agar mampu bekerja sama dalam mencari informasi dan mengevaluasi
hasilnya agar masalah dapat terselesaikan. Hal ini sejalan dengan
karakteristik PjBL yang dikemukakan oleh Daryanto dan Raharjo.
Menurut nya karakteristik model PjBL adalah sebagai berikut
(Sumendap 2022):
1) Siswa dapat membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja
2) Terdapat permasalahan atau tantangan yang diberikan kepada siswa
3) Siswa mendesain proses untuk menentukan solusi atas
permasalahan atau tantangan yang diberikan
1
4) Siswa bersama-sama bertanggung jawab dalam mengakses dan
mengelola informasi untuk memecahkan masalah
5) Proses evaluasi dijalankan secara terus-menerus
6) Siswa secara berkala merefleksikan aktivitas yang telah dijalankan
7) Produk akhir aktivitas belajar akan di evaluasi secara kualitatif
8) Situasi pembelajaran sangat menerima kesalahan dan perubahan.
Penjabaran karakteristik di atas menegaskan bahwa model
pembelajaran project based learning merupakan model pembelajaran
yang diawali dengan pemberian masalah. Lalu, siswa dituntut untuk
memecahkan masalah atau menemukan solusi nya secara bersama-
sama. Selanjutnya, hasil pemecahan masalah tersebut akan dituangkan
dalam bentuk proyek yang akan dinilai dan di evaluasi.
d. Tujuan Pembelajaran Model Pembelajaran Project Based
Learning
Setiap model pembelajaran pasti memiliki tujuan tertentu
dalam penerapannya, termasuk model pembelajaran project based
learning. Adapun tujuan penerapan model pembelajaran project based
learning yaitu sebagai berikut (Nyoman Ayu Putri Lestari, dkk, 2023) :
1) Memfasilitasi siswa dalam mengembangkan sikap proaktif dalam
menyelesaikan permasalahan yang diberikan
2) Melatih keterampilan siswa dalam memerinci setiap permasalahan
yang diberikan dan menyelesaikan tugas proyek.
3) Melatih siswa untuk lebih aktif dalam menganalisis serta
menyelesaikan permasalahan yang kompleks, sehingga hasilnya
dapat dirasakan secara konkret.
4) Mengembangkan kemampuan siswa dalam memanfaatkan segala
jenis alat maupun bahan yang tersedia untuk mencapai hasil yang
diingikan.
5) Meningkatkan kemampuan siswa untuk bekerja dan berkolaborasi
dalam menyelesaikan proyek yang diberikan
1
e. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Project Based Learning
Langkah-langkah pembelajaran dalam project based learning
(PjBL) dikembangkan oleh The George Lucas Educational
Foundation. Langkah-langkah pembelajaran ini terbagi menjadi 6
tahapan yaitu (Wibowo 2018):
1
mendukung dalam memecahkan masalah, mengetahui alat dan
bahan yang digunakan untuk menyelesaikan proyek.
3) Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Pendidik dan siswa secara kooperatif menyusul jadwal
kegiatan dalam penyelesaian proyek. Kegiatan yang di lakukan
pada tahap ini, antara lain:
a) Menentukan jadwal pengerjaan proyek
b) Menentukan deadline penyelesaian proyek
c) Menentukan perencanaan baru untuk menyelesaikan proyek
d) Membimbing siswa saat mereka menggunakan cara yang tidak
terhubung dengan proyek
4) Memonitor siswa dan kemajuan proyek (Monitor the Students and
the Progress of the Project)
Pendidik bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan
terhadap aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Monitoring
dilakukan dengan memfasilitasi siswa pada proses. Dengan kata
lain pendidik berperan menjadi mentor bagi aktivitas siswa.
5) Penilaian hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu pendidik dalam
mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi
kemajuan masing-masing siswa, memberikan umpan balik tentang
tingkat pemahaman yang telah di capai, dan membantu pendidik
dalam menyusun strategi pembelajaran selanjutnya.
6) Evaluasi pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, pendidik dan siswa
melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang telah
dilaksanakan. Pada tahap ini siswa diminta memaparkan
pengalamannya selama menyelesaikan proyek.
1
3. Kemampuan Berpikir Kreatif
a. Definisi Kemampuan Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif memiliki beberapa definisi. Menurut Munandar
berpikir kreatif adalah memberikan macam-macam kemungkinan
jawaban berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada
keragaman jawaban dan kesesuaian (Putri 2020). Kemudian, menurut
Siswono berpikir kreatif adalah cara berpikir individu yang didasari
pada logika untuk menghasilkan suatu ide atau gagasan [Link]
demikian, berpikir kreatif merupakan esensi dari memahami
pengetahuan, yang tidak hanya sekedar mengingat secara pasif, tetapi
juga mampu menciptakan hal-hal baru dan tidak biasa dengan
memikirkan berbagai perspektif yang ada (Hidajat 2022).
Berpikir kreatif juga disebut sebagai kreativitas dimana
kreativitas sendiri menurut Santrock adalah kemampuan berpikir
tentang sesuatu dengan cara baru dan tidak biasa dan menghasilkan
solusi yang unik atas suatu masalah. Kemudian, Barron
mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk
menciptakan sesuatu yang baru dan merupakan kombinasi dari unsur-
unsur yang sudah ada sebelumnya (Mursidik et al. 2015).
Selain itu, berpikir kreatif juga didefinisikan dengan berpikir
divergen. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Guilford, dimana ia
memfokuskan kreativitas pada pola pikir divergen. Guilford
menyatakan bahwa berpikir divergen mengarah kepada kemampuan
untuk menghasilkan ide dengan menggabungkan berbagai jenis
informasi dengan cara yang baru. Hal ini sejalan dengan pandangan
McGregor yang mengungkapkan bahwa kreativitas adalah kemampuan
untuk melihat sesuatu dari cara yang berbeda, melihat masalah dengan
cara yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain, dan
mengembangkan solusi yang baru, tunggal dan efektif (Amelia
Manullang, 2023)
2
Berpikir kreatif melibatkan pemikiran yang terfokus pada otak
sebelah kanan dimana fungsinya menciptakan dan
mengkomunikasikan hubungan baru yang memiliki makna yang lebih
dalam. Menurut Surya, berpikir kreatif adalah sebuah proses pemikiran
yang melibatkan: menghasilkan banyak kemungkinan, menunda
pertimbangan, menghadirkan kemungkinan baru dan tidak biasa,
menggunakan imajinasi dan intuisi, mengembangkan dan memilih
alternatif, serta memiliki beragam pendekatan dan menggunakan sudut
pandang atau jawaban yang berbeda terhadap suatu hal (Darwanto
2019).
Kemampuan berpikir kreatif merupakan proses berpikir yang
tidak hanya mengandalkan hafalan tetapi dapat menyampaikan
kembali informasi yang telah diketahui. Oleh sebab itu, kemampuan
berpikir kreatif merupakan kemampuan dengan tingkat paling tinggi
diantara tingkat berpikir yang lainnya. Menurut Purwasih, kemampuan
berpikir kratif merupakan kemampuan siswa untuk menemukan jalan
penyelesaian yang tidak biasa, unik dan belum pernah ditemukan oleh
orang lain. Kemampuan berpikir kreatif akan membantu siswa dalam
mengembangkan dirinya dan membantu siswa memecahkan masalah-
masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Febrianingsih
2022).
Kemampuan berpikir kreatif memiliki peran yang penting
dalam kehidupan karena kreativitas adalah sumber kekuatan yang
dimiliki oleh setiap individu sehingga dapat mendorong kemajuan
dalam eksplorasi, pengembangan, dan penemuan baru dalam ilmu
pengetahuan, teknologi dan berbagai bidang usaha manusia.
Berdasarkan beberapa pandangan dari para ahli dapat
disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kreatif merupakan
kemampuan seseorang dalam menghasilkan berbagai ide, gagasan atau
cara baru dalam memecahkan masalah. Kemampuan berpikir kreatif
ini perlu dikembangkan dan diasah oleh setiap individu sebab berpikir
kreatif memungkinkan seseorang untuk menemukan solusi yang lebih
2
baik dan lebih efektif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan
dikehidupannya.
b. Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif
Menurut Munandar, terdapat empat indikator dalam berpikir
kreatif, yaitu: berpikir lancar (fluency), berpikir luwes (flexibility),
berpikir orisinil (originality), berpikir merinci (elaboration)
(Harisuddin 2019). Adapun, penjelasan secara lebih rinci mengenai
indikator berpikir kreatif disajikan dalam tabel berikut:
Komponen Indikator
Kemampuan
Berpikir Kreatif
Kemampuan mengajukan banyak
pertanyaan, jika diberikan suatu situasi
masalah
Kemampuan menjawab dengan sejumlah
jawaban jika diajukan sebuah pertanyaan
Kemampuan mempunyai banyak gagasan
Berpikir Lancar mengenai cara menyelesaikan suatu
(Fluency) masalah
Kemampuan mengungkapkan gagasan-
gagasan dengan lancar
Kemampuan bekerja dengan cepat, dan
melakukan lebih banyak dari siswa lain,
dapat dengan cepat melihat kesalahan atau
kekurangan pada suatu obyek atau situasi
Kemampuan memberikan aneka ragam
Flexibility
penggunaan yang tidak lazim terhadap suatu
(Berpikir Luwes)
obyek
2
Kemampuan memberikan macam-macam
penafsiran (interprestasi) terhadap suatu
gambar, cerita atau masalah
Kemampuan menerapkan suatu konsep atau
azas dengan cara yang berbeda-beda
Kemampuan memberi pertimbangan
terhadap situasi yang berbeda dari yang
diberikan orang lain
Dalam membahas atau mendiskusikan suatu
situasi selalu mempunyai posisi yang
berbeda atau bertentangan dari mayoritas
kelompok
Kemampuan memikirkan macam-macam
cara berbeda-beda untuk menyelesaikan
suatu masalah
kemampuan menggolongkan hal-hal
menurut pembagian (kategori) yang
berbeda-beda
kemampuan mengubah araf berpikir secara
spontan
2
Kemampuan mencari pendekatan baru
Kemampuan untuk menemukan
penyelesaian baru, setelah membaca atau
mendengar gagasan-gagasan
Lebih senang mensintesis daripada
menganalisis situasi
Kemampuan mengemukakan gagasan baru
yang orisinal untuk menyelesaikan masalah
2
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi kreativitas seseorang yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor-faktor tersebut
yaitu:
1) Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dalam diri
individu. Rogers mengungkapkan ada beberapa faktor internal
yang dapat mempengaruhi kreativitas seseorang. faktor-faktor
tersebut adalah sebagai berikut:
a) Keterbukaan terhadap pengalaman
Keterbukan terhadap pengalaman adalah kemampuan dalam
menerima semua sumber informasi dari pengalaman hidup
pribadinya tanpa melakukan usaha pertahanan atau
menunjukan kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman
tersebut sehingga individu kreatif adalah individu yang mampu
menerima perbedaan.
b) Evaluasi internal
Evaluasi internal adalah kemampuan indiividu dalam menilai
produk yang dihasil ciptaan seseorang ditentukan oleh dirinya
sendiri, bukan karena kritik ataupun pujian dari orang lain.
c) Kemampuan bermain dengan elemen atau konsep
Kemampuan bermain dengan elemen atau konsep yaitu
kemampuan bermain secara spontan dengan berbagai ide,
warna, bangunan, bentuk, dan membentuk kombinasi-
kombinasi baru.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar. Faktor
eksternal yang mempengaruhi kreativitas individu adalah
lingkungan kebudayaan yang aman dan kebebasan psikologis.
Hurlock mengungkapkan terdapat 6 faktor yang menyebabkan
munculnya kreativitas yang dimiliki individu, yaitu sebagai
berikut:
a) Jenis kelamin
2
Anak laki-laki cenderung menunjukan kreativitas yang lebih
besar dari anak perempuan. Hal ini terjadi karena adanya
perbedaan perlakuan yang diterima antara anak laki-laki dan
anak perempuan. Anak laki-laki cenderung diberi kesempatan
untuk mandiri, mengambil resiko dan didorong oleh para orang
tua dan guru untuk mengambil tindakan inisiatif dan
orisinalitas.
b) Status sosioekonomi
Seorang anak yang berasal dari kelompok sosioekonomi
keluarga yang lebih tinggi biasanya cenderung lebih kreatif
dibanding anak yang berasal dari kelompok sosioekonomi
keluarga yang rendah. Lingkungan anak yang berasal dari
kelompok sosioekonomi yang tinggi akan memberikan banyak
peluang kepada anak untuk memperoleh pengetahuan dan
pengalaman yang dapat meningkatkan kreativitasnya.
c) Ukuran keluarga
Anak yang berasal dari keluarga kecil, dalam situasi serupa
mungkin memiliki tingkat kreativitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga besar. Faktor-
faktor seperti pendekatan pengasuhan yang otoriter dan situasi
sosioekonomi yang tidak menguntungkan dalam keluarga besar
mungkin memiliki dampak yang lebih signifikan dalam
menghambat perkembangan kreativitas.
d) Lingkungan
Anak yang berasal dari lingkungan perkotaan cenderung lebih
kreatif dibandingkan anak yang berasal dari lingkungan
pedesaan.
e) Intelegensi
Setiap anak yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi
akan menunjukan tingkat kreativitas yang lebih besar
dibandingkan anak yang memiliki kemampuan intelektual yang
lebih rendah. Mereka memiliki lebih banyak gagasan baru
2
dalam
2
menghadapi situasi sosial dan mampu menghasilkan lebih
banyak solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
B. Studi Relavan
1. Penelitian Sandy Kurniawan, Yeni Suraningsih dan Aden Arif Gaffar
(2019) yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Project Based
Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa”. Pada
penelitian ini penulis menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas
dengan topik yang dibahas ialah tentang cara meningkatkan kemampuan
berpikir kreatif siswa dengan menerapkan model pembelajaran Project
Based Learning. Penelitian ini hampir sama dengan penelitian lainnya
yakni menerapkan model project based learning untuk meningkatkan
keterampilan berpikir kreatif pada peserta didik. Sementara kekurangan
yang didapatkan ialah tidak dituliskan subjek penelitian, tempat penelitian,
jalannya penelitian dan tingkat ketercapaian penelitian.
2. Penelitian Adony Natty, Firosalia Kristin, dan Indri Anugraheni (2019)
yang berjudul “Peningkatan Kreativitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui
Model Pembelajaran Project Based Learning pada Siswa Sekolah Dasar”.
Siswa kelas 3 SDN Gendongan 02 Salatiga menjadi subjek penelitian.
Jenis pendekatan yang digunakan penelitian ini ialah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang dilakukan dua siklus dan berfokus pada isu peningkatan
hasil belajar dan kreativitas peserta didik melalui penggunaan model
pembelajaran berbasis proyek. Kelebihan yang didapatkan dari penelitian
ini ialah peningkatan yang diinginkan bukan hanya pada kreativitas saja,
akan tetapi juga pada peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu, melalui
penelitian ini juga diketahui bahwa penggunaan model project based
learning dapat digunakan untuk kelas rendah. Sementara kekurangan yang
ditemukan ialah pada penggunaan alat ukur kreativitas tidak berpatokan
kepada indikator ketercapaian, melainkan pada penilaian dalam bentuk
skor yang dikategorikan lagi kedalam skor tinggi, sedang dan rendah
2
3. Penelitian I Wayan Widana dan Kadek Lisa Septiari (2021) yang berjudul
Kemampuan Berpikir Kreatif dan Hasil Belajar Matematika Siswa
Menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Berbasis
Pendekatan STEM”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji
pengaruh model Project Based Learning berbasis pendekatan STEM
terhadap kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar matematika.
Sehingga kelebihan yang ditemukan pada penelitian ini ialah proses
pembelajarannya dengan mengimplementasikan model pembelajaran
project based learning berbasis pendekatan STEM. Sedangkan kelemahan
yang didapatkan ialah dalam pengumpulan datanya menyebarkan
kuesioner dengan pertanyaan yang menggunakan skala Likert. Penulis
menilai ini sebagai kelemahan karena dalam mengukur tingkat kreativitas
tidak cukup jika hanya menilai dalam bentuk pertanyaan. Terlebih
penelitian ini menggunakan model project based learning berbasis
STEAM, yang mana pada penerapannya lebih kepada pengalaman siswa.
Sehingga akan lebih baik penilaiannya lebih berpusat kepada hasil
penerapan model project based learning-nya.
4. Cici Karina Putri 2019, dengan judul penelitian “Penerapan Model Project
Based Learning untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada
Pembelajaran Tematik Kelas IV di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 4 Muaro
Jambi”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model
pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan keaktifan
belajar siswa dalam proses pembelajaran. Persamaan penelitian ini terletak
pada model yang digunakan, sedangkan perbedaannya yaitu terletak pada
mata pelajarannya jika penelitian ini tertuju pada mata pelajaran tematik
tetapi yang saya teliti lebih kepada mata pelajaran IPS.
5. Indah Arfinasih 2020, dengan judul penelitian “Peningkatan Hasil Belajar
Ilmu Pengetahuan Sosial Melalui Model Pembelajaran Project Based
Learning (PjBL) (Penelitian pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Kapencar
Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo)”. Hasil penelitian menunjukan
adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dari
pretest hingga posttest yaitu sebesar 55,55%. Peningkatan hasil belajar
2
afektif dan
3
psikomotor juga dapat dilihat dari bertambahnya motivasi belajar,
keaktifan dan kerja sama siswa dalam berkelompok. Penerapan model
pembelajaran Project Based Learning memberikan dampak positif pada
ketuntasan nilai khususnya ranah kognitif siswa. Nilai rata-rata pada data
awal siswa adalah 72,27 yang diperoleh oleh 11 siswa dengan memiliki
ketuntasan sebesar 30,56%. Pada siklus pertama nilai rata-rata meningkat
menjadi 76,27 dengan ketuntasan 61,11%. Kemudian pada siklus kedua
nilai rata-rata siswa mencapai 77,64 dengan ketuntasan siswa mencapai
86,11%. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model
pembelajaran Project Based Learning memberi dampak positif dan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Persamaan penelitian ini terletak pada
model yang digunakan dan mata pelajarannya yaitu mata pelajaran IPS,
sedangkan perbedaannya yaitu terletak pada tujuan penelitiannya, jika
penelitian ini tertuju pada hasil belajar tetapi yang saya teliti lebih kepada
meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori diatas peneliti merumuskan hipotesis penelitian
tindakan kelas ini adalah bahwa dalam Pembelajaran Project Based Learning
(PjBL) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kreatif Siswa metode
ilmiah sesuai dengan langkah-langah yang tepat, maka dapat meningkatkan
keterampilan keterampilan berfikir kreatif siswa kelas IV di Sekolah Dasar
Negeri 069/VI Talang Tembago.
3
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Tempat Penelitian ini dilaksanakan di di Sekolah Dasar
Negeri 069/VI Talang Tembago, kecamatan jangkat, kabupaten
merangin.
B. Sasaran Tindakan
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Pendekatan Penelitian
Tindakan Kelas yang dimana peneliti akan menempatkan
objek apa adanya, sesuai bentuk aslinya sehingga fakta yang
sesungguhnya dapat diperoleh. Dengan menggunakan metode
berbasis Project Based Learning (PjBL) peneliti berupaya
untuk mengetahui lebih dalam tentang metode project based
Learning (PjBL) untuk mengetahui Keterampilan Berfikir
Kreatif Siswa dengan menggunakan metode tersebut di SD N
069/VI Talang Tembago.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah pelaksanaan Pembelajaran
Project Based Learning (PjBL) Untuk Meningkatkan
Keterampilan Berfikir Kreatif Siswa dilaksanakan di Kelas IV
SD N 069/VI Talang Tembago.
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa-siswa kelas IV SD N
069/VI Talang Tembago pada Pembelajaran Project Based
Learning (PjBL Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir
Kreatif Siswa yang berjumlah 29 siswa yang terdiri dari 13
laki- laki dan 16 perempuan.
C. Desain PTK
3
Penelitian tindakan kelas ini mengaplikasikan model yang
dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto. Tiap siklus terdiri dari empat
tahap kegiatan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap
pengamatan, dan tahap refleksi. Adapun model yang dikembangkan oleh
Suharsimi Arikunto sebagai berikut (Arikunto 2012):
Perencanaan
Pelaksanaan
Refleksi SIKLUS 1
Perencanaan
Pengamatan
Refleksi SIKLUS 2 Pelaksanaan
Pengamata
D. Rencana Tindakan
?
Rencana tindakan merupakan langkah pertama dalam setiap
kegiatan. Tanpa rencana, kegiatan yang kita lakukan tidak akan terarah
“ngawur” atau sembarangan (Wardani 2014). Dalam hal ini peneliti
merencanakan melakukan penelitian diantaranya yaitu:
1. Menyiapkan rencana Pembelajaran Project Based Learning
3
(PjBL) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kreatif
Siswa
2. Menyiapkan perangkat pembelajaran seperti RPP
3. Menyediakan media/alat peraga
4. Menyiapkan lembar observasi siswa
5. Menyiapkan lembar observasi guru
6. Menyiapkan soal tes untuk siswa
7. Menyiapkan lembar penilaian untuk mengetahui pencapaian
hasil siswa.
8. Mengkondisikan kelas dengan menata tempat duduk sesuai
ruangan kelas tersebut.
3
4. Dokumentasi
Teknik dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal atau
variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah,
notulen rapat, agenda dan sebagainya. Dokumentasi diambil peneliti
pada saat berlangsungnya penelitian yang digunakan sebagai bukti
bahwa peneliti benar-benar telah melakukan penelitian. Contoh
dokumentasi dalam penelitian ini adalah identitas siswa, RPP PJBL,
dan foto-foto saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan
metode pembelajaran Project Based Learning.
Keterangan
P = Angka persentase.
f = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya
N = Number of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu
2. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif adalah hasil belajar siswa, maka darites
pada setiap akhir siklus.
a. Untuk menghitung hasil belajar digunakan rumus:
3
𝑆 = 𝑥100%
R
Keterangan:
R= Jumlah Skor dari item atau soal yang dijawab benar
S = Nilai yang diharapkan (dicari)
N= Skor maksimum dari tes tersebut
𝛴𝑋
𝑋 = 𝑥100%
𝑁
Keterangan
𝛴𝑋 = Jumlah
X = Rata-rata hitung yang dicari
skor N = Jumlah
subjek
3. Refleksi
Melakukan refleksi tidak ubahnya seperti berdiri di depan
cermin untuk melihat kembali kejadian yang perlu kita kaji. Melalui
refleksi peneliti dapat menetapkan apa yang telah dicapai, apa yang
belum dicapai serta apa yang perlu diperbaiki lagi dalam
pembelajaranberikutnya.
3
dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk
mencapai tujuan tertentu (Arifin 2011). Observasi atau pengamatan dapat
diartikan sebagai perhatian yang terfokus pada kejadian, gejala, atau
sesuatu dengan maksud menafsirkan, mengungkapkan faktor-faktor
penyebab, serta menemukan patokan yang mengaturnya.
2. Wawancara (interview)
Wawancara adalah proses tanya-jawab dalam penelitian yang
berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka
mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-
keterangan. Menurut (Sugiono 2021), Pengertian wawancara digunakan
sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti akan melaksanakan studi
pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga
peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan
jumlah respondennya sedikit/kecil.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan metode pengumpulan data
kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang
dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain oleh subjek. Dokumentasi
merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh peneliti kualitatif
untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu
media tertulis dan dokumen lainnya yang tertulis atau dibuat langsung oleh
subjek yang bersangkutan (Herdiansyah 2019).
3
DAFTAR PUSTAKA
Amelia Manullang, Erni Yusrian Zebua, Dorlan Naibaho. 2023. “‘Pengaruh Guru
PAK Dalam Berfikir Alternatif Untuk Menyelesaikan Suatu Masalah Peserta
Didik’,.” Jurnal Pendidikan Sosial Dan Humaniora, 2:11178.
Dasep Bayu Ahyar, Ema Butsi Prihastari, Rahmadsyah, Ratna Setyaningsih, Dwi
Maryani Rispatiningsih, Yuniansyah, Luvy Sylviana Zanthy, Muhamad
Fauzi, Saringatun Mudrikah, Ratna Widyaningrum, Yusuf Falaq, Een
Kurniasari. 2021. Model-Model Pembelajaran. Sukoharjo: Pradina Pustaka.
Dr. Arden Simeru, [Link]., Dr. Torkis Natusion et al. 2019. MODEL–MODEL
PEMBELAJARAN. Vol. 11.
3
Harisuddin, Muhammad Iqbal. 2019. Secuil Esensi Berpikir Kreatif Dan Motivasi
Belajar Siswa,. Bandung: PT. Panca Terra Firma.
Hidajat, Flavia Aurelia. 2022. Buku Ajar Pengembangan Berpikir Tingkat Tinggi
Dan Berpikir Kreatif Matematis,. Pekalongan: NEM.
Hidayat, Ahmad. 2021. “Menulis Narasi Kreatif Dengan Model Project Based
Learning Dan Musik Instrumental Teori Dan Praktik Di Sekolah Dasar.” Pp.
20–21 in. Yogyakarta: Deepublish.
Hidayat, Ima Siti Rahmah dan Yusuf. 2023. Mengenal Model Pembelajaran
Project Based Learning Pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Dalam
Rahmat Hidayat (Ed), Diskursus PAUD & SD/MI Di Era Kurikulum
Merdeka. Indramayu: CV. Adanu Abimata.
Ningsih, Mirna Yustiani et al. 2021. “Pengaruh Model Project Based Learning
Terhadap Berpikir Kreatif Peserta Didik Dalam Pembelajaran IPA.” Jurnal
Inovasi Pendidikan Sains (JIPS) 2(2):42–51. doi: 10.37729/jips.v2i2.1403.
Nyoman Ayu Putri Lestari, Kadek Lina Kurniawati, Made Sri Astika Dewi, I Putu
Agus Dharma Hita, Ni Made Ignityas Prima Astuti, Aditya Ridho Fatmawan.
2023. Model-Model Pembelajaran Untuk Kurikulum Merdeka Di Era Society
5.0. Bali: Nilacakra.
Putri, Hafiziani Eka. 2020. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis”, Dalam Fitri
Nuraeni (Ed), Kemampuan-Kemampuan Matematis Dan Pengembangan
Instrumennya,. (Sumedang: UPI Sumedang Press,.
3
Ridwan, Akdon dan. 2006. , Aplikasi Statistika Dan Metode Penelitian Untuk
Administrasi Dan Manajemen,. (Bandung: Dewa Ruci.
Sumendap, Amin dan Linda Yurike Susan. 2022. “164 Model Pembelajaran
Kontemporer.” P. 422 in. Bekasi: Pusat Penerbitan LPPM,.
Suriyadi, Fivia Eliza, Doni Tri Putra Yanto. 2018. “Penerapan Model
Pembelajaran Project Based Learning Untuk Meningkatkan Kompetensi
Kognitif Siswa SMKN 5 Padang.” (November):260–70.
Tobeli, Stemi Maquita dan Evi. 2022. “Penerapan Model Pembelajaran Project
Based Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Peserta
Didik Kelas VII Pada Pembelajaran PAK.” 1:89.